Jam sembilan pagi, kebaya, dan ruangan yang penuh pepat. … Ada pengantin gugup, tamu-tamu bersemangat; dan rumah tua di tengah-tengah Jakarta menjadi saksi terciptanya keluarga baru.
5 tahun sejak pertama bertemu sudah berlalu. Bulan Januari ini, ada anak yang kabur, diary yang dibongkar, rahasia yang dibagi, dan pernikahan. Sekali lagi menelusuri kota dalam ingatan, kali ini Emina mengunjungi tempat-tempat lama di tengah kemacetan, di bawah matahari, berdampingan dengan kenangan sendiri.
Satu kata untuk Jakarta Selintas Aram: 𝘩𝘦𝘢𝘳𝘵𝘸𝘢𝘳𝘮𝘪𝘯𝘨!
Aku punya ekspektasi yang cukup besar mengingat aku sangat jatuh cinta dengan buku 𝘱𝘳𝘦𝘲𝘶𝘦𝘭-nya alias Jakarta Sebelum Pagi.
Namun, Jakarta Selintas Aram memberikan pengalaman berbeda dari buku sebelumnya, meski bercerita melalui tokoh yang sama, seperti mencoba menyentuh bagian-bagian tersembunyi di dalam diri yang belum terselesaikan. Buku ini memberikan pembenaran dan jaminan kalau tidak apa-apa untuk bernafas sejenak, tidak apa-apa untuk menjadi diri sendiri, tidak apa-apa untuk memproses semua yang terjadi pelan-pelan dan semua tidak harus terjawab sekarang. Bagiku, pengalaman membaca kali ini seperti dipersilakan untuk merasakan hal-hal yang selama ini terabaikan dan menjadi manusia seutuhnya.
Setiap tokoh diberikan kesempatan untuk berbicara dan mendengarkan. Mereka juga saling memberikan arti bagi satu sama lain. Rasanya, tiap tokoh memang tercipta untuk satu sama lain, sebagai anak-orang tua, sahabat, rekan kerja, cucu-kakek, cucu-nenek, orang asing menjelma keluarga, dsb. Banyak sekali ungkapan tokoh yang jujur, menenangkan sekaligus mampu memvalidasi perasaan siapa saja yang selama ini tidak diberikan ruang untuk merasa. Aku cinta banget sama Rumah Panti Jompo dan seisinya!
Karakter tokoh di buku ini mengalami pengembangan karakter yang baik. Mereka berpikir, berefleksi, tidak lagi menghindar dan membiarkan diri mereka masing-masing mengakui kesalahan sembari saling "memeluk" dan menguatkan bagi satu sama lain.
Anehnya, meski diawali dengan perpisahan, isi dari buku ini justru kehangatan dan kebersamaan. Bagaimana setiap tokoh dengan masing-masing karakter uniknya bukan saling bersebrangan tapi justru melengkapi satu sama lain bahkan mampu mengingatkan satu sama lain untuk bisa menerima dan menyayangi diri sendiri.
Alur cerita terbilang bergerak cukup lambat, tapi mahfum, karena memang seharusnya begitu, Emina sebagai tokoh utama di buku ini sedang beristirahat dan me-redefinisikan banyak hal di dalam hidupnya. Ia mencoba mengenali luka-lukanya bersama orang tersayang, pelan-pelan. Jadi, 𝘵𝘢𝘬𝘦𝘴 𝘵𝘪𝘮𝘦, dan gak apa-apa karena gak membuat bosan.
Humor Emina di buku ini sungguh lucu, jujur lebih lucu dari buku sebelumnya, haha. Namun, ucapannya yang melanglang buana random-nya, membuatku sebagai pembaca harus menajamkan fokus dan beberapa kali harus mengingat kembali apa poin dari narasi yang ingin disampaikan. Butuh pembiasaan dan tentunya waktu untuk terbiasa, tapi jujur, terasa 𝘨𝘰𝘰𝘧𝘺 sekali kalau sudah "masuk" ke dalam perangkap ke-random-an Emina.
Aku pengen bilang terima kasih sama buku ini, beneran. 𝘖𝘯𝘦 𝘵𝘩𝘪𝘯𝘨 𝘪 𝘬𝘯𝘰𝘸, buku ini buat diriku gak memaksakan dirinya untuk cepet-cepet buat keputusan, cepet-cepet gak sedih, cepet-cepet harus tau mau ngapain.
𝘚epanjang membaca-nya, aku merasa dimengerti, merasa sangat aman, dilindungi, diterima dan gak dihakimi.
𝘐𝘵 𝘵𝘦𝘭𝘭𝘴 𝘺𝘰𝘶 𝘵𝘩𝘢𝘵, kamu valid kok buat merasakan itu semua, jangan mengecilkan perasaan dan pengalamanmu sendiri; kamu juga gak perlu jadi siapa-siapa karena jadi diri kamu sendiri bukan kesalahan yang harus disesali.
Seperti pulang, itu perasaan yang lekat selama membaca buku ini.
kehangatan rumah panti jompo selalu jadi hal yang dirindukan dari Jakarta Sebelum Pagi, dan melalui Jakarta Selintas Aram perasaan itu hadir lagiii. even better dgn adanya additional members Aram, Pak Nissa (lupa beneran nama aslinya), dan Suju. such a warm and easy read 🫶🏻
Seneng banget bisa ketemu lagi sama Emina (my professional yapper) di JSA, setelah sebelumnya dibuat jatuh cinta sama kerandomannya di JSP. Jujur, waktu tau kalau JSP akan ada sequelnya, aku punya ekspektasi yang cukup tinggi, dan untungnya, semua terbayarkan setelah selesai baca novelnya.
Yang dikangenin dari Emina tuh, narasi ngelantur dia, di mana sebenarnya, kalau meleng dikit, kita akan lupa sebenarnya dia lagi bahas apa. Cuma, berhubung aku (kadang) sama ngelanturnya kayak dia, jadi ngga sulit untuk menyimak apa inti pembahasannya. Sampai sekarang masih agak ngga nyangka sih, ternyata selera humorku sama Emina cocok banget, dia makin lucu di sini toloooooongggggggg aku sayang banget sama Emina.
Tapi meskipun di sini Emina lucu bangetttt, karena hobi ngelanturnya dia, aku merasa di sini dia keliatan wise bangettt, dan ada beberapa bagian juga yang memperlihatkan sisi rapuhnya dia—which is membuat aku ikutan mellow. Aku ikut sedih waktu dia cerita tentang Ibunya, juga tentang kebingungan dia soal perasaannya.
