Jump to ratings and reviews
Rate this book

#Reset Indonesia: Gagasan tentang Indonesia baru

Rate this book
Untuk menjawab pertanyaan, "Mengapa air kran di Indonesia tak bisa langsung diminum?" buku ini akan membahas kualitas air sungai sampai gagasan federalisme.

Jadi dari mana mengurai problem Indonesia yang ruwet? Apa sebenarnya akar masalahnya? Adakah obatnya? Kalau ada, mulai dari mana membenahinya?

Buku ini ditulis para jurnalis yang ada di belakang film Sexy Killers (2019) atau Dirty Vote (2024). Tapi Indonesia terlalu luas dan kompleks. Banyak gagasan yang tak dapat difilmkan. Maka buku ini merangkum tiga perjalanan berkeliling Indonesia, yaitu: Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa (2009-2010), Ekspedisi Indonesia Biru (2015-2016), dan Ekspedisi Indonesia Baru (2022-2023).

Mereka telah merekam Indonesia dari jarak yang sangat dekat: Dari titik nol kilometer di Pulau Weh hingga ujung aspal di perbatasan Sota. Dari sana terekam konflik sumber daya alam, keadilan sosial, masyarakat adat, hingga isu lingkungan dan perubahan iklim.

Tapi mereka juga ada di gedung DPR saat membahas Undang-Undang, di jalanan ibukota saat kerusuhan, atau masuk komplek Sekretariat Negara. Dari sana mereka memahami sistem politik, demokrasi, kasus korupsi, sistem kepartaian, hingga urusan tentara dan polisi.

Lewat perspektif empat jurnalis yang mewakili empat generasi, dari boomer hingga Gen Z, buku ini membicarakan hal-hal besar tentang keindonesiaan lewat data, teori, dan laporan pandangan mata di lapangan dengan detil-detil yang memukau.

448 pages, Paperback

First published September 5, 2025

107 people are currently reading
278 people want to read

About the author

Farid Gaban

14 books21 followers
Jurnalis freelance dan petani, tinggal di lereng Gunung Sindoro, Wonosobo, Jawa Tengah.
Melakukan perjalanan keliling Indonesia bersepeda-motor, dalam Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa, 2009-2010.
Redaktur Pelaksana Majalah Tempo (1999-2005)
Redaktur Eksekutif Harian Republika (1992-1997)
Meliput Perang Bosnia (1992)
Memperoleh fellowship The Asia Foundation (San Fransisco, Amerika Serikat – 1988)

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
100 (71%)
4 stars
31 (22%)
3 stars
5 (3%)
2 stars
2 (1%)
1 star
2 (1%)
Displaying 1 - 30 of 47 reviews
Profile Image for Luthfi Ferizqi.
500 reviews17 followers
February 20, 2026
I have finally finished this 400+ page book. Overall, I am quite satisfied with the ideas that Farid Gaban and his colleagues attempt to present about a “new Indonesia.” The vision is bold and thought-provoking. However, in my view, this work might have been more impactful if it were presented as a documentary film. Perhaps Dandhy Laksono has already produced one based on this expedition.

Why do I say it would work better as a documentary? Because the book essentially compiles a series of articles arranged into several chapters. Although each chapter is thematically consistent, the writing tends to feel repetitive at times, which makes it somewhat challenging to stay engaged from beginning to end.

That said, I truly appreciate the efforts of these journalists. The opening story about their journey — reminiscent of The Motorcycle Diaries of Che Guevara — made me feel a sense of envy. If not for my responsibilities to my family, I would be genuinely interested in embarking on such a journey myself.



Tuntas sudah melahap buku 400 halaman lebih ini. Saya cukup puas dengan gagasan yang ingin dibawa oleh Farid Gaban, dkk mengenai Indonesia baru. Namun, menurut saya karya ini lebih cocok disajikan sebagai film dokumenter, dimana mungkin saja Dandhy Laksono sudah menghasilkan film dokumenter dari perjalanan ekspedisi ini.

Mengapa saya katakan lebih baik dibuatkan film dokumenter? Karena buku ini berisikan kumpulan artikel yang disisipkan ke dalam beberapa Bab (meskipun tiap Bab cukup konsisten dengan isi artikel), isi tulisan pun juga cenderung repetitif yang menjadikannya menantang untuk melahap buku ini hingga selesai.

Meskipun begitu, saya kagum dengan kawan-kawan jurnalis, cerita di awal buku tentang perjalanan The Motorcycle Diaries ala Che Guevara juga membuat saya iri, jika saya tidak memiliki tanggung jawab kepada keluarga, saya sangat tertarik untuk mengikuti perjalanan kalian.
Profile Image for Rido Arbain.
Author 6 books112 followers
March 27, 2026
Pernahkah kita membayangkan seperti apa kondisi dunia tanpa laut? Laut bukan hanya hamparan air biru yang merentang luas nan indah, tetapi juga sumber penghidupan bagi banyak makhluk hidup, termasuk di dalamnya manusia. Mulai dari nelayan kecil hingga korporasi industri, semuanya bergantung pada kekayaan laut. Namun, eksploitasi berlebihan dan pencemaran besar-besaran telah mengancam ekosistem laut kita. Apabila hal ini terus dibiarkan, tentu bukan hanya lingkungan saja yang menderita, tetapi juga sektor perekonomian hingga ketahanan pangan global. Di titik inilah ekonomi biru hadir sebagai solusi.

