Di tengah sakaratulmautnya, Harak, seekor anjing kukutan seorang buruh tani menyaksikan seluruh kehidupannya diputar kembali. Meski singkat, walau hanya menjadi seekor anjing, ternyata kehidupan dunia memang semenggoda itu. Ingatan-ingatan tentang pesantren Bahrul Ulum, santri-santri, dan Mama Aleh yang sakti; kenangan-kenangan bekerja bersama Madsahdi di kebun-kebun Haji Adung atau kenangan tentang betapa sejuknya mengaso sore-sore di pematang sawah setelah lelah bekerja dan bercinta; serta kesaksiannya tentang sungguh manusia bisa jatuh teramat jauh dari pohon keluarga membuatnya menyadari satu hal: bahwa hidup yang berkah adalah hidup yang dipenuhi welas asih.
Repetirif, penuh ceramah, berasa sepeti wikipedia pada beberapa bagian, lalu tentang isu 65 yang diselipkan begitu saja terasa tidak masuk akal di kepala.
Ridwan Malik menulis novel Ajengan Anjing dengan alur yang sangat sporadis. Sedari bab awal, ia menarasikan ceritanya dari sudut pandang seekor anjing bernama Harak, yang dikisahkan telah mati dan mengenang apa-apa saja yang terjadi sebelum ia mati. Plot ceritanya pun bergulir mundur hingga menguak silsilah dari tiga generasi ajengan atau kiai di kampung Kawung Luwuk.
“Anjing itu mungkin keturunan terakhir dari ajag,” kenang Mama Aleh suatu hari. Mama Aleh adalah ajengan pertama yang mendedikasikan hidupnya untuk memelihara anjing. Padahal Mama Aleh tumbuh di lingkungan konservatif di mana mayoritas masyarakat masih percaya dengan ilmu hitam dan hal-hal mistis lainnya. Awalnya, mereka keberatan dengan kebiasaan tak lazim Mama Aleh yang sering bergaul dengan anjing piaraannya. Namun, karena Mama Aleh adalah ajengan yang sangat dihormati, dan orang-orang percaya bahwa ia bisa terbang hanya dengan modal solawat, maka mereka pun memaklumi.
Sifat dan gerak laku Mama Aleh diturunkan kepada putranya, Ajengan Oyong, yang sejak kecil sudah setia sebagai muslim yang taat. Selayaknya Mama Aleh, ia juga percaya bahwa solawat dapat mendatangkan banyak manfaat. “Sesempurna-sempurnanya akhlak ialah akhlak Kanjeng Nabi. Teladanilah sikapnya, tirulah akhlaknya, bacalah solawat untuknya,” begitu biasa Ajengan Oyong berkata. Meski tak memelihara anjing pribadi, Ajengan Oyong tak pernah mempermasalahkan kehadiran banyak anjing di kampungnya. Bahkan ketika ia membangun pesantren Bahrul Ulum, anjing-anjing tetap hidup damai di sekitar seolah-olah sedang turut masantren.
Ajengan Oyong dikaruniai empat putra dari dua kali pernikahannya. Namun, satu-satunya harapan tersisa yang dianggap pantas menggantikan dan meneruskan tradisi serta apa-apa yang telah dimulai oleh Ajengan Oyong, ialah putra bungsunya, Ceng Aom. Sejak dipimpin oleh Ceng Aom, Bahrul Ulum tiba-tiba berubah total seiring dengan dampak modernitas dan dimulainya era internet masuk pesantren. Namun, yang paling kentara adalah kenyataan bahwa Ceng Aom menolak keras kehadiran anjing di kampungnya karena ia pikir para anjing hanya membawa mudarat, tak lain dan tak bukan karena mereka dicap hewan yang membawa najis.
Sebagai orang yang lahir dan tumbuh besar di perkampungan, saya jadi ingat kalau sedari kecil, anak-anak kampung memang selalu diajarkan untuk menjauhi anjing. Larangan semacam itu seolah-olah menimbulkan paradigma kalau manusia tak seharusnya berteman dengan anjing, setidaknya itu yang saya asumsikan sampai sekarang. Jadi, saya pikir kisah mengharukan semacam Hachikō sangat mustahil terjadi di kampung kami.
