Jam sembilan pagi, kebaya, dan ruangan yang penuh pepat. … Ada pengantin gugup, tamu-tamu bersemangat; dan rumah tua di tengah-tengah Jakarta menjadi saksi terciptanya keluarga baru.
5 tahun sejak pertama bertemu sudah berlalu. Bulan Januari ini, ada anak yang kabur, diary yang dibongkar, rahasia yang dibagi, dan pernikahan. Sekali lagi menelusuri kota dalam ingatan, kali ini Emina mengunjungi tempat-tempat lama di tengah kemacetan, di bawah matahari, berdampingan dengan kenangan sendiri.
Satu kata untuk Jakarta Selintas Aram: 𝘩𝘦𝘢𝘳𝘵𝘸𝘢𝘳𝘮𝘪𝘯𝘨!
Aku punya ekspektasi yang cukup besar mengingat aku sangat jatuh cinta dengan buku 𝘱𝘳𝘦𝘲𝘶𝘦𝘭-nya alias Jakarta Sebelum Pagi.
Namun, Jakarta Selintas Aram memberikan pengalaman berbeda dari buku sebelumnya, meski bercerita melalui tokoh yang sama, seperti mencoba menyentuh bagian-bagian tersembunyi di dalam diri yang belum terselesaikan. Buku ini memberikan pembenaran dan jaminan kalau tidak apa-apa untuk bernafas sejenak, tidak apa-apa untuk menjadi diri sendiri, tidak apa-apa untuk memproses semua yang terjadi pelan-pelan dan semua tidak harus terjawab sekarang. Bagiku, pengalaman membaca kali ini seperti dipersilakan untuk merasakan hal-hal yang selama ini terabaikan dan menjadi manusia seutuhnya.
Setiap tokoh diberikan kesempatan untuk berbicara dan mendengarkan. Mereka juga saling memberikan arti bagi satu sama lain. Rasanya, tiap tokoh memang tercipta untuk satu sama lain, sebagai anak-orang tua, sahabat, rekan kerja, cucu-kakek, cucu-nenek, orang asing menjelma keluarga, dsb. Banyak sekali ungkapan tokoh yang jujur, menenangkan sekaligus mampu memvalidasi perasaan siapa saja yang selama ini tidak diberikan ruang untuk merasa. Aku cinta banget sama Rumah Panti Jompo dan seisinya!
Karakter tokoh di buku ini mengalami pengembangan karakter yang baik. Mereka berpikir, berefleksi, tidak lagi menghindar dan membiarkan diri mereka masing-masing mengakui kesalahan sembari saling "memeluk" dan menguatkan bagi satu sama lain.
Anehnya, meski diawali dengan perpisahan, isi dari buku ini justru kehangatan dan kebersamaan. Bagaimana setiap tokoh dengan masing-masing karakter uniknya bukan saling bersebrangan tapi justru melengkapi satu sama lain bahkan mampu mengingatkan satu sama lain untuk bisa menerima dan menyayangi diri sendiri.
Alur cerita terbilang bergerak cukup lambat, tapi mahfum, karena memang seharusnya begitu, Emina sebagai tokoh utama di buku ini sedang beristirahat dan me-redefinisikan banyak hal di dalam hidupnya. Ia mencoba mengenali luka-lukanya bersama orang tersayang, pelan-pelan. Jadi, 𝘵𝘢𝘬𝘦𝘴 𝘵𝘪𝘮𝘦, dan gak apa-apa karena gak membuat bosan.
Humor Emina di buku ini sungguh lucu, jujur lebih lucu dari buku sebelumnya, haha. Namun, ucapannya yang melanglang buana random-nya, membuatku sebagai pembaca harus menajamkan fokus dan beberapa kali harus mengingat kembali apa poin dari narasi yang ingin disampaikan. Butuh pembiasaan dan tentunya waktu untuk terbiasa, tapi jujur, terasa 𝘨𝘰𝘰𝘧𝘺 sekali kalau sudah "masuk" ke dalam perangkap ke-random-an Emina.
Aku pengen bilang terima kasih sama buku ini, beneran. 𝘖𝘯𝘦 𝘵𝘩𝘪𝘯𝘨 𝘪 𝘬𝘯𝘰𝘸, buku ini buat diriku gak memaksakan dirinya untuk cepet-cepet buat keputusan, cepet-cepet gak sedih, cepet-cepet harus tau mau ngapain.
𝘚epanjang membaca-nya, aku merasa dimengerti, merasa sangat aman, dilindungi, diterima dan gak dihakimi.
𝘐𝘵 𝘵𝘦𝘭𝘭𝘴 𝘺𝘰𝘶 𝘵𝘩𝘢𝘵, kamu valid kok buat merasakan itu semua, jangan mengecilkan perasaan dan pengalamanmu sendiri; kamu juga gak perlu jadi siapa-siapa karena jadi diri kamu sendiri bukan kesalahan yang harus disesali.
Seperti pulang, itu perasaan yang lekat selama membaca buku ini.
Seneng banget bisa ketemu lagi sama Emina (my professional yapper) di JSA, setelah sebelumnya dibuat jatuh cinta sama kerandomannya di JSP. Jujur, waktu tau kalau JSP akan ada sequelnya, aku punya ekspektasi yang cukup tinggi, dan untungnya, semua terbayarkan setelah selesai baca novelnya.
Yang dikangenin dari Emina tuh, narasi ngelantur dia, di mana sebenarnya, kalau meleng dikit, kita akan lupa sebenarnya dia lagi bahas apa. Cuma, berhubung aku (kadang) sama ngelanturnya kayak dia, jadi ngga sulit untuk menyimak apa inti pembahasannya. Sampai sekarang masih agak ngga nyangka sih, ternyata selera humorku sama Emina cocok banget, dia makin lucu di sini toloooooongggggggg aku sayang banget sama Emina.
