What do you think?


Kios Pasar Sore dan Cerita Orang-orang Biasa Lainnya
Di balik setiap wajah yang kita jumpa, ada kisah yang nyaris tak pernah terucap. Melalui Kios Pasar Sore dan Cerita Orang-orang Biasa Lainnya, Reda Gaudiamo merangkai tiga puluh cerita pendek yang mengingatkan kita, bahwa hidup tidak pernah benar benar biasa saja. Di tangan Reda, cerita orang-orang biasa berubah menjadi potret kehidupan yang hangat lucu, dan terkadang menyayat serta membuat kita sadar, mungkin kita pun salah satunya.
136 pages, Paperback
First published October 10, 2025
Ratings & Reviews
Friends & Following
Create a free account to discover what your friends think of this book!
Community Reviews
Displaying 1 - 30 of 246 reviews
November 2, 2025
Selalu suka tulisannya Mbak Reda. Manusiawi dan apa adanya. 'Kios Pasar Sore' berisi kumpulan cerita tentang bermacam orang dan masalah hidupnya; masalah ekonomi, keluarga, percintaan, dan lain-lain. Saya paham kenapa 'Kios Pasar Sore' yang diambil sebagai judul buku, karena memang pengalaman membacanya seperti mendengar obrolan di pasar. Ada cerita tentang orang yang hamil sebelum menikah, tertipu oleh suami sendiri, mengalami kebangkrutan, dan seterusnya. Cerita-ceritanya pun tergolong slice of life sehingga memang terasa familiar dan open ended. Namun, bukannya hidup memang demikian? Sarat hiburan dari cerita dan gagap gempita drama yang bukan milik kita?
Mungkin ada di spektrum yang berbeda dengan Na Willa. Lebih dewasa, pahitnya lebih nyata, tapi tetap khas Mbak Reda.
Mungkin ada di spektrum yang berbeda dengan Na Willa. Lebih dewasa, pahitnya lebih nyata, tapi tetap khas Mbak Reda.
November 22, 2025
Kumcer ini penting dikoleksi karena anti expired oleh zaman manapun. Ibaratnya, kamu adalah seorang pegawai sensus penduduk, dan setiap kamu akan membuat pendataan, masing-masing dari penduduk mengajakmu duduk untuk menceritakan dunianya. Begitulah perasaan dekatnya kita dengan semua kisah di buku ini.
Kisahnya real, dan saya curiga ini adalah kisah nyata orang sekitar penulis, atau cerita tentang orang lain dari orang sekitar.
Untuk para gadis dan lajanger, sepertinya buku ini bisa jadi bacaan pranikah agar paham kalau warna cerah percintaan itu tidak selalu permanen, kadang terciprat warna gelap. Aseek...
Banyak yang aku suka, ada yang mirip sekali dengan orang di sekitarku, tapi untuk judul "Harapan Kita," percayalah, ada yang bernama Senter hanya karena setelah melahirkan, yang terlihat senter. Aku tidak bercanda. Lain kesempatan, kita boleh duduk sambil membahasnya.
Kisahnya real, dan saya curiga ini adalah kisah nyata orang sekitar penulis, atau cerita tentang orang lain dari orang sekitar.
Untuk para gadis dan lajanger, sepertinya buku ini bisa jadi bacaan pranikah agar paham kalau warna cerah percintaan itu tidak selalu permanen, kadang terciprat warna gelap. Aseek...
Banyak yang aku suka, ada yang mirip sekali dengan orang di sekitarku, tapi untuk judul "Harapan Kita," percayalah, ada yang bernama Senter hanya karena setelah melahirkan, yang terlihat senter. Aku tidak bercanda. Lain kesempatan, kita boleh duduk sambil membahasnya.
February 3, 2026
3 ⭐
Sama seperti judulnya, Kios Pasar Sore benar-benar menceritakan kisah orang-orang biasa. Kisah orang-orang yang mungkin sudah sering kita dengar di keseharian, kadang mungkin kita dengar dari buah bibir atau bahkan karena gak sengaja masuk ke telinga dari pembicaraan orang lain.
Untuk buku kumcer 120 halaman, Kios Pasar Sore menawarkan cukup banyak cerpen yang very, very mundane dan singkat. Cerita yang ditawarkan juga bervariasi dari berbagai lapisan masyarakat dan dari berbagai POV juga. bahasannya tidak jauh dari permasalahan pernikahan, ucapan kata cinta, nasib kurang beruntung, ekonomi, kehilangan serta hal-hal kebetulan yang mungkin kita tidak sadari tapi ada loh di sekitar kita.
Baca Kios Pasar Sore cocok dibaca di sore hari, dengan meminum minuman manis yang kamu suka sambil duduk di tempat nyaman sepoi sepi. niscaya selesai dalam satu kali duduk.
Sama seperti judulnya, Kios Pasar Sore benar-benar menceritakan kisah orang-orang biasa. Kisah orang-orang yang mungkin sudah sering kita dengar di keseharian, kadang mungkin kita dengar dari buah bibir atau bahkan karena gak sengaja masuk ke telinga dari pembicaraan orang lain.
Untuk buku kumcer 120 halaman, Kios Pasar Sore menawarkan cukup banyak cerpen yang very, very mundane dan singkat. Cerita yang ditawarkan juga bervariasi dari berbagai lapisan masyarakat dan dari berbagai POV juga. bahasannya tidak jauh dari permasalahan pernikahan, ucapan kata cinta, nasib kurang beruntung, ekonomi, kehilangan serta hal-hal kebetulan yang mungkin kita tidak sadari tapi ada loh di sekitar kita.
Baca Kios Pasar Sore cocok dibaca di sore hari, dengan meminum minuman manis yang kamu suka sambil duduk di tempat nyaman sepoi sepi. niscaya selesai dalam satu kali duduk.
October 20, 2025
meskipun 1 cerita hanya dalam 2-5 halaman, tapi setiap selesai 1 cerita terasa sekali emosinya sampai harus nafas dulu sebelum pindah ke cerita selanjutnya 😂
cerita-cerita yang dituliskan terasa begitu realistis dan dekat. cerita-cerita yang mungkin pernah kita dengar dari tetangga kita, sehari-hari kita lihat atau bahkan kita sendiri mengalaminya. tulisannya ringan, tapi ngena banget :') selalu suka dengan karya-karya Bu Reda ❤️
cerita-cerita yang dituliskan terasa begitu realistis dan dekat. cerita-cerita yang mungkin pernah kita dengar dari tetangga kita, sehari-hari kita lihat atau bahkan kita sendiri mengalaminya. tulisannya ringan, tapi ngena banget :') selalu suka dengan karya-karya Bu Reda ❤️
November 14, 2025
Buku ini terasa seperti sepotong kehidupan yang tenang, riuh, sederhana, tapi tak selalu meninggalkan gema panjang di hati kita. Kios Pasar Sore karya Reda Gaudiamo merupakan kumpulan cerita pendek tentang orang-orang biasa
Setiap cerpen dalam buku ini menyoroti hal-hal kecil yang sering luput dari perhatian; tentang ibu yang menunggu anaknya pulang, tentang percakapan di kios yang sederhana, tentang kesepian yang hadir diam-diam di tengah keramaian.
Gaya tulis Bu Reda lembut dan jernih, seolah ia ingin menulis dengan napas pelan agar setiap kalimatnya terdengar seperti bisikan yang akrab.
Namun sayangnya, saya merasa ada jarak yang sulit ditembus. Cerita-ceritanya indah, tapi tidak selalu menggugah. Beberapa kisah berakhir terlalu cepat, seperti percakapan yang berhenti di tengah kalimat hingga ada rasa ingin tahu yang belum sempat terjawab.