Dalam terminologi Islam, anjing memang termasuk dalam kategori najis. Namun, sering kali kita luput mempertanyakan bahwa selalu ada makna di balik penciptaan setiap makhluk di muka bumi, termasuk pula anjing. Apalagi, di sisi lain kita tahu kalau kehadiran anjing justru memiliki banyak kemanfaatan; mulai dari menjadi penjaga rumah, membantu polisi melacak jejak kriminal, hingga yang paling mutakhir—dijadikan aktor film.
Saya jadi teringat dua film pendek karya sutradara Indonesia yang bercerita tentang anjing. Pertama, Anjing-Anjing Menyerbu Kuburan (2022) karya Eden Junjung yang diadaptasi dari cerpen berjudul sama karangan Kuntowijoyo. Seperti cerpennya, film ini setia dengan narasi kelamnya tentang manusia yang bertindak seperti anjing liar; jika anjing mengais bangkai untuk mencari makan, manusia di sini mengais bangkai untuk mendapatkan harta. Akhir filmnya seakan mengejawantahkan metafora dari idiom “menggali kuburan sendiri.”
Film berikutnya adalah Wongasu (2022) karya Aco Tenriyagelli, yang terinspirasi dari cerpen berjudul Legenda Wongasu karangan Seno Gumira Ajidarma. Film ini menyoroti dampak karmapala bagi pemburu anjing dari sudut pandang yang lebih miris daripada cerpennya. Ialah Sukab, seorang bapak rumah tangga yang terpaksa berburu anjing liar—yang tak terdaftar sebagai peliharaan manusia—demi memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya; seorang istri dan dua orang anak. Kisah Sukab inilah yang melatarbelakangi terciptanya legenda Wongasu. Semua manusia mendadak menjadi anjing, dampak dari krisis moneter yang berkepanjangan.
Lewat kacamata satire, anjing dalam dua cerita tadi tak selalu dipandang sebagai binatang menjijikkan, sebab dalam gambarannya lebih menjijikkan manusia yang sering kali masih terkungkung dalam laku sadisme terhadap makhluk lain. Sebetulnya, pesan itu jugalah yang ingin disampaikan oleh Ridwan Malik dalam Ajengan Anjing. Ia menolak narasi bahwa sosok anjing bertentangan dengan sikap keislaman manusia, karena sebaliknya, kehadiran anjing justru bisa jadi alasan untuk memperkuat keimanan seseorang. Sebab, ketika anjing dicap kotor dan najis, justru dari sanalah kita bisa menguji bagaimana cara kita memandang kesucian dan kasih.
novel ini ialah ceramah yang paling panjang dan menyentuh yang pernah kudengar.
sebuah ceramah, dari seekor anjing.
pernah gak sih mbayangin bahwa segala ciptaan Allah itu berdzikir untukNya dan bahwa anjingpun yang kadang dianggap hina pula bersolawat untuk kanjeng nabi?
manusia kerap terjebak dalam anggapan dirinya adalah makhluk "yang paling" novel ini menampar segala hal yang bersinggungan dengan itu dan menjadikan saya kembali merenungkan tentang apa itu iman & dosa.
seperti kata Guru Dayat, iman dan dosa hanya Allah yang tahu
Senang sekali membaca novel ini. Novel ini bikin saya ingat kampung saya yang 100% NU, dan "mengagungkan" kyai sangat wajar. Namun, novel ini bikin saya sadar harta yang tidak diwariskan oleh aliran darah adalah keilmuan dan kebijaksanaan. Dan novel ini berpusar pada bagaimana generasi kedua "mengubah" wajah pesantren. Juga bagaimana sebenarnya makna "keterbukaan" sebuah lingkungan konservatif? Apakah Aom membawa modernitas dengan memasukkan internet dan membentengi pesantren? Apakah demikian wujud agama modern? Atau sejatinya yang dilakukan ayahnya Ajengan Oyong yang terbuka pada banyak hal termasuk kehadiran anjing ini yang membuat agama langgeng dan berwibawa?
Lagi soal bagaimana ajaran agama menyikapi makna ekslusivitas dan modernitas. Suka dengan beberapa diksi yang sangat santri NU: dawam misalnya...