Tapi meskipun di sini Emina lucu bangetttt, karena hobi ngelanturnya dia, aku merasa di sini dia keliatan wise bangettt, dan ada beberapa bagian juga yang memperlihatkan sisi rapuhnya dia—which is membuat aku ikutan mellow. Aku ikut sedih waktu dia cerita tentang Ibunya, juga tentang kebingungan dia soal perasaannya.
Tapi untungnya Emina punya para penghuni Rumah Jompo (favoriteku tetap Pak Meneer), jadi semua perasaannya divalidasi dan bikin aku seperti diingatkan kembali kalau ngga ada kriteria yang harus dipenuhi untuk merasa sedih, kita tuh berhak sedih, meskipun atas keputusan yang kita buat sendiri. Juga untuk tidak pernah mengecilkan apa yang kita rasain.
Bersama buku ini aku juga ikut belajar kalau, ngga apa-apa kok mengambil waktu rehat untuk mencari tahu, ngga apa-apa kalau memang masih bingung, kalau semuanya itu butuh proses, dan ngga semua masalah harus cepat-cepat ketemu solusinya, karena kita ngga sedang dikejar apa-apa. Pelan-pelan saja, kalau kata semua orang di novel ini (dan Tantri Kotak).
Meskipun diawali dengan perpisahan —jujur aku kayak anak yang orang tuanya cerai waktu mereka putus— tapi aku merasa hangat ketika baca keseluruhan ceritanya, karena kadang memang suatu hubungan itu ngga perlu dilabeli, cukup kita saling peduli dan saling sayang aja, ngga perlu juga ada dokumen yang mengikat, yang penting adalah perasaan kita masing-masing. Dan semua karakter di sini memenuhi kriteria itu.
I'm def craving to have an Abel and Emina kind of relationship. I love how their thing develop in their own way, saya juga dapat banyak pelajaran dari bagaimana Emina menjalani hidup, (additional; I love her whimsy).
I LOVEEE SUJU SO MUCH, I love how Ziggy represents so many people in her book.
While reading this, I lost my focus a lot, jadi harus baca beberapa bagian berulang-ulang supaya sadar ini lagi bagian apa sih, lagi ngomongin apa sih, lagi ngomongin siapa sih. My bad wkwk.
And I hope Ziggy write an entire book about Emina and Abel only. (karena di buku ini fokusnya ke Keluarga Para Jompo kan ya...)
Intinya, this book is heartwarming, I love it. Thanks Ziggy <3
Aku lebih suka buku Jakarta Selintas Aram ini karena Emina lebih terbuka sama apa yang dia pikirkan dan rasakan. Di buku ini, interaksi antar karakternya ada banyak. Topik yang dibahas juga jadi lebih banyak. Dari perubahan status hubungan Emina san Abel, Suki yang merasa stuck di tempat, dairy Ayah Emina, hubungan Nissa dengan tetangganya, pengaruh perilaku orang tua kepada anak, hubungan Nin dan Pak Meneer, diskriminasi yang dirasakan oleh perempuan di tempat kerja dan bagaimana hal itu bisa mempengaruhi diri sendiri orang sekitar, dan masih banyak lagi.
Kalau di buku pertama poin utamanya adalah di surat misterius, di buku ini, adalah diary Ayahnya Emina. Menurut aku, buku ini rasanya hangat. Lebih hangat dari sebelumnya. Bukunya juga menyuguhkan kompleksitas perasaan manusia. Emina merupakan salah satu karakter paling kompleks tentang perasaannya. Tapi, untungnya, di buku ini, Emina lebih straightforward tentang perasaan dan pikirannya. Sebenarnya, aku masih ngerti gak ngerti dengan alasan kenapa Emina meminta putus. Hipotesisnya adalah kalau Emina bisa saja aroace, atau, ya, sekedar commitment issues aja, bisa juga karena, kemungkinan, Emina ADHD, yang bisa menyebabkan seseoang susah untuk berkomitmen. Kan. Perasaan manusia ribet banget. Jadi, dengan ini, aku berharap akan ada buku ketiga. 😭🥹🙏🏻 overall, a 6 stars read from me!
Siapa sangka di awal tahun ini aku bisa "pecah telor" menyelesaikan satu buku bacaan. Tapi ya gimana, this sequel is so addicting—at least for me. Hehe.
Seperti yang tertera di sampulnya, buku ini adalah babak baru dari Jakarta Sebelum Pagi. Kalau kita flashback sedikit, buku sebelumnya menceritakan pertemuan Emina, Abel, Suki, dan beberapa tokoh pendukung lainnya. Everything was only on the surface.
On the other hand, Jakarta Selintas Aram has much more depth. Gak hanya fokus pada dua karakter utama, kita juga diajak mengenal lebih dekat latar belakang karakter pendukung lainnya.
Emina dan Abel dengan dinamika hubungan mereka dan masa lalu; Nissa, Pak Nissa—sorry banget sampai lupa namanya, HAHA; Aram dengan urusan keluarga dan tetangganya; Suki dengan konflik internal dan eksternalnya; hingga Para Jompo dengan, ya adalah uruan mereka. Terkesan rame banget, ya? Tapi Ziggy bisa menjabarkan semua itu dengan porsi yang pas di setiap babnya. Gak ada yang terasa memaksa untuk diperhatikan, atau luput dari perhatianku sebagai pembaca. Semuanya pas, aku suka banget.
