Untuk menjawab pertanyaan, "Mengapa air kran di Indonesia tak bisa langsung diminum?" buku ini akan membahas kualitas air sungai sampai gagasan federalisme.
Jadi dari mana mengurai problem Indonesia yang ruwet? Apa sebenarnya akar masalahnya? Adakah obatnya? Kalau ada, mulai dari mana membenahinya?
Buku ini ditulis para jurnalis yang ada di belakang film Sexy Killers (2019) atau Dirty Vote (2024). Tapi Indonesia terlalu luas dan kompleks. Banyak gagasan yang tak dapat difilmkan. Maka buku ini merangkum tiga perjalanan berkeliling Indonesia, yaitu: Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa (2009-2010), Ekspedisi Indonesia Biru (2015-2016), dan Ekspedisi Indonesia Baru (2022-2023).
Mereka telah merekam Indonesia dari jarak yang sangat dekat: Dari titik nol kilometer di Pulau Weh hingga ujung aspal di perbatasan Sota. Dari sana terekam konflik sumber daya alam, keadilan sosial, masyarakat adat, hingga isu lingkungan dan perubahan iklim.
Tapi mereka juga ada di gedung DPR saat membahas Undang-Undang, di jalanan ibukota saat kerusuhan, atau masuk komplek Sekretariat Negara. Dari sana mereka memahami sistem politik, demokrasi, kasus korupsi, sistem kepartaian, hingga urusan tentara dan polisi.
Lewat perspektif empat jurnalis yang mewakili empat generasi, dari boomer hingga Gen Z, buku ini membicarakan hal-hal besar tentang keindonesiaan lewat data, teori, dan laporan pandangan mata di lapangan dengan detil-detil yang memukau.
Jurnalis freelance dan petani, tinggal di lereng Gunung Sindoro, Wonosobo, Jawa Tengah. Melakukan perjalanan keliling Indonesia bersepeda-motor, dalam Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa, 2009-2010. Redaktur Pelaksana Majalah Tempo (1999-2005) Redaktur Eksekutif Harian Republika (1992-1997) Meliput Perang Bosnia (1992) Memperoleh fellowship The Asia Foundation (San Fransisco, Amerika Serikat – 1988)
Mungkin buku ini sangat bisa menggambarkan "setiap 1 masalah, hadir 1000 solusi".
Awal buku dimulai dengan permasalahan yang ada di Indonesia. Kkalau biasanya kita melihat di media nasional ataupun yang lainnya, masalah yang dibahas hanya permukaannya saja. Buku ini menguak permasalahan dalam lingkup yang lebih kecil (desa hingga beberapa keluarga) dan terpencil, yang akar permasalahannya bukan dari mereka tapi dari pembangunan, PSN, ide-ide meningkat ekonomi, dan hal-hal lainnya yang disebabkan oleh pemerintah. Akibatnya, konflik horizontal yang melibatkan masyarakat tidak bisa terelakkan. Bisa dibilang, segala permasalahan yang dituangkan di sini cukup update dan mungkin saja masih terjadi hingga kini.
Tapi, tidak sepenuhnya buku ini menceritakan masalah. Para penulis juga memberikan solusi yang lebih banyak dari masalah yang dituliskan. Setiap solusi bahkan punya contoh kesuksesan yang sudah terbukti nyata baik melalui kondisi sejarah maupun kondisi saat ini di negara-negara lain yang terbukti bisa membangun masyarakatnya sendiri, baik untuk kalangan petani, nelayan, pengusaha, hingga kelompok pekerja menengah ke bawah.
Intinya, buku ini memperjelas bagaimana kita mulai dan mungkin sudah terjebak dalam kutukan sumber daya, tapi di samping itu dengan kekayaan alam, demografi hingga potensi yang ada, sebetulnya sudah cukup untuk kita keluar dari cengkeraman kutukan itu.
“Inilah yang ditunggu, gebrakan tajam menyapu halimun politik negara yang katanya berkembang — Indonesia. Tembakan fakta demi fakta dilayangkan tanpa henti, tidak dapat disangkal, kendati demikitan kebenaran macam ini sangat rawan untuk dibungkam. Katanya demi stabilisasi, maklum rakyat tidak boleh tahu, hanya boleh patuh. Di setiap lembarnya yang menggugat diikuti oleh solusi dan pemikiran berkelanjutan yang sangat holistik dan realistis, misalnya : blue economy, small is beautiful, from down to top, desentralisasi, dll. Senang rasanya bisa berperang dengan data, dan saya tidak sabar menanti runtuhnya kaum elite. MAJU TERUS!”
Membaca buku ini membuat perasaan jadi campur aduk.
Senang karena ada banyak informasi yang bisa didapat dari cerita-cerita perjalanan yang dituliskan. Geram membaca keangkuhan pihak yang merasa berkuasa. Sedih dan kepingin meratapi kenyataan bahwa saya adalah bagian dari 'rumah' bernama Indonesia. Malu dengan cerita perjuangan anak bangsa di beberapa tempat karena rasanya belum banyak yang saya lakukan untuk negeri.
Buku ini saya selesaikan menjelang penghujung tahun 2025 dan menjadi buku pertama yang saya beri penilaian bintang lima pada bulan tersebut. Sepanjang proses membaca, buku ini dipenuhi catatan, sorotan, dan penanda halaman menunjukkan intensitas dialog kritis antara teks dan pembaca.