Penceritaan dari POV anjing sampai menguak kondisi lingkungan kampung Kawung Luwuk ternyata cukup menarik. Bahkan di tarik juga dari generasi2 sebelumnya pada zaman pergantian era dari Orde Lama ke Orde Baru. 🐕
Disini juga banyak sekali logika mistik diterapkan yg mana aku ga kaget2 banget. Bahkan di era generasi yg sudah dikatakan lumayan teknologi pun, cerita fiksi ini begitu nyata nya terjadi di berbagai kampung dan desa2. 😌
Ajengan Anjing karya Ridwan Malik merupakan novel yang masuk dalam daftar panjang Kusala Sastra Katulistiwa 2025. Bercerita tentang kemelut dan dinamika kehidupan dilingkungan pesantren dan keluarga ajengan (merujuk pada KBBI, ajengan adalah istilah Bahasa Sunda yang berarti orang terkemuka, terutama guru agama islam;kiai) yang dikisahkan melalui sudut pandang seekor anjing bernama Harak. Cerita dibagi menjadi 3 bagian, dimana bagian pertama menceritakan tentang kisah Mama Aleh, seorang ajengan sakti yang hidup berdampingan dengan maraknya praktik ilmu hitam dan juga pendiri sebuah pesantren di Citamiang yang diminta untuk mengamalkan sholawat. Bagian kedua bercerita tentang Ajengan Oyong (anak dari Mama Aleh) yang begitu mencintai sholawat didikan orang tuanya dan tidak melarang anjing untuk hidup berdampingan bersamaan dengan warga, hingga ia mendapatkan julukan Ajengan Anjing. Bagian terakhir menceritakan tentang putra bungsu Ajengan Oyong yaitu Ceng Aom yang begitu mengidami teknologi dapat dijadikan tonggak utama peradaban dalam kehidupan beragama, ia meninggalkan ajaran leluhurnya untuk mencintai sholawat dan juga berdampingan dengan anjing. Alih-alih mendapatkan dukungan, ia justru sedang menanam benih kebencian yang akan ia tuai sendiri dikemudian hari.
Beberapa hal yang saya sukai dari novel ini: 1. Kentalnya dialek sunda yang banyak ditemukan di banyak narasi cerita. Tidak selalu menggunakan bahasa sunda, namun seringkali penulis menggunakan frasa kalimat yang begitu sunda. Hal ini menambah kenikmatan pembaca dalam meresapi cerita yang memang berlatar belakang tanah sunda. 2. Konsep cerita keagamaan yang progresif. Mungkin tidak digambarkan secara gamblang, namun sy menangkap gambaran jelas tentang perbedaan bagaimana agama dianut, dipelajari dan dijalani melalui gambaran 3 kepemimpinan ajengan yang berlainan zaman. 3. Penggunaan sholawat sebagai kuncian dan pegangan hidup. Saya rasa, bukan tanpa alasan penulis memasukan unsur tersebut. Pastinya sudah melewati riset yang panjang dan mendalam. 4. Memberikan sudut pandang lain terkait anjing dan segala najis. Lagi-lagi, penulis dengan cerdasnya menggunakan karakter hewan anjing dalam ceritanya yang begitu kental dengan agama Islam. Sebuah anomali yang menarik karena ternyata penulis juga pastinya melakukan riset karena dalam ceritanya terdapat contoh anjing yang hidup pada zaman nabi dan diganjar surga oleh Allah karena kesalihannya.
Untuk hal-hal lain, adanya beberapa typo masih bisa dimaklumi dan untuk kualitas cetak mungkin kedepannya bisa diperbaiki karena yang saya beli ada sedikit lem yang muncul dihalaman awal buku.
Ceng Aom jadi gambaran ulama atau ahli agama yang menggunakan agama sebagai alat untuk menguntungkan diri sendiri dan memanipulasi umat sampai ga ada yang berani nentang omongannya. Menyebarkan atau ngajarin agama lebih efektif pakai cara yang ramah dan menyenangkan, biar pemeluk agamanya juga ikhlas ngejalanin semua syariat agama. Kalau pemeluk agama dihantui sama ketakutan, yang ada mereka ngejalanin semua perintah agama atas dasar terpaksa, bukan emang panggilan hati.
Tidak semua karya yang sebagian besar narasi memakai gaya bercerita "telling" dan gaya bercerita seperti kisah lisan yang dituturkan tanpa memperdulikan detail itu buruk. Demikianlah kesan awal saya ketika selesai menandaskan novel Ajengan Anjing karya Ridwan Malik ini.
