Jump to ratings and reviews
Rate this book

Langit Mengambil

Rate this book
Air mata punya kebijaksanaannya sendiri. Ia hadir ketika beban terlalu berat untuk diungkapkan dengan kata-kata. Ia menjadi ruang bagi luka untuk bernapas. Dan air mata adalah bahasa tubuh yang paling jujur. Sejak tragedi keji merenggut rahimnya, Tara kehilangan bukan hanya mimpinya, tapi juga air matanya. Dia mencoba segala cara untuk bertahan, tapi tak ada harapan yang tersisa setelah impiannya dan Raka untuk punya anak diambil langit. Rumah tangga mereka menjelma menjadi sandiwara di atas panggung tanpa penonton, penuh luka yang tak terucapkan.

Raka percaya luka Tara hanya bisa pulih jika dia berani menatap traumanya. Yang tidak pernah dia duga, Tara sudah lebih dahulu memilih jalan berselimut dendam yang bukan hanya bisa menghapus sisa cinta yang masih mereka miliki, tapi mengancam nyawa Tara dan orang-orang yang dicintainya.

336 pages, Paperback

First published January 28, 2026

12 people are currently reading
59 people want to read

About the author

Ika Natassa

25 books2,377 followers
IKA NATASSA is an Indonesian author who is also a banker at the largest bank in Indonesia and the founder of LitBox, the first literary startup of its kind in the country, which combines the concept of mystery box and onine promotions for writers.

She loves writing since since was a little kid and finished writing her first novel in English at the age of 19. She is best known for writing a series of popular novels focusing on the lives of young bankers in Indonesia. Her debut novel A Very Yuppy Wedding is published in 2007, and she has released six books since: Divortiare (2008), Underground (2010), Antologi Rasa (2011), Twivortiare (2012), dan Twivortiare 2 (2014), and Critical Eleven (2015). A Very Yuppy Wedding is the Editor's Choice of Cosmopolitan Indonesia magazine in 2008, and she was also nominated in the Talented Young Writer category in the prestigious Khatulistiwa Literary Award in the same year. She loves to experiment with writing methods, Twivortiare and Twivortiare 2 are the two novels she wrote entirely on Twitter. Antologi Rasa and Twivortiare are currently being adapted into feature films by two of the most prominent production houses in Indonesia.

Natassa is also one of the finalists of Fun Fearless Female of Cosmopolitan Indonesia magazine. In 2008, she was awarded with The Best Change Agent at her company for her active role in corporate culture implementation in the bank, and in 2010 she was awarded for 2010 Best Employee Award. Her success in maintaining a career at the bank whilst pursuing writing as her other passion led to her being awarded awarded as the Women Icon by The Marketeers in 2010.

Out of the love of books, in 2013 she founded LitBox, a brand new concept she's in introducing to readers in Indonesia. It's the first literary startup company of its kind, aiming to provide readers with recommended books, to help writers get their writings read by people, and to help publishers introduce new talents to the market. On July 2014, she commenced a social movement campaign to promote the joy of reading called Reading is Sexy, so far supported by Indonesian and regional public figures such as Acha Septriasa, Jason Godfrey, Hamish Daud Wyllie, Karina Salim, Ernest Prakasa, Mouly Surya, and many more.

Twitter and Instagram: @ikanatassa
LinkedIn: Ika Natassa
Personal website: www.ikanatassa.com

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
20 (30%)
4 stars
38 (57%)
3 stars
6 (9%)
2 stars
2 (3%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 13 of 13 reviews
Profile Image for Indira.
5 reviews1 follower
Review of advance copy received from Publisher
January 27, 2026
Dulu aku big fan buku-bukunya Ika, mulai dari Antologi Rasa sampai karya-karya lainnya yang, walaupun formulanya cukup ketebak, tetap entertaining buat dibaca. Karakternya hampir selalu sama: perempuan dewasa metropolitan, mapan secara finansial, unlucky in love, lalu hadir cowok cool, protektif, tipe dream guy sejuta umat (haha). Ditambah ciri khas lain: panjang banget sesi yapping inner monologue yang tiba-tiba berubah jadi random facts dan life lessons, sometimes feels a bit preachy.

