Jump to ratings and reviews
Rate this book

Pangan Nusantara

Buah Leluhur dari Pohon Kehidupan: Memanggil Pulang Sukun Ke Nusantara

Rate this book
Ketika pasokan beras—makanan pokok kita—semakin mengkhawatirkan akibat sering gagal panen karena perubahan iklim, kita perlu memanggil kembali pohon-pohon tua yang dilupakan, sumber pangan asli Nusantara. Sukun menjadi salah satu kandidat terpenting. Inilah pohon yang didomestikasi oleh leluhur kita, orang-orang Austronesia dan Papua sekitar 5.000 tahun lalu. Ia bisa menjawab masa depan karena memiliki daya tahan terhadap pemanasan global.

Di masa lalu, warga desa di Nusantara menjadikan sukun menjadi penolong kala musim paceklik tiba. Bahkan, di pulau-pulau kecil seperti Kepulauan Mapia, Papua, sukun menjadi sumber pangan utama. Kenikmatan sukun pun pernah memikat para bajak laut hingga naturalis Barat di masa lalu, sampai sampai mereka menamainya breadfruit. Mereka menaruh hormat pada sukun yang bisa tumbuh di pulau-pulau kecil Samudra Pasifik. Sayang, keajaiban sukun ini nyaris tak pernah masuk buku pelajaran. Ia hanya hidup dalam cerita-cerita lokal, dan itu pun hampir padam. Sukun terpinggirkan di meja makan kita, sebagaimana beragam pangan lokal lain seperti sagu, sorgum, keladi, dan beragam umbi-umbian.

Buku ini mendedahkan potensi sukun untuk menopang ketahanan pangan kita. Memanggil kembali sukun sebagai sumber pangan bukan berarti menggusur beras atau beragam pangan lainnya. Sebaliknya, ia menjadi strategi penting untuk memperkuat fondasi keberagaman pangan kita agar tidak semakin bergantung pada impor, terutama gandum.

200 pages, Paperback

Published November 11, 2025

Loading...
Loading...

About the author

Ahmad Arif

16 books21 followers
Ahmad Arif is a Kompas Daily Journalist. He won several award, including Mochtar Loebis award two years in a row in 2009 and 2010 for Best Feature

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
5 (41%)
4 stars
6 (50%)
3 stars
1 (8%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 2 of 2 reviews
Profile Image for Bivisyani Questibrilia.
Author 1 book24 followers
December 27, 2025
Seri Pangan Nusantara adalah seri buku nonfiksi Indonesia favoritku sejak 2020. Aku jadi belajar banyak tentang pangan lokal yang berakar budaya di berbagai daerah di Nusantara, seperti sorgum yang betul-betul belum pernah kudengar sebelumnya. Jika sebelumnya Mas Aik sudah membahas sagu, sorgum dan hubungan masyarakat adat dan pangan lokal, kini Beliau membahas tentang sukun.

Sedikit pengakuan dosa: Sejujurnya, aku pun tidak menyukai rasa sukun...tapi tetap saja aku ingin membaca tentangnya.

Jadi, begitu aku tahu buku ini tersedia untuk prapesan, langsung aku dan temanku memesan buku ini. Alhamdulillah, berhasil mendapatkan tanda tangan Mas Aik juga. Sungguh panutan!

Menurutku sukun cukup menarik karena sejarahnya dan statusnya berbeda dengan dua bahan pangan lokal lainnya yang sudah pernah dibahas dalam seri ini. Jika sagu masih banyak dimakan di Papua, tapi perlahan-lahan kalah dengan nasi dan mie instan, dan sorgum nyaris tidak lagi dikenal di Indonesia (meskipun memiliki sejarah budaya yang kental di NTT), sukun justru sangat dihargai di luar negeri—seperti di Eropa dan Polinesia—meskipun di Indonesia cenderung terpinggirkan dan hanya dikonsumsi sebagai cemilan (seperti gorengan, misalnya).

Sejarah sukun yang panjang dan lekat dengan kolonialisme sungguh sesuatu yang tidak kuduga sama sekali. Terlebih lagi, para pendatang dari Eropa ini justru merasa sukun adalah berkah yang mereka harap bisa mereka tanam di rumah masing-masing. Sementara di sini? Tidak banyak dihargai, termasuk oleh diriku (haha).

Mungkin dengan ini, aku jadi bisa mencoba memakan sukun lagi. Siapa tahu kini lidahku sudah berubah dan bisa lebih menghargai rasanya? Mari kita coba!
Profile Image for Lesh✨.
338 reviews8 followers
April 11, 2026
Sangat disayangkan ketika catatan yang sudah kubuat dari buku ini hilang semua. Jadi aku hanya bisa merangkum hal-hal yang kuingat seperti sejarah sukun, era kolonialisme, bagaimana sukun tumbuh di Indonesia, gizi yang terkandung, serta resep-resep masakan sukun.

Di buku ini juga disinggungkan kalau kebanyakan masyarakat Indonesia mengolah sukun hanya digoreng sebagai camilan—ya karena sudah jadi kebiasaan dulu—yang mana ada korelasinya dengan persebaran tepung + minyak pada masa kepemimpin Presiden Soeharto.

Pembahasan Sagu Papua juga masih dibawa oleh buku ini. Overall buku ini seru, ditambah gambar menu olahan sukun mampu menggugah selera makan.
Displaying 1 - 2 of 2 reviews