Di sepotong hari di Ubud—kebetulan kala itu kami Emerging UWRF 2025—saya bertanya kenapa diberi judul Ajengan Anjing, atau kalau diterjemahkan menjadi: Kiai Anjing? Jawab Kang Ridwan kurang lebih: "Sebenarnya arti aslinya adalah Ajengan yang memelihara anjing (bukan sebuah umpatan pada Ajengan yang tingkahnya seperti anjing). Tapi dipotong biar lebih estetik. Seperti judul Lelaki Harimau yang punya arti aslinya Lelaki yang di dalam tubuhnya berisi harimau, Eka K." Lantas saya pun mengangguk-ngangguk.
Sebagaimana Kang Ridwan yang suka dengan karya-karya Remy Silado, maka jejak-jejak gaya Remy Silado terpatri di novel debutnya ini, yaitu luwes dalam bertutur dan memasukkan dengan lincah bahasa-bahasa daerah.
Secara naratologi: novel ini menarik karena dikisahkan dari sudut pandang seekor anjing bernama Harak. Dibagi menjadi tiga bab yang masing-masing bab mengisahkan tiap generasi pimpinan pesantren Bahrul Ulum di wilayah Citamiang—sebuah kawasan di mana manusia dan anjing sejak dulu hidup berdampingan. Anjing bernama Harak ini tahu kisah-kisah masa lalu pesantren Bahrul Ulum dari anjing-anjing leluhur yang bercerita padanya.
Menurut saya ini termasuk novel yang punya kritik tajam pada institusi agama. Pada pemimpin agama. Bagaimana perihal agama yang dibawa oleh para pendahulu: Ajengan Mama Aleh dan Ajengan Oyong, bisa memposisikan agama diterima/diakulturasi pada masyarakat sekitar—seperti metode dakwah walisongo—dengan terus mengajarkan ajaran: tak masalah hidup berdampingan dengan anjing. Berbeda dengan agama ketika dibawa oleh generasi setelahnya yakni Ceng Aom yang menghimbau masyarakat untuk tak berdampingan lagi dengan anjing karena anjing binatang najis. Ini lah premis yang dijadikan landasan dalam novel ini.
Ceng Aom yang terpapar ajaran "modernitas" dari pendidikannya di kampus, tentu memberikan perubahan yang positif bagi Citamiang dan pesantren Bahrul Ulum. Tapi, sayangnya, dia yang terpapar ajaran "konservatisme dalam agama" juga menimbulkan polemik—dan ini sangat fatal karena membelakangi leluhur-leluhurnya—atas ceramah-ceramahnya seperti mengusir para anjing atau menghilangkan amalan selawat. Dia tak menerapkan kaidah fiqih seperti yang diamalkan para pemimpin pesantren yaitu "Al Muhafadzah ala al-qadim as-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah."
Sudah itu saja, agar tak spoiler banyak-banyak. Intinya saya sangat mengapresiasi dan merekomendasikan pada teman-teman karya debut Kang Ridwan yang anjing bagusnya ini; yang anjing masuk daftar panjang Kusala Sastra Khatulistiwa 2025; yang anjing menyabet penghargaan Badan Bahasa Kemendikdasmen; yang penulisnya juga .... (saya sensor supaya tak digampar oleh penulisnya kalau bersua) bisa punya kritik setajam ini.
Ajengan Anjing, sebuah judul yang kontras, menusuk, dan menggigit. Dalam bahasa Sunda, “ajengan” merujuk pada ulama, sosok yang diagungkan, pembawa cahaya ilmu dan iman. Namun, “anjing” — kata yang kerap dipandang sebagai simbol kenajisan, kotor, dan hina — menabrak makna itu dengan sengaja. Judul ini bagai tamparan, memaksa kita menatap paradoks kehidupan: antara kesucian yang dielu-elukan dan noda yang disembunyikan.
Ajengan Anjing karya Ridwan Malik adalah novel yang menguji cara pandangku terhadap agama, tradisi, dan perubahan zaman.
Mengambil latar kehidupan pesantren di tanah Sunda, cerita ini disampaikan melalui sudut pandang yang tidak lazim, dari seekor anjing bernama Harak yang membuat jarak reflektif antara aku dan isu yang diangkat menjadi lebih jernih selama membacanya.
