Queer people kabupaten, everyone :)
Actual rating 3,5*
Buku ini sangat berbeda dengan Indonesian queer book yang pernah aku baca.
Kalau biasanya yang aku baca itu queer people metropolitan, CEO, anak orang kaya lulusan luar negeri dsb, Satria dan Rahmat adalah dua anak muda di sebuah desa kecil di Indramayu.
Mereka bukan anak muda sempurna dengan segala privilege nya.
Sebaliknya, Satria adalah anak muda dengan fisik yang tidak sempurna, putus sekolah pada saat SD, berjuang menghidupi dirinya dan orang tua angkatnya dengan kerja serabutan dan mengayuh becak.
Keadaan Rahmat mungkin lebih baik. Dia lulusan pesantren dan orang tuanya punya sawah yang luas. Akan tetapi dia juga punya perang nya sendiri yang tak kalah pelik.
Pertemuan pertama mereka adalah ketika Rahmat memberikan 20 ribu kepada Satria sebagai upah atas pekerjaannya hari itu. Namun pertemuan sekilas itu membekas di benak keduanya dan berlanjut dengan pertemuan-pertemuan selanjutnya.
Ceritanya diawali dengan momen "coming out" Rahmat dan Satria kepada orang tuanya, lebih tepatnya konfrontasi sih ^^. Dan tentu saja tidak berakhir baik.
Cerita kemudian berlanjut dengan alur maju mundur dengan dual POV dari Rahmat dan Satria.
Di sini aku bilang, peralihan alur maju mundur nya kurang halus sehingga kurang nyaman diikuti. Selain itu dual POV dari same event yang terasa repetitif dan tidak efektif.
Di luar semua itu, meski ini adalah cerita tentang queer people regency tapi endingnya lebih berani dibanding ending queer people metropolis. I kid you not! Dan aku apresiasi setinggi-tingginya untuk itu.