Konsep ekonomi biru (blue economy) pertama kali dikenalkan oleh Gunter Pauli dalam bukunya, The Blue Economy: 10 Years, 100 Innovations, 100 Million Jobs. Pauli mendefinisikan ekonomi biru sebagai model ekonomi yang terinspirasi dari alam, di mana sumber daya digunakan secara efisien, limbah diminimalkan, dan keseimbangan ekosistem tetap terjaga. Berbeda dengan pendekatan ekonomi tradisional yang sering kali hanya berfokus pada keuntungan finansial, ekonomi biru memastikan aktivitas manusia tidak merusak lingkungan, terutama ekosistem laut.

Gagasan ini sebenarnya bukanlah hal asing bagi sebagian masyarakat Indonesia, seperti misalnya di Papua, yang telah lama hidup dalam keseimbangan alam. Akan tetapi, ketika dijelaskan dalam kerangka sistematis, ide ini terasa seperti napas segar di tengah obsesi pertumbuhan ekonomi yang rakus. Ekonomi yang meniru kebijaksanaan alam sebetulnya berangkat dari prinsip sederhana: enough is enough. Cukup berarti cukup. Ide ini seharusnya tidak utopis, sebab ia menantang kita kembali pada ide pembangunan yang produktif tanpa harus destruktif. Pada akhirnya, semangat ini juga yang membawa kita kepada kampanye #ResetIndonesia, sebuah ajakan untuk mengembalikan bangsa ini ke “setelan pabriknya”.

Keempat penulis buku ini yang mewakili empat generasi—Farid Gaban, Dandhy Laksono, Yusuf Priambodo, dan Benaya Harobu—seharusnya tidak perlu susah payah melakukan ekspedisi keliling nusantara, kalau saja gejolak ekonomi-sosial-politik Indonesia belum berada pada titik mengkhawatirkan. Kalaupun harus dilakukan mitigasi masalah sampai ke daerah-daerah pelosok, seharusnya hal itu sudah dilakukan lebih dulu oleh pemerintah lewat K/L dan instansi turunannya; bukannya malah diwakili secara volunteristik oleh segelintir rakyat sipil selama bertahun-tahun dalam tiga periode ekspedisi (2009-2010, 2015-2016, 2022-2023).

Meskipun penulisan buku ini dimaksudkan untuk membedah permasalahan pokok di Indonesia selama beberapa dekade terakhir, bukan berarti masalah-masalah tersebut seketika tuntas sejak buku ini dirilis. Justru, ini adalah alarm pengingat bahwa negara ini sudah saatnya mulai berbenah.

Dari bagian prolog buku ini saja, kita bahkan sudah disuguhkan berbagai paradoks modernisasi. Misalnya, bagaimana kita menormalisasi konsumsi air minum dalam kemasan, padahal nenek moyang kita dulu tak pernah ketergantungan dengan produk semacam itu. Lebih mirisnya lagi, bahkan hampir semua orang terkaya di Indonesia saat ini mempunyai bisnis air minum kemasan. Artinya, kebutuhan kita akan air bersih sudah terang-terangan dikapitalisasi oleh kaum pemilik modal.

Dalam hal pelestarian lingkungan, Indonesia bukannya tak pernah berbenah. Masalahnya, pelestarian lingkungan belum tentu disertai pelestarian kehidupan sosial dan budaya setempat. Misalnya, jika konsep konservasi tak melibatkan gagasan dan warga lokal, maka ia justru akan menyulut konflik. Sebab, merekalah yang sudah teruji hidup berdampingan dengan ekosistemnya, meski tanpa embel-embel konservasi.

“Logika yang umum kita gunakan setiap kali punya kebutuhan adalah bagaimana memenuhinya. Lalu manusia berlomba-lomba melakukan inovasi untuk memenuhi kebutuhan itu. Padahal inovasi juga bisa dilakukan untuk menekan kebutuhannya, bukan semata pemenuhannya.”

Kita sering kali gagal membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Contohnya, kita tahu bahwa makan adalah kebutuhan, tetapi makan sambil berwisata menatap gugusan pulau di Raja Ampat adalah keinginan. Mobil mungkin jadi kebutuhan, tetapi memiliki 2-3 jenis dan warna mobil jelas merupakan keinginan. Dari keinginan-keinginan itulah kadang kala tumbuh keserakahan.

Setiap bab dalam buku ini setidaknya mengurai permasalahan yang terjadi di Indonesia, yang akar utamanya adalah keserakahan manusia. Semua argumen dinarasikan dengan kuat karena berpijak pada data dan observasi lapangan selama bertahun-tahun. Yang paling menonjol, permasalahan yang dirangkum di sini menghadirkan suara-suara warga lokal yang sering kali diabaikan dalam forum diskusi formal.

