Jump to ratings and reviews
Rate this book

Teka-Teki Toilet Aneh

Rate this book
Ah Jeong memenangkan unit rumah dari Prog­ram Bantuan Hunian Nasional untuk Anak Muda, padahal usianya nyaris 40 tahun. ­Karena sewa bulanannya sangat murah dan syarat tinggalnya sangat mudah, Ah ­Jeong lantas mengambil keberuntungannya itu.
Ah Jeong ingin membuktikan pada keluarga dan masyarakat bahwa ia bisa sukses di Kota Seoul—tak peduli status lajang dan profesinya sebagai penulis lepas. Namun ternyata, keganjilan demi keganjilan muncul dari toiletnya, termasuk suara lirih lansia dari lubang toilet yang memanggilnya, “Nona… Nona….”

200 pages, Paperback

Published November 1, 2025

Loading...
Loading...

About the author

Seol Jae in

3 books

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
2 (4%)
4 stars
21 (45%)
3 stars
19 (41%)
2 stars
3 (6%)
1 star
1 (2%)
Displaying 1 - 21 of 21 reviews
Profile Image for Fikriah Azhari.
379 reviews162 followers
December 4, 2025
❝Kalau dia begitu membenciku, langsung habisi saja aku, jangan bunuh pelan-pelan seperti ini. Dia pasti tahu caranya. Setelah itu, tolong siapkan pemakaman seperti orang-orang.❞

Aku rasa peribahasa “Sepintar-pintarnya bangkai ditutupi, baunya tetap tercium juga” adalah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan buku ini.

Keberuntungan akhirnya berpihak pada Ah Jeong saat dirinya terpilih untuk menghuni hunian murah khusus anak muda yang disediakan oleh pemerintah—meski usianya sendiri tahun ini sudah 39 tahun. Untuk pertama kalinya sejak pindah ke Seoul, Ah Jeong akhirnya bisa tinggal di mes yang layak bermodalkan pendapatannya sebagai pekerja lepas.

Bangunan baru, lingkungan aman, tetangga yang tidak mengusik, sebenarnya Ah Jeong sudah bisa menjalani hari dengan hati gembira, andai saja dari dalam lubang toiletnya tidak muncul sosok lansia yang memohon meminta pertolongan karena tidak ingin mati.

Dialog dan monolog para tokoh terasa gelap serta meresahkan, tetapi di satu sisi juga dalam dan emosional. Teka-teki Toilet Aneh penuh dengan adegan absurditas yang anehnya juga memunculkan kesedihan yang terus menghantui. Sebesar apa kekecewaan seorang anak sampai bisa setega itu kepada ibunya sendiri? Bagaimana bisa setelah menyadari apa yang dilakukan sang anak, seorang ibu tetap menyimpan cinta untuk buah hatinya tersebut?

Buku ini terasa surealis dengan plot utama berfokus pada kemunculan "sosok" lansia di lubang jamban toilet mes milik Ah Jeong. Membuat buku ini berada di genre body horor dan psychological thriller. Jujur awalnya agak sulit membayangkan wujud lansia tersebut, bagaimana mungkin bisa muat di dalam lubang toilet? Tetapi Seol Jae In berhasil menulis adegan-adegan grafis dengan sangat detail yang sukses membuatku merinding dan merasakan sensasi asing yang kurang nyaman.

Pada dasarnya, Teka-Teki Toilet Aneh menyampaikan kritik terhadap ketimpangan ekonomi dan kelas sosial yang merajalela di masyarakat, ketika orang-orang merasa berhak mendikte hidup orang lain yang dirasa lebih rendah darinya. Sehingga muncul ketakutan untuk bersuara karena sudah bisa membayangkan reaksi yang akan diberikan orang-orang. Hal ini pula yang menyebabkan munculnya pilihan untuk memendam segala resah dan amarah, termasuk pada keluarga sendiri—yang justru akan meledak sewaktu-waktu. Tidak luput diperlihatkan dampak dari budaya patriarki yang masih melekat dan menjadi titik awal kengerian dalam hidup perempuan.
Profile Image for Pauline Destinugrainy.
Author 1 book276 followers
March 1, 2026
Ketika usianya hampir mencapai 40 tahun, Ah Jeong mendapatkan bantuan unit rumah dari Program Bantuan Hunian Nasional. Uniknya, rumah ini diperuntukkan bagi anak muda dengan penghasilan rendah sehingga sewa bulanannya pun rendah. Tanpa berpikir lama, Ah Jeong pindah ke mess tempat tinggal barunya.

Awalnya mess itu terasa nyaman, namun suatu ketika dia mengalami masalah dengan toiletnya. Setelah Ah Jeong menyelidiki, rupanya kerusakannya berasal dari toilet unit di atasnya. Dia pun menunggu pemilik unit di atasnya, namun dia malah berjumpa dengan lansia. Padahal salah satu syarat tinggal di situ adalah tidak boleh ada yang menumpang. Setelah diperbaiki, masalah toilet ini ternyata masih berlanjut dimana Ah Jeong menemukan kejadian aneh berikutnya. Sebuah suara memanggil namanya dari dalam lubang toilet.

