Jump to ratings and reviews
Rate this book

Yang Tersisa dari Kematian

Rate this book
Li Haiyan menyimpan rahasia kelam, yaitu masa lalunya sebagai anak dari tersangka pembunuhan . Bertahun-tahun kemudian, satu telepon misterius membawanya kembali ke kampung halaman, ke hutan persik yang menyimpan lebih banyak luka daripada yang bisa dia bayangkan. Dalam pencarian kebenaran bersama seorang detektif yang juga dihantui masa lalu, mereka menggali kembali tragedi, cinta, dan rasa bersalah yang tidak pernah benar-benar mati.

Yang Tersisa dari Kematian adalah novel kriminal psikologi. Kisahnya menyelami trauma keluarga, identitas yang terbelah, dan bagaimana rasa bersalah bisa hidup lebih lama dibanding siapa pun yang ditinggalkannya.

300 pages, Paperback

Published October 20, 2025

3 people are currently reading
33 people want to read

About the author

陳雪

48 books14 followers
Chen Xue, born 1970, is a key figure in the development of a queer literature in Taiwan.

She graduated from the Chinese Department of National Central University in 1993.

Since 1995, she has produced 10 novels and short story collections. Her 2009 novel The Possessed was nominated for three Taiwanese literary prizes, and her 2004 work Child on the Bridge was published in 2011 in Japanese, with an English translation in preparation.

The short stories "In Search of the Lost Wings of Angels" (tr. Patricia Sieber; tr. Fran Martin) and "Dust" (tr. Howard Goldblatt) are available in English-language anthologies.

Her story "Butterfly"/《蝴蝶》, was made into a film by Hong Kong woman director, Yan Yan Mak, and won awards in Taiwan, 2004, and Hong Kong, 2005.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
7 (21%)
4 stars
14 (43%)
3 stars
10 (31%)
2 stars
1 (3%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 8 of 8 reviews
Profile Image for nadinosaurus.
277 reviews7 followers
February 8, 2026
Zhou Jiajun melakukan operasi plastik dan berganti identitas baru setelah menerima banyak tekanan karena ayahnya, Zhou Fu, menjadi tersangka pembunuhan sahabatnya, Ding Xiaoquan.

Kasus kematian yang menghebohkan. Ding Xiaoquan, remaja 16 tahun yang kecantikannya terkenal di Taolin, ditemukan tidak bernyawa dengan banyak luka tusukan di kebun persik. Jasadnya direbahkan di atas bunga-bunga persik yang berguguran, tanpa busana. Adapun pakaiannya digantung berhamburan di badan pohon, seperti yang ada di cover.

Zhou Fu sudah mengakhiri hidupnya, namun 14 tahun setelah tragedi itu, pembunuhan dengan pola yang sama kembali terulang. Kasus Ding Xiaoquan kembali dibuka. Zhou Jiajun yang sudah menjadi Li Haiyan, jurnalis kriminal profesional, terpanggil untuk kembali ke Taolin. Penyelidikan tersebut mempertemukannya dengan Song Dongnian, penyidik dari kepolisian yang pernah menjalin hubungan asmara dengan Ding Xiaoquan. Satu persatu misteri terungkap, namun nasib yang sama mengintai Li Haiyan.

Banyaknya tokoh, kehidupan masyarakat Taolin, konflik yang berlapis, masa lalu yang rumit hingga melibatkan kaum elit dan perusahaan besar, membuatku merasa seperti sedang menonton drama china.

Sayangnya, buku ini memberikan pengalaman membaca yang sangat melelahkan. Kematian diletakkan bukan hanya sebagai kasus yg harus dipecahkan, melainkan juga tragedi yang mengubah arah orang-orang yang berkaitan langsung dengannya. Tidak terkecuali masyarakat di sekitar TKP.

Aku suka bagaimana cara penulis menggambarkan isi kepala dan suara batin tiap tokoh, ini membuatku merinding sekaligus sedih. Menyesakkan membaca narasi kala para korban berada di ujung ajalnya, tekanan dan trauma pelaku sebelum mati nurani dan muncul sifat iblisnya, juga orang-orang di sekitar korban bahkan pelaku yang setengah mati melanjutkan hidup mereka. Luka dan ketiadaan cinta bisa mengubah seseorang, bahkan sampai hilang sifat manusianya.

