Apa yang akan kaulakukan jika satu menit yang lalu kau anak tunggal orangtuamu, lalu satu menit kemudian ada seseorang yang muncul entah dari mana dan duduk di sampingmu mengaku sebagai adikmu? Apa yang kaulakukan jika kau menemukan foto di meja, menampilkan dirimu dan seseorang yang belum pernah kaulihat? Apa yang kaulakukan jika kau pulang ke rumah dan menemukan bahwa di dalam rumah itu sudah ada dirimu yang lain?
Kehidupan Ally memang bukan kehidupan biasa. Kerap kali ia mendapati dirinya ditempatkan dalam kehidupan yang seolah miliknya, tapi ternyata bukan. Dan tiba-tiba kata “pulang” punya makna yang baru. Apakah Ally akan memiliki kesempatan untuk “pulang”? Akankah ia bisa kembali pada cinta yang ditinggalkannya di kehidupannya yang lain?
Ini bukan kisah biasa. Ini kisah yang akan membuatmu berpikir kembali tentang arti hidup dan arti cinta yang sebenarnya.
Born in Indonesia, Arleen is a working mother of two. She has a teenage daughter and a younger son. Arleen started writing children books in 2004. At that time, she found it quite challenging to find good children books at affordable prices in Jakarta.
Arleen holds a BSc in Commerce and an MBA in Finance and is currently working full time in a distribution company in Jakarta. Even though her education background and work had given her more chances to deal with numbers rather than words, Arleen was raised as a book loving individual. In the past 14 years, she had written more than 250 children books and 10 adult novels.
Some of her books that became bestsellers : I Love you Mom, Kingdom Tales Collection, Motivate Your Kids the Right Way and Animal Tales Collection.
"To me, writing is not just an infatuation or simply a summer fling that lasts a fortnight, it's clearly an everlasting love that lasts forever. For as long as I live, you will definitely see me writing."
Arleen can be contacted at her email : arleen315@yahoo.com
Sejak pertama membaca 2 bab awal novel ini, aku dibuat penasaran dengan kisah Ally ini. Pikiranku dibuat berkelana akan petualangan Ally. Aku membayangkan bahwa menjadi Ally tidaklah mudah. Ini bukanlah kisah romance biasa, ini tentang Ally, seseorang yang bisa berpindah ke dimensi lain.
Pertama kali terjadi, usia Ally masih sangatlah muda. Ally masih berumur 10 tahun, Ally yang anak tunggal tiba-tiba hanya sepersekian menit berubah menjadi seorang kakak dari seorang adik, bernama Albert. Awalnya Ally bingung tetapi akhirnya dia berpikir bahwa mempunyai seorang adik ternyata mengasyikkan juga.
Ketika kejadian serupa terjadi kembali untuk kedua kalinya, Ally sudah lebih dewasa, Ally duduk dibangku SMA. Ketika "Saat Ketidakberadaan" itu datang lagi menghampiri, Ally pun merasakan de javu. Ketakutan pun datang jauh lebih besar, Ally tidak bisa menduga apalagi yang akan dia hadapi, ketika kehilangan pun berada didepan mata, bagaimana Ally menyikapinya? Ya, Ally pun harus menerima di dunianya yang sekarang tidak ada lagi Albert, karena kecelakaan.
Setiap kali "Saat Ketidakberadaan" itu terjadi, selalu pasti ada yang berubah dalam hidup Ally, sekecil apapun itu. Tapi satu hal baik yang disadarinya, Ally tidak pernah menemukan perbedaan pada dirinya sendiri.
Semestinya hal itu membuatnya nyaman, lebih mudah untuk melanjutkan hidup, tapi sesungguhnya itu tidak benar. Ally tetap merasakan kehilangan dan ketakutan apalagi yang harus dia hadapi. Dunia seakan sedang mempermainkan hidupnya dan Ally sama sekali tidak bisa menolak, yang bisa dilakukan hanyalah menerimanya.
Hidup Ally pun tidak mudah, ketika itu terjadi lebih sering Ally hanya bisa memainkan perannya sebagai Ally di dunianya yang baru. Ketika akhirnya dia bertemu Kevin, pria yang membuatnya jatuh cinta dan percaya dengan kisahnya, lagi-lagi Ally harus kehilangan...
Ally pun mencoba untuk mencari tahu mengenai dirinya dan bagaimana untuk menghadapinya. Disinilah Ally bertemu dengan sosok Prof. Drone, seorang ahli yang Ally harap bisa membantunya. Namun, sayangnya di beberapa dunia yang dia tempati, Prof. Drone yang dia temui tidak bisa membantunya sama sekali, malah menasehatinya untuk menerima saja keadaannya.
Hingga, lagi dan lagi "Saat Ketidakberadaan" membawanya ke dunia Ally yang baru. Disinilah dia menjadi sosok Ally yang ternyata mengabadikan pengalaman perjalanan melintasi dimensi demi dimensi dalam sebuah buku catatan harian. Ally yang ini menginginkan agar Ally yang berganti peran dengannya bisa lebih jauh mengenal dirinya dan bisa menjalankan perannya dengan baik. Apalagi didunia yang sekarang, Prof. Drone yang ini ternyata punya sebuah alat yang bernama "Jangkar" yang bisa menghentikan waktu, dan membuat Ally tidak perlu lagi melintasi dunia lain.
Ketika Ally dihadapkan pilihan untuk memilih menjadi Ally yang bukan dirinya dan memakai Jangkar tersebut, atau tetap berusaha kembali ke dunianya, apa yang harus dilakukannya? Bagaimana akhir kisah Ally dan hidupnya yang tak pernah mudah itu?
Novel ini sungguh menarik, aku dibuat larut dan penasaran hingga akhir. Awalnya aku pikir ini novel terjemahan, ternyata aku salah. Hanya gaya berceritanya saja yang memang mirip dengan novel terjemahan.
