Suatu wabah misterius melanda seisi dunia, termasuk di Indonesia. Wabah ini diduga dibawa oleh nyamuk-nyamuk mutan berukuran besar. Orang-orang yang sakit jatuh bergelimpangan di banyak tempat hingga pemerintah menetapkan Status Darurat Negara.
Lalu satu keanehan pun terjadi, mereka yang terkapar kini malah bangkit, menjelma menjadi makhluk ganas. Mereka memangsa manusia. Beberapa dari mereka yang masih bertahan hidup, bertaruh nyawa mengawal seorang profesor yang tahu cara membuat antivirus.
Misi penyelamatan membuat mereka berpencar dan mendapati kalau Istana Merdeka dan Keraton Yogyakarta kini tak lagi sama seperti dulu. Apa pun yang terjadi, mereka berharap bisa berkumpul di Monas, tempat mereka berusaha membangun kembali peradaban.
saya tahu tidaklah gampang mengarang sebuah buku, apalagi ini novel 300+ halaman, bakalan butuh effort luar biasa. untuk itu saya harus hormat pada kemampuannya.
mengingat kisah tentang zombie untuk kalangan pembaca yang dibidik kemungkinan adalah pikiran yang telah lebih tereksposure dengan kisah-kisah mayat hidup luar negeri ala Romero atau yang sedang hip sekarang, serial "The Walking Dead" dari AMC.
namun sejak awal membaca dan sampai sepertiga buku, ada banyak hal yang mengganggu pikiran karena sepertinya agak sulit dipercaya, misalnya:
1. logistik untuk survival. hidup terisolasi selama 6 bulan dengan diet soda dan biskuit, seharusnya orang itu sudah tak punya gigi dan perut buncit juga gangguan pencernaan berat. lalu air bersih. kemudian sehemat mungkin hidup bila ada kegiatan masak nasi, tak mungkin bisa hanya 1 liter per hari per orang.
2. postur tubuh dan kemampuan fisik. yang namanya kurang gizi, ada bakal banyak aksi dalam buku yang lebih sering berujung pada kegagalan. kecuali mereka semua punya cadangan adrenalin yang awet. lalu tokoh yang berbadan buncit, padahal kondisi logistik sangat terbatas (lihat poin 1). diet makanan pas-pasan selama setidaknya 3-4 bulan, seharusnya mereka semua sudah kehilangan banyak lemak. kecuali...
3. kondisi psikologis. sampai halaman 190-an, tak diceritakan ada yang menjadi gila padahal mengalami isolasi total dari manusia lain selama 24/7 dikali 6 bulan. si pegawai stasiun tv. si tenaga administrasi dealer penjual Toyota. atau kecurigaan teknisi listrik yang tinggal berdua dengan dua wanita cantik, bahwa gerombolan pria lainnya yang datang ini hendak merebut "hak milik"-nya. hanya ada para mahluk terinfeksi atau gerombolan anak punk sebagai lawan.
Pertama-tama, saya beri aplaus dulu untuk pengarangnya yang mampu menyelesaikan novel bertema survival/invasi zombi dengan latar di Indonesia. Sangat sedikit (atau malah tidak ada?) novel lokal bertema demikian yang bisa dijadikan referensi, jadi dari fakta itu saja sudah jadi nilai plus.
Saya pun sangat suka sekitar 50-an halaman pertamanya, saat konflik dimulai dengan merebaknya wabah akibat gigitan 'nyamuk super'. Suasana ngeri dan eskalasi konfliknya efektif, begitu pun perpindahan tempat dan sudut pandangnya. Detail lokasi & profesi para tokohnya begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari saya (baik itu kasir supermarket, petugas gerbang tol, fotografer, satpam kantoran, dll.), sehingga dunianya terasa autentik dan meyakinkan.
Lalu, semuanya berubah saat negara zombi menyerang.
Intinya begini, ada dua pendekatan berbeda yang bisa diambil oleh novel survival bagus:
(1) Tempo dan pergerakan alurnya cepat, dengan jumlah karakter sentral yang sedikit/terfokus. Misalnya seperti The Girl with All the Gifts-nya M.R. Carey, yang hanya punya empat karakter.
