Jump to ratings and reviews
Rate this book

Yang Tersisa dari Kematian

Rate this book
Li Haiyan menyimpan rahasia kelam, yaitu masa lalunya sebagai anak dari tersangka pembunuhan . Bertahun-tahun kemudian, satu telepon misterius membawanya kembali ke kampung halaman, ke hutan persik yang menyimpan lebih banyak luka daripada yang bisa dia bayangkan. Dalam pencarian kebenaran bersama seorang detektif yang juga dihantui masa lalu, mereka menggali kembali tragedi, cinta, dan rasa bersalah yang tidak pernah benar-benar mati.

Yang Tersisa dari Kematian adalah novel kriminal psikologi. Kisahnya menyelami trauma keluarga, identitas yang terbelah, dan bagaimana rasa bersalah bisa hidup lebih lama dibanding siapa pun yang ditinggalkannya.

300 pages, Paperback

Published October 20, 2025

Loading...
Loading...

About the author

陳雪

49 books14 followers
Chen Xue, born 1970, is a key figure in the development of a queer literature in Taiwan.

She graduated from the Chinese Department of National Central University in 1993.

Since 1995, she has produced 10 novels and short story collections. Her 2009 novel The Possessed was nominated for three Taiwanese literary prizes, and her 2004 work Child on the Bridge was published in 2011 in Japanese, with an English translation in preparation.

The short stories "In Search of the Lost Wings of Angels" (tr. Patricia Sieber; tr. Fran Martin) and "Dust" (tr. Howard Goldblatt) are available in English-language anthologies.

Her story "Butterfly"/《蝴蝶》, was made into a film by Hong Kong woman director, Yan Yan Mak, and won awards in Taiwan, 2004, and Hong Kong, 2005.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
9 (22%)
4 stars
21 (52%)
3 stars
9 (22%)
2 stars
1 (2%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 11 of 11 reviews
Profile Image for nadinosaurus.
280 reviews5 followers
February 8, 2026
Zhou Jiajun melakukan operasi plastik dan berganti identitas baru setelah menerima banyak tekanan karena ayahnya, Zhou Fu, menjadi tersangka pembunuhan sahabatnya, Ding Xiaoquan.

Kasus kematian yang menghebohkan. Ding Xiaoquan, remaja 16 tahun yang kecantikannya terkenal di Taolin, ditemukan tidak bernyawa dengan banyak luka tusukan di kebun persik. Jasadnya direbahkan di atas bunga-bunga persik yang berguguran, tanpa busana. Adapun pakaiannya digantung berhamburan di badan pohon, seperti yang ada di cover.

Zhou Fu sudah mengakhiri hidupnya, namun 14 tahun setelah tragedi itu, pembunuhan dengan pola yang sama kembali terulang. Kasus Ding Xiaoquan kembali dibuka. Zhou Jiajun yang sudah menjadi Li Haiyan, jurnalis kriminal profesional, terpanggil untuk kembali ke Taolin. Penyelidikan tersebut mempertemukannya dengan Song Dongnian, penyidik dari kepolisian yang pernah menjalin hubungan asmara dengan Ding Xiaoquan. Satu persatu misteri terungkap, namun nasib yang sama mengintai Li Haiyan.

Banyaknya tokoh, kehidupan masyarakat Taolin, konflik yang berlapis, masa lalu yang rumit hingga melibatkan kaum elit dan perusahaan besar, membuatku merasa seperti sedang menonton drama china.

Sayangnya, buku ini memberikan pengalaman membaca yang sangat melelahkan. Kematian diletakkan bukan hanya sebagai kasus yg harus dipecahkan, melainkan juga tragedi yang mengubah arah orang-orang yang berkaitan langsung dengannya. Tidak terkecuali masyarakat di sekitar TKP.

Aku suka bagaimana cara penulis menggambarkan isi kepala dan suara batin tiap tokoh, ini membuatku merinding sekaligus sedih. Menyesakkan membaca narasi kala para korban berada di ujung ajalnya, tekanan dan trauma pelaku sebelum mati nurani dan muncul sifat iblisnya, juga orang-orang di sekitar korban bahkan pelaku yang setengah mati melanjutkan hidup mereka. Luka dan ketiadaan cinta bisa mengubah seseorang, bahkan sampai hilang sifat manusianya.

Jujur, bagian penutupnya masih terngiang-ngiang di kepalaku, aku nggak nyangka bakal ada ruang untuk sesuatu yang manis.

