Sebuah toko roti aneh menawarkan pekerjaan kepada Lala yang sudah berkali-kali ditolak saat mencari pekerjaan paruh waktu. Ternyata, toko roti itu merupakan pemberhentian sementara para arwah hewan sebelum menuju dunia bawah. Berbagai arwah datang dengan harapan mewujudkan keinginan terakhir mereka dengan pemilik sebelumnya.
Lala menemukan bahwa dirinya memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan hewan. Dia pun menerima pekerjaan tersebut dan berkenalan dengan banyak Doong Doong berwujud roti.
Bersama Jaerong, seekor kucing luar biasa, Lala melakukan apa saja agar para arwah bisa bertemu pemiliknya dan mewujudkan keinginan terakhir mereka sebelum pergi ke dunia bawah. Namun, menjadi jembatan antara arwah dan pemiliknya terkadang sangat sulit, apalagi dengan keberadaan sosok yang tidak mereka inginkan.
“Hanya ada dua cara untuk mengenyahkan rasa takut. Pertama, menghadapi ketakutan itu untuk menaklukkannya. Kedua, melupakannya.” (p.141)
Sebuah toko roti yang ternyata bukan sembarang toko roti. Karena toko roti ini merupakan transit sebagai pemberhentian terakhir bagi para anabul sebelum pergi ke dunia bawah.
Kalau yang punya hewan peliharaan pasti soft banget sih pas baca buku ini. Apalagi kalau anabulnya telah tiada. Karena di buku ini, sebelum para Doong Doong (sebutan para arwah anabul) ke tempat peristirahatan abadinya, mereka akan diubah dalam wujud roti. Lalu, dimakan oleh pemiliknya agar bisa berkomunikasi langsung dengan jiwa.
Di buku ini ada beraneka ragam anabul dengan segala ceritanya. Ada yang ia tak bisa ke tempat terakhir karena pemiliknya masih membawa mayat anabulnya kemana-mana. Ada anjing pemandu yang berdansa untuk terakhir kalinya dengan pemiliknya. Serta ada tokoh “jahat” di sini yang sengaja membunuh jiwa-jiwa anabul.
Lala, sang pemeran utama di buku ini, memiliki kekuatan bisa melihat ingatan para arwah. Jadi, dia bisa tahu arwah itu mau melakukan apa, atau ada pesan yang belum diucapkan kepada sang pemilik. Juga ada Bu Bos, Manyeo, penyihir di toko roti. Dan kucing ajaib bernama Jaerong.
Sebuah bacaan yang hangat. Cocok bagi kamu yang suka asian-lit dengan tema kucing dengan bumbu magical-realism.
🌹 3.75 bintang untuk kontemplasi kalau anabul disterilkan, apakah itu artinya kita mengambil hak mereka untuk bereproduksi?
"Seseorang harus melakukan tugas ini. Meski tidak harus aku, seseorang wajib bergegas mencegah kejahatan seperti ini. Aku tidak bisa tinggal diam menyaksikan hal ini. Aku tidak mau jiwa-jiwa polos sepertimu tertimpa kematian yang tragis lagi."
Judul: The Witch Bakery Genre: Fantasi & Hewan Author: Han Su-In Penerbit: Bentang Aksara Cahaya Tebal: 217 halaman Rating: 3.5/5 ⭐️
***
"Ke manakah perginya arwah hewan yang sudah mati?"
Sebuah toko roti aneh menawarkan pekrjaan kepada Lala yang sudah berkali-kali ditolak saat mencari pekerjaan paruh waktu. Ternyata, toko roti itu merupakan pemberhentian sementara para arwah hewan sebelum menuju dunia bawah. Berbagai arwah datang dengan harapan mewujudkan keinginan terakhir mereka dengan pemilik sebelumnya.
Lala menemukan bahwa dirinya memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan hewan. Dia pun menerima pekerjaan tersebut dan berkenalan dengan banyak Doong Doong berwujud roti.
Bersama Jaerong, seekor kucing luar biasa, Lala melakukan apa saja agar para arwah bisa bertemu pemiliknya dan mewujudkan keinginan terakhir mereka sebelum pergi ke dunia bawah. Namun, menjadi jembatan antara arwah dan pemiliknya terkadang sangat sulit, apalagi dengan keberadaan sosok yang tidak mereka inginkan.