Jujur, bagian penutupnya masih terngiang-ngiang di kepalaku, aku nggak nyangka bakal ada ruang untuk sesuatu yang manis.

"Pesan yang justru secara konsisten ingin disampaikan Chen Xue melalui rangkaian karyanya adalah bahwa siksaan sejati datang dari keberadaan orang-orang yang masih hidup, sebuah ujian batin pergulatan diri yang berlangsung terus-menerus baik bagi mereka yang masih hidup maupun yang telah mati, baik pelaku kejahatan, maupun pencari kebenaran." —Chen Guowei dalam Kata Pengantar.
Profile Image for Lesh✨.
298 reviews4 followers
February 2, 2026
TW: pembunuhan, pelecehan, pengabaian, dampak PTSD.

Menceritakan tentang Zhou Jiajun yang mendapatkan kabar bahwa ayahnya telah membunuh sahabatnya, Ding Xiaouquan. Polisi menangkap Zhou Fu karena menemukan darah di tubuh korban saat mabuk. Alhasil, Zhou Fu dijadikan tersangka oleh polisi dan meninggalkan Zhou Jiajun sebagai anak dari 'pembunuh'.

Memiliki masa lalu yang kelam telah membuat Zhou Jiajun kehilangan masa mudanya. Ketika mulai beranjak dewasa, Zhou Jiajun mengganti seluruh identitasnya mulai dari operasi plastik hingga mengganti nama menjadi Li Haiyan.

Sejak menjadi Li Haiyan, ketakutan akan wajah dan kenangan masa lalunya mulai sirna. Li Haiyan tumbuh menjadi sosok jurnalis kriminal yang sangat disegani di kantor.

Suatu ketika, muncul sebuah kasus dengan pola yang mirip seperti empat belas tahun lalu saat ayahnya dijadikan tersangka. Jika kasus itu muncul kembali, apakah pembunuh itu meniru pola ayahnya? Atau, apakah selama ini ayahnya tidak bersalah?

Dari semua pertanyaan itu, Li Haiyan nekat ke Desa Taolin dan mengorek kasus tersebut. Dia bertemu dengan teman lamanya sekaligus mantan dari Ding Xiaouquan yakni Song Dongnian.

Ciri khas pembunuh selalu menyelipkan daun kering di tubuh korban: Ding Xiaouquan dan sekarang adalah Wu Yuehan. Kasus pembunuhan terus diusut mulai dari sekolah, kegiatan hobi, hingga ke perusahaan properti besar bernama Gaomao Group.

Alur buku ini adalah maju mundur. Setiap membaca, kita akan dipertemukan dengan sisi psikologis para tokoh, baik dari masa lalu korban hingga pelaku. Ceritanya dikemas indah sekaligus menyayat hati ketika mengetahui trauma dan dampak yang mereka hadapi. Bahkan sampai ending, aku benar-benar dibuat kepikiran sama setiap tokohnya.

Menurutku, buku thriller ini mengarah ke whydunit. Sebagai pembaca, kita hanya dituntun untuk melihat bagaimana tokoh bertindak dan mengapa mereka seperti itu? Penjelasannya sangat detail, tidak menggebu, namun mampu membuat kesan hampa setelah mengakhiri bacaannya.
Profile Image for Chun.
20 reviews7 followers
May 4, 2024
作者在描寫犯人的心思、成長背景在全書都有許多鋪陳,敘事手法讓讀者從一開始就能跟著故事發展,推敲誰有可能是嫌疑犯,跟著作者循著一一冒出來的蛛絲馬跡推敲答案,令人欲罷不能。