"Pesan yang justru secara konsisten ingin disampaikan Chen Xue melalui rangkaian karyanya adalah bahwa siksaan sejati datang dari keberadaan orang-orang yang masih hidup, sebuah ujian batin pergulatan diri yang berlangsung terus-menerus baik bagi mereka yang masih hidup maupun yang telah mati, baik pelaku kejahatan, maupun pencari kebenaran." —Chen Guowei dalam Kata Pengantar.
Profile Image for Lesh✨.
320 reviews5 followers
February 2, 2026
TW: pembunuhan, pelecehan, pengabaian, dampak PTSD.

Menceritakan tentang Zhou Jiajun yang mendapatkan kabar bahwa ayahnya telah membunuh sahabatnya, Ding Xiaouquan. Polisi menangkap Zhou Fu karena menemukan darah di tubuh korban saat mabuk. Alhasil, Zhou Fu dijadikan tersangka oleh polisi dan meninggalkan Zhou Jiajun sebagai anak dari 'pembunuh'.

Memiliki masa lalu yang kelam telah membuat Zhou Jiajun kehilangan masa mudanya. Ketika mulai beranjak dewasa, Zhou Jiajun mengganti seluruh identitasnya mulai dari operasi plastik hingga mengganti nama menjadi Li Haiyan.

Sejak menjadi Li Haiyan, ketakutan akan wajah dan kenangan masa lalunya mulai sirna. Li Haiyan tumbuh menjadi sosok jurnalis kriminal yang sangat disegani di kantor.

Suatu ketika, muncul sebuah kasus dengan pola yang mirip seperti empat belas tahun lalu saat ayahnya dijadikan tersangka. Jika kasus itu muncul kembali, apakah pembunuh itu meniru pola ayahnya? Atau, apakah selama ini ayahnya tidak bersalah?

Dari semua pertanyaan itu, Li Haiyan nekat ke Desa Taolin dan mengorek kasus tersebut. Dia bertemu dengan teman lamanya sekaligus mantan dari Ding Xiaouquan yakni Song Dongnian.

Ciri khas pembunuh selalu menyelipkan daun kering di tubuh korban: Ding Xiaouquan dan sekarang adalah Wu Yuehan. Kasus pembunuhan terus diusut mulai dari sekolah, kegiatan hobi, hingga ke perusahaan properti besar bernama Gaomao Group.

Alur buku ini adalah maju mundur. Setiap membaca, kita akan dipertemukan dengan sisi psikologis para tokoh, baik dari masa lalu korban hingga pelaku. Ceritanya dikemas indah sekaligus menyayat hati ketika mengetahui trauma dan dampak yang mereka hadapi. Bahkan sampai ending, aku benar-benar dibuat kepikiran sama setiap tokohnya.

Menurutku, buku thriller ini mengarah ke whydunit. Sebagai pembaca, kita hanya dituntun untuk melihat bagaimana tokoh bertindak dan mengapa mereka seperti itu? Penjelasannya sangat detail, tidak menggebu, namun mampu membuat kesan hampa setelah mengakhiri bacaannya.
Profile Image for Readingwithhirai.
230 reviews6 followers
February 20, 2026
“Apakah ini sebuah kasus berantai dengan motif atau sekedar kasus acak untuk memenuhi obsesi?”

Buku Yang Tersisa dari Kematian ini berhasil membuatku berhenti sejenak mencerna apa yang baru saja kubaca barusan. Rasanya seperti tertipu berulang kali padahal petunjuk yang diberikan segamblang itu namun aku seolah dibuat bias dengan spekulasi penyelidikan awal. Bisa dibilang semua adalah korban dari obsesi orang gila demi kepuasan hatinya. Bagaimana rasanya hidup menjadi label seorang anak pembunuh yang belum terbukti bagaimana sebenarnya kasus itu terjadi? Ternyata semuanya tak luput dari campur tangan orang berpengaruh sehingga semuanya dibuat bersih tanpa cela seolah tak membiarkan anjing-anjing mengendus jejak yang ditinggalkan. Aku suka bagaimana alur cerita ini dibuat sederhana dengan memadukan kejadian masa lampu dan masa kini sebagai kilas balik petunjuk orang-orang yang akan terlibat di dalam kasusnya. Setiap tokohnya memiliki karakter kuat bukan hanya dari sisi para korban dan tersangka melainkan juga para penyelidik dan saksi penting dalam cerita. Jujur terjemahan buku ini sangat nyaman dinikmati dengan detail yang mudah dibayangkan membangunkan imajinasi kita mulai dari penempatan mayat, bunga-bunga hiasan dan deskripsi tentang karakter tokohnya.