Sebab itulah, dengan membaca buku ini, kita tidak hanya menolak untuk melihat kemajuan hanya lewat statistik (yang kerap dibangga-banggakan penguasa negara), tetapi kita juga diajak terlibat bersama-sama merumuskan solusi paling mungkin di tengah menyeruaknya virus ketimpangan di Indonesia, yakni dengan meresetnya. Mereset Indonesia kembali ke hakikatnya.
Profile Image for Ms.TDA.
273 reviews9 followers
February 17, 2026
LUAR BIASA!!! Benar2 topik yg disajikan sedaging itu!
💥🎇🔥

Ini merupakan hasil RISET dan memahami berbagai isu hingga mengasah strategi pendekatan sosial yg berlika-liku terjadi di perjalanan 18.393 km dan membawa pulang total 16terabyte video, 12 ribu framefoto dan jutaan kegelisahan. Tentu tak semua isu detail tergapai dalam buku ini, tapi overall penyajian problem solving juga dipaparkan di setiap sub-bab dg lika-liku yg luar biasa kompleksnya.🥴😵‍💫😵😮‍💨

Obsesi berlebihan kepada pertumbuhan ekonomi, investasi, dan utang telah terbukti merusak alam dan jalinan sosial, memicu ketimpangan, dan memperburuk kemiskinan. Tentu pilihan “Easy Money, Easy Disaster” akan selalu menjadi pilihan tercepat sebagai solusi. Akan tapi, lebih mendasar, obsesi ini menciptakan ketergantungan kepada bangsa lain dan membuat kita tidak berdaulat dlm merumuskan apa yg terbaik utk negri ini. 🌳💸

Reset bukan berarti menghapus semua. Ini merupakan panggilan utk menata ulang fondasi. Nilai2, sistem dan paradigma berpikir yg sudah mulai lapuk, serta prioritas. Cara kita menjalankan pendidikan, menjaga lingkungan, menekan ketimpangan ekonomi dan kesejangan sosial, hingga akses kesehatan yg tak merata. Mengimajinasikan suatu tatanan berbangsa dan bernegara yg lebih baik bisa menjadi langkah kecil yg cukup baik dan revolusioner bagi generasi muda saat ini. Bentuk negara yg lebih adil, tata ruang permukiman dan perkotaan yg lebih manusiawi. Air keran yg bisa lgsg diminum, juga akses ketersediaan pangan sehat. Energi yg lebih ramah lingkungan, jg sistem pengelolaan sampah yg disiplin dan teratur, hingga sistem pendidikan yg mengajarkan keseimbangan antara ruang pikir dan ruang rasa.💫

Let us hope for that small miracle for the current and future generations of Indonesia. 🇮🇩
Profile Image for Alif Dzikri.
13 reviews
December 20, 2025
Mungkin buku ini sangat bisa menggambarkan "setiap 1 masalah, hadir 1000 solusi".

Awal buku dimulai dengan permasalahan yang ada di Indonesia. Kkalau biasanya kita melihat di media nasional ataupun yang lainnya, masalah yang dibahas hanya permukaannya saja. Buku ini menguak permasalahan dalam lingkup yang lebih kecil (desa hingga beberapa keluarga) dan terpencil, yang akar permasalahannya bukan dari mereka tapi dari pembangunan, PSN, ide-ide meningkat ekonomi, dan hal-hal lainnya yang disebabkan oleh pemerintah. Akibatnya, konflik horizontal yang melibatkan masyarakat tidak bisa terelakkan. Bisa dibilang, segala permasalahan yang dituangkan di sini cukup update dan mungkin saja masih terjadi hingga kini.

Tapi, tidak sepenuhnya buku ini menceritakan masalah. Para penulis juga memberikan solusi yang lebih banyak dari masalah yang dituliskan. Setiap solusi bahkan punya contoh kesuksesan yang sudah terbukti nyata baik melalui kondisi sejarah maupun kondisi saat ini di negara-negara lain yang terbukti bisa membangun masyarakatnya sendiri, baik untuk kalangan petani, nelayan, pengusaha, hingga kelompok pekerja menengah ke bawah.

Intinya, buku ini memperjelas bagaimana kita mulai dan mungkin sudah terjebak dalam kutukan sumber daya, tapi di samping itu dengan kekayaan alam, demografi hingga potensi yang ada, sebetulnya sudah cukup untuk kita keluar dari cengkeraman kutukan itu.
Profile Image for Galih Surya.
81 reviews
December 24, 2025
“Inilah yang ditunggu, gebrakan tajam menyapu halimun politik negara yang katanya berkembang — Indonesia. Tembakan fakta demi fakta dilayangkan tanpa henti, tidak dapat disangkal, kendati demikitan kebenaran macam ini sangat rawan untuk dibungkam. Katanya demi stabilisasi, maklum rakyat tidak boleh tahu, hanya boleh patuh. Di setiap lembarnya yang menggugat diikuti oleh solusi dan pemikiran berkelanjutan yang sangat holistik dan realistis, misalnya : blue economy, small is beautiful, from down to top, desentralisasi, dll. Senang rasanya bisa berperang dengan data, dan saya tidak sabar menanti runtuhnya kaum elite. MAJU TERUS!”
Profile Image for Erlita Monika.
12 reviews1 follower
December 29, 2025
Membaca buku ini membuat perasaan jadi campur aduk.

Senang karena ada banyak informasi yang bisa didapat dari cerita-cerita perjalanan yang dituliskan. Geram membaca keangkuhan pihak yang merasa berkuasa. Sedih dan kepingin meratapi kenyataan bahwa saya adalah bagian dari 'rumah' bernama Indonesia. Malu dengan cerita perjuangan anak bangsa di beberapa tempat karena rasanya belum banyak yang saya lakukan untuk negeri.
39 reviews
March 23, 2026
Perjalanan panjang dan luar biasa yang dirangkum disebuah buku, lalu padat dengan data lapangan maupun literatur. Menarik dibaca untuk bisa memahami sisi-sisi Indonesia yang diluar jangkauan kita atau sudah dianggap wajar dalam keseharian kita.
Profile Image for Gia⁷.
40 reviews2 followers
January 2, 2026
Buku ini saya selesaikan menjelang penghujung tahun 2025 dan menjadi buku pertama yang saya beri penilaian bintang lima pada bulan tersebut. Sepanjang proses membaca, buku ini dipenuhi catatan, sorotan, dan penanda halaman menunjukkan intensitas dialog kritis antara teks dan pembaca.

