Mada memberontak kepada Tuhan, karena sudah merenggut ayah, ibunya. Ia juga kehilangan cinta yang membuatnya patah hati. Ia marah pada kenyataan, kemudian memutuskan untuk menjadi backpacker dan hidup bebas. Bahkan ia juga meninggalkan Tuhan, keluarga, dan karibnya di kampung. Pada dunia luar yang bebas, Mada menemukan kebahagiaan ragawi, namun merasa kosong secara rohani.
Di saat yang penuh kerapuhan inilah, tangan Tuhan mengajaknya umtuk kembali melalui serangkaian peristiwa. Berkelana dari satu negara ke negara lainnya, menyingkap kesadaran demi kesadaran, Mada sadar ternyata Tuhan sebenarnya mencintai dan selalu menjaganya dengan aturan yang sempurna. Tuhan selalu mendekapnya.
'Haji Backpacker' bercerita tentang perjalanan spiritual sang tokoh utama melintasi sembilan negara melalui darat untuk menuju Arab.
Aguk Irawan MN lahir di Lamongan, 1 April 1979. Setelah bersekolah di MA Negeri Babat, Lamongan, sambil belajar kitab kuning di Pondok Pesantren Darul Ulum, Langitan, Tuban, ia melanjutkan kuliah di Universitas Al-Azhar, Kairo, jurusan Aqidah dan Filsafat, kemudian meneruskan studinya di Institut Agama Islam Al-Aqidah, Jakarta.
Selama di Mesir, ia banyak menerjemahkan karya sastra Arab, di antaranya: naskah drama Taufik El-Hakiem, Tahta Dzilali Syams (Di Bawah Bayangan Matahari); karya klasik Abu A’la El-Ma’ary, Komedi Al-Ilahiyah (Komedi Langit); Dunya Allah karya Naguib Mahfouz; Chicago karya Alaa Aswani; dan bersama Mahmud Hamzawie menerjemahkan sastra Indonesia ke Arab, di antaranya kumpulan puisi Sutradji Calzoum Bachri, O Amuk Kapak (Ath-Tholasim); karya Soni Farid Maulana, Anak Kabut (Abna Dhabab). Sajak-sajaknya juga sering disiarkan di Radio BBC Mesir dan diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh Mahmud Hamzawie.
Buku fiksinya yang sudah terbit adalah: Dari Lembah Sungai Nil; Hadiah Seribu Menara; Kado Milenium; Negeri Sarang Laba-Laba; Binatang Piaraan; Liku Luka Kau Kaku; Sungai yang Memerah; Penantian Perempuan; Risalah Para Pendusta; Aku, Lelaki Asing, dan Kota Kairo; Balada Cinta Majenun; Sepercik Cinta dari Surga; Memoar Luka Seorang TKW; Sekuntum Mawar dari Gaza; Dalam Sujud Cinta; Hasrat Waktu; Di Jari Manismu Ada Rindu; Lorong Kematian; Sinar Mandar; Jalan Pulang; Musyahid Cinta; Semesta Cinta; Penakluk Badai; Cahaya-Mu Tak Bisa Kutawar; Haji Backpacker; Air Mata Tuhan; Maha Cinta; Kidung Rindu di Tapal Batas; Patah Hati Terindah: Karena Cinta Adalah Allah; Peci Miring (Novel Biografi Gus Dur).
Sementara karya nonfiksinya yang sudah terbit adalah: Kiat Asyik Menulis; Kisah-Kisah Inspiratif Pembuka Surga; Di Balik Fatwa Jihad Imam Samudra (bersama Isfah Abidal Aziz); Haji Backpacker, Sebuah Memoar 1; Haji Backpacker, Sebuah Memoar 2; Ensiklopedi Haji.
Beberapa puluh buku terjemahan dan saduran dari bahasa Arab juga telah digarapnya, di antaranya: Islam-Negara-Agama; Menyingkap Rahasia Rukuk dan Sujud; 100 Wasiat Nabi; Spirit Al-Quran; Samudra Hakikat; Ashabul Kahfi; Ensiklopedi Sains Al-Quran; Menjadi Murid Sejati; Tasfir al-Jilani.
Membaca buku ini sedikit sebanyak mengimbau kenangan umrah saya sekitar tahun 2012 yang lalu. Melihat kota suci itu di depan mata, sememangnya tidak ada kata-kata yang terungkap. Apatah lagi bila menziarah tempat-tempat yang tercatat dalam sejarah, hati senang benar terbenam dengan rasa yang berbaur; terharu, sedih, gembira dan bangga.
Terima kasih, ya Rasulullah.
Cuma bezanya, saya ke sana dengan pakej yang sudah menguruskan segalanya. Berbanding penulis, selain menunaikan haji dengan belanja yang terhad, beliau juga mahu mencari kerja. Dua dalam satu. Ianya sangat meletihkan.
