Jump to ratings and reviews
Rate this book

Di Luar Radar

Rate this book
Setelah hampir dua dekade menulis seri The Naked Traveler, Trinity kembali dengan karya yang lebih reflektif dan personal. Di Luar Radar: Kisah Keberagaman dari Kuburan Jakarta sampai Hutan Amazon menghadirkan kisah nyata dari sisi kehidupan yang sering luput dari perhatian banyak orang.

Trinity menelusuri batas-batas budaya dan keyakinan untuk menyingkap keberagaman manusia dari sisi yang tak terduga—mulai dari ibu-ibu yang nongkrong di kuburan Jakarta, pengalaman mondok di pesantren, seluk-beluk proses kremasi, hingga realitas imigran di negara Barat dan perjuangan misionaris Indonesia di hutan Amazon Bolivia. 

Ditulis dengan gaya khas Trinity yang jujur, tajam, dan apa adanya, 22 kisah dalam buku ini menantang prasangka dan mengajak kita melihat perbedaan dengan lebih berempati. Buku ini mungkin tak akan mengubah dunia, tetapi pasti akan mengubah cara Anda memandangnya.

308 pages, Paperback

First published December 5, 2025

Loading...
Loading...

About the author

Trinity

87 books237 followers
is Indonesia’s leading travel writer. In 2005, she started a travel blog at naked-traveler.com and in less than two years the blog was already nominated as Finalist in Indonesia’s Best Blog Award at Pesta Blogger. This led her to switch her corporate career to become full-time traveler and freelance travel writer.

Her debut book “The Naked Traveler” was a compilation of thoughtful but hilarious short stories from her adventure around the world. The book inspired many Indonesians, especially the youth, to travel – something that was rarely done at that time. Up to now, “The Naked Traveler” has been published in its third sequel and all are Indonesia’s best-selling travel book to date.

Together with Erastiany and illustrator Sheila Rooswitha, they created Indonesia’s first graphic travelogue “Duo Hippo Dinamis: Tersesat di Byzantium” (The Dynamic Hippos: Lost in Byzantium) about traveling misadventure of two fat girls in Turkey. She also contributed to anthology “The Journeys” along with 11 other writers.

Between dealing in her writing deadline, she still found time to become Editor in Chief of Venture travel magazine, regular contributor of Yahoo! Travel, contributor for various magazines, radio personality of Indika FM, social media entrepreneur, and speaker in creative writing/blogging/tourism events. In 2010, Trinity won “Indonesia Travel & Tourism Awards” as Indonesia Leading Travel Writer and dubbed as “Heroine for Indonesian tourism” by The Jakarta Post.

Trinity has Bachelor Degree in Communications from Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia, and awarded Asian Development Bank-Japan Scholarship to take up Master in Management in Asian Institute of Management, Manila, Philippines.

She has traveled to almost all provinces in Indonesia as well as 46 countries and counting. In any case, she thinks Indonesia is yet the best country ever.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
8 (29%)
4 stars
17 (62%)
3 stars
2 (7%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 13 of 13 reviews
Profile Image for Yulia.
93 reviews3 followers
March 11, 2026
Di buku Trinity kali ini ada yang berbeda dengan buku-buku sebelumnya. Di Luar Radar menulis tentang perjuangannya dalam menulis, soal tantangan di era serba digital dan media sosial yang membuat kita mudah terdistraksi. Selain itu, ia juga membahas bahaya media sosial yang bisa berakibat buruk dan merugikan—hanya karena perbedaan pendapat, anonimitas di internet memudahkan orang untuk merundung orang tak dikenal dengan mudah.
Yang menarik, di buku ini Trinity melakukan risetnya di pesantren dan biara Katolik, bahkan bepergian langsung ke Amerika Selatan untuk menemui para pastor dan suster Katolik asal Indonesia yang sedang bertugas di sana. Saya sependapat bahwa untuk saling berempati, kita perlu mengenal hal-hal “di luar radar” kita.
Profile Image for Eka Situmorang-Sir.
175 reviews30 followers
January 13, 2026
Buku yang mengharu biru. Banyak refleksi diri dan keimanan di sini serta toleransi akan umat beragama. Menggambarkan perjalanan pribadi penulis yang seolah berkembang juga di dalam buku ini.
Profile Image for Haryadi Yansyah.
Author 15 books64 followers
December 24, 2025

"Di mobil, saya merenung: Apa yang harus ditakutkan karena berbeda? Bukankah agama yang baik itu terlihat dari perilaku baik penganutnya?" Hal.182.


