Jump to ratings and reviews
Rate this book

Isinga: Roman Papua

Rate this book
Selang beberapa hari, Malom datang. Ia minta Irewa pulang. Mama Kame dan Bapa Labobar tak bisa mencegah. Malom adalah suami yang sah. Orangtua Malom sudah membeli Irewa dengan sejumlah babi-babi sebagai mas kawin. Selain itu, Irewa juga seorang yonime, juru damai dua pihak yang bermusuhan. Irewa harus mau untuk kembali ke Hobone. Kembali ke kehidupan sehari-harinya yang berat. Mau atau tidak, ia harus menjalaninya. Tak ada pilihan.

Kehamilan demi kehamilan, keguguran demi keguguran tidak mengurangi niat Malom untuk terus punya anak. Malom berpikir itu sudah menjadi tugasnya sebagai laki-laki. Tugas yang diminta masyarakat. Suami harus mengawini istri agar menghasilkan anak. Perempuan adalah makhluk yang mendatangkan kesuburan. Anak laki-laki berguna untuk menuntut pengakuan akan tanah dan simbol penerus keturunan. Makin banyak anak laki-laki, makin berharga dan bermartabat. Tanah luas dan keturunan banyak. Anak laki-laki juga berguna agar prajurit mati ada yang menggantikan. Anak perempuan bernilai ekonomi. Perempuan berguna untuk mendapatkan mas kawin dan harta adat (babi).

218 pages, Paperback

First published January 1, 2015

15 people are currently reading
188 people want to read

About the author

Dorothea Rosa Herliany

38 books18 followers
Dorothea Rosa Herliany (lahir di Magelang, Jawa Tengah, 20 Oktober 1963) adalah seorang penulis dan penyair Indonesia.

Setamat SMA Stella Duce di Yogyakarta, ia melanjutkan pendidikan ke Jurusan Sastra Indonesia, FPBS IKIP Sanata Dharma, Yogyakarta (kini Universitas Sanata Dharma) dan tamat dari sana tahun 1987.

Ia mendirikan Forum Ritus Kata dan menerbitkan berkala budaya Kolong Budaya. Pernah pula membantu harian Sinar Harapan dan majalah Prospek di Jakarta. Kini ia mengelola penerbit IndonesiaTera di Magelang.

Ia menulis sajak dan cerpen. Kumpulan sajaknya: Nyanyian Gaduh (1987), Matahari yang Mengalir (1990), Kepompong Sunyi (1993), Nikah Ilalang (1995), Mimpi Gugur Daun Zaitun (1999), dan Kill the Radio (Sebuah Radio, Kumatikan; edisi dwibahasa, 2001). Kumpulan cerpennya: Blencong (1995), Karikatur dan Sepotong Cinta (1996).

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
28 (21%)
4 stars
52 (39%)
3 stars
37 (28%)
2 stars
11 (8%)
1 star
3 (2%)
Displaying 1 - 30 of 37 reviews
Profile Image for Biondy.
Author 9 books234 followers
August 20, 2019
"Isinga: Roman Papua" bercerita tentang Meage, seorang anak dari Aitubu, salah satu suku di Papua, serta Irewa, seorang gadis Aitubu yang merupakan calon istri Meage. Karena suatu peristiwa, Irewa akhirnya harus berpisah dengan Meage dan menikahi pria dari suku lain sebagai lambang perdamaian antar suku.

Sesuai judulnya, "Isinga" ini memang merupakan sebuah kisah roman. Bukan dalam artian bahwa ini adalah sebuah novel percintaan, tapi lebih ke arah "karangan prosa yang melukiskan perbuatan pelakunya menurut watak dan isi jiwa masing-masing" (menurut KBBI).

Ceritanya sendiri mengambil jangka waktu puluhan tahun. Bukan hanya bercerita tentang kehidupan Meage dan Irewa, tapi juga tentang modernisasi di Papua. Bagaimana kehidupan masyarakat Aitubu, yang tadinya sangat tradisional dengan cawat, hidup berburu, dan segala adat istiadatnya, terpaksa harus tunduk pada kehidupan modern dan pemerintah, yang kadang terjadi sebagai akibat dari kekerasan dan kegagalan pendekatan sosial.

Suatu hari perkampungan itu didatangi orang dari pemerintah. Pemerintah menganggap tata cara kehidupan mereka semua terlalu sederhana. Cara hidup, peralatan yang dipakai untuk hidup, dan cara berpakaian. Pemerintah berpikir, mereka harus lebih maju dari itu. Harus ada sesuatu yang diubah. Pemerintah meminta orang Rao mengganti koteka dengan pakaian, yakni celana pendek. Orang Rao takut menuruti hal itu karena tidak sesuai dengan agama asli mereka. Juga bertentangan dengan kebiasaan yang sudah ada selama ini. Pemerintah memaksa. Akhirnya mereka memakai celana pendek, tapi dengan cara sebagaimana kalau mereka memakai koteka. Dipakai terus-menerus tak pernah ganti. Sabun mereka tak kenal. Iklim di Papua sering ekstrem. Curah hujan tinggi. Akhirnya mereka terkena penyakit kulit. Ada yang benar-benar terganggu dan tak terobati. (hal. 102)


Hal ini membuat Orang Rao kembali memakai koteka, tapi saat orang pemerintah mengetahui hal ini, mereka marah dan menganggap Orang Rao melanggar hukum dan memberikan hukuman bagi Orang Rao.