(2) Skalanya besar dan karakternya banyak, dengan tempo diperlambat dan masing-masing karakter dipoles sedetail mungkin. Contohnya The Stand-nya Stephen King.
Di sini, penulisnya tidak mengambil keduanya. Skalanya luas (tokoh-tokohnya merambah ke mana-mana di seantero negeri, bahkan sampai Singapura segala) dan karakternya bejibun, tapi temponya cepat dan tidak banyak memberi ruang untuk eksplorasi karakter. Alhasil, saya amat setuju dengan yang dikatakan ulasan ini: saat harusnya ceritanya makin seru, saya malah makin lama makin kurang peduli terhadap bagaimana akhir cerita dan nasib para tokoh-tokohnya. Terlalu repetitif dengan pola 'pergi dari ke tempat A ke tempat B untuk mengambil barang X, lalu tembak-tembakan versus zombi dan ketemu teman baru'.
Saya agak curiga penulisnya lebih banyak mengambil referensi film ketimbang buku, karena penuturannya memang lebih terasa seperti 'naskah film yang seru' daripada 'novel yang seru'. Adegan laganya banyak, dan porsi untuk menjelaskan pergerakan fisik suatu karakter lebih besar daripada novel pada umumnya. Tidak apa-apa sih, mungkin itu malah jadi nilai plus tersendiri... tapi keunggulan media buku jadi kurang dimanfaatkan, yaitu kemampuan menjelajahi ruang batin tokoh-tokohnya dan menampilkan detail psikologis yang tidak bisa diperlihatkan di film.
Satu lagi nilai minus ada di segi bahasanya. Sebenarnya, tata bahasa penulisnya bagus dan gaya penuturan narasi maupun dialognya oke, tapi ada banyak sekali kesalahan akibat kurang teliti. Yang paling mencolok selain saltik adalah nama-nama karakter yang sering tertukar. Maklum, karakternya terlalu banyak dan ada pula yang namanya mirip-mirip; jangankan pembaca, penulisnya sendiri keder, hahaha....
Kesalahan-kesalahan semacam itu sebenarnya amat bisa dihindari, baik dari segi lebih teliti lagi ngeditnya atau dari awal lebih 'pintar' memilih nama (jangan ngasih nama Aldi, Adit, dan Alit sekaligus dalam satu cerita!). Dari sini, memang kelihatan pentingnya peranan editor eksternal yang bukan penulisnya sendiri (yang mungkin sudah malas/bosan baca naskahnya sendiri). Kalau belum punya editor, minimal cari teman super rewel yang mau baca dan komentar soal hal-hal yang menurutmu sepele tapi sebenarnya penting, deh.
Begitulah, rasanya masih banyak lagi nilai plus (penggambaran detail teknis/prosedur logistik yang bagus) maupun minus (tokoh-tokoh perempuan masih diobjektifikasi dan perannya terkesan sebatas 'nungguin cowok mana yang mau reproduksi sama dia') di novel ini. Namun secara keseluruhan, masih layak dibaca dan dijadikan pelajaran/referensi untuk mereka yang berangan-angan mau menulis novel di genre ini. Saya juga agak penasaran dengan novel sekuelnya, yang harusnya akan lebih banyak konten konflik sosial atau kemasyarakatannya.
Dari semua hal, yang paling penting dari genre ini menurut saya adalah konflik antarmanusianya. Sesekali percikan itu muncul di Zombie Aedes, tapi tidak benar-benar tergali dalam. Padahal, bencana alam atau faktor eksternal seperti apa pun... ujungnya, yang paling menarik adalah kelakuan para manusianya.
Selalu, dan selalu, kelakuan para manusianya yang paling menakutkan.
