Dewi Saraswati yang menaungi nama kami berdua telah mempertemukan kami untuk pertama kalinya. Risa Saraswati dan Saraswati Wijaya. Pertemanan kami adalah pertemanan yang rumit. Pernahkah kalian melakukan obrolan tentang hantu seolah hantu adalah manusia yang normal? Tak banyak yang melakukannya, namun kami melakukannya itu hampir seriap hari.
Risara adalah nama kami, Risa dan Sara. Setiap malam Jumat kami berceracau di dunia maya tentang hantu di dunia maya. Mungkin kalian ingin tahu apa jadinya jika kami berceracau di sebuah buku. jangankan kalian, kami pun sangat penasaran.
Pembicaraan tentang “Mereka” yang hampir setiap hari kami temui, lelucon kami tentang “Mereka”, bahkan ketakutan-ketakuan kami yang mungkin kalian tak pernah tahu. Semua ada di dalam anak pertama kami ini.
Ketika tahu bahwa Risa mengeluarkan buku baru, maka saya pun merupakan salah satu dari pembacanya yang segera membeli buku tersebut. Apalagi kali ini ia berduet menulis dengan Sara Wijayanto, yang walau namanya belum pernah saya dengar, tetap menambahkan poin menarik tersendiri bagi buku ini.
Sayangnya, saya merasa kecewa.
Adanya 'suara' baru berupa POV Sara tidak menambahkan apa pun yang baru dalam buku ini. Bahkan, menurut saya kisahnya lebih lemah dari Danur dan Sunyaruri. POV-nya begitu mirip dengan suara Risa, bahkan cara bercerita dari segi kisah dunia lainnya pun sama persis. Alangkah menariknya, saya pikir, jika Sara memberikan suara yang sama sekali berbeda, dari cara menulis, format cerita, dan sesuatu yang segar yang membedakannya dari buku-buku Risa sebelumnya.
Dari segi cerita, buku ini disebut-sebut layaknya buku harian. Dan seperti buku harian pada umumnya, biasanya hanya orang-orang yang menulis di dalamnyalah yang berbagi private jokes, dan mengerti isinya. Kali ini pembaca pun merasa seperti orang luar, karena terlalu banyak percakapan antar kedua karakter yang sepertinya larut dalam dunia mereka sendiri, tanpa banyak melibatkan pembaca. Alurnya menjadi tidak terarah, setengah buku lebih banyak tentang kehidupan mereka, dan hanya separuhnya lagi yang diisi dengan kisah-kisah menarik tentang dunia luar.
Mungkin, interaksi keduanya lebih menarik jika dibuat dalam segi program televisi. Semoga buku selanjutnya lebih menarik :)
mmm, ntah kenapa saya kurang puas membaca buku ini. Bagian yg bikin menarik justru diabaikan dan dilewati.
Padahal saya pengen lbh kenal tentang damar dan laras. Damar dan laras sosok yg bikin penasaran, anak panglima besar yang dipisahkan dari keluarga yg dididik siap bertempur. Gimana akhir kisah hidup mereka?
Buku ini dibuat berbeda dari buku risa sebelumnya yg berkisah akan sesuatu yg berjiwa tapi tak beraga. Di buku ini, risa dan sara menafsirkan perasaan mereka yang harus kebal menjadi manusia 'alien'. Bagaimana mereka diidolakan dan tak jarang diremehkan orang serta dianggap pembohong karena cerita mereka ttg sesuatu yg kasat mata.
Ini buku kolaborasi, tentu saja beda. Tapi mengenai kisah pedih yang tertutur, energi negatif yg tersirat memberi banyak pelajaran bagi mahluk ber-raga mengambil hikmah dr setiap penyesalan mereka.
Jujur beberapa kali berlinang, baca kisah fatimah juga ann. Ahh, tapi saya tetep kangen ama kisah peter cs.
Awal mula aku tertarik membaca buku dari Risa dan Sara ini karena channel youtube mereka yg sering aku tonton tiap malam jumat dan malam minggu, dari situ aku mencari tahu bahwa Risa adalah seorang penulis juga, bukunya sudah banyak....aku beesusah payah mencari tiap buku yg sudah terbit mulai daei Peter smpe karyanya yg terakhir,duetnya bersama suami Tenung.