Sebagai pembaca setia seri The Naked Traveler (yang sudah saya baca ulang ntah berapa puluh kali itu), tentu saya ingat dengan salah satu cerita ketika Mbak T berkesempatan tinggal sebulan di Amerika Serikat dalam rangka program pertukaran budaya. Dulu, ceritanya seputar gegar budaya, dan siapa sangka kisah hidup host parents Mbak T yang bernama Dirk & Evelyn kembali diceritakan di buku terbaru ini.

Tulisan berjudul "Aliran (Tidak) Sesat" itu dimulai ketika Mbak T menemukan Kitab Mormon saat hendak merenovasi rumahnya.


"Mormon adalah aliran sesat! Mormon yang dikenal sebagai Gereja Yesus Kristus dari Orang-orang Suci Zaman Akhir (The Church of Jesus Christ of Latter-Day Saints), adalah gerakan agama Kristen yang berasal dari Amerika Serikat yang didirikan oleh Joseph Smith pada 1830 di New York." Hal.172.


Saya pertama kali dengar ajaran Mormon ya juga dari seri The Naked Traveler. Tapi, dulu ajaran ini nggak dapat pembahasan banyak, dan herannya saya juga gak sampai kepo buat googling. Baru dari tulisan ini saya ngeh jika ajaran ini dianggap sesat. Apa pasal? yakni adanya beberapa ajaran yang sangat melenceng dari Kristen. Misalnya saja, konsep mereka tentang poligami. Joseph Smith sendiri dikatakan menikahi 27 hingga 46 istri di saat yang bersamaan, ironisnya sebagian masih di bawah umur bahkan 14 istrinya masih berstatus menikah dengan suami masing-masing. Ajegile!

Jika ajaran Mormon ini jauh dari jangkauan informasi saya, di tulisan selanjutnya "Baha'i: Agama Termuda" saya makin kaget sebab agama Baha'i ini ternyata udah banyak pengikutnya di Indonesia. Ini agama yang mempercayai keberadaan dan nilai-nilai Buddha, Yesus dan Muhammad. Hmm, sekilas mirip juga dengan agama Sikh yang bermula di India.

Secara singkat, Baha'i ini adalah agama monoteistik yang lahir di Iran dan didirikan pada tahun 1844 oleh Siyyid Ali Muhammad, yang mengaku sebagai utusan Tuhan dan menyampaikan bahwa akan datang sosok penyampai wahyu yang lebih besar.

Tentu, terlepas dari pemahaman dan keyakinan para pemeluk agama Mormon dan Baha'i ini, yang jelas-jelas nggak dapat saya yakini, tapi saya sepakat bahwa para perilaku pemeluk tidak dapat dikaitkan penuh dengan agama yang mereka anut. Hari gini, pemimpin agama yang harusnya berperilaku mulia tapi malah bersikap bejat banyak diberitakan, bukan?

Kisah lain yang di luar radar saya -sebagaimana judul buku ini, adalah kisah tentang keberadaan Service Dog di tulisan "Bukan Sekadar Anabul".


"Dalam perjalanan dari Panama ke Kosta Rika selama sembilan jam, saya satu bus dengan keluarga asal Kanada yang membawa seekor anjing Grench Bulldog kecil yang mengenakan rompi bertuliskan Service Dog".