Tapi untungnya Emina punya para penghuni Rumah Jompo (favoriteku tetap Pak Meneer), jadi semua perasaannya divalidasi dan bikin aku seperti diingatkan kembali kalau ngga ada kriteria yang harus dipenuhi untuk merasa sedih, kita tuh berhak sedih, meskipun atas keputusan yang kita buat sendiri. Juga untuk tidak pernah mengecilkan apa yang kita rasain.
Bersama buku ini aku juga ikut belajar kalau, ngga apa-apa kok mengambil waktu rehat untuk mencari tahu, ngga apa-apa kalau memang masih bingung, kalau semuanya itu butuh proses, dan ngga semua masalah harus cepat-cepat ketemu solusinya, karena kita ngga sedang dikejar apa-apa. Pelan-pelan saja, kalau kata semua orang di novel ini (dan Tantri Kotak).
Meskipun diawali dengan perpisahan —jujur aku kayak anak yang orang tuanya cerai waktu mereka putus— tapi aku merasa hangat ketika baca keseluruhan ceritanya, karena kadang memang suatu hubungan itu ngga perlu dilabeli, cukup kita saling peduli dan saling sayang aja, ngga perlu juga ada dokumen yang mengikat, yang penting adalah perasaan kita masing-masing. Dan semua karakter di sini memenuhi kriteria itu.
3.5/5 bintang! membaca Jakarta Selintas Aram menghangatkan hati kembali setelah reuni dengan karakter-karakter tersayang yang masih unik, heboh, bikin ketawa tapi juga bikin nangis. kalau di Jakarta Sebelum Pagi kita diperlihatkan bagaimana Emina dan Abel menemukan satu sama lain, di Jakarta Selintas Aram kita diperlihatkan bagaimana perpisahan mereka membawa penerimaan baru terhadap perasaan yang dimiliki pada satu sama lain. mengharukan juga melihat sisi rapuh dan bijak Emina di buku ini.
menurutku hal-hal di atas cukup merepresentasikan sudut pandang baru dari Jakarta Selintas Aram, tapi aku merasa plot-nya masih bergulir dengan cara yang serupa dengan Jakarta Sebelum Pagi. hal ini sempat membuatku bertanya-tanya akan motivasi sesungguhnya dari cerita ini, karena di beberapa bab fokus dari tujuan utamanya cukup teralihkan, dan aku sempat tertipu sosok berkebaya encim di sampul itu Emina... hehe...
Overall, Jakarta Selintas Aram adalah buku yang hangat untuk dibaca di awal tahun. seperti judulnya, kita tetap diajak berjalan-jalan menyusuri Jakarta, tapi juga mengingatkan kita tentang arti rumah dan keluarga. Cerita yang diawali dengan perpisahan, tapi malah mampu mengeksplorasi lebih dalam kerumitan perasaan dan hubungan Emina dan Abel, ditambah drama-drama kecil (maupun besar) karakter lainnya seperti Pak Meneer, Nin, Suki, Suju, dan lainnya, sekali lagi menunjukan kepintaran Ziggy mengemas isu yang cukup berat dengan komedi dan drama sehari-hari, serta diskusi panjang tentang babi.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Membaca Jakarta Selintas Aram membawa perasaan nostalgik tersendiri. Latar waktu di bukunya empat tahun kemudian setelah Jakarta Sebelum Pagi. Kalau di JSP, pembaca di ajak keliling Jakarta sebelum pagi merekah, di JSA pembaca diajak keliling Jakarta sebelum malam bertandang alias sore-sore setelah pulang kerja.
Karakter-karakternya masih dengan Emina, Abel, Suki, Nissa, Nin, Datuk, Pak Meneer lalu Pak Nissa (suami Nissa) dan Suju (Subhan Junior).
Bukan Kak Ziggy sepertinya kalau tidak ada sesuatu yang unik dari bukunya. 23 bab di buku ini judulnya semua ada kata 'tahu'-nya. Lucu banget. Lalu setiap babnya dibuka dengan satu ilustrasi yang mewakilkan latar tempat atau cerita yang berada di dalamnya.
Pembahasan di buku ini terfokus pada hubungan yang usai, hubungan yang dimulai, tentang keluarga, tentang keputusan-keputusan yang banyak dipertimbangkan.
Keluarga Emina menjadi sorot utama dari cerita. Perihal ibu dan ayahnyaㅡcatatan harian sang ayah yang lucu sekali. Suka sekali karena ceritanya hangat. Banyak kutipan yang tentu saja berasa dipeluk, relate dan nyeleneh. 😂😭
Kutipan lain yang kusuka:
"tapi mungkin beberapa orang memang lebih baik berada dalam hubungan tertentu. Hanya karena kalian saling sayang, bukan berarti kalian harus terikat."
"ada kebiasaan yang terbentuk di dunia ini, yang membuat kita berpikir bahwa merasa adalah hal yang buruk. Kita diberi tahu bahwa melibatkan perasaan dalam berbagai hal adalah langkah yang salah, tanda kelemahan... kita terlalu terbiasa, sampai-sampai, dalam huhungan pun dianggap ada yang kalah dan menang."
"Saya rasa, mengingat bahwa pernah ada orang yang sangat menyayangimu, dan menyadari bahwa kamu bisa sangat menyayangi orang, adalah hal yang bagus."
Lalu, Pak Meneer:
"saya tidak akan pernah menyindir kecepatan bacamu. Membaca bukan perlombaan. Seberapa cepat, seberapa banyak, seberapa mudah kamu beralih ke buku berikutnyaㅡitu ada di luar kegiatanmu. Pikirkan saja bahan bacaanmu, bukan orang-orang di luar bukumu."
I'm def craving to have an Abel and Emina kind of relationship. I love how their thing develop in their own way, saya juga dapat banyak pelajaran dari bagaimana Emina menjalani hidup, (additional; I love her whimsy).
I LOVEEE SUJU SO MUCH, I love how Ziggy represents so many people in her book.
While reading this, I lost my focus a lot, jadi harus baca beberapa bagian berulang-ulang supaya sadar ini lagi bagian apa sih, lagi ngomongin apa sih, lagi ngomongin siapa sih. My bad wkwk.
And I hope Ziggy write an entire book about Emina and Abel only. (karena di buku ini fokusnya ke Keluarga Para Jompo kan ya...)
Intinya, this book is heartwarming, I love it. Thanks Ziggy <3
Lagi-lagi 5 bintang untuk buku kedua dari Jakarta Sebelum Pagi ini. Terkesima bagaimana Ziggy bisa merangkum persoalan-persoalan berat dan menjadi bahasan ringan namun tidak gampang dilewatkan begitu saja. Penyajian melewati karakter Emina memang menjadi salah satu alasan mengapa persoalan berat itu menjadi lebih ringan dan fun untuk dikulik sehingga saat membaca, daripada disentil maupun diobati dengan siraman alkohol, lebih terasa seperti dipeluk dan diberikan teh hangat setelah terguncang-guncang di tandu selama perjalanan lapangan-UKS.