Novel ini berpusat pada kehidupan Ah Jeong. Sebagai anak sulung perempuan dia kerap kali mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari orang tua dan saudaranya, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa. Saat dia merasa akhirnya bisa hidup nyaman seorang diri, Ibunya justru datang menumpang ke rumahnya. Sekali lagi dia menjalani hidup yang tertekan.

Saat membaca novel ini, saya malah terpaku pada hubungan tidak harmonis antara anak dan orangtua, sehingga akhirnya si anak memutuskan untuk mengikis kehadiran orang tuanya dan membuangnya di tempat yang tersembunyi. Namun perbuatan mereka itu tetap saja tidak bisa melepaskan diri mereka dari orang tua mereka.
Profile Image for Anes.
166 reviews2 followers
January 10, 2026
Dibalik ke-absurd-annya, cerita ini sebenarnya punya cerita yang emosional. Hubungan antara ibu dan anak yang dari luar terlihat baik-baik aja, tapi ternyata menyimpan trauma yang dalam. Bukan tentang pertengkaran, tapi tentang isi hati yang gak bisa diungkapkan.

Pokoknya bikin emosi naik turun banget; kadang merinding serem, kadang miris, kadang kesel iya juga. Dah lah nano nano banget.
Profile Image for Nia potterr.
218 reviews8 followers
May 15, 2026
absurd but ini ceritanya sedih sihh kalo aku pikir-pikir😢😢 Ah-Jeong yang sebel dengan perkataan ibunya harus ini itu dia membalaskan dendamnya dengan mengikis tubuh ibunya. Kalo aku jadi si Ah-jeong juga mungkin akan cape banget sih :((
Profile Image for Henzi.
233 reviews23 followers
January 22, 2026
Dari seantero manusia di bumi, bagaimana jika orang yang kita benci adalah orang tua sendiri?

Apabila memiliki hubungan buruk dengan kolega kerja yang harus ditemui setiap weekday/hari kerja adalah bencana, bagaimana dengan … keluarga. Yang seharusnya dijadikan sebagai tempat berteduh, tapi rasanya seperti neraka.

Ah Jeong, seorang pekerja lepas yang usianya sudah lebih dari matang, (masih) didera oleh rasa ketidakpuasan dengan hidupnya. Tidak punya penghasilan besar, relasi keluarga cuma sebatas hubungan darah, teman-teman yang sedikit, tempat tinggal pun tidak layak.

Saat masih tinggal bersama adiknya dulu, Ah Jeong pernah trauma dengan lansia ekshibisionis. Saking meresahkannya sampe stres, tapi tak ada yang bisa diperbuat kala itu karena masih hidup dalam keterbatasan.

Ketika ada Program Bantuan Hunian Nasional untuk Anak Muda, Ah Jeong mendaftar—padahal usianya sudah nyaris 40 tahun. Secara teknis, dia tidak bisa disebut sebagai “anak muda” lagi, tapi masih tetap mencoba. Nyatanya berhasil, dia dipilih untuk mendapatkan hunian luxury dengan sewa bulanan yang sangat murah, tapi dengan syarat: mesti tinggal sendiri.

Seumur hidupnya, Ah Jeong tidak pernah merasakan tinggal di mess dengan lima lantai. Dia kebetulan mendapatkan lantai empat dengan nomor unit 401. Akhirnya ia bisa menulis dengan tenang (bagian dari profesinya), tidak terganggu dari segala ketidaknyamanan yang ditimbulkan oleh lingkungan sebelumnya.

Baru juga sebentar, hunian Ah Jeong bermasalah. Tiap malam, menjelang tidur, muncul suara gemuruh air dari jambannya. Jika mau dibayangin, mirip suara siram kloset selepas buang hajat kali ya, tapi yang satu ini lebih kencang dan durasinya lama … sampai mengganggu jam tidurnya.

Keesokan harinya, Ah Jeong ingin mencari tahu orang yang tinggal unit di atasnya. Penyebab dari kerusakan pipa toilet tersebut mesti ditemukan. Dia tidak ingin hidup seperti sebelumnya, selalu menerima apa yang dilakukan orang lain tanpa berbuat apa-apa. Lagi pula, hunian ini dari pemerintah, lantas, dia berhak & harus menjaga sebaik-baiknya bukan?

Setelah mengintai beberapa hari, Ah Jeong menemukan seorang yang berperawakan tua, meskipun tidak melihat secara langsung. Tubuhnya kecil, seluruh tubuhnya terbungkus dengan pakaian yang dikenakan, termasuk rambutnya. Ah, lagi-lagi harus berurusan dengan lansia.

