Di balik setiap wajah yang kita jumpa, ada kisah yang nyaris tak pernah terucap. Melalui Kios Pasar Sore dan Cerita Orang-orang Biasa Lainnya, Reda Gaudiamo merangkai tiga puluh cerita pendek yang mengingatkan kita, bahwa hidup tidak pernah benar benar biasa saja. Di tangan Reda, cerita orang-orang biasa berubah menjadi potret kehidupan yang hangat lucu, dan terkadang menyayat serta membuat kita sadar, mungkin kita pun salah satunya.
Selalu suka tulisannya Mbak Reda. Manusiawi dan apa adanya. 'Kios Pasar Sore' berisi kumpulan cerita tentang bermacam orang dan masalah hidupnya; masalah ekonomi, keluarga, percintaan, dan lain-lain. Saya paham kenapa 'Kios Pasar Sore' yang diambil sebagai judul buku, karena memang pengalaman membacanya seperti mendengar obrolan di pasar. Ada cerita tentang orang yang hamil sebelum menikah, tertipu oleh suami sendiri, mengalami kebangkrutan, dan seterusnya. Cerita-ceritanya pun tergolong slice of life sehingga memang terasa familiar dan open ended. Namun, bukannya hidup memang demikian? Sarat hiburan dari cerita dan gagap gempita drama yang bukan milik kita?
Mungkin ada di spektrum yang berbeda dengan Na Willa. Lebih dewasa, pahitnya lebih nyata, tapi tetap khas Mbak Reda.
Kumcer ini penting dikoleksi karena anti expired oleh zaman manapun. Ibaratnya, kamu adalah seorang pegawai sensus penduduk, dan setiap kamu akan membuat pendataan, masing-masing dari penduduk mengajakmu duduk untuk menceritakan dunianya. Begitulah perasaan dekatnya kita dengan semua kisah di buku ini. Kisahnya real, dan saya curiga ini adalah kisah nyata orang sekitar penulis, atau cerita tentang orang lain dari orang sekitar. Untuk para gadis dan lajanger, sepertinya buku ini bisa jadi bacaan pranikah agar paham kalau warna cerah percintaan itu tidak selalu permanen, kadang terciprat warna gelap. Aseek... Banyak yang aku suka, ada yang mirip sekali dengan orang di sekitarku, tapi untuk judul "Harapan Kita," percayalah, ada yang bernama Senter hanya karena setelah melahirkan, yang terlihat senter. Aku tidak bercanda. Lain kesempatan, kita boleh duduk sambil membahasnya.
Sama seperti judulnya, Kios Pasar Sore benar-benar menceritakan kisah orang-orang biasa. Kisah orang-orang yang mungkin sudah sering kita dengar di keseharian, kadang mungkin kita dengar dari buah bibir atau bahkan karena gak sengaja masuk ke telinga dari pembicaraan orang lain.
Untuk buku kumcer 120 halaman, Kios Pasar Sore menawarkan cukup banyak cerpen yang very, very mundane dan singkat. Cerita yang ditawarkan juga bervariasi dari berbagai lapisan masyarakat dan dari berbagai POV juga. bahasannya tidak jauh dari permasalahan pernikahan, ucapan kata cinta, nasib kurang beruntung, ekonomi, kehilangan serta hal-hal kebetulan yang mungkin kita tidak sadari tapi ada loh di sekitar kita.
Baca Kios Pasar Sore cocok dibaca di sore hari, dengan meminum minuman manis yang kamu suka sambil duduk di tempat nyaman sepoi sepi. niscaya selesai dalam satu kali duduk.
meskipun 1 cerita hanya dalam 2-5 halaman, tapi setiap selesai 1 cerita terasa sekali emosinya sampai harus nafas dulu sebelum pindah ke cerita selanjutnya 😂 cerita-cerita yang dituliskan terasa begitu realistis dan dekat. cerita-cerita yang mungkin pernah kita dengar dari tetangga kita, sehari-hari kita lihat atau bahkan kita sendiri mengalaminya. tulisannya ringan, tapi ngena banget :') selalu suka dengan karya-karya Bu Reda ❤️
Buku ini terasa seperti sepotong kehidupan yang tenang, riuh, sederhana, tapi tak selalu meninggalkan gema panjang di hati kita. Kios Pasar Sore karya Reda Gaudiamo merupakan kumpulan cerita pendek tentang orang-orang biasa
Setiap cerpen dalam buku ini menyoroti hal-hal kecil yang sering luput dari perhatian; tentang ibu yang menunggu anaknya pulang, tentang percakapan di kios yang sederhana, tentang kesepian yang hadir diam-diam di tengah keramaian.