Baik, jadi hal pertama yang saya suka dan yang paling saya suka sepanjang cerita adalah bagian awalnya, ketika penulis menggambarkan adegan-adegan zombie outbreak di berbagai tempat di Indonesia. Selain ketegangannya terbangun, agaknya sang penulis juga melakukan risetnya dengan baik mulai dari seting realistis, prosedur rapat di gedung istana, sampai prosedur penayangan acara di Metro TV. Bahkan ke depannya denah kapal pesiar hingga cara pemasangan panel tenaga surya dijelaskan dengan baik.
Sayangnya hal positif di awal hanya berhasil memancing ketertarikan saya di permulaan saja. Setelah adegan-adegan zombie outbreak berakhir, cerita bergulir ke beberapa bulan kemudian, yang menyorot beberapa karakter survivor. Awalnya hanya beberapa, namun lama-kelamaan menjadi banyak seperti party game RPG. Dan di situlah masalah dimulai. Teralu banyak nama, namun begitu sedikit ciri khas yang membedakan antar tokoh. Sampai-sampai pada titik tertentu saya tak peduli lagi dengan dia siapa, seperti apa orangnya, atau apa tugasnya. Semua terlihat sama, jadi yang penting baca saja terus.
Masalah lain yang terjadi adalah ketika penulis kerap menyebut nama tiap orang untuk mendeskripsikan kegiatan yang mereka lakukan satu persatu. Misal, “A dan B pergi ke lorong sementara C, D, dan E menunggu di luar. Jujur saja lama-kelamaan saya menjadi lelah memperhatikan kegiatan orang-orang yang bahkan sulit saya bedakan karakternya.
Kemudian, over deskripsi terjadi di mana-mana, menceritakan sesuatu dengan pola berulang-ulang. “Kelompok X memasuki suatu gedung, kelompok X disergap zombie, kelompok X menghabisi zombie”, hal seperti inilah yang terus ditawarkan selama ratusan halaman tanpa adanya drama yang cukup menarik. Sekalinya ada konflik dengan sesama manusia, tak lebih dari dua kali kemunculan anak punk yang selalu digambarkan brutal dan pada akhirnya mereka dihajar oleh kedatangan pihak ketiga yang bersenjata lengkap. Ah, tapi sebenarnya ada satu konflik batin yang cukup menarik terkait dendam, yang sayangnya hal itu malah tidak dieksplore lebih dalam dan dibiarkan berlalu begitu saja. Sampai akhir pun tak ada twist atau sesuatu apa yang bisa menggugah.
Lalu satu hal yang mengganjal adalah, entah bagaimana caranya orang-orang sipil di cerita ini lihai menembakkan berbagai tipe senjata api, handal mengayunkan katana, mahir menahkodai kapal laut, sampai ahli mengendalikan tank baja lengkap dengan meriamnya... Kemampuannya pun bermacam-macam dan anehnya pas sekali untuk misi penyelamatan yang tengah mereka emban. Tapi yah untuk yang satu ini mungkin mau tidak mau memang diperlukan sebagai plot device ya...
Terakhir... saya bingung dengan maksud kemunculan para penunggang kuda bersorban putih di akhir, yang tengah melakukan hijrah ke Daulah. Mereka bahkan membawa pandangan baru mengenai zombie apocalypse ini namun tak pernah dijelaskan secara lebih dalam. Yang saya permasalahkan sih bukan karena kemunculannya dalam cerita – yang justru bisa jadi menarik kalau mereka hadir di tengah-tengah sebagai bagian dari plot utama. Yang saya permasalahkan adalah kehadirannya kenapa cuma di beberapa halaman sebelum tamat yang terasa sangat Out Of The Blue. Seperti numpang nongol untuk me-mindfuck pembaca namun sesungguhnya tak ada hikmah yang tersampaikan.
