Bagi umat Hindu di Bali, tradisi mebanten atau memberikan sesaji merupakan aktivitas orang Bali hampir setiap harinya. Setiap selesai memasak, orang Bali yang beragama Hindu pasti mempersembahkan sebagian hasil masakannya kepada Tuhan. Persembahan ini dikenal sebagai banten saiban atau jotan .
Bagi Oka Rusmini, banten saiban pada hakikatnya bukan sesaji dalam bentuk materi, melainkan sesaji dalam arti rasa syukur yang harus dimiliki oleh setiap orang karena hari ini telah tersedia sepiring nasi untuk melanjutkan hidup.
Ditulis pada kurun 2008-2014, buku puisi Saiban berbicara banyak hal tentang cinta. Tentang hidup yang berdenyut. Hidup yang menawarkan banyak hal.
Buku puisi ini adalah semacam upacara tersendiri bagi Oka Rusmini. Suatu ungkapan rasa syukur yang tidak ada habisnya yang ia haturkan kepada Kosmis.
Oka Rusmini was born in Jakarta, July 11, 1967. She lives in Denpasar, Bali. She writes poetry, novel, and short story. Her published works are Monolog Pohon (1997), Tarian Bumi (2000), Sagra (2001), Kenanga (2003), Patiwangi (2003), Warna Kita (2007), Pandora (2008), Tempurung (2010), Akar Pule (2012), Saiban (2014). Her novel Tarian Bumi has been translated into foreign languages: Erdentanz (Deutsch edition, 2007), Jordens Dans (Svenska edition, 2009), Earth Dance (English edition, 2011), and La danza della terra (Italian edition, 2015). In the year 2002, she received the Best Poetry Award from Poetry Journal. In 2003, The Language Centre, Ministry of Education of the Republic of Indonesia, gave her the Literary Appreciation Award of Literary Works for her novel Tarian Bumi. In 2012, she received the Literary Appreciation Award from the Agency of Language Development and Cultivation, Ministry of Education of the Republic of Indonesia, and the South East Asian Write Award, Bangkok, Thailand, for her novel Tempurung. Her book of poems Saiban (2014) won the national literary award, “Kusala Sastra Khatulistiwa 2013-2014”. She was invited to national and international events, such as Literary Festival Winternachten in Den Haag, Amsterdam, Netherland (2003), Singapore Writer Festival (2011), and OZ Festival, Adelaide, Australia (2013). She was also invited as guest writer in Hamburg University Germany (2003).
Oka Rusmini can be contacted at Twitter: @okarus Email : tarianbumi@yahoo.com. Facebook Page: oka rusmini
Dibeli di Padang ketika mengunjunginya beberapa waktu lalu. Tidak berharap lebih pada buku ini selain nama pengarang yang tertera di sampulnya. Dari pengetahuanku yang sempit, aku hanya tahu kalau Oka Rusmini amat dekat dengan lokalitas dalam setiap karyanya.
Buku ini adalah kumpulan puisi. Tidak seperti buku kumpulan puisi lain, "Saiban" adalah satu-satunya judul yang tertoreh pada bukunya. Puisi-puisi yang terkumpul di dalamnya hanya dipisahkan dengan nomor urut. Ajaibnya, dari satu puisi ke puisi lainnya saling berkaitan dan memberikan alur yang menjadikannya seperti karya fiksi. Bedanya, tentu saja yang ini dituliskan dalam bentuk puisi. Sungguh indah!
Epilog yang terdapat di halaman pamungkas memberikan alasan kenapa Oka mengambil kata "Saiban" sebagai judul. Kata yang sulit ditemukan dalam kamus itu diambil dari sebuah persembahan dari masyarakat lokal Bali beragama Hindu, banten saiban. Sebuah ritual mempersembahkan sesaji kecil setiap habis masak.
Dan benar saja, buku ini amat kental dengan nuansa lokalitas adat Bali dan Hindu. Religiusitasnya begitu melekat. Secara keseluruhan, aku merasa buku ini menyimbolkan kesengsaraan sekaligus kedalaman rasa syukur. Walaupun, memang, butuh riset mendalam untuk menginterpretasikan setiap puisinya. Tapi, keindahan diksi dan rasa yang dibentuk Oka membuat buku ini patut dibaca. Tak heran buku ini menjadi pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa untuk kategori Puisi tahun 2013-2014.
Nggak nyesel deh jauh-jauh beli di Padang. Dan, kayaknya, cetakan yang ini sudah termasuk langka.
Saya nggak benar-benar bisa memahami seluruh isi puisi Oka Rusmini di buku ini, tapi saya harus akui pilihan kata Beliau pada puisi-puisinya benar-benar oke. Menghunjam ke dalam hati pembaca. Hehehe.