Gaya tulis Bu Reda lembut dan jernih, seolah ia ingin menulis dengan napas pelan agar setiap kalimatnya terdengar seperti bisikan yang akrab.
Namun sayangnya, saya merasa ada jarak yang sulit ditembus. Cerita-ceritanya indah, tapi tidak selalu menggugah. Beberapa kisah berakhir terlalu cepat, seperti percakapan yang berhenti di tengah kalimat hingga ada rasa ingin tahu yang belum sempat terjawab.
Dari 31 cerita cerpen favorit saya ada di judul: Penulis Baru. Itu saja Rate 3/5
Mendung yang bergerumul ditemani rintik yang perlahan turun. Lalu ketika kubuka lembar buku dari bunda Reda, ternyata masih terpampang tanda tangan miliknya. Padahal aku kira masa pesan yang masih memiliki paraf sudah berlalu, tapi ternyata berkah dari semesta kembali datang dalam hal kecil di hidupku. Meski banyak penat dan sangka, kalut yang berlebih, kupaksa untuk memeluk diriku, dengan membaca kisah-kisah sederhana seiring hujan yang mulai menderas. Persis, juga dengan rasa syukur yang seadanya.
Sedari dulu aku mengenal bunda Reda melalui karya-karyanya yang menyuarakan puisi dari pak Sapardi. Sejuk dengan melodinya, aku mengagumi secukupnya. Lalu ini adalah kali pertama aku membaca karya tulis bunda Reda. Mengandung begitu banyak kisah dari berbagai bentuk dan macam orang. Menarik, kubiarkan menemani sela-sela hariku seminggu terakhir. Di meja makan, balkon rumah, dapur, bahkan toilet. Kusadari, terkadang hidup memerlukan sesuatu yang lebih apa adanya, dibanding penuh guntur dan badai.
Yup, sesuai dg judul nya. Kumpulan cerita orang2 biasa yg kerap dekat dan aku yakin banyak relevansi nya dg lingkungan sekitar kita. Tapi banyak cerita yg flop dan bbrp yg bagus terlalu cepat utk di akhiri. Tp seru melihat berbagai kisah masyarakat yg sebenarnya sering kita abaikan karena terlalu sibuk dg diri sendiri. 🐈⬛🧺
Meskipun sudah membaca beberapa karya kumcer, masih belum terbiasa. Jiwa introverku sepertinya berpengaruh. Agak malas memulai cerita baru sebab harus berkenalan lagi dengan tokoh-tokoh baru, mana belum puas menikmati cerita sebelumnya.
Kios Pasar Sore dan Cerita Orang-Orang Biasa Lainnya termasuk pengecualian. Bahasanya lugas, ceritanya langsung pada inti, narasinya tidak berbelit-belit. Cocok buat saya yang “kurang” suka memproses sesuatu yang abstrak dari sumber data (bacaan) yang terbatas.
