What do you think?
Rate this book


300 pages, Paperback
Published October 20, 2025
Di sebuah desa terpencil dimana semua orang kenal semuanya, di barat kecamatan Taolin, tinggallah Li Haiyan bersama ayah, ibu, dan kakeknya. Rumah mereka memiliki tiga tingkat, lengkap dengan kebun buah dan deretan pohon persik. Setelah kakeknya meninggal, rumah tersebut direnovasi oleh Ayahnya untuk lebih mempermudah mereka merawat pohon persik yang menjadi tempat perjamuan untuk tamu dan teman Li Haiyan yang seringkali berkunjung.
Li Haiyan bersekolah di SMA Qun'yin dan ia mengikuti ekstrakurikuler paduan suara bersama sahabatnya yang terkenal cantik dan tinggi, Ding Xiaoquan. Judul lagu yang mereka bawakan adalah Yanzi Ge (Nyanyian Burung Walet) sebagai bagian dari persiapan lomba yang akan mereka ikuti.
Suatu pagi, Taolin dibuat gempar. Tubuh tak bernyawa Ding Xiaoquan ditemukan di hutan persik rumah Li Haiyan dalam keadaan tanpa busana. Ditemukan banyak luka tusuk dan di lehernya terdapat bekas jeratan. Tubuhnya ditata sedemikian rupa seakan ia sedang tertidur pulas di tengah hamparan pohon persik. Baju dan rok sekolahnya terbang tinggi di dahan pohon dan di mulutnya tertanam daun kering, seolah pelaku menambahkan "sentuhan terakhir" atas karyanya yang penuh estetika.
Dalam sekejap, hidup Li Haiyan berubah 180 derajat. Bukti alat pembunuhan berupa pisau pemotong buah yang berlumuran darah yang cocok dengan sidik jari ayahnya. Pisau ini ditemukan di lantai saung tempat ayahnya tidur saat dia mabuk. Semua bukti mengarah ke ayah Li Haiyan dan tak lama berselang ayahnya pun ditetapkan menjadi tersangka. Li Haiyan yang hanya berusia 16 tahun harus menanggung beban sebagai "anak seorang pembunuh".
14 tahun berselang, Li Haiyan, yang kini telah dewasa dan berprofesi sebagai jurnalis kriminal, mendengar berita bahwa telah muncul kasus pembunuhan dengan modus operandi yang identik dengan kasus ayahnya. Bagaimana bisa? Ayah Li Haiyan sudah merenggut nyawanya sendiri di penjara. Apakah ini kasus peniruan atau mungkin pelaku sebenarnya masih berkeliaran di luar sana?