Yap, jadi begitulah. Sebagai pecinta genre zombie apocalypse saya cukup kecewa meski di satu sisi juga senang membaca novel lokal yang mengangkat tema ini. Kalau boleh memberi pesan dan kesan terakhir, saya harap Satria Satire terus berkarya membuat cerita zombie yang lebih mantap lagi. ^^
Seru dan lumayan menghibur~ (^,,^) Cara penceritaannya yang beda-2 sudut pandang juga bikin bacanya gak bosen~
Tapi beberapa hal lumayan 'ngilik-ngilik' juga (^..^) kayak : hari pengumuman yang beda-beda hari, nama orang yang ke-bolak-balik, empat orang naik mobil tau-tau jadi lima, dan sampe sekarang aku gak tau si menkes itu pake rok atau setelan jas + celana panjang~ *taruh meja* ┬─┬ノ( º _ ºノ) Gak sampe kepingin ngebalik meja, karena pas baca juga ta' anggep lucu aja...tapi secara keseluruhan mengurangi 'nilai' buku ini (^^;)>
yaaassss...gak nyangka yaaah ad buku lokal tentang zombie sbagus ini,bnyak buku yg bertemakan zombie d luar sana yg mnrut aku bisa bersaing dgn Zombie Aedes..sebenarnya tidak bs langsung d bilang buku ini tntng zombie,kita harus baca dulu baru tw yg sebenarnya..scara garis besarnya cerita nya tntng suatu wabah,yg d sebabkan oleh obat nyamuk bersenyawa berbahaya yg sharusnya mmbunuh para nyamuk tetapi justru mmbuat nyamuk nya bertumbuh pesat mnjadi nyamuk raksasa....yg mnyengat manusia kmudian mngubah manusia yg tersengat memiliki naluri sprti nyamuk...ooooh Tuhan idenya awesome bngeeeeeet ♥♥♥ :D
saya juga suka klu baca buku tuh,karakter yg terlibat d dlam cerita ad bnyak...awalnya mmg agak susah mengingat nama nama mereka,namun krn bnyaknya karakter mmbuat ceritanya smakin berkembang...tetapi si author sprtinya smpat salah meletakkan karakter yg terlibat d cerita ini pdhal seharusnya dia berada d cerita yg lain,sempat mmbuat saya kebingungan...tp gak apa apa you still awesome Satria Satire :D karakter favorit saya sbnrnya Satria,tp krn smakin k sini kyaknya yg lbih bnyak dpat peran tuh siih bagas dan efan...jd aku pilih mereka berdua,sayang nyaa karakter cwek gak mnonjol d sini,sharusnya ada kan...saya smpat berharap devi smpat mlakukan sesuatu yg mencengangkan tp trnyata dia d pojokan truuuus nemenin si sylvia...hehehe ohiaaa ad sweta,saya ckup takjub sm si bule ini krn kemampuan nya mengolah bahasa indonesia yg sangat cepat,biasanya bule tuuh butuh waktu setahun kan yaaah???ttapi sweta cman butuh 4 hari (mungkin)...ajaaaaaiib :D
sempat kaget pas tw ad karakter yg mncul d awal awal,trus d tngah cerita mereka gak d bhas lagi...kmudian d akhir cerita mreka kmbali mncul dlam keadaan selamat..itu smpat mmbuat saya sprti "waaaaah...mereka slamat rupanya,hebaaaat" hehehe kmudian ad lagi si wahyu dgn klompok bersorban nya,kmudian mngungkit masalah zionisme dan sgala macam nya...smpat bngung siih kok smpe k situ yaaah???cman saya mnganggap nya sbagai selingan sj...
saya ckup terhibur dgn buku ini so i give it 4★ :)))
Yah... sebenarnya buku ini dipinjamkan ke saya secara khusus oleh seorang teman berinisial OS, dikarenakan pekerjaan saya berhubungan dengan medis. "Hoi, jangan menyamakan kenyataan sama khayalan dong. Ini kan fiksi, wajar kalau nggak sama dengan kenyataan." Yap, benar. Tapi saya (dengan rendah hati) menyatakan diri saya saat membaca novel ini bukan sebagai seorang tenaga medis, saya pun seorang penggemar dan calon penulis fiksi fantasi (ameeennn). Pengetahuan medis saya hanya sebagai latar belakang yang membantu saya memahami logika fantasi yang dijabarkan oleh penulis. Selebihnya saya seorang pembaca yang mengharapkan sebuah bacaan yang baik, yang tidak menyia-nyiakan waktu saya.