Tapi di buku yang ini, aku nggak ngerasa connect sama sekali sama karakternya. Secara emosional nggak kebangun. Mau ngangkat topik crime juga nggak kena. the execution feels weak, pacing lamban, dan tensinya hampir nggak ada. Jadi alih-alih gripping, malah terasa dragging.

Overall, this book feels far from enjoyable compared to her previous works. Definitely not the kind of read I’d recommend, especially kalau expect the usual charm from her earlier books.
Profile Image for aynsrtn.
555 reviews19 followers
January 30, 2026
Tragedi yang begitu keji telah merenggut rahim Tara. Bagaimana dia mampu menerima, bersikap ikhlas dan lapang dada, serta dituntut untuk mengerti dan menatap duka dan traumanya, jika sebagian hidupnya telah mati?

Tara pun mati sebagian demi berpura-pura hidup. Dukanya pun tak pernah terucap. Tak terhitung berapa kali Tara bertanya, “apakah ia akan merasa normal kembali?” dan “seberapa lama penderitaan ini akan berlangsung?” Hingga Tara tanpa sadar lupa bahwa tidak hanya ia yang terluka, Raka, suaminya, dan ibunya Tara pun diambang sendu yang tak kunjung berakhir.

Perihal Duka bukan soal 5 stages of grief.

“Saya sudah kalah dengan takdir, tapi saya nggak mau kalah dengan hidup.” Kau bisa saja bilang tidak kalah pada hidup, tapi seorang korban tetaplah korban.

Teori 5 tahap dalam berduka adalah teori yang sangat terkenal untuk mengidentifikasi perihal cara berduka seseorang. Lalu, Tara berada di posisi mana? Tidak di antaranya. Berduka itu unik bagi setiap orang. Ada mungkin yang berurutan dan mengalami apa 5 tahap itu. Ada pula yang secara acak. Ada juga yang berbeda sama sekali. Di #LangitMengambil ini, aku diperlihatkan secara subtil namun pasti, bagaimana Tara membungkus dukanya dengan amarah, pekerjaan, dendam, menghindar, dan berpura-pura. Menjalani rutinitas tanpa emosi. Berperan menjadi istri yang baik, tetapi selalu menghindari Raka.

The hurtful scene: Cara Tara “menangisi” dukanya.

Dunia punya cara aneh memperlakukan perempuan yang berduka. Ketegaran adalah bentuk pengkhianatan terhadap rasa sakit.

Ketika Tara sudah masuk kerja padahal masih ada 1 bulan masa cutinya, semua orang di kantornya, termasuk suaminya merasa aneh. Mungkin diantaranya berpikir kok ini bisa baik-baik, kok nggak berantakan? Memang harusnya kayak gimana?

Tara ini manusiawi sekali menurutku, di satu sisi dia tidak ingin dikasihani dan diratapi atau dianggap lemah dan rapuh sebagaimana seorang korban bersikap, tetapi di satu sisi, Tara pun sangat rapuh dan remuk.

Ada satu scene di #LangitMengambil di mana Tara “berziarah” ke makamnya sendiri setiap hari Sabtu. Read this book to know how the hurtful the scene is.

Raka adalah cinta seorang laki-laki pada perempuan yang tengah terluka.

Manusia tidak terlahir untuk bertahan sendiri.

Jadi Raka itu serba salah menurutku. Dia pun sama inginnya memiliki anak, sama dengan Tara. Sama terluka. Sama sedihnya. Tetapi, Tara selalu berkata bahwa Raka tidak akan pernah mengerti posisinya. How come, Tara, Raka ini dokter anak, setiap hari ketemu anak kecil sebagai pasiennya, gimana nggak kepikiran tiap lihat anak kecil keinget Raka kecil yang tidak akan pernah ada?

Satu hal yang aku tangkap di #LangitMengambil ini adalah berduka dan terluka bisa seegois itu. Padahal Raka sudah membuka dirinya, ia ingin menjadi tempat Tara untuk berlari, marah, kecewa, luapkan semua, tetapi Tara memilih berkutat dalam dendam dan sedihnya sendiri. Understandable but still hurtful. Sebab Raka itu hanya seorang laki-laki yang mencintai perempuan yang terluka. Ia mencoba memahami dan ingin menyembuhkan lukanya-yang mungkin tak akan pernah sembuh.

