What do you think?
Rate this book


218 pages, Paperback
First published January 1, 2015
Suatu hari perkampungan itu didatangi orang dari pemerintah. Pemerintah menganggap tata cara kehidupan mereka semua terlalu sederhana. Cara hidup, peralatan yang dipakai untuk hidup, dan cara berpakaian. Pemerintah berpikir, mereka harus lebih maju dari itu. Harus ada sesuatu yang diubah. Pemerintah meminta orang Rao mengganti koteka dengan pakaian, yakni celana pendek. Orang Rao takut menuruti hal itu karena tidak sesuai dengan agama asli mereka. Juga bertentangan dengan kebiasaan yang sudah ada selama ini. Pemerintah memaksa. Akhirnya mereka memakai celana pendek, tapi dengan cara sebagaimana kalau mereka memakai koteka. Dipakai terus-menerus tak pernah ganti. Sabun mereka tak kenal. Iklim di Papua sering ekstrem. Curah hujan tinggi. Akhirnya mereka terkena penyakit kulit. Ada yang benar-benar terganggu dan tak terobati. (hal. 102)
Indonesia adalah bagian dari dunia modern. Dan setiap orang yang ingin menikmati sesuatu yang berhubungan dengan Indonesia, mesti juga menjadikan dirinya sebagian dari dunia modern. [...] yang belum lagi dapat menjadikan dirinya bagian dari dunia modern ternyata tidak dapat menikmati kekayaan yang disediakan oleh buminya sendiri, yang merupakan bagian dari bumi Indonesia. (hal. 69)
Tak dimengerti oleh masyarakat Megafu bahwa jarak kelahiran yang rapat, kematian demi kematian bayi, lalu kehamilan berikutnya, bisa membahayakan kesehatan perempuan dan anak yang dilahirkan kemudian. (hal. 91)
Lama-lama Irewa jadi marah pada dirinya sendiri. [...]. Laki-laki itu datang tiap hari walau aku ludahi. Ia katakan ia mencintai aku. Kini aku selalu dipukulinya. Aku selalu harus mengerjakan semuanya. Aku telah menjadi budaknya. (hal. 140)
"Kalau mama-mama Papua ingin berpisah, tulis saja surat ke Paman Sam agar dicarikan tempat di bulan. Kami butuh tanah Papua. Bukan orangnya. (hal.164)"