Jump to ratings and reviews
Rate this book

Memori-memori Kekerasan: Ketegangan, Identitas, dan Nasionalisme

Rate this book
Buku ini berusaha mengingat berbagai peristiwa kekerasan yang pernah terjadi di Indonesia meski ada desakan kuat—dari negara, pelaku, bahkan sebagian korbannya sendiri—untuk melupakannya.

Dari pembantaian Banda era kolonial hingga pembantaian dukun santet di Banyuwangi era reformasi, dari 1965 hingga RMS, dari “Ianfu” hingga Momok Merah, dari Darul Islam hingga pembunuhan atas etnis Tionghoa semasa Revolusi.

Mengingat kekerasan bukanlah untuk menggarami luka atau memelihara dendam, tetapi untuk mencegah hal yang sama berulang kembali di masa kini maupun masa depan. Juga untuk memutus logika-logika yang membenarkan kekerasan sebagai jalan keluar.

220 pages, Paperback

Published November 24, 2025

3 people are currently reading
4 people want to read

About the author

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
4 (50%)
4 stars
3 (37%)
3 stars
1 (12%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 3 of 3 reviews
Profile Image for Willy Alfarius.
96 reviews10 followers
January 20, 2026
Pada dasarnya buku ini merangkum bagaimana memori tentang kekerasan di masa lalu diwariskan (atau juga sengaja untuk tidak diteruskan) dari generasi yang mengalaminya kepada generasi kedua dan ketiga di bawah mereka (di masa kini). Disunting oleh Grace Leksana, dkk., buku ini bermula dari sebuah workshop yang diselenggarakan di Universitas Negeri Malang pada 2021 lalu. Berisikan sembilan artikel, pembahasan buku ini merentang dari berbagai disiplin seperti sejarah, antropologi, hingga kajian budaya. Membahas di antaranya tentang jugun ianfu, Darul Islam, pembunuhan dukun santet, hingga kekerasan terhadap etnis Tionghoa di Indonesia.

Bagian paling apik dalam buku ini menurut saya adalah tulisan Budiawan dan Kuncoro Hadi tentang tempat-tempat "angker" di Klaten, Jawa Tengah. Angker di sini berkaitan dengan kenyataan bahwa beberapa tempat seperti Kali Simping merupakan ladang pembantaian yang digunakan oleh militer terhadap anggota maupun simpatisan PKI pada Genosida 1965-1966. Selain itu, ingatan akan kekerasan dan pembantaian terhadap etnis Tionghoa di Nganjuk, Jawa Timur juga menjadi bagian yang bagi saya sendiri cukup memilukan. Di situ digambarkan bagaimana keturunan para korban dan penyintas yang enggan untuk mewariskan kisah kepada anak cucu mengenai kekerasan yang menimpa kelompok mereka, oleh sebab trauma mendalam dan ketakutan bahwa mereka akan kembali dipersalahkan.

Di negara yang membiarkan kekerasan terjadi dan tidak pernah ada konsekuensi terhadap pelakunya, memori kerap kali menjadi cara untuk terus menghidupkan dan menjaga ingatan agar setidaknya narasi tentang kekerasan yang dialami korban tidak lenyap. Historiografi resmi negara menempatkan mereka yang berkuasa selalu sebagai "pahlawan" dan menempatkan mereka yang kalah sebagai "pecundang" atau "pelaku". Dengan demikian, tentu saja nyaris nihil sejarah resmi memberikan ruang bagi mereka yang termarjinalkan atau dianggap bukan bagian dari (warga) negara yang berhak mendapat tempat dalam penulisan sejarah. Namun, meski tidak tertulis, ingatan terus merekam pengalaman pahit masa lalu, dan ingatan ini sedapat mungkin dengan berbagai cara dan medium terus dihidupkan. Saya kira buku ini mengkaji bagaimana berbagai ingatan tentang kekerasan masa lalu berusaha untuk terus dihidupkan. Bukan sebagai dendam tentu saja, melainkan sebagai cara untuk mendapatkan keadilan maupun agar kekerasan dan kekejaman (negara) di masa lalu tidak terulang.

Seperti yang dituliskan oleh Budiawan dan Kuncoro Hadi dalam penutup artikel mereka: "... bahwa meskipun narasi resmi tampak sangat dominan dan hegemonik, ia tak akan pernah bisa sepenuhnya mengontrol pikiran seluruh warga. Dengan berbagai caranya sendiri, berbagai komunitas memori akan senantiasa berupaya menciptakan dan menjaga ruang-ruang otonom untuk mengingat apa yang tidak boleh diingat oleh narasi besar resmi."
Profile Image for Yumna.
3 reviews
February 19, 2026
Buku ini wajib dibaca sebagai salah bentuk napak tilas peristiwa kekerasan yang terjadi di Indonesia. Masih banyak peristiwa-peristiwa kekerasan yang terjadi pada masa lampau tidak ditindak lanjuti oleh pemerintah. Betapa gagalnya pemerintah melindungi korban dan pelaku tidak diadili secara hukum yang ada. Berikut beberapa artikel that lingering in my head.

1) Tempat-tempat “Angker” sebagai situs ingatan, Pewarisan Ingatan Pembantaian Massal 1965-1966 di Klaten, Jawa Tengah by Budiawan & Kuncoro Hadi
Tempat “Angker” yang dulunya merupakan tempat peristiwa kekerasan terjadi, sebagai situs ingatan. “Anger” familiar dengan hantu. Hantu di sini merupakan metafor untuk masa lalu. Secara inheret terkait erat dengan memori. Akan tetapi bukan memori pada umumnya, melainkan memori yang traumatis (unspeakable), dan persis disitulah “Hantu” menjadi pengejawantahan dari suara momen yang tak terkatakan. Seperti salah satu penulis favorit saya yang karya tulisnya selalu berkaitan dengan “Hantu, Intan Paramaditha. Beliau mengatakan di sini “Hantu” sebagai sesuatu yang erat dengan sesuatu yang mengerikan, menakutkan tetapi secara terpaksa harus dihadapi.

2) Paduan Suara Dialita by Ayu Ratih
Artikel ini tentang korban-korban kekerasan seksual tahun 1965-1966 yang berkumpul membuat kelompok paduan suara setelah new of order runtuh. Paduan suara menjadi medium ekspresi yang dapat membantu membangun “sebuah episteme (Greek for knowledge/understanding) sistem pembelajaran, penyimpanan, penyebaran pengetahuan. Dialita menjadi ruang-ruang belajar yang bermanfaat untuk menumbuhkan kembali kesadaran sejarah generasi muda-sesuatu dengan seksama dihancurkan oleh pemerintahan otoritarian Soeharto.
8 reviews
January 24, 2026
Buku ini sangat bagus dalam membingkai narasi sejarah yang bisa dibilang sensitif, tidak terkecuali ekstrem kanan/kiri beserta dampaknya bagi anak dan cucu pelaku sejarah.

Secara keseluruhan buku ini bagus untuk memenuhi rasa ingin tahu seputar stigma terhadap orang-orang atau kalangan tertentu.
Displaying 1 - 3 of 3 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.