Membayangkan kehidupan Ally yang bisa berpindah ke satu dimensi ke dimensi lain, membuatku lebih bersyukur dengan hidup. Rasanya tidak bisa membayangkan menjadi seorang Ally, harus kehilangan kekasih, adik bahkan kehilangan hidupnya sendiri, yang bisa dilakukan hanyalah menerima hidupnya yang baru dan terus seperti itu.
Kalau kamu penyuka novel yang bertema "dunia pararel" mungkin apa salahnya mencoba novel ini^^
Ceritanya cukup menarik. Mengenai jiwa Ally yang memiliki kemampuan utk berpindah tubuh (fisik Ally), dari satu kehidupan ke kehidupan lainnya. Di novel ini diceritakan bahwa dunia memiliki beberapa sisi kehidupan yang berbeda, dimana di tiap sisi berisi tokoh2 yang sama akan tetapi tokoh2nya memiliki jalan cerita yg berbeda di tiap sisinya. Nah disinilah keistimewaan jiwa Ally 1 (aku menyebutnya jiwa Ally 1, karena ia bisa bertukar tempat/tubuh dengan jiwa Ally lainnya, sekaligus PoV 1 di novel ini). Jiwa Ally 1 mulai menyadari bahwa ia mampu berpindah tubuh ke tubuh Ally di kehidupan yang lain sejak berumur 10 tahun. Hingga dalam satu periode hidupnya, jiwa Ally 1 mampu berpindah tubuh hingga beberapa kali di luar kendalinya.
Di tiap perpindahan tubuh, jiwa Ally 1 mengalami konflik atau cerita yg berbeda di tiap kehidupan yg ia pindahi. Ini lah yang menjadi salah konflik cerita. Masalah yang dihadapi Ally di masing2 kehidupannya berbeda2, dan itu membuat jiwa Ally 1 merasa berat untuk menerima keadaan. Apalagi saat ia dihadapkan dengan cinta. . Sebenernya aku suka tema cerita. Mengenai jiwa yang berpindah tempat. Sayang eksekusi ceritanya aku kurang klik. Narasi yang dituliskan penulis mengenai apa yang dirasakan jiwa Ally 1 terlalu panjang dan menbosankan. Malah rasanya ada beberap bab yg isinya hanya narasi, tidak ada percakapan. Dan itu menjemukan >.<.
Recommended adalah satu kata yang tepat untuk menggambarkan novel ini. Plot yang menarik dan cerita yang tidak biasa menjadikan novel Ally masuk dalam daftar yang menggabungkan sains dan fiksi yang keren. Ini adalah buku pertama dari Arleen A yang saya baca dan saya sukses dibuat jatuh cinta pada bab pertama. Gaya penulisannya yang padat namun ringan membuat novel ini selalu mengundang rasa penasaran pada setiap menjelang akhir bab-nya. Meski hanya terdiri dari 264 halaman, novel ini terdiri dari lima puluh bab yang membuat saya selalu tidak sabar untuk pindah ke bab selanjutnya.
Ditulis dengan POV orang pertama tunggal dalam hal ini Ally membuat novel ini mampu menyedot perasaan dan juga pikiran pembaca secara total ke dalamnya. Bagaimana tokoh utama menjalani hidupnya yang penuh kejutan namun tak selalu manis dan menyenangkan, bagaimana bila seandainya saya yang berada pada posisi Ally, mampukah Ally bertahan hingga akhir cerita dan yang paling penting dari itu adalah bagaimana endingnya. Membaca novel ini membuat saya tidak sabar untuk cepat cepat sampai pada halama terakhir.
Saya ingin mengucapkan terima kasih pada penulis Arleen A dan juga Mbak Atria Sartika karena telah bersedia memberikan buku ini secara cuma-cuma, terima kasih juga karena sudah ditandatangai. Sejak awal, saya memang penasaran dengan buku ini. Tapi rasa penasaran itu terbentuk karena saya mendapat bocoran tentang 'perjalanan lintas dimensi' tokoh utama. Meski pada blurb diceritakan bahwa novel ini adalah kisah yang bisa dibilang membuat frustrasi tokoh utama, ekspektasi saya adalah saya akan disuguhkan cerita romantis west series yang penuh petualangan seru dan menyenangkan. Well, dalam hidup tidak semuanya berjalan mulus jadi saya pikir meski harus berjuang tokoh utama tetap dapat menjalani kehidupannya secara normal. Tapi ternyata, petualangan Ally adalah petualangan yang banyak membuatnya jatuh dalam rasa sakit dan kebingungan.
Krisis identitas dan eksistensi diri adalah apa yang sesungguhnya dialami Ally. Pertanyaan-pertanyaan tentang hidup dan makna keberadaannya selalu muncul dan berkelabat dalam pikirannya. Pertanyaan ini tidak hanya akan Ally tanyakan tapi juga saya tanyakan pada diri saya sendiri. Dimensi lain dalam novel ini membuat saya berpikir tentang keberadaan diri saya yang lainnya dan mengira-ngira jika memang benar ada, maka apa yang sedang mereka lakukan sekarang ini dan bagaimana kehidupan mereka. Ally memberikan dampak pada pikiran dan cara pandang saya.
Kehilangan yang dialami Ally karena perpindahan yang dirinya lakukan karena ketidakberdayaan bagi saya pribadi mengandung pesan bahwa hidup kita yang sedang kita jalani dan mungkin banggakan ini bukanlah sesuatu yang permanen. Hidup kita temporer, ada batas waktunya dan akan datang masanya dimana kita akan direnggut atau orang-orang yang kita sayangi akan direnggut dari hidup kita ini. Maka, menghargai setiap detik dan waktu yang berjalan adalah hal yang tepat untuk kita lakukan.