Beberapa cerpen yang saya sukai dari buku ini antara lain sebagai berikut. 1) Pertemuan Pertama: seorang gelandangan yang jatuh miskin setelah harta orang tuanya “dihabiskan” oleh saudaranya. Hidup yang sebelumnya bergelimang harta mesti digantikan dengan sampah—hidup memang sebercanda itu. 2) Taruni: seorang ART yang selalu “menikah” setiap tahun saat pulang kampung buat Lebaran. Yang sialnya, ia selalu ditipu oleh para lelaki itu, pun ia sendiri terlalu bebal untuk belajar dari pengalaman buruknya. 3) Ross & Joko: perseteruan Ross yang merasa Joko tidak mencintainya hanya karena tidak ada pernyataan cinta secara resmi dari Joko. Lucu memang, cinta terkadang lebih butuh validasi verbal ketimbang pembuktian. 4) Kawin: sopir tidak tahu diri yang hobi kawin. Saking hobinya semesta terus mendukungnya sampai utang menyeretnya seumur hidupnya. 5) Teman Suami: menikah dengan orang yang salah bisa memutarbalikkan hidup. Menikah memang bukan merupakan pilihan mutlak mencapai kebahagiaan. 6) Mbah ‘Niti: ada kalimat gong yang bikin tergelak. Si Mbah disarankan tetangganya buat jadi pengemis setelah suaminya tutup usia. “Katanya, muka saya pas buat minta-minta,” katanya terkekeh. HAHA 7) Harapan Kita: Deritawati 😭
Dah… Gitu aja. Ternyata cukup banyak cerpen yang nyantol di kepalaku. Recommended buat yang suka baca cerpen “ringan”.
Memulai baca buku dari yang tipis dan ringan. Kumcer kali ini sederhana tentang sehari-hari saja sebenanrnya yang kita dengar, tapi tetap menarik untuk dibaca.
Sesuai dengan judulnya. Kumpulan cerpen ini berkisah tentang orang-orang biasa yang sering hadir di keseharian kita—tanpa kita sadari, namun keberadaannya penting.
Berisi tiga puluh satu cerpen. Ya, bagiku yang membaca cerpen itu "melelahkan" karena serasa banyak membaca cerita—tapi hanya dalam satu buku. Dan ini ada 31 cerpen. WOW. Tidak ada klimaks. Benar-benar cerita yang "biasa". Beberapa ada yang greget, beberapa ada yang kurang jelas maksudnya apa—mungkin karena saking pendeknya. Jadi, kalau terbiasa baca cerita yang darderdor brangbrengbrong, maka kamu akan dibuat bosan di beberapa bagian.
Meski demikian ada cerpen yang kusukai (terutama di bagian awal-awal), yaitu Dengan Alamat dan Ross & Joko.
1) Dengan Alamat termasuk cerpen yang sedih nan miris. Tentang keponakan yang ingin mengundang pamannya ke acara keluarga. Tapi, alamatnya tidak jelas. Sering pindah-pindah. Menurut pamannya itu, alamat tidak penting. Karena pamannya tinggal beratapkan langit.
2) Ross & Joko ini komedi sekali, haha. Ross mau menceraikan suaminya karena suaminya tidak mau pyar pyar alias i love you dalam Bahasa India. Suaminya pun tidak mau menyanyikan lagu-lagu di film India kesukaan Ross.
Akhir kata, kumcer ini mungkin akan menarik bagi kamu yang suka cerita yang ringan dan selingan bacaan sekali duduk.
⚘️ 3.5⭐️ untuk bookmark dan stiker kucingnya yang gemas.
Sebenarnya bukunya bagus saja, tapi kurang sesuai ekspektasi awal dan tidak terlalu cocok denganku. Ceritanya memang tentang orang biasa, tapi ternyata tidak seringan yang kukira. Cerita yang pendek-pendek juga membuat mudah dilupakan, tapi tetap bisa menjadi selingan ketika kamu ingin baca di waktu singkat.
Kios Pasar Sore: dan Cerita Orang-orang Biasa Lainnya
Buku pertama yang tuntas ku baca pada 2026
Buku ini isinya ialah obrolan sehari-hari kita. Bisa jadi kita juga sering melakukannya. Benar-benar membicarakan orang lain, seperti “katanya Bu Anu anu ya?” “Tahu ga kalau si Anu itu anu.”
Aku merasa membaca ini sedang makan di warung makan yang amat merakyat dan saat makan mendengarkan obrolan orang lain yang ga sengaja aku ikuti dan bikin penasaran.
Apa yang diceritakan di buku ini benar-benar ada di sekitar kita, soal kisah cinta, kisah hidup, pernikahan, bahagia, kesedihan, aneh, dan hal-hal di luar nalar.