"Dengan ramah, si ibu menjelaskan bahwa service dog itu dilatih khusus untuk mencegah agar penyakitnya tidak kambuh. Dia mengidap epilepsi. Katanya, anjingnya dapat merasakan perubahan kimia tubuh atau aroma tertentu yang menjadi pertanda serangan epilepsi akan datang. Si anjing akan memberikan peringatan dini dan mengambil tindakan pencegahan: melindungi kepala si ibu dari benturan, membantu memosisikan tubuhnya agar tak cedera saat kejang, mengambil obat, bahkan memanggil bantuan." Hal.77.


Luar biasa. Sebelum ini, saya kira anjing hanya dapat dilatih untuk kebutuhan pencegahan tindakan kriminal (mengendus jejak pelaku pembunuhan atau barang terlarang/berbahaya di bandara). Atau, paling juga anjing diposisikan sebagai penuntun bagi mereka yang buta. Tapi, di cerita di buku ini, keberadaan anjing sebagai service dog dijelaskan jauh lebih rinci.

* * *

Waktu dulu mendengar kabar Mbak T nggak akan nulis buku lagi, saya salah satu yang merasa kehilangan dan sedih. Ya, sih tetap bisa baca tulisan di blog. Tapi, tentu saja beda feelnya. Dan, betapa senangnya mendapat kabar di penghujung tahun 2025 ini buku terbarunya kembali terbit.

Sebagai mana judulnya: Di Luar Radar isinya sangat sejalan dengan judulnya. Walaupun gak semua yang diceritakan benar-benar baru diketahui. Misalnya saja kisah hubungan Mbak T dengan ibu-ibu geng kuburan -para tetangga non komplek, sebab keberadaan mereka cukup sering ditampilkan di sosmed. Namun, bukan seorang Mbak T jika tidak menampilkan kebaharuan informasi di buku.

Misalnya saja di buku ini, hal baru yang saya ketahui tentang umumnya masyarakat sekitar kuburan -tempat Mbak T tinggal, adalah kecenderungan mereka untuk konsumtif untuk barang-barang yang sebetulnya tak diperlukan yang kemudian karena dibeli dengan cara mencicil, di kemudian hari hal itu menyusahkan hidup mereka sendiri.


"Dari obrolan dengan ibu-ibu kuburan, saya mulai memahami alasannya, yaitu gengsi. Mereka sangat peduli dengan pandangan orang lain, terutama sebagai perantau yang harus tampak berhasil di mata kampung halaman." Hal.8.


Namun, kedekatan Mbak T dengan ibu-ibu kuburan ini meninggalkan keharuan. Walau bagaimana pun mereka orang-orang baik. Nah, kisah manis seputar keluarga juga saya temukan di cerita "Bukan Bali yang Itu."

Berkesempatan datang ke beberapa negara dan provinsi di Indonesia, orang kadang nggak percaya kalau saya belum pernah ke Bali. Dan, jujur saja, keinginan saya untuk mendatangi Pulau Dewata ini memang belum menduduki posisi puncak. Sekarang pun, jika ditanya ingin keliling ke mana lagi di Indonesia? alih-alih memilih Bali, ya saya ingin menjejakkan kaki ke lebih banyak provinsi di Sulawesi atau Kalimantan dulu.

Mungkin karena dalam pikiran saya Bali itu terlalu riweh dan ramai. Makanya, di cerita Mbak T tentang Bali kali ini benar-benar beda. Yakni bercerita pengalaman Mbak T menginap di rumah Mbak Winda, yang notabane adalah pembaca seri The Naked Traveler juga.

Mendatangi sisi lain Bali -kali ini ke pinggiran Buleleng, tentu saja yang didapati bukan deretan penginapan dan pertokoan (atau kafe) yang dipadati turis. Tapi, ya kehidupan perkampungan yang sudah susah dijumpai.


"...saya langsung merasa ada kemiripan dengan keluarga saya sendiri yang multietnik -ramai, ekspresif, tapi penuh kehangatan. Kalau boleh memilih jadi orang Bali, tanpa ragu saya akan memilih jadi orang Buleleng. Rasanya seperti pulang ke tempat yang sudah akrab." Hal.19."


