Jump to ratings and reviews
Rate this book

Mitologi Yunani #2

Το τραγούδι των θεών : Ήρα - Αφροδίτη

Rate this book
Ελληνική Μυθολογία #2 - Παραμυθένιος Όλυμπος Εδώ, στη δική μας γη, την Ελλάδα, έγιναν οι πιο ωραίοι μύθοι των παλιών ανθρώπων. Οι αρχαίοι μας πρόγονοι έπλασαν τους μύθους τους με την ομορφιά της ελληνικής φύσης, με την αγάπη τους για τη ζωή και το ωραίο. Θαύμαζαν τους ήρωες των μύθων αυτών και λάτρευαν τα πλάσματα της πλούσιας φαντασίας τους, τους αθάνατους θεούς του Ολύμπου, για να συμβεί στο τέλος κάτι το αρκετά "παράξενο": Οι αθάνατοι θεοί, που έζησαν μέσα στη φαντασία των θνητών ανθρώπων, πέθαναν κάποτε, κι έμεινε αθάνατο το έργο των θνητών, η Ελληνική Μυθολογία, ικανή να διδάσκει και σήμερα το καλό και το ωραίο σε μικρούς και μεγάλους. Το καλό και το ωραίο και την παραμυθένια ομορφιά της Ελληνικής Μυθολογίας, θέλουμε να δώσουμε με τη σειρά αυτή των εικονογραφημένων βιβλίων που απευθύνεται σε παιδιά. Κατά πόσο το πετύχαμε, ας το κρίνουν οι αναγνώστες μας, μικροί και μεγάλοι.

34 pages, Hardcover

First published January 1, 1989

3 people are currently reading
32 people want to read

About the author

Menelaos Stephanides

44 books20 followers
Menelaos Stephanides, the author of ‘Greek Mythology’, originally studied economics in Athens but his main preoccupation was writing.

For more than twenty-five years he concentrated, with great success, on the retelling of ancient Greek myths, tirelessly studying the source materials to achieve his literary version of the many stories. Working with his brother, the artist and illustrator Yannis Stephanides, he wrote and published the 18-volume series ‘Greek Mythology’ for children, which was translated into several languages and later reissued as a pocket book for older readers. He then turned his attention to more recent Greek tradition, studying hundreds of folk tales the most appealing of which he retold in the highly successful 10-volume series ‘Folk Tales from Greece’.

Menelaos Stephanides’ name is now familiar in many parts of the world, thanks to the translation of both his mythology and the folk tales into several foreign languages. In 1989 his book ‘Jason and the Argonauts’ was awarded two Pier Paolo Vergerio honourable distinctions by the University of Padua, while in 1998 his entire published work was recommended by the Hellenic Ministry of Education for inclusion in school libraries, having already long been recognised as a source of reference for publishers, the reading public and educationalists.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
12 (37%)
4 stars
12 (37%)
3 stars
7 (21%)
2 stars
0 (0%)
1 star
1 (3%)
Displaying 1 - 4 of 4 reviews
Profile Image for Puspa.
168 reviews2 followers
August 10, 2020
Hera dalam serial televisi Hercules jaman dulu, digambarkan sebagai dewi yang kejam dan ambisius. Tapi siapa sebenarnya Hera dan bagaimana ia berkenalan dengan pimpinan Dewa, yaitu Zeus?

Hera adalah putri Rea dan Kronos. Kronos membenci putrinya karena takut suatu ketika putrinya akan merebut tahtanya. Rea pun menyembunyikan putrinya ke negeri Hesperida dimana ketiga saudarinya, Dewi-Dewi Waktu akan menjaganya.Hera tumbuh menjadi Dewi yang cantik dan ia sering ditemani oleh burung merak.

Suatu ketika ia mencoba mempraktikan kemampuannya. Zeus terkagum-kagum. Ia pun kemudian bersanding bersama Zeus melawan Kronos dan para titan.

Dewi Hera dihormati akan kekuatannya dan kesetiaannya pada Zeus. Ia Dewi pelindung perempuan yang menekankan pentingnya kesetiaan. Akan tetapi sifat cemburunya terkadang membuat mata dan hatinya gelap.