Tidak hanya masalah pakaian. Masalah pemaksaan pembebasan lahan oleh pemerintah demi program transmigrasi dan paksaan untuk memilih salah satu partai pada pemilu juga menjadi salah satu hal yang sempat dibahas buku ini.

Masalah modernisasi di Papua ini memang kompleks. Di satu sisi, membawa berbagai masalah baru, tapi di sisi lain, mungkin seperti yang Umar Junus katakan tentang modernisasi di buku Dari Peristiwa ke Imajinasi:

Indonesia adalah bagian dari dunia modern. Dan setiap orang yang ingin menikmati sesuatu yang berhubungan dengan Indonesia, mesti juga menjadikan dirinya sebagian dari dunia modern. [...] yang belum lagi dapat menjadikan dirinya bagian dari dunia modern ternyata tidak dapat menikmati kekayaan yang disediakan oleh buminya sendiri, yang merupakan bagian dari bumi Indonesia. (hal. 69)


Walau Umar Junus sedang membahas tentang Suku Dayak dan pandangan Korrie Layun Rampan, tapi saya rasa kutipan di atas bisa diterapkan pada suku mana pun di Indonesia.

Walau masuknya hal-hal baru di Papua membawa banyak masalah, salah satunya adalah pelacuran dan meluasnya penyebaran penyakit menular seksual di sana, modernisasi juga membawa suatu harapan dan pembaruan hidup. Dalam kasus ini, Irewa-lah yang paling menonjol dalam merasakannya.

Irewa, awalnya hanya seorang wanita yang bertugas untuk mengurus ladang dan menyediakan makanan bagi keluarganya, serta menghasilkan keturunan bagi suaminya.

Tak dimengerti oleh masyarakat Megafu bahwa jarak kelahiran yang rapat, kematian demi kematian bayi, lalu kehamilan berikutnya, bisa membahayakan kesehatan perempuan dan anak yang dilahirkan kemudian. (hal. 91)


Lama-lama Irewa jadi marah pada dirinya sendiri. [...]. Laki-laki itu datang tiap hari walau aku ludahi. Ia katakan ia mencintai aku. Kini aku selalu dipukulinya. Aku selalu harus mengerjakan semuanya. Aku telah menjadi budaknya. (hal. 140)


Tapi dengan masuknya arus modernisasi, dia bisa memiliki sebuah tujuan dan fokus baru dalam hidupnya. Bukan hanya itu, dia bahkan bisa membantu para wanita di sekitarnya lewat sebuah lembaga yang memberdayakan Irewa.

Satu hal yang saya kurang suka dari novel ini adalah cara berceritanya yang lebih mengandalkan 'tell'. Saya paham kenapa penulisnya memilih cara ini. Alur waktu yang panjang dan ruang lingkup pembahasan yang luas akan membuat novel ini menjadi sangat tebal. Tapi, sejujurnya saya tidak keberatan untuk membaca "Isinga" ini kalau pun dia tebalnya lebih dari 500 halaman. Ceritanya menarik, materinya kuat, dan penulisnya mampu menghadirkan dilema yang bagus. Saya rasa penulisnya melakukan riset yang banak untuk menulis novel ini.

Secara keseluruhan, membaca "Isinga" ini membuat saya sadar akan betapa ribetnya arus modernisasi di Papua. Bukan saja karena perubahan kehidupannya yang sangat drastis, tapi juga berbagai masalah sosial yang ada sebagai pertentangan antara kebudayaan yang sudah ada sejak lama, dengan budaya baru yang masuk.

Sebagai penutup, saya akan memberi kutipan tentang surat yang diterima seorang ibu saat mengajukan keberatannya akan pohon-pohon sagu, yang menjadi sumber makanan utamanya, ditebang dengan semena-mena. Saat mengajukan keberatannya itu, jawaban yang dia terima dari orang pemerintah adalah:

"Kalau mama-mama Papua ingin berpisah, tulis saja surat ke Paman Sam agar dicarikan tempat di bulan. Kami butuh tanah Papua. Bukan orangnya. (hal.164)"


Buku ini untuk tantangan baca:
- 2015 New Authors Reading Challenge
Profile Image for Puri Kencana Putri.
351 reviews43 followers
July 12, 2017
Amat jarang untuk menemukan bacaan ataupun karya sastra Indonesia yang menggunakan pendekatan etnografi. tapi Isinga telah membawa semangat dan gaya yang berbeda. Saya bisa menemukan jejak studi etnografi yang kuat, diikuti dengan beberapa catatan sosial di dalam roman Papua ini. Kisah Irewa dan Maege yang meski tidak berujung pada akhir yang bahagia, akan tetapi saya menemukan perjalanan kisah yang kuat dan dapat memberikan pembelajaran penting bagaimana kita orang Indonesia melihat dengan sejajar kehidupan sehari-hari suku bangsa Papua.

Perihal relasi perempuan, tanah adat, babi, perang suku, dan persoalan sosial yang muncul dan diilustrasikan pada medio 1970an membuat saya yang membaca buku ini masih tetap menemukan kontekstualisasi Papua hari ini. Soal isu kesehatan, HIV AIDS, kekerasan terhadap perempuan, perampasan tanah dan kekerasan aparat nampaknya tidak banyak berubah, meski cerita fiksi ini mengambil periode beberapa dekade lampau.

Untuk mereka yang belum pernah menginjakkan kaki ke tanah Papua, Isinga: Roman Papua dapat memberikan nukilan dan perspektif tentang bagaimana suku bangsa ini bertahan di tengah arus modernisasi dan kekerasan politik keamanan yang masih menghajar Papua.
Profile Image for Marina.
2,042 reviews359 followers
April 10, 2022
** Books 28 - 2022 **

3,4 dari 5 bintang!