Dari 31 cerita cerpen favorit saya ada di judul: Penulis Baru. Itu saja Rate 3/5
Setiap cerpen dalam buku ini menyoroti hal-hal kecil yang sering luput dari perhatian; tentang ibu yang menunggu anaknya pulang, tentang percakapan di kios yang sederhana, tentang kesepian yang hadir diam-diam di tengah keramaian.
Gaya tulis Bu Reda lembut dan jernih, seolah ia ingin menulis dengan napas pelan agar setiap kalimatnya terdengar seperti bisikan yang akrab.
Namun sayangnya, saya merasa ada jarak yang sulit ditembus. Cerita-ceritanya indah, tapi tidak selalu menggugah. Beberapa kisah berakhir terlalu cepat, seperti percakapan yang berhenti di tengah kalimat hingga ada rasa ingin tahu yang belum sempat terjawab.
Dari 31 cerita cerpen favorit saya ada di judul: Penulis Baru. Itu saja Rate 3/5
December 12, 2025
Meskipun sudah membaca beberapa karya kumcer, masih belum terbiasa. Jiwa introverku sepertinya berpengaruh. Agak malas memulai cerita baru sebab harus berkenalan lagi dengan tokoh-tokoh baru, mana belum puas menikmati cerita sebelumnya.
Kios Pasar Sore dan Cerita Orang-Orang Biasa Lainnya termasuk pengecualian. Bahasanya lugas, ceritanya langsung pada inti, narasinya tidak berbelit-belit. Cocok buat saya yang “kurang” suka memproses sesuatu yang abstrak dari sumber data (bacaan) yang terbatas.
Beberapa cerpen yang saya sukai dari buku ini antara lain sebagai berikut.
1) Pertemuan Pertama: seorang gelandangan yang jatuh miskin setelah harta orang tuanya “dihabiskan” oleh saudaranya. Hidup yang sebelumnya bergelimang harta mesti digantikan dengan sampah—hidup memang sebercanda itu.
2) Taruni: seorang ART yang selalu “menikah” setiap tahun saat pulang kampung buat Lebaran. Yang sialnya, ia selalu ditipu oleh para lelaki itu, pun ia sendiri terlalu bebal untuk belajar dari pengalaman buruknya.
3) Ross & Joko: perseteruan Ross yang merasa Joko tidak mencintainya hanya karena tidak ada pernyataan cinta secara resmi dari Joko. Lucu memang, cinta terkadang lebih butuh validasi verbal ketimbang pembuktian.
4) Kawin: sopir tidak tahu diri yang hobi kawin. Saking hobinya semesta terus mendukungnya sampai utang menyeretnya seumur hidupnya.
5) Teman Suami: menikah dengan orang yang salah bisa memutarbalikkan hidup. Menikah memang bukan merupakan pilihan mutlak mencapai kebahagiaan.
6) Mbah ‘Niti: ada kalimat gong yang bikin tergelak. Si Mbah disarankan tetangganya buat jadi pengemis setelah suaminya tutup usia. “Katanya, muka saya pas buat minta-minta,” katanya terkekeh. HAHA
7) Harapan Kita: Deritawati 😭
Dah… Gitu aja. Ternyata cukup banyak cerpen yang nyantol di kepalaku. Recommended buat yang suka baca cerpen “ringan”.
Kios Pasar Sore dan Cerita Orang-Orang Biasa Lainnya termasuk pengecualian. Bahasanya lugas, ceritanya langsung pada inti, narasinya tidak berbelit-belit. Cocok buat saya yang “kurang” suka memproses sesuatu yang abstrak dari sumber data (bacaan) yang terbatas.
Beberapa cerpen yang saya sukai dari buku ini antara lain sebagai berikut.
1) Pertemuan Pertama: seorang gelandangan yang jatuh miskin setelah harta orang tuanya “dihabiskan” oleh saudaranya. Hidup yang sebelumnya bergelimang harta mesti digantikan dengan sampah—hidup memang sebercanda itu.
2) Taruni: seorang ART yang selalu “menikah” setiap tahun saat pulang kampung buat Lebaran. Yang sialnya, ia selalu ditipu oleh para lelaki itu, pun ia sendiri terlalu bebal untuk belajar dari pengalaman buruknya.
3) Ross & Joko: perseteruan Ross yang merasa Joko tidak mencintainya hanya karena tidak ada pernyataan cinta secara resmi dari Joko. Lucu memang, cinta terkadang lebih butuh validasi verbal ketimbang pembuktian.
4) Kawin: sopir tidak tahu diri yang hobi kawin. Saking hobinya semesta terus mendukungnya sampai utang menyeretnya seumur hidupnya.
5) Teman Suami: menikah dengan orang yang salah bisa memutarbalikkan hidup. Menikah memang bukan merupakan pilihan mutlak mencapai kebahagiaan.
6) Mbah ‘Niti: ada kalimat gong yang bikin tergelak. Si Mbah disarankan tetangganya buat jadi pengemis setelah suaminya tutup usia. “Katanya, muka saya pas buat minta-minta,” katanya terkekeh. HAHA
7) Harapan Kita: Deritawati 😭
Dah… Gitu aja. Ternyata cukup banyak cerpen yang nyantol di kepalaku. Recommended buat yang suka baca cerpen “ringan”.
November 28, 2025
Mendung yang bergerumul ditemani rintik yang perlahan turun. Lalu ketika kubuka lembar buku dari bunda Reda, ternyata masih terpampang tanda tangan miliknya. Padahal aku kira masa pesan yang masih memiliki paraf sudah berlalu, tapi ternyata berkah dari semesta kembali datang dalam hal kecil di hidupku. Meski banyak penat dan sangka, kalut yang berlebih, kupaksa untuk memeluk diriku, dengan membaca kisah-kisah sederhana seiring hujan yang mulai menderas. Persis, juga dengan rasa syukur yang seadanya.
Sedari dulu aku mengenal bunda Reda melalui karya-karyanya yang menyuarakan puisi dari pak Sapardi. Sejuk dengan melodinya, aku mengagumi secukupnya. Lalu ini adalah kali pertama aku membaca karya tulis bunda Reda. Mengandung begitu banyak kisah dari berbagai bentuk dan macam orang. Menarik, kubiarkan menemani sela-sela hariku seminggu terakhir. Di meja makan, balkon rumah, dapur, bahkan toilet. Kusadari, terkadang hidup memerlukan sesuatu yang lebih apa adanya, dibanding penuh guntur dan badai.
Sedari dulu aku mengenal bunda Reda melalui karya-karyanya yang menyuarakan puisi dari pak Sapardi. Sejuk dengan melodinya, aku mengagumi secukupnya. Lalu ini adalah kali pertama aku membaca karya tulis bunda Reda. Mengandung begitu banyak kisah dari berbagai bentuk dan macam orang. Menarik, kubiarkan menemani sela-sela hariku seminggu terakhir. Di meja makan, balkon rumah, dapur, bahkan toilet. Kusadari, terkadang hidup memerlukan sesuatu yang lebih apa adanya, dibanding penuh guntur dan badai.
November 24, 2025
Yup, sesuai dg judul nya. Kumpulan cerita orang2 biasa yg kerap dekat dan aku yakin banyak relevansi nya dg lingkungan sekitar kita. Tapi banyak cerita yg flop dan bbrp yg bagus terlalu cepat utk di akhiri. Tp seru melihat berbagai kisah masyarakat yg sebenarnya sering kita abaikan karena terlalu sibuk dg diri sendiri. 🐈⬛🧺
January 1, 2026
1 - 2026
Memulai baca buku dari yang tipis dan ringan.