***
Kalau boleh jujur, aku membeli novel ini karena ada gambar kucing di cover depannya. Selain itu, harganya juga lagi didiskon sehingga kenapa tidak kubeli saja? Akhir-akhir ini, aku memang sedang senang mengamati buku-buku terbitan Penerbit Baca. Covernya rata-rata eye catching. Sebagai seseorang yang selalu judge a book by its cover, tentu saja aku terpancing untuk mencari tahu dan mencoba.
Kisah yang dipaparkan dalam novel ini menurutku unik. Penulis bisa dengan kreatif menuliskan konsep cerita yang tidak umum dengan menggabungkan topik 'arwah', 'hewan', 'sihir', dan 'toko roti'. Sebuah perpaduan yang aneh, namun nyatanya tetap menarik untuk diselami. Uniknya lagi, tidak hanya unsur fantasi dan magis dengan taburan hewan-hewan lucu di sana-sini saja yang terasa. Ada sedikit unsur thriller dan misteri yang diselipkan oleh sang penulis. Jadi, buku ini bukan hanya sekadar kisah slice-of-life tokoh utama yang membantu arwah-arwah hewan yang sudah meninggal. Selain itu, aku juga belajar beberapa hal baru yang berkaitan dengan kepercayaan orang-orang di Korea melalui buku ini.
Oh, ya. Penulis beberapa kali menyinggung juga soal perilaku manusia yang merenggut kebebasan hewan dan hanya menyayangi hewan-hewan yang patuh pada keinginannya. Kuharap ini juga bisa jadi reminder untuk pembacanya, terutama yang memiliki hewan peliharaan. Mereka adalah makhluk hidup yang patut mendapatkan kebahagiaan dan kasih sayang tanpa syarat.
Kembali lagi ke bagian misterinya. Penulisnya pandai merangkai pacing cerita dan tantangan yang harus diselesaikan si tokoh utama. Jadi, aku benar-benar tenggelam dalam kisah buku ini. Akan tetapi sangat disayangkan, terkadang transisi antara satu kejadian dengan kejadian lainnya terlalu cepat dan tidak terlalu jelas. Hal ini membuatku kurang nyaman saat membaca, membuatku harus membaca ulang untuk memahami bahwa latar tempat dan waktu cerita sudah berganti.
Tokoh utama dalam buku ini adalah seorang siswi SMP bernama Lala yang hidupnya ditimpa kemalangan bertubi-tubi. Akan tetapi, ia juga merupakan seorang anak dengan empati dan tanggung jawab yang besar. Rasa iba dan keinginannya untuk mengorbankan diri demi menolong arwah hewan-hewan yang singgah di toko roti membuatku mengidolakannya langsung. Tidak heran Jaerong (si kucing ajaib maskot toko roti) dan Manyeo (penyihir pemilik toko roti) menyayanginya.
Sebelum mencapai klimaks cerita yang menurutku menarik, Lala menjalankan berbagai tugas yang membuatnya membantu arwah hewan-hewan untuk bertemu dengan pemiliknya dan mengabulkan permintaan terakhir mereka. Ada kisah Jeongseo (anak SD adik teman sekelas Lala) dengan Bobae (ikan cupang), Hajoon (tunanetra) dengan Mori (anjing golden pemandu tunanetra), sampai pada Seah (teman sekelas Lala) dengan Tami (kucing). Dari semua itu, favoritku barang kali adalah kisah Hajoon dan Mori. Aku sudah sering melihat anjing golden retriever saat tinggal di luar negeri, tepatnya di benua Amerika. Mereka ini memang anjing yang riang dan loyal pada pemiliknya. Aku sangat tersentuh dengan kisah Hajoon dan Mori.
Overall, menurutku buku ini tetap menarik untuk dibaca karena mengandung banyak pesan moral. Terlepas dari kekurangannya yang sudah kusebutkan tadi, hewan-hewan lucu yang muncul di dalam buku ini bisa dengan segera mengompensasinya.
Novelnya tentang Lala yang sedang mencari pekerjaan paruh waktu karena butuh biaya untuk sekolahnya. Saat sedang putus asa, ia melihat seekor kucing aneh lalu mengikuti kucing tersebut hingga tiba di sebuah toko roti. Di sana ia disambut oleh seorang perempuan cantik yang tak kalah aneh dan menawarkan pekerjaan pada Lala.