Tidak begitu banyak adventure jalan-jalan dalam babak baru ini karena Emina yg harus bekerja (terlalu realistis💔😭🫵🏼). Pun begitu, tidak semua memori harus dilakukan dengan jalan-jalan keliling Jakarta maupun dunia. Kadang memang ada hanya dengan menggeram bersama Datuk di teras.
Aku lebih suka buku Jakarta Selintas Aram ini karena Emina lebih terbuka sama apa yang dia pikirkan dan rasakan. Di buku ini, interaksi antar karakternya ada banyak. Topik yang dibahas juga jadi lebih banyak. Dari perubahan status hubungan Emina san Abel, Suki yang merasa stuck di tempat, dairy Ayah Emina, hubungan Nissa dengan tetangganya, pengaruh perilaku orang tua kepada anak, hubungan Nin dan Pak Meneer, diskriminasi yang dirasakan oleh perempuan di tempat kerja dan bagaimana hal itu bisa mempengaruhi diri sendiri orang sekitar, dan masih banyak lagi.
Kalau di buku pertama poin utamanya adalah di surat misterius, di buku ini, adalah diary Ayahnya Emina. Menurut aku, buku ini rasanya hangat. Lebih hangat dari sebelumnya. Bukunya juga menyuguhkan kompleksitas perasaan manusia. Emina merupakan salah satu karakter paling kompleks tentang perasaannya. Tapi, untungnya, di buku ini, Emina lebih straightforward tentang perasaan dan pikirannya. Sebenarnya, aku masih ngerti gak ngerti dengan alasan kenapa Emina meminta putus. Hipotesisnya adalah kalau Emina bisa saja aroace, atau, ya, sekedar commitment issues aja, bisa juga karena, kemungkinan, Emina ADHD, yang bisa menyebabkan seseoang susah untuk berkomitmen. Kan. Perasaan manusia ribet banget. Jadi, dengan ini, aku berharap akan ada buku ketiga. 😭🥹🙏🏻 overall, a 6 stars read from me!
Siapa sangka di awal tahun ini aku bisa "pecah telor" menyelesaikan satu buku bacaan. Tapi ya gimana, this sequel is so addicting—at least for me. Hehe.
Seperti yang tertera di sampulnya, buku ini adalah babak baru dari Jakarta Sebelum Pagi. Kalau kita flashback sedikit, buku sebelumnya menceritakan pertemuan Emina, Abel, Suki, dan beberapa tokoh pendukung lainnya. Everything was only on the surface.
On the other hand, Jakarta Selintas Aram has much more depth. Gak hanya fokus pada dua karakter utama, kita juga diajak mengenal lebih dekat latar belakang karakter pendukung lainnya.
Emina dan Abel dengan dinamika hubungan mereka dan masa lalu; Nissa, Pak Nissa—sorry banget sampai lupa namanya, HAHA; Aram dengan urusan keluarga dan tetangganya; Suki dengan konflik internal dan eksternalnya; hingga Para Jompo dengan, ya adalah uruan mereka. Terkesan rame banget, ya? Tapi Ziggy bisa menjabarkan semua itu dengan porsi yang pas di setiap babnya. Gak ada yang terasa memaksa untuk diperhatikan, atau luput dari perhatianku sebagai pembaca. Semuanya pas, aku suka banget.
Kalau dari segi cerita, I LOVE IT SO MUCH! Semua narasi tersusun rapi—you know what I mean? Walaupun karakternya banyak, aku tetap paham siapa yang sedang diceritakan. Everyone has their own charm, dan karakternya sangat konsisten dari awal sampai akhir. I have to point out how Ziggy builds everyone’s character development so beautifully; it gave me a sigh of relief after finishing it.
Oh, an honorable mention untuk Suju alias Subhan Junior, HAHA! Karakter ini lucu banget. Kok bisa ya kepikiran memasukkan karakter seperti Suju ke dalam cerita? Suju Suju ini gak bikin cerita makin "sumpek," kehadirannya malah bikin makin seru. Mungkin aku agak bias ya, soalnya aku suka banget seri novel Ziggy yang satu ini.
A right portion of laughter, sadness, hope, and everything nice. Just the right book to start the new year.
pas baca buku ini jadi merasa kalau ini beneran kayak kebalikannya Jakarta Sebelum Pagi. kalau pas baca JSP, entah mengapa merasa kalau latarnya tuh banyakan di malam hari karena midnight excursion dalam membaca jejak-jejak Pak Meneer, kalau di Jakarta Selintas Aram ini kayak bagian terangnya karena ada noontide jaunting!
setelah eminabel pacaran selama 4 tahun (CMIIW ya guys), akhirnya mereka harus putus. WALAU JUJUR GUE SEDIH BANGET, tapi siapa sangka justru malah banyak banget crumbs-nya mereka yang lucu dan menggemaskan padahal HTS-an (jangan ditiru!!). ditambah, jokesnya Emina tuh jadi makin lucu sumpah kayak AOKWOWKOWK iya lagi (kata gue kk ziggy emang udah cocok jadi pelawak).
buku ini juga ringaaaann banget dan tiap bab ada ilustrasinya (so happy). lebih fokus membahas tentang latar belakang karakter yang ada di universe ini, kayak Nin, Suki, Nissa, Pak Nissa, dan Suju (new character unlocked). tapi gak boong deh, abis baca buku ini, the urge to having someone to talk to is getting higher!! seru banget rasanya kalau yapping kita bisa didengerin sama orang.
tapi kayak ADA SEDIHNYA juga hiks (bukan waktu eminabel putus) (walau IYA). sedihnya itu karena masih banyak orang yang merasa gak layak untuk showing up their feelings just because it's not a big deal for everyone. padahal kan yang tau hal itu besar atau kecil kan kita bukan orang lain. jadi semua perasaan itu valid, gak peduli besar atau kecil bagi orang lain.
UDAH GITU AJA YAPPINGNYA. kalau mau baca ini harus baca JSP dulu yaaahh.
Gatau mau komen apalagi, ini sequel yang worth to read bener!! 😆💪🏻 karena ngobatin kangen sama Abel dan Emina. Mereka berdua masih sama tapi udah berkembang lebih baik☝🏻 Aku sangat menikmati plot yang disuguhi kak Ziggy, banyak banget pesan yang disampaikan secara halus melalui pemikiran dan percakapan si Emina yang absurd itu, mulai dari tentang relationship lalu hubungan orangtua dan anak sampai pada akhirnya bahas juga soal korban s*xual harrasment. Semuanya itu terangkum dalam kisah absurd nan kocaknya Emina, aku bener-bener terhanyut sama ceritanya yang emang POV si Emina ya jadi segala macem pemikiran kocak dia tuh tersampaikan!🤏🏻 Buatku, plotnya okay banget and it’s beyond your typical romance story!