但有很多線索出現的時機,似乎是為了出現而出現,太過生硬、牽強,讀起來有些許不自然。

本書的後面章節也有很大一部分,強調受害者、加害者家屬的情緒,描寫這些受傷的靈魂所需要揹負社會輿論的壓力,以及他們面對一切挑戰所需的勇氣,都很不容易。

讀著讀著,就覺得每個人能生而平安地活著、成長,真的是一件近似奇蹟的事,要好好珍惜並真誠對待身邊那些值得我們愛的人。
Profile Image for Tyas.
Author 38 books89 followers
November 24, 2025
Novel ini memang berkutat di seputar sejumlah kasus pembunuhan misterius yang terjadi di Taolin, sebuah kota kecil di Taiwan. (Hore! Novel Taiwan terjemahan kita bertambah!) Akan tetapi, menurut saya fokusnya lebih ke bagaimana dua orang yang kehidupannya hancur akibat kisah pembunuhan pertama berusaha menyembuhkan luka masing-masing. Kalau dari segi penulisan misterinya sendiri sih menurut saya agak lemah.

Ada beberapa hal yg kurang wajar yang saya catat (peringatan: SPOILER!!!!):

- Ada anak perempuan lagi diculik, terancam terbunuh. Salah satu orang yang diduga keras terkait kasus itu didatangi polisi. Sekretaris orang itu berkata bosnya jarang ke kantor, jadi harus bikin janji temu dulu. Dalam keadaan mendesak seperti itu, apa yang dilakukan polisi?
Menunggu sampai bisa dibuatkan janji temu yang entah kapan.
Adakah yang heran ketika kemudian anak yang diculik itu keburu ditemukan tewas terbunuh?

- Protagonis cewek, Li Haiyan, merasa melihat terduga pelaku di TKP. Saking ketakutan, dia pingsan, tetapi sempat memberi tahu si protagonis cowok, Song Dongnian, yang merupakan seorang polisi. Song Dongnian bergegas membawa si Li Haiyan ke petugas lain agar dia ditolong.
Lalu...
Bukannya menyuruh pengejaran atau pencarian, atau blokir jalan, dia... Menunggu Li Haiyan bangun.
Suka sekali menunggu, ya?

- Penggambaran Li Haiyan juga suka bikin gemas. Katanya jurnalis andal yang biasa mengubek-ubek kasus kriminalitas, tapi kelakuannya sering kali tidak hati-hati sama sekali. Sudah tahu diincar, malah ke tempat terpencil milik terduga tanpa memberi tahu siapa-siapa atau meninggalkan pesan. Bahkan sebagai jurnalis dia tidak digambarkan rajin berkontak atau berkirim kabar dengan rekan-rekannya di kantor. Bagaimana tidak bikin orang panik gara-gara tidak ada yang tahu dia ke mana?

- Katanya kasus ditangani tim polisi, tapi yang kerja kok Song Dongnian dan Tie Xiong terus sampai mereka berdua kelelahan...

- Lalu untuk saya, hal berikut ini rasanya glaring plot hole sih. Awalnya terdapat kesan bahwa pembunuhan-pembunuhan yang terjadi dilakukan dengan mengikuti pola tiga monyet bijaksana, yang dibuktikan oleh kehadiran boneka monyet dalam foto-foto bukti kasus pembunuhan pertama yang terjadi 14 tahun silam. Akan tetapi, kemudian kita melihat bahwa pembunuhan kedua dan ketiga baru direncanakan jauh setelahnya ketika si pembunuh ingin memancing Li Haiyan kembali ke Taolin. Tidakkah baru pada saat itu dia berpikir untuk memberikan suatu pola ke pembunuhan-pembunuhan yang ia lakukan? Lalu kenapa boneka monyet bisa ada dalam kasus yang pertama?

Bagusnya sih, untuk novel yang menekankan kondisi psikis pihak-pihak yang terlibat, bagian penutup ditulis dengan cukup panjang dan mendetail tentang apa yang terjadi SETELAH kasusnya selesai. Jadi tidak ada rasa 'menggantung' yang tidak nyaman.