Di buku ini berisi tentang pengalaman keduanya, entah kenapa aku sllu ingin punya teman seperti mereka berdua ini, bukan krn mempunyai kelebihan tp mereka adalah orang orang yg mampu menerima dirinya sendiri. Kadang ketika kau berbeda dgn orang lain, hujatan selalu datang menerpa mu dan kadang kau berkecil hati dan mulai merasa kurang percaya diri hingga akhirnya jd stress....tp mereka menepis semya hujatan itu dan tetap melakukan apa yg mereka berdua ini sukai. Memiliki pengalaman dengan makhluk halus adalah keistimewaan mereka.
Cerita dimulai soal persahabatan anak kecil bernama Laras dan Damar, diceritakan bahwa Laras dan Damar ini tidak terpisahkan mereka selalu bersama saat sedang asyik bermain. Dan mereka berdua hidup di masa kerajaan dan merupakan peserta pelatihan untuk berperang membela kerajaan di sebuah tempat yg disebutkan sebagai Kaputren. Tapi Damar dan Laras tidak menyukai yg namanya kekerasan, pada suatu saat mereka mengobrol dan berjanji untuk bertemu kembali dimasa depan. Dan yg membuatku terpana soal yg namanya reinkarnasi adalah Risa dan Sara mengalami sebuah mimpi yang sama dan melihat sosok kedua anak ini Laras dan Damar, dan raut wajah keduanya mirip dgn Risa dan Sara. Sungguh sebuah keajaiban. Hingga pada saat itu mereka mulai saling memanggil dgn nama Damar dan Laras, Damar a.k.a Sara dan Laras a.k.a Risa.
Di cerita selanjutnya mengenai hantu bernama Lingling, setting waktu berlatar belakang masa kolonial Belanda di Indonesia, Lingling adalah hantu dgn ras Tionghoa, ia mempunyai seorang kakak yg ia sering ia panggil Ci Mei, dan ayahnya yg bekerja untuk Tuan Frans seorang petinggi Belanda. Cerita ini sungguh memilukan siih...bagaimana tidak ketika orang yg selama ini kau anggap kakak sebenarnya adalah ibu kandung mu, ketika Lingling dan Ci Mei di tawan oleh tentara Jepang,rahasia itu terungkap. Lingling bahkan belum sempat berbincang banyak soal itu kepada Ci Mei hingga akhirnya Ci Mei merenggut nyawa dihadapannya karena hunusan pedang tentara Jepang dan tidak lama setelah itu Lingling menyusul dgn tebasan dilehernya.
Satu lagi cerita memilukan terjadi melalui sudut pandang Risa, dia Bab yang berjudul Sakit itu ia menceritakan sosok hantu perempuan yg harus mengalami penderitaan diperkosa oleh kelompok lelaki jahat, dan harus meninggal dgn cara yang begitu sadis. Ada lagi cerita mengenai Pinot, yg merupakan sahabat dekat Janshen dia Sekolah Tua, ia merasa masih hidup dan tetap menunggu kedatangan mama Laura-nya, begitu juga cerita tentang Fatimah yg mengharu biru, dan yg terakhir cerita tentang Lisa, yg mengalami kekerasan dari suaminya sehingga harus merenggang nyawa dalam kecelakaan.
Semua cerita dalam buku ini memancing rasa empati yg begitu besar, juga menyadarkan bahwa setiap hantu itu tidak selamanya jahat ada juga beberapa yang harus menderita menanggung perasaan yg mereka rasakan pada saat merenggut nyawa, perasaan itu bertahan begitu lama dan membentuk karakter tiap sosok hantu yg Risa dan Sara temui. Walaupun ada beberapa kesalahan ketik dalam buku ini, namun tidak mengurangi niatku ingin terus membaca sampai habis.
Buku ini seperti 2 orang yang saling bertukar surat atau 2 orang yang saling bertukar chapter atau 2 orang yang menulis buku harian yang sama secara bergantian. Tapi masalahnya, cara Sara bercerita justru mirip dengan Risa, dia tidak memiliki cara khasnya sendiri. Cerita zaman dahulu tentang Laras dan Damar juga hanya sekedar numpang lewat, padahal aku berharap mereka diceritakan sampai saat kematiannya dan bisa menunjukkan kenapa Risa dan Sara bisa yakin kalau mereka adalah reinkarnasi dari 2 anak itu.