Buku ini mencatat hal kelangsungan hidup penulis semasa di Mekah dan Madinah. Buku 1 dan 2, tidak banyak perbezaan, malah tak keterlaluan saya katakan hampir banyak perkara yang berulang. Tidak cukup makan, tidak ada tempat tidur, sukar mendapatkan pekerjaan, kebetulan-kebetulan yang sangat mudah setiap kali menyelesaikan "masalah". Buku kedua lebih menarik, walaupun disertakan dengan panduan haji/doa-doa pilihan hampir 30++ mukasurat.
Saya belum lagi menonton versi filemnya. Tetapi saya kagum juga, penceritaan buku ini agak biasa-biasa berbanding dengan buku Prof Kamil, Travelog Haji. Kalau Haji Backpacker boleh difilemkan, saya yakin Travelog Haji lebih menginspirasi!
Rasa kecewa membacanya. Tak seperti konsep backpacker seperti yang dicanang-canangkan orang. Buku ini terhabagi kepada dua bahagian. Bahagian pertama ialah pengalaman haji pertamanya. Bahagian kedua ialah pengalaman haji kedua. Kedua-duanya dengan cara koboi. Saya boleh sahaja meragui niatnya berbuat haji, iaitu beribadah dan mencari wang melalui peluang kerja yang terbuka luas ketika musim haji. Tetapi itu tanggapan saya kerana dia memang menanam niat yang jelas iaitu mengerjakan haji. Mencari pendapatan adalah smapingan. Namun cara haji koboi yang dia laksanakan dengan kos yang rendah datang dengan kesukaran yang bukan sedikit. Dia tidak menggunakan visa haji tapi passport biasa. Meski pun berdepan kesukaran, dia berjaya mengerjakan haji dengan sebaiknya. Dapat pula menbantu kumpulan jemaah yang ditipu dan bergelimpangan tanpa arah. Kebaikan yang dizahirkan banyak membantunya melunaskan ibadah haji. Bayangkanlah sahaja dengan membawa Rp10 juta boleh lengkap dengan tiket penerbangan. Tapi tidurnya dikaki lima. Makan ihsan jemaah dan teman. Sambil mencari kerja di sini sana bagi menampung kehidupan sepanjang di Tanah Suci. Dan akhirnya aku faham konsep backpack si penulis maksudkan bukan seperti yang aku bayangkan. Tetapi akhirnya tersentuh juga dengan usahanya membantu jemaah yang kehilangan arah di sana.
Membeli buku ini karena belum membaca bagian pertamanya, dimana ini adalah cerita sang pengarang saat nekat berhaji dengan dana pas-pasan saat menjalani status mahasiswa Universitas Al Azhar, Kairo.
Banyak hal penting yang bisa didapatkan, terutama cara-cara menjalani ibadah haji dengan cara yang tidak mainstream. Sebagai tambahan di bagian terakhir ada tuntunan haji yang ditulis agak beda dengan yang biasa. Relatif mudah utuk diikuti.
Buku ini harus saya akui mampu menarik perhatian walau hanya melalui judulnya. Beralih pula kepada sinopsis ringkas yang mengetengahkan pemberontakan jiwa seorang Mada. Segaris perjalanan melarikan diri daripada takdir yang akhirnya bertukar kembali menuju Tuhan. Jalan cerita yang sederhana, mudah diikuti dan tidak melelahkan. Sekadar cukup untuk dibaca bukan untuk kepuasan sebenar sebuah pembacaan.
Kayaknya judul yang lebih tepat untuk buku ini adalah "Haji Nekat" (hehehe.. jadi kayak "Nekat Traveler" a.k.a. "Naked Traveler"), soalnya memoar perjalanan Haji Aguk Irawan ini benar-benar nekat! Persis seperti sub judul buku ini, "Memoar Mahasiswa Kere Naik Haji". Membacanya saja membuatku capek (hehe lebay^^), apalagi ikutan merasakan petualangannya yang super nekat.
Apa yang dialami Haji Aguk ini seolah membalik 180 derajat logika kita tentang rukun Islam kelima yang identik dengan 'harta melimpah' untuk bisa melaksanakannya. Namun ternyata lewat buku ini, penulis telah membuktikan bahwa syarat "istito'ah" (mampu) untuk berhaji tidak berarti mampu secara materi, tetapi juga mampu secara fisik. Dengan hanya bermodal niat (plus nekat) tanpa uang cukup, Haji Aguk yang saat itu masih mahasiswa Al Azhar Kairo akhirnya mampu berhaji... Meskipun banyak juga gak enaknya. Lantaran gak punya uang untuk sewa penginapan, penulis terpaksa tidur di emperan Hotel Hilton atau kamar mandi Masjidil Haram. Tapi kalo lagi mujur, bisa numpang tidur di penginapan jamaah haji Indonesia, itu pun harus kucing-kucingan dengan satpam hotel yang sangar.