Karya Penulis yang memiliki kesan berbeda.
Untuk #LangitMengambil ini ceritanya lebih deep and dark menurutku dibanding karya-karya penulis sebelumnya. Jika kalian berharap bahwa ini terdapat adegan romansa yang membuat kalian mesam-mesem, apalagi covernya cerah banget, maka simpanlah ekspektasi itu. Sebab romansa yang manis di buku ini dalam bentuk past tense alias di masa lalu. So, enjoy the rides.

Yang cukup mengejutkan untukku adalah terdapat unsur crime-thriller-mystery (ctm) di sini. Karena pekerjaan pemeran utama wanita yang seorang reporter investigasi, maka ada beberapa adegan layaknya novel genre ctm. Tidak terlalu rumit. Jika kalian senang membaca genre ctm, maka kalian sudah dapat “menebak” siapa pelaku dan arah kemana kejadian ini akan membawamu karena penulis sudah menebar beberapa petunjuk. Cukup bikin deg-degan.

Ada satu catatanku sih, Raka belum ngasih tahu Tara perihal sosok L bukan M (?)

Rekomendasi.
Membaca novel ini sebaiknya dalam keadaan baik-baik saja dan stabil karena ada beberapa adegan yang dapat memicu. Seperti (secara tersirat) tentang pemerkosaan serta duka dan luka yang bikin kamu draining banget saat membacanya. Beberapa kali aku menangis dibuatnya apalagi saat adegan “itu”. Marah dan menangis menjadi satu.

Buku ini sangat menarik bagiku karena menuliskan sisi kedukaan dan female issues terutama bagi perempuan korban kekerasan dan pemerkosaan. Betapa tidak adilnya dunia kepada korban apalagi dengan alasan yang sangat “sederhana”, tetapi berhasil menghancurkan hidup seseorang menjadi remuk redam.

Bagi kamu suka cerita romansa yang dengan bumbu slight crime-thriller-mystery tentang perihal kedukaan dan luka seorang perempuan, buku ini kurekomendasikan.

🌹4 bintang untuk nasi campur sambal terong mbok Inah.
Profile Image for Lelita P..
637 reviews58 followers
Review of advance copy
January 26, 2026
.... whoaa. Buku ini sangat berbeda dari novel-novel Ika Natassa sebelumnya. Di sini ada sentuhan crime/mystery, yang mana merupakan genre favorit saya sehingga buku ini terasa lebih engaging. Kalau buku-buku sebelumnya lebih banyak eksplorasi perasaan karakter-karakternya dalam hal asmara dan kehidupan, buku ini lebih "berat" karena menggali psikologi perempuan yang mengalami trauma terberat: pemerkosaan.

Sejujurnya saya nggak pernah membayangkan akan ada masa ketika Mbak Ika memilih topik seberat dan sekelam itu untuk dijadikan cerita, saking sudah terbiasanya dengan karya-karya beliau sebelumnya yang selalu mengangkat tentang urban life/love life dan kegelisahan-kegelisahan yang melingkupi para tokohnya terkait itu. Tapi saya lebih nggak menyangka lagi karena Mbak Ika berhasil menulis topik berat dan kelam itu menjadi cerita yang jujur, memberikan banyak wawasan, manusiawi, penuh perenungan, serta sentimental dengan cara yang mengobrak-abrik hati pembaca.

Meskipun penggemar genre CTM (crime thriller mystery), biasanya saya cenderung menghindari cerita-cerita yang mengandung rape/sexual violence/sexual abuse karena nggak tega, nggak kuat membaca topik itu (walaupun tentu saja susah dihindari ya, mengingat banyak novel CTM yang tak terlepas dari peristiwa itu). Saya nggak tahu Langit Mengambil ini mengangkat cerita tersebut karena saya nggak baca cerbungnya di KBM. Jadi ketika membaca tanpa ekspektasi dan sampai ke bagian itu, kaget juga....