Alurnya gunain alur maju dengan beberapa flashback lewat dialog tokohnya dan flow alurnya dari awal sampai akhir enak banget ngalirnya👍🏻 walau memang ada beberapa parts aku rasa agak bosen dikit cuma secara keseluruhan, aku suka sama pace bukunya yang pas banget! Gak cepet dan gak lambat juga, mantep deh!✨ And then, narasinya as always khasnya kak Ziggy! Absurd, puitis dan penuh makna tersirat tapi tetap dengan gaya bahasa yang lugas walau memang gak bisa dimengerti sekali baca tapi tetap menyenangkan buat dibaca xixixi🤭 love it! Mungkin berat di telling-nya karena ini POV orang pertama jadi lebih banyak dijelaskan daripada diperlihatkan.
Tokoh dan penokohannya aku suka, perkembangan karakter mereka keliatan dan aku suka dengan perubahan demi perubahan yang dialami Emina maupun Abel jadi mereka keliatan lebih dewasa dibandingin di buku pertamanya✌🏻 Terus di samping Emina dan Abel, ada tokoh-tokoh pendukung seperti Nissa, Suki, Datuk, Pak Meener, Nin dan masih banyak lagi yang unik dan sangat memberi warna ke cerita ini jadi selama baca, aku happy dengan kehadiran mereka! Bikin seru aja gitu ceritanya dan banyak celutukan mereka yang related juga, suka deh sama penokohannya!
Lastly, banyak pelajaran yang bisa diambil dari JSA ini. Salah satunya, cinta gak selalu datang dari status pacaran atau pernikahan melainkan bisa lewat persahabatan dan kepedulian yang justru bertahan lebih lama daripada janji💛
Overall, it’s a great fiction and as always, kak Ziggy berhasil bikin aku jatuh hati sama ceritanya lagi so, aku highly recommended this book buat yang suka cerita-ceritanya kak Ziggy dan juga yang udah baca Jakarta Sebelum Pagi!✨
if JSP talks a lot about loneliness and how each character deals with their own grief, then JSA feels like their healing and acceptance process. the story pace is slower and lighter, yet the conversations are still filled with deep meanings.
menurut gue, gaada character yang useless atau asal taro aja di sini sih, every character has their own charm and a well-written character development.
terusss kalo di JSP emina is pictured as someone yg absurd, nyeleneh, and has weird thinking process, DISINI DIA LEBIH ABSURD DAN LAWAK LG WKAKAKA but it’s also balanced with her wise nature gitu. she’s open-hearted, a good listener, and always tries her best to become everyone’s safe haven, even though she’s also the one who needs it the most di sini.
ALSO ABEEELLL MY LOVE, in this book, he’s even wiser dan lebih stable. despite how different his personality are compared to Emina dan semua limitationsnya, he still manages to be such a good partner by always being there for her and truly listening to her. jujur gw kecintaan sm mereka pls menikah demi gwe.
overall, gue sukaaa bgt bgt, baca ini tuh kayak nostalgia dan happy karena bisa ketemu sama semua characters di JSP lagi, pls baca they’re all so loveable!!! I also personally feel this book feels like a warm hug I didn’t know I needed gitu, gue nangis moengil pas baca krn kayak bbrp lines BENERAN RADA KENA DI GUA. intinya i love emina, abel, dan semua oraaang di buku ini.
aku sedih banget udah selesai baca buku ini. sedih banget banget banget. rasanya kayak gak rela pisah sama emina dan semuanya. tolong aku patah hati….. i feel very connected to the characters as if they were alive. huhuhuuuuuhuhu emina tuh effortlessly funny, smart, kind, and i love the way her mind works. i adore her. ih sumpah ya aku mau dong yang kayak abel juga…? yang kayak suki… kayak nissa… datuk, nin, pak meneer, AND SUJU!!! and aram! i love them so much to the point that it hurts badly. TAPI YAUDAHLAHYAAHH TERIMA KASIH UNTUK KNOWLEDGE PER-TAHU-AN & PER-BABI-AN (di JSP) aku jadi sangat bahagia
i wouldve cried if i read this on my high school year…… full of comfort…… setipe sama tatbilb3…… sumpah rasanya kayak dipeluk dan ditenangin dan dibuat yakin kalau semuanya bakal baik-baik aja
banyak kalimat yang aku suka dari buku ini cuman aku ga tandain supaya jika suatu hari nanti aku butuh untuk membaca kalimat itu, aku bisa melintasi setiap halaman dari buku ini lagi dan merasa disayang setiap membalik lembarannya
i will put this is first and jakarta sebelum pagi for the second. makasih udah ngasih tau kalo untuk pelan-pelan di saat dunia bekerja begitu cepat saat ini.
cepet selesai bacanya karena bukunya ziggy…i relate with emina (specifically di buku ini) grief took time to process, gak instan, bahkan bisa bertahun-tahun kemudian when you think you’ve moved on. tapi setelah baca masih ada beberapa hal yang menganjal sih, mungkin kurang panjang awowkwowk
"Did you know? Tahu kah, kamu? Hehe" - Emina Nivalis, Jakarta Selintas Aram. Because the big theme in this novel is "Serba tahu" hehe.