Ya ampun, buku setebal 300 halaman yang memuat 22 cerita ini benar-benar jadi bukti dari kepiawaian Mbak T menangkap momen-momen penting dalam perjalanan (dan hidup) dan dengan kepiawaiannya diceritakan kembali dengan gaya yang Trinity banget. Walau pun kekhasan-nya nggak hilang, tapi harus diakui buku ini jauh lebih deep dan banyak perenungan.

Cerita-cerita lain yang jadi favorit saya misalnya saja "Mondok di Pesantren", ya bayangin aja Mbak T yang Kristen bela-belain menginap di pesantren demi sebuah pengalaman hidup yang tak biasa. Di cerita "Cindo dari Luar Lingkaran", "Sendirian ≠ Kesepian" atau "Pedasnya Rujakan Netizen" saya banyak belajar dari fase titik terendah Mbak T.

Yang kemudian menjadi gong-nya adalah sederet rangkaian tulisan tentang Misionaris dari Indonesia yang banyak bertugas dan ditempatkan di daerah-daerah terpencil di Amerika Latin. Nah, dalam rangka residensi Mbak T ke Peru dan Bolivia, Mbak T melihat secara langsung kehidupan para pastor asal Indonesia (Timur) itu.

Sama seperti Mbak T, saya juga sempat bertanya-tanya, kenapa bisa negara-negara di Amerika Selatan yang mayoritas Katolik harus mengimpor pastor dari Indonesia? lewat tulisan-tulisan "Suster Bukan Perawat", "Dari Amazon ke Andes" hingga "Superman VS Dukun" hal itu dijelaskan dengan rinci. Saya sendiri setelah baca, beneran salut dengan kehidupan para pastor dan suster ini yang rela terbang jauh dan mengabdi di kawasan-kawasan yang bahkan berbahaya bagi keselamatan mereka.

Salah satu yang saya bikin terharu, ketika sebagian dari mereka ada yang bertugas di penjara. Mengajar anak-anak yang orang tuanya tengah menghabiskan waktu masa tahanan. Rupanya, di Bolivia, hukum mengatur anak narapidana yang berusia hingga 6 tahun diizinkan tinggal bersama orang tua mereka di penjara. Wah, dengan demikian gak ada cerita anak yang gak bisa mendapatkan ASI dari ibunya ya, walaupun situasi di penjara juga gak sepenuhnya ideal bagi anak-anak.


"Jadwal suster mengasuh anak-anak itu dimulai dari pukul 08:00 pagi sampai pukul 04:00 sore. Mereka diberi sarapan dan makan siang, lalu sorenya dikembalikan ke sel." Hal.258.


Ah, bacaan penutup akhir tahun yang apik. Saya benar-benar berharap ini bukan buku terakhir Mbak T. Kalau nggak salah ingat sih dulu sempat ada keinginan Mbak T untuk menulis fiksi, ah pasti menarik, dan tentu saya gak akan mau ketinggalan jika benar novelnya Mbak T akan selesai ditulis dan diterbitkan.

Oh ya satu lagi, gara-gara baca Di Luar Radar, saya jadi banyak wishlist daftar film dokumenter yang harus saya tonton haha.

Skor 8,8/10
79 reviews1 follower
January 4, 2026
my fave trinity’s so far!
geng geng ibu kuburan frw!!!
Profile Image for Baiq Nadia Yunarthi.
8 reviews1 follower
February 24, 2026
Sulit mengabaikan bahwa kita sedang hidup pada masa genting. Bukan ingin dramatis, tetapi beberapa tahun belakangan merupakan masa paling transformatif dalam hidup banyak orang. Beberapa tahun berat yang mengubah cara kita memandang dunia, termasuk cara Trinity melahirkan karya terbarunya setelah lebih dari dua dekade menulis cerita perjalanan di blog dan buku. Dalam buku Di Luar Radar, terasa penulis memprioritaskan kesehatan psikologisnya dan menjadikan tulisan ini sebagai titik balik dari masa-masa yang sama-sama kita rasakan begitu menekan. Penulis masih mengajak kita melihat dunia, tetapi ia juga mengajak kita merefleksikan apa yang terjadi di dalam diri … sekaligus di luar radar perhatian kita.

