"Rin, kamu mesti bantu aku.” “Ngapain?” “Gagalin doa Ibu.” Itulah yang Nurul ucapkan padaku kira-kira sebulan yang lalu ketika kami sedang makan di kantin sekolah. Untungnya aku sudah kenal Nurul sejak kami kelas satu dan terbiasa dengan cerita-cerita tentang dia dan ibunya--musuh bebuyutannya. Jika tidak, aku pasti sudah tersedak kuah batagor yang saat itu sedang kunikmati.
*** Ada dunia macam apa bagi manusia yang berupaya melampaui luka? Kumpulan cerpen Misi Menggagalkan Doa menghadirkan tokoh-tokoh yang berani bertaruh hidup untuk menemukan jawabannya.
Dari seorang anak yang berusaha lolos dari doa ibunya sendiri, perempuan yang mengundang hantu demi mengobati kehilangan, penjual jasa pemuas rindu yang diganggu masa lalu, sampai mereka yang mencari Tuhan di sebuah kapal luar angkasa.
Meski kebanyakan getir dan kadang absurd, 13 kisah dalam buku ini lahir dari dugaan bahwa setelah luka, barangkali ada bahagia.
Yoga........ Peluk untuk buku cerpen ini. Ada beberapa cerpen yang "aku tidak sukai" sebab menjadikan elemen queerness sebagai elemen kejut di ujung cerita, terutama cerpen Ilusi. Padahal menurutku itu bisa digali tanpa harus menaruh itu di twist ending.
Aku paling berharap bisa lebih panjang adalah soal babi di cerpen Trik Memasak Babi Panggang Pemanggil Hantu. Karena menurutku ini bagus sekali. Tapi kurang detail soal apa kaitannya dengan babi sebagai judul, sebab aku merasa di sini elemennya masih ditempel saja.
Aku masih belum ngeh dengan cerpen Belajar Berhitung. Beberapa cerpen terkesan stright-forward.
Cerpen paling membekas buatku: Tustel Barbie Second Life Generator Menuju Surga Ketiga Misi Menggagalkan Doa Tempat Paling Tinggi (ini hadeeeeeeeh!)