Jadilah kata-kata yang saling merekat, mempertemukan dan menghubungkan kalimat-kalimat, tanpa mempersoalkan arti, karena kelak di sanalah kautemukan alam baru, yang mempersatukan kau dan dia.
Kau dan dia, melebur dalam keindahan, segalanya pun berpijar, terciptalah semua debar, degup, gemuruh, yang melenyapkan batas dan antara, hanya ada nyawa yang saling mencari dan merengkuh. Duka, bahagia, benci, cemburu, luka, tawa, bergulung sebagai kekuatan yang tak memisahkan.
Dan karena cinta tak cukup lagi menjadi daya, kau pun memilih tempat yang tak berwaktu, hidup di dalam puisi-puisi.
Dia yang menuangkan semua ini bagimu, dengan tinta yang terlahir dari tatapanmu, dekapanmu, kerinduanmu….
Andrei Aksana pertama kali memulai debutnya sebagai penulis novel di tahun 1992, dengan meluncurkan Mengukir Mimpi Terlalu Pagi. Ia adalah cucu pujangga Sanoesi Pane dan Armijn Pane, dan merupakan anak kedua novelis Nina Pane dan Jopie Boediarto. Kakek buyutnya adalah Sultan Pangurabaan Pane, pendiri surat kabar Surya di Tapanuli, penulis roman Tolbok Haleon, dan pengelola kelompok musik tradisional uning-ungingan. Ketika dianggap jadi penulis hanya bermodalkan faktor keturunan, ia berkomentar, "Buat saya, bakat hanya 1%, selebihnya adalah kerja keras dan keringat." Lelaki kelahiran 19 Januari ini memang lekat dengan dunia seni sejak kanak-kanak. Puisi pertamanya dimuat di majalah Zaman, sedangkan cerpen pertamanya dimuat di majalah Kawanku. Selain itu ia selalu menyabet penghargaan untul lomba baca puisi dan lomba menyanyi. Setelah menerbitkan novel perdananya pria lajang ini absen cukup lama karena serius menekuni kuliah-kuliah di Universitas Udaya, hingga lulus menjadi Sarjana Seni, Desain Grafis. Come backnya ditandai dengan novel berjudul Abadilah Cinta, yang menjadi fenomena sejarah pembukuan di Indonesia. Novel pertama di dunia yang memiliki soundtrack, dan berhasil dicetak ulang dalam waktu 5 hari! dan sang penulis sendiri yang menyanyikannya. Kesuksesan ini langsung disusul dengan novel berikutnya Cinta Penuh Air Mata yang mengusung konsep karya multidimensi Novel Soundtrack Video klip. Novel ini berdasarkan kisah nyata yang dituturkan oleh selebriti terkemuka, dan sebelumnya belum pernah diungkap atau dipublikasikan di media massa. "Saya punya misi idealis, dan akan melakukan terhadap buku. Karena membaca memperkaya imajinasi, sehingga bisa melahirkan generasi yang kreatif. Di tengah kesibukannya sebagai marketing director di perusahaan retail internasional, ia tetap menyempatkan diri untuk menulis. Bahkan lelaki yang mahir berbahasa Perancis ini dipercaya menjadi dewan juri Festival Sinema Prancis 2003.
Puisi-puisi mendayu, namun tak mampu merayuku. Mungkin butuh lebih dari aku dan kamu; milikku milikku; telingaku telingamu; tangisku tangismu; rinduku rindumu; cintaku cintamu. . .. .. ...
Yang pergi hanyalah sunyi Dirimu tidak Meski tak lagi hadir Masih di sini Sebagai isi hati. (Hal.138, dalam bab Senyawa Sunyi) . . . Se.nya.wa: bersatu padu
❤ Senyawa merupakan karya kak Andrei Aksana yang menyajikan kumpulan puisi indah yang berbeda di setiap bab. Dan karena buku ini saya ingin segera membaca karya kak Andrei yang lainnya.
❤ Selama membaca,saya membayangkan perasaan cinta yang dalam dari seorang manusia kepada yang dia cinta. Berbagai perasaan seperti tumpah ruah dalam tiap bait puisinya dan begitu selesai membaca saya berharap di waktu yang tepat akan bertemu seseorang yang mencintai dengan begitu dalam seperti kalimat dalam puisi-puisi di buku ini. Walaupun demikian, kedalaman makna serta interpretasi sesungguhnya, menurut saya hanya diketahui Allah SWT dan penulisnya.
❤ Beberapa puisi begitu menyentuh dan menjadi bahan refleksi saya untuk menyadari bahwa cinta memiliki sisi membahagiakan dan juga kesedihan terutama bila akhirnya salah satu masih bersedia mencintai orang yang mematahkan hatinya atau pergi dari hidupnya.
❤ Buku puisi yang berhasil mengaduk-aduk perasaan saya. Teman-teman penyuka buku puisi bisa coba membaca buku ini.
Salah satu buku puisi yang kata-katanya familiar untuk saya. Menyerap maknanya jadi terasa mudah.
Di sini terdapat kumpulan puisi tentang senyawa, ada berbaris-baris puisi dalam satu sub-judul. Mulai dari bercerita tentang bagaimana ia mengagumi seseorang, ia yang mencintai orang itu, mereka yang bahagia, hingga tentang patah hatinya dan ia yang bukan satu-satunya.
Awal-awal membaca saya langsung disuguhkan dengan larik-larik manis yang bikin tersenyum, tetapi semakin lembarannya saya merasa miris karena penderitaan dalam setiap aksaranya.
Saya suka bagaimana penulis menyampaikan makna dari setiap inti puisinya tanpa berbelit-belit, penulis juga memaparkan puisi pendek pada setiap sub-judul.
Karena ini hanya terdiri kurang dari 200 halaman, maka untuk menyelesaikannya hanya butuh waktu beberapa jam, kebetulan saya bacanya setelah sahur, lalu lanjut di pagi hari.
Ini salah satu kutipan favorit saya, singkat tapi dalam; "Jangan jadikan aku tetapi Biar aku menjadi hanya" (Hal: 152)
This entire review has been hidden because of spoilers.
ga tahan kalau harus baca selembarselembar halamannya, maafkan.
mas Andrei bikin novel aja, yg ada puisi singkat atau quotes cinta di dalalemnya kaya Angin Bersyair, lebih cocok dan pas kalau puisi singkatnya ada dalam bagian cerita panjang. kalau bikin antalogi puisi, apalagi yang penuh sehalaman puisinya, maafkan standard anak gaul yang nyastra(?) bahasanya, mungkin maksudnya ingin puisi yang jujur dan gamblang, tapi terlalu biasa. kalau pangsa pasarnya macam pembaca SDD, Rendra, Taufik Ismail yaa jauh :)
"ribuan kata yang kutulis terhenti di matamu Aku tak perlu berpuisi lagi" (hal. 24)
Ini buku pertama dari Andrei Aksana yang pernah saya baca. Hampir di setiap halaman saya meringis. Rasanya seperti membaca puisi karangan anak SMP yang baru pertama kali merasakan cinta monyet. Gombalnya melangit tapi jarang ketemu bait yang ada maknanya. Mungkin seharusnya Andrei Aksana menuruti kata2nya sendiri. Buku kumpulan puisi ini seharusnya tak pernah diterbitkan.
Menurut pendapat pribadi, gaya berbahasa dan penyampaian 'rasa' di buku ini kurang sejiwa dengan karakter saya. Tapi pemilihan judul "Senyawa" sekaligus sebagai rangkaian penghubung dalam buku ini cukup menarik. Ada beberapa bagian puisi Senyawa yang menempel di kepala..