Akhirnya selesai juga baca buku ini setelah ditunda mulu bbrp kali karna bukan seleraku. terke oh karna cover 😆 penasaran dan ga liat review sih. Padahal hanya 160hlmn + baru mulai baca buku lagi jd milih bacaan yg tipis eh ga cocok rasanya sama selera jd males-malesan deh lanjutin.
Pembaca jadi orang ketiga yang lagi menyimak dua orang berdialog. isinya kayak dialog curhatan pengakuan 2 penulis ini orang yg penakut meski nyemplung di dunia mistis. diselipin juga beberapa cerita hantu2 terdekatnya dan kisah yg berkesan menurut mereka.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Novel ini cukup mengobati kerinduan saya terhadap Peter cs.. Disini juga diceritakan perjalanan Risa dalam memenuhi janjinya pada kelima sahabatnya: berlibur ke Belanda! :D Juga ada kisah dari Pinot, salah satu teman baru Janshen (bagi yang nggak tahu, baca Maddah).
Ada juga kisah persahabatan Sara dengan Suti dan Ling Ling. Tapi saya lebih cenderung suka sama Teh Risa :'D
"Mataku terus menerus memerhatikan mereka, ada sesuatu yang tak bisa kujelaskan dengan kata-kata saat anak-anak kecil itu berlari melintasiku. Wajah keduanya, tak asing bagiku."
Risara adalah nama mereka, Risa dan Sara. Pertemanan Risa dan Sara adalah pertemanan yang rumit. Pertemanan mereka dipenuhi obrolan tentang hantu seolah hantu adalah manusia normal. Mereka dipertemukan karena satu hal: kemampuan berkomunikasi dengan hantu. Belum lagi, mereka mendapatkan mimpi yang sama tentang dua orang perempuan yang memakai kain zaman dulu. Yang satu bernama Damar, dan yang satunya lagi bernama Laras. Sara melihat wajahnya sendiri di wajah Damar, dan wajah Risa di wajah Laras. Mereka yakin, mimpi tersebut adalah mimpi tentang kehidupan mereka di zaman dulu seolah Dewi Saraswati yang menaungi nama mereka berdua telah mempertemukan mereka. Sejak saat itu, Risa memanggil Sara dengan nama Damar, dan Sara memanggil Risa dengan nama Laras.
Damar dan Laras menceritakan kisah mereka bergantian. Bab pertama oleh Damar, lalu bab kedua oleh Laras, dan begitu seterusnya. Sehingga, pembaca seolah menjadi orang yang diajak bicara oleh kedua narator.
"Sejak mendengar prolog tentang kisahnya, sebenarnya hatiku sudah cukup terusik menjadi tidak tenang. Bagaimana tidak, yang kutahu tentang hantu seperti itu, biasanya mereka dipenuhi amarah dan dendam yang akhirnya membuat mereka menjadi sosok jahat pendendam."
Kisah ini dibuka dengan cerita Damar tentang kejadian sebelum hari pernikahannya. Kita diajak berkenalan dengan ‘teman’ alias hantu penunggu rumah Damar, yaitu hantu keturunan tionghoa bernama Lingling dan kuntilanak yang ada di pohon di depan rumah yang bernama Suti. Belakangan, kita akan diajak menyelami masa lalu Lingling dan Suti sebelum mereka meninggal, dan kenapa arwah mereka masih bergentayangan.
Laras bercerita tentang teman-teman hantu Belanda-nya. Tahun 2014, Laras berhasil mengajak Peter, Hans, Hendrick, Jahnsen, dan William ke Belanda. Ini dilakukan karena Laras ingin mengabulkan permintaan teman-temannya itu. Mereka pun meminta Laras mengenalkan Damar pada mereka. Ini sempat membuat Laras ragu. Laras takut sesuatu yang tak menyenangkan akan terjadi pada Damar atau pada teman-teman kecilnya itu. Namun ternyata, kekhawatirannya tidak seperti kenyataannya. Kedua belah pihak sama-sama senang. Apalagi ketika Damar mengirimkan Suti ketempat Laras. Hahaha…
Selain itu, Damar dan Laras menceritakan tentang petualangannya bersama tim Mister Tukul. Banyak kejadian yang membuat mereka ketakutan atau miris. Pembaca diperkenalkan pada beberapa sosok hantu yang meninggalkan kesan mendalam, seperti Anastasia, hantu Belanda di Depo kereta api. Lalu, yang membuatku sedih adalah kisah Pinot. Pinot adalah hantu Belanda teman Jahnsen. Anak perempuan itu berambut pendek. Ketika membaca kisahnya, saya menangis. Walaupun sudah meninggal, dia masih merasa hidup. Ia menunggu Mamanya menjemput. Kasihan sekali. Tapi, cerita hantu memang sedih kan?
