Jump to ratings and reviews
Rate this book

Wajah di Palestina

Rate this book
Di tengah riuh ledakan dan auman tank di Gaza, Wajah di Palestina merangkai perjalanan panjang Goenawan Mohamad menelusuri tanah yang terus terkikis dari peta, tapi tak pernah hilang dari kata.

Dari Ramallah hingga Jerusalem, dari kamp pengungsi hingga lorong sejarah yang getir, buku ini memotret wajah-wajah Palestina—para penyair, pejuang, korban, dan pengkhianat—dengan mata seorang wartawan, telinga seorang pendengar, dan hati seorang penyair.

Dengan gaya yang jernih sekaligus menghunjam, Goenawan Mohamad menelisik propaganda, perang, pengusiran, dan puisi yang lahir di antara reruntuhan. Ia mengajak pembaca untuk melihat Palestina bukan sekadar sebagai konflik politik,

177 pages, Paperback

Published September 20, 2025

2 people are currently reading
3 people want to read

About the author

Goenawan Mohamad

110 books507 followers
Ia seorang jurnalis dan sastrawan yang kritis dan berwawasan luas. Tanpa lelah, ia memperjuangkan kebebasan berbicara dan berpikir melalui berbagai tulisan dan organisasi yang didirikan-nya. Tulisannya banyak mengangkat tema HAM, agama, demokrasi, korupsi, dan sebagainya. Seminggu sekali menulis kolom “Catatan Pinggir” di Majalah Tempo.

Pendiri dan mantan Pemimpin Redaksi Majalah Berita Tempo kelahiran Karangasem Batang, Pekalongan, Jawa Tengah, 29 Juli 1941, ini pada masa mudanya lebih dikenal sebagai seorang penyair. Ia ikut menandatangani Manifesto Kebudayaan 1964 yang mengakibatkannya dilarang menulis di berbagai media umum.

Ia juga pernah menjadi Nieman fellow di Universitas Harvard dan menerima penghargaan Louis Lyons Award untuk kategori Consience in Journalism dari Nieman Foundation, 1997. Secara teratur, selain menulis kolom Catatan Pinggir, ia juga menulis kolom untuk harian Mainichi Shimbun (Tokyo).

Ia menulis sejak berusia 17 tahun, dan dua tahun kemudian menerjemahkan puisi penyair wanita Amerika, Emily Dickinson. Sejak di kelas VI SD, ia mengaku menyenangi acara puisi siaran RRI. Kemudian, kakaknya yang dokter (Kartono Mohamad, mantan Ketua Umum PB IDI) ketika itu berlangganan majalah Kisah, asuhan H.B. Jassin. “Mbakyu saya juga ada yang menulis, entah di harian apa, di zaman Jepang,” tutur Goenawan.

Pada 1971, Goenawan bersama rekan-rekannya mendirikan Majalah Mingguan Tempo, sebuah majalah yang mengusung karakter jurnalisme majalah Time. Di sana ia banyak menulis kolom tentang agenda-agenda politik di Indonesia. Jiwa kritisnya membawanya untuk mengkritik rezim Soeharto yang pada waktu itu menekan pertumbuhan demokrasi di Indonesia. Tempo dianggap sebagai oposisi yang merugikan kepentingan pemerintah sehingga dihentikan penerbitannya pada 1994.

Goenawan Mohamad kemudian mendirikan Aliansi Jurnalis Independen (AJI), asosiasi jurnalis independen pertama di Indonesia. Ia juga turut mendirikan Institut Studi Arus Informasi (ISAI) yang bekerja mendokumentasikan kekerasan terhadap dunia pers Indonesia. ISAI juga memberikan pelatihan bagi para jurnalis tentang bagaimana membuat surat kabar yang profesional dan berbobot. Goenawan juga melakukan reorientasi terhadap majalah mingguan D&R, dari tabloid menjadi majalah politik.

Ketika Majalah Tempo kembali terbit setelah Pak Harto diturunkan pada 1998, berbagai perubahan dilakukan seperti perubahan jumlah halaman namun tetap mempertahankan mutunya. Tidak lama kemudian, Tempo memperluas usahanya dengan menerbitkan surat kabar harian bernama Koran Tempo.

Setelah terbit beberapa tahun, Koran Tempo menuai masalah. Pertengahan bulan Mei 2004, Pengadilan Negeri Jakarta Timur menghukum Goenawan Mohamad dan Koran Tempo untuk meminta maaf kepada Tomy Winata, (17/5/2004). Pernyataan Goenawan yang dimuat Koran Tempo pada 12-13 Maret 2003 dinilai telah melakukan pencemaran nama baik bos Arta Graha itu.