... masih berlanjut kagetnya sampai akhir karena nggak mengira sama sekali ceritanya akan dibawa ke arah sana. I mean, tentu saja cerita ini menelusuri segala upaya dan respons Tara dalam menghadapi traumanya dan bagaimana tragedi itu mengubah hidupnya serta orang-orang di sekitarnya, tapi

Kembali ke "segala upaya dan respons Tara dalam menghadapi traumanya", menurut saya tentunya susah sekali menuliskan kondisi psikologis seseorang dalam kerapuhan seperti itu, tapi Mbak Ika berhasil melakukannya--sekali lagi dengan realistis dan believable. Nggak kebayang betapa lelah secara psikologis sepanjang menulis Langit Mengambil ini, karena membacanya saja sangat emotionally draining, apalagi menulisnya huhu. She really did a great job dengan berhasil men-deliver topik sesulit, seberat, dan segelap ini menjadi cerita yang begitu thoughtful dan menyentuh. Dan yang saya sukai lagi, pascatragedi ini yang berubah bukan cuma hubungan Tara dengan manusia di sekelilingnya, melainkan juga hubungan Tara dengan Tuhan. Mbak Ika mengeksplorasi keduanya.

Selaku penggemar genre CTM, saya menyoroti juga elemen-elemen tersebut dalam novel ini. Memang bagian misterinya subtle saja, tapi menurut saya untuk ukuran penulis yang biasanya menulis romance seperti Mbak Ika, build up misteri di novel ini lumayan kok. Sejak awal sudah ditanamkan hint yang menunjuk ke seseorang yang dimaksudkan menjadi plot twist, dan bagian klimaks ketika memergoki orang itu cukup mendebarkan.

Overall, novel ini memberikan perasaan nano-nano. Jelas tidak disarankan untuk dibaca ketika mental sedang tidak baik-baik saja. Banyak trigger warning-nya juga (yang mungkin perlu lebih banyak disebutkan dalam marketing novelnya, soalnya sekelam itu.)
8 reviews
Review of advance copy
January 24, 2026
Tara, seorang jurnalis perempuan, yang sangat mencintai pekerjaannya. Ia mencintai pelangi sebagaimana Ia mencintai ayahnya yang sudah tiada. Ia bahkan menemukan cintanya, Raka, saat pelangi sedang menghiasi langit sore setelah hujan.

Setelah satu tahun pertemuannya dengan Raka dan memutuskan untuk menikah, kehidupan Tara tampak sempurna. Dan setelah berbagai pertimbangan, Tara dan Raka pun akhirnya memutuskan untuk menambah satu lagi anggota dalam kehidupan mereka, yang dapat melengkapi kebahagiaan mereka. Namun sayang, sebuah kejadian naas menimpa Tara, yang membuat semuanya tak lagi sama, karena selain membuatnya tidak lagi bisa merasakan ‘hidup’, salah satu impiannya dengan Raka pun ikut direnggut.

Pada novel ini, akan diceritakan usaha Tara untuk kembali merasakan hidup dan bangkit kembali dari ‘kematiannya’.

Selama membaca novel ini, jujur saja, pada bagian-bagian awal saya merasa frustrasi. Bukan karena sikap Tara yang jadi tertutup dan menolak semua bantuan, tapi saat Tara dan Raka memilih untuk memainkan sandiwara mereka, dibandingnya membicarakan semuanya. Tapi seiring berjalannya waktu, saya mulai sadar, setiap orang memiliki caranya masing-masing dalam menghadapi duka.

Membangun dinding tebal, memakai topeng agar selalu terlihat baik-baik saja, meskipun pada kenyataannya, Ia hancur sejadi-jadinya, itu lah yang Tara pilih sebagai coping mechanismnya.

Dari buku ini saya belajar, bahwa setiap momen itu bersifat sementara, begitu juga dengan duka. Meskipun jalannya panjang, seperti perjuangan Tara dalam mencari ‘hidup’nya kembali, tapi semua rasa sakit akan terbayarkan. Meskipun, mengikhlaskan adalah lain hal.