Awalnya aku mengira buku ini akan mengarahkan kita pada sebuah pembunuhan dengan tujuan sadis namun semakin menuju akhir akupun berpikir ulang. Semua mayatnya perempuan cantik dengan banyak tanda sama ditemukan di tempat kejadian. Pelaku seolah sengaja menarik kembali kejadian yang sudah pernah dilakukannya, namun siapa target sebenarnya? Apakah benar mayat-mayat ini hanya untuk menarik perhatian untuk dikorbankan? Apakah ada hubungannya dengan perempuan yang memiliki hubungan? Apakah pelaku punya dendam terhadap perempuan? Kisahnya tak sesederhana itu, dari latar belakang pelaku sampai pengalaman yang didapatkannya kita seolah memahami adanya sesuatu sebagai pembentuk karakter psikopat yang satu ini.
Buku ini menghadirkan plot twist super mengejutkan bukan hanya mengenai obsesi dan tujuan pembunuhan namun juga perjalanan hidupnya yang tidak kalah menyedihkan. Ternyata peran orang tua memang penting dalam tumbuh kembang si kecil untuk menghindari kurangnya perhatian dan kasih sayang. Bukan hanya tentang beban sang ibu yang melahirkan namun juga peran ayah yang menyediakan semua kebutuhan termasuk kasih dan keberadaannya. Kebencian dan trauma yang terpendam sejak dulu menimbulkan obsesi dan keinginan menghancurkan hal-hal serupa meski tak sama. Kamu yang suka buku berisikan proses penyelidikan alot, petunjuk yang implisit dan motif pembunuhan mencengangkan pasti sukaaa sama buku ini.

Sekilas Mengenai Isi Novel
Yang Tersisa dari Kematian bercerita tentang sebuah kasus misterius di hutan persik yang melibatkan ayah Li Haiyan sebagai pelakunya. Setelah beberapa tahun kemudian, Li Haiyan yang sudah mengganti identitas (sebelumnya Zhou Jiajun) harus kembali ke kampung halaman untuk menyelidiki kasus serupa sekaligus membuktikan bahwa sang ayah tidak bersalah. Dalam penyelidikan itu dia harus bertemu dengan Song Dongnian, penggalan dari masa lalunya bersama Ding Xiaoquan. Li Haiyan berusaha menutupi sosok dirinya yang sesungguhnya sampai teror itu datang mengganggu. Siapa orang yang tahu identitas aslinya? Perjalanan mengungkap kasus itu justru menjebak Li Haiyan ke dalam lubang menyeramkan. Kisahnya sangat menegangkan dan membutuhkan konsentrasi untuk menebak motif dan alasan sesungguhnya.

Kasus Hutan Persik dan Penangkapan Tersangka
Ceritanya bermula tentang penemuan mayat di hutan persik. Seorang gadis super cantik dengan pose seperti orang tertidur lengkap dengan penataan super rapi. Kasus itu meninggalkan luka dan trauma mendalam apalagi ketakutan masyarakat juga menuntut aparat segera menangkap pelakunya. Sampai akhirnya tertangkaplah ayah Zhou Jiajun yang tak jauh dari TKP dengan bukti yang menunjuk kepadanya. Namun, bagaimana bisa orang yang sedang mabuk mampu menata semua detail seperti yang ada di TKP? Waktupun berlalu, Zhou Jiajunpun juga mengakhiri hidupnya di penjara. Apakah benar bunuh diri atau sengaja dilenyapkan untuk membungkam? Kasus ini semakin pelik seperti ada yang ditutupi dan dikorbankan. Seolah memang ada orang berpengaruh membersihkan semuanya tanpa sisa. Firasatku ketika baca langsung curiga, yap mereka salah menangkap dan terjebak dalam bukti yang terlalu jelas seolah ayah Zhou Jiajun ingin menyerahkan diri.

Meniru atau Menarik Perhatian?
Beberapa tahun kemudian terjadi kasus serupa dengan penataan mayat yang sama. Di sini timbullah kecurigaan karena tersangka kasus pertama sudah meninggal. Jadi, siapa yang melakukannya? Apakah ulah peniru atau justru pelaku sebenarnya memang belum tertangkap? Kejadian ini membuat Li Haiyan bertekad untuk mengungkap kasus sekaligus membersihkan nama sang ayah. Namun penyelidikan ini terasa aneh seperti menjebaknya masuk ke dalam lubang tanpa muara. Semakin dirinya berkecimpung masuk semakin banyak hal mengerikan mengintainya. Apakah kasus ini murni pembunuhan berantai atau sebuah taktik menarik perhatian korban yang sebenarnya? Li Haiyan, Song Dongnian dan para penyelidik lainnya terjebak dalam clue clue yang ditinggalkan pelaku seolah menjadikannya sebagai pemusnahan gadis cantik pecinta fotografi.

