Yap! Buku parenting ini emang beda. Mimin @tentanganak yang udah punya puluhan ribu follower, berbagi cerita dan belajar bersama dengan para orangtua lain. Santai, jenaka, dan enggak menggurui, tapi dijamin bikin jleb yang baca. Jangan heran kalau Mas Bro dan Buebu bakal manggut-manggut sambil senyum-senyum, tapi sekian detik berikutnya berkaca-kaca menahan tangis saat membacanya. So, relax. Loosen up. Parenting is supposed to be fun!
Baca buku ini wajib dibaca bagi para orangtua baru, alias yang lagi menunggu kehadiran bayi, biar jadi tahu, biar jadi ngerti tentang anak. Bukan cuma ibu, tapi ayah juga mesti baca, justru ini lebih banyak ditujukan pada ayah karena yang nulis juga seorang ayah.
Saya sudah berkali-kali menulis catatan, review, atau resensi soal twit yang dibukukan. Kali ini saya melakukannya lagi. Oops, I did it again.
Twitter bagi saya adalah sebuah old glory. Saya sudah jarang membuka Twitter sejak zaman Android mulai meraja menghapus kejayaan era Blackberry. Saya tidak sempat mengikuti twit-twit soal pengasuhan anak. Kalaupun ada, itu hanya soal pranikah. Saya lupa untuk menyiapkan episode setelah nikah.
Well, saya harus bersyukur karena ada seorang ayah yang mau berbagi. Tolong dicatat, bahwa sosok ayah ini bukan seorang ahli atau praktisi dalam pengasuhan anak. Untuk itu, adalah sebuah penghargaan baginya karena dapat memberi sedikit tetesan ilmu untuk para orang tua.
Buku ini adalah buku santai. Artinya, pembaca tidak usah harus terlalu serius. Namun, untuk informasi atau pengetahuan lebih lanjut pembaca bisa menelusurinya secara mandiri. Walaupun buku ini bersumber dari kicauan penulisnya, dalam bagian akhir buku disertakan pula referensi yang digunakan penulis.
Parenting should be fun. Buku ini mengajak pembaca untuk menikmati dan berproses sebagai orang tua yang dianugerahi sebuah amanah yang tidak terkira besarnya, yaitu anak. Tidak hanya seputar anak, penulis juga mengingatkan agar para suami juga fokus dengan para bu ebu (ibu-ibu). Ya, penulis berhasil membuat saya merasa bersalah pada istri saya.
Satu catatan lagi yaitu bahwa penulis tidak sungkan untuk mengangkat isu parents vs parents dalam bab Mertua vs Menantu. Setidaknya, ada hal-hal positif yang perlu kita amati dari sudut pandang orang tua kita. Sejalan anak yang tumbuh besar kita kadang lupa bahwa mereka pun ikut menua.
Anyway, buku ini sangat layak dibaca oleh para orang tua baru atau parents wannabe. Sebagai bahan belajar buku ini cukup variatif dan membahas isu-isu penting seputar pengasuhan anak di zaman now seperti sekarang ini. Semoga pembaca dapat menyiapkan bekal untuk menempuh perjalanan panjang tak terlupakan bersama anak-anak. Selamat menikmati.
Isinya ringan, relate banget sama kehidupan sehari hari orang tua milenial.. ya seputar mertua, seputar mengasihi, seputar memilih memilih perlengkapan bayi dan terutama seputar menyikapi anak. Simple banget bahasa.. seperti sedang scrolling lini masa twitter. Bisa dibaca dalam waktu sekali duduk atau berulang ulang sesuai kebutuhan..
Buku ringan tentang sekelumit parenting yang bisa dibaca oleh para (calon) ayah-ibu. Meskipun demikian, sebagaimana buku 'berbobot ringan' dengan pembahasan di permukaan yang ditulis dengan menyarikan beberapa sumber dan ditambah pendapat pribadi penulis, hendaknya pembaca tidak menjadikannya sebagai 'referensi utama' namun boleh menjadi pemantik awal untuk menggali informasi lebih dalam dari buku-buku yang lebih 'berbobot' dan diskusi-diskusi dengan orang berpengetahuan mumpuni.
Kenapa? Bagi saya, penyederhanaan atas suatu hal yang bersifat ilmiah (termasuk dalam hal ini adalah psikologi) dapat menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi menjadikan teks ilmiah yang rumit menjadi lebih mudah dicerna bagi awam, di sisi lain penyederhanaan yang tidak tepat akan menghasilkan kesimpulan yang tidak tepat dan ujungnya adalah kekeliruan pemahaman hingga pseudosains. Buku ini, untungnya, menyediakan media bagi pembacanya untuk menggali lebih dalam, lewat tautan QR code di tiap babnya dan daftar bacaan lanjutan di bagian akhirnya.
Mendidik anak adalah hal yang serius dan perlu ilmu untuk melakukannya. Meskipun tidak ada dalam kurikulum sekolah formal, mempelajarinya adalah kewajiban bagi para (calon) orangtua.
Bahasanya luwes dan ringan; seperti mendengarkan cerita seorang sahabat, tetapi juga didasarkan pada bukti ilmiah yang kuat. Para ayah jangan sungkan baca buku ini karena penulinya pun adalah seorang ayah.