Kemudian perpindahan Ally dari satu dimensi ke dimensi lainnya yang memberikan kehidupan sama namun berbeda adalah sebuah pernyataan bahwa kehidupan kita yang terbentuk oleh pilihan-pilihan yang telah kita ambil ataupun pilihan orang lain yang mempengaruhi hidup kita selalu diikuti oleh konsekuensi dengan masing-masing perbedaan akibat di masa depan. Namun, tak peduli pilihan mana yang kita ambil penerimaan dan pertanggungjawabanlah dua hal yang harus kita lakukan. Novel ini mengajarkan kita untuk berhenti berandai-andai karena hal itu hanya akan membuat kita selalu merasa tidak puas akan hidup, menuntut banyak hal meski kita tahu itu adalah hal yang mustahil, da membuat kita terus mencari kesempurnaan bahagia yang hanya akan memakan waktu kita seumut hidup. Tidak akan pernah ada habisnya.
Buku ini juga kembali mengingatkan saya pada perkataan bijak yang berbunyi "Do not judge the book by its cover." Dari segi sampul, bagi saya sampul Ally kurang Eye Catching meski gradasi warna yang ada sudah sangat menjelaskan perpindahan Ally dari satu dimensi ke dimensi lain. Tapi meski demikian, isi dari buku ini sangatlah keren! Karena selain menawarkan kisah fiksi, buku ini juga memberikan sedikit pengetahuan tentang dunia astronomi.
Buku yang memiliki jalan cerita yang menarik tentang seorang perempuan yg bisa berpindah dari satu dimensi ke dimensi lain. Dalam buku ini juga ada menyebutkan tentang teori "dunia banyak". Awalnya saat melihat buku ini dari cover tampak tidak terlalu menarik perhatian, setelah membaca blurb baru lah saya tergerak untuk membeli buku ini. Pada awalnya saya kira buku ini adalah buku terjemahan, dari tata bahasa dan cara penyampaian ceritanya serta setting tempat dan tokoh ceritanya. Ternyata saya salah, buku ini bukan buku terjemahan. Walaupun bahasa dan cara penyampaiannya terkesan seperti buku terjemahan, bahasa-bahasa yang digunakan masih mudah untuk dimengerti. Dari buku ini dapat didapatkan suatu pesan bahwa kita harus menghargai setiap waktu yg kita punya, juga menghargai orang-orang yg ada di sekitar kita, karna kita tak akan pernah tau kapan kita atau orang-orang yg kita sayangi pergi atau 'menghilang'. Buku yang bagus untuk dibaca👍🏻👍🏻
“Tuhan, tolong beri aku keberanian untuk mengubah hal-hal yang dapat kuubah, beri aku kedamaian untuk menerima hal-hal yang tidak dapat kuubah, dan beri aku kebijaksanaan untuk membedakan keduanya.”—p. 150
Saya baru tahu ada penulis Indonesia dengan imajinasi begini dan bisa menyampaikannya dengan baik. Lengkapnya silakan kunjungi: http://celoteh-ainini.blogspot.com/20...
Ally - All These Lives, menceritakan kisah tentang seorang gadis bernama Ally dan keanehan yang terjadi di dalam hidupnya. Ally yang saat itu berusia 5 tahun, tiba-tiba mengalami kejadian aneh dan baru menyadari saat dirinya berusia 10 tahun. Dia sama sekali tak mengingat memiliki seorang adik laki-laki bernama Albert. Ally hanya mengingat kejadian selama 5 tahun terakhir saja, namun dia melupakan Albert ada di dalam kehidupannya selama 5 tahun terakhir ini.
Akhirnya Ally pun diajak ke psikiater hingga dokter saraf untuk melakukan berbagai macam tes yang berakhir sia-sia. Kehidupan Ally akhirnya kembali normal, dan dia pun menerima kenyataan jika dia ternyata memiliki seorang adik laki-laki. Namun, kejadian yang sama terulang lagi saat Ally SMA. Ally membuat ibunya menangis tatkala Ally menyinggung mengenai Albert yang menghilang dari kehidupan Ally, dan Ally lagi-lagi tak mengingat hal tersebut sama sekali.
Kejadian yang Ally alami ini baru dia dapatkan penjelasannya saat mengikuti kelas astronomi. Profesor Fraknoi menjelaskan mengenai beberapa alam semesta yang tumpang tindih. Awal mula Ally mengenal “Dunia yang Banyak”. Teori tersebut menjelaskan bahwa alam semesta ini terbelah dan terbagi setiap kali keputusan dibuat. Penasaran, Ally pun akhirnya memutuskan untuk menemui seorang ilmuwan di Universitas Oxford, Profesor David El Drone. Harapannya, professor tersebut dapat membantunya menemukan sesuatu yang dapat menghentikan perpindahannya. Tapi, hasil yang didapat Ally, nihil. Ally tetap mengalai Saat Ketidakberadaan.
Apa yang kemudian terjadi selanjutnya dalam hidup Ally? Bagaimana caranya agar Ally dapat tetap berada dekat dengan orang-orang yang dia cintai? Apakah Ally akan bertemu dengan seseorang yang istimewa dalam hidupnya?
The concept of the story is so unique and intriguing and it was also pretty short that I spent only a few hours finishing it.
Ally was ten years old when she first experienced her moment of nothingness, which turns out to be her ability to travel between alternate universes. But all of this happened randomly and outside of her control. So she struggled to find 'home' as this unknown power takes her from one life to another, keeping her from staying with the people she loved.
It was never explained how this power exist or what triggered it to happen or why she had it in the first place but it would be hard to go into detail about that without turning the whole book into an elaborate sci-fi story. And I'm happy it didn't haha.
Although the story seems to take on a sciencey idea; traveling between alternate universes, this book focuses more on the inner struggles that the main character was facing with the existence of this unknown 'power' in her life (or lives maybe?). Also, this was written in a simple narrative so it doesn't feel like a heavy read at all.
Overall, this was an amazing and interesting read.