Jakarta Selintas Aram is the sequel novel to Jakarta Sebelum Pagi by Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie, published in 2026. This novel still keeps the romance genre with the setting of Indonesia's capital and the same characters: Emina, Abel, Suki, Nissa, Pak Meneer, Nin, and Datuk. In Jakarta Sebelum Pagi (JSP), readers are taken to explore several historic places and quiet streets of Jakarta in the early hours through mysterious letters discovered by Abel and Emina. Meanwhile, in Jakarta Selintas Aram, Abel and Emina's relationship has been going on for five years since they decided to start a romantic relationship. Abel's phobias are still the same, and Emina's humor is still just like before. In this novel, readers will see the development of Abel and Emina's relationship after being together for five years, a relationship that turns out to be far from "perfect". Abel is not easy (at all) , and Emina also starts to feel that everything is getting more complicated. Eventually, they both have to consider what steps they will take for their relationship. At the same time, there are other changes in the characters' lives. Emina finally moves permanently to the Rumah Para Jompo, while Suki decides to settle in Japan with her mother. Even though many things have changed, all the characters we've known in the previous book are still around and bring their own dynamics into this story. Still from Emina Nivalis' first-person POV, the reader is once again invited to follow Emina's way of thinking, which tends to jump around, her thoughts leap from one thing to another, and whatever she feels pours directly into the narrative. I can understand the confusion Emina feels when everything starts to get more complicated. Many things about her feel very human and relatable to me, especially the way she considers decisions carefully. The contrast between Emina and Suki is also interesting. Suki seems very mature but can be impulsive at times, while Emina, who often seems like a child, actually shows maturity in her thinking. In the end, this novel feels like it's not just about romance, but also about growth and accepting change. And after finishing the last page, it feels like just coming out of their world: happy because you got to be there, but also empty because you have to leave it behind. One of the strengths of this novel lies in its physical appearance. The book cover is attractive, and inside it also includes illustrations representing each chapter, making it feel more visually alive. The story is also quite deep, especially when discussing Emina's family, so readers can better understand how Emina's character is formed. Additionally, the appearance of several new characters adds color and makes the story feel even more exciting. On the other hand, the humor feels quite "exclusive", like it only really hits for readers who "get it." or "If you know, you know". Readers who have high expectations for Emina and Abel's relationship might also feel a bit emotionally let down, because their relationship journey is far from "perfect." Emina's thought process, which tends to jump around, is actually interesting, but for some readers who are used to a more straightforward plot, that style can feel weird or a bit "freaky." (more like SO Freaky) After reading this novel, I still don't know whether to feel happy or sad (especially about the ending). A lot of people say they're on one of those teams, but honestly, I just feel NUMB. The story brings me so close that it feels like I become a “wall” in Rumah Para Jompo, seeing everything up close and watching their lives go by. Then when the story ends, it feels like that wall is knocked down, carried away by the workers, and dumped in another corner. (Like Emina says). For JSP fans and lovers of Babirusa (aka Abel) as well as Smoked Pork (Emina), I highly recommend this novel. I think this story also teaches us to be human as well as not selfish readers, because our expectations of Emina and Abel’s relationship are really high. But in the end, they’re not easy either, just like the people around us.
And last but not least, here's my favourite and top quote from this novel (Deep words alert, at least in my 20s), "Tapi, Suki, did you know-tahukah kamu? Hehe. Nostalgia itu basisnya adalah rasa sakit karena kita ingin menjangkau masa yang sudah lewat. It's originally something painful. I think, then, the present is a place less painful."
BUKU INI PENUH TAHU.... :] AH APA YAH. pokoknya seneng banget dikasih cerita baru dari emina. walaupun... sebagai warga kapal eminabel... (iykyk lah). TAPI NO WORRIES di sini kita dikasih banyak eminabel crumbs yang menggemaskan T_T
aku merasa di sequel ini, keseluruhan ceritanya terasa lebih "serius". emina masih dengan keasbunan dan mengeluarkan semua isi pikirannya yang aneh itu, tapi... kali ini dia lebih banyak mengeksplor perasaan dia sendiri. emina jadi sadar, apa yang sebenernya dia suka dan yang enggak dia suka. apa yang nyaman buat dia dan yang mengganggu—memberatkan—hatinya. which is dia enggak terlalu focus on her own feelings di JSP. (good job, my girl.) emina bener-bener punya perkembangan, dari awal dia selalu ngingetin kalau kita boleh kok rehat sebentar. yang mana—lagi-lagi—di JSP, dia berpikir untuk berhenti sebentar aja rasanya enggak pantas dan takut ketinggalan.
kali ini pun, seperti di blurb, emina menyusuri jakarta bukan berlandaskan tempat-tempat di surat orang lain. tapi, buku harian mendiang ayahnya sendiri. and that's so heartwarming... kayak, emina kembali mengunjungi masa kecilnya yang diselipkan cerita-cerita konyol tentang emina mini. seru banget.
shot-out to abel juga!!!! hebat, bisa menghadapi ketakutannya sampe sejaaaaauuuh itu. i know di sini abel is just... being abel himself, tapi keren banget cara dia menangani darderdor-nya emina T_T he really loves her as emina, not just as his girlfriend. HE'S SO ENDEARING. WISE. dan mau memahami emina yang living in her own bubble T_T tolong sediakan satu abel di satu RT. (Saya peduli padamu sejak sebelum kita punya hubungan apa-apa. Saya menyukai kamu sebagai manusia. Kamu tidak perlu jadi pacar untuk disayangi.) DAN... (Orang dewasa juga boleh bingung, Emina. Kamu nggak perlu mengikuti apa yang dilakukan atau dirasakan orang lain.) DAN LAGI... (Ada kebiasaan yang terbentuk di dunia ini, yang membuat kita berpikir bahwa merasa adalah hal yang buruk. Kita diberi tahu bahwa melibatkan perasaan dalam berbagai hal adalah langkah yang salah, tanda kelemahan. Tidak ada yang hilang dari saya ketika saya memberitahumu bahwa saya mencintaimu. Sebaliknya, saya terbebaskan dari keharusan untuk berpura-pura.)
seru deeeeh, rumah para jompo jadi makin rame!!! nissa dan keluarga, suju si junior baru, suki yang tiba-tiba kabur dari jepang. terus, dikasih banyak interaksi antara mereka sama emina. jadi bukan yang asal lewat gitu aja. banyak juga hal-hal sentimental di setiap karakternya... they shine on their own, dan dapet spotlightnya masing-masing. anyways. ARAM. BAYIIII. dari awal masih bertanya-tanya mulu siapa sih, aram?! ternyata ARAAAAAAM BAYI KITA. suka deh, gimana kak ziggy menjadikan nama aram sebagai judul. kayak... bener-bener menggambarkan jakarta selintas aram.
NANGIS BOMBAY pas percakapan emina & datuk di teras: “Datuk cuma punya Ibu, terus Ibu cuma punya Emina. Kalau Emina nggak punya siapa-siapa, gimana?” terus kata datuk: “Yang penting kamu.” JEDYAAAARRR. sedih banget. aku kangen alm. datukku.
di sini kelihatan banget seberapa penting seorang emina di kehidupan setiap orang sekitarnya. bener deh, she cares for everyone. she loves deeply. she listens intently. dan tadaaaa, emina became everyone's comfort. kemudian hadirlah perkataan si suju, yang bikin aku—kita sebagai pembaca—sadar kalau... emina sebetulnya JUGA punya beban dia sendiri. she's still grieving in her own way. dan yang tadi semua itu enggak harus dijadikan emina sebagai "tugas" rutinnya. (Tapi, Kak, it's not on you to make sure we feel loved.) makasih, suju.
INTINYAAAAAA. pengen peluk buku ini. setelah lima tahun, rasanya kayak reuni dan pulang ke rumah, terus disambut dengan hangat sama seisinya.
Baca Jakarta Selintas Aram right after I rereadJakarta Sebelum Pagi. Dan ... aaaaaAaa, aku dihantam mixed feelings berkepanjangan.
