Hidup adalah udunan; sehebat apa pun kita dalam satu hal, kita akan selalu membutuhkan orang lain untuk mewujudkan sebuah ide dan gagasan sebaik apa pun. Mengapa? Sebab sekarang bukanlah zamannya mengubah dunia sendirian, tapi zamannya mengubah dunia bareng-bareng.
Dalam buku ini, Ridwan Kamil, seorang arsitek muda yang menjadi orang Indonesia pertama yang menerima Urban Leadership Award dari University of Pennsylvania, Amerika Serikat, menuliskan sejumlah ide dan gagasan cerdasnya tentang Indonesia yang lebih baik; going green, EnerBike, Indonesia Berkebun, urban architecture, dan yang lainnya. Tentu saja, buku ini juga semakin menegaskan cita-citanya untuk menjadikan kota-kota di Indonesia, khususnya Bandung, sebagai livable city dan kota juara.
Membaca buku ini akan menyadarkan kita bahwa hidup harus berkolaborasi, sebab ide akan menjelma harapan ketika dieksekusi dengan kolaborasi. Mari, membangun dunia bareng-bareng!
Musim panas tahun 2011 saya sedang di Syria, biasalah, belajar di luar negri. Liburan panjang membuat saya sering datang ke warnet dekat sekolah. Saya melihat video TEDx Jakarta di Youtube, saya sangat terkesan dengan presentasi Kang Emil. Dia punya karya-karya hebat, Sudah beberapa kali membantu negara-negara di dunia untuk mendesign kota, membuat Enerbike, mendirikan Indonesia Berkebun, dll.
"Wah, ini orang keren banget. Saya mesti ketemu dengan dia!"
Februari 2013, ketika saya bengong di kosan. Tiba-tiba ada pesan di inbox Facebook dari Kang Irfan AmaLee.
"Nan, Sibuk teu? Besok kita ke rumah Ridwan Kamil di Cipadung, Bandung. Kita akan wawancara dia untuk nulis biografi Ridwan Kamil"
Saya kaget. Apakah ini mimpi? atau jangan-jangan ini mimpi di dalam mimpi? Mustahil. Saya sangat ngefans pada Kang Emil dan saya punya kesempatan untuk bertemu dia bahkan menulis biografinya!
"Wah Asyik, saya akan ke Bandung kang!"
Kang Irfan AmaLee, saya, dan Zahra Shafiyah berkunjung ke rumah yang dibangun dari 10ribu botol kratindeng Dan singkat cerita buku ini pun jadi saudara-saudara.
Mengubah Dunia Bareng-Bareng. Buku ini sungguh padat dengan hal-hal yang inspiratif. Ini seriusan. Ketika kami wawancarai Kang Emil, satu malam itu penuh cerita lucu, seru, dan membuat kami punya semangat menggebu. Setelah mendengar segala cerita Kang Emil, saya merasa optimis terhadap nasib saya dan nasib bangsa.
Pokoknya, buku ini akan masuk ke dalam daftar 'buku yang wajib dibaca tahun 2015'
Penasaran dong gimana serunya kisah Walikota Bandung waktu SD? Bagaimana sih caranya punya ide kreatif dan banyak karya seperti Kang Emil? Kang Emil pernah merasa salah masuk jurusan di arsitektur ITB, eh taunya sekarang jadi Arsitek kelas dunia.
Kalau kamu pingin tahu lebih banyak. beli dan baca buku ini! Buku ini keren!
Cukup menyegarkan, di buku ini kita bisa lihat kisah-kisahnya Ridwan Kamil berikut suka dukanya dari mulai diputusin pacar, wafatnya sang Ayah, hingga perjuangan mendapatkan ibu Atalia. Bagian tersebut ada di bagian pertama, yang menurut saya jadi bagian yang paling hidup dari buku ini.
Tetapi ada beberapa hal yang mungkin cenderung terlalu bersifat teknis dan "arsitek" sekali, khususnya di bagian 2 dan 4. Saya berasa baca jurnal ilmiah mengenai arsitektur di beberapa tulisan bahkan.
Tapi banyak pandangan-pandangan menarik yang bisa didapat kok disini, seperti misalnya pandangan soal tata kota yang manusiawi, bentuk-bentuk bangunan yang tidak hanya sekadar memenuhi hasrat pribadi semata, hingga pandangan Ridwan Kamil soal potensi besar ekonomi kreatif. Disini juga ada pembedahan dan bahasan soal identitas kota, mengapa hal tersebut penting, lalu soal isu-isu dan permasalahan sosial seperti kurangnya interaksi publik, adanya sekat-sekat pembatas antar komunitas dan pemukiman di kota.