Kebetulan tema untuk siaran klub siaran Goodreads Indonesia timku akan membawakan tema buku dari indonesia timur. Tadinya aku ingin membaca buku Orang-Orang Oetimu tapi berhubung seingetku udah pernah dibawakan didalam siaran aku akhirnya memutuskan mencari buku lainnya dan menemukan buku ini! Sebenarnya ini bukan buku yang menceritakan budaya papua pertama pernah aku baca. Sebelumnya aku pernah membaca Tanah Tabu dan Lengking Burung Kasuari namun belum membaca buku ini. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk membaca buku ini karena halamannya juga tidak terlalu tebal yah untuk dibaca

Buku ini mengisahkan kisah dua sejoli yang berasal dari Desa Aitubu yang terletak di lembah Piriom yaitu Meage dan Irewa. Namun sayangnya kisah cinta mereka tidaklah mudah untuk dilalui adanya perang antar suku dan hal lainnya membuat cerita dibuku ini menjadi rumit. Hal yang aku sukai dari buku ini adalah aku jadi mengetahui lebih banyak mengenai kebudayaan, flora dan fauna Papua yang sebelumnya aku tidak ketahui. seperti di Papua ternyata ada Kanguru pohon dan kanguru tanah. Selain itu aku juga baru mendengar ada pohon sowang dan pohon Kembou yang tidak lazim aku dengar sebelumnya. Penulis juga memasukkan unsur sosial budaya yang lekat didalam buku ini. Papua yang mulai perlahan-lahan masuk ke era modernisasi ditandai dengan banyaknya pedagang dan variasi buah dan sayuran masuk ternyata memberikan dampak negatif lainnya dimana kasus HIV AIDS juga meningkat.

Poin positif lainnya buku ini menitikberatkan kisah wanita-wanita hebat seperti Mama Kame, Irewa dan Jingi Pigay dengan caranya berusaha bertahan sebagai wanita papua yang masih diterpa dengan adat-istiadat yang ada. Aku juga menyukai penulis memasukkan unsur betapa pentingnya alat kontrasepsi dan apa korelasinya dengan HIV AIDS didalam cerita ini.

Aku juga baru mengetahui kalau Isinga itu ternyata ibu atau perempuan yah dalam bahasa Papua.
buku ini memiliki alur yang lambat dan penokohan yang banyak. Saranku ketika membaca buku ini harus menuliskan catatan untuk penokohan, catatan penting dan mungkin bisa juga kutipan favorit yang disukai.

hati-hati yah ketika membaca buku ini ditengah-tengah ada adegan gore dan kanibalisme yang bisa membuat kalian ketrigger (aku sempat kaget soalnya pas baca meski sedikit gak ada contain warning di awal babnya >.<)

Terimakasih Ipusnas atas peminjaman bukunya!
Profile Image for Teguh.
Author 10 books333 followers
November 10, 2015
Rasanya luar biasa! Penjajahan dalam bentuk budaya, oleh siapapun terasa lebih menyakitkan ketimbang pembantaian. Pembantaianya hanya akan memusnahkan satu atau dua generasi saja, tetapi ketika penjajahan yang bersifat pemikiran dan perubahan kultur bisa mengakar sampai bergenerasi-generasi setelahnya.
Setidaknya itu yang digambarkan dalam roman ini.

Irewa adalah seorang gadis yang dipaksa menikah dengan Malom sebagai yonime, pendamai dua dusun yang berperang karena persoalan salah paham. Padahal Irewa diam-diam menyukai Meage pemain tifa, yang sudah mengenal kebudayaan belajar dari pastur dan dokter yang menjadi orang tua asuh bagi Meage.

Disanalah Irewa merasakan kerasnya menjadi perempuan Papua: melayani suami, beranak-pinak, mengurus ladang, menyiangi kebun, mengurus babi, dan harus rela ikhlas kalau suaminya lebih memilih bersenang-senang daripada perhatian pada keluarga. Kerasnya menjadi perempuan Papua sangat ngilu dalam novel ini.

Selain itu ada konflik masa orba yang mengerikan. Tentara menembaki masyarakat Papua karena tanah, koteka, dan pemilu. Ternyata kejamnya orang Papua saat berperang (ketika orang Papua perang, lawan yang mati di tangan senjata kita, maka jasdnya akan dibakar dan dagingnnya di makan) yang lebih serupa kanibalism, ternyata lebih kejam sikap tentara yang mengerikan. Seolah orang-orang Papua yang berkoteka adalah babi-babi liar yang pantas diburu dengan mocong senapan. Dikisahkan betapa tentara memberedel perut, melubangi vagina, memotong penis, dan tindakan-tindakan yang kejam di masa orba. Ya alasannya karena orang Papua kolot, kemudian persoalan tanah, dan Pemilu yang beegitu asing di mata orang Papua.

Kemudian ada budaya baru lagi yang muncul dari "penjajah" berkulit cokelat, ya Orang Jawa. Orag Jawa dikisahkan membawa budaya yang aneh: pelacuran dan penyakit kelamin. Orang Jawa berangkat ke Papua dengan misi mencari damar gaharu. Ternyata kebiasaan berenang=senang dengan pelacuran berimbas pada orang laki Papua yang memang lebih gemar bersenang-senang ketimbang bekerja. Akibatnya penyakit menular menyebar di Papua.