Lantaran duit mepet ini pula, konsentrasi ibadah di tanah suci otomatis terpecah, karena haji nekat ini harus memanfaatkan berbagai kesempatan untuk meraup riyal dengan halal. Alhasil, berbagai profesi dilakoninya, mulai dari mengantar katering jamaah haji, pemandu ziarah, tukang dorong kursi roda, sampai tukang pijat.
Mungkin pengalaman Aguk Irawan ini sudah tak asing bagi para mahasiswa Indonesia di Timur Tengah. Tetapi buku ini menjadi sebuah dokumentasi perjuangan sekaligus kenekatan para anak negeri yang telah membuktikan hukum "The power of 'kepepet'" ^_^
Baca dan rasai lah sendiri pengalaman perit tanpa duit tapi ya, dengan lindungan kekuasaan dan Maha Kaya Allah dalam kebetulan epik luar biasa di tanah suci kota Makkah dan Madinah, penulis berjaya meneruskan hidup di sana seterusnya menyambung semula pengajian di Al Azhar. Perjalanan backpack dari Cairo ke Makkah dan kisah kedua perjalanan dari Indonesia dengan visa gratis dari Malaysia terus ke Jeddah.
Menariknya, bukan sekadar kisah backpack tetapi kisah penulis melaksanakan umrah dan haji seawal berniat ihram diceritakan dgn agak jelas. Dan lampiran ringkasan manasik praktis haji dan umrah di beberapa helaian terakhir sangat bermakna.
Benar, ada rindu yang terdetik. Kepada sesiapun. Allahu Akbar.
Jujur, mungkin ceritanya sebenarnya bagus. Hanya saja saya terganggu dengan tata bahasa yang tidak memperhatikan EyD, lay out tulisan, terjemahan bahasa Inggris yang entah apa artinya, sampai penggunaan tanda baca yang tidak perlu. Sayang sekali. Saya menyerah baca sampai di pertengahan. Mungkin kalau mood saya sedang bagus untuk mengabaikan segala macam carut marut bahasa ini, saya akan lanjutkan baca sampai selesai.
this book gives me a quite good laugh :D, Aguk is such a poor young man with all his effort to do the HAjj, nonetheless he amazingly puts his enlightening perspective towards all 'sad-yet-hilarious' incidents surrounding his holly trip, along the way he keeps giving his thought that defined the word 'pilgrim' in different term now :D
“Backpaker, yang biasanya menjelajahi eksotisme pusat-pusat turisme ‘sekuler’ dunia, kali ini ‘nyasar’ ke pekarangan Tuhan. Inilah yang membuat petualangan haji koboi menarik untuk diikuti.
Ben Sohib, penulis novel bestseller The Da Peci Code
"Sebuah pengalaman ibadah haji yang sangat mengesankan. Tidak hanya religius, tapi juga unik, aneh, menggelikan dan penuh intrik petualang. Saya sungguh tidak menyangka, di balik banyak tulisan Aguk yang kritis di berbagai media, ia punya kenangan gila seperti dalam buku ini".
Iman Budhi Santosa Penyair senior Jogya dan Penulis novel "Perempuan Panggung"
Endorsement belakang cover:
"Saya kira, tiap mahasiswa di Mesir yang pernah pergi haji punya pengalaman yang sama. Buku ini, selain sebagai buku pertama yang merekam jejak hajji mahasiswa lengkap dengan sepiritnya, juga hadir sebagai renungan yang mendalam buat banyak orang, terkait rumitnya menunaikan ibadah rukun kelima itu. Saya jadi teringat ketika masih mahasiswa di Mesir dulu, berangkat haji dengan modal nekat."
KH. Mustafa Bishri Alumnus Al-Azhar Mesir dan Pengasuh Ponpes Raudlatul Thalibin, Rembang
"Awalnya saya kaget mendengar istilah haji koboi, tapi setelah membaca lembar demi lembar buku ini, saya jadi tahu ada kisah seperti ini. Sungguh, perasaan saya seperti diaduk, antara haru dan ingin ketawa. Tak berlebihan jika disebut sebagai haji koboi."
Isfah Abidal Aziz Aktivis Muda dan Penggerak Forum Silaturahmi Santri (Forsis)
"Berbeda dengan memoar haji lain yang cenderung formal dan terkesan normatif. Pengalaman religi yang seperti itu-itu juga. Buku ini tampil beda dengan segenap alurnya yang kocak dan menghibur, tapi tak meninggalkan semangat religiusnya. Salut!"