Apabila muncul pertanyaan mengenai karya yang paling mampu menjelaskan kondisi sosial, politik, dan struktural yang tengah berlangsung di Indonesia, maka Reset Indonesia layak disebut sebagai salah satu rujukan penting. Buku ini tidak sekadar menyajikan narasi, melainkan menawarkan sebuah perjalanan analitis yang sarat ironi dan kesedihan, disusun dengan ketelitian serta kepekaan sosial yang kuat.

Pada akhirnya, buku ini menghadirkan refleksi mendalam tentang keadaan bangsa, sekaligus menjadi pengingat akan urgensi pemulihan baik secara institusional maupun moral.

Semoga negeri ini segera pulih.
Profile Image for a.
23 reviews1 follower
April 13, 2026
Judulnya memang menggugah, sekaligus menjadi pintu masuk yang seksi untuk menguak permasalahan-permasalahan yg sering kali tidak diberitakan di media massa. Dalam isu air, saya senang sekali akhirnya ada yang menguak persoalan komodifikasi air di Indonesia. Tapi, menurut pembacaan saya, buku ini menempatkan negara sebagai arena perjuangan utama, padahal negara itu sendiri juga lahir dari relasi sosial dan kapital yg penuh kontradiksi.
Profile Image for Rizkana.
252 reviews29 followers
February 17, 2026
"Segala sesuatu akan baik jika dimulai dari apa yang kita punya, meski skalanya kecil."


Membuka mata dan pikiran, itu kesan yang saya dapatkan setiap habis menamatkan satu tulisan di dalam buku ini. Kita tidak bisa menyembuhkan sesuatu kalau belum bisa menyadari ada penyakit yang sedang diderita. Buku ini, setidaknya, membantu melihat apa dan di mana penyakitnya.

Lewat beragam topik tulisan--pertanian, ketahanan pangan, keragaman hayati, peran perempuan masyarakat adat, kelautan, pariwisata, sampai praktik politik--yang dihimpun langsung dari liputan perjalanan para penulisnya, pembaca diajak untuk menyoroti masalah di tingkat akar rumput yang gagal dikelola olah para pembantu rakyat. Saya sadar negara ini cenderung dikelola orang-orang inkompeten, serakah, dan berpikiran jangka pendek. Yang baru saya sadari setelah membaca buku ini adalah, ternyata, negeri ini sudah dibuat keropos.

"Warga negara tidak bisa direduksi sekadar menjadi konsumen!"


Dengan gaya penulisan yang dekat (pembaca ditarik untuk melihat sudut pandang narasumber), kemudian didukung banyak literatur lanjutan bagi pembaca yang ingin memahami topik tulisan lebih jauh, buku ini bisa membuat saya bertahan mengorek-ngorek luka yang diderita sebagian besar WNI. Rasanya patah hati dan agak depresi ketika akhirnya melihat apa saja yang menggerogoti negeri saya ini. Topik yang paling membuat saya kalut adalah keragaman hayati, ketahanan pangan, dan peran masyarakat adat. Salah satunya tecermin lengkap dalam artikel berjudul "Matematika Yosef Erwin".

Meski topik pembahasan berat (karena siapa pun yang punya rasa peduli pada negeri ini pasti merasa dibuat tidak berdaya menyadari betapa kacau dan tanpa perlindungannya menjadi WNI), untuk setiap kesalahan pengelolaan yang disoroti, ada solusi yang ditawarkan (blue economy, ekonomi alam, desa, hingga federasi).

"People helping people help themselves."


Saya tidak tahu akan sejauh mana buku ini membantu memperbaiki kesalahan kelola ini. Namun, saya pikir, buku ini bisa mendorong terjadinya kesadaran bersama (collective awareness), bahwa ada yang salah dan kita perlu mengubah cara mengelola negeri ini.

Kalau kamu belum membaca buku ini, usahakanlah untuk membacanya. Sempat-sempatkan untuk membelinya. Kalau tidak berdaya, cobalah pinjam di perpustakaan atau pinjam ke teman yang bisa meminjamkan. Kamu punya utang untuk peduli pada dirimu, pada orang di sekitarmu, pada tanah tempat tinggalmu. UBAH YANG SALAH!

"Warga negara harus meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang makna demokrasi sejati, tentang hak didengar, hak bermusyawarah, dan hak memperoleh penjelasan."
Profile Image for Dwina RA.
19 reviews
April 11, 2026
Ada orang terdekatku yang komen "kenapa sih kamu teh memusingkan diri dengan issue2 pemerintah? Kan jadi stress sendiri" karena aku suka misuh2 soal pemerintah

Pasalnya gimana ga misuh2, wong banyak hal ajaib yang dilakukan pemerintah- ajaib dalam konotasi negatif.