Muncullah sosok Jinggi, Meage, dan Irewa yang mewakili pergerakan masyarakat lokal Papua. Mencoba meluruskan budaya baru yang kelewat salah, meneyrap kemodernan, namun di dada mereka masih ada norma Papua yang dijaga.

Novel ini lebih mirip laporan ilmiah, bahasa yang dipilih sangat kaku, tidak seperti novel kebiasaannya. Mungkin ini juga menjadi keunikannya. Satu lagi kepergian Meage ke Jerman, Jinggi ke Belanda denga penjelasan setting di dua negara itu justru malahan merusak kebudayaan Papua yang dijelaskan begitu apik di bagian awal. Jadi saya menyayangkan itu.... Mungkin akan lebih bagus kalau dipecah seperti Saman dan Larung. Saman mengisahkan konflik dalam negeri, Larung baru berpindah setting luar negeri.
Hanya itu sih menurutku yang kurang menarik di novel ini.


Resensi atas novel ini dimuat di Jawa Pos, 8 Maret 2015
https://alterteguh.wordpress.com/2015...
Profile Image for Fety Niza.
109 reviews4 followers
August 12, 2018
Walaupun novel nya terkesan agak sepi karna bener2 kayak di ceritain, tapi ini keren.
Latarnya mulai dari Indonesia tahun 1970an.
Bisa ngegambarin keadaan Papua dulu, ini bener2 pengetahuan sih. Banyak ilmu yang didapat. Banyak belajar juga, makin paham soal adat dan tradisi disana. Pokoknya makasih banyak atas novel ini. Bener2 nambah pengetahuan.
Profile Image for cindy.
1,981 reviews156 followers
September 16, 2017
Awalnya adalah kisah cinta antara Irewa dan Magae. Kisahnya merentang puluhan tahun, di desa-desa terpencil pulau Papua (atau hrsnya Irian Jaya, sebutan awam pada masa itu, seingatku nama Papua kan baru dikembalikan saat zaman Pres. Gusdur). Kemudian disusupi banyak sekali penggambaran masalah sosial budaya, dari hak dan kewajiban perempuan hingga kekejaman oknum tentara, dari koteka hingga uang merah, sagu hingga sifilis dan HIV/AIDS.

Bukannya masalah2 itu gak penting, tapi karena banyaknya yg diangkat, semuanya malah jadi muncul sepintas saja. Ditambah lagi gaya penceritaan naratif yang melompat-lompat, karakterisasi tokoh dan konfliknya terkesan lewat saja.

#Scoop
Profile Image for Happy Dwi Wardhana.
244 reviews39 followers
December 5, 2018
Saya mencoba membaca dengan cara baru dari buku ini. Setiap ada nama dan trivia sejarah baru, saya akan googling dan baca lebih dalam. Hasilnya, saya puas setelah menyelesaikannya, saya mendapat banyak pengetahuan baru tentang Papua dan sejarahnya.

Namun, dari sisi cerita, terutma endingnya, saya kurang begitu tertarik. Mungkin saya berekspektasi akhir cerita menjawab bagaimana nasib perkawinan Malom dan Irewa. Apakah Irewa ternyata bertemu Meage lagi? Atau Malom meninggal terjangkit penyakit kelamin dari rumah bordil? Atau kesepakatan adat yang sudah memudar yang dapat memisahkan perkawinan paksa itu?
Profile Image for Lani M.
347 reviews42 followers
March 20, 2016
I used to think Nyai Ontosoroh is the strongest woman ever written in Indonesian literature until I met Irewa in this book. Gee. The novel filled me with so much feeling I cannot handle in one sitting.
Profile Image for Askell.
81 reviews68 followers
May 4, 2018
Buku yang mengupas kehidupan etnis Papua, kehidupan pedalaman mereka dan bagaimana modernisasi yang dipaksakan menggempur budaya sosial penduduk asli Papua.
Profile Image for Juni Rahamnita.
22 reviews53 followers
December 17, 2017
Di Aitubu, Papua, laki-laki hanya pakai koteka, dan perempuan hanya menutup kemaluannya (entah dengan apa dan entah kemaluan yang mana). Namun ketika bertemu, keduanya tidak saling bertukar salam dan sapa. Bahkan perempuannya akan menunduk. Mereka-mereka yang takut akan leluhur akan menjaga segala interaksi lawan jenis sampai mereka sah menikah. Untuk mendekati perempuan saja butuh perantara. Kepercayaan akan leluhur dijunjung. Mereka takut akan malapetaka, kutukan, penyakit, dan segala hal buruk yang akan menimpa mereka jika melawan peraturan. Upacara-upacara adat dan ritual-ritual diselenggarakan agar mereka terhindar dari mara bahaya.

Meage mencintai Irewa. Ia ingin memperistri Irewa. Meage tahu bahwa Irewa juga merasakan hal yang sama. Ada suatu tradisi di Aitubu untuk menyampaikan rasa cinta dari seorang lelaki kepada perempuan yang dicintainya. Yaitu dengan memberikan betatas dan sayuran. Meage melakukan hal itu. Ia meminta tolong seorang teman untuk menyerahkan keduanya kepada Irewa. Si perempuan memiliki hak untuk menerima atau menolaknya. Tentu saja Irewa menerima barang pemberian dari Meage tersebut. Meage siap mempersunting Irewa dengan segala bekal kebun dan babi yang telah ditabungnya.

Namun ketika upacara menstruasi pertama Irewa selesai, ia diculik.