Kalau dari segi cerita, I LOVE IT SO MUCH! Semua narasi tersusun rapi—you know what I mean? Walaupun karakternya banyak, aku tetap paham siapa yang sedang diceritakan. Everyone has their own charm, dan karakternya sangat konsisten dari awal sampai akhir. I have to point out how Ziggy builds everyone’s character development so beautifully; it gave me a sigh of relief after finishing it.
Oh, an honorable mention untuk Suju alias Subhan Junior, HAHA! Karakter ini lucu banget. Kok bisa ya kepikiran memasukkan karakter seperti Suju ke dalam cerita? Suju Suju ini gak bikin cerita makin "sumpek," kehadirannya malah bikin makin seru. Mungkin aku agak bias ya, soalnya aku suka banget seri novel Ziggy yang satu ini.
A right portion of laughter, sadness, hope, and everything nice. Just the right book to start the new year.
Membaca Jakarta Selintas Aram membawa perasaan nostalgik tersendiri. Latar waktu di bukunya empat tahun kemudian setelah Jakarta Sebelum Pagi. Kalau di JSP, pembaca di ajak keliling Jakarta sebelum pagi merekah, di JSA pembaca diajak keliling Jakarta sebelum malam bertandang alias sore-sore setelah pulang kerja.
Karakter-karakternya masih dengan Emina, Abel, Suki, Nissa, Nin, Datuk, Pak Meneer lalu Pak Nissa (suami Nissa) dan Suju (Subhan Junior).
Bukan Kak Ziggy sepertinya kalau tidak ada sesuatu yang unik dari bukunya. 23 bab di buku ini judulnya semua ada kata 'tahu'-nya. Lucu banget. Lalu setiap babnya dibuka dengan satu ilustrasi yang mewakilkan latar tempat atau cerita yang berada di dalamnya.
Pembahasan di buku ini terfokus pada hubungan yang usai, hubungan yang dimulai, tentang keluarga, tentang keputusan-keputusan yang banyak dipertimbangkan.
Keluarga Emina menjadi sorot utama dari cerita. Perihal ibu dan ayahnyaㅡcatatan harian sang ayah yang lucu sekali. Suka sekali karena ceritanya hangat. Banyak kutipan yang tentu saja berasa dipeluk, relate dan nyeleneh. 😂😭
Kutipan lain yang kusuka:
"tapi mungkin beberapa orang memang lebih baik berada dalam hubungan tertentu. Hanya karena kalian saling sayang, bukan berarti kalian harus terikat."
"ada kebiasaan yang terbentuk di dunia ini, yang membuat kita berpikir bahwa merasa adalah hal yang buruk. Kita diberi tahu bahwa melibatkan perasaan dalam berbagai hal adalah langkah yang salah, tanda kelemahan... kita terlalu terbiasa, sampai-sampai, dalam huhungan pun dianggap ada yang kalah dan menang."
"Saya rasa, mengingat bahwa pernah ada orang yang sangat menyayangimu, dan menyadari bahwa kamu bisa sangat menyayangi orang, adalah hal yang bagus."
Lalu, Pak Meneer:
"saya tidak akan pernah menyindir kecepatan bacamu. Membaca bukan perlombaan. Seberapa cepat, seberapa banyak, seberapa mudah kamu beralih ke buku berikutnyaㅡitu ada di luar kegiatanmu. Pikirkan saja bahan bacaanmu, bukan orang-orang di luar bukumu."
Gatau mau komen apalagi, ini sequel yang worth to read bener!! 😆💪🏻 karena ngobatin kangen sama Abel dan Emina. Mereka berdua masih sama tapi udah berkembang lebih baik☝🏻 Aku sangat menikmati plot yang disuguhi kak Ziggy, banyak banget pesan yang disampaikan secara halus melalui pemikiran dan percakapan si Emina yang absurd itu, mulai dari tentang relationship lalu hubungan orangtua dan anak sampai pada akhirnya bahas juga soal korban s*xual harrasment. Semuanya itu terangkum dalam kisah absurd nan kocaknya Emina, aku bener-bener terhanyut sama ceritanya yang emang POV si Emina ya jadi segala macem pemikiran kocak dia tuh tersampaikan!🤏🏻 Buatku, plotnya okay banget and it’s beyond your typical romance story!
Alurnya gunain alur maju dengan beberapa flashback lewat dialog tokohnya dan flow alurnya dari awal sampai akhir enak banget ngalirnya👍🏻 walau memang ada beberapa parts aku rasa agak bosen dikit cuma secara keseluruhan, aku suka sama pace bukunya yang pas banget! Gak cepet dan gak lambat juga, mantep deh!✨ And then, narasinya as always khasnya kak Ziggy! Absurd, puitis dan penuh makna tersirat tapi tetap dengan gaya bahasa yang lugas walau memang gak bisa dimengerti sekali baca tapi tetap menyenangkan buat dibaca xixixi🤭 love it! Mungkin berat di telling-nya karena ini POV orang pertama jadi lebih banyak dijelaskan daripada diperlihatkan.
Tokoh dan penokohannya aku suka, perkembangan karakter mereka keliatan dan aku suka dengan perubahan demi perubahan yang dialami Emina maupun Abel jadi mereka keliatan lebih dewasa dibandingin di buku pertamanya✌🏻 Terus di samping Emina dan Abel, ada tokoh-tokoh pendukung seperti Nissa, Suki, Datuk, Pak Meener, Nin dan masih banyak lagi yang unik dan sangat memberi warna ke cerita ini jadi selama baca, aku happy dengan kehadiran mereka! Bikin seru aja gitu ceritanya dan banyak celutukan mereka yang related juga, suka deh sama penokohannya!