Sebut saja bagaimana sebuah kios bisa utuh setelah pasar tempat kios itu berada terbakar habis? Apa lagi kalau kita menduga amalan yang dilakukan sang pemilik kios.
Kisah seorang yang tak ingin menyusahkan orang terdekatnya pun ada di buku ini. Salah pilih pasangan pun ada.
Tak lupa soal orang egois dan melupakan kehidupannya untuk hanya merawat puluhan kucing.
Buku ini juga menyimpan kisah orang-orang baik hati, seperti Bu Warso yang menerima siapa pun datang ke rumahnya selama ia bekerja walau hanya istirahat atau makan. Seperti Pak Rahmat yang memilih tetap menjadi OB walau telah ditawari pekerjaan yang lebih baik sebab persenan yang didapat bisa membantu tetangganya.
Sungguh benar-benar ada di sekitar kita tetapi cerita-cerita ini terkadang kita abaikan. Kita anggap tidak penting. Namun, dengan dirangkum, mungkin membuat kita sadar dari tiap-tiap cerita yang ada.
My first read in 2026. Terdiri dari beberapa cerita pendek. Bacaan yang bagus untuk kalian yang sedang mengalami reading slump, karena cerita yang disajikan cukup menarik. Bahasa yang digunakan mudah dipahami, tetapi ada beberapa cerita yang membuat saya berfikir mengenai maksud dari akhir ceritanya.
Buku ini menceritakan kisah-kisah dari orang yang mungkin ga pernah terbesit dalam pikiran kita. Mengajarkan saya untuk jangan selalu melihat keatas, sebab diluar sana semua orang pasti berjuang dalam kehidupannya.
Membaca kumpulan cerpen ini rasanya seperti mendengar cerita yang sering kita dengar dari tetangga atau dari mulut ke mulut di perkampungan. Cerita-ceritanya terdengar tidak asing, bahkan terasa sangat dekat dengan keseharian.
Ibu Reda menulis dengan bahasa yang sederhana. Banyak cerpen yang terasa seperti potongan cerita, tidak benar-benar “selesai”, tapi justru itu yang membuatnya tinggal lebih lama di kepala. Seperti gosip atau cerita di gang-gang rumah, kita hanya mendapat sebagian, sisanya harus ditebak sendiri.
Yang menarik, buku ini tidak berusaha menggurui atau memancing emosi berlebihan. Kesedihan, kekejaman, dan kejanggalan hidup muncul secara alami. Kita sebagai pembaca lebih sering diposisikan sebagai pengamat, seperti orang yang mendengar cerita, mengangguk, lalu pulang membawa pikirannya sendiri.
Memang cerita yang paling ngena ke hati itu, justru cerita-cerita sederhana. Yang mungkin sering kita dengar dari sekeliling kita. Cerita teman, tetangga, atau tukang gado-gado langganan.
Kios Pasar Sore ini jenis cerita pendek seperti itu. Ga butuh plot twist - plot twistan, toh buktinya malah nempel di hati.
kisah-kisah sederhana yang familiar di sekitar kita tapi luput untuk diamati. Bu Reda sungguh piawai meramu cerita sederhana itu jadi sesuatu yang penting dan perlu untuk dibaca dan dicerna. setiap cerita membawa ragam perasaan berbeda; lucu, simpati, miris, haru, marah, sedih, nano-nano 🥹
Kumpulan cerpen yang sangat menyenangkan untuk dibaca.
Setiap ceritanya bisa relate banget, sangat gong, atau bisa jadi kurang terhubung karena mungkin lebih relate di orang lainnya, and that's okay. Aku merasa cerita-cerita ini tidak untuk di'makan' semua sama setiap pembaca yang baca cerita disini. Aku merasa ada beberapa cerita yang sangat berkesan, ada yang cukup menarik, dan adapula yang selewat saja atau sama sekali tidak aku pahami meskipun aku sudah berkali-kali mengulang bagian itu.
