Jadi wartawan hebat kayak Dahlan Iskan itu, lho. Orang segan nanti
Ucapan sekaligus harapan sang Ibu itu selalu terpatri dalam pikiran Saptoto. Baginya bertemu seorang Dahlan Iskan adalah mimpi yang terkesan muluk-muluk, apalagi menjadi wartawan seperti beliau. Namun, seorang sahabat karib yang ditemuinya di kampus membawanya lebih dekat kepada idola ibundanya itu.
Adalah Kanday dan buntelan warisan ibundanya yang mendekatkannya sosok yang dikenal dengan wibawa dan ketegasannya itu. Dahlan Iskan pun menjadi bos dari bosnya bosnya bosnya. Perjuangan Dahlan Iskan saat membangun grup Jawa Pos pun memantapkan langkahnya untuk terus menulis dan menjadi wartawan andal. Semangat pantang menyerah menularinya, membuatnya pantang mundur dalam mengejar senyum Dahlan, yang kini menjadi idolanya.
Tasaro (akronim dari namanya, Taufik Saptoto Rohadi, belakangan menambahkan "GK", singkatan dari Gunung Kidul, pada pen-name nya) adalah lulusan jurusan Jurnalistik PPKP UNY, Yogyakarta, berkarier sebagai wartawan Jawa Pos Grup selama lima tahun (2000-2003 di Radar Bogor, 2003-2005 di Radar Bandung). Memutuskan berhenti menjadi wartawan setelah menempati posisi redaktur pelaksana di harian Radar Bandung dan memulai karier sebagai penulis sekaligus editor. Sebagai penyunting naskah, kini Tasaro memegang amanat kepala editor di Salamadani Publishing. Sedangkan sebagai penulis, Tasaro telah menerbitkan buku, dua di antaranya memeroleh penghargaan Adikarya Ikapi dan kategori novel terbaik; Di Serambi Mekkah (2006) dan O, Achilles (2007). Beberapa karya lain yang menjadi yang terbaik tingkat nasional antara lain: Wandu; novel terbaik FLP Award 2005, Mad Man Show; juara cerbung Femina 2006, Bubat (juara skenario Direktorat Film 2006), Kontes Kecantikan, Legalisasi Kemunafikan (penghargaan Menpora 2009), dan Galaksi Kinanthi (Karya Terpuji Anugerah Pena 2009). Cita-cita terbesarnya adalah menghabiskan waktu di rumah; menimang anak dan terus menulis buku.
Perjalanan, kadang harus dimulai dengan keterpaksaan. Meninggalkan satu takdir menuju takdir lainnya. Meninggalkan banyak nama dan berharap akan bertemu dengan nama-nama yang baru. ~Saptoto~
Kadang butuh waktu lama untuk menuntaskan penerbitkan sebuah trilogi. Lebih baik lambat dari pada tidak sama sekali Meski jeda cukup lama dibandingkan dengan buku terdahulu akhirnya terbit juga buku pamungkas dari Trilogi Novel Inspirasi Dahlan Iskan. Hal ini membuktikan penerbit cukup konsisten untuk menyelesaikan sebuah trilogi yang mereka terbitkan. Wujud sebuah komitmen untuk memanjakan pembaca.
Buku ini cukup menghibur. Akan tetapi, entah kenapa ada beberapa hal yang berbeda dari cara menulis Tasaro GK. Caranya bertutur agak beda dengan novel karyanya yang lain.
Jika diamati, buku ini nampak seperti biografi Dahlan Iskan yang dikisahkan seperti novel. Hanya saja tak melulu melalui Dahlan Iskan. Karena ada pula tokoh utama Saptoto (yang belakangan saya tahu) adalah nama lengkap dari Tasaro, Taufik Saptoto Rohadi. Sang penulis memang seorang mantan wartawan.
Saya agak dibuat penasaran ketika sudah muncul tokoh-tokoh yang berhubungan dengan anak Jawa Pos. Beberapa tokoh itu bahkan cukup dekat dengan saya (dan teman-teman).
Alwi Hamu, pendiri Fajar, sebagai teman karib Dahlan yang membantunya untuk meloloskan pendirian Kaltim Post. Ada pula Hazairin Sitepu, Direktur Radar Bogor. Lelaki satu ini kami kenal sebagai salah satu senior sesepuh di Lembaga Pers Mahasiswa, tempat saya juga banyak belajar.
