Membentangkan ragam topik; dari proyek pengadaan bacaan Inpres, anak sebagai sang pembaca, buku anak terjemahan, fantasi dan proses kreatif, akses dan harga buku, produksi buku nasional, daya cipta penulis-ilustrator Indonesia, selera bacaan, ide pendirian wadah studi atau pengamatan bacaan anak Indonesia, sampai posisi cerita anak dalam sastra Indonesia, Dwianto Setyawan memang tidak hanya ulung menggarap fiksi. Terlihat dari esai-esai yang ditulis pada 1980-1990-an, ia menunjukkan keterlibatan dalam ekosistem perbukuan anak sebagai pemikir, pemerhati, maupun praktisi.
Bersamaan dengan diterbitkannya karya sastra anak dalam “Seri Klasik Semasa Kecil”—di antaranya Si Rejeki dan seri Sersan Grung-Grung—penerbit KPG pun ingin membuka ruang pembacaan kembali esai-esai Dwianto Setyawan. Meski sekian dekade berlalu, beberapa topik masih sangat relevan dan bertaut dengan kondisi perbukuan dan sastra anak hari ini. Dwianto melontarkan kritik yang terkadang terasa ‘mengusik’, tapi di balik itu selalu muncul harapan untuk situasi perbukuan anak yang lebih mekar.
Martinus Dwianto Setyawan. Born in Batu, Malang, on August 12, 1949. He was the elder brother of Rm. Sindhunata, who is also a writer.
Since 1972, he had been actively writing children’s stories, detective stories, fairy tales, adventure stories, and family stories. Starting in 1978, he wrote short stories, young adult novelettes, and novels. His works were widely published in Kompas, Gadis, Femina, Kartini, Anita, Bobo, Kawanku, Mode, and others.
In addition to those books, he greatly wanted to create illustrated storybooks and comics, but he felt he could not draw. Eventually, he collaborated with several illustrators, including Slamet Hendro Kusumo, Keo Budi Harijanto, and others. This collaboration produced many comics and illustrated stories (including advertising comics), which were published in book form or featured in newspapers, tabloids, and children’s magazines. This marked the beginning of the formation of DS Group, which later became known as DS Studio.
Aside from writing, he also managed children’s pages in the daily newspaper Surya Hoplaa (Surabaya), and gave talks about children’s reading at various events. He also conducted speaking tours at junior and senior high schools on writing and wall magazines in various cities such as Denpasar, Jember, Surabaya, Pasuruan, and Malang. In addition, he served as a mentor in training programs on writing children’s literature organized by the Book Center of the Ministry of Education and Culture at the Sawangan Training Center (Bogor).
In organizational activities, Dwianto was active in KPBA (Kelompok Pecinta Bacaan Anak / Children’s Reading Enthusiasts Group) and served on the board of INABBY (Indonesian Board on Books for Young People).
In 2000, he was appointed Executive Director at the Surya daily newspaper (Kompas Gramedia East Java). His busy involvement in the newspaper business caused his writing activities to gradually decline.
He received awards in writing competitions held by Gadis, Femina, and Kartini magazines. He also received several other honors in the field of literature.
He passed away in Malang on June 1, 2024, at the age of 75.
Sudah 3 tahun belakangan ini aku kerap memendam rasa kesal setiap kali mengisi sesi pembekalan calon penilai buku nonteks di Pusat Perbukuan.
Pasalnya, beberapa orang dewasa dengan gelar yang mentereng lupa rasanya menjadi anak-anak yang menikmati buku bacaan. Orang dewasa itu bersikeras kalau setiap buku (bahkan ini bukan buku teks pelajaran!) haruslah mengandung nilai moral. Alias, pembaca anak "dicekokin" what they consider as "value."
(Masih ingat dalam memoriku bagaimana orang-orang dewasa itu menilai buku Siapa yang Kentut dan Dik Buto Makan Rembulan sebagai bacaan yang "sesat" dan "tidak pantas")
Belum lagi perkara naskah bacaan yang diproduksi oleh AI. Lucu sekali. Mereka berharap anak-anak bisa menikmati bacaannya dan menjadi manusia dengan nilai luhur tetapi buku tersebut dibuat oleh mesin. Sorry to say but this is what I call "logic not found."