Kumcer kali ini sederhana tentang sehari-hari saja sebenanrnya yang kita dengar, tapi tetap menarik untuk dibaca.
Memulai baca buku dari yang tipis dan ringan.
Kumcer kali ini sederhana tentang sehari-hari saja sebenanrnya yang kita dengar, tapi tetap menarik untuk dibaca.
November 28, 2025
Sesuai dengan judulnya. Kumpulan cerpen ini berkisah tentang orang-orang biasa yang sering hadir di keseharian kita—tanpa kita sadari, namun keberadaannya penting.
Berisi tiga puluh satu cerpen. Ya, bagiku yang membaca cerpen itu "melelahkan" karena serasa banyak membaca cerita—tapi hanya dalam satu buku. Dan ini ada 31 cerpen. WOW. Tidak ada klimaks. Benar-benar cerita yang "biasa". Beberapa ada yang greget, beberapa ada yang kurang jelas maksudnya apa—mungkin karena saking pendeknya. Jadi, kalau terbiasa baca cerita yang darderdor brangbrengbrong, maka kamu akan dibuat bosan di beberapa bagian.
Meski demikian ada cerpen yang kusukai (terutama di bagian awal-awal), yaitu Dengan Alamat dan Ross & Joko.
1) Dengan Alamat termasuk cerpen yang sedih nan miris. Tentang keponakan yang ingin mengundang pamannya ke acara keluarga. Tapi, alamatnya tidak jelas. Sering pindah-pindah. Menurut pamannya itu, alamat tidak penting. Karena pamannya tinggal beratapkan langit.
2) Ross & Joko ini komedi sekali, haha. Ross mau menceraikan suaminya karena suaminya tidak mau pyar pyar alias i love you dalam Bahasa India. Suaminya pun tidak mau menyanyikan lagu-lagu di film India kesukaan Ross.
Akhir kata, kumcer ini mungkin akan menarik bagi kamu yang suka cerita yang ringan dan selingan bacaan sekali duduk.
⚘️ 3.5⭐️ untuk bookmark dan stiker kucingnya yang gemas.
Berisi tiga puluh satu cerpen. Ya, bagiku yang membaca cerpen itu "melelahkan" karena serasa banyak membaca cerita—tapi hanya dalam satu buku. Dan ini ada 31 cerpen. WOW. Tidak ada klimaks. Benar-benar cerita yang "biasa". Beberapa ada yang greget, beberapa ada yang kurang jelas maksudnya apa—mungkin karena saking pendeknya. Jadi, kalau terbiasa baca cerita yang darderdor brangbrengbrong, maka kamu akan dibuat bosan di beberapa bagian.
Meski demikian ada cerpen yang kusukai (terutama di bagian awal-awal), yaitu Dengan Alamat dan Ross & Joko.
1) Dengan Alamat termasuk cerpen yang sedih nan miris. Tentang keponakan yang ingin mengundang pamannya ke acara keluarga. Tapi, alamatnya tidak jelas. Sering pindah-pindah. Menurut pamannya itu, alamat tidak penting. Karena pamannya tinggal beratapkan langit.
2) Ross & Joko ini komedi sekali, haha. Ross mau menceraikan suaminya karena suaminya tidak mau pyar pyar alias i love you dalam Bahasa India. Suaminya pun tidak mau menyanyikan lagu-lagu di film India kesukaan Ross.
Akhir kata, kumcer ini mungkin akan menarik bagi kamu yang suka cerita yang ringan dan selingan bacaan sekali duduk.
⚘️ 3.5⭐️ untuk bookmark dan stiker kucingnya yang gemas.
December 25, 2025
Sebenarnya bukunya bagus saja, tapi kurang sesuai ekspektasi awal dan tidak terlalu cocok denganku. Ceritanya memang tentang orang biasa, tapi ternyata tidak seringan yang kukira. Cerita yang pendek-pendek juga membuat mudah dilupakan, tapi tetap bisa menjadi selingan ketika kamu ingin baca di waktu singkat.
July 14, 2026
❝Kalau sejak dulu dia tidak pernah bilang cinta, dan kamu juga tahu dia sangat cinta, kenapa sekarang kalimat itu jadi penting? Bertahun-tahun aman saja, kenapa sekarang jadi syarat utama?❞
actual rating: 3.5/5
Jujur sempat kaget waktu tahu buku tipis yang tebalnya 126 halaman ini ternyata berisi tiga puluh satu cerita pendek! 😯
Jadi memang cerpennya tuh ada yang pendek banget, seperti Sayangku Padamu yang hanya tiga halaman, Semir Sapatu yang hanya satu halaman, bahkan cerita Kios Pasar Sore yang juga menjadi tajuk buku ini hanya mendapat porsi dua halaman. Walau begitu, bagiku pribadi, buku ini butuh waktu beberapa hari untuk diselesaikan sebab cukup melelahkan juga memulai cerita baru setiap 2-7 halaman. Ada beberapa cerita yang terasa lucu, hangat, hingga membuat kening berkerut, lalu beberapa lainnya terasa lewat begitu saja, terlalu cepat usai sebelum aku benar-benar bisa masuk ke dalamnya.
Seperti judulnya, cerita-cerita di buku ini mengantarkan kita pada pertemuan dengan berbagai orang biasa yang satu-dua di antaranya bisa saja tanpa disadari pernah berpapasan dengan kita di jalan, satu-dua lainnya mungkin terasa dekat karena kita pernah dihadapkan dengan kejadian serupa, atau mendengar ceritanya dari kenalan.
Ada seorang istri yang sedang merajuk karena menginginkan pernyataan cinta dari suaminya dalam bahasa India, mbah yang menitip peniti jualannya di warung rokok seberang Sarinah, anak yang melepaskan mimpinya karena terhalang restu ibu, dan masih banyak lainnya.
Cerita paling berkesan bagiku adalah Pulang, yang juga ditempatkan sebagai kepingan terakhir kumpulan cerpen ini. Tentang seorang wanita tua dari Ambon yang memutuskan “pulang” ke Jawa, tanah asalnya yang sebenarnya tidak dikenalnya sama sekali. Menurutku keputusan tepat menyimpan cerita tersebut sebagai penutup, menegaskan kembali bahwa orang-orang yang kita temui di jalan mungkin akan berpapasan lagi dengan kita sekali-dua kali. Jika beruntung, kita mungkin akan mendengar mereka menceritakan kisah hidupnya secara sukarela. Di saat seperti itu lah kita ikut bersedih terhadap ironi kehidupan yang dihadapi oleh orang asing yang sama sekali tidak kita kenal.
January 23, 2026
Kios Pasar Sore: dan Cerita Orang-orang Biasa Lainnya
Buku pertama yang tuntas ku baca pada 2026
Buku ini isinya ialah obrolan sehari-hari kita. Bisa jadi kita juga sering melakukannya. Benar-benar membicarakan orang lain, seperti “katanya Bu Anu anu ya?” “Tahu ga kalau si Anu itu anu.”
Aku merasa membaca ini sedang makan di warung makan yang amat merakyat dan saat makan mendengarkan obrolan orang lain yang ga sengaja aku ikuti dan bikin penasaran.
Apa yang diceritakan di buku ini benar-benar ada di sekitar kita, soal kisah cinta, kisah hidup, pernikahan, bahagia, kesedihan, aneh, dan hal-hal di luar nalar.
Sebut saja bagaimana sebuah kios bisa utuh setelah pasar tempat kios itu berada terbakar habis? Apa lagi kalau kita menduga amalan yang dilakukan sang pemilik kios.
