Jump to ratings and reviews
Rate this book

Hidup Bersama Laut

Rate this book
Laut memberi kehidupan, tetapi manusia membuang sampah dan limbah tambang ke lautan. Laut bukan sepotong senja yang indah atau puisi romantis yang ditulis oleh seorang penyair. Buku Hidup Bersama Laut menawarkan pada kita untuk keluar dari romantisme laut dan berhenti memunggungi berbagai persoalan masyarakat pesisir yang hampir seluruh hidupnya bersandar dari dan dengan laut.

Safar Nurhan yang lahir dan tumbuh di lingkungan keluarga Bajo di Banggai Laut menelisik berbagai narasi tentang laut dari cerita-cerita masa kecilnya, dari buku-buku dan penulis tentang laut yang dibacanya. Kita akan diajak mengarungi sejarah bajak laut, gastrokolonialisme di balik sepiring nasi, dan narasi tentang “Indonesia Timur”. Esai-esainya terasa begitu personal, tetapi di saat yang sama dapat begitu dekat dan akrab. Laut mungkin tidak bercerita, tetapi Safar Nurhan menuliskannya.

130 pages, Paperback

Published November 1, 2025

Loading...
Loading...

About the author

Safar Nurhan

5 books6 followers
Safar Nurhan lahir di Banggai Laut, Sulawesi Tengah. Sekarang tinggal di Jakarta Timur.

Buku terbaru Hidup Bersama Laut (2025)

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
2 (12%)
4 stars
8 (50%)
3 stars
6 (37%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 5 of 5 reviews
Profile Image for Alfin Rizal.
Author 10 books53 followers
December 27, 2025
Baru sempet buka gooderads dan update bacaan tahun ini setelah berbulan-bulan. Oke, ini buku terbarunya sahabat saya, Safar Nurhan.

Rasanya agak mengharukan mengingat perjalanan sebagian naskahnya. Saya pertama kali membaca draft esai-esainya pada pertengahan 2022—tema laut lagi, pikir saya waktu itu. Tapi Safar selalu punya cara membuat laut terasa baru. Dari kumpulan cerpen, novel, hingga kini kumpulan esainya. Awal 2023 ia cerita telah mengirimkan naskah hasil suntingan itu ke penerbit. Saya menunggu terbitnya buku itu dengan antusias, sambil tetap berkabar soal pekerjaan, karya, dan tentu saja gosip perbukuan—seperti yang selama ini kami lakukan. Lalu dua tahun lewat begitu saja tanpa kabar kelanjutannya.

Namun, dua tahun berlalu begitu saja. Calon buku itu menguap dari obrolan kami. Hingga awal Oktober lalu, Safar tiba-tiba mengabari: naskah ini akan ia terbitkan secara mandiri, dan ia meminta saya merancang sampulnya. Ia sudah menambah esai, merapikan ulang struktur, dan memadatkan isinya. Saya langsung mengiyakan. Kami mengadakan rapat kecil pracetak bersama teman-teman—dan hari ini, dua bulan kemudian, buku Hidup Bersama Laut benar-benar lahir dan telah tersebar ke banyak pembaca. Alhamdulillah.

Aku sungguh senang terlibat dalam proses terbitnya buku ini. Sebagai perancang sampul maupun teman bergosipnya, aku merekomendasikan buku yang dikerjakan dengan sungguh-sungguh oleh Safar Nurhan sebagai penulis mandiri ini. Safar akhirnya mengurus semuanya sendiri, mulai dari biaya pra-cetak hingga distribusi.

Sebagai buku ketiga setelah Nelayan Itu Berhenti Melaut dan Sapa Bilang Pelaut Mata Keranjang, jelas sekali Safar tidak sedang “memilih tema laut” atau membranding diri sebagai si Paling Laut. Namun seperti judulnya, ia sedang hidup bersama laut. Dalam esai pembuka, Laut di Sekitar Teks, Safar menuliskannya terus terang: bahwa ia bukan ahli biota atau kartografer. Ia hanya seseorang yang dibentuk oleh laut sejak kecil. Makanya ingatannya tentang dugong, tuturuga, alergi keluarganya, perahu, dan suara ombak terasa sangat organik. Ia tidak berusaha terlihat cerdas atau berwawasan seluas laut sama sekali.

Tulisan-tulisannya di buku ini jadi terasa mengalir tanpa kehilangan ketajaman. Ketika ngomongin sejarah, Safar begitu santai sekaligus informatif. Dalam Mencari Bajak Laut, Safar menyingkap sejarah maritim melalui tokoh-tokoh seperti Sidi Mara, Robodoi, Tobelo-Galela, hingga Mindanao. Ia menulis mereka bukan sebagai sosok antagonis dari legenda, melainkan sebagai manusia yang didesak keadaan—perdagangan, kolonialisme, trauma, dan ketimpangan. Gaya bertuturnya membuat sejarah terasa seperti obrolan panjang di teras rumah, bukan berita arsip yang kering.

Atau coba baca esai Jangan Buang Sampah (Tambang) ke Laut. Di sini Safar mengaku pernah membuang sampah ke laut sejak kecil, menyaksikan praktik bom ikan dalam keluarganya, melihat nelayan kecil ditangkap sementara bos-bos besar yang berbeking dibiarkan. Lalu ia menautkan semuanya pada kerusakan yang kini terjadi di Weda, Halmahera, Kabaena, Buton, dan tentu saja Raja Ampat. Inilah bagian yang membuat buku ini penting: ia tidak hanya memetakan imajinasi laut, tetapi juga mengenali siapa saja yang dipaksa menanggung kehancurannya.