Kisah yang ada dalam buku ini terinspirasi dari tweet yang selalu Risa dan Sara posting setiap malam jumat dengan hashtag #risara. Harus saya akui bahwa buku ini lebih tipis daripada Danur, Maddah, dan Sunyaruri, tiga buku karya Risa. Sudah baca kah? Namun, pola ceritanya tetap sama. Masa lalu menjadi penggerak kisah-kisah di buku ini.
Tidak seperti Risa, Sara Wijayanto baru pertama kali menuliskan pengalamannya dalam buku. Namun, gaya penulisan Sara sudah seperti penulis berpengalaman. Saya terlarut dengan gayanya bercerita. Begitupun Risa dengan diksi yang ia gunakan.
Bagi teman-teman yang tertarik baca buku ini, silahkan baca buku Risa Saraswati sebelumnya. Dimulai dari Danur, lalu Maddah, dan dilanjutkan dengan Sunyaruri. Kenapa? Karena di buku r.i.s.a.r.a ini tidak banyak disinggung tentang sosok hantu yang pernah di ceritakan sebelumnya. Contohnya saja Peter, William, Jahnsen, Hendrick, Hans, dan Marianne. Memang disinggung, tapi sedikit sekali info yang akan didapat oleh pembaca pemula. Di buku ini hanya diceritakan hantu-hantu baru. Jadi, supaya pikiran ‘nyambung’, silahkan baca buku sebelumnya dulu. Sudah beredar di toko-toko buku terdekat atau bisa dibeli online lewat Twitter Rumah Buku di @rumahbuku96 atau di omuniuum di @omuniuum.
"Jangan pernah mambayangkan sosok apa yang akan ditemui saat menginjakkan kaki di tempat sepi dan seram."
Sebenernya uda lama pengen baca buku karangan Risa Saraswati, tapi g tau knp klo uda ada d toko buku malah lupa hahahahahahaiii... kebetulan kemarin buku Mba Risa Sarasawati mejeng di bagian depan toko buku jadi langsung ingat seketika :D Beli dua buku dan baru baca yg ini.
Dalam buku ini menceritakan tentang persahabatan Mba Risa Saraswati dan Sara Wijayanto. Perkenalan mereka diawali lewat sebuah acara misteri di sebuah stasiun televisi. Mereka memiliki "keunikan" yg sama yaitu sama2 bisa melihat hal-hal yg orang biasa tak bisa liat (alias hantu, kunti dll you named it :D) Buku ini diawali dengan cerita mimpi mereka yang ajaibnya sama tapi dengan sudut pandang yang berbeda. Ternyata mereka pernah bertemu di mimpi itu dahulu kala (mereka menyebutnya kehidupan sebelumnya) jadilah mereka bersahabat dan saling bertukar cerita dan bahkan bertukar "teman" :D
Selebihnya mereka menceritakan tentang kisah2 mereka di "dunia lain" tersebut. Dari mulai hantu "favorit" mereka, kisah "teman hantu" mereka dan kisah2 yang lain.
Bagi yang begitu senang dengan cerita horor, jangan takut. Cerita di buku ini cukup ringan menurut saya, justru membuat penasaran. Kalaupun beberapa tidak kuat, silakan skip k cerita selanjutnya karena memang buku ini d setting menjadi sebuah kumpulan beberapa cerita, jadi tinggal skip aja klo emang mulai menakutkan hahahahahahaiii...