Kisah seorang yang tak ingin menyusahkan orang terdekatnya pun ada di buku ini. Salah pilih pasangan pun ada.
Tak lupa soal orang egois dan melupakan kehidupannya untuk hanya merawat puluhan kucing.
Buku ini juga menyimpan kisah orang-orang baik hati, seperti Bu Warso yang menerima siapa pun datang ke rumahnya selama ia bekerja walau hanya istirahat atau makan. Seperti Pak Rahmat yang memilih tetap menjadi OB walau telah ditawari pekerjaan yang lebih baik sebab persenan yang didapat bisa membantu tetangganya.
Sungguh benar-benar ada di sekitar kita tetapi cerita-cerita ini terkadang kita abaikan. Kita anggap tidak penting. Namun, dengan dirangkum, mungkin membuat kita sadar dari tiap-tiap cerita yang ada.
Buku pertama yang tuntas ku baca pada 2026
Buku ini isinya ialah obrolan sehari-hari kita. Bisa jadi kita juga sering melakukannya. Benar-benar membicarakan orang lain, seperti “katanya Bu Anu anu ya?” “Tahu ga kalau si Anu itu anu.”
Aku merasa membaca ini sedang makan di warung makan yang amat merakyat dan saat makan mendengarkan obrolan orang lain yang ga sengaja aku ikuti dan bikin penasaran.
Apa yang diceritakan di buku ini benar-benar ada di sekitar kita, soal kisah cinta, kisah hidup, pernikahan, bahagia, kesedihan, aneh, dan hal-hal di luar nalar.
Sebut saja bagaimana sebuah kios bisa utuh setelah pasar tempat kios itu berada terbakar habis? Apa lagi kalau kita menduga amalan yang dilakukan sang pemilik kios.
Kisah seorang yang tak ingin menyusahkan orang terdekatnya pun ada di buku ini. Salah pilih pasangan pun ada.
Tak lupa soal orang egois dan melupakan kehidupannya untuk hanya merawat puluhan kucing.
Buku ini juga menyimpan kisah orang-orang baik hati, seperti Bu Warso yang menerima siapa pun datang ke rumahnya selama ia bekerja walau hanya istirahat atau makan. Seperti Pak Rahmat yang memilih tetap menjadi OB walau telah ditawari pekerjaan yang lebih baik sebab persenan yang didapat bisa membantu tetangganya.
Sungguh benar-benar ada di sekitar kita tetapi cerita-cerita ini terkadang kita abaikan. Kita anggap tidak penting. Namun, dengan dirangkum, mungkin membuat kita sadar dari tiap-tiap cerita yang ada.
July 15, 2026
Kumpulan cerita pendek berisi 31 cerita. Untuk ukuran buku sekecil ini, cerita di dalamnya termasuk banyak. Saya sempat bingung mengkategorikannya sebagai fiksi atau non-fiksi. Cerita-ceritanya terasa nyata, seperti pengalaman hidup penulis.
Ada cerita yang lucu, ada juga yang membuat terharu. Saya suka cerita tentang Om Ruben dalam cerpen berjudul "Romantis", ada juga cerita tentang mbak "Taruni", dan Nuni dalam kisah "Penulis Baru".
Rasanya menyenangkan menghabiskan sore hari membaca buku ini.
Ada cerita yang lucu, ada juga yang membuat terharu. Saya suka cerita tentang Om Ruben dalam cerpen berjudul "Romantis", ada juga cerita tentang mbak "Taruni", dan Nuni dalam kisah "Penulis Baru".
Rasanya menyenangkan menghabiskan sore hari membaca buku ini.
January 5, 2026
My first read in 2026. Terdiri dari beberapa cerita pendek. Bacaan yang bagus untuk kalian yang sedang mengalami reading slump, karena cerita yang disajikan cukup menarik. Bahasa yang digunakan mudah dipahami, tetapi ada beberapa cerita yang membuat saya berfikir mengenai maksud dari akhir ceritanya.
Buku ini menceritakan kisah-kisah dari orang yang mungkin ga pernah terbesit dalam pikiran kita. Mengajarkan saya untuk jangan selalu melihat keatas, sebab diluar sana semua orang pasti berjuang dalam kehidupannya.
Buku ini menceritakan kisah-kisah dari orang yang mungkin ga pernah terbesit dalam pikiran kita. Mengajarkan saya untuk jangan selalu melihat keatas, sebab diluar sana semua orang pasti berjuang dalam kehidupannya.
August 1, 2026
Kirain bakal bisa dilahap dalam sekali duduk, tapi ternyata cerita2nya cukup “berat” juga ya. Karena merekam banyak jg cerit tentang kegagalan wong cilik buat mewujudkan mimpi mereka. Jadi agak tertampar karena sadar selama ini kebantu sama privilese yang dimiliki. Pun cerita2nya benar2 merekam kehidupan orang2 biasa, serasa ngobrol langsung sama tokoh2nya, gak kerasa kayak fiksi. Hangat dan sederhana, puitis di beberapa bagian.
January 1, 2026
Membaca kumpulan cerpen ini rasanya seperti mendengar cerita yang sering kita dengar dari tetangga atau dari mulut ke mulut di perkampungan. Cerita-ceritanya terdengar tidak asing, bahkan terasa sangat dekat dengan keseharian.
Ibu Reda menulis dengan bahasa yang sederhana. Banyak cerpen yang terasa seperti potongan cerita, tidak benar-benar “selesai”, tapi justru itu yang membuatnya tinggal lebih lama di kepala. Seperti gosip atau cerita di gang-gang rumah, kita hanya mendapat sebagian, sisanya harus ditebak sendiri.
Yang menarik, buku ini tidak berusaha menggurui atau memancing emosi berlebihan. Kesedihan, kekejaman, dan kejanggalan hidup muncul secara alami. Kita sebagai pembaca lebih sering diposisikan sebagai pengamat, seperti orang yang mendengar cerita, mengangguk, lalu pulang membawa pikirannya sendiri.
Ibu Reda menulis dengan bahasa yang sederhana. Banyak cerpen yang terasa seperti potongan cerita, tidak benar-benar “selesai”, tapi justru itu yang membuatnya tinggal lebih lama di kepala. Seperti gosip atau cerita di gang-gang rumah, kita hanya mendapat sebagian, sisanya harus ditebak sendiri.
Yang menarik, buku ini tidak berusaha menggurui atau memancing emosi berlebihan. Kesedihan, kekejaman, dan kejanggalan hidup muncul secara alami. Kita sebagai pembaca lebih sering diposisikan sebagai pengamat, seperti orang yang mendengar cerita, mengangguk, lalu pulang membawa pikirannya sendiri.
July 16, 2026
Baca buku ini kayak lagi di warung deket rumah terus dengerin gosip-gosip warga yang orangnya kita ga kenal tapi tetep seru!
Beberapa cerita juga bikin pengen nanya "Eh terus kelanjutannya gimana?" tapi karena udah maghrib, jadi harus pulang ke rumah, dan kita cuma bisa tau sepotong cerita itu selamanya karena besoknya kita lupa atau orang yg menceritakan yang sudah lupa.
Beberapa cerita juga bikin pengen nanya "Eh terus kelanjutannya gimana?" tapi karena udah maghrib, jadi harus pulang ke rumah, dan kita cuma bisa tau sepotong cerita itu selamanya karena besoknya kita lupa atau orang yg menceritakan yang sudah lupa.
November 23, 2025
(Beberapa) Topik yang berat dan sensitif diceritakan dengan latar sehari-hari dan dengan penuh hati :”)
January 2, 2026
what a good book to start my 2026🫶🏻
February 7, 2026
nice and funny stories.