Selain itu, saya jg belajar, bagaimana mencintai itu berarti bersabar, mengikhlaskan, dan memberi ruang. Sebagaimana Raka akhirnya memutuskan memberikan ruang kepada Tara untuk sembuh, sambil tetap bersabar dalam mendampingi prosesnya. Dia menunggu Tara.

Dari semua novel Ika Natassa, mungkin kisah Tara dan Raka ini bukan favorite saya. Tapi setidaknya, cukup berkesan untuk saya.


Profile Image for Sintia Astarina.
Author 5 books360 followers
Read
January 13, 2026
Tara adalah seorang jurnalis yang sangat mencintai pekerjaannya. Hidupnya teramat bahagia bersama Raka, suaminya yang seorang dokter. Namun siapa sangka, kebahagiaannya harus terenggut oleh sebuah tragedi keji, hingga takdir mengubah hidupnya 180 derajat. Ia berusaha mencari keadilan, tapi bukan “itu” yang ia butuhkan sebenarnya.

***

Kalau boleh jujur, ini adalah karya pertama Ika Natassa yang kubaca. Berproses dengan karya ini rupanya cukup menguras emosi. Bukan cuma karena plot dan alur ceritanya, melainkan bagaimana penulis mengisahkan adegan demi adegan dengan sangat lambat.

Meski novel ini dicacah ke dalam sub-bab kecil, seolah ada yang terus menginjak rem saat pembaca sangat ingin memilih pedal gas. Banyak stok sabar harus disiapkan untuk menguak apa yang terjadi dengan Tara dan bagaimana resolusi akhirnya bersama Raka.

Kendati begitu, Langit Mengambil benar-benar mengajarkanku banyak hal,
1. Setiap orang pasti punya luka dan traumanya masing-masing. Butuh waktu yang nggak sebentar untuk sembuh.
2. Memahami stress language itu perlu, bukan cuma love language aja. Dengan memahami bahasa ini, kita jadi tahu sebenernya apa sih yang dibutuhin oleh kita atau pasangan.
3. Coping mechanism bukan cuma soal bertahan melainkan bagaimana kita meregulasi emosi, mengambil kendali, juga terus bergerak tanpa harus merasa kehilangan diri sendiri.
4. Setiap orang punya caranya sendiri untuk mencintai.
5. Kita semua adalah perempuan berharga. Beruntunglah kita memiliki support system yang selalu memahami, memvalidasi, dan selalu ada untuk kita.

Kalau kamu suka tipe novel yang jujur apa adanya dan juga membahas isu keperempuanan, novel ini boleh kamu pertimbangkan untuk jadi bacaan selanjutnya.
Profile Image for cel.
102 reviews5 followers
Review of advance copy received from Publisher
December 31, 2025
buku ini menurut gue karya Ika Natassa yang paling beda dari yang lain. dan gue setuju kalo pada bilang ini buku "dark"-nya Ika Natassa.

ceritanya cukup bikin ngilu untuk dibaca seorang wanita, karena tentang bagaimana seorang wanita mencoba berdamai tentang masa lalu yang membuat ia merasa tidak pantas menjadi seorang wanita. ada beberapa hal yang triggering sebenarnya, tapi masih bisa diterima oleh gue. dan kalau boleh jujur, gue suka sama buku ini.

menurut gue, di buku ini juga nggak terlalu fokus ke romansanya yang bikin gue ternyata tetep enjoy aja sama ceritanya. biasanya Ika Natassa selalu ada latar Amerika di ceritanya, kali ini 100% di Jakarta (yang bikin ceritanya semakin dekat dengan pembaca).