Menurutku, judulnya sangat merepresentasikan pengalaman membacaku yang rasanya seperti lagi bergosip cerita tetangga atau orang asing yang 'gong' banget padahal mereka hanya orang-orang 'biasa' tapi punya cerita-cerita yang seringkali tidak kalah menarik dengan cerita-cerita para public figure. Bisa jadi itu cerita salah satu orang di tempat kerja, cerita penumpang dari orang lewat, yang jelas mereka ini adalah orang-orang biasa yang menjadi tokoh utama di obrolan cerita tongkrongan. Dan mengangkat tema seperti ini untuk dikumpulkan menjadi cerita-cerita pendek menrutuku adalah hal yang sangat menarik. Seringkali aku dibawa flashback ke momen-momen aku mendengar kisah-kisah yang disampaikan dari mulut ke mulut yang memiliki value cerita yangs sangat tinggi. Tapi bedanya, dalam buku ini bu Reda menyampaikannya dengan sajian diksi-diksi dan gaya bercerita yang sangat enak untuk diikuti. Setiap cerita punya 'suara'nya masing-masing, disesuaikan dengan latar cerita tokoh-tokohnya.
Cerita-cerita disini tidak selalu menawarkan pesan kehidupan. Kadang ada, kadang hanya cerita tanpa ending, kadang hanya selewat saja, kadang bikin cengoh. Aku merasakan banyak pengalaman di buku setipis ini.
Aku yakin siapapun yang sudah selesai membaca buku ini memiliki kisah favoritnya masing-masing, dan top 3 aku di buku ini adalah: 1. Pertemuan pertama: cerita pengemis dengan latar belakang kehidupan yang gong banget. 2. Dengan alamat: kenapa si paklik susah banget ditengok keluarga 3. Penulis Baru: kadang tidak tahu banyak itu lebih baik
Ini adalah cerita bu Reda yang pertama aku baca dalam bentuk kumpulan cerpen, dan aku harap aku akan berkesempatan mendapatkan cerita-ceritanya dalam bentuk novel yang memberikan kehangatan dan pelajaran hidup. Aku penasaran akan seperti apa pengalaman membacaku nantinya.
Kios Pasar Sore dan Cerita Orang-orang Biasa Lainnya || @reda.gaudiamo || @shiramedia ||Cetakan Kelima, Oktober 2025 || 126 halaman
Rate : 5/5 ⭐
"Kalau yang lain panas jangan ikut panas. Kalau yang lain terbakar, bikin dingin pikiran, hati. Sembahyang. Sembahyang. Api nyamber barang yang panas, kabur dari yang dingin." - Koh Lauw -
🐱🐱🐱
Membaca Kios Pasar Sore saat reading slump itu benar-benar jalan ninja terbaik yang saya ambil. 31 kisah yang dituliskan ibu Reda dalam buku ini sangat heart warming. Tak hanya ringan dibaca tapi menghangatkan hati.
Kisahnya beragam dari banyak point of view banyak keluarga dan orang-orang biasa. Kisah tentang supir, biduan, penerbang gagal, tukang semir sepatu, petugas Oranye, penjual peniti, pengemis, office boy, pekerja, penjual kopi, bahkan tentang kucing dan masih banyak lagi. Di setiap chapter kisahnya tidak pernah gagal membuat saya merasa nyes di hati dan mata.
Seperti kisah Koh Lauw, penjual kopi di sebuah pasar. Kedai kopi yang berada di ruang memori perjalanan hidup salah satu pelanggannya. Yang menjadi menarik dari kisah ini adalah pasar tempat Koh Lauw berada sudah empat kali mengalami kebakaran. Namun ajaibnya, kios Koh Lauw selalu selamat dari kebakaran.
Membaca 31 kisah dari orang-orang biasa di luar radar keseharian saya tuh seperti menyegarkan sekaligus menyadarkan. Membuat saya memahami kalau setiap orang di dunia ini, di luar sana, memiliki struggling hidupnya masing-masing. Berkali-kali menemukan "Oh Moment" dan "Kok gitu moment" ketika membaca kisah-kisah orang lain dalam buku ini.