Bias Antara Si Cantik dan Si Biasa Saja
Sejak awal penyelidikan seolah sudah dikaburkan dengan anggapan korbannya pasti si cantik mengingat ketiga korban adalah sosok wanita cantik. Begitu mayat dan foto mereka diperhatikan ulang memang sangatlah mirip namun mereka melupakan anggapan subjektif seseorang terhadap sesuatu. Benarkah sosok yang diincar adalah si cantik atau orang-orang yang mirip dengan ketiga korban? Kisahnya sangat menarik diikuti sekaligus membuktikan anggapan kita sebagai orang tak terlihat ternyata salah. Bukan berarti karena tak terlihat dan redup lalu tidak menjadi clue penting dari sebuah kasus besar. Bahkan jika sudah bertransformasi menjadi diri yang baru tak akan bisa menutupi aura asli dari seseorang. Itulah mengapa Song Dongnian seolah merasa akrab saat bertemu dengan Li Haiyan. Di sini juga sebenarnya penulis menyisakan clue paling mudah ditangkap mengenai keseluruhan kasus.

Pola Asuh Orang Tua, Psikologis dan Trauma Masa Kecil Menuju Dewasa
Dari cerita ini dan bagaimana wujud sebenarnya tersanngka kita tahu bahwa pola asuh dan kasih sayang orang tua memang sangat penting untuk tumbuh kembang mereka. Jika si kecil tak mendapatkan kasih sayang dan kepercayaan diri maka mereka akan tumbuh dengan haus kasih sayang. Kondisi psikologisnya jelas tak baik ditambah bagaimana kondisi masa kecilnya saat itu terjadi ikut tumbuh menuju dewasa. Sampai akhirnya dia menemukan hawa kesejukan yang dibawa seorang wanita, kehangatan yang tak bisa didapatkan dari sang ibu. Jelas dia membenci wanita, wanita yang melahirkan anak kemudian menelantarkannya. Dia membenci sepasang pemuda pemudi yang memadu cinta karena dirinya tak bisa merasakan itu semua. Ada kesempatan, harapan dan waktu membuatnya gelap mata dan memilih mengikuti obsesi gila dalam dirinya.

Point Menarik dan Unggul dari Buku:
Kisah ini memadukan bias anggapan masyarakat, bagaimana penyelidikan kasus dengan petunjuk yang sulit ditemukan dan juga kondisi psikologis seseorang.
Kisah ini menguarkan betapa mengerikannya obsesi yang tumbuh dalam diri seseorang bukan hanya membahayakan obek sesungguhnya namun juga orang-orang sekitarnya.
Yang Tersisa dari Kematian mendeksripsikan kehancuran bukan hanya dari segi reputasi, kepercayaan namun juga keinginan terhadap diri sendiri.
Kisah pembunuhan dengan motif khusus berkaitan dengan perjalanan hidup tak mudah dan penuh kebencian.

Penokohan, Alur Cerita dan Karakterisasi
Buku ini akan membawa kita bertemu beberapa tokoh penting mulai dari Li Haiyan, Song Dongnian, para penyelidik, korban dan tentu saja pelaku-pelakunya. Setiap karakter tokoh dibuat kuat merepresentasikan bagaimana kebiasaan dan prinsip hidupnya. Seperti halnya Li Haiyan yang dibuat menjadi perempuan teguh, pemberani, pintar dan cekatan. Kemudian ada Song Dongnian yang dibuat menjadi tokoh pria putus asa dan kehilangan gairah hidup. Penulis banyak mendeskripsikan bagaimana karakter pelaku dalam bentuk cerita narasi di dalam alurnya. Karakterisasinya menarik dan seimbang bukan si lemah melawan si kuat melainkan si kuat lawan si kuat.

Seberapa Jauh Buku Ini Mencapai Tujuannya?
Aku suka bagaimana cerita ini bermula dan bermuara. Konflik utama yang ingin dibawa adalah mengenai pembunuhan yang terjadi di hutan persik kemudian muncul pembunuhan serupa. Justru di sinilah hal menarik yang memantik penyelidikan ulang terjadi seolah sengaja mengundang seseorang kembali pulang. Buku ini berhasil mencapai tujuannya untuk membuat pembaca bingung sekaligus memikirkan kembali kecurigaan maupun penemuan sebelumnya.