Kalau dari segi penerjemahan, terjemahannya jelas, ketikan rapi, tapi pembagian kalimat (penggunaan tanda titik/koma) dan flow kurang enak. Sering sekali susah memahami apa yang hendak disampaikan karena sering kali satu 'kalimat' dalam terjemahan ini seharusnya merupakan beberapa kalimat berbeda dengan gagasan berbeda-beda, tetapi digabungkan dengan hanya dipisahkan koma.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Alea Yang.
2 reviews
February 16, 2026
See my full review here
Di sebuah desa terpencil dimana semua orang kenal semuanya, di barat kecamatan Taolin, tinggallah Li Haiyan bersama ayah, ibu, dan kakeknya. Rumah mereka memiliki tiga tingkat, lengkap dengan kebun buah dan deretan pohon persik. Setelah kakeknya meninggal, rumah tersebut direnovasi oleh Ayahnya untuk lebih mempermudah mereka merawat pohon persik yang menjadi tempat perjamuan untuk tamu dan teman Li Haiyan yang seringkali berkunjung.

Li Haiyan bersekolah di SMA Qun'yin dan ia mengikuti ekstrakurikuler paduan suara bersama sahabatnya yang terkenal cantik dan tinggi, Ding Xiaoquan. Judul lagu yang mereka bawakan adalah Yanzi Ge (Nyanyian Burung Walet) sebagai bagian dari persiapan lomba yang akan mereka ikuti.

Suatu pagi, Taolin dibuat gempar. Tubuh tak bernyawa Ding Xiaoquan ditemukan di hutan persik rumah Li Haiyan dalam keadaan tanpa busana. Ditemukan banyak luka tusuk dan di lehernya terdapat bekas jeratan. Tubuhnya ditata sedemikian rupa seakan ia sedang tertidur pulas di tengah hamparan pohon persik. Baju dan rok sekolahnya terbang tinggi di dahan pohon dan di mulutnya tertanam daun kering, seolah pelaku menambahkan "sentuhan terakhir" atas karyanya yang penuh estetika.

Dalam sekejap, hidup Li Haiyan berubah 180 derajat. Bukti alat pembunuhan berupa pisau pemotong buah yang berlumuran darah yang cocok dengan sidik jari ayahnya. Pisau ini ditemukan di lantai saung tempat ayahnya tidur saat dia mabuk. Semua bukti mengarah ke ayah Li Haiyan dan tak lama berselang ayahnya pun ditetapkan menjadi tersangka. Li Haiyan yang hanya berusia 16 tahun harus menanggung beban sebagai "anak seorang pembunuh".

14 tahun berselang, Li Haiyan, yang kini telah dewasa dan berprofesi sebagai jurnalis kriminal, mendengar berita bahwa telah muncul kasus pembunuhan dengan modus operandi yang identik dengan kasus ayahnya. Bagaimana bisa? Ayah Li Haiyan sudah merenggut nyawanya sendiri di penjara. Apakah ini kasus peniruan atau mungkin pelaku sebenarnya masih berkeliaran di luar sana?


Yang Tersisa Dari Kematian menjadi novel pertama yang saya baca dari penulis Taiwan. Saya tertarik untuk membaca buku ini karena kebetulan melihat sampulnya yang sangat indah. I mean,ada baju dan rok yang digantung di pohon dengan latar belakang merah menyala yang seakan menggambarkan darah di seluruh bagian. Damn. What is this novel all about?

Alih-alih mencari tahu "siapa" pelaku yang sebenarnya, saya rasa penulis lebih ingin kita berfokus ke "alasan" mengapa pembunuhan tersebut terjadi dan bagaimana para tokoh menjalani hari-hari mereka setelah kehilangan orang yang mereka cintai akibat kematian, hence the title of this book.
Profile Image for Seliana Sylvani.
7 reviews
January 18, 2026
very refreshing. As a fan of thriller genre, this book is awesome. eventho i can guess who is the killer, but the plot still unreal.
Profile Image for Luminova.
5 reviews
January 7, 2026
Translatenya enak dan mudah dipahami. Penulis menggambarkan karakternya yang sangat rinci dan detail. Penulis juga berhasil memotret isu sanksi sosial dengan tajam, tekanan berat yang harus dihadapi keluarga korban digambarkan dengan sangat nyata dan mendalam.
Displaying 1 - 8 of 8 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.