Jump to ratings and reviews
Rate this book

Balada ng Bala

Rate this book
Maraming bagay na idinudulog at isinusubi ni Wiji sa kaniyang mga tula. Isa na rito ang pagnanais niyang maging bala. Alam iyon ng kaniyang mga naiwan. Alam din nila na nagtagumpay si Wiji sa bagay na iyon, bagaman nananatili pa rin ang mga pader (tembok) at bakod (pagar) na kailangang tibagin. Tulad ng tinuran ni Fitri (panganay na anak ni Wiji) sa kaniyang eponomyong tula na “Nagtagumpay kang Maging Bala” (Kau Berhasil Menjadi Peluru), nagtagumpay si Wiji na maging bala. Isang balang kumawala at tumalilis mula nguso ng baril bitbit ang kabataan, pangarap, at takot ng isang henerasyon. Isang balang walang-tigil at walang-mintis na aasinta, tutugis, babaon, at tatagos sa noo ng mga kaaway ng kalayaan, bayan, at imahinasyon.

— Mark Laurence D. Garcia at Amado Anthony G. Mendoza III, mula sa Introduksiyon ng mga patnugot at tagasalin

226 pages, Paperback

Published January 1, 2020

2 people want to read

About the author

Wiji Thukul

7 books130 followers
Wiji Thukul Wijaya lahir di Sala 24 Agustus 1963 sebagai anak tukang becak dari keluarga Katolik. Selepas SMP, selama kurang dari dua tahun dia belajar di sekolah Menengah Karawitan Indonesia, sampai putus sekolah pada 1980.

Di Solo, Thukul dibesarkan di kampung miskin yang sebagian besar penghuninya hidup dari menarik becak. Ketika itu bis kota mulai menguasai jalanan, mengakibatkan penderitaan yang berkepanjangan bagi para tukang becak yang penghasilannya semakin merosot. Rentenirpun telah menjadi pengunjung tetap yang kedatanganya selalu menggelisahkan para penghuni kampung.

Semenjak putus sekolah, Thukul mencari nafkah sendiri melalui berbagai pekerjaan tidak tetap. Dia pernah menjadi tukang koran, tukang semir mebel, maupun buruh harian. Selain itu dia pun membaca puisi secara ngamen keluar masuk kampung, kadang-kadang diiringi musik gamelan.

Keterlibatan Thukul dalam teater dan kesenian di Sala dan Jawa Tengah sangatlah luas. Dia pernah mengambil bagian dalam pembacaan puisi di Monumen Pers Surakarta, Pusat Kesenian Jawa Tengah, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Yayasan Hatta di Yogyakarta serta radio PTPN. Sajak-sajaknya secara teratur muncul di berbagai majalah dan surat kabar, dan pada tahun 1984 kumpulan sajaknya berjudul Puisi Pelo diterbitkan dalam bentuk stensilan oleh Taman Budaya Surakarta. Stensilan berikutnya Darman dan lain-lain telah pula diterbitkan, selain sajak-sajaknya pun muncul dalam Antologi 4 Penyair Solo. Kumpulan puisi Suara diproduksinya sendiri bulan Juli 1987 dalam bentuk fotokopi yang dikomentarinya: ”Aku sedang belajar untuk tidak tergantung pada lembaga-lembaga kesenian resmi.”

Awal 1990-an terlibat dalam Jaringan Kerja Kesenian Rakyat (JAKKER) yang menjadi anak organisasi Partai Rakyat Demokratik (PRD), partai independen yang didirikan oleh kaum muda dan mahasiswa sebagai partai oposisi rezim Orde Baru.

Tahun 1995 Thukul nyaris kehilangan penglihatannya akibat kebrutalan polisi saat ia memimpin pemogokan buruh-buruh tekstil Sritex. Pasca kerusuhan 27 Juli 1996, di mana PRD dikambinghitamkan sebagai biang kerusuhan oleh pemerintahan Orde Baru, Thukul bersama anggota-anggota sentral PRD harus bersembunyi. Kontak terakhir dengan rekan-rekannya masih terjalin pada 1998. Sejak itu keberadaannya tidak diketahui, dan Thukul dikategorikan sebagai "orang hilang", korban-korban penculikan pemerintahan militer Orde Baru.

Tahun 2002 Thukul secara in absentia menerima Yap Tiam Hien Award atas perjuangannya di bidang penegakan HAM.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
1 (100%)
4 stars
0 (0%)
3 stars
0 (0%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 of 1 review
Profile Image for Justin.
18 reviews
December 29, 2025
Nagtagumpay kang maging bala. Salamat sa panulaang ganito!
Displaying 1 of 1 review

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.