Ternyata lansia tersebut tidak tinggal sendiri. Ada seorang pria muda yang selalu bepergian setiap pagi dan pulang sore harinya. Ah Jeong mengira, mungkin lansia tersebut pakai popok atau semacamnya selama pagi-sore hari, malamnya baru dibuang ke jamban; hal tersebutlah yang membuat kebisingan setiap malam.

Ah Jeong melaporkan isu berikut kepada petugas pemerintah. Namun permintaan dia ditolak, alasannya tidak ada bukti konkret, pun masalah jamban termasuk sederhana. Sesuai kontrak, hal-hal sekecil ini seharusnya bisa diselesaikan sendiri.

Masalah nggak cuma sampai di sana, Ah Jeong mendapatkan kabar buruk dari ibunya bahwa bapaknya minta cerai. Ibunya perlu kabur sebentar dari rumah, oleh karena itu perlu nginap di mess barang beberapa hari. Dia panik, tidak bisa menduga apa yang terjadi bila ibunya tahu perkara toilet berisiknya itu. Apalagi … ibunya hobi ngomel.

Mau tidak mau, Ah Jeong harus berurusan dengan pria di atas. Dia ingin masalahnya bisa selesai sebelum ibunya sampai di mess. Dia ingin dianggap hidup dengan baik, bukan karena tidak mau merepotkan, tapi mau menunjukkan betapa berdayanya dia tanpa orangtua.

Pada akhirnya, urusan toiletnya selesai, tapi juga tidak selesai. Mas-mas tukang yang memeriksa pipa bingung. Pasalnya, kotoran yang tersendat itu tidak seperti biasanya. Bukan sampah makanan, kotoran, plastik, dan lain sebagainya; melainkan bertekstur padat, lengket, dan berbau yang tidak bisa dijelaskan.

Ibu Ah Jeong yang berikutnya menjadi masalah. Sesuai kontrak, dia tidak diperbolehkan membawa tambahan orang untuk menghuni tetap di mess tersebut; bawa teman buat inep sehari/dua hari masih oke selama tidak melanggar batas-batas tertentu. Untuk itu, dia harus melakukan sesuatu supaya ibunya tidak ketahuan.

Menjelang akhir, ada satu scene yang bisa dibilang perih banget bacanya. Dikarenakan satu dan lain hal, yang sebetulnya merupakan kesalahan Ah Jeong sendiri, dia harus menderita. Entah bisa disebut karma atau bukan, tapi begitulah kehidupan.
Profile Image for Mpur Chan.
Author 1 book39 followers
January 26, 2026
Sama seperti judulnya, buku ini aneh.
Absurd sekali. Awal-awal membacanya sih biasa saja. Tapi ternyata bikin saya pusing beneran. Wkwk... Gak nyangka dan gak bisa membayangkan kalau itu terjadi pada saya T.T

Isu yang diangkat dalam buku ini tentang hubungan orangtua-anak, yang bisa dilihat dari dua sudut pandang. Pertama, dari sudut pandang anak. Luka masa kecil akibat pola asuh orang tua (seperti pengabaian, kekerasan, atau penolakan) dapat menyebabkan inner child yang terluka. Tokoh Ah Jeong kerap kali direndahkan dan dibandingkan oleh ibunya sehingga ketika ia berhasil ke luar dari rumah dan tinggal di rumah yang berbeda di Seoul, dia sangat gembira. Tapi, kegembiraannya berakhir ketika ibunya ingin tinggal di rumah barunya. Sulit rasanya menerima orangtua yang sudah menghancurkannya. Ini malah menjadi beban Ah Jeong, apalagi kalau menerima ibunya tinggal bersama sama saja dengan menyalahi aturan hunian yang dia tempati.

Kedua, dari sudut pandang orangtua. Seorang anak harusnya merawat orangtuanya yang sudah lansia. Jadi, kalau seorang ibu ingin tinggal serumah dengan anak, seharusnya anaknya menerimanya. "Anak kurang ajar!" atau "Ibu bunuh diri saja" adalah ancaman ibunya yang membuat Ah Jeong serba salah dan semakin terbebani.

Apa yang dilakukan Ah Jeong dan yang lainnya terhadap ibu-ibu mereka menjadi semacam simbol. Apabila luka semakin menganga dan tak pernah diobati, seseorang akan "mengikis" orangtuanya perlahan-lahan, sampai hanya memori saja yang tertinggal.

Banyak di antara kita yang merasa kehadiran orangtua itu malah jadi beban ketika kita dewasa dan mandiri, baik dari segi psikologis maupun finansial. Akhirnya, banyak anak yang tampak "menelantarkan" orangtuanya. Atau, banyak orangtua yang "jahat" sama anaknya. Alhamdulillah, saya punya agama yang mengatur masalah ini. Puncak bakti seorang anak kepada orangtua adalah saat mereka lansia. Coba tengok QS Al Isra 23-24.

Meskipun anak berkewajiban merawat, dalam Al-Baqarah 233, orangtua pun seharusnya tetap memelihara, melindungi, dan memberi kasih sayang maksimal sesuai kemampuan.

