Aku beli buku ini pada masa PO. Ternyata cepat banget sampai, gak mesti nunggu seminggu. Bonus stiker lucu dan pembatas buku dari Solusi Buku, bonus stiker kucing dari bukunya, juga kartu ucapan terima kasih dari Bu Reda yang gambarnya sama dengan sampulnya yang manis.
Kumpulan 30 cerpen ini memang merekam cerita-cerita masyarakat yang mudah kita temui dalam kehidupan nyata. Dari kisah ART, penjual peniti, pemilik kucing, penjaga sekolah, semuanya memiliki kisah hidup yang tak mulus. Benang merah hampir semua cerpen di sini adalah tentang mengambil keputusan. Kalau dijelaskan dari self determination theory pasti jadi panjang. Wkwk
Aku suka cara Bu Reda bercerita. Membaca antologi ini, seperti menengok kehidupan tahun-tahun ketika era digital belum menguasai zaman. Beberapa tempat yang disebutkan ada di wilayah Jabodetabek, terutama Rawamangun, adalah tempat yang familiar buatku.
Orang-orang Jakarta zaman dulu hingga sekarang, tetap memiliki problem masing-masing. Barangkali cocok jika disebut setiap tokoh utama cerpen ini mendapat ujian hidup. Sangat sangat manusiawi dan relevan dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Apa pun keputusan yang kita ambil, baik kecil maupun besar, akan membawa konsekuensinya masing-masing. Namun, ya, menjalani kehidupan sosial memang tak selalu mudah. Ada norma dan tuntutan tak tertulis, meski seseorang tak melakukan kesalahan kepada masyarakat sekitar, terlambat menikah misalnya.
Kalau dibilang antologi cerpen ini memuat kisah yang lucu, kurasa tidak ada yang lucu, beberapa saja yang jenaka. Sisanya pahit, tapi dikemas dengan apik, sehingga getirnya tak terasa menyakitkan. Cerpen favoritku adalah beberapa cerpen terakhir. Ibarat makanan enak, memang lebih baik dinikmati paling akhir. Kumpulan ini tidak perlu dibaca berurutan, tapi untuk mempermudah saja (biar ga membolak-balik lembar kertas), aku memutuskan membaca secara berurutan. Lalu hasilnya tidak mengecewakan. :)