Lastly, banyak pelajaran yang bisa diambil dari JSA ini. Salah satunya, cinta gak selalu datang dari status pacaran atau pernikahan melainkan bisa lewat persahabatan dan kepedulian yang justru bertahan lebih lama daripada janji💛
Overall, it’s a great fiction and as always, kak Ziggy berhasil bikin aku jatuh hati sama ceritanya lagi so, aku highly recommended this book buat yang suka cerita-ceritanya kak Ziggy dan juga yang udah baca Jakarta Sebelum Pagi!✨
if JSP talks a lot about loneliness and how each character deals with their own grief, then JSA feels like their healing and acceptance process. the story pace is slower and lighter, yet the conversations are still filled with deep meanings.
menurut gue, gaada character yang useless atau asal taro aja di sini sih, every character has their own charm and a well-written character development.
terusss kalo di JSP emina is pictured as someone yg absurd, nyeleneh, and has weird thinking process, DISINI DIA LEBIH ABSURD DAN LAWAK LG WKAKAKA but it’s also balanced with her wise nature gitu. she’s open-hearted, a good listener, and always tries her best to become everyone’s safe haven, even though she’s also the one who needs it the most di sini.
ALSO ABEEELLL MY LOVE, in this book, he’s even wiser dan lebih stable. despite how different his personality are compared to Emina dan semua limitationsnya, he still manages to be such a good partner by always being there for her and truly listening to her. jujur gw kecintaan sm mereka pls menikah demi gwe.
overall, gue sukaaa bgt bgt, baca ini tuh kayak nostalgia dan happy karena bisa ketemu sama semua characters di JSP lagi, pls baca they’re all so loveable!!! I also personally feel this book feels like a warm hug I didn’t know I needed gitu, gue nangis moengil pas baca krn kayak bbrp lines BENERAN RADA KENA DI GUA. intinya i love emina, abel, dan semua oraaang di buku ini.
3.5/5 bintang! membaca Jakarta Selintas Aram menghangatkan hati kembali setelah reuni dengan karakter-karakter tersayang yang masih unik, heboh, bikin ketawa tapi juga bikin nangis. kalau di Jakarta Sebelum Pagi kita diperlihatkan bagaimana Emina dan Abel menemukan satu sama lain, di Jakarta Selintas Aram kita diperlihatkan bagaimana perpisahan mereka membawa penerimaan baru terhadap perasaan yang dimiliki pada satu sama lain. mengharukan juga melihat sisi rapuh dan bijak Emina di buku ini.
menurutku hal-hal di atas cukup merepresentasikan sudut pandang baru dari Jakarta Selintas Aram, tapi aku merasa plot-nya masih bergulir dengan cara yang serupa dengan Jakarta Sebelum Pagi. hal ini sempat membuatku bertanya-tanya akan motivasi sesungguhnya dari cerita ini, karena di beberapa bab fokus dari tujuan utamanya cukup teralihkan, dan aku sempat tertipu sosok berkebaya encim di sampul itu Emina... hehe...
Overall, Jakarta Selintas Aram adalah buku yang hangat untuk dibaca di awal tahun. seperti judulnya, kita tetap diajak berjalan-jalan menyusuri Jakarta, tapi juga mengingatkan kita tentang arti rumah dan keluarga. Cerita yang diawali dengan perpisahan, tapi malah mampu mengeksplorasi lebih dalam kerumitan perasaan dan hubungan Emina dan Abel, ditambah drama-drama kecil (maupun besar) karakter lainnya seperti Pak Meneer, Nin, Suki, Suju, dan lainnya, sekali lagi menunjukan kepintaran Ziggy mengemas isu yang cukup berat dengan komedi dan drama sehari-hari, serta diskusi panjang tentang babi.
This entire review has been hidden because of spoilers.
pas baca buku ini jadi merasa kalau ini beneran kayak kebalikannya Jakarta Sebelum Pagi. kalau pas baca JSP, entah mengapa merasa kalau latarnya tuh banyakan di malam hari karena midnight excursion dalam membaca jejak-jejak Pak Meneer, kalau di Jakarta Selintas Aram ini kayak bagian terangnya karena ada noontide jaunting!
setelah eminabel pacaran selama 4 tahun (CMIIW ya guys), akhirnya mereka harus putus. WALAU JUJUR GUE SEDIH BANGET, tapi siapa sangka justru malah banyak banget crumbs-nya mereka yang lucu dan menggemaskan padahal HTS-an (jangan ditiru!!). ditambah, jokesnya Emina tuh jadi makin lucu sumpah kayak AOKWOWKOWK iya lagi (kata gue kk ziggy emang udah cocok jadi pelawak).
buku ini juga ringaaaann banget dan tiap bab ada ilustrasinya (so happy). lebih fokus membahas tentang latar belakang karakter yang ada di universe ini, kayak Nin, Suki, Nissa, Pak Nissa, dan Suju (new character unlocked). tapi gak boong deh, abis baca buku ini, the urge to having someone to talk to is getting higher!! seru banget rasanya kalau yapping kita bisa didengerin sama orang.
tapi kayak ADA SEDIHNYA juga hiks (bukan waktu eminabel putus) (walau IYA). sedihnya itu karena masih banyak orang yang merasa gak layak untuk showing up their feelings just because it's not a big deal for everyone. padahal kan yang tau hal itu besar atau kecil kan kita bukan orang lain. jadi semua perasaan itu valid, gak peduli besar atau kecil bagi orang lain.
UDAH GITU AJA YAPPINGNYA. kalau mau baca ini harus baca JSP dulu yaaahh.