Indah ya Al-Quran itu... Semua perkara dunia sudah ada aturannya...
Profile Image for Lesh✨.
332 reviews7 followers
March 14, 2026
The weirdest toilet book ever!

Menceritakan tentang Ah Jeong, seorang pekerja lepas berusia 39 tahun yang berhasil terpilih untuk tinggal di hunian murah program pemerintah yakni Program Bantuan Hunian Nasional untuk Anak Muda dengan biaya sewa bulanan yang murah di Seoul. Nantinya Ah Jeong akan tinggal di unit 401 dan harus menaati peraturan di sana. Salah satunya adalah tidak boleh ada tambahan orang lain yang menghuni di unit itu.

Ah Jeong pikir ia akan mengalami masalah dengan lingkungan tetangganya, tapi ternyata masalah yang terjadi ada di dalam rumahnya sendiri yakni di toilet.

Setiap malam, Ah Jeong selalu mendengar suara air dari jamban dengan durasi yang lama hingga membuatnya sulit tidur. Ah Jeong menduga bahwa penyebab toilet berisik itu berasal dari lantai atas yakni unit 501.

Keesokan paginya, Ah Jeong mencari siapa pemilik yang tinggal di unit 501, tapi anehnya dia malah menemukan seorang lansia yang tinggal di sana. Lansia itu adalah ibu dari pemilik unit 501.

Setelah melakukan diskusi dan cekcok yang panjang, pria pemilik unit 501 membantu Ah Jeong untuk memperbaiki pipa yang pampat.

Si tukang ahli pipa pampat itu bingung. Masalahnya kotoran yang ada di toilet Ah Jeong itu tidak seperti kotoran pada umumnya melainkan bentuknya padat dan lengket [TW: disgusted].

Selain itu, ibunya Ah Jeong menelepon untuk mengabarkan bahwa suaminya minta cerai. Ibunya Ah Jeong tidak punya tempat tinggal dan ingin pindah ke hunian Ah Jeong. Sebagai people pleaser, tentu saja Ah Jeong mengiyakan dengan sangat terpaksa.

Hubungan ibu dan anak ini tidak pernah akur. Ibunya selalu mengungkit masa lalu dan selalu ingin dikatakan paling berjasa. Misalnya, "kalau nggak ada ibu, kamu pasti kesulitan..."

Untuk tema yang diangkat menarik, namun sulit untuk dibayangkan perihal jamban. Buku ini mencakup luka masa lalu tentang hubungan ibu dan anak. Pemilik unit 401 dan 501 punya permasalahan yang sama tentang ibu hanya beda penyelesaiannya saja.

Kalau masih bingung, coba lihat kover bukunya. Semua sudah dideskripsikan di sana.
Profile Image for MAULIA.
42 reviews1 follower
April 6, 2026
Ternyata aku bisa menyelesaikan buku ini tanpa ada gangguan perut nya hihi

Menurut ku ga terlalu risih ya asalkan yang bagian itu nya di skip.

Tema nya beneran absurd heran dapat ide dari mana yaaa...
Tapi ada hikmah yang bisa dipetik dari buku ini yaitu tentang hubungan antar orang tua dan anak.

Memang jika kita sebagai anak merasa tidak mendapat kasih sayang dari orang tua pasti keinget sampai kita dewasa. Bahkan bisa menjadi dendam.

Makanya ga semua orang bisa menjadi orang tua.
Profile Image for Strawberries INFJ.
59 reviews
December 30, 2025
Astaghfirullah, ini buku macam apa? Bener2 bukannya makin waras, makin gila baca buku ini. Astagaaaaa😭😭😭
Profile Image for Andreiya Eliata.
84 reviews1 follower
January 2, 2026
Sambil berbicara terbata-bata dia menggosok sekujur tubuh si Lansia dengan alat itu kemudian membuang ampasnya ke dalam jamban. (hal. 77)

Mimpi buruk lainnya tentang jamban.

Jujur awalnya aku tertarik membaca buku ini karena premisnya yang mirip "The Head"nya Bora Chung, yang mana salah satu cerpen thriller favoritku. Ternyata memang penulis terinspirasi dengan karya Bora Chung. Ya, ceritanya mirip tapi dengan kehorror-an yang berbeda!

Plot cerita memadukan fenomena hubungan ibu dan anak serta budaya patriarki dan misoginis yang kerap kali terjadi di masa kini (terutama di negara Korea). Fenomena tersebut dibungkus dengan genre body horror thriller yang sukses membuatku bergidik ngeri.

Aku kerap kali tersulut emosi saat membaca buku ini, terutama saat membaca beberapa bagian mengenai keluarga Ah Jeong. Kita tentu sudah tidak asing dengan istilah "Hannam", yang mana sangat tercermin dari ayah Ah Jeong dan bahkan Lee Sang Gi. Hubungan pelik antara ibu dan anak perempuan di sini juga sering kali kita temukan di kehidupan masa kini. Sesungguhnya apa yang terjadi terhadap Ah Jeong dan ibunya adalah hasil dari budaya patriarki dan misoginis yang sudah mengakar di sana.