Perubahan orientasi inilah yang paling terasa. Jika dalam karya-karya sebelumnya perjalanan dimaknai sebagai petualangan yang “mendebarkan” bahkan jenaka, kali ini perjalanan menjadi ruang kontemplasi batin. Negara, kota, dan peristiwa hadir lebih sebagai latar dan konteks yang memicu perenungan personal. Detail perjalanan bukan menjadi tujuan utama cerita, ia hanya alat untuk memahami posisi kita di tengah dunia yang terasa semakin tidak stabil.

Hal lain yang sangat terasa adalah ketertarikan penulis pada mereka yang hidup “di pinggir radar” sosial. Dari stigma terhadap perempuan lajang menjelang lansia hingga kisah imigran dan komunitas minoritas agama, tulisan-tulisan ini menunjukkan pergeseran perspektif Trinity. Sudah hampir semua negara di dunia disinggahi, levelnya bukan lagi tentang melihat tempat baru, melainkan membuka lagi arsip-arsip kisah manusia di dalamnya. Cerita “Geng Ibu-Ibu Kuburan” misalnya, bukan hanya menghadirkan kehangatan khas hospitalitas “ibu-ibu Indonesia”, tetapi juga mengungkap sisi miris bagaimana tekanan sosial membuat tampilan materialistis (bahkan dengan berutang), masih dianggap sebagai standar ideal dalam bermasyarakat.

Tema yang disampaikan buku ini beragam, dari kontroversi sabung ayam di Bali, peran anabul sebagai pet cabin dan emotional support, pengalaman pesantren kilat di Salatiga, makanan Indonesia yang kesulitan semoncer makanan Asia lainnya di kancah dunia, isu imigran di Swedia atau Eropa, hingga serangkaian kisah misionaris Indonesia di Amerika Selatan (harta karun hasil residensi penulis yang terpendam lama), yang pada akhirnya membentuk satu pola yang jelas: ketertarikan pada pengalaman manusia di wilayah yang jarang disorot. Bahkan ketika menyentuh tema-tema berat seperti genosida di Armenia atau stigma terhadap agama minoritas, penulis terlihat berusaha keseimbangan antara keberanian dan kehati-hatian.

Travel writing khas Trinity yang biasanya menawarkan pemenuhan rasa ingin tahu akan keunikan masyarakat di wilayah baru, kini menghadirkan pengalaman membaca yang berat secara emosional. Kita diajak mendekat kepada kenyataan, menghadapinya bersama penulis. Inilah yang membuat buku ini sulit dihabiskan dalam sekali duduk, buku ini membuka ruang bagi kita mengecek luka kolektif yang banyak orang alami dalam beberapa tahun terakhir. Pada bab “Misionaris dari Indonesia” justru bab yang sebenarnya paling saya tunggu ini, akhirnya menjadi bagian paling berat untuk diselesaikan. Bukan karena topiknya tidak menarik, mungkin karena diletakkan pada bagian akhir? ketika stamina emosional pembaca sudah terkuras. Penempatannya membuat refleksi yang seharusnya mendalam terasa melelahkan, seolah pembaca tidak lagi memiliki ruang tenaga untuk menghayatinya secara utuh. Jika ditempatkan lebih ke tengah, bab ini berpotensi lebih bisa dicerna dengan nyaman.

Saya salut kepada penulis yang berani membuka kegelisahan serta refleksi yang lebih sunyi dan mendalam. Meski begitu, buku ini mungkin bukan pintu masuk paling mudah bagi pembaca baru. Namun, menelurkan buku toh tidak selalu harus berorientasi jumlah ekspemplar terjual, boleh lho menjadi ruang “temu kangen” antara penulis dan mereka yang telah lama tumbuh bersama cerita-cerita “serunya traveling” khasnya.

