Apakah manusia modern lupa bahwa dirinya memiliki hak untuk hidup adil dan sejahtera?
Menyikapi pertanyaan tersebut, Fatia Maulidiyanti mengajak kita melihat bagaimana hak asasi manusia diperjuangkan melalui negosiasi dan konfrontasi sekaligus, dari berbagai macam konteks dan fenomena, secara lebih dekat melalui pengalaman pribadinya mengadvokasi HAM.
Terdorong oleh inspirasi, observasi, dan perasaan menggebu-gebu khas anak muda; mulai bergelut dengan kerja-kerja lapangan pada berbagai kasus, dari Jakarta sampai Papua, perempuan, anak-anak, kelompok marjinal lain; hingga menjumpai tantangan menyuarakan keadilan di hadapan kekuasaan pada titik sempit kehidupan advokasi hak, Aktivisme di Persimpangan Jalan menjadi medium dokumentasi sekaligus refleksi bersama.
Bahwa pendewasaan ditemukan dalam proses paling sulit yang tak pernah terbayangkan. Keberanian menemukan alternatif praktik dan makna baru dalam proses panjang dan gigih. Perjuangan bukan milik satu generasi, melainkan warisan yang diteruskan antargenerasi, melahirkan keberanian yang semula naif menjadi tak tergoyahkan.
Apakah kita ingin mengingat sekali lagi bahwa manusia pada dasarnya punya hak untuk hidup adil dan sejahtera? Mari mulai membersamai aksi yang berkeadilan bagi sesama.
Buku ini ditulis oleh Fatia, seorang aktivis HAM, yang rasanya jadi jauh lebih dikenal setelah kasus dugaan tindak pidana pencemaran nama baik terhadap Luhut Binsar Pandjaitan bersama Haris Azhar.
Ya, buku ini menyinggung kasus tersebut. Namun, lebih dari itu, buku ini membahas pentingnya aktivisme, bersuara, dan partisipasi bermakna terutama bagi orang muda. Semua disusun dalam tiga bab yang dibuka dengan pengalaman pribadi Fatia terjun ke dunia aktivisme HAM. Ada berbagai wawasan dan undangan di dalamnya, mulai dari cerita mendampingi terpidana hukuman mati, hingga peran organisasi masyarakat sipil dalam memperjuangkan perubahan. Tentu ada juga bahasan tentang bagaimana media sosial dan 'aktivisme online' mengubah lanskap pergerakan.
Menurut saya, buku ini bagus sekali dibaca oleh para orang muda yang peduli dan ingin bersuara. Bahkan di bab 2 ada kiat-kiat singkat berangkat demo, loh!
Di tengah terbatasnya buku tentang gerakan di Indonesia, apalagi dari kacamata aktivis perempuan, hadirnya buku ini bisa memberikan kesegaran. Setidaknya ada catatan bagaimana pengalaman dan pandangan aktivis perempuan di Indonesia, terutama aktivis-aktivis muda, saat ini. Tepuk tangan buat Fatia Maulidiyanti, mantan Koordinator KontraS, yang menulis buku ini.
Bob, panggilan akrab Fatia, membagi tulisannya dalam tiga bagian utama, yaitu Ketika Semuanya Bermula, Jalan Terjal Gerakan HAM, dan Menjaga Konsistensi Gerakan HAM. Tiga bagian utama itu memayungi 13 tulisan esai mulai dari perjalanan penulisnya menjadi aktivis hingga kegelisahannya terhadap situasi demokrasi dan hak asasi manusia (HAM) di Indonesia saat ini.
Karena ini tulisan kumpulan esai, maka tulisan-tulisannya relatif pendek. Ada yang bahkan sangat pendek, kiat-kiat berangkat aksi. Selain struktur, keberagaman tulisan dalam buku ini juga tercermin dari bentuk tulisannya. Ada yang sangat personal, sebagai sebuah cerita hidup penulisnya hingga jadi aktivis. Ada juga analisis mendalamnya tentang perempuan pembela HAM, tantangan perlindungan HAM di Indonesia, dan persimpangan jalan gerakan masyarakat sipil di Indonesia.
Bagian paling menarik adalah cerita dia menghadapi salah satu pejabat terkuat di negara ini, Luhut Binsar Panjaitan. Sayangnya kurang detail dan panjang saja, sih.