gue harap, nggak ada yang relate sama ceritanya, tapi percayalah kalau cerita ini ada di sekitar kita.
Profile Image for AmaratDT.
3 reviews
Review of advance copy received from Author
January 16, 2026
The story is about Tara and Raka, where Tara faced violent action and made her unable to have a child. The backside of the story is about online gambling, a sensitive topic in this country. I admire how the author describe it, although the act and consequences for the protagonist a little bit unworthy. It is a good book, as usual, the author is very good at describing the underneath feeling, the action and reaction, and also the ending of the story. Two thumbs up for Ika !
Profile Image for Leea Hapsari.
87 reviews2 followers
January 29, 2026
Membaca tulisan Ika Natassa seperti merasakan pelukan dari seorang ibu. Tulisan Ika selalu bisa membuat saya merenung, menagis, bahkan meraung. Seperti ada orang yang bisa memahami saya dengan baik.
Dalam novel ini pun Ika Natassa juga berbicara tentang luka dan duka yang terkadang tidak bisa disembuhkan oleh waktu. Terkadang sulit bagi kita untuk benar-benar ikhlas dan memaafkan. Terkadang satu-satunya cara untuk bertahan hidup adalah dengan berpura-pura dan memasang topeng baik2 saja.
Profile Image for asladyinred.
17 reviews1 follower
February 24, 2026
Kayaknya karya seorang Ika Natassa yang paling gelap 🥲 menyayat hati. Bikin orang ga tega buat lanjut baca terutama oleh wanita 💔❤️‍🩹

Cerita seorang wanita yang struggle mengobati luka fisik dan batinnya. Cerita seorang pria yang tidak menyerah dalam mencintai istrinya setelah semua kebahagiaan direnggut 😭

Ga semua wanita bisa sekuat Tara 🥺

Bukan sebuah kisah cinta yang manis dan romantis. Ini merupakan sebuah kisah cinta yang berat. Penuh duka.
Profile Image for Irna Irhamna.
30 reviews
March 9, 2026
It’s surprisingly far better than Ika’s previous book, Satine. The plot feels more gripping, although the first half is still a bit cringe. I was hoping for more dynamic conversations and stronger character interactions to bring the story to life—something closer to the energy in Twivortiare and Divortiare.
Profile Image for yun with books.
729 reviews244 followers
February 28, 2026
𝙍𝙚𝙫𝙞𝙚𝙬 𝙤𝙛 𝙖𝙙𝙫𝙖𝙣𝙘𝙚 𝙘𝙤𝙥𝙮 𝙧𝙚𝙘𝙚𝙞𝙫𝙚𝙙 𝙛𝙧𝙤𝙢 𝙩𝙝𝙚 𝙥𝙪𝙗𝙡𝙞𝙨𝙝𝙚𝙧, 𝙂𝙧𝙖𝙢𝙚𝙙𝙞𝙖 𝙋𝙪𝙨𝙩𝙖𝙠𝙖 𝙐𝙩𝙖𝙢𝙖.

"Tapi saya tahu, ikhlas atau tidak, hidup akan terus berjalan. Matahari tetap terbit dan tenggelam. Hari akan terus berganti. Saya sudah kalah pada takdir, tapi saya nggak mau kalah pada hidup."


Membaca buku ini berat. Tema tentang ikhlas dan kehilangan rasanya terlalu personal. Hampir setiap manusia pasti mengalami kehilangan berat dan (biasanya) respons orang lain dengan "gampangnya" adalah harus ikhlas.
Membaca buku ini berat. Tara merupakan karakter yang setiap pikiran, perasaan dan aksinya bikin saya was-was sepanjang buku. Saat membaca Tara, rasanya seperti saya sedang membawa kaca mahal yang sudah rapuh, jadi saat disenggol dikit pasti akan pecah. Was-was.

Saya melihat apa yang coba Ika Natassa sampaikan dalam buku Langit Mengambil. Tentang waktu yang rasanya menyempit dan kadang bikin jadi gak bias bergerak bebas, jadi daripada kita terus melawan, lebih baik kita belajar ikhlas.
Buku ini bikin saya MERENUNG di setiap kata dan pemilihan diksinya. Jujur, beda daripada karya Kak Ika sebelumnya.

Romansanya tidak begitu kental. Jadi, buat yang mencari "happy ending" mungkin akan terasa dikecewakan. But the silver lining is buku ini sangat dewasa pada titik cara menulis Ika Natassa yang sudah semakin berkembang.

"Katanya, kita tidak pernah benar-benar kehilangan waktu. Kita hanya menukarnya dengan sesuatu, entah itu penyesalan, kebahagiaan, atau pelajaran. Waktu tidak pernah pergi dengan tangan kosong, ia selalu membawa sesuatu.
Displaying 1 - 13 of 13 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.