Pada akhirnya, Di Luar Radar menjadi buku perjalanan menuju penerimaan diri dan tentang seseorang yang tetap melangkah, meski dunia di sekelilingnya terasa genting dan tidak lagi pasti.
Profile Image for alicé.
236 reviews1 follower
April 12, 2026
DI LUAR RADAR: KISAH KEBERAGAMAN DARI KUBURAN JAKARTA SAMPAI HUTAN AMAZON (@bentangpustaka © 2025)
by
TRINITY (@trinitytraveler)

Setelah sekian lama nggak baca buku mbak Trinity, akhirnya baru tahun kemarin ngeluarin buku baru yang walau bukan cerita traveling tapi membawa wawasan dan ngajak jalan-jalan otak gue kayak dulu baca Naked Traveler Series. Bagian geng ibu-ibu kuburan sangat relate sama gue yang dulu waktu kecil di masa krismon 90an akhir, ortu mengontrak rumah di dekat kuburan.

Ada bagian nggak nyaman juga waktu ngomongin hewan apalagi sabung ayam, setelah gak sengaja lewat video di fyp ada ayam mati di arena dengan lehernya kena sabet ayam lawan. Dari situ gue juga tau kalo ayam yang diadu ini ada pisau di kakinya, dan buku ini kasih gue info tambahan tentang itu. Ada juga sejarah berdarah yang bikin gue shock. Gue tau ya ada manusia di dunia ini yang bisa kejam ke sesamanya, dilakukan ke satu orang aja udah kejam banget dan ini ada jutaan korban yang mati dengan cara yang sama (Gue sampe pake kacamata item di dalem bus biar gak keliatan mau nangis).

Ada juga cerita-cerita seru yang gue suka waktu Mbak Trinity cerita pengalamannya mondok di pesantren. Juga tentang misionaris Katolik Indonesia yang dikirim ke negara-negara Amerika Selatan (bahasanya udah bukan Inggris lho!), kayak Peru dan Bolivia. Part yang bareng Pater John gak tau kenapa kayak nonton film komedi satir (Maap Mbak! 😭).

Sepanjang baca ini gue jadi tau informasi-informasi baru dan pengalaman-pengalaman seru yang dilalui Mbak Trinity setelah masa Naked Traveler-nya selesai. Ada yang seru, sedih, dan lucu. Paling mengagumkannya lagi para misionaris dari negara kita yang berjuang di tempat yang jauh dan mengabdi di sana. Oya buku ini gue beli pas PO di akhir bulan November tahun lalu, karena kakak gue suka banget sama karya-karyanya Mbak Trinity dan waktu bulan puasa kemarin berkesempatan ketemu Mbak Trinity di Gramedia JCM (Tiap Mbak Trinity ke Jogja, agenda wajib gue nemenin kakak gue buat ketemu Mbak Trinity!🥰). Gue dikasih kesempatan nanya tapi gue malu dan menolak mic-nya. Astaga, walau sebenarnya gue mau cerita waktu gue liburan ke Malaysia, mengalami part yang mirip kayak di buku Naked Traveler. Kalo gak salah judul babnya ‘Tutup mata, tutup hidung, tutup telinga’. Nah yang mirip pengalaman gue itu ‘tutup hidung’-nya. Sumpah Mbak valid banget itu rasanya. 🤣 Mungkin kapan-kapan gue bakal re-read ulang Naked Traveler series.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Makarim Muhammad.
19 reviews
January 19, 2026
Buku ini terbit 8 tahun setelah buku terakhir Trinity : The Naked Traveler 8. Buku dibuka dengan cerita lingkungan tempat tinggal penulis yang menetap di dekat TPU di bilangan Jakarta. Pada sisa bukunya, setiap cerita yang tak melulu bersambung dikemas dengan bahasa dan humor khas Trinity.

Di beberapa bagian buku ini, tergelitik rasa humor saya terutama ketika membahas kisah misionaris Indonesia di Amerika Selatan. Ada juga kisah dia mondok menjadi santri kalong di sebuah pondok pesantren di Jawa Timur (atau Jawa Tengah saya lupa). Favorit saya adalah kisah reuninya dengan keluarga yang sempat ia kunjungi tiga dekade lalu di Amerika Serikat. Wow! sudah selama itu experience travellingnya.