Sayangnya, saya tidak mendapatkan hal menyenangkan tersebut. Tadinya saya berniat menghabiskan buku ini, seberapapun babak belurnya saya sepanjang perjalanan saya. Makanya saya membaca novel ini berbarengan dengan novel keren bernama Unwind, sebagai detoksifikasi racun. Tapi sayang, obat detoks itu keburu saya habiskan saking nikmatnya.
Akibatnya, seberapapun saya menahan diri, ternyata saya tidak sanggup. Kalau anda ingin tahu mengapa, silahkan baca progress reading saya. Kalau mau tahu pendapat keseluruhan saya mengenai novel ini, baiklah. Ini dia.
Overall: Tidak menarik. Alasan: banyak logika bolong, riset kurang jadi bikin logika seenaknya sendiri; karakter bukan cuma datar bahkan lebih parah daripada datar; setting nggak jelas.
Satu-satunya yang menarik dari novel ini adalah idenya. Sayangnya, tidak dieksekusi dengan baik. Pesan saya: Yeah, ada alasan mengapa anda semua kudu bersyukur penyakit bahaya seperti ebola atau AIDS tidak menular melalui nyamuk. Let us all praise The God.
PS: untunglah OS bisa mengerti penderitaan saya. *bearhug*
Kaget juga sebenarnya ngeliat ada novel Indonesia yang mengangkat tema zombie seperti ini, tapi yang terkesan lokal dan sangat khas Indonesia. Saya nggak nyangka kalau novel zombie yang satu ini sangat kental Indonesia-nya. Mulai dari nama tokoh, tempat, dan lain-lain, semuanya benar-benar lokal. Ini jelas unik, karena biasanya penulis lokal jauh lebih suka mengambil latar luar negeri (termasuk saya sih sebenarnya :v)
Tadinya, saya sempat mikir, "gila. Cuman gara-gara obat nyamuk doang bisa bikin zombie? Such an freakin awesome idea!"
Ide ceritanya sangat unik, yakni obat nyamuk impor bernama Retron yang mengandung bahan yang mampu memutasi nyamuk. Yep, ide ceritanya bagus, konfliknya menarik dan menegangkan, dan tokoh-tokohnya bikin jatuh cinta. Saya suka dengan perjuangan mereka mengawal Prof. Emil yang penuh tantangan. Wow.
Penokohannya cukup bagus. Dan bagian-bagian pengenalan tokoh juga membuat saya fell in love. Pembawaan dan karakter mereka sangat bagus, dan saya rasa pembaca bakal menyukai tokoh-tokoh yang disajikan penulis di novel ini. Jujur, saya paling jatuh cinta dengan Helmy dan Rudi, karena menurut saya mereka berdua cukup heroik dan membuat saya fangirlingan terus-terusan entah kenapa. Saya selalu suka dengan pembawaan Helmy yang tenang dan sabar, juga Rudi yang aksinya keren-keren. Kecintaan Rudi terhadap Beng-Beng juga menjadi keunikan tersendiri yang membuat saya suka dan saya malah menjulukinya Beng-Beng Boy :v lepas dari itu semua, pembawaan karakter sangat bagus.
Namun, sepertinya tokoh-tokoh perempuan yang disajikan di sini agak kurang menonjol dan terkesan cuman sebagai "tempelan". Terutama untuk karakter Silvy yang saya berikan rate rendah karena saya anggap dia lemah dan hanya bisa berlindung. Saya tahu kalau seharusnya perempuan patut dilindungi (saya juga cewek kok), tapi tidak melulu harus demikian. Berhubung latarnya adalah zombie apocalypse yang mana setiap tokoh dituntut untuk bertahan hidup dari zombie, seharusnya para perempuan di sini (terutama Silvy) juga ditekankan untuk bisa bertarung walau sedikit. Itulah kekurangan novel ini menurut saya. Ada penokohan yang agak sumbang, yakni tokoh-tokoh perempuan yang kurang menonjol dan kurang aktif, sehingga terkesan seperti figuran, atau bahkan "tempelan" semata untuk sekadar menghiasi cerita.
