“Saya melihat kebesaran ilmu di Barat, tetapi saya tidak melihat rohnya. Saya melihat roh itu di Timur, tapi ia tertidur dalam debu sejarah.” Buya Hamka, seorang ulama dan sasterawan terkemuka telah mengukir sejarah dengan perjalanan epiknya merentasi tiga benua: Afrika Utara, Asia dan Eropah.
Dengan wawasan mendalam dan refleksi yang tajam, Buya Hamka mengajak pembaca menelusuri jejak-jejak peradaban Islam yang kaya dan pelbagai.
Beliau mengajak kita untuk berjalan kembali — bukan dengan pesawat atau kereta, tetapi dengan jiwa yang resah mencari makna. Sebab di setiap langkahnya, Buya Hamka mengingatkan: dunia ini luas, namun yang lebih luas adalah ilmu, iman, dan harapan.
Perjalanannya mengajarkan bahawa Islam bukan warisan untuk dikenang, tetapi energi yang harus dihidupkan. Islam bukan sekadar masa lalu yang indah, tetapi masa depan yang harus diperjuangkan. Bagi Buya Hamka, kemunduran umat hanyalah peringatan, bukan akhir cerita.
Merentas Cahaya di Tiga Benua merupakan karya travelog monumental yang wajib dibaca seluruh peringkat umur untuk memahami sejarah, kebudayaan dan spiritualiti Islam.
Haji Abdul Malik Karim Amrullah, known as Hamka (born in Maninjau, West Sumatra February 17, 1908 - July 24, 1981) was a prominent Indonesian author, ulema and politician. His father, syekh Abdul Karim Amrullah, known as Haji Rasul, led and inspired the reform movement in Sumatra. In 1970's, Hamka was the leader of Majelis Ulama Indonesia, the biggest Muslim organizations in Indonesia beside Nahdlatul Ulama and Muhammadiyah. In the Dutch colonial era, Hamka was the chief editor of Indonesian magazines, such as Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat, and Gema Islam.