. Ini adalah buku ketiga karya Arleen A. yang saya baca setelah 2 judul sebelumnya mampu membuat saya terhipnotis. Seperti yang sudah-sudah, karya ini pun amat memukau. Seringkali saya bertanya, bagaimana cara Arleen meramu kata-kata yang mampu membangkitkan imajinasi liar saya. Ah sudah habis pujian. Intinya saya suka. Itu saja!
Karena telah ketiga kalinya dibawa bertualang, saya hanya bisa pasrah. Jadi terbiasa disetir alur dan tak banyak menuntut. Lagipula saya terlalu sibuk mengawasi Ally. Takut-takut ia keburu hilang pindah dimensi sebelum saya usai membalik halaman! Saya tak punya kontaknya Prof Drone. Apalagi Kevin. Tapi saya punya ruang untuk James. Dia adalah alasan Ally bertahan untuk terakhir kalinya.
Sebelum mendetail tentang novel ini, aku ini sedikit membahas kesan pertamaku ketika mengupas segel plastik buku ini. Aku harus jujur jika desain sampulnya menurutku sedikit kurang kuat dan catchy–bagiku. Meskipun elemen gambar yang dipakai di sampul depan memang mewakili isi cerita Ally, tapi menurutku pengerjaannya kurang artistik dan terburu-buru. Sorry for saying the truth, tapi kalau bukan karena ceritanya aku pasti akan meletakkan buku ini lagi ke rak. I am a reader that judge book by its cover. Tapi tenang saja, itu tidak berlaku bagi manusia, kok. Mengapa saya harus sesaklek itu? Karena bagi saya cover atau sampul buku itu salah satu bentuk apresiasi penerbit dan penulis atas karya itu sendiri, yaitu novelnya. Jika sampul buku kurang dieksekusi dengan matang, tentu saja akan mempengaruhi pembaca dan karya itu sendiri. Entahlah, mungkin ini soal selera? Tapi coba diteliti lagi. Pemilihan gambar yang menjadi background sampul juga terkesan ‘asal-asalan’ entah dari mana dan okelah ingin menunjukkan sekelumit clue tentang isi buku dimana tokohnya berpindah-pindah kehidupan dan lokasi. Tapi menurutku ada visualisasi lain yang lebih menarik. Bisa dibuat sebuah visualisasi yang menggambarkan seorang gadis yaitu tokohnya berdiri sendiri di tengah background gelap dengan ekspresi yang kuat yang menunjukkan ‘kefrustasian’ tokoh atas keanehan hidupnya. Aku tidak bermaksud mengurangi daya tarik buku ini, tapi kuharap di buku-buku selanjutnya, Mbak Arleen sebagai penulis memberi perhatian pada performance fisik buku. Aku tidak mengharapkan cover yang penuh warna dan gambar lucu seperti di buku dongeng anak-anaknya yang lain, tapi…. Oh, please ada banyak desain sampul buku di luar sana yang bisa jadi referensi. Please paling tidak berikan perhatian pada sampul buku, kasihan novelnya sudah bagus banget ceritanya. Ih, gemes deh. Dan juga aku ingin mengkritik layout dalam. Sebelumnya aku ingin bertanya, apakah GPU sudah mematok ukuran dan jenis font yang dipakai dalam genre-genre novel tertentu? Jika ini sudah patokan dari penerbit, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi jika belum, mungkin bisa lebih mempertimbangkan kenyamanan pembaca. Ukuran font-nya terlalu kecil bagiku. Tak masalah dengan pilihan jenis fontnya, tapi dengan jenis yang dipakai dan ukuran sekecil itu, tidak nyaman untuk mata minus. Mohon mempertimbangkan itu. Aku padahal sudah suka banget sama ceritanya.
The Story
Ally: All These Lives merupakan kisah seorang gadis bernama Alison yang memiliki kemampuan hidup parallel universe. Harus kuakui tidak mudah bagiku menjelaskan alur kehidupan Ally. Tapi akan aku coba. Jadi, Ally memiliki kemampuan untuk berpindah dari satu alam semesta ke alam semesta lain. Bagi yang belum familiar dengan teori parallel universe, bisa googling sendiri sekalian ya, saya tidak mau menyesatkan. Nah, uniknya kisah Ally di sini dia harus berhadapan dengan serentetan kehilangan berkali-kali. Aku tidak bisa membayangkan jika hidupku yang sekarang, dimana ada orang-orang yang kusayangi dan menyayangiku, diambil begitu saja dalam kedipan mata. ITU GILA! Dan inilah situasi yang dihadapi oleh Ally. Aku heran bagaimana dia tidak jadi gila. Aku juga penasaran apakah di semesta yang entah ke berapa, ada Ally yang jadi gila karena kondisinya ini? Apakah ada Ally yang akhirnya bunuh diri karena stres menghadapi hidupnya yang aneh? Kemampuan Ally bukanlah sesuatu yang keren atau heroik, bagiku ini seperti kutukan. Banyak sekali kehilangan yang harus dia alami. Ide cerita yang brilian, aku belum pernah membaca drama sci-fi seperti ini. Hidup Ally yang tidak menentu membuatku cemas setiap kali dia mengalami Saat Kehilangan atau saat dimana di berpindah semesta. Aku pun bisa terjun merasakan perasaan bagaimana jika dia alam semesta yang lain ada orang yang kita cintai, terkejut mendapati kita ‘menghilang’ dan kita tahu bahwa mereka hidup tanpa kita, mereka bersedih tapi kita tidak bisa berbuat apa-apa.