2017 aku mulai nonton watchdoc, petualangan mas dandhy dkk ke seluruh indonesia, meliput apa2 saja yang terjadi. Endingnya selalu bikin aku mikir: "kok bisa Indonesia yang begitu kaya raya, rakyatnya miskin dan melarat?"

Di buku reset indonesia pun bercerita tentang issue yang terjadi di indonesia dari berbagai spektrum: pendidikan, lingkungan (tanah, air, udara, hutan, laut, flora, fauna), transum, energi, dll.

Buku ini wajib dibaca oleh semua masyarakat Indonesia.

Anyone yang bilang mas dandy dkk adalah antek aseng coba baca buku ini dan bandingin sama realita yang ada dan bandingin juga sama kebijakan2 yang dibuat pemerintah. Buku ini bukan cuman menyajikan permasalahan yang ada, tapi juga alternatif2 solusi, baik itu yang sudah ada (sudah diterapkan di negara lain, ataupun bentuk studi). Dan pemerintah sebagai pembuat kebijakan, sepatutnya terinfo sih soal berbagai solusi yg ada, cuman keputusan2 yang diambil hingga saat ini- yang tidak pro rakyat itu, justru tanda tanya besar, kenapa pemerintah milih solusi seperti itu padahal ada alternatif2 lain yang lebih bijak. Sesungguhnya siapa yang ingin pemerintah sejahterakan(?)

Dan sebagai masyarakat harusnya memang lebih aware (salah satunya dengan membaca buku ini) dengan issue2 yang ada, karena Indonesia ini adalah milik kita bersama. Kita berhak punya andil untuk menentukan masa depan Indonesia, karena Indonesia adalah negara demokrasi, bukan milik elite maupun oligarki. Rakyat Indonesia adalah human being, yang memiliki hak untuk hidup, bukan cuman angka statistik, apalagi sekadar pekerja yang diambil tenaga dan waktunya untuk membesarkan kapitalis.
Panjang umur perjuangan🙌🏼✨️
Profile Image for Anggita Arum.
15 reviews1 follower
April 19, 2026
Saat membaca buku ini, rasanya sulit menjadi optimis pada masa depan negara ini. Tapi di saat yang sama, saat membaca buku ini (juga) rasanya sulit untuk sepenuhnya pesimis dan menyerah pada nasib bangsa ini. Buku ini menyajikan banyak potret kerusakan yang terjadi atas nama kepentingan negara, tapi di saat yang sama juga menunjukkan betapa banyak solusi kearifan lokal yang ternyata justru lebih works dalam menjaga alam, budaya, dan kehidupan.

Beberapa yang ternotice dari buku ini antara lain:
1. Buku ini berkiblat pada banyak pemikiran Bung Hatta (dan Mahatma Gandhi), yang memang berprinsip kembali ke rakyat dan untuk rakyat.

2. Setelah menuntaskan buku ini, paham banget kenapa judulnya Reset Indonesia bukan reform. Hal hal yang perlu diubah sifatnya udah mendasar. Dengan bahasa yang sedikit kasar bobroknya udah mendarah daging.

3. Tapi, kembali lagi, mengubah segala hal dari dasar rasanya bukan hal mudah (maafkan ketidakoptimisan ini), harus ada kesatuan pendapat dari warga, kesatuan visi yang sama dari segenap yang memiliki rasa kepemilikan negeri ini. Karena lagi-lagi, dalam banyak kasus, banyak orang baik yang mencoba mengubah, tapi akhirnya terseret juga ke dalam pusaran. Tapi, semoga harapan baik kita ke negeri ini tidak pernah mati

4. Banyak solusi bersifat lokal yang disampaikan dalam buku ini, which is sangat sangat bagus, membuka wawasan dan memberikan gambaran bahwa sebenarnya banyak opsi yang bisa dilakukan untuk menjaga Indonesia. Tapi, aku yakin akan menjadi homework besar ketika mencoba menerapkan semua solusi itu dalam skala yang lebih besar. Bukan tidak mungkin, tapi PRnya besar, dan penyesuaian yang dilakukan pasti akan ada aja.

Tapi, pada akhirnya, terima kasih untuk penulis buku ini, sudah mau berbagi kisah perjalanan ekspedisi ini, sudah menunjukkan baik buruk Indonesia dari kacamata perjalanan kalian. Hats off
Profile Image for Diana.
2 reviews
November 30, 2025
#ResetIndonesia remains a significant contribution to contemporary socio-political discourse in Indonesia, particularly for the clarity and force of its opening diagnosis in Bab 1: How Low Can You Go. Few works outline the structural failures of the nation with such precision, or articulate the urgency of systemic transformation as compellingly. For that alone, the book demands attention and deserves recognition for stirring public imagination at a time when apathy often wins.

Yet having sat with the text longer, the initial admiration gradually gives way to a more sober evaluation. Beyond its powerful critique, many of the proposed pathways forward drift into the territory of aspirational rhetoric rather than feasible strategy. The solutions presented in the later chapters lean heavily on idealized visions of community and decentralization, but stop short of addressing the harsh political and social realities that sabotage such ideals: fragmentation, elite capture, institutional fragility, and the erosion of collective values. Without confronting those obstacles, the book’s call to “reset” risks feeling more symbolic than structural.