Review

Membaca cerita fiksi dengan latar adat dan budaya dari suatu suku di Indonesia selalu menjadi hal yang menarik buat saya. Saya bisa menikmati cerita, menjelajahi ragam budaya, sekaligus ‘mampir’ di tempat yang menjadi latar cerita berlangsung. Tiap kejadian dan fakta yang disajikan selalu membuat saya berdecak. Salah satunya dengan gaya berpakaian di Aitubu seperti yang saya tulis di atas. Dari sini saya bisa lihat bahwa pelecehan seksual terjadi bukan karena busana yang dikenakan si perempuan. Penduduk Aitubu juga masih memiliki kepercayaan terhadap leluhur dan dinamisme. Kepercayaan inilah yang membuat mereka takut melakukan hal-hal yang tidak sesuai norma.

Banyak pesan yang disampaikan dari buku ini. Tidak ada post it atau catatan-catatan kecil yang saya buat. Karena memang menurut saya pesan yang disampaikan semuanya berlanjut di satu buku. Apalagi ketika penulis menceritakan tentang keteguhan hati, mental, dan fisik Irewa dalam mengasuh keempat anaknya. Penulis begitu apik menjabarkan keteguhan Irewa lewat narasi panjangnya yang tidak membosankan. Apalagi ditambah dengan percakapan yang minim. Menurut saya, penulis cukup kuat dalam menuliskan narasi.

Ada banyak jurnal dan artikel yang membahas tentang diskriminasi gender yang terkandung dalam novel ini. Saya merasakan hal tersebut. Ada sedikit perasaan tidak terima dan marah. Tapi tokoh-tokoh perempuan yang ada dalam novel ini sedikit mampu menyembuhkan perasaan itu. Mereka saling berhubungan, terkoneksi, dan membantu satu sama lain. Tak ada tokoh perempuan yang saling menyakiti atau memusuhi. Seharusnya ini bisa diterapkan di kehidupan nyata.

Ada dua hal yang membuat saya penasaran ingin terus membaca buku ini. Yang pertama adalah setting waktu berlangsungnya cerita. Penulis menjelaskan bahwa segala sesuatu terjadi secara lambat dan terbelakang di Papua. Jauh dari tanah tempat berpusatnya hiruk pikuk negara (baca: Pulau Jawa) membuat Papua tampak begitu jauh dari peradaban. Apalagi ditambah dengan setting tempat yang merupakan pedalaman Papua dan masyarakatnya yang masih percaya dengan leluhur dan menganut dinamisme. Akhirnya penulis mampu menjawab di akhir cerita.

Yang kedua adalah: apakah Irewa dan Meage akan dipersatukan? Penulis juga mampu menjawab rasa penasaran saya dengan puas.