Selain Hera dalam buku ini dikisahkan peran Dewi Ivi, putri Zeus dan Hera, juga derita Io, gadis cantik yang sangat dicemburui Hera. Ada juga cerita Afrodite, dewi Siprus yang sangat cantik. Ia dewi yang mengurusi pernikahan dan kasih sayang. Lantas apa yang akan dilakukan Afrodite jika ada yang melanggar ketentuannya? Apakah ia sekeras Hera?

Buku dongeng ini memiliki kisah-kisah yang kaya pesan moral. Ceritanya mudah disimak karena bahasanya lugas. Ilustrasinya membuat buku ini asyik dinikmati siapa saja.

Ulasan juga tayang di: http://www.keblingerbuku.com/2017/07/...
Profile Image for Ready.
Author 58 books19 followers
April 11, 2015
Kisah Kuno dalam Warna Modern

Kisah-kisah dewa-dewa Yunani sudah menjadi bagian dari kebudayaan dunia. Kisah dewa, manusia setengah dewa, dan para pahlawan, dalam literatur Yunani, sudah menjadi bagian tak terpisahkan dalam khazanah cerita dunia. Kisah penguasa semesta Zeus yang membawa petir di tangannya, kecantikan Afrodite sang dewi cinta, keganasan Ares sang dewa perang, kebijaksanaan Atena, atau permainan musik Apollo, bukan lagi sekadar jadi kekayaan literatur dunia.
Banyak nama dari mitologi Yunani yang lantas terkenal dalam bidang-bidang lainnya, misalnya psikologi. Jika kita menyebut Oedipus Complex untuk perasaan dan pengaruh ibu yang terlalu kuat, nama tersebut berasal dari tokoh Oedipus yang mencintai ibunya. Atau jika kita menyebut kata Narsisisme untuk istilah kecintaan diri yang berlebihan, maka nama itu berasal dari tokoh Narkisus yang tampan yang jatuh cinta pada dirinya sendiri.
Maka penerbitan Seri Mitologi Yunani (18 jilid, penutur ulang Menelaos Stephanides, ilustrator Yannis Stephanides, Pustaka Utama Grafiti, Jakarta, 1991-1993), untuk pembaca remaja, sejak buku pertama Pertempuran Para Titan sampai buku ke-17, Odise, patutlah disambut sebagai sebuah usaha untuk memperkenalkan mitologi Yunani ini sebagai suatu kesatuan yang utuh. Artinya, jika selama ini para remaja mengenal tokoh-tokoh mitologi Yunani secara sepintas kilas, dengan membaca keseluruhan seri ini akan makin jelas sosok tokoh-tokoh, karakter, dan perlambangan sifat-sifat mereka itu.
Dewa yang Manusiawi
Seri ini memperlihatkan urutan penceritaan yang runtut, dengan pembabakan cerita berdasarkan Kisah Dewa Olimpus (Seri A), Dewa dan Manusia (Seri B), dan Para Pahlawan (Seri C). Pada bagian pertama yang terdiri dari enam judul buku, pembaca akan diperkenalkan dengan dua belas dewa Yunani yang paling besar dan paling dihormati. Keduabelas dewa tersebut adalah Zeus (penguasa langit), Hera (istri Zeus), Afrodite (dewi keindahan dan cinta), Apollo (dewa terang dan seni musik), Hermes (dewa perdagangan), Demeter (dewi pertanian), Artemis (dewi malam bulan purnama, hutan, dan perburuan), Hefestus (dewa api dan kerajinan tangan), Ares (dewa perang), Atena (dewi kebijaksanaan, seni, dan perang yang adil), Poseidon (dewa laut), dan Hestia (dewi rumah tangga dan perapian abadi).