#ResetIndonesia is strongest as reflection and provocation, less so as blueprint. It ignites questions that matter, but does not fully resolve the complexities it raises. Perhaps that is its unintended message: that resetting a nation requires more than moral courage and imaginative proposals; it demands mechanisms that can withstand human frailty, power struggle, and historical trauma.
Profile Image for Syenni Fatmawati.
12 reviews
April 20, 2026
Menurutku, Reset Indonesia adalah buku yang layak—bahkan penting—untuk masuk ke dalam reading list 📚✨

Buku ini menawarkan isi yang kaya dan insightful, sekaligus membuka ruang bagi pembaca untuk melihat Indonesia dari perspektif yang lebih luas dan reflektif. Salah satu kekuatan utamanya terletak pada bagaimana gagasan Bung Hatta diangkat kembali dengan relevan. Pemikiran beliau terasa tetap kontekstual, bahkan di tengah kompleksitas persoalan Indonesia saat ini.

Secara jujur dan tajam, buku ini mengurai berbagai persoalan bangsa. Menariknya, ada benang merah yang konsisten muncul: banyak krisis yang berakar pada keserakahan manusia dalam mengelola sumber daya. Namun, buku ini tidak berhenti pada kritik. Ia juga menawarkan solusi yang rasional dan membumi, sehingga pembaca diajak tidak hanya memahami, tetapi juga memikirkan arah ke depan.

Bagian yang paling membekas bagiku adalah bab “Small is Beautiful”. Bab ini menjadi semacam pengingat sederhana namun mendalam tentang pentingnya hidup secukupnya dan menumbuhkan rasa syukur—sebuah refleksi yang terasa semakin relevan di tengah budaya konsumtif saat ini.

Nilai tambah lain dari buku ini adalah latar belakang penulisnya: empat jurnalis lintas generasi yang menyusun buku ini berdasarkan pengalaman investigasi dan ekspedisi lapangan selama kurang lebih 15 tahun. Hal ini membuat isi buku tidak hanya kaya secara literasi dan data, tetapi juga berakar kuat pada realitas di lapangan.

Overall, this book is not just informative but also thought-provoking. Definitely 5/5 ⭐️
2 reviews
January 12, 2026
Buku ini adalah buku pertama yang saya selesaikan di 2026. Isinya cukup padat, ukuran huruf cukup kecil dengan margin yang rapat, tebal lagi! Memang cukup lama saya menyelesaikan buku ini. Tapi itu pun karena ingin saya resapi sungguh-sungguh tiap kalimatnya.

Tapi padatnya buku ini tak bertele-tele, isinya daging semua. Memaparkan masalah-masalah yang ada di Indonesia (yang ternyata sangat banyak), dengan tawaran solusi yang masuk akal namun sepertinya menurut keyakinan saya tak akan diambil para pengambil keputusan di negara kita (paling tidak dalam waktu dekat). Dibuka dengan permasalahan akses air bersih dan masalah kenapa sangat sedikit air siap minum tersedia di lingkungan kita, dan ditutup dengan harapan tentang Indonesia ke depan, buku ini sangat mampu mengusik pembaca untuk berpikir kritis. Paling tidak membuat kita sebagai bangsa Indonesia mau dan mampu menyadari bahwa ada banyak masalah di negeri ini (walaupun pasti banyak yang denial juga). Untuk bisa menyelesaikan masalah kan harus sadar dulu bahwa ada masalah.

Hanya satu kekurangannya, banyak sekali typo di buku ini. Mungkin karena saya baca cetakan pertama yang terbit menjelang akhir 2025 lalu. Semoga di cetakan-cetakan berikutnya sudah diperbaiki.

Dan menurut saya, buku ini sangat cocok dibaca oleh semua rakyat Indonesia yang mengaku cinta tanah air.
Profile Image for Mr. Rizz.
4 reviews
February 17, 2026
Reading Reset Indonesia honestly feels like being in the cockpit of a massive ship that’s lost its way while navigating a very messy geopolitical landscape. It’s more than just a list of complaints about the state of the country; I see it as a blunt audit of a national system that, frankly, feels like it’s just treading water. The book is a reminder for us that all this physical infrastructure will eventually just become expensive monuments or lair for corrupt governance. if we don’t fix the broken system underneath. The author forces us to acknowledge and face the cracks in our foundation: a bloated bureaucracy, the stubborn "Java-centric" gap, and an over-reliance on foreign investment that often feels like a double-edged sword.

To be honest, the narrative made me realize that a "reset" isn't about tearing everything down. It’s about resynchronizing our national interests: what do we really need as the member of this nation. At its core, this book is a plea to return to a national identity where we are sovereign in both our economy and our dignity. It’s a challenging read, but a necessary one, pushing us to stop being passive observers and start being the kind of "supportive critics" Indonesia needs to actually be independent.
Profile Image for WonderBOOK Land.
19 reviews
February 9, 2026
Membaca buku ini antara bangga dengan sumberdaya yang dimiliki bangsa ini, tapi lebih banyak miris karena pengelolaannya serampangan bahkan jiwa jiwa maling dari pemberi kebijakan tidak bisa ditutupi. Melalui ekspedisi Indonesia biru Farid Gaban, Dandhy Laksono, Yusuf Priambodo dan Benaya Harobu merekam kehidupan masyarakat, beserta kondisi ekologi, dan sistem perekonomian di banyak daerah. Indonesia tak akan kehabisan sumberdaya. Semuanya ada, semuanya tersedia. Tapi tak akan cukup bagi para rakus.