Goenawan yang biasa dipanggil Goen, mempelajari psikologi di Universitas Indonesia, mempelajari ilmu politik di Belgia dan menjadi Nieman Fellow di Harvard University, Amerika Serikat. Goenawan menikah dengan Widarti Djajadisastra dan memiliki dua anak.

Selama kurang lebih 30 tahun menekuni dunia pers, Goenawan menghasilkan berbagai karya yang sudah diterbitkan di antaranya kumpulan puisi dalam Parikesit (1969) dan Interlude (1971), yang diterjemahkan ke bahasa Belanda, Inggris, Jepang, dan Prancis. Sebagian eseinya terhimpun dalam Potret Seorang Penyair Muda Sebagai Si Malin Kundang (1972), Seks, Sastra, dan Kita (1980), dan Catatan Pinggir (1982).

Hingga kini, Goenawan Mohamad banyak menghadiri konferensi baik sebagai pembicara, narasumber maupun peserta. Salah satunya, ia mengikuti konferensi yang diadakan di Gedung Putih pada 2001 dimana Bill Clinton dan Madeleine Albright menjadi tuan rumah.

(from tokohindonesia.com)

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
4 (57%)
4 stars
3 (42%)
3 stars
0 (0%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 3 of 3 reviews
Profile Image for Ahmad Kurnia.
51 reviews
November 5, 2025
Seperti tulisan-tulisannya di Catatan Pinggir, di Wajah Palestina ini, GM membawa narasi yang singkat nan padat. Masih sama pula, tulisan yang ada tidak dimaksudkan untuk menerangkan sesuatu yang bermuara pada persetujuan ataupun pertentangan. Lebih dari itu, tulisan singkat nan padat membawa pada perenungan: ada kompleksitas yang terjalin antara damai dan perang, antara sehat dan sakit, antara hitam dan putih, dan antara-antara lainnya.

"Di tengah kekejaman dan sinisme, mungkin hanya ini yang bisa kita harapkan: reruntuhan rumah-rumah penduduk, sekolah, rumah sakit yang hancur di Gaza itu bisa mengingatkan kita - tak hanya orang Yahudi dan Palestina - akan Musa," tutup GM di halaman 166.
1 review
February 27, 2026
Saya melihat bagaimana pandangan dan narasi Pak Goenawan Mohamad (GM) dalam buku ini begitu kritis, tidak semena-mena memvonis apalagi mendoktrin satu paham untuk ditanamkan dalam pemikiran/ideologi pembaca. Dalam fase-fase awal saya membaca buku ini, saya mengira sikap yang beliau tunjukkan dalam narasi-narasinya mencerminkan sifat netral beliau dalam memperkirakan siapa yang salah dan siapa yang benar, namun, seiring kata-kata dalam buku ini menghanyutkan saya ke halaman-halaman berikutnya; saya mulai paham bahwa beliau berpihak kepada sifat peri kemanusiaan di mana manusia secara individual atau kelompok tidak seharusnya membedakan manusia lain sebagai individu atau kaum yang selayaknya diusir, ditindas, dibunuh dan dibasmi dari muka bumi ini.

Hal lain yang saya sukai adalah ketika beliau menceritakan awal mula terbentuknya seorang penyair Palestina bernama Mahmoud Darwish dari penggusuran atau pengasingan paksa dari tanah kelahirannya sendiri, sesekali beliau (GM) akan mengutip satu atau dua bait puisi dari penyair itu yang menggambarkan rasa tentang keterasingannya dari kampung halamannya.

Tentu banyak hal lain yang tak dapat saya jelaskan di sini, termasuk bagaimana panggung maya seperti siaran televisi khususnya kartun untuk anak-anak menjadi panggung politik untuk menyudutkan satu bangsa atau bahkan menanamkan pemikiran anti terhadap suatu bangsa sehingga nantinya akan tumbuh pemikiran itu semakin besar seiring pesan-pesan seperti itu terus bergema di kepala anak-anak kita.

# Wajah di Palestina
# 26/2/2026 ~ 28/2/2026
# 4.5 / 5.0
Profile Image for Dimas Anggada.
50 reviews
December 26, 2025
Saya menikmati betul esai-esai yang dimuat di sini. Tak ada yang baru dari esainya, seperti di Palestina, kekerasan juga harapan, ada sejak lama. GM dalam buku ini, hanya berusaha mengingatkan kita, bahwa penjara, bisa berupa bentuk negara.

Agaknya, kita memang harus selalu curiga dengan segala wujud nasionalisme.
Displaying 1 - 3 of 3 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.