Konsep dan Eksekusi Cerita
Bukan hanya konsep yang menarik memadukan sisi kriminal dan lapisan psikologis yang menipu namun juga perjalanan dari dealing trauma keluarga, pengubahan jati diri dan juga rasa bersalah yang membunuh karakter seseorang. Satu obsesi seseorang berhasil menghancurkan beberapa orang sekaligus bukan hanya merenggut nyawa melainkan juga kemauan untuk hidup.

Perasaanku Saat Membaca Buku
Ada berbagai perasaan yang sulit diungkapkan ketika membaca dan menyelesaikan buku ini seperti sedih karena gadis-gadis itu harus meninggal padahal masa depannya masih panjang, marah terhadap kenyataan yang terjadi namun sedikit empati setelah tahu bagaimana monster itu ternyata tumbuh. Buku ini benar-benar mempermainkan sisi emosionalku yang harus melihat banyak hal dari beberapa sisi sebelum akhirnya menyimpulkan sesuatu. Perpaduan lapisan psikologis, perjalanan mengungkap yang menjebak dan juga realita kehidupan yang harus tetap lanjut meski tanpa orang terkasih juga sangat memuakkan.

Pelajaran yang Didapat dan Sasaran Pembaca
Ada banyak hal yang sengaja dikaburkan untuk mengecoh bagaimana kita memandang sesuatu sehingga menghasilkan anggapan sesuai kemauan mereka. Itulah mengapa terkadang kita perlu percaya dengan konsep berpikir berbeda dari orang lain. Hal-hal bias memang menipu seperti anggapan korban gadis cantik maupun orang-orang yang memiliki struktur wajah seperti para korban. Buku ini menuntut konsentrasi dan empati tinggi namun tak membiarkan kita terjerumus jauh ke dalam. Coba pahami setiap masalah dari banyak sisi, dengarkan penjelasan dari kedua belah pihak jangan langsung menyimpulkan.
Buku ini cocok untukmu yang suka dengan tema kriminal psikologis dengan berbagai rasa emosinal yang membelenggu.

Profile Image for Chun.
20 reviews7 followers
May 4, 2024
作者在描寫犯人的心思、成長背景在全書都有許多鋪陳,敘事手法讓讀者從一開始就能跟著故事發展,推敲誰有可能是嫌疑犯,跟著作者循著一一冒出來的蛛絲馬跡推敲答案,令人欲罷不能。

但有很多線索出現的時機,似乎是為了出現而出現,太過生硬、牽強,讀起來有些許不自然。

本書的後面章節也有很大一部分,強調受害者、加害者家屬的情緒,描寫這些受傷的靈魂所需要揹負社會輿論的壓力,以及他們面對一切挑戰所需的勇氣,都很不容易。

讀著讀著,就覺得每個人能生而平安地活著、成長,真的是一件近似奇蹟的事,要好好珍惜並真誠對待身邊那些值得我們愛的人。
Profile Image for jolanda.
124 reviews
March 23, 2026
gelo, unputdownable!!! memoir yang lagi w baca rada2 bersinggungan gtu loh karakter orgnya jd bikin makin make sense kalo karakter fiksi itu representasi org nyata jiers
Profile Image for Benangi.
112 reviews
February 18, 2026
Ada banyak hal yang bisa ditelaah dari membaca karya ini. Begitu banyak detail kecil yang bisa dijadikan bahan perenungan, hingga disatu titik aku sampai bertanya-tanya sudah tepatkah aku memaknai serangkaian konflik itu? Sebab jika dilihat selayang pandang, alur ceritanya jelas dan penulisannya pun tidak bertele-tele. Tapi jika dipikirkan kembali, alur ceritanya memuat makna yang mendalam. Padahal saat membaca, aku paham betul keseluruhan cerita itu memang fiksi, tapi justru saat membayangkannya selama membaca, rasanya melekat lebih dalam daripada yang dibayangkan. Sensasi itulah membuat buku ini sarat akan pesan moral, penulisnya jago merangkai narasi hingga terasa dekat dengan pembaca, lalu dengan mudah menggugah perasaan tiap kali membalik halaman. Semua yang ada di dalam buku ini uniknya terasa masuk akal dan dapat dipahami.

Yang tersisa dari Kematian adalah novel thriller pertama yang sukses membuat aku bertanya-tanya; lah iya, memang apa sekiranya yang tersisa dari kematian? Dengan pemikiran seperti itulah aku tertarik membaca buku ini. Judulnya yang unik dan eksplisit menambah kesan tersendiri, namun setelah selesai menamatkan isinya, ceritanya benar-benar melebihi ekspektasi awalku. Buku ini kompleks, dan sudah banyak kali jawaban yang dilontarkan di isi cerita untuk menanggapi judul bukunya sendiri: Yang tersisa dari kematian.