Kalau figuran saja masih bisa aktif, kenapa tokoh perempuan di sini tidak bisa? Itu yang jadi pertanyaan saya.
Lepas dari itu semua, novel ini bagus dan cocok dibaca oleh pecinta cerita zombie. Yap, tentunya mengingatkan saya dengan Resident Evil, tapi dikemas dalam versi lokal yang menarik dan unik, serta konsep cerita yang out of the box. Masa cuman gara-gara obat nyamuk doang bisa jadi begini? Yep, ide ceritanya sungguh keren.
Pada awalnya aku semangat karena nemu novel yang bagiku temanya jarang ditulis sama penulis lokal, zombie. Ditambah lagi waktu mulai baca novel ini tu jadi keingat novel Blindness dari Jose Saramago, karena sama-sama terjadi wabah yang terjadi secara tiba-tiba dan menyeluruh. Sayangnya rasa semangat itu padam dengan cepat.
Novel ini bagiku melelahkan. Baru mulai baca aja langsung masuk ke situasi ketika manusia mulai jadi zombie dan menggigiti manusia lain. Memang ada bagian flashbacknya sedikit, tapi bagiku itu gk cukup buat dijadikan sebagai pemanasan untuk mulai masuk ke 'medan perang'.
Dari awal cerita juga sudah disuguhkan tokoh-tokoh yg begitu banyak, yg dari beragam latar belakang, yg pada satu waktu pada akhirnya mereka bertemu dan jadi satu tim untuk menemukan obat dan memulai kehidupan normal kembali. Tapi tokohnya banyak banget. Gila. Ini kalau gk fokus bacanya kemungkinan bisa tiba-tiba lupa ini tokoh siapa dan asalnya dari mana. Apalagi ada pengurangan dan penambahan tokoh di sepanjang cerita.
Ada juga hal yg bagiku kurang masuk akal dan membuat novel ini lama banget berakhirnya. Untuk menemukan obat yg tepat dan memproduksinya dibutuhkan beberapa hal yg bisa didapat dari beberapa tempat yg berbeda, Singapura, Bandung, dan Bali. Bandung masih bisa ditempuh, karena gk terlalu jauh. Tapi untuk Bali, apalagi Singapura, dalam keadaan kacau balau dan banyak zombie berkeliaran rasanya hampir mustahil untuk digapai, apalagi setelah itu harus kembali lagi ke Monas untuk berkumpul. Atau mungkin cuma aku aja yg berpikiran seperti ini?
Pada intinya aku capek baca ini. Meskipun tulisannya dibilang jelek tu enggak lah ya. Hanya saja ceritanya yg bagiku 'terlalu lama'.
Novel zombie Aedes, terbagi menjadi 2 babak. Babak pertama, menurutku tidak terlalu menggugah selera membacaku karena di babak ini menceritakan banyak karakter ditempat yang berbeda-beda. Inti penulis ingin menunjukkan kericuhan di segala penjuru Indonesia lewat karakter-karakter tersebut dan bagaimana karakter tersebut bisa survive dari wabah tersebut.
Babak kedua, mulai menunjukkan misi yang menegangkan tentunya. Para karakter mulai dipertemukan pada satu titik hingga harus berpencar untuk mendapatkan peralatan pendukung lainnya guna membantu satu professor yang bisa membuat antivirus Aedes tersebut.
Alur mulai berjalan dengan santai namun padat. Di sini, penulis mayoritas menggunakan narasi untuk menjelaskan keadaan sekitar. Sangat sedikit dalam penggunaan dialog, beberapa dialog muncul ketika professor sedang menjelaskan mengenai virus tersebut atau ketika para karakter sedang menyusun strategi penyerangan zombie-zombie tersebut. Alur waktunya menggunakan alur maju mundur, terbagi dalam tiga waktu. Ketika wabah menyerang, enam bulan sebelum wabah menyerang dan enam bulang setelah wabah menyerang.
Meskipun para karakter tidak terlalu mendalami, tapi aku suka dengan alur cerita bagaimana mereka survive bahkan bekerjasama. Tidak hanya itu, mereka harus merelakan salah satu dari mereka kalau ada yang tergigit dengan berat hati.