Nilai 5/5 dari saya membuat saya paham mengapa buku ini layak memenangkan Kusala Sastra Khatulistiwa tahun 2015 di bidang prosa. Saya cukup menyesal baru menyelesaikan buku ini hari ini.
Profile Image for Kurnia Dwi Aprilia.
216 reviews4 followers
December 22, 2018
Ngga sia2lah beli buku random hanya gegara lagi diskon besar. Ternyata worth it juga.
Isinga itu konon katanya berarti ibu atau Perempuan dalam bahasa Papua. Nah, jadi cerita tentang perempuan, khusunya yg telah menjadi ibu, di Papua, diceritakan melalui kisah roman antara Irewa dan Meage. Irewa dan Meage yg lahir dari desa dan suku yg sama di Aitubu, harus menjalani kisah cinta yg kandas sebelum sempat dimulai karena seorang lelaki bernama Malom yg berasal dari Hobone. Aitubu dan Hobone merupakan desa yg terpisah jarak melalui beberapa lembah dan sungai. Kedua suku di masing2 desa tsb sejak dahulu kala memang tidak pernah akur. Sering kali di antara keduanya terjadi perang antar suku yg menyebabkan banyak kematian. Ngerinya, pada masa itu, suku2 pedalaman ini masih bersifat kanibal. Mereka tidak segang2 memakan lawan yg menjadi korban tewas dalam peperangan.
Bagi masyarakat pedalaman Papua, perang merupakan suatu hal yg sudah biasa terjadi. Bahkan laki2 di sana tugasnya hanya berburu dan berperang. Sementara tugas menyiapkan makanan, mengurus anak, memelihara babi, merawat ladang, semuanya dibebankan kepada perempuan. Begitu berat kehidupan perempuan di Papua. Mereka harus mengandung dan melahirkan dengan jarak yg begitu rapat, juga harus melakukan semua aktifitas kehidupan sehari-hari apapun keadaan mereka saat itu. Hal itulah yg terjadi pada Irewa yg pada akhirnya menikah dengan Malom karena sebuah penculikan. Irewa dijadikan syarat damai antar kedua kampung tersebut. Dan sejak saat itu kehidupannya sangat berat. Irewa bahkan sempat berpikir untuk bunuh diri, dan hal itu banyak terjadi pada perempuan2 Papua. Laki2 di Papua sangat kasar terhadap perempuan. Mereka tidak segan2 memukuli istri mereka dan melakukan KDRT. Tidak ada kesetaraan HAM yg di sana. Hanya berlaku hukum adat dan hukum rimba.
Novel ini tuh ceritanya juga lintas waktu. Dari zaman primitifnya suku di Papua ini: yg masih pake koteka, belum kenal uang, belum menggunakan bahan2 kimia, masak dengan cara sangat2 tradisional bahkan penggunaan garam pun sangat langka, rumah Honai, pemisahan rumah perempuan-laki2; hingga mereka mulai mengenal jual-beli, laki2-perempuan dalam keluarga kecil dalam satu rumah, mengenal telepon, mulai ada sekolah, dll. Banyak kritikan penulis mengenai kediktatoran masa pemerintahan Presiden Soeharto yg ceritanya begitu kejam. Cerita tentang pemaksaan pemerintah mengenai penggunaan koteka, pelarangan bermusik, pelarangan berkumpul ramai2, pemaksaan memilih suatu partai saat pemilu, bahkan pembantaian tentara terhadap suku pedalaman di Papua.
Novel ini isinya padat. Kita bisa banyak sekali mengetahui kehidupan di Papua sana. Terlebih pada suku pedalam di masa dulu. Baca buku ini tentu menambah kekayaan wawasan mengenai wilayah, suku, adat-istiadat di Indonesia. Juga, membuat kita paham bahwasanya ada banyak bagian dari tubuh Indonesia yg kehidupannya berbeda namun itulah yg membuat Indonesia seharusnya semakin satu.
Profile Image for Elyza.
61 reviews
February 10, 2018
Cerai tidak dikenal dalam kebiasaan di pegunungan Megafu. Apalagi kalau perempuan itu adalah yonime seperti Irewa, syarat perdamaian untuk menghentikan perang antar dua suku. Kalau ada seorang suami memperlakukan istri dengan tidak baik, hanya ada 2 cara bagi perempuan Megafu untuk bisa lepas dari suaminya itu. Pertama, bunuh diri dengan terjun ke sungai besar dan deras. Bunuh diri biasa dilakukan para perempuan, bahkan cara ini seperti mendapat dukungan dari nenek moyang. Kedua, menunggu kalau laki-laki lain yang menyukainya. Pihak calon suami kedua biasanya harus membeli perempuan yang bersuami ini dengan babi yang jumlahnya banyak sekali. Titik balik dalam kehidupan Irewa adalah ketika ia hampir bunuh diri dan niatnya tersebut batal karena ia teringat akan tanggungjawabnya sebagai seorang ibu. Berikut ini kutipan bagi favoritku dari buku ini:
"Ia menolak keinginan kuat untuk bunuh diri. Irewa juga jadi ingat tentang hidupnya lagi. Ia merasa harus menghargai diriya sendiri. Di Megafu perempuan sudah tak dihargai. Oleh karena itu, perempuan harus dihargai oleh perempuan itu sendiri. Tak bisa ia mengharapkan hal itu dari orang lain."
Profile Image for reyn.
58 reviews1 follower
September 8, 2020
Perdana nih baca buku fiksi tentang Papua. Cara hidup masyarakatnya digambarkan dengan sangat jelas.

Tentang Hidup Irewa dan Meage, dua orang dari suku Aitubu di pegunungan Papua. Tapi sebenarnya kisah mereka berdua ini hanya kulit luarnya saja, permasalahan yg ditampilkan justru kompleks sekali.

Di awal-awal kita disuguhkan dengan gambaran Papua tahun 1970an saat mereka masih berpegang pada adat istiadatnya. Lalu kita diajak mengiringi Papua masuk ke dunia yang lebih modern (di tahun 90an akhir). Semua isu-isu yang terjadi di Papua pada kurun masa tersebut sepertinya ingin dimasukkan oleh penulisnya: permasalahan gender, perubahan kultur, kesehatan, pencemaran lingkungan, kekerasan oleh aparat, dll.

Konsekuensinya, banyak tokoh yang digambarkan secara serampangan saja. Lalu makin ke belakang makin banyak kebetulan2 yang nampak disengaja sekali agar bisa melompat dari isu satu ke isu berikutnya.

Anyway, bukunya asik sekali kok dibaca. Terutama karena kita bisa belajar banyak hal baru tentang Papua. Termasuk ke golongan buku "pengen cepet2 dihabiskan tapi juga gak pengen ceritanya cepet2 berakhir".
Profile Image for Nad.
105 reviews2 followers
May 23, 2022
Tidak sengaja menemukan buku ini di ipusnas dan ternyata isinya bagus sekali.

Berkisah tentang Irewa dan Meage yang hidup di pedalaman Papua. Tentang perempuan dan laki-laki di Hobone dan Aitubu. Tentang beratnya menjadi perempuan "baik" dalam pandangan budaya di sana. Tentang kepercayaan. Tentang peperangan. Tentang kehidupan-kehidupan lain di Papua yang terisolir.
Semua tentang itu yang membawaku membayangkan bagaimana kehidupan di ujung paling timur Indonesia.

Perlu dicatat, di dalam buku ini ada bagian yang menjelaskan tentang kekerasan dan kanibalisme.
Profile Image for Wildo Tayandu.
16 reviews4 followers
September 23, 2022
Segala persoalan yang memang menjadi keseharian manusia Papua digarap dengan bahasa yang sepertinya dikonsep sedemikian rupa sehingga terdengar ada jeda, dan memang begitu bila melihat kesenjangan antar Papua dengan manusia lain, yang katakanlah di luar Papua yang sudah duluan maju. Novel ini bukan hanya menyoal semua keterpurukan Papua, melainkan pengayaan pengalaman fonetk yang sepertinya sengaja dibuat sedemikian kaku-formal-dan tak menghadirkan majas-majas yang berlebihan.