Sekedar informasi, sebagaimana yang bisa dibayangkan, jika berpikir apa yang tersisa dari kematian, tentunya bukan hal menyenangkan yang tersisa. Dan begitulah isi buku ini, mengalir apa adanya. Lebih banyak kepedihan daripada kegembiraan, tapi bukan itu yang penting di buku ini. Isi buku ini lebih gamblang menyoroti bahwa segila apapun dampak dari sebuah kematian, hal yang sudah terjadi tidak mungkin dihindari, tetapi kehidupan masa depanlah yang lebih bernilai untuk disambut. Tanpa melupakan, tanpa berpaling, cukup penerimaan dan keteguhan untuk melanjutkan hidup sudah lebih dari cukup.

"Sejujurnya, dia tidak tahu bagaimana rasanya dipeluk; lantaran tidak tahu, dia pun meniru"
Hlm.111

Ini satu dari sekian banyak narasi yang mengganjal di hati, membaca ini rasanya menyesakkan dan semakin frustasi begitu melihat bagaimana alur ceritanya berkembang.

Dari segi penokohan, interaksi antar tokohnya bisa dipahami meskipun ada beberapa part yang agak mencengangkan. Aku suka bagaimana penulisnya mampu menggambarkan dengan detail kondisi mental para tokohnya yang memiliki latar belakang berbeda-beda dengan begitu menarik. Disamping keterkaitan para tokoh, konflik utama cerita ini memang rumit. walau alasan pemicu konflik itu sungguh patut disesalkan, akan tetapi jika ditarik benang merahnya, sebetulnya aku merasa deretan pembunuhan tersebut semestinya adalah hal yang tidak perlu terjadi. Andai ia begini dan begitu, mungkin akhir ceritanya tidak akan jadi tragedi, itu yang aku pikirkan sepanjang membaca meski tahu isi ceritanya tidak mungkin bisa berubah tiba-tiba. Dipikir-pikir, kejam juga penulisnya bisa menuangkan kemalangan dalam bentuk cerita seperti ini. Menanamkan rasa sesal tidak hanya kepada karakter ceritanya, namun juga pada pembaca.

Sejujurnya aku agak menyayangkan nasib akhir si pelaku yang masih menyodorkan penyelesaian gamang bagi para tokoh lainnya. Tapi di bagian penghujung cerita, aku terkesan bagaimana penulisnya begitu concern dengan masalah yang kerap kali luput setelah inti permasalahan mereda. Perihal dampak yang ditinggalkan untuk para korban, para penyintas, atau bahkan pada siapapun--orang lain yang bahkan tidak mengalaminya langsung. Alur ceritanya dikemas dengan begitu pelik, meskipun diselipkan romance tipis-tipis namun itu tidak membangkitkan perasaan menyenangkan saat membacanya. Alih-alih terpesona, romance yang disajikan cenderung terasa pahit dan malang.

Membaca buku ini memberikan pengalaman baru untukku, terutama membaca bacaan dengan genre thriller. Umumnya kasus kematian adalah inti utama dari sebuah cerita thriller, bahkan di kasus pembunuhan berantai pun, kematian menjadi pusat misteri yang membuat penasaran. Tapi di cerita ini, kematian yang datang satu persatu ditunjukkan sebagai sebuah potongan yang tidak utuh dari keseluruhan ruwetnya permasalahan. Cerita ini tidak membawakan plottwist mencengangkan, tidak pula menerangkan kecemerlangan otak detektif dalam mengungkap misteri, dan tidak ada hal mendebarkan yang menggebu-gebu menangkap penjahat. Sebaliknya ceritanya ditulis dengan tenang sampai meninggalkan kepedihan lamat-lamat. Kendati demikian, buku ini sungguh pageturner dan menyenangkan bisa membacanya.
Profile Image for Tyas.
Author 38 books92 followers
November 24, 2025
Novel ini memang berkutat di seputar sejumlah kasus pembunuhan misterius yang terjadi di Taolin, sebuah kota kecil di Taiwan. (Hore! Novel Taiwan terjemahan kita bertambah!) Akan tetapi, menurut saya fokusnya lebih ke bagaimana dua orang yang kehidupannya hancur akibat kisah pembunuhan pertama berusaha menyembuhkan luka masing-masing. Kalau dari segi penulisan misterinya sendiri sih menurut saya agak lemah.