Struktur cerita yang dibagi menjadi tiga bagian bukan hanya pembagian generasi, tetapi juga representasi pergeseran nilai. Mama Aleh hadir sebagai figur ajengan dengan kekuatan spiritual yang kental dengan praktik-praktik tradisional.
Diceritakan juga soal Ajengan Oyong menjadi jembatan dimana beliau tetap berakar pada ajaran lama, namun mulai menunjukkan kelenturan dalam memaknai praktik keagamaan, termasuk dalam relasinya dengan anjing yang selama ini distigmakan oleh masyarakat.
Sementara itu, Ceng Aom menjadi simbol disrupsi: generasi yang memprioritaskan rasionalitas dan teknologi, namun kehilangan kedalaman nilai yang diwariskan.
Yang menarik, novel justru memperlihatkan bagaimana agama bisa dijalani dengan cara yang sangat berbeda—dipercaya, dipraktikkan, bahkan “ditinggalkan”.. tergantung siapa yang memegangnya dan di zaman apa ia hidup. Di titik ini, Ajengan Anjing rasanya merupakan bacaan yang cukup progresif.
Secara gaya, penggunaan dialek Sunda yang terselip dalam narasi membuat teksturnya semakin kuat. Tidak selalu hadir dalam bentuk bahasa utuh, tetapi cukup untuk membangun atmosfer lokal yang otentik tanpa mengasingkan pembaca non-Sunda (aku sendiri JaSun, wkwkw). Ini jadi salah satu kekuatan utama novel.
Keputusan menjadikan anjing sebagai elemen sentral juga bukan gimmick saja. Di tengah kuatnya konstruksi najis dalam perspektif keagamaan, kehadiran Harak justru membuka ruang diskusi yang lebih luas lagi, mengensj kemanusiaan, kasih sayang, dan bagaimana manusia memberi makna pada sesuatu yang dianggap “kotor”. Seakan akan tujuannya supaya Novel ini dapat sengaja menempatkan pembaca di wilayah abu-abu dan di situlah refleksi terjadi.
Selesai baca buku Ajengan Anjing karya Ridwan Malik. Bukunya tentang seekor anjing bernama Harak yang sekarat menceritakan semasa hidup dan orang-orang di sekitarnya. Dengan alur maju mundur, kita diajak menyelami dunia Harak, lingkungan pesantren, dan tiga generasi ajengan atau kiai di kampungnya. Semua dari sudut panjang seekor anjing.
Baca buku ini campur aduk, ada sedih, murka, dan lucu. Sedihnya tentu karena dari awal sudah dibeberkan nasib Harak yang sekarat dan persahabatan Harak dengan Mad yang mengharukan. Kemudian murka karena bagaimana ada sosok yang katanya religius malah menyebarkan kebencian. Lucunya ada banyak, cerita orang tua Harak bertemu dan kelakuan warga-warga kampung. Kisah kesaktian Mama Aleh, ajengan sepuh juga seru banget dibaca.
Cuma karakter Harak tentu yang paling mencuri perhatian. Suka sekali gaya berceritanya yang polos namun menggebu-gebu dan antusias. Ditambah banyak dialek sunda dalam buku ini, salah satunya Harak berkata "Berarti akang ini Ijrail?", saya langsung membayangkan seekor anjing ngomong bahasa sunda, jadinya jenaka.
Ide cerita buku ini pintar, selain menggunakan sudut pandang anjing, buku ini membahas "buah bisa saja jatuh sangat jauh dari pohonnya", karena ada karakter kiai yang sangat membumi namun belum tentu keturunannya bisa mirip dengannya. Di buku ini juga banyak ceramah yang menyejukkan, beberapa dari seekor anjing. Jadi pesannya manusia jangan lah merasa paling unggul dan paling suci.
Waspadalah, orang macam ceng Aom ada di sekitar kita, selalu ada.
Buku ini sangat personal bagi saya. Saya orang Garut. Rasanya menyenangkan ketika membaca nama-nama tempat yang saya tahu dan bisa saya bayangkan dalam pikiran saya: nama-nama pesantrennya dan daerah Garut Selatan.