Sebagai sekuel JSP, Jakarta Selintas Aram terasa familiar, tapi ceritanya bener-bener beda. Ada dinamika hubungan Emina-Abel yang berubah, life crisis Suki, eksplorasi masa lalu dan mempertanyakan masa depan kehidupan Emina, terus banyak lagiii. Kompleks. Tokohnya juga makin banyak, dan mereka semua punya peranan yang on point. Menurutku, satu kata yang bisa menggambarkan buku ini adalah: Hidup. Buku ini benar-benar hidup.
Hal yang baru kusadari waktu baca Jakarta Selintas Aram adalah tokoh-tokoh di buku ini tuh diverse banget, dalam hal usia, pemikiran, pekerjaan, juga latar belakang ras dan bahasa. Rasanya kayak ngebaca banyak manusia dari satu sudut pandang (Emina) yang (thankfully) open minded, jadi there's no judgement dan justru malah "ngajak" belajar memahami gimana orang-orang bisa dealing sama masalah mereka yang beda-beda pula. Eksplorasi tokohnya mantep banget, Mbak Ziggy!
Oh, soal familiar ... Emina masih suka yapping di kepalanya dan yapping sama orang lain. Terus, kalau di JSP alur ceritanya didorong oleh surat-surat Pak Meneer, kalau di JSA ini didorong sama buku harian bapaknya Emina. Gemas! Banyak banget yang kerasa familiar: tulisan, jalan-jalan, teh, bunga, rumah Para Jompo. Familiar tapi kerasa lebih rame, lebih hidup, lebih berisik.
Buatku, buku ini heartwarming (sebagaimana ulasan-ulasan orang lain–aku setuju), yet heartbreaking. Gak tau, ya, kayak SEDIH AJA GITU HUHU. The way Emina making jokes about something sad (khususon soal hubungannya sama Abel), sampai the way she's grieving tuh se-ngena itu. Jokes-nya tetep bikin aku ketawa, anyway. Ah, SEDIH AH POKOKNYA.
Buku yang bittersweet. Aku mau baca buku ini lagi kapan-kapan, soalnya comforting (walaupun tetep sedih). JSP dan JSA tuh sampulnya colorful tapi isinya mostly soal grieving, ya (baru sadar).
Tambahan: Emina tuh bener-bener konsisten deh sama train of thoughts-nya. Selama baca ini tuh aku jadi mikir, apakah Emina menggambarkan penulis, yakni Mbak Ziggy itu sendiri? Ada aja gitu yang kepikiran. Lucuuu tapi keren juga shshshsh
Aku suka mikir kira-kira apa sih hal lain yang bisa bikin orang putus selain hubungan yang sudah jelas toxic atau mungkin ada perbedaan latar belakang atau jalan hidup. Jujur aku pas baca JSA senang banget, karena merasa akhirnya bisa ngelihat perspektif lain dari orang yang putus hubungan romantis, tapi masih saling menyayangi. Ini aneh tapi menurut aku buku ini beneran break up yang well executed (bingung jelasinnya).
Senang banget akhirnya bisa kembali ke dunia Emina & Abel lagi. Ditambah sekarang ada Suju yang lucu banget. Enjoy banget baca latar belakangnya Emina dan kenapa dia bisa jadi Emina yang kita kenal sekarang. Kayak apa ya, aku senang aja Emina dan Abel kayak punya kesempatan untuk berkembang di ruang masing-masing. Menurutku, JSA ini walau temanya tentang break up, tapi selama baca bukunya ngerasa kayak ngelihat cahaya matahari di atas air; hangat, lembut, dan tenang. Kalau bisa deskripsikan dengan lagu, buku ini beneran mengingatkan aku sama lagu I Wish You Love by Laufey.
Sayangnya, aku berharap di buku ini lebih dibahas banyak terkait hubungan Emina dan Ibunya, karena jujur aku intrigued banget sama bagian di mana Nissa bilang "...Dan I get it, kok. Bapak-Bapak biasanya marah-marah, kasar, et cetera, jadi gampang di call out. Mothers break their children in stealthier way. They're like closeted villains." Jujur aku selama ini jarang membaca buku yang membahas hubungan aneh yang dialami Ibu dan anak, makanya aku berharap kita bisa explore lebih di JSA. Tapi mengenal ayah Emina juga seru sih, soalnya duo Bapak dan anak ini mirip banget.
Sebenarnya masih banyak aspek lain yang aku suka dari JSA, tapi kalau ditulis semua kayaknya bisa jadi 1000 kata reviewnya dan jujur bingung juga harus mengartikulasinya kayak gimana.
Secara keseluruhan, aku lebih juga JSA dibandingkan JSP. Baca JSA jadi bikin pengen baca JSP lagi sih. Pokoknya suka banget sama JSA.
Kalau temen-temen nyari buku bacaan tipis yang hangat, lucu dan in some way bikin terenyuh, saya highly recommended banget untuk baca buku ini. Tapi sebelum itu, bisa ga kita baca Jakarta Selintas Aram tapi belum baca Jakarta Sebelum Pagi?
Jawabannya; 60% bisa. Cuma saya sarankan untuk membaca Jakarta Sebelum Pagi dulu sebelum ke buku ini, karena ada beberapa penjelasan yang bakal kita langsung nyanmbung kalau udah baca buku pertamanya. Contohnya; latar belakang Abel, Emina (ratu babi) dan Nissa. Tapk kalau misal keburu pengen baca yang ini aja langsung, ga masalah. Buku ini bisa nge-cover sebagian besar pertanyaan ga langsung tentang kisah-kisah di buku pertama.
Balik ke Jakarta Selintas Aram. Buku ini hangat banget, i am not joked. Ga hangat yang kalo di pegang trus ga dingin gitu (Kepribadian Emina nular lama lama). Tapi isinya. Bagaimana Emina memutuskan untuk putus dengan Abel tapi setelah itu mereka in some way malah lebih dekat dibanding pas pacaran. Gimana saya belajar kalau punya perasaan itu valid, perasaan apapun itu, termasuk perasaan yang kita ga tau namanya. Saya juga belajar tips n trik secara ga langsung bagaimana menjadi pendengar yang baik seperti Emina. Dan Emina, once again, saya suka banget. She is the kind of orang yang selalu mikir dan ceplas ceplos. Dan buku ini lucu karena bercerita dari sudut pandang Emina yang selalu aja ada asbun iseng dan tingkah lucunya.
Buku ini juga ngomong soal babi, anyway. Info aja. Di awal-awal halaman malah. Dan satu highlight, Emina kecil yang diceritain di diary yang ditulis Ayahnya asli lucu banget. Saya jadi berharap ada buku khusus (another book) yang ambil cerita tentang Emina kecil. It is kinda funny btw kalau beneran ada.