Efek dari narasi dalam novel ini adalah pengalaman fonetik.
Profile Image for Dhani.
257 reviews17 followers
September 10, 2018
Membaca kisah Irewa dan Magea di buku ini, aku seperti berkelana jauh.Menikmati setiap kebahagiaan mereka( walau sangat sedikit), perih dengan kisah duka mereka yang tiada henti, juga bangga pada kisah jatuh bangunnya mereka.

Novel ini pas membidik suka duka, perih dan pedihnya jadi warga Papua.Bahkan ketika modernisasi pun ternyata bagai bumerang.Memberi sedikit tapi mengambil terlalu banyak.

Juga bagaimana konstelasi politik di tingkat pusat, berimbas juga ke pelosok daerah.
Profile Image for Trian Lesmana.
77 reviews1 follower
January 29, 2019
Mungkin kalau buku ini tebalnya lebih dari 210 halaman, saya bisa berhenti baca di tengah jalan. Saya kurang bisa menangkap fokus yang hendak diceritakan. Semula saya baca blurb, terlihat menarik. Saya menyukai kisah-kisah "pedalaman", kearifan lokal. Namun setelah membaca beberapa halaman awal, blurb itu justru begitu mengganggu. Semacam spoiler. Kemudian semakin membaca banyak, fokus cerita hilang atau memecah menjadi bagian-bagian yang kurang menarik.
Profile Image for Fahrul Khakim.
Author 9 books97 followers
May 20, 2017
Roman ini ditulis dengan puitis dan riset yang baik. Walau ada kejanggalan pada halaman 84 yang menerangkan bahwa dokter Leon sedang berada di luar kota tapi tiba-tiba sudah ada di rumah sakit untuk mengobati pasien. Roman ini merangkum dengan rinci hampir semua permasalahan di Papua dengan penggambaran dramatis yang pas dan menghentak.
Profile Image for Nadine Rutumalessy.
18 reviews2 followers
September 20, 2018
Tema Papua selalu menyengat dalam susastra kita. Hampir semua novel bertema Papua selalu menang sayembara atau anugerah. Mungkin karena kita terlalu lama lupa pada Papua, atau bisa juga, kita terlalu fokus dengan hal hal berbau Jawa, Sumatera dan Sulawesi
Profile Image for Sunyawati.
21 reviews2 followers
September 16, 2022
Walaupun terasa sangat kaku bahasanya, tapi tema Indoensia Timur selalu membuat saya tergerak. Dan benar isu-isu yang diangkat begitu endemik. Ada sub plot yang tidak terjawab, memang, tapi biarlah, pokoknya kita harus kenal juga apa sih Papua itu...
Profile Image for Abu Wafa.
Author 2 books2 followers
October 28, 2021
membosankan. tokoh bergerak dengan narasi, bukan karena tindakan. ini menyebabkan tokoh tidak punya daya atas dirinya. begitu juga narator, menempatkan diri bak penulis sejarah.
Profile Image for Hari Z Hutahayan.
29 reviews1 follower
April 4, 2023
Hanya kurang bagaimana narasi bergerak dan hidup dengan dialog yang terasa begitu membuat saya sebagai awam dengan tema Papua. Jelas penulis tidak berbahasa ibu dengan tema Papua. Dan saya hormati.
Profile Image for Muhammad Rajab Al-mukarrom.
Author 1 book28 followers
August 19, 2024
Shooketh that not so many people actually like this book, but I like it??? It’s so complex and I think I get it.
Profile Image for Azia.
243 reviews11 followers
March 17, 2016
Pertumpahan darah terjadi antara pemuda Perkampungan Aitubu dan Hobone. Penyebabnya adalah seorang gadis Aitubu yang bernama Irewa diculik Malom, pemuda dari perkampungan Hobone. Korban berjatuhan dari kubu Hobone yang memang tidak menyangka undangan pesta berubah jadi perang. Irewa sudah dilamar kekasihnya Meage. Keduanya menunggu pernikahan yang akan sudah disepakati setelah Irewa mendapat menstruasi pertama. Pemuda Hobone berunding apakah mereka akan balas dendam dan menyerang Aibutu. Namun Kampung Hobone menawarkan Irewa sebagai Yomeni, perdamaian kedua kampung yang saling bermusuhan. Diterima atau tidak diterima,Irewa tetap akan menjadi istri Malom dengan konsekuensi yang berbeda. Kata sepakat tercapai. Tetua Aitubu menerima tawaran perdamaian, Irewa dikawinkan dengan Malom. Irewa tidak mempunyai pilihan untuk kebahagiaannya sendiri. Meage menghilang dari Aibutu. Hatinya patah karena kekasihnya diambil lelaki lain.

Hidup di Hobone adalah kerja keras. Alam Hobone berbeda dengan Aitubu sehingga dibutuhkan tenaga dan usaha yang lebih giat di ladang. Jika laki-laki berburu ke hutan, tugas perempuan pergi ke ladang menanam betatas. Tanggung jawab istri menghidangkan makanan. Irewa mengalami keguguran tanpa ia sadari dirinya sedang hamil. Tidak membutuhkan waktu lama, Irewa kembali mengandung. Dua hari pasca melahirkan Irewa sudah kembali ke ladang dengan membawa bayinya di dalam noken. Setelah Irewa mempunyai pengalaman pertama melahirkan, anak-anak berikutnya ia lahirkan tanpa bantuan orang lain. Malom menuntut anak laki-laki. Anak laki-laki akan mendapatkan tanah atau lahan sementara anak perempuan hanya mendapat mas kawin saja. Anak laki-laki akan menggantikan jika ia gugur dalam berperang. Keletihan terlihat jelas di wajah Irewa. Irewa selalu mengingat pesan-pesan Mama Kane sebagai istri yang baik, tidak boleh membantah dan tidak boleh mengeluh. Ia tampak lebih tua dari umur sebenarnya. Malom sering menampar atau menempeleng istrinya. Irewa pernah lari ke rumah orang tuanya tetapi tetap dikembalikan ke suaminya. Perempuan di Hobone tidak mengenal perceraian. Mas kawin diumpamakan sebagai harga beli perempuan dari keluarga.