Buku ini sangat ringan tapi sarat pesan dan value. Nyaman banget dibaca dalam sekali duduk sebenarnya. Tapi karena saya berada dalam fase reading slump, saya perlu waktu 3-4 hari untuk menyelesaikannya. Ini bukan karena buku ini tidak menarik, tapi karena saya saja yang masih struggling mengembalikan kebiasaan membaca.
Jadi, kalau kamu suka cerita-cerita slice of life yang penuh kehangatan. Wajib sekali coba baca Kisah Pasar Sore dan Cerita Orang-orang Biasa Lainnya
Aku beli buku ini pada masa PO. Ternyata cepat banget sampai, gak mesti nunggu seminggu. Bonus stiker lucu dan pembatas buku dari Solusi Buku, bonus stiker kucing dari bukunya, juga kartu ucapan terima kasih dari Bu Reda yang gambarnya sama dengan sampulnya yang manis.
Kumpulan 30 cerpen ini memang merekam cerita-cerita masyarakat yang mudah kita temui dalam kehidupan nyata. Dari kisah ART, penjual peniti, pemilik kucing, penjaga sekolah, semuanya memiliki kisah hidup yang tak mulus. Benang merah hampir semua cerpen di sini adalah tentang mengambil keputusan. Kalau dijelaskan dari self determination theory pasti jadi panjang. Wkwk
Aku suka cara Bu Reda bercerita. Membaca antologi ini, seperti menengok kehidupan tahun-tahun ketika era digital belum menguasai zaman. Beberapa tempat yang disebutkan ada di wilayah Jabodetabek, terutama Rawamangun, adalah tempat yang familiar buatku.
Orang-orang Jakarta zaman dulu hingga sekarang, tetap memiliki problem masing-masing. Barangkali cocok jika disebut setiap tokoh utama cerpen ini mendapat ujian hidup. Sangat sangat manusiawi dan relevan dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Apa pun keputusan yang kita ambil, baik kecil maupun besar, akan membawa konsekuensinya masing-masing. Namun, ya, menjalani kehidupan sosial memang tak selalu mudah. Ada norma dan tuntutan tak tertulis, meski seseorang tak melakukan kesalahan kepada masyarakat sekitar, terlambat menikah misalnya.
Kalau dibilang antologi cerpen ini memuat kisah yang lucu, kurasa tidak ada yang lucu, beberapa saja yang jenaka. Sisanya pahit, tapi dikemas dengan apik, sehingga getirnya tak terasa menyakitkan. Cerpen favoritku adalah beberapa cerpen terakhir. Ibarat makanan enak, memang lebih baik dinikmati paling akhir. Kumpulan ini tidak perlu dibaca berurutan, tapi untuk mempermudah saja (biar ga membolak-balik lembar kertas), aku memutuskan membaca secara berurutan. Lalu hasilnya tidak mengecewakan. :)
saya awalnya belum begitu “ngeh” kalo penulis buku ini adalah orang yg sama dibalik series buku na willa. buku yg sering dibahas oleh orang-orang sekitar saya baik secara obrolan atau story di instagram. banyak rekan saya yg menyarankan untuk baca buku tersebut, bagus katanya.
kebetulan tahun ini saya memang ingin memperbanyak bacaan buku yg ringan-ringan saja. satu hari lewat lah di timeline ig saya postingan shira media, mempromosikan buku terbitan terbaru. saya belum ada niatan untuk beli, tapi cuplikan ceritanya menurut saya cukup menarik.
sampailah saya mendapatkan buku ini sebagai kado dari seorang teman, karena dia ingat betapa saya kepo isi bukunya seperti apa. bisa dibilang ini buku kumpulan cerpen pertama yg saya baca (seingat saya dalam 23 tahun saya hidup). dan saya jatuh hati dengan cara kepenulisan si author.
cerita-cerita dalam buku ini sebetulanya sederhana, sangat. tapi setiap ceritanya membuat saya kembali bersyukur atas hidup yg saya miliki. bab yg paling saya suka, judulnya Akbar, Sang Penerbang, dan Penuh Rahmat.