Benar-benar bacaan yang unik (juga gila)!
Profile Image for C.
192 reviews1 follower
January 29, 2026
Disturbing and imaginative. Pembaca harus punya imajinasi yang tinggi untuk bisa berimajinasi bagaimana cara mengikis manusia menjadi hanya 12cm dan dimasukkan ke toples kecil, atau hidup di dalam “jamban”.
Profile Image for WonderBOOK Land.
24 reviews
January 21, 2026
Idenya anti-mainstream meski ternyata terinspirasi dari cerita lain. Berlatar hubungan antara anak dan orangtua yang memiliki luka batin dan luka batin yang dibiarkan menganga tanpa pernah diobati. Pengembangan ceritanya lebih kompleks meski disebut teka teki, tp teka tekinya tidak terjawab. Meski mungkin fokus kepada hubungan anak dan ortu, tapi setidaknya kenapa hal2 aneh itu bisa terjadi bisa memiliki latar belakang.
Profile Image for Readingwithhirai.
246 reviews7 followers
January 21, 2026
“Kotoran apa yang menyumbat toilet itu? Suara siapa yang mengganggu Ah Jeong dari lubang jamban itu?”

Sesuai dengan namanya buku ini memang benar-benar aneh, awalnya menjijikkan kemudian ngeri dan semakin tak habis pikir dengan akhir kisah yang disajikan. Berawal dari Ah Jeong yang tiba-tiba lolos mendapatkan unit rumah dari Program Bantuan Hunian Nasional di usianya yang sudah tak muda lagi. Harga sewanya murah membuatnya bisa terbebas dari orang tua toxic yang banyak menuntutnya. Namun apakah semua ini benar menjadi awal baik untuknya atau justru pintu baru menuju neraka selanjutnya? Aku kira kisahnya bakal ke horor ternyata lebih kompleks dari itu. Surprisingly buku ini alurnya mudah dipahami dengan terjemahan yang enak banget dibaca bikin nagih nggak bisa berhenti. Toilet Ah Jeong memunculkan suara-suara dan bau busuk, ternyata saluran toiletnya berhubungan dengan toilet unit atas. Di sinilah kengerian itu mulai muncul, siapa yang tinggal di unit atas dan apa yang dibuang ke dalam toilet? Kotorannya mirip sampah dapur, berlemak dan lengket sehingga membuatnya cepat menyumbat.

Ah Jeong memberanikan diri mengungkap apa yang terjadi di unit atas namun fakta yang ditemukannya ternyata lebih mengerikan dari apa yang ada dalam pikirannya. Tentang kotoran itu, tentang lansia yang ditemuinya dan juga pria yang tinggal di sana. Awalnya aku mengira Ah Jeong akan membantu mengungkap misteri tersebut namun siapa sangka dirinya malah masuk ke lubang yang sama. Tentang perusahaan tempat bekerja pria itu, tentang tugas yang harus dilakukan sampai dengan kebohongan yang harus dirawatnya. Hal menarik dari buku ini bukan hanya mengenai suara dan kepala yang muncul dari jamban melainkan juga sentuhan sisi psikologis dari Ah Jeong. Sejak awal membaca narasi, dialog serta caranya bersosialisasi aku sudah merasa bahwa dirinya memang bermasalah dan membutuhkan bantuan profesional. Hubungannya dengan sang ibu jelas tidak baik, orang tuanya banyak menuntut dan tak pernah mengapresiasi pencapaian Ah Jeong. Belum lagi sang ibu yang memilih menumpang di rumah Ah Jeong padahal jelas aturannya tak diperbolehkan. Bukankah ibunya justru menempatkan Ah Jeong pada posisi yang sulit dan tak tenang sepanjang waktu?

Sampai akhirnya Ah Jeong memilih menekuni bisnis pengikisan tersebut. Dia mengikis setiap penyebab luka dan kesedihan. Satu hal yang masih terngiang-ngiang apakah benar seseorang yang berbicara di toilet itu adalah manusia atau hantu?? Ketika pria itu sudah mulai mengerti kesalahannya Ah Jeong justru berjaya dengan karir barunya. Buku ini memberikan plot twist yang tak terduga bahkan menyeramkan karena terus berlanjut.

Sosok Anak Perempuan yang Penuh Tekanan dan Ketakutan
Sebagai pembaca, saat mendalami karakter Ah Jeong aku merasakan adanya rasa takut, kesepian dan kebutuhan kasih sayang yang tak didapatkannya. Ah Jeong seperti anak kecil yang membutuhkan pelukan dan perlindungan, seolah usianya yang nyaris 40 tahun hanyalah cangkang. Buku ini merepresentasikan pentingnya menjaga hubungan baik antara anak dan orang tua tanpa menyakiti hati salah satunya. Anak membutuhkan orang tua begitu juga sebaliknya jangan menjadikan anak sebagai alat pemenuh kebutuhan atau investasi di masa tua.