Ada yang sedikit menggangguku dari kisah Ally ini. Dia tidak pernah kembali ke semesta yang sudah dia tinggalkan. Ally selalu pergi menuju semesta lain yang baru untuknya dimana segalanya berbeda. Dia hanya sekali–kalau aku tidak salah ingat–kembali ke semestanya yang dia tinggalkan. Dan mengapa Ally di sini seolah hanya sebagai korban keadaan. Cerita yang disuguhkan memang sudah bagus, tapi tentu saja sebagai pembaca aku berekspektasi tinggi pada ide ceritanya yang menarik. Berharap ada petualangan yang seru dan mendebarkan dan tidak hanya seputar hubungan percintaan Ally dan konflik batin Ally sendiri. Aku berharap ada kejutan yang lebih dahsyat, tapi ternyata tidak. Aku bahkan berharap kisah Ally akan berseri dan petualangannya mengarungi semesta paralel semakin seru dan dia bisa mengendalikan kemampuannya itu, bukan hanya sebagai penerima keadaan. Kisahnya diceritakan sejak Ally kecil, remaja, dewasa hingga menikah punya ada dan cucu. Menurutku, aduh sayang sekali. Pasti dalam rentang waktu itu, banyak kejadian aneh, mendebarkan, petualangan yang bisa diceritakan lebih dalam dalam novel serial. Aku sangat berharap akan itu tapi ternyata penulis mengakhiri kisahnya demikian. Jujur, jika boleh Ally dibuat sekuelnya lagi.
Saran untuk penulisnya, porsi dialog dan narasinya kurang seimbang dan masih mengulang-ulang hal yang sama. Sayang sekali jika ide cerita yang bagus ini tidak dimaksimalkan. Sebagai pembaca saya bisanya mengomentari dari sisi saya, maaf jika komentarnya lebih berisi kritikan. Tapi itu karena saya suka sekali dengan ide cerita dan kisah Ally, oleh karena itu saya berharap sangat. Tidak ada typo yang berarti atau mengganggu kenyamanan membaca, bahkan saya merasa tidak ada typo sama sekali. Namun itu tadi, tampilan layout dalamnya perlu dipertimbangkan lagi ukuran fontnya.
'Terkadang memang lucu cara hidup ini mempermainkan dirimu. Satu menit sebelumnya kau merasa menjadi orang paling beruntung di dunia: kau merasa berada di puncak. Tapi menit berikutnya kau merasa berada di dasar got yang paling dalam dan kotor.' -hal 81
Buku ini.. benar benar buku saya banget. Biasanya kalo baca buku saya bakal berhenti untuk istirahat sejenak, tapi buku ini beda, namatin dalam kurun waktu 2 hari saja.. saya dibuat penasaran setengah mati dengan ceritanya. Kebetulan saya senang dengan teori dunia paralel, jadi saat baca ally all these lives langsung nyangkut. Ceritanya sangat seru, emosinya dapet banget :( ga nyangka kalo ada cerita sebagus ini.
ally yang beberapa kali dalam hidupnya mengalami perpindahan kehidupan dalam dunia pararel. membuatnya berulang-ulang kehilangan orang yang ia cintai.
karna buku ini aku jadi sadar bahwa orang-orang yang kita cintai sewaktu-waktu bisa pergi dari kehidupan kita. jadi aku akan dapat lebih mensyukuri keberadaan mereka.
Bagus banget! Cerita tentang parallel universe dengan alur yang ringan untuk diikuti. Perpindahan dari semesta satu ke yang lainnya juga mudah dimengerti, tidak rumit sama sekali. Kayaknya bakal seru banget kalau dijadikan film, genre drama romance saja, tidak perlu seperti superhero atau scifi yang memiliki alur khusus.
Selalu suka dengan karya Arleen, termasuk yang satu ini. Awalnya agak rumit mengikuti kehidupan Ally yang berpindah-pindah dimensi tapi ternyata menarik & membuat saya langsung googling mengenail parallel universe karena penasaran Suka juga dengan endingnya yang terasa pas, tidak berlebihan dan mengena banget :)
Setelah baca buku ini, beneran bikin penasaran sama kehidupan yang Ally jalanin. Rasanya pasti bingung banget dan susah. Sampe bayangin juga gimana rasanya jadi dia.
Awal saya membaca buku ini adalah saat saya menjadi Fist Chapters Commentator bab 1 dan 2 dari novel ini. Saat itulah saya tahu bahwa novel ini akan memberikan warna baru di tahun 2015.
Novel ini menyajikan cerita yang berbeda. Tentang parallel universe dan teori dunia banyak. Bahwa tidak hanya Ally saja yang hidup di kehidupannya yang ini, namun ada banyak lagi Ally-Ally yang lain yang hidup di kehidupan yang lain. Dan disinilah, ia bisa bertukar tempat dengan Ally yang lain meskipun ia tidak ingin. Karena Saat Ketidakberadaan itu selalu datang tiba-tiba tanpa ada yang bisa mencegahnya.
Ya, penulis semacam menyajikan potongan puzzle-puzzle dalam cerita yang tidak mudah ditebak. Dan kita hanya bisa melihat gambaran akhirnya kalau sudah sampai halaman terakhir. Berkali-kalipun saya memaksakan diri untuk menebak seperti 'kejadian apa sih yang sebenarnya menimpa Ally saat keberadaannya telah mengambil semua darinya?' 'Kenapa ia tidak bisa mengingat waktu yang hanya beberapa detik menelannya itu dan merubah semuanya?' Ya, pikiran semacam itu masih berkelebat di dalam pikiran saya.
Meskipun sedetik, rupanya waktu mampu mengubah segalanya ya.
Awal bab yang sudah diisi dengan kejutan manis oleh penulisnya itu membuat saya tidak bosan untuk melanjutkan ke bab selanjutnya. Dan di bab kedua, lagi-lagi penulis membuat kejutan. Menurut saya, isi ceritanya langsung to the point dan saya suka. Maksudnya awal bab sudah di gambarkan point dari ceritanya, yaitu ketika Ally sama sekali tidak mengingat kejadian beberapa tahun sebelumnya ketika ketidakberadaan menelannya. Konflik-konfliknya juga sudah terasa di bab-bab awal.