Lagi-lagi 5 bintang untuk buku kedua dari Jakarta Sebelum Pagi ini. Terkesima bagaimana Ziggy bisa merangkum persoalan-persoalan berat dan menjadi bahasan ringan namun tidak gampang dilewatkan begitu saja. Penyajian melewati karakter Emina memang menjadi salah satu alasan mengapa persoalan berat itu menjadi lebih ringan dan fun untuk dikulik sehingga saat membaca, daripada disentil maupun diobati dengan siraman alkohol, lebih terasa seperti dipeluk dan diberikan teh hangat setelah terguncang-guncang di tandu selama perjalanan lapangan-UKS.
Tidak begitu banyak adventure jalan-jalan dalam babak baru ini karena Emina yg harus bekerja (terlalu realistis💔😭🫵🏼). Pun begitu, tidak semua memori harus dilakukan dengan jalan-jalan keliling Jakarta maupun dunia. Kadang memang ada hanya dengan menggeram bersama Datuk di teras.
aku sedih banget udah selesai baca buku ini. sedih banget banget banget. rasanya kayak gak rela pisah sama emina dan semuanya. tolong aku patah hati….. i feel very connected to the characters as if they were alive. huhuhuuuuuhuhu emina tuh effortlessly funny, smart, kind, and i love the way her mind works. i adore her. ih sumpah ya aku mau dong yang kayak abel juga…? yang kayak suki… kayak nissa… datuk, nin, pak meneer, AND SUJU!!! and aram! i love them so much to the point that it hurts badly. TAPI YAUDAHLAHYAAHH TERIMA KASIH UNTUK KNOWLEDGE PER-TAHU-AN & PER-BABI-AN (di JSP) aku jadi sangat bahagia
i wouldve cried if i read this on my high school year…… full of comfort…… setipe sama tatbilb3…… sumpah rasanya kayak dipeluk dan ditenangin dan dibuat yakin kalau semuanya bakal baik-baik aja
banyak kalimat yang aku suka dari buku ini cuman aku ga tandain supaya jika suatu hari nanti aku butuh untuk membaca kalimat itu, aku bisa melintasi setiap halaman dari buku ini lagi dan merasa disayang setiap membalik lembarannya
i will put this is first and jakarta sebelum pagi for the second. makasih udah ngasih tau kalo untuk pelan-pelan di saat dunia bekerja begitu cepat saat ini.
Baca Jakarta Selintas Aram right after I rereadJakarta Sebelum Pagi. Dan ... aaaaaAaa, aku dihantam mixed feelings berkepanjangan.
Sebagai sekuel JSP, Jakarta Selintas Aram terasa familiar, tapi ceritanya bener-bener beda. Ada dinamika hubungan Emina-Abel yang berubah, life crisis Suki, eksplorasi masa lalu dan mempertanyakan masa depan kehidupan Emina, terus banyak lagiii. Kompleks. Tokohnya juga makin banyak, dan mereka semua punya peranan yang on point. Menurutku, satu kata yang bisa menggambarkan buku ini adalah: Hidup. Buku ini benar-benar hidup.
Hal yang baru kusadari waktu baca Jakarta Selintas Aram adalah tokoh-tokoh di buku ini tuh diverse banget, dalam hal usia, pemikiran, pekerjaan, juga latar belakang ras dan bahasa. Rasanya kayak ngebaca banyak manusia dari satu sudut pandang (Emina) yang (thankfully) open minded, jadi there's no judgement dan justru malah "ngajak" belajar memahami gimana orang-orang bisa dealing sama masalah mereka yang beda-beda pula. Eksplorasi tokohnya mantep banget, Mbak Ziggy!
Oh, soal familiar ... Emina masih suka yapping di kepalanya dan yapping sama orang lain. Terus, kalau di JSP alur ceritanya didorong oleh surat-surat Pak Meneer, kalau di JSA ini didorong sama buku harian bapaknya Emina. Gemas! Banyak banget yang kerasa familiar: tulisan, jalan-jalan, teh, bunga, rumah Para Jompo. Familiar tapi kerasa lebih rame, lebih hidup, lebih berisik.
Buatku, buku ini heartwarming (sebagaimana ulasan-ulasan orang lain–aku setuju), yet heartbreaking. Gak tau, ya, kayak SEDIH AJA GITU HUHU. The way Emina making jokes about something sad (khususon soal hubungannya sama Abel), sampai the way she's grieving tuh se-ngena itu. Jokes-nya tetep bikin aku ketawa, anyway. Ah, SEDIH AH POKOKNYA.
Buku yang bittersweet. Aku mau baca buku ini lagi kapan-kapan, soalnya comforting (walaupun tetep sedih). JSP dan JSA tuh sampulnya colorful tapi isinya mostly soal grieving, ya (baru sadar).
Tambahan: Emina tuh bener-bener konsisten deh sama train of thoughts-nya. Selama baca ini tuh aku jadi mikir, apakah Emina menggambarkan penulis, yakni Mbak Ziggy itu sendiri? Ada aja gitu yang kepikiran. Lucuuu tapi keren juga shshshsh
Aku suka mikir kira-kira apa sih hal lain yang bisa bikin orang putus selain hubungan yang sudah jelas toxic atau mungkin ada perbedaan latar belakang atau jalan hidup. Jujur aku pas baca JSA senang banget, karena merasa akhirnya bisa ngelihat perspektif lain dari orang yang putus hubungan romantis, tapi masih saling menyayangi. Ini aneh tapi menurut aku buku ini beneran break up yang well executed (bingung jelasinnya).