Penulis menyoroti lubang2 kerusakan di bumi Nusantara ini, apa penyebabnya, lalu bagaimana seharusnya Indonesia ini diperlakukan. Peran warga adat, peran warga kota dan koperasi demi keberlangsungan hidup tiap daerah secara mandiri.

Membaca buku ini jadi ingat kata bung Karno " Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri."

Buku ini komplit membahas permasalahan negeri ini. PR besar untuk negeri yang sebenernya bisa mencukupi dirinya sendiri tapi fakta di lapangan malah jadi bangsa miskin. Sangat perlu dibaca oleh semua rakyat Indonesia.
Profile Image for Putu Sastrawan.
Author 9 books18 followers
February 17, 2026
Membaca buku ini adalah menyadari betapa kayanya negara ini namun diurus dengan miskin imajinasi dan kurangnya pelibatan terhadap apa yang terjadi pada tingkat lokal. Salah satu buku catatan perjalanan yang saya suka dan tampaknya akan jadi 1 dari beberapa buku mengesankan yang saya baca tahun ini. Pengetahuan mengenai alam, masyarakat, ekonomi dan politik jadi satu. Suka sekali membaca beberapa trivia dan pengetahuan umum yang muncul sepanjang buku, alam yang mengilhami sains, rekayasa teknologi, dan desain, soal bagaimana ikan pari dan burung paruh udang misalnya mengilhami desain pesawat dan kereta cepat.

Saya melihat formatnya yang menarik sekaligus mudah dipahami:

1. Konteks/hasil pengamatan/pengalaman perjalanan
2. Teori/pendukung
3. Gagasan baru

Saya merasa ini jadi satu praktik, refleksi sekaligus mengajak kita berimajinasi terhadap apa yang mungkin untuk dilakukan. Saya juga mencatat beberapa buku yang disebutkan di buku ini, saya percaya buku bagus akan menunjukkan jalan ke buku bagus lainnya. Berharap semakin banyak orang memberi kesempatan/meluangkan sedikit waktu untuk coba membaca buku ini. Another World is Possible!
Profile Image for Fahmi Arofi.
82 reviews
February 20, 2026
Buku yang tidak hanya wajib dibaca, tapi sangat penting dan urgent dibedah kata demi kata. Buku ini akan mengajak kita mencintai keindahan dan kekayaan bangsa Indonesia dengan segenap jiwa. Sekaligus di sisi lain akan membuat kita marah, sedih, trenyuh hingga berkali-kali ngelus dada karena saking bobroknya sistem dan pengelolaan pada negeri ini.

Aslinya kalau membahas bobroknya politik di negeri kita, gak akan ada habisnya. Bahkan buku ini belum sempat membahas detail terkait program utama pemerintahan Prabowo, yakni ~Makan Bergizi Gratis~ serta kepesertaannya di Dewan Perdamaian (Board of Peace) yang kontroversial akhir-akhir ini.

Tapi yang jelas, kritik yang baik adalah yang menyertakan saran dan tawaran solusi. Lebih dari itu, buku ini juga menyertakan harapan. Harapan baru untuk membawa Indonesia kembali bangkit dari arah yang salah.

Allahul Musta'an. Semoga negeri kita tetap diberkati Allah. Menjadi negeri indah gemah ripah lohjinawi. Baldatun Thoyyibatun wa Rabbun Ghafuur.
Profile Image for Alfa the Bookish.
56 reviews
January 20, 2026
Sebuah buku catatan perjalanan para penulis yang isinya daging semua. Pembaca dibuat lebih mengenal dengan Indonesia. Tujuannya sangat jelas, ingin membuat Indonesia lebih baik. Tapi seakan percuma, kalau ternyata rakyat Indonesia sendiri dibutakan dengan fanatik buta terhadap tokok-tokoh politik yang mereka anggap dewa, padahal mereka itu lah yang membuat rakyatnya sengsara.

Indonesia ternyata belum lepas dari penjajahan, baik dijajah oleh asing yang berkedok investasi, maupun dijajah oleh bangsa sendiri. Semoga buku ini bisa dibaca oleh semua kalangan, dan semakin banyak orang yang sadar bahwa Indonesia itu tidak sebagus yang mereka kira selama ini. Ayo kita berubah menjadi Indonesia yang lebih baik bersama-sama.
Profile Image for Fannisa A..
92 reviews13 followers
February 3, 2026
Menilik ke berita-berita Indonesia akhir-akhir ini, ngga munafik kalau persepsi akan kemajuan atau yang digadang2kan sebagai "2045 Indonesia Emas" itu sama halnya seperti dongeng manis sebelum tidur. Manis. Tapi menggapainya seperti suatu keinginan yang konyol.

Buku ini mencoba merawat harapan kita, bahwa Indonesia itu kaya. Dari segi adat, budaya, tradisi, flora dan fauna dan lain-lainnya. Buku ini juga ngga nyangkal bahwa ada suatu sistem yang menangkal kita untuk mencapai dan melanggengkan kekayaan tadi untuk maju.

Walau semua terasa pelik, buku ini mengingatkan harapan masih ada. Pada tempat-tempat, ada organisasi-organisasi, ada wilayah-wilayah yang tau caranya dengan sendirinya. Let them thrive, let them do their own thing.