Gangguan atau Tekanan Psikologis?
Awalnya aku berpikir bahwa buku ini mungkin temanya memang horor dan suara-suara maupun sumbatan itu berasal dari gangguan supranatural namun ternyata kenyataan yang terjadi lebih menyeramkan. Buku ini tidak hanya menguarkan gangguan menyeramkan melainkan juga tekanan psikologis dari sisi Ah Jeong. Siapa yang tahu kebenaran suara itu? Apakah benar gangguan atau suara imajinasi dari sisi Ah Jeong? Begitu juga dengan tingkah laku Ah Jeong yang memang aneh.

Bisnis Pengikisan dan Masa Depan Ah Jeong
Sampai di bagian hampir menjelang akhir buku kita akan menemukan bisnis pengikisan yang ditekuni Ah Jeong bermodalkan pertemuannya dengan unit atas rumahnya. Kukira nasib Ah Jeong akan tamat dan berhenti setelah semua hal yang dilakukannya namun justru hal tersebut menjadi jalan baginya untuk membunuh penyebab trauma dan ketakutannya selama ini. Seolah Ah Jeong menyelamatkan masa depan dan juga mencerahkan harapannya.

Point Menarik dan Unggul dari Buku:
• Buku Teka Teki Toilet Aneh menghadirkan alur yang mudah dipahami dan cukup page turner, setiap sub babnya bikin nagih dengan kejutan menarik.
• Ada sentuhan horor, misteri dan juga penyelidikan sedikit dari sosok Ah Jeong serta toilet rumah yang ditempatinya.
• Semakin membaca kita akan memahami karakter dari sosok Ah Jeong serta trauma yang dialaminya selama ini. Mengapa dia memiliki sikap seperti itu dan kenapa orang tuanya seolah mengincar kenyamanan dari rumah bantuan tersebut.
• Ada kejutan menarik mengenai bisnis pengikisan dan juga nasib Ah Jeong yang tak pernah terduga sebelumnya.

Tokoh, Alur dan Pengembangan Karakter
Dari awal kita akan bertemu dengan tokoh Ah Jeong dengan karakter unik dan berantakan. Bahkan sampai akhir dirinya tak berkembang hanya berhenti di situ-situ saja tenggelam dalam ketakutannya sendiri. Dia sempat sadar masih membutuhkan ibunya namun itu hanya sebentar selebihnya sosok diri yang sebenarnya mampu menguasai. Berbeda dengan sosok pria di unit atas yang justru berkembang ke arah lebih baik meskipun sedikit terlambat.

Penekanan Konflik dan Eksekusi Konsep Cerita
Konflik utama yang ditawarkan oleh buku Teka Teki Toilet Aneh ini adalah suara dan kotoran aneh yang menyumbat toilet Ah Jeong. Misteri apa yang diberikan dan rahasia apa yang disembunyikan oleh unit atas. Ternyata penulis sangat lihai dalam proses eksekusi cerita, tidak hanya menyajikan kengerikan namun juga sisi horor yang nyata. Bagaimana sifat manusia yang lebih menakutkan dari hantu, mereka akan melakukan apapun untuk mencapai tujuannya.

Penyelesaian Cerita dan Ekspektasi Pembaca
Jujur cukup merinding dengan penyelesaian cerita yang disajikan. Bagaimana dengan nasib ibu Ah Jeong dan akhir Ah Jeong itu sendiri lebih dari apa yang kubayangkan. Aku kira Ah Jeong akan berhenti dan langsung mendapatkan akibat dari perbuatannya namun ternyata kehidupan menginginkan Ah Jeong mencicipi neraka lebih lama. Buku ini lebih dari ekspektasi yang aku harapkan bahkan mampu menguarkan kengerian yang tak bisa dideskripsikan.

Seberapa Jauh Buku Ini Mencapai Tujuannya?
Buku ini mampu mencapai 90% dari 100% tujuan utamanya. Mulai dari konsep, pembawaan konflik sampai dengan proses penyelesaiannya semua bagus. Aku suka bagaimana penulis memasukkan unsur horor dari sisi manusia. Awalnya Ah Jeong ngeri dengan hal aneh yang terjadi di toiletnya meskipun akhirnya dia terbiasa bahkan terbawa suasana.

Apa yang Kurang dari Buku dan Harapan dari Pembaca
Sejujurnya tidak ada kekurangan krusial dari buku Teka Teki Toilet Aneh ini hanya saja untuk bagian pertama kali Ah Jeong menemukan suara aneh di toilet miliknya kenapa dia tak begitu takut? Apakah ketakutannya sudah memudar? Apakah dirinya lebih takut bertemu manusia dibandingkan hantu? Bagaimana suara itu mampu mempengaruhi Ah Jeong? Apakah benar sosok itu manusia yang sudah tak utuh lagi namun bagaimana sosok manusia hidup dalam closet?? Misteri ini sepertinya sengaja ditinggalkan untuk memberikan unsur kengerian dalam buku.