Senang banget akhirnya bisa kembali ke dunia Emina & Abel lagi. Ditambah sekarang ada Suju yang lucu banget. Enjoy banget baca latar belakangnya Emina dan kenapa dia bisa jadi Emina yang kita kenal sekarang. Kayak apa ya, aku senang aja Emina dan Abel kayak punya kesempatan untuk berkembang di ruang masing-masing. Menurutku, JSA ini walau temanya tentang break up, tapi selama baca bukunya ngerasa kayak ngelihat cahaya matahari di atas air; hangat, lembut, dan tenang. Kalau bisa deskripsikan dengan lagu, buku ini beneran mengingatkan aku sama lagu I Wish You Love by Laufey.
Sayangnya, aku berharap di buku ini lebih dibahas banyak terkait hubungan Emina dan Ibunya, karena jujur aku intrigued banget sama bagian di mana Nissa bilang "...Dan I get it, kok. Bapak-Bapak biasanya marah-marah, kasar, et cetera, jadi gampang di call out. Mothers break their children in stealthier way. They're like closeted villains." Jujur aku selama ini jarang membaca buku yang membahas hubungan aneh yang dialami Ibu dan anak, makanya aku berharap kita bisa explore lebih di JSA. Tapi mengenal ayah Emina juga seru sih, soalnya duo Bapak dan anak ini mirip banget.
Sebenarnya masih banyak aspek lain yang aku suka dari JSA, tapi kalau ditulis semua kayaknya bisa jadi 1000 kata reviewnya dan jujur bingung juga harus mengartikulasinya kayak gimana.
Secara keseluruhan, aku lebih juga JSA dibandingkan JSP. Baca JSA jadi bikin pengen baca JSP lagi sih. Pokoknya suka banget sama JSA.
Kalau temen-temen nyari buku bacaan tipis yang hangat, lucu dan in some way bikin terenyuh, saya highly recommended banget untuk baca buku ini. Tapi sebelum itu, bisa ga kita baca Jakarta Selintas Aram tapi belum baca Jakarta Sebelum Pagi?
Jawabannya; 60% bisa. Cuma saya sarankan untuk membaca Jakarta Sebelum Pagi dulu sebelum ke buku ini, karena ada beberapa penjelasan yang bakal kita langsung nyanmbung kalau udah baca buku pertamanya. Contohnya; latar belakang Abel, Emina (ratu babi) dan Nissa. Tapk kalau misal keburu pengen baca yang ini aja langsung, ga masalah. Buku ini bisa nge-cover sebagian besar pertanyaan ga langsung tentang kisah-kisah di buku pertama.
Balik ke Jakarta Selintas Aram. Buku ini hangat banget, i am not joked. Ga hangat yang kalo di pegang trus ga dingin gitu (Kepribadian Emina nular lama lama). Tapi isinya. Bagaimana Emina memutuskan untuk putus dengan Abel tapi setelah itu mereka in some way malah lebih dekat dibanding pas pacaran. Gimana saya belajar kalau punya perasaan itu valid, perasaan apapun itu, termasuk perasaan yang kita ga tau namanya. Saya juga belajar tips n trik secara ga langsung bagaimana menjadi pendengar yang baik seperti Emina. Dan Emina, once again, saya suka banget. She is the kind of orang yang selalu mikir dan ceplas ceplos. Dan buku ini lucu karena bercerita dari sudut pandang Emina yang selalu aja ada asbun iseng dan tingkah lucunya.
Buku ini juga ngomong soal babi, anyway. Info aja. Di awal-awal halaman malah. Dan satu highlight, Emina kecil yang diceritain di diary yang ditulis Ayahnya asli lucu banget. Saya jadi berharap ada buku khusus (another book) yang ambil cerita tentang Emina kecil. It is kinda funny btw kalau beneran ada.
Sekuel selalu mendebarkan, terutama kalau buku pertamanya adalah buku kesukaanmu nomor wahid. Cerita yang diakhiri dengan menyenangkan mendadak bisa berubah di sekuelnya.
Waktu tahu kalau Emina dan Abel putus di JSP 2 aku ketawa histeris karena 1.) 5 tahun lalu, Ziggy membalas refleksi pembacaanku untuk JSP setelah 5 tahun kelahirannya dan bilang kalau dia buat sekuel untuk kisah ini, Emina dan Abel sudah enggak bersama—which means, with the sequel announcement, she really DID THAT; 2.) Itu ide yang menyenangkan dan bisa membuka jalan bagi SECOND CHANCE ROMANCE!; 3.) Aku kurang pintar menanggapi berita buruk. Menjelang buku ini terbit, aku mulai gelisah karena ternyata aku sangat peduli dengan ferganivalis sebagai pasangan 3
Aku banyak berhenti pas baca ini—ini pembacaan pertama, jadi review ini mungkin bisa berubah sewaktu-waktu; aku tulis ini begitu selesai baca—soalnya bukunya LUCU dan aku banyak nangis selama 5 jam aku baca.
Kalau JSP sangat lantang soal kesepian dan kegelisahan, JSA menawarkan pelukan dan penerimaan. I think, JSP was hopeful—although very sad because it talks more about how the characters deal with grief, but JSA is ... even better. Di buku ini juga membicarakan perpisahan (I mean it's literally about a break up LMAO) dan bagaimana menerima dan berdamai dengan itu. JSA banyak membahas soal bentuk hubungan, since it's ferganivalis' whole deal.