Ada beberapa hal yg kurang wajar yang saya catat (peringatan: SPOILER!!!!):

- Ada anak perempuan lagi diculik, terancam terbunuh. Salah satu orang yang diduga keras terkait kasus itu didatangi polisi. Sekretaris orang itu berkata bosnya jarang ke kantor, jadi harus bikin janji temu dulu. Dalam keadaan mendesak seperti itu, apa yang dilakukan polisi?
Menunggu sampai bisa dibuatkan janji temu yang entah kapan.
Adakah yang heran ketika kemudian anak yang diculik itu keburu ditemukan tewas terbunuh?

- Protagonis cewek, Li Haiyan, merasa melihat terduga pelaku di TKP. Saking ketakutan, dia pingsan, tetapi sempat memberi tahu si protagonis cowok, Song Dongnian, yang merupakan seorang polisi. Song Dongnian bergegas membawa si Li Haiyan ke petugas lain agar dia ditolong.
Lalu...
Bukannya menyuruh pengejaran atau pencarian, atau blokir jalan, dia... Menunggu Li Haiyan bangun.
Suka sekali menunggu, ya?

- Penggambaran Li Haiyan juga suka bikin gemas. Katanya jurnalis andal yang biasa mengubek-ubek kasus kriminalitas, tapi kelakuannya sering kali tidak hati-hati sama sekali. Sudah tahu diincar, malah ke tempat terpencil milik terduga tanpa memberi tahu siapa-siapa atau meninggalkan pesan. Bahkan sebagai jurnalis dia tidak digambarkan rajin berkontak atau berkirim kabar dengan rekan-rekannya di kantor. Bagaimana tidak bikin orang panik gara-gara tidak ada yang tahu dia ke mana?

- Katanya kasus ditangani tim polisi, tapi yang kerja kok Song Dongnian dan Tie Xiong terus sampai mereka berdua kelelahan...

- Lalu untuk saya, hal berikut ini rasanya glaring plot hole sih. Awalnya terdapat kesan bahwa pembunuhan-pembunuhan yang terjadi dilakukan dengan mengikuti pola tiga monyet bijaksana, yang dibuktikan oleh kehadiran boneka monyet dalam foto-foto bukti kasus pembunuhan pertama yang terjadi 14 tahun silam. Akan tetapi, kemudian kita melihat bahwa pembunuhan kedua dan ketiga baru direncanakan jauh setelahnya ketika si pembunuh ingin memancing Li Haiyan kembali ke Taolin. Tidakkah baru pada saat itu dia berpikir untuk memberikan suatu pola ke pembunuhan-pembunuhan yang ia lakukan? Lalu kenapa boneka monyet bisa ada dalam kasus yang pertama?

Bagusnya sih, untuk novel yang menekankan kondisi psikis pihak-pihak yang terlibat, bagian penutup ditulis dengan cukup panjang dan mendetail tentang apa yang terjadi SETELAH kasusnya selesai. Jadi tidak ada rasa 'menggantung' yang tidak nyaman.

Kalau dari segi penerjemahan, terjemahannya jelas, ketikan rapi, tapi pembagian kalimat (penggunaan tanda titik/koma) dan flow kurang enak. Sering sekali susah memahami apa yang hendak disampaikan karena sering kali satu 'kalimat' dalam terjemahan ini seharusnya merupakan beberapa kalimat berbeda dengan gagasan berbeda-beda, tetapi digabungkan dengan hanya dipisahkan koma.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Alea Yang.
7 reviews
February 16, 2026
See my full review here
Di sebuah desa terpencil dimana semua orang kenal semuanya, di barat kecamatan Taolin, tinggallah Li Haiyan bersama ayah, ibu, dan kakeknya. Rumah mereka memiliki tiga tingkat, lengkap dengan kebun buah dan deretan pohon persik. Setelah kakeknya meninggal, rumah tersebut direnovasi oleh Ayahnya untuk lebih mempermudah mereka merawat pohon persik yang menjadi tempat perjamuan untuk tamu dan teman Li Haiyan yang seringkali berkunjung.

Li Haiyan bersekolah di SMA Qun'yin dan ia mengikuti ekstrakurikuler paduan suara bersama sahabatnya yang terkenal cantik dan tinggi, Ding Xiaoquan. Judul lagu yang mereka bawakan adalah Yanzi Ge (Nyanyian Burung Walet) sebagai bagian dari persiapan lomba yang akan mereka ikuti.