Pelajaran yang Diberikan dan Sasaran Pembaca
Dari buku ini kita mengerti bahwa Ah Jeong adalah anak yang tak mendapatkan perhatian dari orang tuanya bahkan mereka banyak menuntut tanpa apreasiasi khusus. Ketika tua mereka berharap Ah Jeong merawat, mengirimkan uang dan menjadi investasi aman mereka saat menjalani usia senja. Bagaimana bisa mereka mendambakan hal tak manusiawi seperti itu dengan membiarkan anaknya sendiri menderita? Ah Jeong tak sepenuhnya benar namun orang tuanya juga salah. Buku ini menguarkan pentingnya merawat hubungan dan komunikasi antara anak dan orang tua agar tidak terjadi kesalahpahaman.
Kamu yang suka dengan buku horor yang berbeda serta menemukan kengerian dari sisi manusia bisa mencoba baca buku ini. Jangan dibaca sambil makan ya karena banyak membahas tentang toilet dan kotoran.
Profile Image for fara.
284 reviews45 followers
February 3, 2026
Teka-Teki Toilet Aneh mengusung tema body horror dan psychological thriller sebagai elemen penceritaan dengan cara yang nggak hanya mengandalkan rasa jijik atau ketegangan semata. Novel ini menjadikan tubuh, relasi keluarga, dan struktur (bahkan hierarki) sosial sebagai sumber horor yang paling nyata. Ceritanya memadukan hubungan ibu dan anak dengan budaya patriarki serta misogini yang masih mengakar kuat dalam masyarakat Korea masa kini, sehingga horornya terasa dekat dan relevan.

Tokoh utamanya, Ah Jeong, adalah pekerja lepas yang hidup dalam ketidakpastian. Kecemasan soal hunian, pekerjaan, dan masa depan menjadi bayangan yang terus mengikuti hidupnya, sebuah ketakutan yang sangat akrab bagi generasi muda Korea. Ketika Ah Jeong, yang hampir menginjak usia 40 tahun, secara tak terduga berhasil mendapatkan hunian murah di pusat kota Seoul melalui program pemerintah untuk anak muda, situasi ini terasa seperti sebuah keberuntungan besar. Namun, hunian yang seharusnya menjadi titik aman justru menjadi awal dari pengalaman-pengalaman ganjil yang menekan secara psikologis.

Elemen horor dalam novel ini dibangun secara perlahan dan presisi. Toilet, ruang yang paling privat dan banal, juga sering dianggap remeh, berubah menjadi sumber kecemasan sekaligus simbol yang sarat makna. Tubuh perempuan nggak lagi sepenuhnya berada dalam kendali dirinya sendiri, sementara ruang tinggal yang seharusnya memberi perlindungan justru menjadi tempat yang menjerat. Seol Jaein menggunakan elemen body horror bukan sekadar untuk mengejutkan dan memberikan rasa ngeri pada pembaca, melainkan untuk menunjukkan bagaimana tubuh perempuan kerap menjadi medan kontrol, rasa bersalah, dan ketakutan yang diwariskan lintas generasi.

Relasi kompleks antara ibu dan anak menjadi poros emosional yang paling mengganggu. Hubungan ini digambarkan tanpa romantisasi, penuh represi, luka, dan ketegangan yang terus berulang. Dalam konteks budaya patriarki, sosok ibu hadir sebagai figur yang ambigu: korban dari sistem, sekaligus bagian dari mekanisme yang mereproduksi kekerasan itu sendiri. Dari sinilah horor psikologis novel ini terasa paling kuat, karena ia menunjukkan bagaimana kekerasan struktural bisa menyusup ke ruang domestik dan relasi paling intim, seperti keluarga.

Bagi saya, novel ini memiliki makna personal karena menjadi debut saya sebagai penyunting. Proses menyunting Teka-Teki Toilet Aneh memberi pengalaman yang intens, bukan hanya secara teknis, tetapi juga emosional. Setiap lapisan cerita, simbol, dan ketegangan psikologisnya menuntut kehati-hatian agar nuansa horor dan kegelisahan sosial yang ingin disampaikan tetap terjaga. Novel ini berhasil mengemas kecemasan sosial tentang hunian, pekerjaan, dan masa depan menjadi horor yang relevan dan menggigit. Lebih dari sekadar cerita seram, novel ini adalah potret getir tentang hidup di dalam sistem yang membuat manusia, khususnya perempuan, harus terus membuktikan "kelayakan" hanya untuk bisa bertahan dan mendapat rasa aman.
Profile Image for lail.
18 reviews
May 10, 2026
jujur awalnya aku ambil buku ini cuma karena judulnya absurd banget. like… teka-teki toilet aneh? what even is that 😭 and somehow. tapi memang karena fomo juga sih (soalnya mutualan aku di X pada baca ini juga) hehehehe :D

dan honestly… maybe this was exactly the book i needed after a reading slump, because i finished it in less than 24 hours. sesuka itu sama genre yang kayak gini, jadi once i started, i genuinely couldn’t stop.