Bacaan ini cukup ringan untuk diselesaikan meski ceritanya agak datar. Mungkin karena kisahnya seputar kewartawanan dan beberapa tokoh yang kedekatannya di Makassar (dan kami) cukup besar, maka saya dibuat penasaran untuk menamatkannya.
Buku ini merupakan salah satu seri dari Trilogi Inspirasi Dahlan Iskan. Edisi sebelumnya berjudul Sepatu Dahlan dan Surat Dahlan.
Dalam buku ini berkisah tentang Saptoto, anak seorang janda yang pensiunan guru SD. Ibu Saptoto mempunyai anak 11, namun hanya 9 yang hidup. Meski hanya mengandalkan pensiunan dan kerja serabutan, Ibu Saptoto bertekad harus mampu menyekolahkan anak-anaknya walau hidupnya harus irit dan sederhana. Ibu Saptoto ini merupakan penggemar setia tulisan koran Dahlan Iskan. Saptoto yang lulus SMA mencoba mendaftar UMPTN namun gagal. Dia akhirnya diterima di UNY dengan mengambil jurusan Jurnalistik. Di kampus itu dia berkenalan dengan Kanday, seorang pemuda Sunda yang berasal dari keluarga petani yang sederhana. Persahabatan yang erat timbul diantara mereka. Kanday yang punya minat kuat jadi wartawan, meminjam kliping koran Ibu Saptoto yang berisi tulisan-tulisan Dahlan Iskan. Kandaypun akhirnya jadi penggemar tulisan Dahlan Iskan.
Saptoto dan Kanday pun aktif dalam kegiatan kampus. Mereka aktif mengikuti Praktek Kerja Lapangan hingga mereka diterima magang kerja di Radar Bogor sebuah harian local milik grup Jawa Pos yang dikomandani Dahlan Iskan. Talenta dan keseriusan kerja mereka memikat pimpinan Radar Bogor hingga mereka diterima bekerja disana. Mereka kemudian merintis Radar Bandung dan Radar Bekasi. Namun Saptoto menyadari bahwa dia tidak cocok jadi wartawan sehingga dia mengundurkan diri dan ingin menjadi penulis lepas. Sedangkan Kanday yang ditinggalkannya, terus berusaha mengembangkan Radar Bekasi yang mulai naik prestasinya.
Perjalanan Saptoto ingin menjadi penulis lepas, membuatnya bertemu dengan seorang editor yang mempertemukannya dengan Dahlan Iskan. Dari pertemuan tersebut diungkap perjalanan Dahlan Iskan sewaktu menjadi wartawan. Dahlan Iskan menjadi popular sewaktu menjadi wartawan Tempo mengembangkan jurnalisme investigasi untuk mengupas kasus narapidana criminal Kusni Kasdut yang dihukum mati. Dia bisa menggali aspek-aspek manusiawi dari terhukum. Dahlan juga menggunakan investigasi untuk menampilkan kecelakaan Kapal Tampomas II yang terbakar dan tenggelam di Laut Masalembo pada awal tahun 1981. Tragedi Tampomas II tersebut merenggut nyawa ratusan orang. Dahlan berhasil mewawancarai korban dan para awak kapal Sangihe yang menjadi penyelamat dan telah berjuang mati-atian memberikan bantuan kepada para penumpang Tampomas II. Meski demikian dijumpai keputusasaan dari awak kapal Sangihe karena kondisi kapal Sangihe yang rusak membuat mereka tidak bisa optimal memberikan bantuan. Mereka hanya bisa terkesima dan menangis haru tak berdaya melihat korban bergelimpangan kepanasan dengan lolong kesakitan dan akhirnya tenggelam diterkam ombak laut Masalembo.
Perjalanan Dahlan Iskan kemudian bergerak ketika diberi tugas mengelola koran Jawa Pos yang diakuisisi Tempo. Perlahan-lahan Jawa Pos yang semula agak surut berhasil berkembang. Dari sisi jurnalistik, Dahlan belajar banyak sama wartawan senior tempo seperti Goenawan Moehammad. Dari sisi bisnis dia belajar banyak kepada Eric Samola yang merupakan pebisnis handal dan dekat dengan para politisi. Grup Jawa Pos makin berkembang dan mulai mengembangkan koran-koran local daerah seperti Radar Kaltim, Radar Bogor dll. Grup Jawa Pos akhirnya mendirikan Gedung Graha Pena di Surabaya sebagai monument tumbuh kembangnya Jawa Pos. Pada saat Jawa Pos mulai berkibar, Eric Samola terkena stroke hingga meninggal dunia. Meninggalnya “sang guru” membuat Dahlan Iskan naik ke tampuk pimpinan grup Jawa Pos, dengan tetap memegang tuntunan yang telah diberikan oleh Eric Samola.