Abidah El-Khaliqie
Penulis Novel Fenomenal "Perempuan Berkalung Sorban."
Buku ini untuk memenuhi New Author Reading Challenge 2015 dan Yuk Baca Buku Non Fiksi 2015
4 dari 5 bintang!
Buku ini sangat menginspirasi saya bagaimana caranya untuk melakukan ibadah haji dengan modal backpacker.. Bisa dibayangkan dengan IDR 13,5 juta sudah bisa melakukan ibadah haji sesuai rukun islam kelima? >__<
selain itu saya menyukai pemaparan Mas Aguk mengenai lika liku kehidupannya disana yang bekerja serabutan menjadi tukang pijat, petugas katering dan hingga tidur di emperan masjid Nabawi dan Hotel Hilton.. buku ini sangat informatif karena di halaman-halaman belakang dilengkapi dengan ringkasan Manasik praktis haji dan umrah.. mulai dari niat haji hingga sampai Tawaf Wada'
*Tetiba jadi teringat dari perkataan seorang sahabat yang berkata kepada saya "Ingat Mar, kamu boleh travelling kemana saja yang kamu mau tapi jangan lupa ya mar Rumah Allah SWT itu harusnya yang kamu kunjungi dulu kalo kamu punya rejeki lebih T__T
Mada memberontak kepada Tuhan, karena sudah merenggut ibunya. Ia juga kehilangan cinta yang membuatnya patah hati. Ia marah pada kenyataan, kemudian memutuskan untuk menjadi backpacker dan hidup bebas. Bahkan ia juga meninggalkan Tuhan, keluarga, dan Sahabatnya. Pada dunia luar yang bebas, Mada menemukan kebahagiaan ragawi, namun merasa kosong secara rohani.
Di saat yang penuh kerapuhan inilah, tangan Tuhan mengajaknya untuk kembali melalui serangkaian peristiwa. Berkelana dari satu negara ke negara lainnya, menyingkap kesadaran demi kesadaran, Mada sadar ternyata Tuhan sebenarnya mencintai dan selalu menjaganya dengan aturan yang sempurna. Tuhan selalu mendekapnya.
Haji Backpacker bercerita tentang perjalanan inspiratif sang tokoh utama melintasi sembilan negara melalui darat untuk menuju Mekah.
Haji backpacker itu apa ya? Mungkin lebih cocok kalau judulnya haji nekat... hohoho soalnya isinya kurang lebih berputar-putar seputar kenekatan mahasiswa Kairo menunaikan rukun islam kelima dengan isi kantong yang pas-pasan. Konyol dan sedikit lebay.
Tanda baca yang 'menyebar' ke sana-kemari, kalimat-kalimat panjang yang enggak jelas intinya, dan kekurangan-kekurangan lainnya, membuat pembaca tidak nyaman membacanya, apalagi beranjak ke halaman berikutnya... *sigh!*
Sebenarnya baca buku ini udah lumayan lama , sekitar tahun 2011, waktu itu pinjam dari teman karena masih sekolah ga punya cukup uang untuk beli-beli buku.
Cerita buku ini lumayan menarik. Seorang Mahasiswa Kairo Nekat yang ingin pergi haji dengan modal pas-pasan. Nekat banget ketawa ngikik si ngebayangin Mas Aguk tidur diemperan apartemen gitu. Kasian banget deh.
Haji Backpacker ini membuka mata kita bahwa tidak ada yang tidak mungkin. Allah memberikan kita seribu jalan untuk mencapai Ridhanya.
Saya sebetulnya baca versi novel adaptasi film. Menarik, mulai dari alur maju-mundur yang semankin membuat penasaran bagaimana kisah-kisah di tiap negara bisa saling berhubungan. Begitu juga karakter Mada yang sangat kuat. Penggambaran perjalanan di tiap negara pun dideskripsikan secara jelas. Cukup membuat penasaran bagaimana hasil "konversi" Danial Rifki dari novel ini menjadi sebuah film. Gak sabar nunggu premiere 2 Oktober 2014. haha :D
menambah wawasan mengenai situasi dan kondisi di Arab Saudi serta hal-hal yang perlu di siapkan untuk menjadi haji yang ilegal :D tapi juga memberi apresiasi kepada para mahasiswa disana yang 'ternyata' sudah banyak yang menjadi HAJI BACKPACKER. Selamat Berjuang, para penerus bangsa. Saya ingin menjadi salah satu dari mereka karena menginspirasi saya bahwa tidak ada yang tidak mungkin dan semua harus ada usaha yang maksimal untuk mendapatkannya.
buku ini luthu, konyol, menyedihkan (karena tokoh utama ketiban sial terus)...bagi yang ngga punya doku cukup buat pergi haji, tapi nekat, kayaknya buku ini bisa jadi referensi yang cocok deh...he...