Rasa-rasanya kemampuan menulis beliau sama seperti 8 tahun lalu, kalau tidak lebih baik. yang saya cermati di buku ini penulis lebih banyak menyampaikan opini dan keresahannya pada tema-tema sensitif seperti kerukunan beragama dan cyberbullying. dalam setiap babnya terdapat pesan kepada pembaca, ini hal baru bagi saya yang sudah mengikuti seri The Naked Traveler dari buku pertama.

Buku yang layak dikoleksi bagi pecinta buku bertema travelling. saya harap ini bukan jadi buku terakhirnya. saya tunggu cerita-cerita selanjutnya!

Profile Image for Putu Winda.
318 reviews2 followers
December 19, 2025
Buku ini sangat manis dan hangat!

Penulis favorit saya yang biasanya bercerita tentang kisah perjalanannya yang tidak biasa, 6 tahun kemudian menerbitkan buku lagi (akhirnya!!) tentang hal-hal yang lebih tidak biasa lagi! Di luar radar.

Buku ini menjadi pengingat tentang prasangka yang tidak selalu membuat hidup lebih tentram. Seringnya malah menyesatkan. Apalagi ketika berprasangka tanpa mau mencari tau lebih lanjut.

Tentang perbedaan yang pasti awalnya membuat jengah, tapi setelah dilihat, dan dirasakan malah menjadi kontemplasi untuk menjadi lebih bijak, lebih damai!

Cerita-cerita favorit saya
- Geng Ibu-ibu kuburan (semua netijen pasti kepo tentang mereka)
- Sendiri ≠ Kesepian
- Bha’i : Agama Termuda
- Termasuk semua kisah Para Misionaris Indonesia di Amerika Latin

Dan tentu saja “Bukan Bali yang itu.” Yang settingnya di kampung saya di Busungbiu. Di rumah The Wirnadas di Mawangsari. Bukan hanya tentang menjadi Bali di Buleleng yang jauh dari hingar bingar pariwisata. Bali yang tidak ada beach club dan turis! Bali yang saya sebut rumah.
Profile Image for Imam Sutono.
16 reviews
February 11, 2026
Buku ini terasa berbeda dari tulisan perjalanan khas Trinity. Jujur, ada banyak momen di mana saya berhenti sejenak dan merenung—karena buku ini menyuguhkan pelajaran hidup serta sudut pandang baru tentang keragaman kehidupan manusia (dan juga hewan), dengan segala cerita uniknya. Trinity membahas isu kehidupan sosial, agama, budaya, hingga penderitaan yang ia alami dan saksikan langsung selama perjalanannya di berbagai penjuru dunia. Insightful dan reflektif, buku ini mengajak kita untuk lebih toleran serta melihat kehidupan manusia dari perspektif yang lebih subjektif dan manusiawi.
Profile Image for Steven S.
751 reviews67 followers
January 17, 2026
Bangga Indonesia!

Di buku terbaru Trinity, cara bercerita dan pengalaman Trinity yang asyik dan seru, kembali menemui pembaca. Mulai dari esai-esai personal lalu mix dengan catatan perjalanan, seperti reportase tapi juga sebuah travelogue.

Semoga mbak T akan nulis kembali buku lainnya.

Ps: Habis baca Di Luar Radar, jadi pengin baca lagi seri Naked Traveler. Aku dulu hanya baca di persewaan.

Yuk larisin!
Profile Image for Fiha Febiala.
183 reviews
February 18, 2026
Finished my second nonfiction read this year: *Di Luar Radar* by Trinity.

Ternyata kekhawatiranku soal buku nonfiksi itu salah—buku ini justru terasa ringan dan page turner. Berisi 22 cerita dari pengalaman pribadi Trinity yang mengangkat berbagai realita sosial di sekitar kita, dari kehidupan sehari-hari sampai isu yang cukup sensitif.

Cara penyampaiannya jujur, reflektif, dan tidak menggurui, tapi tetap bikin mikir.

Personal rating: 4.25/5 ⭐
Displaying 1 - 13 of 13 reviews