Alurnya terlalu cepat, namun tidak terkesan mendadak atau dipaksakan. Semuanya runtut dan terasa memang porsi yang seharusnya memang dibuat seperti itu. Agak sebal juga sih ketika saya masih menikmati hidup Ally yang ini, tiba-tiba penulis sudah menyajikan konflik yang baru dan menempatkan Ally di kehidupan yang lain.
Setiap kali membalikkan halaman demi halaman saya selalu diliputi perasaan khawatir, gelisah sekaligus deg-degan, berharap penulis tidak menyajikan kejutan manis baru dalam cerita ini. Entah kenapa saya merasa seperti Ally yang selalu diliputi perasaan takut dengan kemungkinan-kemungkinan kapan Saat Ketidakberadaan itu datang.
Ketika akhirnya Saat Ketidakberadaan itu merenggut orang-orang yang dicintainya, hati saya rasanya juga remuk redam. Ahh…penulis ternyata sudah mampu memporak-porandakan emosi saya. It’s Great!
Saya suka pemilihan gaya bahasa yang enak dibaca dan dimengerti. Ringan dan tidak berat. Namun saya tahu model bahasanya lebih condong ke barat / seperti novel terjemahan meskipun tidak terlalu kentara.
Riset yang dilakukan penulis tentang teori dunia banyak yang dikemukakan pertama kali oleh Hugh Everett III (1930-1982) dan beberapa latar tempat seperti Kulanthpitha dan Cluck U juga patut diacungi jempol.
Untuk covernya. Awalnya aneh menurut saya. Tapi begitu selesai membaca novel ini, saya tahu kalau covernya sudah mewakili isi dari novelnya sendiri. Mungkin (ini hanya menurut saya) gambar 3 spot yang berbeda itu menggambarkan saat Ally mengalami Saat Ketidakberadaan-nya tadi.
Dari sederet hal yang menarik, poin-poin yang paling bisa saya petik dari “Ally—All These Lives” pastinya ada pada permainan sifat penokohannya, latarnya yang luar biasa menginspirasi dan ide dari ceritanya sendiri : sebuah peristiwa yang absurd yang sulit diuraikan dengan logika.
Saat membeli buku ini saat melihat nama pengarangnya, Arleen yang biasa mengarang cerita anak, akhirnya mengarang sebuah novel. Jadinya penasaran. Sempat baca sampai dua bab memang menarik. Ada sisi peristiwa yang tidak "biasa". Namun akhirnya terhenti karena harus membaca beberapa buku lainnya. Baru sekarang dapat menyelesaikannya. Jujur.. Sebuah cerita yang saya suka.. Biasanya saya irit -irit dalam membacanya. Membaca perlahan-lahan. Menahan diri untuk terburu-buru. Dan pastinya... Dari bab pertama dan kedua, paling tidak 5 halaman awal novel, saya bisa tahu sebuah novel menarik atau tidak untuk dibaca.
Membaca buku Ally-all these lives, sangat tidak membosankan. Membutuhkan kejelian untuk memikirkan "sedang di dunia mana Ally sekarang"? Bab demi bab nya merupakan alur cerita maju, bukan flash back. Tokoh Ally memang berpindah-pindah, namun bukan alur maju mundur. Terus maju.. Ally seorang anak perempuan yang seringkali mengalami perpindahan "dimensi kehidupan". Pada awalnya ia mengalami beberapa kekagetan, namun sekuen demi sekuen memperlihatkan bagaimana Ally akhirnya dapat sedikit lebih mengenal gejala "perpindahan dimensi kehidupan". Penulis mencatat bahwa perpindahan ini disebut sebagai "Saat Ketidakberadaan". Namun sangat disayangkan, saya mencatat "Saat Ketidakberadaan" yang kedua, yakni saat Ally ada di perpustakaan, ia bingung.. Mau pulang ke mana, ke rumah orang tuanya yang ada di Mountain View atau di Los Altos Hill. Tidak dijelaskan, Ally akhirnya menuju ke mana, namun saya mencatat sepertinya Ally menuju ke Los Altos Hill, karena di dalam rumahnya, ia mendapati banyak scrapbook ibunya. Alangkah baiknya bila dijelaskan dengan seperangkat kalimat, seperti ... "Akhirnya kuputuskan menuju Los Altos Hill.. ...". Kemudian, saya mencatat bahwa saat ia menuju ke sana hingga beberapa bab setelahnya, tidak ditemui adanya percakapan ataupun narasi bahwa Ally bercakap-cakap dengan orangtuanya, bahkan hingga ia memutuskan menjalin persahabatan dengan Kevin, tidak dijumpai adanya personal persepsi keluarga Ally mengenai hubungan tersebut. Padahal Ally menceritakan detail mengenai keluarga Kevin. Dari orangtua, saudaranya, hingga neneknya, bahkan personal persepsi keluarga mengenai perkenalannya dengan Kevin. Namun demikian, akhir cerita yang tidak terduga serta kejadian "saat ketidakberadaan" berikut2nya yang menegangkan, menjadikan pembaca harus cukup intens mencatat peristiwa demi peristiwa yang terjadi. Kelainan kejiwaan yang dialami Ally, seperti idiopathy selective amnesia dan multiple personality disorder, merupakan hal yang menarik, di mana keadaan tersebut memberikan realita (walaupun dalam bentuk fiksi) bahwa ada banyak orang yang mengalami gangguan mental (kejiwaan) di sekitar kita yang tidak membahayakan orang lain, tetapi membahayakan si penderitanya. Dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa si pengarang telah mengadakan survey sebelum mengarang cerita ini. Oleh karena itu, saya memberikan bintang 3 untuk novel ini. Untuk cover, fortunately saya memang bukan pembaca yang judge the book by its cover, so don't worry author , about it ;)
Sejauh ini, novel ini menarik karena mengangkat mengenai filsafat hidup, dimensi kehidupan lain (quantum leap), bahkan kelainan kejiwaan yang mungkin dialami oleh tokoh utamanya. Acung jempol untuk Arleen,. Semoga semakin banyak novel filsafat psikologi dan kejiwaan seperti ini di lain waktu.