July 30, 2026
Salah satu hal yang saya kagumi dari karya Mbak Reda adalah bagaimana cerita-ceritanya terkesan sederhana, sesuatu hal yang biasa saja tapi kadang kerap kali luput dari pengamatan sehari-hari.
October 23, 2025
Memang cerita yang paling ngena ke hati itu, justru cerita-cerita sederhana. Yang mungkin sering kita dengar dari sekeliling kita. Cerita teman, tetangga, atau tukang gado-gado langganan.
Kios Pasar Sore ini jenis cerita pendek seperti itu. Ga butuh plot twist - plot twistan, toh buktinya malah nempel di hati.
Kios Pasar Sore ini jenis cerita pendek seperti itu. Ga butuh plot twist - plot twistan, toh buktinya malah nempel di hati.
November 19, 2025
membekas di hati
November 6, 2025
kisah-kisah sederhana yang familiar di sekitar kita tapi luput untuk diamati. Bu Reda sungguh piawai meramu cerita sederhana itu jadi sesuatu yang penting dan perlu untuk dibaca dan dicerna. setiap cerita membawa ragam perasaan berbeda; lucu, simpati, miris, haru, marah, sedih, nano-nano 🥹
December 15, 2025
Market priced was only by good shelfed. Ahlussunnah wal jama'ah.
This entire review has been hidden because of spoilers.
January 14, 2026
Actual rate : 3.5/5
Buku Kios Pasar Sore oleh Reda Gaudiamo adalah sebuah buku yang disajikan dalam format kumpulan cerpen. Buku ini membahas cerita dengan tema yang dekat dengan keseharian, hal-hal kecil yang kadang absurd tapi relatable dan lucuu.
Uniknya beberapa cerpen kadang dibuat gantung atau super pendek sampai bikin aku mikir, “Loh ini maksudnya gimana ya?” HAHAHA 🤣 Buku ini mau ngajak pembaca untuk ikut menafsirkan sendiri, bukan cuma nerima cerita mentah-mentah.
Ada beberapa cerita yang aku suka karena menurut ku punya arti yang cukup ‘mendalam’ di antaranya :
1. Dengan Alamat
2. Pertemuan Pertama
3. Akbar
4. Madame l’Usherette
5. Penulis Baru
Untuk yang mau lagi baca cerita-cerita ringan menurutku buku ini cocok bangett sih buat dibaca 😆♥️
Buku Kios Pasar Sore oleh Reda Gaudiamo adalah sebuah buku yang disajikan dalam format kumpulan cerpen. Buku ini membahas cerita dengan tema yang dekat dengan keseharian, hal-hal kecil yang kadang absurd tapi relatable dan lucuu.
Uniknya beberapa cerpen kadang dibuat gantung atau super pendek sampai bikin aku mikir, “Loh ini maksudnya gimana ya?” HAHAHA 🤣 Buku ini mau ngajak pembaca untuk ikut menafsirkan sendiri, bukan cuma nerima cerita mentah-mentah.
Ada beberapa cerita yang aku suka karena menurut ku punya arti yang cukup ‘mendalam’ di antaranya :
1. Dengan Alamat
2. Pertemuan Pertama
3. Akbar
4. Madame l’Usherette
5. Penulis Baru
Untuk yang mau lagi baca cerita-cerita ringan menurutku buku ini cocok bangett sih buat dibaca 😆♥️
July 25, 2026
bagus bangett. i love every single one of the stories. cerpen-cerpennya easy to digest, mengangkat fenomena dari orang-orang yang sering kita jumpai sehari-hari tapi kita belum punya kesempatan untuk berinteraksi dengan mereka dan mendengar cerita mereka aja (tukang sapu, sopir taksi, ART, dsb).
my top 5 adalah: Madame l'Usherette, Timbang Dohlan, Penuh Rahmat.
honorable mention: Kios Pasar Sore.
yang broke my heart saat membacanya: Akbar, Sang Penerbang, Cita-Cita.
gaya penuturan Reda Gaudiamo sangat enak diikuti. truly buku yang sangat pas untuk dibaca sambil menyantap kopi di balkon. i finished this in one sitting. nagih dan page-turner banget.
other things i like adalah hampir semua daerah yang disebut di buku ini aku tau. Rawamangun Muka, Apotek Rini, Gereja Katolik di Menteng (Santa Theresia hehe), SD Katolik di Jalan Pos (Santa Ursula), and i bet Kopi Koh Lauw itu di Pasar Sunan Giri dah. anddd perempatan Pramuka-Rawamangun tempat si mbah Ambon. it's super niceee membaca buku yg menyebut daerah-daerah familiar buat pembaca—apalagi in my case daerah-daerah tsb adalah arena main aku—karena ceritanya jadi terasa lebih personal, terasa sangattt dekat dengan aku 🥹
i also love the cat illustrations on each end of the story!! jadi excited ngeliat pose apa yang akan di-pull oleh kucing-kucing yang bertengger di akhir cerita.
auto 5/5 lah ⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️ ez pz bgt nge-rate buku ini!!
‼️‼️ SPOILER ALERT ‼️‼️
now i'm going to put my comment for each story in this book.
⛔️⛔️⚠️‼️ SPOILER ALERT ‼️⚠️⛔️⛔️
1. 1, 37, ...; fuck your husband, hun. just go abandon those 60 CATS.
2. Ni Mas: unlucky you, dear :((
3. Bini Baru: pak Jali, that's what you get from being a creepy ass pedo.
4. Dengan Alamat: kasian banget si Paklik. but i'm glad Surti sekolah dan ga kawin seperti keinginan bapaknya. you'll end up like your paklik bruh kalo lu kawin
5. Ross & Joko: yes, we have to love the person we love by how they wanna be loved
6. Taat: 🤷🏻♀️
7. Kawin: that's what you get for being such a big ass liar, Akim.
8. Romantis: om ruben... i was NOT familiar with your game 😳🤯😱
9. Teman Suami: awalnya menjengkelkan. ternyata kasian priyono 😢
10. Taruni: semoga alasan kepergiannya kali ini adalah karena akhirnya nemu laki yang benar-benar mau jadi suaminya.
11. Di Hari ke-89.765: pov yang unik. bravo.
12. Pertemuan Pertama: how life can easily berputar, berjungkir balik tanpa kita sangka-sangka. tamparan yang cukup keras untuk kita. mencari sampah di depan rumah lama? paralel yang sangat menyedihkan.
13. Bintang Cemerlang: dia jg bunting?? menuruti hari baik pihak suami?? hoh???
14. Akbar: eh ini heartbreaking banget asli. disuruh mimpi setinggi-tingginya, giliran udah mimpi tinggi, udah SELANGKAH LAGI menggapai mimpi itu... malah dihalangi IBU SENDIRI... kalo gw jadi Akbar, ril gw akan tetep berangkat, bodoamat disumpahin anak durhaka atau apa. fuck Akbar's mom. my heart aches for Akbar.
15. Harapan Kita: lucu aja sih 🤣 suka gelo emg orang-orang dgn pendidikan rendah kalo ngasih nama anak
16. Sang Penerbang: astaga Jo... jaminan masa depan cerah hancur cuma karena cewe pulau cantik 🙂 my heart aches for you tok but you lowkey dig your own grave
17. Setia: ga semua hal perlu ditunggu bruh... (playing the man who can't be moved)
18. Sayangku Padamu: mbok... kalo lu turutin terus ya anak lu bakal begitu terus lah 🫵🏻🫵🏻 ini bener-bener vibes anak orang miskin minta aerox ampe nendang pintu (i personally knew someone who has a brother like this... yikes. ortunya bener-bener enabler).