Saya suka puisi nomor 8 dan 9 tentang orang ketiga dalam hubungannya dengan pasangannya. Eh tapi setelah dibaca lagi sepertinya bukan tentang orang ketiga tapi tentang efek buruk medsos. :-) saya nggak tahu deh mana yang benar. Terus puisi nomor 22 tentang polusi, nomor 23 tentang efek buruk pariwisata, nomor 28 dan 29 tentang bayi dan ari-arinya, saya juga suka. Pilihan kata-katanya benar-benar unik dan tak terduga.
Walaupun saya harus akui juga sih, saya nggak yakin juga apakah yang saya pikirkan tentang arti puisi itu dan maksud Oka Rusmini tentang puisi itu memang sama. :-) Semoga sama. Hahaha. Gituuu....
Membaca buku puisi seperti memahami apa yang ada dalam kepala seseorang, sulit. Kadang dibutuhkan waktu untuk mengerti apa yang ingin disampaikan si penulis.
Saya harus mengulang ulang baca tiap kalimat yang ada dalam tiap puisi yang disajikan dalam buku ini, sungguh sulit buat saya untuk mengerti, yang ada bikin kening saya berkerut. Saya menyerah saja, untuk Saiban ini saya banyak gak ngertinya.
Masih kental dengan budaya hindu Balinya, Oka Rusmini membuatnya berjudul Saiban, sesaji yang biasa disiapkan setiap hari oleh orang Bali.
atas saran temen saya, saya mencoba membaca tiga buku sekaligus dalam satu kurun waktu; Putri Retno bergenre dongeng, Lampau bergenre teenlit dan Saiban yang dikategorikan sebagai buku Puisi
teman saya beranggapan kalau membaca banyak konflik dalam satu waktu akan melatih kemampuan berpikir saya dan membuat kepekaan dan daya konsentrasi bertambah. Dan saya akui, itu benar.
Ketika saya membaca Lampau lalu saya berhentikan setengah dan langsung berpindah ke Saiban, saya merasakan sedikit kengerian ketika saya mendapati tidak dapat mengerti hampir 1/3 dari isi buku ini. Tapi, begitu saya membacanya ulang, dan tidaklah salah benar Indonesia menobatkan Oka sebagai pemenang KSK.
Bagi umat Hindu di Bali, tradisi mebanten atau memberikan sesaji merupakan aktivitas orang Bali hampir setiap harinya. Setiap selesai memasak, orang Bali yang beagama Hindu pasti mempersembahkan sebagian kecil masakannya kepada Tuhan. Persembahan ini dikenal banten saiban atau jotan. Baten saiban merupakan sesaji kecil yang dipersembahkan setiap habis memasak oleh masayrakat Hindu Bali tiap hari.
Bagaimana penulis mampu menulis objek dengan detil yang menghadirkan nyawa dan menyederhanakan pengalaman namun tetap dengan kesan yang kuat adalah pengalaman membaca yang menarik.
puisi-puisi Oka Rusmini dalam Saiban memiliki kata-kata yang magis dan memikat. bahkan di beberapa puisi kita dihadapkan pada situasi yang menghadirkan tanya dan kemasygulan dan kegetiran dari 'aku', 'kau', bahkan tokoh lain yang ditulis sebagai sosok penting dalam pembangunan puisi-puisi itu. ritual dan tradisi yang direkam dalam beberapa puisi menghadirkan suasana yang berbeda dari puisi-puisi penyair Indonesia lainnya. agaknya penulisan Oka Rusmini, yang sederhana dan tidak ruwet tapi tetap memunculkan rasa keingintahuan pembaca, turut mempengaruhi bagaimana puisi-puisinya begitu menarik saat dibaca dan dimaknai.
Satu lagi buku puisi pemenang KSK yang begitu tipis. Tapi kualitas puis-puisinya tak perlu dipertanyakan lagi. Saya lebih banyak menemukan puisi cinta yang tidak cengeng,ibarat rahim yang suci tetapi menghadirkan berbagai makna sastrawi.
Jujur, ini cantik banget. Terlepas dari lokalitas Bali yang selalu diusung Oka Rusmini, diksi yang digunakan adalah tipikal diksi yang nggak bisa dipahami dalam sekali duduk. Untuk satu judul saya perlu beberapa menit dan sesi untuk memahami maksudnya.
baru beli kemarin dan sudah khatam hari ini. suka karena beralur dan lokalitasnya dapet. lagi-lagi... Oka Rusmini memang bukan tipe penulis yang ikut arus, ia pembuat arus.