ternyata beneran aneh. unsettling, uncomfortable, kadang bikin jijik dikit? okay maybe more than dikit 😭 literally dari bab awal aja udah ada deskripsi orang berak and i was like… okay, so we’re starting like THIS? jorok banget pls. ibunya juga nyebelin banget, terus ada bagian “dikikis” itu yang genuinely made me go wtf. bukan tipe horror yang bikin takut, tapi lebih ke mentally disturbing and deeply uncomfortable to sit with.

ah jeong as a main character made me feel… a lot. kadang kasihan, kadang frustrasi, kadang bingung sama semua pilihannya. but that’s what made her feel real. pelan-pelan jadi ngerti kenapa dia bisa sampai di titik itu, kenapa dia berpikir dan bertindak seperti itu… though understanding her doesn’t necessarily mean justifying everything she did.

dan makin dibaca, rasanya makin sadar kalau yang paling menyeramkan di buku ini maybe isn’t the toilet itself, but the people. trauma, loneliness, hubungan ibu-anak, tekanan hidup semuanya terasa lebih berat daripada horornya itu sendiri.

the ending… honestly, a bit underwhelming for me. not bad, just… kurang ngasih “sesuatu” yang bikin semuanya benar-benar klik. maybe that’s why this ended up being a 4/5 instead of a full 5. tapi tetap bikin aku diem bentar setelah nutup bukunya. 😂
Profile Image for Stftrns.
90 reviews
March 27, 2026
Setelah tau kalau ini kisah asli yang dialami penulisnya, gue jadi merasa relate.
Sebetulnya gue pikir di awal, buku ini sejenis buku parenting dibalut fiksi setelah melihat beberapa kutipan mengenai hubungan antara orang tua dan anak yang kena banget di gue.
Suprisingly setelah baca bukunya ternyata lebih banyak fiksinya dibanding apa yang gue kira-kira sebelumnya.
Overall mungkin kesulitan gue dalam membaca buku ini adalah karena banyak kata-kata yang terjemahannya agak 'miss' jadi saat dibaca terasa kurang mengalir. Pun, karena gue gak tinggal di Korea, jadi gue gak terlalu paham sama kondisi masyarakat dan lingkungan di sana. Gue jadi merasa buku ini beneran jauh dari gue walau keresahan penulis terasa dekat. Mungkin rumah Ah Jeong ini kalau di Indonesia lebih mirip rusun (rumah susun) kali ya? Entahlah, intinya gue kurang dapet feel menyedihkan menjadi warga miskin di Seoul (soalnya di Indonesia jadi miskin aja udah miserable, di Korea gak mungkin lebih menyedihkan dari ini kan? kan?)
Nah, lanjut lagi. Intinya, gue ngerti banget dilema antara sayang dan benci Ah Jeong ke pada ibunya. Bentrokan antara perasaan dan norma masyarakat sih emang pasti bikin gila.
Profile Image for Sunny.
179 reviews3 followers
March 15, 2026
Ceritanya agak sedikit absurd, tentang perempuan berusia 39 tahun yang mendapatkan hadiah hunian murah di kota, yang kemudian mendengar suara-suara aneh dari toilet hunian barunya itu. Lalu akhirnya ia mempunyai pekerjaan yang aneh.

Walaupun ceritanya rada aneh, tapi seru untuk diikuti. Buku ini intinya tentang seseorang yang walaupun sudah dewasa masih mencari 'jati diri'. Ada juga tentang bakti kepada orangtua. Haruskah berbakti pada orangtua yang hobinya 'menyiksa' anak? Bagusnya diapain orangtua model begini? Dan yang aku suka dari cerita ini adalah tokoh utamanya nggak takut sama hantu.
Profile Image for Vivian.
24 reviews
May 4, 2026
Ngeri sih ada, sedikit sekali. Kupikir akan ada nuansa kuat horror supernatural. Tapi akhirnya disadarkan bahwa ini masuknya sih horror slight splatter (gore). Menarik sih. Tapi apa bakal kubaca lagi? 70% dari diriku bilang tidak. Apa bakal kurekomendasiin ke teman? 75% dari diriku bilang iya, kalau untuk bersenang-senang saja. Kalau rating jujur 3,5/5
Profile Image for CeresCollects.
7 reviews
May 8, 2026
sumpah, i’ve never read a novel this weird before. The story is so unique
Profile Image for loundraw.
208 reviews6 followers
May 6, 2026
Saking absurd nya cuma berusaha memahami pesan yang coba disampaikan penulis aja.
Displaying 1 - 21 of 21 reviews