Satu kata untuk Jakarta Selintas Aram: 𝘩𝘦𝘢𝘳𝘵𝘸𝘢𝘳𝘮𝘪𝘯𝘨!
Aku punya ekspektasi yang cukup besar mengingat aku sangat jatuh cinta dengan buku 𝘱𝘳𝘦𝘲𝘶𝘦𝘭-nya alias Jakarta Sebelum Pagi.
Namun, Jakarta Selintas Aram memberikan pengalaman berbeda dari buku sebelumnya, meski bercerita melalui tokoh yang sama, seperti mencoba menyentuh bagian-bagian tersembunyi di dalam diri yang belum terselesaikan.
Buku ini memberikan pembenaran dan jaminan kalau tidak apa-apa untuk bernafas sejenak, tidak apa-apa untuk menjadi diri sendiri, tidak apa-apa untuk memproses semua yang terjadi pelan-pelan dan semua tidak harus terjawab sekarang.
Bagiku, pengalaman membaca kali ini seperti dipersilakan untuk merasakan hal-hal yang selama ini terabaikan dan menjadi manusia seutuhnya.
Setiap tokoh diberikan kesempatan untuk berbicara dan mendengarkan. Mereka juga saling memberikan arti bagi satu sama lain. Rasanya, tiap tokoh memang tercipta untuk satu sama lain, sebagai anak-orang tua, sahabat, rekan kerja, cucu-kakek, cucu-nenek, orang asing menjelma keluarga, dsb. Banyak sekali ungkapan tokoh yang jujur, menenangkan sekaligus mampu memvalidasi perasaan siapa saja yang selama ini tidak diberikan ruang untuk merasa. Aku cinta banget sama Rumah Panti Jompo dan seisinya!
Karakter tokoh di buku ini mengalami pengembangan karakter yang baik. Mereka berpikir, berefleksi, tidak lagi menghindar dan membiarkan diri mereka masing-masing mengakui kesalahan sembari saling "memeluk" dan menguatkan bagi satu sama lain.
Anehnya, meski diawali dengan perpisahan, isi dari buku ini justru kehangatan dan kebersamaan. Bagaimana setiap tokoh dengan masing-masing karakter uniknya bukan saling bersebrangan tapi justru melengkapi satu sama lain bahkan mampu mengingatkan satu sama lain untuk bisa menerima dan menyayangi diri sendiri.
𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘭𝘪𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘢𝘱𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘱𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢𝘪 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘮𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶, begitulah buku ini berbicara.
Alur cerita terbilang bergerak cukup lambat, tapi mahfum, karena memang seharusnya begitu, Emina sebagai tokoh utama di buku ini sedang beristirahat dan me-redefinisikan banyak hal di dalam hidupnya. Ia mencoba mengenali luka-lukanya bersama orang tersayang, pelan-pelan. Jadi, 𝘵𝘢𝘬𝘦𝘴 𝘵𝘪𝘮𝘦, dan gak apa-apa karena gak membuat bosan.
Humor Emina di buku ini sungguh lucu, jujur lebih lucu dari buku sebelumnya, haha. Namun, ucapannya yang melanglang buana random-nya, membuatku sebagai pembaca harus menajamkan fokus dan beberapa kali harus mengingat kembali apa poin dari narasi yang ingin disampaikan. Butuh pembiasaan dan tentunya waktu untuk terbiasa, tapi jujur, terasa 𝘨𝘰𝘰𝘧𝘺 sekali kalau sudah "masuk" ke dalam perangkap ke-random-an Emina.
Aku pengen bilang terima kasih sama buku ini, beneran. 𝘖𝘯𝘦 𝘵𝘩𝘪𝘯𝘨 𝘪 𝘬𝘯𝘰𝘸, buku ini buat diriku gak memaksakan dirinya untuk cepet-cepet buat keputusan, cepet-cepet gak sedih, cepet-cepet harus tau mau ngapain.
𝘚epanjang membaca-nya, aku merasa dimengerti, merasa sangat aman, dilindungi, diterima dan gak dihakimi.
𝘐𝘵 𝘵𝘦𝘭𝘭𝘴 𝘺𝘰𝘶 𝘵𝘩𝘢𝘵, kamu valid kok buat merasakan itu semua, jangan mengecilkan perasaan dan pengalamanmu sendiri; kamu juga gak perlu jadi siapa-siapa karena jadi diri kamu sendiri bukan kesalahan yang harus disesali.
Seperti pulang, itu perasaan yang lekat selama membaca buku ini.
𝘚𝘰 𝘪 𝘨𝘢𝘷𝘦 𝘪𝘵, 4 𝘴𝘵𝘢𝘳𝘴!