Apabila muncul pertanyaan mengenai karya yang paling mampu menjelaskan kondisi sosial, politik, dan struktural yang tengah berlangsung di Indonesia, maka Reset Indonesia layak disebut sebagai salah satu rujukan penting. Buku ini tidak sekadar menyajikan narasi, melainkan menawarkan sebuah perjalanan analitis yang sarat ironi dan kesedihan, disusun dengan ketelitian serta kepekaan sosial yang kuat.
Pada akhirnya, buku ini menghadirkan refleksi mendalam tentang keadaan bangsa, sekaligus menjadi pengingat akan urgensi pemulihan baik secara institusional maupun moral.
#ResetIndonesia remains a significant contribution to contemporary socio-political discourse in Indonesia, particularly for the clarity and force of its opening diagnosis in Bab 1: How Low Can You Go. Few works outline the structural failures of the nation with such precision, or articulate the urgency of systemic transformation as compellingly. For that alone, the book demands attention and deserves recognition for stirring public imagination at a time when apathy often wins.
Yet having sat with the text longer, the initial admiration gradually gives way to a more sober evaluation. Beyond its powerful critique, many of the proposed pathways forward drift into the territory of aspirational rhetoric rather than feasible strategy. The solutions presented in the later chapters lean heavily on idealized visions of community and decentralization, but stop short of addressing the harsh political and social realities that sabotage such ideals: fragmentation, elite capture, institutional fragility, and the erosion of collective values. Without confronting those obstacles, the book’s call to “reset” risks feeling more symbolic than structural.
#ResetIndonesia is strongest as reflection and provocation, less so as blueprint. It ignites questions that matter, but does not fully resolve the complexities it raises. Perhaps that is its unintended message: that resetting a nation requires more than moral courage and imaginative proposals; it demands mechanisms that can withstand human frailty, power struggle, and historical trauma.
Buku ini adalah buku pertama yang saya selesaikan di 2026. Isinya cukup padat, ukuran huruf cukup kecil dengan margin yang rapat, tebal lagi! Memang cukup lama saya menyelesaikan buku ini. Tapi itu pun karena ingin saya resapi sungguh-sungguh tiap kalimatnya.
Tapi padatnya buku ini tak bertele-tele, isinya daging semua. Memaparkan masalah-masalah yang ada di Indonesia (yang ternyata sangat banyak), dengan tawaran solusi yang masuk akal namun sepertinya menurut keyakinan saya tak akan diambil para pengambil keputusan di negara kita (paling tidak dalam waktu dekat). Dibuka dengan permasalahan akses air bersih dan masalah kenapa sangat sedikit air siap minum tersedia di lingkungan kita, dan ditutup dengan harapan tentang Indonesia ke depan, buku ini sangat mampu mengusik pembaca untuk berpikir kritis. Paling tidak membuat kita sebagai bangsa Indonesia mau dan mampu menyadari bahwa ada banyak masalah di negeri ini (walaupun pasti banyak yang denial juga). Untuk bisa menyelesaikan masalah kan harus sadar dulu bahwa ada masalah.
Hanya satu kekurangannya, banyak sekali typo di buku ini. Mungkin karena saya baca cetakan pertama yang terbit menjelang akhir 2025 lalu. Semoga di cetakan-cetakan berikutnya sudah diperbaiki.
Dan menurut saya, buku ini sangat cocok dibaca oleh semua rakyat Indonesia yang mengaku cinta tanah air.
buku ini menawarkan pilihan alternatif dari kondisi negara Indonesia saat ini, Poin dalam bukunya menitikberatkan topik sumber daya alam, ekonomi, kehidupan sosial dan demokrasi. Pengalaman keempat penulis dalam menyusuri Indonesia membuat saya iri, bertemu dengan berbagai suku, flora dan fauna. Pengalaman itu dituangkan dalam tulisan yang semakin mempertegas pertanyaan saya pribadi setelah membaca buku ini, 'butuh berapa lama lagi tanah air ini bisa dikelola dengan baik dan benar?'
Buku ini ditulis oleh jurnalis yang tentunya menambah pengetahuan saya tentang politik, oligarki, dan kapitalis yang berdampak pada Indonesia sekarang ini
buku yg sangat bagus untuk tau spt apa negeri kita,tp setelah membacanya hatiku semakin miris.mkn jika di buat gambar atau foto daerah2 yg mereka kunjungi saat mereka keliling negeri akan LBH fantatis dan kritk2 bbrp penyelesaian yg di anjurkan unt bbrp situasi yg si sajikan
Setelah saya membaca buku Ini ternyata kekayaan negeri ini bukan berasal dari Sumber Daya Alam tetapi dari Keanekaragaman Hayati. Sungguh sayang sekali pemerintah yang seharusnya menjaga keanekaragaman hayati agartetap lestari tapi jutsru cenderung abai dan lebih berfokus ke Ekonomi Ekstraktif.
Gagasan di dalam buku ini adalah kenyataan. Masalahnya cuma satu: mampu atau tidak pejabat publik atau pemimpinnya? Kalau masyarakat, menurut saya, barangkali, cenderung bisa dan mau terkait gagasan = kenyataan tentang Indonesia.