Novel ini, mengingatkanku dengan beberapa game bertemakan zombie seperti Resident Evil, Last of Us dan Walking Death. Dan novel ini mengenai kebersamaannya mirip dengan Walking Death, dimana para karakter ada yang datang dan pergi meninggalkan gerombolan untuk bertahan hidup ataupun hal lainnya.
Nggak nyangka aku bakal setegang ini baca novel zombie dengan “rasa” Indonesia yang khas. Aku memang pecinta film zombie, bahkan beberapa film zombie kacangan pun nggak luput dari tontonan wajib aku. Aku juga tidak melewatkan series Walking Dead hingga season 5, season 6 enggak nonton karena masa berlangganan HBO-nya habis hehe. Komiknya juga nggak ketinggalan aku baca. Jadi pas baca novel ini, aku rasanya menemukan bahwa ini cerita Zombie yang masuk dalam favorit aku.
Plot-nya nggak jauh beda dengan beberapa film Zombie pada umumnya. Tapi aku mengambil kesan paling dekat, plot-nya lebih mirip ke Walking Dead. Terus misi penyelamatannya agak mirip Resident Evil.
Gregetnya kerasa, sepanjang buku ini aku diajak untuk menyelam ke sebuah wabah. Bersama para oranh-orangnya yang hangat dan pantang menyerah. Penulisnya merangkai kata-kata dengan detail sehingga aku bisa ikut membayangkan bagaimana. Di buku ini, banyak sekali kejadian tidak terduga yang bahkan membuat saya tidak percaya.
Untuk saya, ini sangat worth to read buat seseorang yang bosan dan ingin mencari sensasi, meski tidak terkenal but worth a try.
Lupa update padahal udah tamat sebulan yg lalu. Lumayan lah zombie versi indo. Cukup menegangkan. Sayang tokoh nya terlalu byk jd gak inget nama dan peran nya.
Memang pada dasarnya saya suka Zombie begitu liat buku ini di Gramedia langsung beli. Dikira buku luar ternyata buku indo. Langsung baca sampe habis!!! Awesome!
Rasa penasaran akan apa sebenarnya konflik yang terjadi di dalam cerita di buku ini mulai muncul setelah membaca beberapa halaman pertama. Perkelahian suami istri di gerbang tol? Tapi kenapa penuh darah? Itu bikin saya terus lanjut membaca sampai pertanyaan baru pun muncul. Kekacauan di Hypermart Puri Kembangan? Puskesmas Jurang Mangu? Studio Metro TV? Hmmm.... Setting tempatnya cukup unik. Lalu.... Gedung Depkes dihantam bus Kopaja! Waduh.... *ga berani nulis banyak-banyak supaya ga spoiler.
Secara keseluruhan, ide cerita dan teknik penulisannya bagus. Meskipun ada beberapa bagian yang kurang masuk akal, tapi menurut saya, itu tidak merusak keseluruhan cerita. Menariknya, para zombie ini dibuat punya ciri khas tertentu yang sedikit membedakan dengan zombie yang biasanya. Banyaknya tokoh juga tidak menghambat jalan cerita karena mereka punya 'tugas' masing-masing. Bagian yang paling saya suka adalah selingan humor di tengah satu kejadian yang serius, yang kadang bikin cekikikan sendiri. Covernya juga oke (ga perlu ada nuansa hitam dan gambar berdarah-darah untuk membuat kesan yang seram).
Untuk novel yang mengetengahkan cerita tentang zombie yang ber-setting di Indonesia, Zombie Aedes bisa dibilang lumayan imajinatif. Salut untuk penulisnya. :)
Akhirnya aku ngelesain buku ini setelah tertunda selama hampir 1 thn :) Sebenernya premis-nya bagus menceritakan tentang wabah zombie yg disebabkan oleh virus yg dibawa oleh nyamuk. Setting ceritanya yg di Indonesia juga menjadi point plus. Namun, tokoh yg terlalu banyak membuat pusing untuk fokus ke alur cerita.