19. Cita-Cita: if i were her, i would leave dan membangkang ke emak gw demi potensi yang udah jelas ada di depan mata, plus didukung paklik gw pula.
20. Beda Jalur: fenomena yang sering terjadi di kota besar: saudara yg 1 jadi orang besar, saudara lainnya jadi sopir taksi. agak miris, memang.
21. Lelaki dengan Tas Kertas: DESERVEDDD alias mmpusss lu Kamal!!
22. Semir Sepatu: lagi-lagi, berlatar di sekitaran Menteng. Tigor patut dicontoh.
23. Madame l'Usherette: CERITA DENGAN TOKOH QUEER 🫶🏼🫶🏼🫶🏼 LOVVV BGTTT terima kasih sudah memberikan kami visibility, Reda Gaudiamo 🫶🏼🫶🏼 cerpen ttg pertemuan pertama dan terakhir tokoh utama dgn madame l'usherette (ibu usher) yg cukup berkesan. anw i hope ibu usher hidup bahagia bersama Madelaine. and fuck her homophobic kids & grandkids.
24. Warung Jalan Tanjung: unik juga tiba-tiba Reda Gaudiamo dropping hidden gem (lagi-lagi, di area menteng)
25. Timbang Dohlan: sekolah Santa Ursula mentioned!! shout out to Bu Warso yang sudah menyediakan atap, dan shout out to No juga yang kerja ga milih-milih 🫶🏼
26. Penuh Rahmat: cerita super pendek yang ditutup dengan pesan ciamik: "Begitulah Rahmat. Tidak mau cerita soal keluarga sendiri, tidak pernah merasa repot... Dia bilang hidupnya penuh rahmat. Mengapa harus mengeluh?"
27. Sang Biduan: lagi-lagi cerpen mengenai potensi dan "what if". thriving terus yaa Tarjo. semoga bisa dapat kesempatan lagi untuk rekaman dan rilis album.
28. Kios Pasar Sore: lagi-lagi cerita super pendek yang ditutup dengan pesan ciamik: "Kalau yang lain panas, jangan ikut panas. Kalau yang lain terbakar, bikin dingin pikiran, hari. Sembahyang. Sembahyang. Api nyamber barang yang panas, kabur dari yang dingin."
29. Mbah 'Niti: paradoks yang cukup kocak. ternyata tokoh utama beli peniti juga wkwk
30. Penulis Baru: agak heartbreaking. so long, Nuni. mantap Bu Bos.
31. Pulang: Ambon. Bukan Wonogiri.
my top 5 adalah: Madame l'Usherette, Timbang Dohlan, Penuh Rahmat.
honorable mention: Kios Pasar Sore.
yang broke my heart saat membacanya: Akbar, Sang Penerbang, Cita-Cita.
gaya penuturan Reda Gaudiamo sangat enak diikuti. truly buku yang sangat pas untuk dibaca sambil menyantap kopi di balkon. i finished this in one sitting. nagih dan page-turner banget.
other things i like adalah hampir semua daerah yang disebut di buku ini aku tau. Rawamangun Muka, Apotek Rini, Gereja Katolik di Menteng (Santa Theresia hehe), SD Katolik di Jalan Pos (Santa Ursula), and i bet Kopi Koh Lauw itu di Pasar Sunan Giri dah. anddd perempatan Pramuka-Rawamangun tempat si mbah Ambon. it's super niceee membaca buku yg menyebut daerah-daerah familiar buat pembaca—apalagi in my case daerah-daerah tsb adalah arena main aku—karena ceritanya jadi terasa lebih personal, terasa sangattt dekat dengan aku 🥹
i also love the cat illustrations on each end of the story!! jadi excited ngeliat pose apa yang akan di-pull oleh kucing-kucing yang bertengger di akhir cerita.
auto 5/5 lah ⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️ ez pz bgt nge-rate buku ini!!
‼️‼️ SPOILER ALERT ‼️‼️
now i'm going to put my comment for each story in this book.
⛔️⛔️⚠️‼️ SPOILER ALERT ‼️⚠️⛔️⛔️
1. 1, 37, ...; fuck your husband, hun. just go abandon those 60 CATS.
2. Ni Mas: unlucky you, dear :((
3. Bini Baru: pak Jali, that's what you get from being a creepy ass pedo.
4. Dengan Alamat: kasian banget si Paklik. but i'm glad Surti sekolah dan ga kawin seperti keinginan bapaknya. you'll end up like your paklik bruh kalo lu kawin
5. Ross & Joko: yes, we have to love the person we love by how they wanna be loved
6. Taat: 🤷🏻♀️
7. Kawin: that's what you get for being such a big ass liar, Akim.
8. Romantis: om ruben... i was NOT familiar with your game 😳🤯😱
9. Teman Suami: awalnya menjengkelkan. ternyata kasian priyono 😢
10. Taruni: semoga alasan kepergiannya kali ini adalah karena akhirnya nemu laki yang benar-benar mau jadi suaminya.
11. Di Hari ke-89.765: pov yang unik. bravo.
12. Pertemuan Pertama: how life can easily berputar, berjungkir balik tanpa kita sangka-sangka. tamparan yang cukup keras untuk kita. mencari sampah di depan rumah lama? paralel yang sangat menyedihkan.
13. Bintang Cemerlang: dia jg bunting?? menuruti hari baik pihak suami?? hoh???
14. Akbar: eh ini heartbreaking banget asli. disuruh mimpi setinggi-tingginya, giliran udah mimpi tinggi, udah SELANGKAH LAGI menggapai mimpi itu... malah dihalangi IBU SENDIRI... kalo gw jadi Akbar, ril gw akan tetep berangkat, bodoamat disumpahin anak durhaka atau apa. fuck Akbar's mom. my heart aches for Akbar.
15. Harapan Kita: lucu aja sih 🤣 suka gelo emg orang-orang dgn pendidikan rendah kalo ngasih nama anak
16. Sang Penerbang: astaga Jo... jaminan masa depan cerah hancur cuma karena cewe pulau cantik 🙂 my heart aches for you tok but you lowkey dig your own grave
17. Setia: ga semua hal perlu ditunggu bruh... (playing the man who can't be moved)
18. Sayangku Padamu: mbok... kalo lu turutin terus ya anak lu bakal begitu terus lah 🫵🏻🫵🏻 ini bener-bener vibes anak orang miskin minta aerox ampe nendang pintu (i personally knew someone who has a brother like this... yikes. ortunya bener-bener enabler).
19. Cita-Cita: if i were her, i would leave dan membangkang ke emak gw demi potensi yang udah jelas ada di depan mata, plus didukung paklik gw pula.
20. Beda Jalur: fenomena yang sering terjadi di kota besar: saudara yg 1 jadi orang besar, saudara lainnya jadi sopir taksi. agak miris, memang.
21. Lelaki dengan Tas Kertas: DESERVEDDD alias mmpusss lu Kamal!!
22. Semir Sepatu: lagi-lagi, berlatar di sekitaran Menteng. Tigor patut dicontoh.
23. Madame l'Usherette: CERITA DENGAN TOKOH QUEER 🫶🏼🫶🏼🫶🏼 LOVVV BGTTT terima kasih sudah memberikan kami visibility, Reda Gaudiamo 🫶🏼🫶🏼 cerpen ttg pertemuan pertama dan terakhir tokoh utama dgn madame l'usherette (ibu usher) yg cukup berkesan. anw i hope ibu usher hidup bahagia bersama Madelaine. and fuck her homophobic kids & grandkids.