Secara umum buku ini mudah dinikmati karena Bahasa yang sederhana dan alur yang agak runtut. Meski demikian terkesan buku ini sangat “mengkultuskan” sang tokoh utama yakni Dahlan Iskan. Hal ini agak terasa mengganggu karena terkesan Dahlan Iskan seperti Dewa dan bukan sosok manusia...Walau buku ini memiliki kekurangan, buku ini saya rekomendasikan untuk tetap dibaca karena ada nilai2 moral positif yang bisa petik hikmahnya.
Buku tasaro pertama yang saya baca. Itu sudah cukup membuat saya jatuh hati dengan tulisannya dan menyatakan Tasaro GK sebagai salah satu penulis favorit saya selain Fahd Djibran. Sebenarnya sudah cukup lama saya sedikit mengenal Tasaro. Melalui beberapa penggal tulisannya yang saya baca. Hingga penggalan-penggalan itu membuat saya penasaran untuk mencari buku-bukunya. Namun sayang, buku karya Mas Tasaro sama langkanya dengan buku karya Kang Fahd..
Sampai akhirnya, beberapa bulan yang lalu saya melihat buku ini di Gramedia. Begitu saya melihat judulnya saya langsung mengurungkan niat untuk membeli. "Kok tentang Dahlan sih?" pikir saya waktu itu. Namun, karena rasa penasaran saya akan tulisan Tasaro, saya pun membeli buku ini.. Dan ternyata. Buku ini keeeeereeen.. Memang benar pepatah lama yg bilang "don't judge a book by its cover". Jika dengan tema yang saya kurang tertarik saja, Tasaro bisa mengemas tulisannya dengan begitu indah dan berbobot. Bagaimana dengan bukunya yang lain yang temanya memang saya suka?
Ah, memang akan selalu beda nilainya. Sebuah tulisan yang terdapat hati penulis di dalamnya. Selalu mengena. Selalu indah. Selalu menginspirasi. Sukses selalu buat Mas Tasaro GK. Maaf apabila review kali ini lebih tentang tulisan Anda, bukan tentang isi cerita dalam buku Anda. Salam..
Setelah penantian lama trilogi Abah yang beredar gosip tidak akan terbit. Dan akhirnya dilanjutkan oleh Mas Tasaro. Setelah menunggu lama karena belum niat membaca buku ini akhirnya selesai juga membaca buku ini minggu lalu.
Cara Mas Tasaro menulis buku yang bisa dibilang biografi ini cukup unik. Biografi dituliskan dalam suatu narasi yang ciamik. Dua plot jalan cerita disajikan disini. Plot Abah Dahlan sebagai figur utama dan Saptoto beserta Kanday yang juga tokoh utama dalam plotnya masing-masing. Latar tempat yang ada di Yogyakarta khususnya di UNY dan UGM membawa saya flashback ke masa-masa kuliah.
Sebagai penutup trilogi yang awalnya saya ragukan, ternyata sangat membanggakan. Terimakasih Mas Tasaro telah menyelesaikan trilogi Abah Dahlan
"Perjalanan kadang harus dimulai dengan keterpaksaan. Meninggalkan satu takdir menuju takdir lainnya. Meninggalkan banyak nama dan berharap akan bertemu dengan nama-nama yang baru" hal 263. Berbeda dengan 2 buku pendahulunya (Sepatu Dahlan & Surat Dahlan) kali ini penulis menuliskan biografi yang tidak terlalu di novelisasi, dimana didalamnya (juga) terdapat cerita tentang 2 lelaki (Saptoto & Kanday) yang berbeda keinginan namun disatukan oleh sebuah nama "Dahlan Iskan". Kehadiran tokoh-tokoh tersebut justru menguatkan bahwa memang Dahlan Iskan memang patut dijadikan contoh hingga pembaca (saya) tidak terlalu merasa kebosanan dalan membaca dan mencerna setiap kejadian untuk dijadikan motivasi dari novel inspirasi kehidupan Dahlan Iskan ini.