Guys sorry ternyata nyampe sini rada mandek karena malah balik sesenggukan mikirin mereka lagi (not in a sad way) #INTINYADEH PLEASE BACA JSPU (Jakarta Sebelum Pagi Universe) alias JSP & JSA (sy akan kembali review beneran kapan-kapan)
OMG. aku semakin suka sm eminem yapper 😆🤝🏻 aku baca jsa ini agak lumayan lama dibanding jsp krn jadwal sekolah yg padeett 🥲 jd beberapa bagian harus diulang (ga fokus) buat ngerti lg bahas apa 😓
yuyur agak sedih eminem dan babi rusa (abel) breakup 🥺💔 dan masih agak bingung kenapa tiba’ minta putus walau dia bilang she’s not happy? yg selalu rencanain pergi’annya duluan. ky kenapa ngga diomongin dan diperbaiki? atau eminem ini ada commitment issues? soalnya dia ngga mau juga nikah kan. yah apapun itu mungkin yg terbaik (masih sedih) ya sudahlah, i trust eminem bahwa mungkin ga semua cinta itu harus didasari dengan relationship (?) tp aku suka gimana emina jd lebih terbuka dan langsung bilang sm apa yg dia rasain di jsa ini. GOODJOB EMINEM!
ey tapi halaman demi halaman, interaksi abel si babi rusa dan eminem jd seperti biasanya lg! MALAH agak deg’an ya krn ky udah putus tp… ttp ada romantisnya secuil 🤏🏻💃🏻
kalau jsp penelusurannya lebih ke misteri, jsa ini lebih HEARTWARMING. penelusuran diary ayah eminem yg ternyata SEBELAS DUA BELAS BANGET SM ANAKNYA 😭🏅kocak, lucu, yapping final boss 😅🫵🏻
aku suka penggambaran interaksi semua karakter disini dan gimana struggle masing’ karakter yg tersampaikan dengan baik dan relatable dengan kehidupan sehari’ 🙂↕️
DAN ilustrasi di buku, covernya, BOOKMARKNYA (aku dapet eminem) JUGA magnet eminem wortel SANGAT LUCU LUCU 🪆🫶🏻😵💫
OH yeah, happy new life untuk pasangan jompo yg baru🤭👌🏻
Buku yang sangat nyaman untuk dibaca. Meski awalnya kita udah disajikan sebuah hubungan yang berakhir, namun hal ini jadi gerbang buat aku sebagai orang dewasa melihat banyaknya bentuk hubungan. Bahwa cinta tidak selalu harus aku dan kamu bersatu lalu menikah. Keluarga adalah keterikatan emosional yang lebih jauh dan lebih dalam dari itu.
Melalui JSA, Ziggy menyajikan begitu banyak bentuk hubungan. Bercerita tentang kehilangan dan penerimaan. Membuat aku berpikir bahwa manusia sejatinya hanya ingin bahagia, namun prosesnya justru seringkali terbentur "kenormalan sosial" yang mengharuskan kita begini-begitu.
Semakin akhir, ada bittersweet truth yang harus diterima Emina lumayan bikin aku shocked. Karena selama di Jakarta Sebelum Pagi, karakter Emina dibangun konsisten sebagai perempuan ceria yang punya cara bertutur yang unik. Namun di JSA, kita diajak menggali darimana karakter ini berasal dan seperti apa pandangan Emina terhadap kedua mendiang orang tuanya, sesuatu yang cukup tidak kusangka, tapi sangat mungkin mengingat sesuatu yang terang selalu punya bayangan yang gelap.
Pengembangan karakter Abel di sini juga sangat mantap! Progresnya terasa sulit tapi mudah selama kita punya lingkungan sepositif Rumah Para Jompo.
suka banget sukasukasuka. I love this more than I love JSP which is saying something.
I went in with no expectations — cuma tau premise-nya abelemina (or, as I like to call them, ferganivalis) putus, tapi joke’s on kak ziggy karena I love second chance romance. I wasn’t expecting (hah katanya gaada ekspektasi) a commentary on grief, life choices, mother-daughter relationships, rukun bertetangga, bahkan LANGUAGE & TRANSLATION DISCOURSE I LOVE YOU KAK Z. emina adalah aku aku adalah emina #asbunholic.
I do have to put trigger warnings for non-graphic discussions on sexual assault & semi-graphic suicidal ideation. these discussions though were done very tastefully and I applaud kak ziggy for that. on another less serious note, thank you kak z for confirming abel is a december capricorn sun. next please confirm is he a pisces venus? he has to be.
kalau masih ragu baca ini, don’t be deterred by the ferganivalis breakup — it’s honestly such a small part of the story. please semuanya baca ya huhuhu buku terbaik 2026 #IZIINNN. I love you ferganivalis… salam Your mother wouldn’t approve of how my mother raised me but I do I finally do ☝🏻
baca ini rasanya comforting banget, walau ini masih first-read (pretty sure bakal sering reread buku ini). rasanya kayak lagi menjalani hari-hari biasa dengan orang-orang favorit dalam hidup. apakah ada hal besar yang terjadi dan mengguncang plot? nggak juga, tapi memang daya tariknya adalah di interaksi para tokoh dan cara mereka menavigasi perasaan mereka dalam setiap kejadian. heartwarmiiiing banget ngeliat mereka bener-bener saling sayang dan saling peduli dengan satu sama lain.
emina yang whimsical dan narasinya yang ngalor-ngidul ini menghibur banget. kadang garing, kadang bikin mikir, but it sure made me laugh a lot. walau dibawakan dengan ringan, banyak part dalam buku ini yang emang penting untuk dibahas. mulai dari yang emang berkaitan erat sama plotnya, seperti hubungan antar setiap individu adalah sesuatu yang unik dan gak perlu dikotak-kotakkan ke dalam definisi yang terlalu sederhana, sampe sentilan soal misoginisme dalam kehidupan sehari-hari.
intinya suka bangetttt!! kalo dibikin kelanjutan cerita mereka lagi dan lagi dan lagi juga saya bakal baca terus dan terus dan terus
Kepala Emina berisik, dan sesaat aku lupa akan hal itu sejak baca buku pertamanya beberapa tahun lalu. Jumpy, dari satu ke yang lain sekaligus dalam intonasi yang beda-beda. Tapi itu juga uniknya Emina.