inti cerita dari ketiga bab itu mirip mirip, tentang cita cita yg kita miliki, meraih impian, dan bersyukur. penulisan tidak dilebih lebihkan, mudah dicerna, dan seperti salah satu review yg saya baca di atas, sangat manusiawi.
rasanya seperti ikut mendengar atau melihat cerita hidup dari tiap-tiap orang yg ada didalamnya. saya jadi tertarik untuk banyak ngobrol sama orang asing, mungkin barangkali orang-orang yg sering kita jumpai tapi tidak kita anggap terlalu “penting”.
terima kasih author, bukunya berkesan buat saya. pembatasnya pun lucu berbentuk kucing! :)
This entire review has been hidden because of spoilers.
Selesai baca buku Kios Pasar Sore dan Cerita Orang-Orang Biasa Lainnya karya Reda Gaudiamo. Bukunya berisi tiga puluh satu cerita pendek. Sesuai judulnya isinya cerita orang orang biasa yang kita temukan dalam kehidupan seharI-hari. Mulai dari teman yang memelihara kucing, kelakuan teman kerja, tukang sayur di pasar, kuli bangunan, sopir baru, bahkan cerita-cerita dari sanak saudara.
Favoritku ada beberapa nih; Cerita “1,37” ini ada kucingnya gitu, bingung mau ketawa, kesel atau sedih bacanya, campur aduk. Terus ada “Dengan Alamat”, tentang pria yang merantau ke Jakarta dipaksa ngasih tau alamatnya, twist nya lumayan haha.
Terus cerita “Akbar”, sedih baca ini, impian remaja yang sirna karena, pokoknya baca sendiri deh huhu. Kalau yang lucu ada cerita “Harapan Kita”, awal baca kasihan cuma lucu sih haha. Terus cerita “Ross dan Joko” ini kocak juga sih, tentang perempuan minta cerai dengan alasan yang sepele.
Nah kalo cerita “Madame I’usherette” ini manis dan hangat, tentang wanita tua yang jadi usher di teater. Gue kan baru tau bu Reda, mantan pemimpin redaksi Cosmopolitan, jadi cerita “Lelaki dengan Tas Kertas” itu bisa saja benar terjadi haha.
Bukunya ringan, 126 halaman aja, bahkan ada cerita pendek yang sehalaman doang. Cocok dibaca buat yang suka slice of life atau sedang reading slump. Oh ya beli ini buku ini bonus stiker kucing calico gemas *penting banget haha*.
Buku ini adalah karya pertama Bu Reda yang kubaca. Kumpulan ceritanya cukup tipis bahkan ada yang hanya diceritakan satu lembar saja. Tema yang diangkat beragam—tak jauh dari kehidupan sekitar yang bisa dirasakan banyak orang yakni tentang cinta, profesi, ekonomi, tingkah laku, dan lain sebagainya.
Rasanya aneh sewaktu membaca buku ini dengan format tulisan tidak rata kanan-kiri. Gemas, asli! Beberapa cerita ada yang seru, membingungkan, gantung, dan lucu.
Beberapa cerita yang aku suka adalah:
1. Ni mas: wanita yang punya standar tinggi untuk pasangan. Suatu ketika suaminya ditangkap mafia karena ganti mobil baru terus.
2. Ros & Joko (MY FAV): pasangan suami istri yang bertengkar karena suaminya tidak pernah bilang 'pyar pyar' (baca: cinta dalam bahasa India) ke istrinya. Sementara istrinya adalah fans Shah Rukh Khan garis keras.
3. Pertemuan Pertama: seorang pekerja menawarkan arem-arem kepada pemulung yang pernah mengaku dirinya kaya. Pemulung bercerita kalau harta keluarga dihabiskan oleh Cicik dan Kokonya yang tamak. Suatu ketika si pekerja menawarkan pemulung itu berdandan rapi untuk acara foto. Namun sayang, pemulung itu tak pernah datang lagi.
4. Akbar: mimpinya untuk pergi ke Jepang harus kandas karena permintaan ibunya yang menyuruh Akbar tetap tinggal di kampung.