Bagian awal seri ini menceritakan tentang ke-12 dewa Yunani dan mitos-mitos yang berkaitan dengan mereka. Atena misalnya, dewi kebijaksanaan yang namanya dipakai sebagai nama ibukota Yunani, dikisahkan lahir dari kepala sang penguasa, Zeus (buku ke-6: Palas Atena). Mitos-mitos kelahiran dan kejadian para dewa ini, sebagaimana layaknya mitos memberikan porsi yang besar pada imajinasi pembuatnya. Tetapi pengarang buku ini memberikan catatan-catatan yang menghubungkan mitos-mitos tersebut dengan pemikiran masa kini. Bahwa Atena dilahirkan dari kepala Zeus, secara logika adalah suatu kemustahilan. Tetapi jika dilihat sebagai simbol, maka kelahiran melalui kepala ini melambangkan kebijaksanaan dan keadilan sang dewi.
Karakter dewa-dewa Yunani, yang konon tingkatnya lebih tinggi dari manusia ini, penuh dengan kontradiksi. Janganlah berharap dewa-dewa ini murni sebagai tokoh-tokoh yang baik dan dipuja-puja. Bahkan Zeus pun tak luput dari perbuatan yang tidak adil, seperti ketika ia menghukum Prometeus, dewa sahabat manusia, dengan hukuman rantai (buku ke-8: Prometeus). Atau juga karakter jahat Hera yang membuang anaknya Hefestus; karakter Ares yang selalu menginginkan perselisihan, perpecahan, dan perang; atau kisah penyelewengan Ares dan dewi cinta Afrodite (buku ke-5: Singgasana Emas)
Penggambaran dewa-dewa dengan sifat manusia ini cukup menarik sebagai perlambangan atas kehidupan manusia masa kini. Orang-orang Yunani kuno, dengan kemampuan imajinasi mereka yang tinggi, rasa keindahan yang didukung kondisi alam mereka yang permai, telah melahirkan kisah-kisah besar yang menarik dari zaman ke zaman, paling tidak sebagai bahan bacaan tentang perlambangan karakter manusia.
Keberanian Berpikir
Salah satu hasil pemikiran dan filsafat Yunani yang ada di belakang mitos-mitos ini adalah keberanian berpikir. Dewa-dewa Yunani yang berkuasa atas manusia itu, pada akhirnya juga digugat oleh manusia sendiri. Ketika Prometeus, figur titan (dewa Yunani yang berbadan besar dan berkekuatan hebat) penolong umat manusia dihukum rantai di pegunungan Kaukasus, para sahabatnya meratapinya.
“Aku ajarkan kepada manusia seni dan pengetahuan. Aku ajari mereka membaca dan menulis. Aku ajari mereka membangun rumah, dan aku berikan kepada mereka kehangatan hati,” ujar Prometeus.
“Tapi mengapa kau dihukum untuk semua kebaikan itu?” kata para Okeanida, dewi-dewi air putri Okeanus.
“Kaulihat bagaimana hukumanku untuk semua itu. Tapi dengarkan kata-kataku. Seandainya aku melakukan kejahatan, mungkin aku tak akan dihukum sama sekali. Ketidakadilan menimbulkan hukuman yang paling berat untuk mereka yang berjuang menentangnya,” kata Prometeus (h. 8 buku ke-8: Prometeus).
Dialog Prometeus dan para Okeanida ini memperlihatkan kecaman terhadap ketidakadilan hukuman Zeus, sang penguasa dewa dan manusia. Bahkan para Okeanida itu bernyanyi dalam lingkaran suci teater: “Kami telah belajar membenci para pengkhianat!” Dan salah satu pengkhianat itu adalah Zeus! Hal ini memperlihatkan betapa radikalnya pemikiran dan filsafat Yunani yang tersembul dalam mitos-mitos Yunani ini.
Tentulah pesan-pesan semacam ini belum sepenuhnya dapat dimengerti oleh pembaca remaja, sebagai
Profile Image for Truly.
2,771 reviews13 followers
February 20, 2021
Kisah yang menarik.
Meski saya agak terganggu dengan coretan yamg dilakukan oleh pemilik buku terdahulu. Beberapa coretn menutupi bagian tulisan.
Namun tetap layak dikoleksi.
Displaying 1 - 4 of 4 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.