24. Warung Jalan Tanjung: unik juga tiba-tiba Reda Gaudiamo dropping hidden gem (lagi-lagi, di area menteng)
25. Timbang Dohlan: sekolah Santa Ursula mentioned!! shout out to Bu Warso yang sudah menyediakan atap, dan shout out to No juga yang kerja ga milih-milih 🫶🏼
26. Penuh Rahmat: cerita super pendek yang ditutup dengan pesan ciamik: "Begitulah Rahmat. Tidak mau cerita soal keluarga sendiri, tidak pernah merasa repot... Dia bilang hidupnya penuh rahmat. Mengapa harus mengeluh?"
27. Sang Biduan: lagi-lagi cerpen mengenai potensi dan "what if". thriving terus yaa Tarjo. semoga bisa dapat kesempatan lagi untuk rekaman dan rilis album.
28. Kios Pasar Sore: lagi-lagi cerita super pendek yang ditutup dengan pesan ciamik: "Kalau yang lain panas, jangan ikut panas. Kalau yang lain terbakar, bikin dingin pikiran, hari. Sembahyang. Sembahyang. Api nyamber barang yang panas, kabur dari yang dingin."
29. Mbah 'Niti: paradoks yang cukup kocak. ternyata tokoh utama beli peniti juga wkwk
30. Penulis Baru: agak heartbreaking. so long, Nuni. mantap Bu Bos.
31. Pulang: Ambon. Bukan Wonogiri.
Read
March 11, 2026Ketika memutuskan membaca buku Kios Pasar Sore, dari judulnya saja aku sudah merasa bahwa buku ini membumi dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Judulnya sederhana, tetapi langsung memberi kesan bahwa cerita-ceritanya akan berkaitan dengan keseharian masyarakat Indonesia.
Buku ini juga cukup tipis, sehingga terasa pas dibaca dalam suasana santai, misalnya sepulang bekerja di malam hari. Isinya merupakan kumpulan cerita pendek tentang kehidupan sehari-hari dengan berbagai kisah yang unik.
Karena berbentuk kumpulan cerita pendek, setiap bab berdiri sendiri dan tidak saling berkesinambungan. Justru itu yang membuat buku ini terasa ringan. Kita bisa menyelesaikan satu cerita terlebih dahulu, lalu melanjutkan ke cerita berikutnya tanpa merasa terbebani.
Cara penyampaiannya juga santai dan tidak terlalu baku. Bahasa yang digunakan sangat dekat dengan bahasa sehari-hari. Dalam beberapa bagian bahkan muncul dialek atau sapaan khas daerah, seperti nuansa bahasa Ambon atau budaya Jawa. Penggunaan bahasa ini terasa alami karena mencerminkan latar sosial dan karakter orang-orang dalam cerita.
Ide ceritanya menarik karena berangkat dari hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Bagi pembaca Indonesia, kisah-kisah tersebut terasa dekat dengan realitas yang kita kenal. Sementara bagi pembaca lain, buku ini bisa membuka perspektif bahwa kehidupan sehari-hari sebenarnya menyimpan banyak cerita.
Cerita-ceritanya terasa seperti percakapan ringan atau catatan harian penulis. Ada kisah dari pengalaman di kantor, pertemuan singkat di jalan, momen di lampu merah, hingga pengamatan terhadap tetangga. Dari potongan-potongan cerita ini terasa gambaran budaya Indonesia yang ramah, penuh kekeluargaan, dan dekat dengan nilai gotong royong.
Ada juga bagian yang terasa cukup personal bagiku. Penulis beberapa kali menyebutkan Rawamangun dan mendeskripsikan lokasinya secara singkat. Saat membacanya, aku seperti mengalami flashback karena bisa membayangkan dengan jelas tempat-tempat yang digambarkan.
Dari sisi gaya penulisan, buku ini sederhana dan mudah dipahami. Bahasanya ringan dan tidak berusaha menggugah emosi secara berlebihan.
Buku ini sebenarnya bisa diselesaikan dalam satu hari karena jumlah halamannya tidak banyak. Namun menurutku buku ini juga enak dibaca bertahap, misalnya beberapa cerita hari ini, lalu melanjutkan cerita lainnya di hari berikutnya. Rasanya seperti menonton serial dengan episode-episode pendek yang berdiri sendiri.
Yang paling terasa dari buku ini adalah pengingat bahwa di balik wajah-wajah yang kita temui setiap hari, selalu ada cerita dan perjuangan yang mungkin tidak kita ketahui. Cerita-cerita ini mengajak kita untuk lebih peka terhadap kehidupan di sekitar.
Pada akhirnya, buku ini menjadi potret kecil kehidupan masyarakat. Ada cerita yang lucu, menyayat, hangat, dan penuh berbagai emosi. Semua itu mengingatkan bahwa kita hidup di tengah masyarakat yang penuh cerita. Dan untuk peduli kepada orang lain, kita tidak selalu harus mencampuri urusan mereka. Terkadang, cukup dengan mengamati dan mendengarkan cerita mereka, kita sudah bisa belajar banyak tentang kehidupan.
Buku ini juga cukup tipis, sehingga terasa pas dibaca dalam suasana santai, misalnya sepulang bekerja di malam hari. Isinya merupakan kumpulan cerita pendek tentang kehidupan sehari-hari dengan berbagai kisah yang unik.
Karena berbentuk kumpulan cerita pendek, setiap bab berdiri sendiri dan tidak saling berkesinambungan. Justru itu yang membuat buku ini terasa ringan. Kita bisa menyelesaikan satu cerita terlebih dahulu, lalu melanjutkan ke cerita berikutnya tanpa merasa terbebani.
Cara penyampaiannya juga santai dan tidak terlalu baku. Bahasa yang digunakan sangat dekat dengan bahasa sehari-hari. Dalam beberapa bagian bahkan muncul dialek atau sapaan khas daerah, seperti nuansa bahasa Ambon atau budaya Jawa. Penggunaan bahasa ini terasa alami karena mencerminkan latar sosial dan karakter orang-orang dalam cerita.
Ide ceritanya menarik karena berangkat dari hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Bagi pembaca Indonesia, kisah-kisah tersebut terasa dekat dengan realitas yang kita kenal. Sementara bagi pembaca lain, buku ini bisa membuka perspektif bahwa kehidupan sehari-hari sebenarnya menyimpan banyak cerita.
Cerita-ceritanya terasa seperti percakapan ringan atau catatan harian penulis. Ada kisah dari pengalaman di kantor, pertemuan singkat di jalan, momen di lampu merah, hingga pengamatan terhadap tetangga. Dari potongan-potongan cerita ini terasa gambaran budaya Indonesia yang ramah, penuh kekeluargaan, dan dekat dengan nilai gotong royong.
Ada juga bagian yang terasa cukup personal bagiku. Penulis beberapa kali menyebutkan Rawamangun dan mendeskripsikan lokasinya secara singkat. Saat membacanya, aku seperti mengalami flashback karena bisa membayangkan dengan jelas tempat-tempat yang digambarkan.
Dari sisi gaya penulisan, buku ini sederhana dan mudah dipahami. Bahasanya ringan dan tidak berusaha menggugah emosi secara berlebihan.
Buku ini sebenarnya bisa diselesaikan dalam satu hari karena jumlah halamannya tidak banyak. Namun menurutku buku ini juga enak dibaca bertahap, misalnya beberapa cerita hari ini, lalu melanjutkan cerita lainnya di hari berikutnya. Rasanya seperti menonton serial dengan episode-episode pendek yang berdiri sendiri.
Yang paling terasa dari buku ini adalah pengingat bahwa di balik wajah-wajah yang kita temui setiap hari, selalu ada cerita dan perjuangan yang mungkin tidak kita ketahui. Cerita-cerita ini mengajak kita untuk lebih peka terhadap kehidupan di sekitar.