Saya memilih buku ini di antara sekian banyak tumpukan buku yang belum saya baca karena sinopsisnya yang bikin penasaran. Pasti ada penjelasan bagus mengenai kehidupan aneh Ally.
Ally punya kelainan. Ia menyebutnya Saat Ketidakberadaan. Tanpa bisa diprediksi, segala hal di sekelilingnya tiba-tiba menghilang dan saat semuanya kembali normal, pasti ada yang lain dari hidupnya. Mendapatkan adik kecil padahal sebelumnya dia anak tunggal, menemukan pacarnya tidak ada di dunia ini sama sekali, menghadapi kematian adiknya yang ternyata sudah terjadi bertahun-tahun lalu padahal sedetik lalu ia baru berbicara dengan adiknya itu, dan masih banyak lagi. Ally terus berusaha mencari jawaban atas penyakitnya itu walaupun semua psikiater menganggapnya normal.
Saya percaya dengan teori di buku ini, bahwa semesta memiliki banyak versi kehidupan. Saat kita dihadapkan ke dalam dua pilihan dan memilih salah satunya, semesta membagi dirinya ke dalam dua skenario: yang nyata (sesuai pilihan kita) dan yang tidak nyata (pilihan satunya yang tidak dipilih). Itulah yang dialami Ally. Dia bisa berpindah-pindah ke dalam setiap semestanya. Tapi apakah itu suatu keberuntungan? Jelas tidak. Kasusnya seperti mencintai seseorang yang divonis akan mati. Pilihannya cuma dua: mencintai sepenuh hati dalam batas waktu yang tersisa atau menutup diri supaya tidak sakit hati di akhir.
Kisah sederhana Ally ini membuat saya sedih sepanjang membacanya. Ia memang memiliki orang-orang baik yang menyayanginya, tapi saya tetap merasa hidupnya sepi dan dingin. Tapi saya kagum akan ketegaran Ally dalam menghadapinya. Dia menjalani hari-hari seperti biasa sekalipun hatinya hancur. Pokoknya bagi Ally, setiap hari adalah anugerah yang harus dijalani sebaik mungkin.
Mungkin keluhan saya sama buku ini cuma satu. Kenapa setting dan tokohnya orang luar? Sampai sekarang saya tetap tidak begitu sreg dengan novel lokal seperti itu. Saya tetap ingin mencari sisi Indonesianya atau apapun yang menandakan novel tersebut ditulis orang lokal. Kesan buku ini seperti novel luar dan mungkin saya tetap akan menganggapnya begitu kalau saja saya tidak membaca biografi penulisnya.
Dan satu keluhan lagi. Saya agak menyayangkan Ally tidak berakhir dengan Kevin. Entah kenapa saya lebih suka Kevin dibanding James. Mungkin karena Kevin muncul lebih dulu kali ya. Tapi itu bukan masalah sih. Setidaknya saya jadi tidak bisa menebak jalan ceritanya. Seperti Ally, saya juga deg-degan setiap kali Saat Ketidakberadaan datang. Saya penasaran apa lagi yang berubah dari kehidupan Ally dan hal baru apa yang ditemukannya kali ini.
Novel yang tidak biasa. Sangat bermakna dan bikin saya sedikit merenung tentang kehidupan. Saya bahkan menangis di beberapa bagian. Saya merekomendasikan buku ini buat semua orang yang suka fiksi filosofi ringan yang seru.
Ini merupakan buku pertama yang saya baca dari Arleen A. Dan cukup membuat saya tercengang dengan cara yang luar biasa akan karya penulis ini. Bagaimana tokoh utama dapat melakukan perpindahan dimensi secara tiba - tiba namun tidak mengetahui bagaimana cara mengendalikan hal tersebut. Melalui buku ini, kita akan diajak untuk mengetahui teori mengenai dunia paralel yang pernah dikemukakan seorang ilmuwan pada masanya. Dan bagaimana teori tersebut menjadi kenyataan bagi tokoh utama buku ini.
Ini menjadi salah satu buku favorit saya. Anda akan dibuat penasaran dengan kehidupan tokoh utama yang tidak menentu karena perpindahan dimensi dapat terjadi begitu saja dan tanpa diduga - duga. Membuat Anda menanti - nanti apa yang akan terjadi selanjutnya. Kisah yang benar - benar mengajarkan bagaimana setiap dekit dalam hidup kita harus dihargai.
Membaca novel ini seperti membaca novel terjemahan dari luar, apalagi dengan tema yang jauh berbeda dari biasanya. Cerita yang sangat menarik, dengan bahasa dan kalimat yang benar-benar bagus. Utamanya, novel ini membahas tentang many-worlds interpretation -dunia banyak-.
Ally dapat berpindah ke alam semesta lainnya disuatu saat tertentu, dia tidak akan pernah tau alam semesta apa tempatnya akan berpindah dan kapan hal tersebut akan terjadi. Dia berusaha kembali ke alam semesta yang diinginkannya, walaupun itu tidak bisa berhasil. Kemudian dia mencoba agar dia tetap berada di alam semesta tersebut tanpa harus berpindah-pindah lagi.
Apa yang akan kau lakukan saat kehidupanmu hanya sementara dan kau harus pergi sewaktu-waktu tanpa tau kapan akan kembali -atau tidak sama sekali-.
Sebelumnya nggak nyangka aku akan suka dengan buku ini. Aku suka dengan tema yg diangkat. Tentang parallel universe. Aku juga suka dengan romansanya yg sedikit dan tidak terlalu rumit. Hanya saja ada beberapa hal yg sebenarnya aku pertanyakan. Ingin rasanya tanya langsung ke penulis. Fyi, mbak Arleen adalah salah satu penulis buku anak favoritku. Aku suka dengan pesan2 moral yg diangkatnya di buku2 anak karangannya. Dan ternyata beliau berhasil menyisipkan pesan moral juga di novel ini. Ini jenis cerita yg akan membuat pembacanya tersadar akan banyak hal. Terutama terkait dengan keluarga dan pasangan. Hingga saat ini aku belum pernah kecewa dengan tulisan2 mbak Arleen.