Aku berandai-andai, Melangkah ke Sastra Anak, sehimpun esai dari alm. Pak Dwianto ini sudah terbit saat aku pertama kali membantu Pusat Perbukuan untuk buku-buku nonteks. Apa yang dituliskan oleh beliau sejalan dengan yang aku percayai.
Buku anak tidak perlu muluk-muluk harus ba-bi-bu. "Godalah" anak-anak untuk mau menjajal aktivitas membaca dengan jalan cerita yang menarik dan ilustrasi yang memikat hati.
Pak Dwianto juga menyampaikan, ketika anak sudah punya minat baca, jagalah, rawatlah. Tapi perkara merawat ini juga jadi sulit ketika ketersediaan bacaan yang mengikuti perkembangan usia dan/atau kemampuan literasi anak ternyata sulit diakses. Di sinilah perlunya peran lingkungan perbukuan, termasuk Pemerintah. Alhamdulillah, saat ini SIBI dan juga beberapa organisasi literasi anak sudah mulai menyediakan bacaan berkualitas secara gratis.
Membaca sehimpun esai ini membuatku berefleksi betapa perjalanan literasi anak di Indonesia masih "mindhik-mindhik". Apalagi dengan pengiritan anggaran + berubahnya perpustakaan menjadi dapur.
Gara-gara buku ini, aku jadi ingin menulis esai juga.
Setelah menjelajah pameran Petak Umpet Sastra Anak yang mengangkat Dwianto Setyawan sebagai sosok utama di awal November 2025 lalu, saya akhirnya selesai menamatkan kumpulan esai beliau. Ditulis di tahun 1980an dan mayoritas dipublikasikan di Kompas, esai-esai ini ternyata masih memberikan banyak relevansi dengan dunia bacaan anak kita hari ini. Mulai tentang "pertarungan" karya lokal dengan terjemahan, bagaimana penulis memandang anak lewat karya, perlunya pengamat bacaan anak, penjualan buku anak, pentingnya pelajaran mengarang untuk anak-anak, hingga proyek Inpres pemerintah terkait pengadaan bacaan anak di masa lampau.
Tulisan Dwianto ringan dan fokus pada pesan, sehingga tak menyulitkan. Ini seperti mendengar seorang pengamat yang membagikan pandangannya di ruang kecil yang hangat. Namun esai-esai ini tetap memiliki urgensi untuk diketahui dengan keluasan dan kedalamannya, mengingat karena Dwianto merupakan seorang pengarang, pengamat, dan aktivis dalam pengembangan dunia bacaan anak di waktu yang sangat panjang.
Yang menarik, Dwianto juga kerap memberikan kritik sebagai refleksi bersama. Misalnya, di salah satu esainya ia menyentil tentang motif dan tanggung jawab pengarang bacaan anak. Baginya, motif seorang pengarang bacaan anak mestinya membuat buku untuk anak-anak, bukan sekadar usaha untung-untungan demi rezeki saja.
la juga menyorot tentang posisi pengarang dewasa yang kerap bercerita dengan looking down the child daripada menempatkan diri on horizontal level. Selain itu ia pun menyayangkan betapa minimnya pembicaraan serius tentang bacaan anak di masa itu oleh media dan para ahli yang menangani anak-anak.
Melengkapi pembaca dengan berbagai cara dalam memandang sosok Dwianto, di bagian akhir juga dicantumkan esai yang ditulis oleh adiknya, sastrawan Sindhunata. Juga esai ketika menjelajah jejak karya Dwianto oleh kritikus sastra anak, Setyaningsih dan esais Hanputro.
Menariknya, ilustrasi sampul buku ini pun dikonsep dan digarap menarik oleh Nai Rinaket. Jika kita melihat dari sampul belakang, akan ada sekelompok anak perempuan yang berlari menuju sampul depan. Di mana, ketika "sampai" di sampul depan, anak-anak itu berubah menjadi tokoh fantasi, seperti kurcaci, putri, naga, penyihir, dan sebagainya. Sampul ini membuat buku ini terasa "masa kini" meski esai Dwianto sudah lama ditulis dan diterbitkan.
"Lebih dari itu (buku anak penting) untuk ikut membentuk kepribadian seorang anak sesuai dengan moral, watak, dan kehidupan sosio-kultural suatu bangsa." -Dwianto Setyawan