Pada akhirnya, buku ini menjadi potret kecil kehidupan masyarakat. Ada cerita yang lucu, menyayat, hangat, dan penuh berbagai emosi. Semua itu mengingatkan bahwa kita hidup di tengah masyarakat yang penuh cerita. Dan untuk peduli kepada orang lain, kita tidak selalu harus mencampuri urusan mereka. Terkadang, cukup dengan mengamati dan mendengarkan cerita mereka, kita sudah bisa belajar banyak tentang kehidupan.
July 22, 2026
"... Kawin itu bukan jalan keluar, Ti. Kalau ndak siap, malah bikin hidupmu buntu. Macet. Ke mana-mana mampet." 31 judul
Kisah hidup Reda Gaudiamo dirangkum dalam 31 judul di dalam Kios Pasar Sore dan Cerita Orang-Orang Biasa Lainnya. Sebagaimana pesan singkat yang dituliskan Bu Reda, kita memang sering merasa hidup selalu berlangsung biasa saja. Terdapat beberapa judul cerita yang menarik bagiku, di antaranya:
1. Ni Mas
2. Dengan Alamat
3. Ross & Joko
4. Kawin
5. Semir Sepatu
"Ni Mas" berkisah tentang seorang primadona yang sangat pemilih dalam menentukan pasangannya. Ni Mas yang sangat pemilih pada akhirnya bertemu dengan lelaki kaya dan tampan. Mereka pun menikah. Perjalanan panjang Ni Mas ditulis dalam 3 halaman singkat yang merangkum seluruhnya. Sesuatu yang paling kusukai dari "Ni Mas" ialah kalimat berima yang dapat kita temukan di halaman 9. Begini penggalannya:
"... bertanya pada kerabat, sahabat hingga dukun yang konon kabarnya hebat."
Kisah selanjutnya yang kusukai adalah sebuah kisah berjudul "Dengan Alamat". Ia mengisahkan kehidupan Paklik di Jakarta. Awalnya aku berpikir Paklik orang jahat yang ingin 'kabur' dari keluarganya. Dalam kisah dengan 4 halaman ini, kita akan diperlihatkan bagaimana kenyataan hidup Paklik selama ia jauh dari keluarganya. Aku sepakat dengan Paklik--pada halaman 18-- yang menyebutkan bahwa kawin (menikah) bukanlah jalan keluar dari segala masalah. Menganggap pernikahan sebagai solusi dari semua masalah yang menimpa seseorang bagiku tidak lebih dari sebuah kecerobohan. Apabila pernikahan tidak dibarengi kesiapan fisik dan mental, maka hanya akan menghasilkan masalah baru yang akan semakin sulit diatasi.
"Ross & Joko" kunobatkan kisah ini sebagai kisah paling komedi. Sebagai penggemar Bollywood, khususnya penggemar Shah Rukh Khan, aku sangat memahami konflik 'konyol' yang terjadi antara Ross dan Malhotranya. Kisah meraka menghadirkan suasana menyenangkan dalam Kios Pasar Sore.
"Kawin" mengisahkan kehidupan Akim dan para wanitanya. Melalui "Kawin" kita disuguhkan pada sebuah fenomena percintaan yang carut-marut dan juga menyebalkan. Belum lagi, tokoh utama dalam kisah ini juga agak plenger kalau kata anak-anak sekarang.
Kisah Tigor dalam "Semir Sepatu"--meski hanya satu halaman--cukup membuat pembaca memahami fakta bahwa pendidikan yang baik tidak selalu berarti pendapatan/penghasilan yang baik. Banyak faktor penyebabnya, terutama kelangkaan lapangan pekerjaan.
Gaya bercerita Bu Reda yang santai membuat buku ini laris di pasaran. Akan tetapi, terdapat satu hal yang membuatku merasa kurang nyaman ketika membaca Kios Pasar Sore, yakni cara penyajian paragrafnya yang dibuat rata kiri. Terlepas dari itu, Kios Pasar Sore masih sangat bisa dinikmati, terutama untuk menjeda dari bacaan-bacaan yang bertema berat.
Kisah hidup Reda Gaudiamo dirangkum dalam 31 judul di dalam Kios Pasar Sore dan Cerita Orang-Orang Biasa Lainnya. Sebagaimana pesan singkat yang dituliskan Bu Reda, kita memang sering merasa hidup selalu berlangsung biasa saja. Terdapat beberapa judul cerita yang menarik bagiku, di antaranya:
1. Ni Mas
2. Dengan Alamat
3. Ross & Joko
4. Kawin
5. Semir Sepatu
"Ni Mas" berkisah tentang seorang primadona yang sangat pemilih dalam menentukan pasangannya. Ni Mas yang sangat pemilih pada akhirnya bertemu dengan lelaki kaya dan tampan. Mereka pun menikah. Perjalanan panjang Ni Mas ditulis dalam 3 halaman singkat yang merangkum seluruhnya. Sesuatu yang paling kusukai dari "Ni Mas" ialah kalimat berima yang dapat kita temukan di halaman 9. Begini penggalannya:
"... bertanya pada kerabat, sahabat hingga dukun yang konon kabarnya hebat."
Kisah selanjutnya yang kusukai adalah sebuah kisah berjudul "Dengan Alamat". Ia mengisahkan kehidupan Paklik di Jakarta. Awalnya aku berpikir Paklik orang jahat yang ingin 'kabur' dari keluarganya. Dalam kisah dengan 4 halaman ini, kita akan diperlihatkan bagaimana kenyataan hidup Paklik selama ia jauh dari keluarganya. Aku sepakat dengan Paklik--pada halaman 18-- yang menyebutkan bahwa kawin (menikah) bukanlah jalan keluar dari segala masalah. Menganggap pernikahan sebagai solusi dari semua masalah yang menimpa seseorang bagiku tidak lebih dari sebuah kecerobohan. Apabila pernikahan tidak dibarengi kesiapan fisik dan mental, maka hanya akan menghasilkan masalah baru yang akan semakin sulit diatasi.
"Ross & Joko" kunobatkan kisah ini sebagai kisah paling komedi. Sebagai penggemar Bollywood, khususnya penggemar Shah Rukh Khan, aku sangat memahami konflik 'konyol' yang terjadi antara Ross dan Malhotranya. Kisah meraka menghadirkan suasana menyenangkan dalam Kios Pasar Sore.
"Kawin" mengisahkan kehidupan Akim dan para wanitanya. Melalui "Kawin" kita disuguhkan pada sebuah fenomena percintaan yang carut-marut dan juga menyebalkan. Belum lagi, tokoh utama dalam kisah ini juga agak plenger kalau kata anak-anak sekarang.
Kisah Tigor dalam "Semir Sepatu"--meski hanya satu halaman--cukup membuat pembaca memahami fakta bahwa pendidikan yang baik tidak selalu berarti pendapatan/penghasilan yang baik. Banyak faktor penyebabnya, terutama kelangkaan lapangan pekerjaan.
Gaya bercerita Bu Reda yang santai membuat buku ini laris di pasaran. Akan tetapi, terdapat satu hal yang membuatku merasa kurang nyaman ketika membaca Kios Pasar Sore, yakni cara penyajian paragrafnya yang dibuat rata kiri. Terlepas dari itu, Kios Pasar Sore masih sangat bisa dinikmati, terutama untuk menjeda dari bacaan-bacaan yang bertema berat.
Displaying 1 - 30 of 246 reviews