Bagus sekali - a reminder that there's hope (albeit little) and that this country is rich in ways you can't really quantify.
Profile Image for oatmeal77155.
387 reviews
May 3, 2026
Berisi kumpulan essay, ditiap lembarnya buat anxiety: "nih negara yakin masih ada di 2045?", "nih negara kaya banget dikorupsiin secara membabi buta masih berdiri aja", "ternyata Indonesia itu luas ya", "gila manusia ga ada kenyang kenyangnya"

Indonesia masih bisa bertahan walopun pemerintahnya afk. Militer ga seperlu itu kok. Polisi kenapa masih ngurusin sim ya. Gedung dpr seharusnya ga se-comfy itu sih. Kenapa menteri baru menjabat kemudian dipecat masih bisa nerima uang pensiun ya. Posisi guru honorer siapa yg ngide sih.

Banyak banget pertanyaan lainnya. Semoga ekspedisi berikutnya bisa lebih menampar para penerus generasi (c)emas 2045.

Hidup Rakyat Indonesia 💪 pejabatnya mampus aja kalian 🖕🏻
20 reviews
January 11, 2026
buku ini menawarkan pilihan alternatif dari kondisi negara Indonesia saat ini, Poin dalam bukunya menitikberatkan topik sumber daya alam, ekonomi, kehidupan sosial dan demokrasi. Pengalaman keempat penulis dalam menyusuri Indonesia membuat saya iri, bertemu dengan berbagai suku, flora dan fauna. Pengalaman itu dituangkan dalam tulisan yang semakin mempertegas pertanyaan saya pribadi setelah membaca buku ini, 'butuh berapa lama lagi tanah air ini bisa dikelola dengan baik dan benar?'

Buku ini ditulis oleh jurnalis yang tentunya menambah pengetahuan saya tentang politik, oligarki, dan kapitalis yang berdampak pada Indonesia sekarang ini

Grissee, 11 Januari 2026
Profile Image for Fajar Suryadie.
1 review1 follower
April 28, 2026
Banyak tertampar fakta dan realita pada saat membaca buku ini. Salah satunya adalah konsesi Hak Guna Usaha (HGU) di tanah milik negara untuk keperluan "BISNIS" kehutanan, perkebunan, pertambangan, pariwisata dan real estate. Luas totalnya 53 juta hektare lebih luas dari seluruh daratan pulau Sumatra (47.348.100 hektare). Namun menurut WALHI lebih dari 98% luas konsesi tersebut diberikan kepada perusahaan swasta, dan 2% nya menjadi rebutan seperti remah2 oleh petani dan masyarakat lainnya. Gak kebayang sih "PENCAPLOKAN se MASSIVE itu. Pada akhirnya sudah tidak ada Ranah untuk Publik karena sudah tergerus oleh Privatisasi oleh Swasta!!
Profile Image for mey.
50 reviews
April 27, 2026
salah satu buku non fiksi terbaik yang aku baca tahun ini. buku yang sempurna dibaca untuk kenalan sama Indonesia karena tulisannya hasil ekspedisi perjalanan empat jurnalis berbagai generasi mengelilingi dari Sabang sampai Merauke. buku yang bikin aku marah, kesal dan emosi dengan pengelolaan negara yang bobrok banget tapi sekaligus hopeful karena mereka menawarkan berbagai solusi yang possible untuk bikin negara ini agak mendingan dikit wkwk such a great book. sebuah buku yang lahir dari pengalaman di lapangan, karena untuk tahu keadaan di lapangan kita juga harus baca buku kan yaa
Profile Image for vyxz.books.
9 reviews
February 1, 2026
#ResetIndonesia — Sebuah buku yang harus dibaca untuk memahami permasalahan dan cabaran yang sedang dihadapi oleh rakyat Indonesia. Sebagai seorang pembaca dari negara jiran Indonesia, saya berharap suatu hari nanti Indonesia akan pulih daripada segala bentuk permasalahannya yang tidak perlu dinyatakan di sini.
57 reviews1 follower
Read
December 30, 2025
buku yg sangat bagus untuk tau spt apa negeri kita,tp setelah membacanya hatiku semakin miris.mkn jika di buat gambar atau foto daerah2 yg mereka kunjungi saat mereka keliling negeri akan LBH fantatis dan kritk2 bbrp penyelesaian yg di anjurkan unt bbrp situasi yg si sajikan
Profile Image for Fathur Rizki.
20 reviews
December 30, 2025
Setelah saya membaca buku Ini ternyata kekayaan negeri ini bukan berasal dari Sumber Daya Alam tetapi dari Keanekaragaman Hayati. Sungguh sayang sekali pemerintah yang seharusnya menjaga keanekaragaman hayati agartetap lestari tapi jutsru cenderung abai dan lebih berfokus ke Ekonomi Ekstraktif.
1 review
March 23, 2026
Isi buku yg sejatinya berat tapi ditulis dengan ringan sehingga memudahkan pembaca umum memahami konteks dan masalah serta solusi yg ditawarkan untuk Indonesia. Dibalik tantangan akan selalu ada asa untuk tetap maju.
Profile Image for Muhammad Heikal.
15 reviews
April 25, 2026
Sangat membuka wawasan tentangpotensi yang besar yang dimiliki bangsa tercinta ini. Bahwa kita sebagai rakyat bisa memulai perubahan bangsa ini ke arah yang lebih dari hal-hal kecil yang kita miliki. Bersyukur dan Allah akan tambahkan nikmat bangsa ini.
Displaying 1 - 30 of 47 reviews