Novel yang benar2 recommended! Entah kenapa ada yg kurang dari novel ini untuk saya beri bintang 5. Tapi tidak begitu jelas apa.
Yang saya tangkap dari buku ini setelah membaca dimana bab Kevin pertama kali pergi, ini adalah novel yang sedih, karena saat pertama kali Ally pergi dari kehidupan di mana Albert sudah meninggal dan Ally bertemu Kevin di perpustakaan, saat itu saya benar-benar menangis. Seolah-olah saya juga kehilangan Kevin. Begitu sedih. Ternyata lebih sedih saat James meninggal. Buku yang begitu menyentuh.
Tidak ada yang aneh dengan hidup Ally jika saja ia tidak mengalami Saat Ketidakberadaan—kondisi di mana tidak ada kegelapan juga tidak ada yang bisa dilihat, tidak ada udara sebagai perantara untuk berteriak tapi nyatanya ia masih sanggup bernafas. Ia tidak akan menaruh khawatir jika sensasi menggelitik seperti gigitan semut yang berlanjut pada Saat Ketidakberadaan itu tidak mengubah keseluruhan hidupnya. Pasalnya tiap kali hal itu terjadi satu-satunya hal yang ia ketahui adalah ia akan menjadi Ally yang lain.
Parallel universe. Dunia di mana pilihan-pilihan yang tidak kita pilih bekerja—yang mana berarti ribuan bahkan ratusan dimensi di antaranya. Dan anehnya Ally bisa melintasi antar-dimensi itu. Memasuki umurnya yang ke-10 adalah kali pertama ia mengalami “perjalanan antar-dimensi”. Saat itu ia sedang menemani Mama membuat kue kering di dapur dan tiba-tiba sensasi menggelitik menyerang lengan kirinya. Ally kecil berpikir seekor semut kecil berjalan di atas lengannya. Namun, tidak ada semut di sana. Tidak ada apa-apa di sana. Dan saat itu lah secara tiba-tiba semuanya hilang.
Saat kesadaran berangsur menguasainya, ia mengernyit heran karena Mama yang tadinya sedang memanggang kue kering berubah menjadi Mama yang memasak sup tomat dan makaroni. Hal yang membuatnya lebih terkejut adalah bahwa secara tiba-tiba ia mempunyai adik laki-laki bernama Albert padahal beberapa menit lalu ia seorang anak tunggal. Bagaimana mungkin secara tiba-tiba ia memiliki seorang adik berambut merah?
Karena keanehan itu, Mama dan Papa mencoba memeriksakan Ally ke psikiater. Setelah diperiksa ia didiagnosis menderita selective amnesia. Tapi Ally tahu bahwa ia lebih dari sekadar penderita selective amnesia karena Saat Ketidakberadaan itu terus berlanjut dan entah kapan ia mendapatkan kehidupan tetapnya.
***
Hal pertama yang patut diacungkan jempol adalah keberanian penulis mengangkat tema dunia paralel atau dunia banyak sebagai premisnya. Itu benar-benar juara sih--setidaknya menurut aku. Karena seperti yang diketahui, penulis harus pandai merangkai elemen-elemen dunia paralel agar mudah dimengerti pembaca dan mengantisipasi plot hole. Apalagi dimensi-dimensi yang menyertai parallel universe ini banyak. Poin plusnya penuturan parallel universe-nya dikemas dengan baik sekali—saya tetap nyambung dengan cerita.
Poin yang aku rasakan kurang adalah pembangunan dialog antar-tokoh yang kurang ada feel. Aku sama sekali enggak dapat emosi keduanya, terlalu flat. Mungkin juga karena dialognya memakai bahasa baku sehingga kesannya jadi kurang luwes. Aku juga merasa hubungan antar-tokoh terlalu buru-buru tanpa dijelaskan perkembangan hubungan mereka. Tahu-tahu aja sudah menjalin hubungan. Tidak ada karakter yang berkesan di benakku.
Ada bagian yang membuat aku mengernyit dan agaknya sikap Ally ini terlalu berlebihan saat Kevin memberikan hadiah pigura kepadanya dan itu dijadikan sebagai latar belakang pertengkaran besar mereka ((pertengkaran besar));
SO WHAT? Mungkin ini murni pendapat pribadi saja kali ya? Meskipun aku sudah “diberi” tahu bahwa Ally anti kado-pigura dengan alsan tidak terlalu berusaha, tidak cukup tahu banyak, tidak mengenal secara pribadi, bla, bla, bla. Aku tetap enggak mengerti apa maksud dia. LOL.
Tapi, kalian harus baca ini buat merasakan getir twist-nya! Ally diceritakan telah berpindah ke 7 kehidupan atau dimensi. Dan pada beberapa bagian tiap Ally pindah ke dimensi baru akan muncul tokoh baru dan jelas semakin banyak tokoh, konflik menjadi bercabang dan si Ally ini nggak tahu apa perbedaan di tiap dimensi, dan aku sebagai pembaca juga merasa diajak untuk ikut mencari apa perbedaannya; apa yang akan ditemukan Ally, apa yang akan terjadi dan ternyata boom! Plot twist-nya sukses meskipun beberapa agak maksa dan membuat saya kurang terima. HAHA. Cerita ini dikisahkan sampai Ally menjadi grandma dari sebelumnya ia adalah anak 10 tahun.
Saya membaca ini sebenarnya pas happening banget dengan rasa penasaran saya dengan galaksi yang saat ini bertambah lalu planet baru yang ditemukan. Jadi yah, 4 bintang!