The good thing about Reda Gaudiamo is that she seems like a genuinely pleasant person to be around, and she can write. That alone makes her a walking story generator, and this book feels like proof of that.
These are stories about people we encounter in everyday life but rarely stop to talk to, let alone write about: the beggar or scavenger who appears on our daily commute, the quirky neighbour, the eccentric relative we see once a year. In Gaudiamo’s hands, their lives become heartwarming, funny, and sometimes unexpectedly heartbreaking.
In a way, the book reminds me of People From My Neighbourhood by Hiromi Kawakami, just minus the magical realism. The stories here are absurd, yet believable enough that you can easily imagine them happening to someone you know. A neighbour. A friend of a friend. And you might know if only you talk to them.
It’s the perfect book to read on a slow Sunday morning, with a cup of tea and a cat on your lap.
Gaudiamo tidak pernah mengecewakan dalam menyajikan tulisan-tulisan sederhana bermakna. Jatuh cinta sejak Na Willa, pengarang kini menargetkan pembaca yang lebih dewasa dan bisa sesuai dengan keseharian para masyarakat yang terjebak dalam hari-hari ini itu.
Beberapa cerita terkesan menakjubkan; sesuatu yang bisa kau katakan "Wow, itu benar. Ini bisa terjadi pada orang pendiam 3 meja sebelah kiri di kantorku." Tapi beberapa cerita juga terkesan monoton, meski disajikan dalam gaya penulisan Gaudiamo yang khas. Topik yang sama beberapa kali diulang meski dengan kejutan berbeda, menyiratkan bahwa yah memang kadang-kadang cerita yang 'wow' memang tidak begitu 'wow' pada akhirnya.
Bagi saya, buku ini berhasil membuat saya untuk membalik halaman dengan tempo yang tidak terburu-buru, meskipun sudah saya katakan yah kadang-kadang ada yang "Loh topik ini lagi." Beberapa cerita tidak memiliki resolusi -- namun bukannya itu memang kehidupan? Kadang naskah ditulis tanpa kita ketahui bagaimana akhirnya. Gaya penulisan observatif inilah yang membuat Gaudiamo cakap dalam bertutur, sebagaimana pengarang adalah kawan dekat kita yang gemar 'nangkring' di warkop terdekat dan menyuarakan dongeng-dongeng realitas hidup saat kita rehat sepulang kerja.
Buku ini selesai dalam sekali duduk (eh bukan, sekali berbaring telungkup di kasur, bersandarkan guling) di tengah malam dan selesai tepat saat langit berubah terang.
Kios pasar sore dan cerita orang-orang biasanya lainnya tulisan Reda Gaudiamo. Kisah nyata orang-orang yang hidup di sekitar kita. 31 cerita banyaknya dan setiap cerita menyimpan keunikan, pesan, perasaan hangat, lucu dan terkasan menyayat.
Reda pun bilang, mungki kita juga punya satu cerita atau lebih? Sudahakah kita bercerita hari ini?
Berikut adalah ratting saya untuk ke 31 cerita di dalam buku ini :
1, 37, … 1/5 Ni mas 1/5 Bini baru 1/5 Dengan alamat 3/5 Ross & Joko 3/5 Taat 0/5 Kawin 3/5 Romantis 1/5 Teman suami 0/5 Taruni 1/5 Di hari ke-89.765 4/5 Pertemuan pertama 4/5 Bintang cemerlang 1/5 Akbar 4/5 Harapan kita 0/5 Sang penerbang 1/5 Setia 4/5 Sayangku padamu 2/5 Cita-cita 2/5 Beda Jalur 3/5 Lelaki dengan tas kertas 3/5 Semir sepatu 2/5 Madame l’Usherette 5/5 Warung jalan tanjung 4/5 Timbang dohlan 4/5 Penuh rahmat 3/5 Sang biduan 3/5 Kios pasar sore 3/5 Mbah ‘Niti 3/5 Penulis baru 3/5 Pulang 5/5
Dan untuk keseluruhan buku ringan ini saya memberi 3,8⭐️/5⭐️