Jump to ratings and reviews
Rate this book

Twelve Pairs of Women's Heels

Rate this book
"Terkadang sepatu hak tinggi menjadi alat untuk memecah batas.”

Solaz adalah ruang yang terpisah dari dunia luar. Tempat itu dipenuhi sepatu-sepatu hak tinggi yang nyaris tidak mungkin ditemukan dalam ke­hidupan sehari-hari, menciptakan kesan yang agak tidak nyata. Para pelanggan datang membawa cerita mereka masing-masing. Ada yang memilih sepatu demi cinta, ada yang melakukannya demi perpisahan, dan ada pula yang terjebak dalam kekacauan batin. Pemilik Solaz, Yoon Chan-kyung, menyebut dirinya “sommelier sepatu”. Dengan membaca kondisi psikologis pelanggannya, ia akan mere­ko­men­dasikan sepatu yang paling cocok untuk mereka. Namun, lebih daripada itu, nyatanya ia membantu pelanggannya memperbarui diri mereka dalam momen-momen paling menen­tukan dalam hidup.

144 pages, Paperback

Published December 1, 2025

Loading...
Loading...

About the author

Kim Yi-eun

1 book

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
3 (23%)
4 stars
6 (46%)
3 stars
4 (30%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 4 of 4 reviews
Profile Image for aynsrtn.
604 reviews24 followers
December 9, 2025
"Aku sempat berpikir untuk memakai sepasang sepatu baru tiap bulan, bertemu pria yang berbeda, lalu menginjaknya dengan hak sepatu itu. Karena itu, tadinya aku ingin menamai tempat ini 'Wanita dengan 12 Pasang Sepatu'. Aku ingin memberi pelajaran kepada para lelaki agar tidak hidup sembarangan lagi." (p.47)

Solaz adalah sebuah toko sepatu milik Yoon Chan-Kyung yang memilihkan sepatu sesuai dengan mood pelanggannya. Jika ingin berkunjung ke Solaz harus membuat reservasi terlebih dahulu. Chan-kyung tak hanya memilihkan sepatu untuk pelanggannya, tetapi juga mendengar cerita dan permasalahan cinta mereka.

Dalam buku ini terdapat 4 cerita, 4 wanita, dan 4 tujuan yang berbeda dalam membeli sepatu baru. Ada yang membeli sepatu agar hubungan ranjang dengan suaminya semakin mesra (ada section “fetish” di mana ada pelanggan yang membeli sepatu, ya … untuk mengeluarkan gejolak seksualnya). Ada yang membeli sepatu untuk putus dari hubungan beracun. Ada yang membeli sepatu untuk pergi bersama selingkuhannya (tidak untuk diromantisasi). Dan ada yang sepatu untuk balas dendam.

“Kalau dipikir lagi, sepatu hak tinggi bagaikan sepatu yang punya tujuan. Kita jadi tahu dengan jelas alasan kita memakai sepatu hak tinggi.” (p.13)

Yang aku suka dari buku ini adalah bagaimana karakter Yoon Chan-kyung sebagai pemilik toko sepatu Solaz mendukung para wanita yang datang ke tokonya—dalam setiap situasi yang berbeda. Definisi woman support woman. Selain menjadi ajang curhat dan kontemplasi tentang cinta, buku ini pun menjelaskan dengan sangat apik tentang filosofi sepatu, sejarah sepatu, jenis-jenis sepatu, dan makna hidup yang dikaitkan dengan sepatu (shout out untuk penerjemahnya yang menuliskan catatan kaki yang begitu terperinci).

Ketika hatimu terasa tertusuk oleh sesuatu yang tajam atau ketika kau ingin menghancurkan sesuatu dengan benda tajam itu. Sepatu yang indahnya bisa membuat mabuk, tapi itu seolah-olah bisa menjatuhkanmu dan melukaimu dalam-dalam. (p.83)

Karena cantik. Sepatunya sangat cantik, jadi mana mungkin aku tidak memakainya?" Mungkin sepatu hak tinggi itu sama dengan cinta. Sama-sama indah, tapi menyakitkan. (p.97)

Aku membaca catatan penulis dan dia menulis buku ini dengan intensi sebagai novel romansa. Dan menurutku ini unik. Bahwa perihal cinta, tidak melulu tentang akhir yang bahagia. Ada yang belajar melepaskan cinta yang menyakiti, ada belajar untuk berdamai dengan dendam, ada mencari kebahagiaan meski itu harus egois. Tidak pernah aku menduga bahwa semua hal tersebut bermula dari sepatu apa yang dikenakan. Sepatu sebagai “perayaan”.

Cerita yang paling aku sukai, tentu saja cerita yang keempat. Satu-satunya pelanggan laki-laki yang diceritakan dalam buku ini. Dia membelikan sepatu untuk sang mantan istri. Sepatu itu diterima, namun cintanya akan tetap selalu ditolak.