Did you know? Tahukah kamu? Selintas artinya sebentar, sekejap, atau sepintas lalu. Kata ini menggambarkan sesuatu yang dilihat, didengar, atau dipikirkan hanya dalam waktu singkat, tidak mendalam, atau hanya sekilas. Itu adalah definisi selintas menurut wikikamus.
Barangkali cerita Emina, Abel dan anak mereka, Suki (status sebenarnya: adik Abel secara hukum) dalam buku ini memang hanya selintas masa pertumbuhan Aram—bayi (sungguhan bayi) Nissa dan Pak Nissa—yang lahir di akhir Jakarta sebelum Pagi.
Timelinenya sekilas, tapi isinya meriah. Ada banyak hal menarik yang diceritakan dari sudut pandang Suki anak jenius yang mau berenti sekolah, hubungan Emina dan Abel yang misterius, sampai kegocek cover buku yang gambarin pengantin perempuan.
Bagian paling membekas dari cerita ini adalah ketika Emina berpikir bahwa garis keturunan Datuk berhenti di dia, dan Datuk cuma bilang "Yang penting itu kamu". Ini mungkin jadi cerminan banyak orang sekarang, yang sangat berpikir dan mempertimbangkan kapan menikah dan kapan mau punya anak, di tengah gak pastinya kehidupan.
Ada juga cerita tentang Adara, yang sering dibantu Emina kecil tapi gak pernah bisa mengungkapkan rasa terima kasihnya, sampai bikin anak kecilnya diam-diam kalau mau bantu ibunya. Pada dasarnya, setiap kata terima kasih, maaf dan tolong memang harus disampaikan secara verbal.
Di luar dua spoiler itu, dinamika isi otak Emina selalu menghibur. Bukunya ringan banget. 0,25 kg ditimbang dengan timbangan lunalife, bukan sponsor. Cocok buat nemenin acara menunggu acara utama seperti mengantre ke dokter gigi dan duduk lama dalam perjalanan ke kantor. Ceritanya mudah dipahami selama pembaca mau dan mampu mengikuti keasbunan pikiran Emina. Aku butuh sequel kedua.
Sekuel selalu mendebarkan, terutama kalau buku pertamanya adalah buku kesukaanmu nomor wahid. Cerita yang diakhiri dengan menyenangkan mendadak bisa berubah di sekuelnya.
Waktu tahu kalau Emina dan Abel putus di JSP 2 aku ketawa histeris karena 1.) 5 tahun lalu, Ziggy membalas refleksi pembacaanku untuk JSP setelah 5 tahun kelahirannya dan bilang kalau dia buat sekuel untuk kisah ini, Emina dan Abel sudah enggak bersama—which means, with the sequel announcement, she really DID THAT; 2.) Itu ide yang menyenangkan dan bisa membuka jalan bagi SECOND CHANCE ROMANCE!; 3.) Aku kurang pintar menanggapi berita buruk. Menjelang buku ini terbit, aku mulai gelisah karena ternyata aku sangat peduli dengan ferganivalis sebagai pasangan 3
Aku banyak berhenti pas baca ini—ini pembacaan pertama, jadi review ini mungkin bisa berubah sewaktu-waktu; aku tulis ini begitu selesai baca—soalnya bukunya LUCU dan aku banyak nangis selama 5 jam aku baca.
Kalau JSP sangat lantang soal kesepian dan kegelisahan, JSA menawarkan pelukan dan penerimaan. I think, JSP was hopeful—although very sad because it talks more about how the characters deal with grief, but JSA is ... even better. Di buku ini juga membicarakan perpisahan (I mean it's literally about a break up LMAO) dan bagaimana menerima dan berdamai dengan itu. JSA banyak membahas soal bentuk hubungan, since it's ferganivalis' whole deal.
Guys sorry ternyata nyampe sini rada mandek karena malah balik sesenggukan mikirin mereka lagi (not in a sad way) #INTINYADEH PLEASE BACA JSPU (Jakarta Sebelum Pagi Universe) alias JSP & JSA (sy akan kembali review beneran kapan-kapan)
OMG. aku semakin suka sm eminem yapper 😆🤝🏻 aku baca jsa ini agak lumayan lama dibanding jsp krn jadwal sekolah yg padeett 🥲 jd beberapa bagian harus diulang (ga fokus) buat ngerti lg bahas apa 😓
yuyur agak sedih eminem dan babi rusa (abel) breakup 🥺💔 dan masih agak bingung kenapa tiba’ minta putus walau dia bilang she’s not happy? yg selalu rencanain pergi’annya duluan. ky kenapa ngga diomongin dan diperbaiki? atau eminem ini ada commitment issues? soalnya dia ngga mau juga nikah kan. yah apapun itu mungkin yg terbaik (masih sedih) ya sudahlah, i trust eminem bahwa mungkin ga semua cinta itu harus didasari dengan relationship (?) tp aku suka gimana emina jd lebih terbuka dan langsung bilang sm apa yg dia rasain di jsa ini. GOODJOB EMINEM!
ey tapi halaman demi halaman, interaksi abel si babi rusa dan eminem jd seperti biasanya lg! MALAH agak deg’an ya krn ky udah putus tp… ttp ada romantisnya secuil 🤏🏻💃🏻
kalau jsp penelusurannya lebih ke misteri, jsa ini lebih HEARTWARMING. penelusuran diary ayah eminem yg ternyata SEBELAS DUA BELAS BANGET SM ANAKNYA 😭🏅kocak, lucu, yapping final boss 😅🫵🏻
aku suka penggambaran interaksi semua karakter disini dan gimana struggle masing’ karakter yg tersampaikan dengan baik dan relatable dengan kehidupan sehari’ 🙂↕️
DAN ilustrasi di buku, covernya, BOOKMARKNYA (aku dapet eminem) JUGA magnet eminem wortel SANGAT LUCU LUCU 🪆🫶🏻😵💫
OH yeah, happy new life untuk pasangan jompo yg baru🤭👌🏻
I took my time with this book because of two reasons: I absolutely love the first book and I simply don't want the story to end. Jakarta Sebelum Pagi was my top read in 2025 and this sequel came out of nowhere. But it's so nice to continue the story and see what's going on after the ending of the first book. I had much expectations for this book, and honestly? It does meet my standard at some point. It's noticeable that the themes are mostly more serious than the previous one. We get to dive deeper to Emina's character and her backstory. I really adore her as a character. She's annoying, but funny and absolutely ridiculous. Her monologues don't make any sense, bu that's basically what draws my attention to her character. She's complex and to understand her is not hard (perhaps I find myself relating to her problems). What I like about both books is the fact that I never really get to figure out the direction we're going. Like what even is the plot we're heading? Yet, it still intrigues me. There are some parts I don't understand and I did find myself whining at a certain plot (hint: abel and emina progression *cough* *cough*) but anyway, I wish the best for every characters. I love their dynamics, how they simply fill out the "found family" trope. I can't say I love this more than the first book, but I'm happy for Emina herself to find her place and happiness.