Perjalanan Meage sampai di Perkampungan Mbireri yang berjarak tiga pegunungan dari Aitubu. Meage mengajarkan baca dan tulis. Ia juga membantu mengobati orang sakit berdasarkan pengalamannya membantu orang tua angkatnya melayani pasien di Aitubu. Kemudian Meage bertemu dengan kelompok musik keliling Farandus pimpinan Bapa Rumanus. Meage cakap memainkan tifa di upacara-upacara adat. Meage bergabung dengan Farandus mengelilingi wilayah Papua untuk mencatat dan mengumpulkan musik-musik yang hampir punah di daerah tersebut. Kegiatan Farandus dicurigai tindakan makar oleh aparat keamanan. Bapa Rumanus meninggal dunia dengan kondisi tidak wajar.

Angin perubahan sedang berhembus kencang. Orang-orang luar mencari kayu gaharu yang memiliki harga tinggi di pasaran. Hobone merasakan dampaknya lebih dulu. Kedatangan para pencari kayu gaharu mengenalkan penduduk dengan mata uang. Irewa sekarang berjualan hasil ladang di pasar. Malom tidak bekerja. Ia mendapat uang dari menjual tanah dan lahan warisan. Pengaruh buruknya yang datang bersamaan dengan pencari kayu gaharu adalah masuknya pelacur-pelacur dari pulau lain. Penyakit kelamin merebak luas. Yang menderita tidak hanya laki-laki yang tidak setia, AIDS ditularkan pada istri dan anak-anak yang tidak berdosa.

Ada beberapa hal yang disinggung dalam Isinga selain menceritakan ketabahan perempuan melalui tokoh Irewa. Tindakan represif aparat yang mencurigai kelompok musik Farandus sebagai gerakan separatis. Keterbatasan akses pendidikan dan kesehatan bagi masyarakat Papua dan asal mulanya datangnya AIDS. Kontak luar masyarakat Hobone dengan orang pendatang mempunyai dampak positif dan negatif. Perkembangan daerah memberikan akses pendidikan yang lebih baik bagi anak-anak. Sementara itu, minimnya pengetahuan tentang penyakit dari seks bebas membuat jumlah penderita AIDS tinggi.
Profile Image for My Whole Life Books.
27 reviews
August 1, 2015
Sy pikir sy akan sepenuhnya menyukai buku ini dan memberikan 5 bintang. Tp sejujurnya sy sangat suka (awalnya) bagaimana kisah cinta irewa dan meage. Keduanya adalah dua orang yang manis. Tp aku tahu cerita di novel ini takkan semudah itu. So I keep reading, muncullah nama Malom yang disebut2 dibelakang buku, aku tidak berpikir bahwa laki-laki inilah yang akan menyelesaikan kisah roman ini.

Pelataran, budaya, kehidupan di papua mulai dikupas. Penulis seakan hidup ditengah papua, sy bisa merasa tegang dan kagum di saat bersamaan. "irewa diculik!" Dan sy tdk bisa berhenti membaca dan mulai mengabaikan sekitar. siapa yg sangka sejak saat itu kisah antara Irewa dan Meage sudah berakhir. Padahal ini masih sangat awal, manisnya sudah direnggut oleh penulis.. Pembaca harus menghabiskan buku ini dengan perasaan teriris yg cukup lama, miris, ngeri, sedih.

Malom bukanlah laki-laki yang baik, seenaknya, kasar, menyebalkan, sampai2 sy bertanya apakah semua laki2 papua yg menjadi suami bersikap seperti ini. Dan irewa, sy juga menayakan hal yang sama. Dia bukan perempuan (isinga) pintar yang bisa memutuskan sesuatu (setidakny itulah yg sy pikir), dia seorang yang sangat sabar, dan tunduk dan sy benci itu, sy gemas sendiri.. Terkadang pembaca ingin menjadikan diri mereka salah satu dari karakter novel (sy biasa melakukannya dan ini selalu berhasik mengobrak-abrik emosi sy) dan sy mundur sesaat kemudian.

Bukan berarti karena ini sy tidak menyukai novel ini, sy sangt menyukainya, ide yg segar, emosi yg dikirim penulis. Ini seperti kisah romeo juliet dalam versi yang lain, yg lebih kuno, yang lebih miris. Dan jika kalian mencari bahan bacaan roman yg ringan, ini sm sekali tdk menjadi rekomendasi. Ini bukan roman, bukan antara Irewa dan Meage, bukan juga Irewa dan Malom. Sy menggila roman yang manis, tp sy tak menyesali menghabiskan novel ini. Sy mengenal banyak hal baru dr sini, dan sy berharap novel ini bisa dibaca bnyk org diluar sn agar mereka bisa menilai sendiri pintarnya penulis merangkai kata dan menghidupkan novel ini sehidup-hidupnya.
Displaying 1 - 30 of 37 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.