"Cintamu itu akan selalu ditolak selamanya. Itu adalah balas dendamku. Lalu kalau bisa, jangan bahagia untuk seterusnya." (p.134)

GIRL!!! 🔥 Jangan main-main dengan wanita yang sakit hati. Dia bisa saja meluapkannya dengan membuat toko sepatu 🙂

Akhir kata, buku ini sangat bagusssss. Hanya 140 halaman, namun begitu sangat padat karya. Bukan hanya sebatas novel romansa, tetapi kaya akan filosofi kehidupan—terutama tentang sepatu.

🌹 4.5 bintang untuk “aku mencintaimu”, lalu dijawab, “pffft.”
Profile Image for RirinG.
37 reviews
February 11, 2026
Sekilas dari covernya, buku ini terlihat seperti cerita ringan tentang wanita dan heels. Tapi setelah dibaca, ternyata ceritanya jauh lebih dalam dari itu.

Novel ini terdiri dari empat bab, dan tiap bab mengangkat kisah kehidupan cinta wanita yang berbeda. Heels hadir bukan sekadar aksesoris, tetapi menjadi simbol cara wanita mengekspresikan dirinya dalam relasi dan keputusan hidup.

Ada wanita yang menggunakan heels sebagai media pemersatu hubungannya dengan sang suami.
Ada yang memilih heels sesuai seleranya sendiri sebagai tanda perpisahan dari hubungan toxic yang selama ini ia jalani. Ada pula yang menggunakan heels sebagai bagian dari perselingkuhan.
Dan wanita terakhir menjadikan heels sebagai penanda balas dendam.

Bukunya tipis, tetapi ceritanya padat. Yang menarik, penulis menyertakan catatan kaki yang sangat membantu pembaca memahami makna kata, konteks, bahkan sejarah penggunaan istilah tertentu. Detailnya terasa niat dan memperkaya pengalaman membaca.

Saat membaca buku ini, aku bahkan sampai browsing jenis sepatu yang disebutkan. Dari situ aku mendapatkan perspektif baru: heels yang selama ini kita anggap hanya berfungsi untuk menambah tinggi badan, ternyata memiliki makna yang berbeda bagi setiap wanita. Jenis heels, warna, dan momen saat digunakan bisa berdampak pada bagaimana seorang wanita memaknai dirinya sendiri.

Buku ini cocok dibaca di akhir pekan atau saat liburan. Ceritanya tidak panjang, tetapi realistis. Karena pada akhirnya, tidak semua kisah cinta harus berakhir bahagia untuk terasa nyata dan relevan bagi setiap individu.
Profile Image for Pauline Destinugrainy.
Author 1 book276 followers
May 28, 2026
Sebuah toko sepatu bernama Solaz khusus menjual sepatu hak tinggi (heels). Pemiliknya, Yoon Chan-kyung, satu-satunya yang melayani pembeli. Pembeli yang datang pun harus melakukan reservasi, dan hanya dilayani satu orang saja per sesi. Chan-kyung akan melakukan penilaian psikologis lewat penampilan pembelinya maupun lewat percakapan mereka, lalu menawarkan sepatu yang sesuai.

Ada 4 orang yang datang ke toko itu dalam novel ini. Yang pertama, seorang istri yang mendapati suaminya memiliki fetish terhadap sepatunya. Setelah lama menikah, sang istri ini memutuskan untuk membeli sepatu yang bisa memuaskan suaminya. Yang kedua, seorang perempuan yang menjalani hubungan yang toksik dengan seorang pria. Dia ingin membeli sepatu hal tinggi untuk mengembalikan kepercayaan dirinya dan memutuskan pria itu. Yang ketiga, seorang pelanggan wanita yang ingin membeli sepatu untuk pergi bersama selingkuhannya. Yang keempat, seorang pria yang mau membelikan sepatu untuk mantannya dan mengajak mantannya untuk kembali.

Sepatu ternyata memiliki bahasanya sendiri. Sepatu dengan hak tinggi seringkali menjadi lambang seksualitas, menunjukkan kekuasaan, dan juga semangat. Setiap heels memberikan efek yang berbeda bagi pemakainya. Novel (atau novella) ini tidak panjang, kurang dari 200 halaman. Namun cukup menyenangkan untuk dibaca karena menambah pengetahuai juga.
Profile Image for MAULIA.
45 reviews1 follower
February 19, 2026
Buku ini sangat cocok untuk dibaca para perempuan. Benar benar bisa memberi point of view tentang cinta dari seorang perempuan. Tentang arti sepatu yang cantik bagi kehidupan seorang perempuan.

Tapi baca ini memang harus pelan pelan agar lebih mudah dipahami setiap quote indahnya.

Terdiri dari 4 kisah wanita termasuk Yoon Chan Kyung, sang pemilik dari toko Solaz ini.
Displaying 1 - 4 of 4 reviews