Buku ini sebenarnya layaknya buku diary. Dimana Risa dan Sara sama-sama menulis dan bercerita secara bergantian. Layaknya kedua anak yang saling bercerita gitu lah. Tentang asal muasal mereka, sahabat hantu mereka, dan semua hal yang tidak jauh dari dunia-dunia gaib. Tidak ada yang terlalu istimewa sebenarnya, karena cerita-cerita seperti ini pun sudah sering aku temui di buku-buku yang sebelumnya. Seperti Danur, dan Maddah. Penambahan Sara sebagai sudut pandang baru di sini menurutku juga tidak terlalu membuat buku ini nampak berbeda. Sudut pandang keduanya sama, dalam arti tidak ada perbedaan saat keduanya sedang bercerita. Bukan berarti tidak puas dalam membaca buku ini, tapi lebih ke ciri khas keduanya saja. Semua cerita ini bagus, hanya saja ada sesuatu yang harusnya menjadi pembeda antara sudut pandang Risa dan Sara. Bisa dari gaya menulisnya, mungkin? *itumenurutku.
Saya beri 4 bintang pada buku ini karena saya suka dan terhibur membacanya. Nyatanya saya buka penggemar horor, buku horor atau segala hal yang berhubungan dengan dunia lain. Tapi buat saya, sebagai orang yang ingin tahu apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh orang2 seperti risara sy puas. Buku ini semacam buku non fiksi yang menceritakan kisah2 yang dialami penulisnya. Agak membuat saya ketakutan, tapi mengaggumkan. Tidak membosankan karena diceritakan dalam part2 yang berbeda, menarik karena ditulis dengan bergantian dan ada kesan bahwa menulis buku ini, sangat menyenangkan. Intinya, bahkan bagi yang bukan penggemar horor, buku ini asyik untuk dibaca....^.^
Ini buku isinya tentang persahabatan Sara, Risa, dan teman-teman hantu mereka. Yah, lumayan juga sih, isinya kayak curhatan. Saya juga agak nggak percaya reinkarnasi, tapi nggak hanya Risa dan Sara aja yang mikir ulang soal reinkarnasi, saya juga. Jadi, mereka bertemu dengan 2 anak yang bernama Damar dan Laras yang konon itu mereka. Kadang memang seperti itu ya, ada seseorang yang bisa dekat dengan kita seperti sudah mengenal sejak lama >< Saya heran juga ya, cewek kalo mati nggak wajar pasti ujungnya jadi kuntilanak.
Di buku ini kita akan mengetahui mengapa dan alasan para makhluk gaib ini bergentayangan. Banyak sekali pertanyaan yang mungkin akan timbul di benak para pembaca. Dan banyak sekali pertentangan karena tidak sesuai dengan syariat agama, terlebih agama Islam. Mungkin bagi umat Islam, para pembaca telah mengetahui bahwa makhluk gaib yang bergentayangan merupakan suatu kebohongan, hanya lah jin yang menyerupai jasad para arwah yang kita kira begentayangan. Tapi semua ini kembali lagi dari persepsi dari setiap pembaca.
Akhirnya berani juga saya baca buku yang ber-genre horror. Pada dasarnya saya orang yang tidak terlalu suka genre ini, tapi penasaran juga karena sering dengarin teman yang ngebahas cerita cerita horrornya mba risa, baik itu di twitter maupun buku. dan akhirnya setelah membaca sebagian buku ini, ternyata sangat menarik dan jadi tahu kalau ternyata makhluk yang berbeda alam itu tidak semuanya jahat. thank's mba risa
semi memoar, sebagian memoar penulisnya, sebagian memoar hantu2 yang mereka temui ... hiiiy :D karena kebetulan kenal seseorang yang juga bisa melihat hantu, jadi yah sedikit banyak cerita mereka masuk akal sih hehehe. sederhana dan termasuk a very very quick read. cocok buat yang selalu penasaran sama "dunia lain" dalam versi ringan.
Membaca buku ini seperti mendengar dua orang unik ini saling bercerita. menyenangkan meskipun pada dasarnya aku juga tidak begitu mengerti apa yang mereka bicarakan. karena memang itulah persahabatan tidak perlu orang tau apa yang kita bicarakan yang penting dia tau kita tau orang lain boleh mengerti boleh tidak.
buku ini ada di rak buku saya karena teman menghadiahkan untuk merayakan kelulusan saya. Entah bagaimana, seperti tulisan Risa yang lain, buku ini hanya untuk kalangan penasaran. Bukan untuk kalangan pembaca.