Buku ini adalah dokumentasi keteguhan para perempuan di berbagai desa yang menolak tunduk ketika pembangunan meminggirkan mereka. Dari titik paling pinggir inilah tumbuh keberanian, kasih, dan etika merawat kehidupan.
Di tengah pembangunan Ibu Kota Nusantara dan Proyek Strategis Nasional, perubahan iklim, serta keserakahan korporasi, mereka melawan dari kebun dan ladang yang tersisa, dari rumah yang terancam digusur atau tenggelam, dengan tubuh mereka sendiri sebagai perisai terakhir. Di bawah ancaman kriminalisasi, mereka berdemo, turun langsung mengadang alat berat, juga membangun komunitas untuk menyusun siasat bersama.
Tiga penulis buku ini merajut benang ekofeminisme dari pengalaman konkret perempuan di tingkat akar rumput sebagai cara melihat dunia yang lebih adil, ruang bagi alam dan tubuh yang tidak bisa dikorbankan demi ambisi pembangunan yang maskulin dan kapitalistik.
Di bagian cerita ini ada kalimat bagaimana warga desa dihantui rasa ketakut setiap hujan dan awan untuk kadang dan sawah, kini mereka ketakutan datangnya banjir. Tiap bab dalam rekam jejak cerita rasanya membuat hati sedih., penjajao sesuggmulai gelap. Hujan yang mereka dulu anggap berkah bukan Belanda atau Jepang tapi mereka yang kita percaya sebagai pemimpin negeri. Haduh sampek pusing rasanya
terima kasih kawan-kawan konde yang sudah mendokumentasikan kisah-kisah perempuan hebat ini. sedih rasanya membaca buku ini dan melihat kezaliman korporasi serakah serta pengabaian dari pemerintah. hidup perempuan melawan✊