Pekerjaan yang dijalani Lala tergolong aneh. Ia menyusun roti-roti yang isinya adalah roh hewan peliharaan yang ingin bertemu pemiliknya sebelum roh tersebut 'bereinkarnasi'. Lala ternyata punya kemampuan untuk 'mendengar' dan 'berkomunikasi' dengan roh-roh hewan tersebut. Ia dan pemilik toko, beserta si kucing berusaha mengabulkan permintaan terakhir para roh. Jika tidak, roh akan musnah!
Cerita di buku ini cukup seru walaupun kelihatannya blurbnya biasa saja. Tapi ternyata ada yang lebih dari sekadar mengabulkan permintaan roh para hewan! Itu kejutannya. Dan bikin pengin cepat-cepat menyelesaikan novelnya.
Selain ceritanya yang unik, novel bergenre fantasi ini bikin perut lapar karena penggambaran roti-roti dan kue yang terasa nyata. Bagai melihat dan mencium langsung aroma roti yang baru selesai dipanggang. Ceritanya juga ada harunya, lho. Sampai terhanyut karena terbawa perasaan.
Pertama, menghadapi ketakutan itu untuk menaklukkannya.
Kedua, melupakannya.
(hal. 216)
*
Aku memutuskan untuk membeli novel terbaru terbitan Penerbit Baca ini karena impulsif melihat covernya yang cantik juga BLURB-nya yang beneran bikin penasaran. Toko roti yang bisa mengantarkan arwah para hewan menuju dunia bawah? Apa maksudnya?
Dan alhamdulillah beneran nggak salah beli. Keajaiban dalam buku ini benar-benar terasa orisinal. Aku enggak nyangka kalau di akhir ceritanya malah ada kasus yang membawa-bawa soal sihir hitam. Sebenarnya buku seperti ini cocok banget untuk dibuat berseri seperti cerita The Chibineko Kitchen nih.
Novel ini ngomongin soal toko roti yang jadi tempat singgah roh hewan-hewan yang penasaran sebelum mereka ke Dunia Bawah. Lala, siswi SMP, terpilih untuk bekerja paruh waktu disitu. Kemampuan istimewanya melihat masa lalu dari roh hewan sebelum mereka mati sangat membantu untuk mengabulkan keinginan para roh yang belum selesai.
Awalnya saya kira bakal dapat cerita full drama menghangatkan hati tapi ternyata isinya justru ada perang antara pihak baik dan pihak jahat. Dan menurut saya penerjemahannya belum terlalu renyah sehingga pas baca ada bagian-bagian yang kurang lancar.
Membeli buku fiksi ini awalnya karena 2 hal, yaitu cover-nya dan tema ceritanya (dari blurb-nya).
Cerita tentang arwah tapi nggak ada seram-seramnya, malah gemes dan haru., begitulah yg aku rasain selama baca novel ini. Walau awal baca agak slow karena nama-nama yang pakai bahasa korea, dan mungkin karena terjemahan jadi awalnya belum 'klik' dengan pemahamanku. Tapi semakin baca semakin ngerti dan menikmati baca novel ini, lumayan jadi bacaan sambil menunggu mata mengantuk.
Sebenarnya suka-suka aja baca buku ini, tapi aku beberapa kali harus baca ulang karena ngga paham sama apa yang di ceritain. Entah karena efek penulisan asli atau penerjemahannya. Beberapa kali juga aku mikir "sebenarnya siapa yang lagi ngomong?" Karena bingung.
Tapi disisi lain buku ini buat aku jadi sadar kalau hewan-hewan juga punya perasaan sendiri. Alurnya yang santai cocok buat yang suka genre slice of life.
I judge a book by its cover! Lol I couldn't resist the tempation to buy a book with cat on its cover.
So, where did the animal soul go after they die? This book tells that the animal soul will be stuck in the human world and stay inside the cake/bread while waiting for their last wish to become true.
I thought it would be more witchy and whimsical 🥲 the last chapter suddenly felt like "Exhuma" movie, also some fantasy elements were more told than shown that we got too detailed explanations about the soul transit proccess but lacking of the cozy elements about how the bakery is operating in daily basis.
"aku ingin berpamitan untuk terakhir kalinya dengan para keluarga, lalu menemukan kembali ekorku dan beristirahat dengan tenang. aku kan, sudah mati jadi hanya itu yang bisa kulakukan."