Saya terinspirasi dengan pak Ridwan Kamil, yang mana sering membuat inovasi-inovasi untuk kota Bandung. Di buku "Mengubah Dunia Bareng-Bareng" banyak pengetahuan-pengetahuan baru yang di dapat dari kota-kota di dunia tentang arsitektur bangunan dan tatanan kotanya, juga kita dibawa mengenal lebih dalam tentang arsitektur yang saya nilai bahasanya cukup berat :). Tapi kita tahu bahwa Indonesia juga bisa membuat tata kota yang baik, sedikit-sedikit kang Emil sudah membuktikannya, semoga kota-kota Di Indonesia juga bisa membuat inovasi dalam menata kotanya agar menjadi nyaman.
Pada dasarnya Isi dalam buku ini begitu padat. Artikel yang ditulis lebih banyak berbicara seputar desain dan dunia arsitektur. Tentu ini tidak lepas dari latar belakang penulis yang sebagai akademisi dan praktisi arsitektur. Oleh karenanya buku ini lebih cocok untuk mahasiswa atau akademisi yang sedang mempelajari teori dan kritik arsitektur. Setiap artikel yang ditulis menunjukkan kekayaan literatur yang menjadi rujukan penulis. Secara pribadi ini bisa dipahami, namun nampaknya akan ada kesulitan bagi para pembaca kalangan umum yang tidak terbiasa dengan istilah arsitektur. Secara keseluruhan, buku ini bagus dan layak untuk dibaca sebagai penambah wawasan. Satu lagi, judulnya yang seolah heroik itu tampaknya jitu untuk menarik minat baca. Terima kasih
Terima kasih untuk teman saya yang bekerja di toko buku sehingga buku yang baru terbit di Bulan Januari 2015 ini bisa saya baca segera di Bulan Maret 2015.
Dalam buku ini terhidang 5 bab yang dinamai ruang. Secara sekilas, setiap ruang (bab) seolah menampilkan dimensi dan kedalaman isi yang harmonis, namun setelah menikmati keseluruhan ruang. Kontrasme per ruangnya tidak bisa dikatakan sederhana. Banyak istilah teknis atau pengutipan ide dari pakar di bidang arsitek yang melimpah.
Ridwan Kamil adalah pahlawan dan harapan bagi masyarakat Bandung. Setiap ruang dalam buku ini mendemonstrasikan kedalaman pemahaman dan kemampuan Beliau menghadirkan solusi untuk setiap masalah. Sehingga masyarakat memang boleh dan pantas berharap akan lebih banyak kebahagiaan.
Solusi istimewa tersebut yang disajikan pada buku ini diantaranya adalah Indonesia Berkebun, Helar Fest, Bike Share, Naik Angkot Lagi, dan One Village One Playground. Karakteristik beliau yang melekat dalam setiap program adalah inovatif, desain ramah lingkungan, memanusiakan manusia, dan mengundang kolaborasi.
Bagi masyarakat awam seperti saya, Teks-teks pada Ruang l yang bercerita mengenai kehidupan pribadi dan Ruang V tentang impian selanjutnya Kota Bandung adalah bagian-bagian favorit. Tak banyak yang tahu bahwa Kang Emil adalah spesialis tukang kabur supaya tidak bayar angkot, namun nahasnya sang sopir angkot itu ternyata tinggal di dekat rumah.
Namun bagi masyarakat awam pula, buku ini sangat menyenangkan untuk dibaca karena banyaknya ilustrasi, foto, dan tata letak yang menyamankan mata ketika.membacanya.
Cerita di bab awal-awal nyeritain kisah kang Ridwan Kamil, tapi waktu pertengahan hingga akhir bab adalah bagian yang paling saya suka, bagaimana beliau menceritakan sudut pandang beliau dari seorang arsitek mengenai sebuah kota di Indonesia (khususnya Jakarta dan Bandung).
Apalagi waktu pak Ridwan Kamil bercerita tentang para seniman di kota Bandung dan kulturnya, saya jadi bangga jadi warga Bandung dan ingin sekali ikut berkontribusi untuk kota Bandung.
Saya sudah lama terinspirasi oleh Ridwan Kamil. Gerakan komunitas yang dia bangun, hasil karyanya yang keren.. Tapi selayaknya manusia biasa yang punya kelebihan dan kekurangan, Ridwan Kamil juga punya kedua sisi tersebut dalam dirinya. Buku ini menunjukkan seorang 'Ridwan Kamil' tanpa harus menutupi kesalahan-kesalahan masa lalu yang pernah dilakukannya.
Bagian akhir buku ini juga membahas ide-ide Ridwan Kamil mengenai arsitektur dan penataan kota. Menarik ya ternyata..mengetahui sudut pandang seorang arsitek terhadap pembangunan sebuah kota. Bagi saya yang buta mengenai arsitektur, buku ini semacam 'aha moments'. 'Aha moment' seperti, "Oh, ternyata untuk menciptakan kondisi masyarakat yang kondusif, penting ya mengatur tata ruang kota dengan baik. Melakukan pembangunan yang sejalan dengan nilai-nilai masyarakat anut."