another book worth to read! Jakarta Selintas Aram. dia adalah buku kedua dari karya yg sama oleh Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie lanjutan buku berjudul Jakarta Sebelum Pagi yg masih menceritakan tentang kisah Emina dan Abel (my favorite couple!!) My very first impression reading this book for the first few chapter adalah; sepertinya buku ini ditulis oleh orang yg paham tentang ilmu psikologi atau setidaknya pernah menjalani masa berkonsultasi dgn psikolog, karna banyak sekali percakapan tentang perasaan yang coba divalidasi. that being said, aku suka cara komunikasi mereka yg membicarakan tentang perasaan. Misalnya, "aku sudah ngga mau lagi sekolah tapi aku ngga tau kenapa" dan dibalas, "iya. wajar kalau kamu bingung tentang perasaanmu. nanti kita cari tau bareng-bareng" The second one is about the plot. I love the plot tooooooo! It's always refreshing with this author and this particular series. ceritanya lebih tentang mencari tau perasaan dan jati diri Emina terhadap Abel dan bagaimana cara Abel memroses perasaan patah hati dan kesedihannya pasca putus dari Emina lewat acara jalan-jalan napak tilas ala mereka (not their fisrt rodeo alias persis sama seperti di buku pertama) yg kali ini terinspirasi dari jurnal jalan-jalan orang tua Emina. So far this book very much deserved the hype that the first book got! love this book!
Buku yang sangat nyaman untuk dibaca. Meski awalnya kita udah disajikan sebuah hubungan yang berakhir, namun hal ini jadi gerbang buat aku sebagai orang dewasa melihat banyaknya bentuk hubungan. Bahwa cinta tidak selalu harus aku dan kamu bersatu lalu menikah. Keluarga adalah keterikatan emosional yang lebih jauh dan lebih dalam dari itu.
Melalui JSA, Ziggy menyajikan begitu banyak bentuk hubungan. Bercerita tentang kehilangan dan penerimaan. Membuat aku berpikir bahwa manusia sejatinya hanya ingin bahagia, namun prosesnya justru seringkali terbentur "kenormalan sosial" yang mengharuskan kita begini-begitu.
Semakin akhir, ada bittersweet truth yang harus diterima Emina lumayan bikin aku shocked. Karena selama di Jakarta Sebelum Pagi, karakter Emina dibangun konsisten sebagai perempuan ceria yang punya cara bertutur yang unik. Namun di JSA, kita diajak menggali darimana karakter ini berasal dan seperti apa pandangan Emina terhadap kedua mendiang orang tuanya, sesuatu yang cukup tidak kusangka, tapi sangat mungkin mengingat sesuatu yang terang selalu punya bayangan yang gelap.
Pengembangan karakter Abel di sini juga sangat mantap! Progresnya terasa sulit tapi mudah selama kita punya lingkungan sepositif Rumah Para Jompo.
a bit of slow read towards the end of the book karena agak jenuh dan ceritanya melantur ke mana-mana, ya tapi, knowing Emina memang dia suka melantur sih. kurang suka juga bagaimana tidak ada bedanya tulisan atau karakter Ayahnya Emina dengan Emina-nya sendiri. sebenarnya mungkin mengisahkan “like father, like daughter,” tapi menurutku jadi kurang pas.
walaupun begitu, buku sequel Jakarta Sebelum Pagi ini lebih realistis dalam sisi kehidupan ya, jadi lebih deep menurutku. aku suka bagian yang menunjukkan bahwa tidak harus seseorang memiliki pasangan atau anak. hal seperti itu sering dianggap menjadi keharusan yang apabila tidak dilakukan bisa jadi dikucilkan atau dikasihani. miris, tetapi masih lumrah terjadi.
lalu, bagaimana Emina juga memikirkan tentang karirnya, how she doesn’t mind steadiness, aku suka sekali bagian itu, sangat nyata dan relate di aku. and what i like the most is the idea that we can choose our own family. even though they are not related to us by blood, we can still find happiness with them.
overall, Jakarta Selintas Aram is heartwarming and shows a lot of character development compared to the previous book. although, if you prefer the adventures one, the prequel might suit you better.
suka banget sukasukasuka. I love this more than I love JSP which is saying something.
I went in with no expectations — cuma tau premise-nya abelemina (or, as I like to call them, ferganivalis) putus, tapi joke’s on kak ziggy karena I love second chance romance. I wasn’t expecting (hah katanya gaada ekspektasi) a commentary on grief, life choices, mother-daughter relationships, rukun bertetangga, bahkan LANGUAGE & TRANSLATION DISCOURSE I LOVE YOU KAK Z. emina adalah aku aku adalah emina #asbunholic.
I do have to put trigger warnings for non-graphic discussions on sexual assault & semi-graphic suicidal ideation. these discussions though were done very tastefully and I applaud kak ziggy for that. on another less serious note, thank you kak z for confirming abel is a december capricorn sun. next please confirm is he a pisces venus? he has to be.
kalau masih ragu baca ini, don’t be deterred by the ferganivalis breakup — it’s honestly such a small part of the story. please semuanya baca ya huhuhu buku terbaik 2026 #IZIINNN. I love you ferganivalis… salam Your mother wouldn’t approve of how my mother raised me but I do I finally do ☝🏻
baca ini rasanya comforting banget, walau ini masih first-read (pretty sure bakal sering reread buku ini). rasanya kayak lagi menjalani hari-hari biasa dengan orang-orang favorit dalam hidup. apakah ada hal besar yang terjadi dan mengguncang plot? nggak juga, tapi memang daya tariknya adalah di interaksi para tokoh dan cara mereka menavigasi perasaan mereka dalam setiap kejadian. heartwarmiiiing banget ngeliat mereka bener-bener saling sayang dan saling peduli dengan satu sama lain.
emina yang whimsical dan narasinya yang ngalor-ngidul ini menghibur banget. kadang garing, kadang bikin mikir, but it sure made me laugh a lot. walau dibawakan dengan ringan, banyak part dalam buku ini yang emang penting untuk dibahas. mulai dari yang emang berkaitan erat sama plotnya, seperti hubungan antar setiap individu adalah sesuatu yang unik dan gak perlu dikotak-kotakkan ke dalam definisi yang terlalu sederhana, sampe sentilan soal misoginisme dalam kehidupan sehari-hari.
intinya suka bangetttt!! kalo dibikin kelanjutan cerita mereka lagi dan lagi dan lagi juga saya bakal baca terus dan terus dan terus