Selalu takjub sama cerita terjemahan dari @penerbitbaca especially yang heartwarming gini 😌🫶🏻 Aku takjub sama 𝗽𝗹𝗼𝘁nya Witch Bakery ini yang gak cuma kerasa magical nya tapi ada sisi heartwarming-nya juga, setiap konflik yang dihadirkan di buku ini punya tension nya masing-masing! Ada yang sedih, ada yang mengharukan dan juga ada yang menegangkan bikin dag dig dug serrr😌 aku juga doyan sama 𝗮𝗹𝘂𝗿nya yang gunain alur maju dan termasuk enak flow alurnya walau memang di awal-awal aku bisa menyesuaikan diri sama kecepatan timeline di buku ini tapi jujur, ini termasuk fastpaced di aku karena aku abisin buky ini in one sitting ehehe😚 petualangan Lala asik banget deh buat diikutin dan termasuk bacaan yang ringan!
𝗡𝗮𝗿𝗮𝘀𝗶nya yang merupakan terjemahan ini enak gaya bahasanya, gak kaku jadi nyaman buat dibaca terus juga aku suka sih sama pemilihan kata-kata yang simple jadi kerasa light aja bukunya gitu!✨ Untuk para tokohnya, aku suka sama 𝗽𝗲𝗻𝗼𝗸𝗼𝗵𝗮𝗻 mereka! Lala, Jaerong si kucing dan Manyeo adalah tokoh-tokoh yang berkesan buat pembacanya. Mereka memiliki powernya masing-masing dalam menghidupkan cerita ini, punya keunikannya masing-masing! Aku suka dengan nilai kekeluargaan dan friendship yang ditonjolkan di buku ini!✨ Aku juga suka sama tokoh-tokoh hewan yang dibantu oleh toko tempat Lala bekerja, momen-momen mereka bersama tuan mereka itu heartwarming banget dan pastinya bakalan ngena banget kalo kalian punya peliharaan kayak kalo dipikir-pikir gak cuma kita aja yang happy abisin waktu sama mereka tapi mereka juga happy abisini waktu sama kita!🤗
Dan pada akhirnya, aku ambil suatu 𝗽𝗲𝗹𝗮𝗷𝗮𝗿𝗮𝗻 bahwa kita harus menikmati momen kita bersama hewan peliharaan kita karena waktu bersama mereka itu singkat dan pada akhirnya, seumur hidup mereka yang mereka miliki ya cuma kita para hooman mereka!🥹💞
Overall, it’s a great healing fiction yang super heartwarming! Aku rekomendasiin ini buat temen-temen yang lagi cari bacaan ringan buat healing nih!☝🏻
Kira-kira ke mana hewan peliharaan akan dibawa setelah meninggal? Pertanyaan ini sering kali menghantui, terutama ketika kita merasakan ikatan yang begitu kuat dengan anabul. Kehilangan hewan peliharaan bukan hanya kehilangan sosok yang lucu dan menggemaskan, tetapi juga kehilangan sahabat setia yang selalu ada di samping kita.
Pertemuan antara Lala dan Jaerong menjadi titik balik yang signifikan dalam hidup Lala. Ia akhirnya mendapatkan pekerjaan di toko roti milik Kim Manyeo karena memiliki kemampuan untuk berbicara dengan doong-doong (arwah hewan peliharaan). Toko Roti ini menjadi perantara Doong-doong untuk mengabulkan permintaan terakhir mereka sebelum melanjutkan perjalanan ke dunia bawah.
Setiap doong-doong yang menjadi arwah akan dibentuk menjadi roti tertentu, yang dirancang khusus untuk menggambarkan karakter dan kenangan terakhir mereka. Roti-roti ini kemudian akan dikirimkan kepada pemilikmya. Dengan cara ini, doong-doong akan datang melalui mimpi, menyampaikan pesan mereka, dan akhirnya bisa pergi dengan tenang ke alam bawah.
Kisah-kisah yang dihadirkan dalam buku ini heartwarming. Setiap hewan memiliki cerita yang tak terlupakan dan penuh makna bersama majikannya.
Setiap halaman buku ini memberikan kita pelajaran tentang cinta, kehilangan, dan bagaimana kita bisa menghargai setiap momen bersama hewan peliharaan. Kita diajarkan untuk tidak hanya melihat hewan sebagai teman, tetapi juga sebagai bagian dari keluarga yang memiliki jiwa dan cerita mereka sendiri.
Dengan membaca Witch Bakery, kita akan diingatkan betapa berharganya hubungan antara manusia dan hewan, serta bagaimana kita bisa merayakan kenangan tersebut meskipun mereka telah pergi.