Di sebuah hutan kecil di Tyrol, Austria, kepala seorang lelaki ditemukan sedang dimakan anjing. Tubuhnya terpisah sejauh satu setengah kilometer. Selain itu, di sebuah rumah tak jauh dari sana, ada pemandangan yang lebih mengerikan lagi.
Yang lebih mengganggu daripada itu adalah empat suara yang berebut menyampaikan kebenaran. Sang istri, sang suami, sang sahabat, dan sang editor.
Suara mereka saling bertubrukan dari halaman ke halaman, saling menyangkal, saling menelanjangi.
Sempat skeptis di setengah awal dari cerita, tapi setengah akhirnya membuat plot menjadi beralasan. Beralasan, karena novel ini mengeksplorasi sisi psikologis masing-masing karakternya.
Kenapa tidak bintang 5? Karena menurut saya epilognya malah bikin kurang. Just... why?
Overall, ini genre Iyamisu buatan lokal yang bagus dan sangat layak untuk dinikmati.
P.S.: Ilustrasinya indah sekali, mengejawantah suasana novel yang memesona sekaligus mencekam dengan sangat akurat.
Jujur awalnya ragu karena takut kemakan review, tapi Fallen Petals ternyata solid 5 buatku. Iyamisu lokal yang nggak cuma gore dar der dor, tapi ceritanya kuat, karakternya hidup, konfliknya dalem banget. Myla recommend 🤍
Pertama kali buka buku ini, kaget. Kaget karena langsung disuguhi prolog di lembaran pertama alih-alih halaman judul. Baik penulis maupun penerbit sepertinya ingin langsung memberikan efek kejut dari awal.
Iyamisu yang satu ini berbeda dengan dua buku—Pasien dan Penebusan—yang pernah saya baca sebelumnya. Fallen Petals terasa lebih menitikberatkan kronologis (catatan tempat dan waktu yang intens) dan mengusung daya pikir (menyusun kepingan-kepingan misteri) daripada mengupas sisi gelap manusia luar dalam.
Format penulisan chapter 1 ialah jurnal yang (sepertinya) ditulis oleh Camellia saja, seorang istri dari keluarga cemara. Ia hidup bersama dengan Pilar—suaminya yang merupakan seorang penulis terkenal—dan anak semata wayangnya, Lily. Ber-setting-kan di Vienna, sebelum akhirnya pindah ke Tyrol, Austria.
Awalnya, kelihatan seperti diari pada umumnya, biasa-biasa saja, tapi semua mulai berubah ketika mulai di-reveal kondisi Camel yang mesti mengenakan prostetik di wajahnya sebab kehilangan daun telinganya. Bagian yang bikin nggak enaknya mulai dibuka dari sini. Pelan-pelan, tapi pasti. Ada apa gerangan?
Sayangnya, pembuka chapter berikut belum dapat kunikmati karena terasa di dunia antah-berantah, pun monoton. Misteri yang digulirkan nggak bisa terhubung di kepalaku—yep, aku paham ini kesengajaan—sebab prolognya terlalu singkat. Konteks yang lebih jelas melalui narasi panjang—tapi tetap dibuat samar—sebagai bab pertama akan lebih mudah membangun “simpati” pembaca sepertiku untuk bisa terus membaca demi mengeksplor goal-nya. Dengan kata lain, butuh “ground” yang solid agar dapat ketagihan sendiri membuka lapisan demi lapisan misteri. Ini penilaian subjektif, ya.
Sebagai manusia dengan daya imajinasi lemah, aku tidak gampang ter-trigger—bisa sebetulnya, tapi tergantung narasi—oleh adegan memasak sup tangan manusia, kepala digondol anjing, penggambaran adegan dewasa eksplisit, bentuk-bentuk kekerasan, pembunuhan sadis, animal abuse, dan lain-lain; semuanya lewat begitu saja selama baca. Bukan maksudnya abai ya, secara personal memang efek kejutnya lebih mudah didapatkan di visual daripada teks. Oleh karena itu, yang lebih aku titik beratkan pada akhirnya adalah alur ceritanya.
Selesai membaca, aku mencoba menelaah kejadian yang menimpa keluarga cemara secara beruntun. Mulai dari bagaimana sejarah Camel harus memasang prostetik di wajahnya hingga misteri-misteri berikutnya. Berdasarkan motif, penyebab, dan resolusi, belum ada yang terasa “Wah, gila sih ini, kok bisa kepikiran!”
Ada satu hal yang perlu saya apresiasi dari Penerbit Haru dan penulisnya: pengemasan ceritanya. Apabila dibungkus dengan format narasi biasa, hasilnya akan berbeda. Alur maju mundur cantik dengan sedikit permainan kronologis menjadikan buku ini seru buat dikupas bak puzzle yang mesti disusun kembali. Penyingkapan sudut pandang tokoh tiap bab yang bertabrakan pun menambah pengalaman membaca yang menyenangkan.
Novel iyamisu lokal yang sangat kerasa iyamisu-nya.
Gelap, twisty, dan meninggalkan perasaan tak nyaman berkepanjangan. Adegan-adegan gore-nya cukup eksplisit sih, banyak trigger warning juga. Butuh persiapan mental sebelum membaca novel ini bagi yang nggak kuat dengan tema-tema seperti
Ceritanya cukup rapi, meskipun jujur saya nggak bisa menyukai bagian-bagian awal (jurnal Camellia). Bagi saya, cara Camellia bercerita itu menyebalkan. Artifisial. Makanya, di chapter 1 itu saya rada malas-malasan bacanya, karena temponya lambat juga. Tapi memang chapter 1 tersebut adalah fondasi dari keseluruhan cerita, jadi memang harus dituliskan seperti itu.
Barulah setelah masuk chapter 2, 3, 4... keseruan bertambah. Bukunya menjadi unputdownable., seiring pace cerita yang semakin cepat. Gambaran-gambaran samar sudah terbayang di benak saya, tapi tetap saja saya ingin tahu bagaimana kebenaran sesungguhnya. Dan yah, tebakan saya ada yang benar, ada yang meleset.
Sebenarnya yang paling saya suka dari novel ini adalah ending-nya yang full circle dengan awalnya--diakhiri dengan sangat tepat dan mengena.
Anyway ilustrasi novel ini cakep-cakep sekali, dan kontrasnya berhasil banget menambah efek creepy. Nuansanya gothic gitulah, cocok dengan novelnya.
Secara umum saya sangat mengapresiasi adanya iyamisu lokal yang pengemasannya cukup rapi seperti ini.
Iyamisu versi lokal yang pertama yang saya baca. Kebanyakan Novel Iyamisu yang saya baca selalu menceritakan sisi psikologis karakter-karakter yang terlibat didalamnya. Dan menurut saya, penulis berhasil dalam hal tersebut. Ditambah lagi terdapat 4 POV yang akhirnya menjawab misteri dan peristiwa tragis yang terjadi didalam novel ini.