Suatu pagi, Taolin dibuat gempar. Tubuh tak bernyawa Ding Xiaoquan ditemukan di hutan persik rumah Li Haiyan dalam keadaan tanpa busana. Ditemukan banyak luka tusuk dan di lehernya terdapat bekas jeratan. Tubuhnya ditata sedemikian rupa seakan ia sedang tertidur pulas di tengah hamparan pohon persik. Baju dan rok sekolahnya terbang tinggi di dahan pohon dan di mulutnya tertanam daun kering, seolah pelaku menambahkan "sentuhan terakhir" atas karyanya yang penuh estetika.

Dalam sekejap, hidup Li Haiyan berubah 180 derajat. Bukti alat pembunuhan berupa pisau pemotong buah yang berlumuran darah yang cocok dengan sidik jari ayahnya. Pisau ini ditemukan di lantai saung tempat ayahnya tidur saat dia mabuk. Semua bukti mengarah ke ayah Li Haiyan dan tak lama berselang ayahnya pun ditetapkan menjadi tersangka. Li Haiyan yang hanya berusia 16 tahun harus menanggung beban sebagai "anak seorang pembunuh".

14 tahun berselang, Li Haiyan, yang kini telah dewasa dan berprofesi sebagai jurnalis kriminal, mendengar berita bahwa telah muncul kasus pembunuhan dengan modus operandi yang identik dengan kasus ayahnya. Bagaimana bisa? Ayah Li Haiyan sudah merenggut nyawanya sendiri di penjara. Apakah ini kasus peniruan atau mungkin pelaku sebenarnya masih berkeliaran di luar sana?


Yang Tersisa Dari Kematian menjadi novel pertama yang saya baca dari penulis Taiwan. Saya tertarik untuk membaca buku ini karena kebetulan melihat sampulnya yang sangat indah. I mean,ada baju dan rok yang digantung di pohon dengan latar belakang merah menyala yang seakan menggambarkan darah di seluruh bagian. Damn. What is this novel all about?

Alih-alih mencari tahu "siapa" pelaku yang sebenarnya, saya rasa penulis lebih ingin kita berfokus ke "alasan" mengapa pembunuhan tersebut terjadi dan bagaimana para tokoh menjalani hari-hari mereka setelah kehilangan orang yang mereka cintai akibat kematian, hence the title of this book.
Profile Image for Seliana Sylvani.
9 reviews
January 18, 2026
very refreshing. As a fan of thriller genre, this book is awesome. eventho i can guess who is the killer, but the plot still unreal.
Profile Image for Luminova.
7 reviews
February 21, 2026
Ini novel Taiwan pertama yang saya baca. Awalnya murni iseng beli karena harganya sedang diskon dan desain covernya cukup menyala di rak toko buku. Ternyata, isinya jauh di luar ekspektasi!

Cerita ini berpusat pada tokoh Li Haiyan, seorang jurnalis yang terpaksa membuang nama aslinya (Zhou Jiajun) demi mengubur masa lalu yang pahit. Ayahnya divonis sebagai pelaku pembunuhan sadis terhadap sahabat Zhou Jiajun sendiri, Ding Xiaoquan, sebelum akhirnya sang ayah bunuh diri di penjara. Kehidupan baru Li Haiyan yang sudah mulai tenang mendadak hancur 14 tahun kemudian, tepat ketika ia mendapat telepon ancaman misterius dari seseorang yang mengetahui identitas aslinya sebagai anak seorang pembunuh.

Fokus misteri di buku ini semakin tajam dan gila ketika ditemukan mayat gadis lain dengan metode pembunuhan yang sama persis dengan sahabatnya dulu. Fakta ini memicu konflik utama, Apakah ayahnya dulu benar-benar membunuh? Apakah ini ulah peniru? Atau jangan-jangan, pembunuh aslinya masih berkeliaran di luar sana? Ditemani oleh Song Dongnian, polisi yang juga mantan pacar mendiang sahabatnya, Li Haiyan bertekad membongkar misteri ini.

Hal yang paling membuat saya betah membaca buku ini adalah bagaimana penulis menggambarkan karakternya dengan sangat rinci dan detail. Isu sanksi sosial dipotret dengan sangat tajam. Tekanan psikologis berat yang harus dihadapi oleh keluarga pelaku digambarkan dengan sangat nyata serta mendalam, membuat pembaca bisa ikut merasakan sesaknya. Bahkan, saat cerita mencapai puncak plotnya, ceritanya berhasil membuat saya agak merinding sekaligus sedih.

Selain itu, nilai plus juga ada pada kualitas terjemahannya. Bahasanya mengalir enak dan sangat mudah dipahami. Secara keseluruhan, ini adalah thriller psikologis yang sangat memuaskan dan berhasil memberikan sudut pandang tajam tentang dampak sosial dari sebuah kejahatan.
Displaying 1 - 11 of 11 reviews