Begitulah. Terakhir, sekali lagi aku merekomendasikan buku ini untuk minimal segera dibeli. Bacanya bisa nanti-nanti. Baiklah, Far, kurasa itu saja. Aku ucapkan selamat untuk buku ketiganya, dan terima kasih atas transferannya.
Profile Image for Juinita Senduk.
124 reviews3 followers
February 13, 2026
Hidup Bersama Laut merupakan kumpulan esai tentang kehidupan yang berkaitan dengan laut. Safar menghabiskan masa kecilnya sebagai anak suku Bajo di sebuah desa di Banggai; keluarga dan lingkungan sosialnya bertumpu pada laut. Dari sudut pandang anak “laut”, ia menuliskan pengalaman sekaligus pemikirannya—sebagai orang pesisir yang tumbuh, lalu merantau, dan akhirnya melihat kampung halamannya dari jarak yang berbeda.

Buku ini terdiri dari 14 esai. Safar membuka dengan memaparkan asal-usul suku Bajo, lalu bergerak ke topik-topik lain: kenangan masa kecil di Banggai, perjumpaan sehari-hari dengan laut, hingga isu sosial dan budaya yang melekat pada kehidupan masyarakat pesisir.

Salah satu topik yang ia angkat adalah gastrokolonialisme—lebih spesifik, perubahan pola makan anak muda Banggai yang tidak lagi memakan ubi, melainkan beralih ke nasi. Safar membahasnya dari kacamata yang berbeda, terutama ketika ia tinggal di Pulau Jawa dan menerima stigma sebagai orang yang “terjajah” oleh nasi. Ia lalu membandingkannya dengan Papua, kepulauan Maluku, dan Nusa Tenggara, sembari menyebut bahwa di Sulawesi—khususnya Sulawesi Selatan—orang sudah makan nasi tanpa “disuruh” orang Eropa ataupun Soeharto (hal. 21). Esai ini terasa seperti pembelaan terhadap cap yang ia terima di tanah rantau.

Namun di titik ini, Safar sayangnya belum sepenuhnya jernih melihat bahwa bila membicarakan gastrokolonialisme, intervensi negara pun kerap bekerja sangat kuat—bukan hanya kolonialisme dalam pengertian klasik. Memang, Sulawesi Selatan dikenal sebagai salah satu lumbung padi Indonesia. Tetapi konsumsi karbohidrat di sana tidak sepenuhnya sama dengan di Pulau Jawa, yang bagi sebagian penduduknya seolah tidak punya sumber karbohidrat lain selain nasi.

Ada pula bagian yang menarik tentang gegar budaya sebagai anak Banggai yang merantau ke Pulau Jawa. Gegar yang dimaksud bukan semata soal kebiasaan, melainkan gegar bahasa. Saya membaca bagian ini dengan senyum simpul—kebetulan saya pun sering ditertawakan ketika menggunakan kata-kata yang hanya dipahami oleh daerah asal orang tua saya, Sulawesi Utara.

Terlepas dari beberapa esai yang kadang terasa seperti laporan pandangan mata—meski sudut pandang pribadi tetap hadir—Hidup Bersama Laut setidaknya menawarkan perspektif yang segar tentang kehidupan masyarakat pesisir dan pengalaman merantau.

Terutama esai “Mungkin Dia Kembali Lewat Laut …”, yang membuat saya menghela napas panjang.
Profile Image for Dortheaw.
56 reviews6 followers
December 12, 2025
Awalnya biasa saja tapi menjelang akhir, saya suka! Selamat kepada penulis, saya menikmati setiap pemikiran-pemikirannya meskipun singkat.
Profile Image for Putu Sastrawan.
Author 9 books18 followers
March 4, 2026
Buku pertama di Maret ini. Saya habiskan sekali duduk sambil jaga toko, bukunya tipis hanya 125 halaman, menyoal catatan personal penulisnya dan ragam hal seputar kehidupan laut. Membaca buku ini membuat saya semakin yakin dengan anggapan, buku yang layak diberi kesempatan untuk dibaca adalah buku yang ditulis dari penulis yang lahir, dekat dan memang hidup di dalam apa yang ditulisnya. Ada banyak sekali detail kecil perihal hidup masyarakat yang berdampingan dengan laut, yang saya baru ketahui, menambah banyak sekali hal dan trivia baru untuk saya, apalagi Safar adalah seorang yang lahir dari Bajo, menarik melihat dia mencoba mencari jejak sejarahnya. Gaya menulisnya sedikit seperti bentuk lisan, di beberapa bagian, itu sebab membacanya membuat kita seolah nongkrong bareng dia, ngobrol hal-hal soal laut, termasuk ingatan masa kecilnya. Namun di beberapa bagian ini bisa menyebabkan pengulangan misal di awal paragraf dia sudah menyebutkan inti dari satu hal, namun alih-alih langsung menjelaskan lengkap hal tersebut, dia sesekali menulis “Oke nanti saya akan jelaskan lebih lengkap di akhir bab ini.” Secara keseluruhan, cara penulisan dan sudut pandangnya melihat laut, patut diberi kesempatan untuk dibaca.

3.75/5
Displaying 1 - 5 of 5 reviews