Cerita putusnya Emina-Abel engga sesedih yang aku takutkan sebelumnya. Tampak realistis, di mana mereka merefleksikan perasaan masing-masing dari hubungannya—mendengar jauh ke dalam, alih-alih memenuhi standar dan ekspektasi khalayak. Tapi karena ceritanya memasukkan banyak orang, kesannya memang engga selalu fokus ke mereka berdua. Kayak menonton kehidupan satu lingkungan keluarga itu secara garis besar dan aku cuma audiens yang duduk manis memandangi mereka semua.
I still find comfort in this book, though, especially in the conversations the characters exchange with each other. Some resonate with what I feel, thus they become a hug I didn't know I needed.
Funny enough, right after I had closed this book, I already missed reading Ziggy's work. :')
Ziggy once said that this is one of her happiest book and I doubted it. Now that I finished it, safe to say that it is one of MY happiest book. Suka banget sama cara Ziggy nulis tentang duka di sini. Duka ditinggal meninggal atau habis putus. Sedihnya gak dieksploitasi, tapi dibikin sangat manusiawi. Karakter Emina selalu bikin mikir dia nih terlalu fiksi, tapi di waktu yang sama juga kok sangat manusia nyata ya????
Tiap baca beberapa halaman selalu ada momen nangisnya. Sekuel yang sempurna dan right at its portion. Senenggggg banget karena semua karakter di sini ‘diberdayakan’, dikenalin lebih dalam sama tiap-tiap karakternya, sama dinamika hidupnya.
Suka banget mengenal sisi Emina yang berduka. Emina yang ternyata perasaannya sangat kompleks. Kalo JSP mungkin lebih banyak eksplor soal Abel (yang mana sudah sangat kompleks), di sekuel ini dibikin memahami Emina lewat hal-hal yang mungkin gak disebut di JSP. That is why this is a very much needed and the perfect sequel.
Jakarta Selintas Aram feels like a warm hug with a quiet ache in it; bittersweet, heartwarming, and deeply gentle. Seeing more of Emina’s inner world and Abel’s slow growth made me feel like i was their friend, growing alongside them. I do have to admit, though, Emina’s mind can feel overwhelmingly busy and she gets distracted easily, even during serious conversations which was a bit frustrating at times. But her character makes this book unique. What i truly love about this book is Abel and Emina’s relationship, it’s not dramatic, not rushed and not built around society’s standards but it’s safe, gentle and simply about the two of them choosing each other in their own way
Thank you, Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie for this beautiful story!!!
reading this book felt like being wrapped in a warm hug! beneran super hangat <3
beda sama JSP, buku ini betulan fokus sama orang-orang di sekitar Emina dan Emina-nya sendiri. family isn't just about being blood-related, but something built through understanding, support, connection, and shared feelings❤️ SEMUA karakter di buku ini adalah stars of the show, everyone has their own story, their own presence, and their own little world. beneran berasa jadi semakin kenal sama semuanya.
Jujur ini buku gado-gado banget isinya. Kita langsung pertemu perpisahan di awal, terus memagami alasan dari perpisahan, dan diakhiri dengan sebuah pernikahan dan penerimaan dari pasangan yang berbeda. How beautiful. Rasanya di buku ini makin mengenal Emina dan betapa her random tought it has meaning for someone. Like, they're means for each other. So, puas sekali dengan pernikahan diakhir because Nin really deserve Pak Mener (loh ha heh) baca aja udah. Soalnya emang, ini buku tuh gado-gado banget. 良かった!! 🤭
LATE REVIEW tP better late than never..... Aku sangat suka Ziggy, Ziggy sangat aku suka, suka aku Ziggy sangat.
Did you know? Apakah kamu tahu? Kalaukalaukalau maybe..... I love Emina wholeheartedly! Mungkin skarang aku akanmendukung ideologi Eminaisme, I love how she thinks, she gave me answers that's actually always right INFRONTOFME. Gua paham perasaan Emina terhadap romansa DAN I love her obsession with tahu. Friends told me that gua selalu makin plenger sekian persen pasca gue membaca buku Ziggy maybe YES tp siapa peduli... Who cares... Ta-who cares..... Hahahaha.....
🥹🥹🥹🥹🥹🥹🥹🥹🥹🥹🥹🥹🥹 bery bery heartwarming book. I LOOOOOOOOVVVVVEEEEEEEEEE EVERYONE emina, abel, nin, nissa, pak nissa, aram, pak meneer, datuk, suju &&&&&& SUKI!!!!!!!!!!!!!!! suki bob era pasti cantik banget ya…… mau liat…….. jujur, pas baca blurbnya kirain putus berarti abel dan emina udh gabakal komunikasi lagi TAPI KOK………. cium-cium??? terus buku ini kaya mgomong “gak apa-apa, pelan-pelan aja ya.” setiap page. DUH AKU PENGEN IKUT TINGGAL DI RUMAH PARA JOMPO
reading this book feels like being warmly welcomed into a family, dan pas selesai baca, aku sedih banget karna i might not get to meet them again for who knows how long.
this book is so different from JSP (in a good way). i felt relieved because it explains everything, introduces everyone, and shows us everything—so we’re not left wondering. (bonus gaya pacaran abel emina yang kadang bikin iri)
aku bakal kangen my babirusa abel, and my favorite yapper, emina.