Pemilihan latar Garut Selatan menurut saya sangat tepat. Nilai-nilai keagamaan yang masih sangat kental dipegang oleh mayoritas warga juga di lingkungan tersebut anjing adalah hewan mayoritas yang bisa kita temui kapan dan dimana saja, menunjukkan realita akan kehidupan sosial yang terjadi Garut Selatan.
Tak lupa juga dengan judulnya yang cukup menantang, Ajengan dan Anjing berada dalam satu frasa, yang bisa bikin orang langsung marah kalau enggan baca bukunya lebih lanjut, padahal jauh dari sana, ini buku religi, yang mengingatkan kita untui selalu bersolawat kepada Nabi. Pada bab awal cerita, sudah berhasil ngehook dan sangat sayang kalau harus berhenti di tengah jalan. Nggak lupa juga soal unsur magis yang dikisahkan dengan apik oleh penulis.
Aku harap buku ini semakin dikenal oleh banyak pembaca dari belahan mana pun. Membawa nama Garut menjadi lebih harum. Membawa nama Garut untuk Dunia. Prung tarung, hiji ge maung!
Ajengan Anjing di buku ini kiranya memiliki dua makna. Ajengan pecinta Anjing dan Ajengan Anjing!
Berisi tentang silsilah Ajengan di suatu desa dalam sudut seekor anjing yang menemui ajalnya. Buku ini 75%-nya berisi ceramah, tapi aku merasa ikut tersadar juga wkwkw. Betapa pentingnya solawat dan petuah bahwa kita–manusia–nggak lebih baik dari siapapun, bahkan anjing sekalipun yang liurnya memiliki najis.
Buku ini cukup insightful, memberi pengetahuan tentang ilmu agama dan cerita nabi, tapi nggak membosankan juga. Walaupun di akhir cerita tiba-tiba terungkap sosok Madsahdi yang menurutku nggak penting-penting amat, tapi kalimat terakhir "Sore itu, sebelum kemudian esoknya ia mendapatiku sekarat di depan rumah di atas bangku bambu di samping sapu lidi bikinannya, Madsahdi teramat bahagia atas takdir baiknya" cukup membuatku sedih.
Cocok dibaca pas bulan ramadan. Design covernya cakep banget, tapi kertas covernya gampang luntur dan rusak :)
Tokohnya berbicara serius tentang moral, iman, dan kemunafikan manusia—lalu lima halaman kemudian kita diingatkan bahwa semua itu disampaikan lewat metafora anjing. Seekor. Anjing. Yang entah kenapa lebih masuk akal daripada sebagian tokoh manusia di dunia nyata.
Kalau kamu mencari bacaan yang rapi, lurus, dan sopan—ini bukan itu. Tapi kalau kamu siap ditertawakan sambil diajak refleksi eksistensial ringan dengan gaya ngawur nan cerdas, Ajengan Anjing adalah bacaan yang pas. Nilai plus: setelah baca, kamu akan memandang anjing di jalan dengan sedikit curiga—jangan-jangan dia lebih tercerahkan dari kita.
Mas Ridwan dengan gaya penceritaan yang pelan-pelan dapat memperingatkan pembaca untuk hati-hati dalam menilai. Isi keseluruhan cerita tidak dimuat dengan konflik yang ketara maupun jelas, melainkan konflik yang diam-diam menyapa kesadaran kita, menyentil rak-rak daftar makna kita mengenai moral, identitas, bahkan agama. Refleksi, itulah kata kunci dari buku ini. Buku ini sarat dengan bahasa sunda (Hihi, jelas orang penulisnya dari Garut), mungkin pembaca membutuhkan berselancar di peramban maupun tanya teman kalian yang urang sunda.
Betapa kita manusia sering kali merasa lebih baik dari orang lain, merasa lebih hebat dari binatang, dan merasa lebih punya kuasa atas segalanya. Padahal terkadang, mereka yang paling saleh justru lebih rendah diri dan welas asih pada sesama.
Bisa dibilang, buku ini berisi petuah atau cerita kehidupan yang sangat dekat dengan praktik sehari-hari.
Kisahnya dituturkan dari sudut pandang seekor anjing yang dipelihara dan besar di lingkungan pesantren.
Makanya, ceritanya terbilang unik, sekaligus menyentil (menurut saya), di mana kini banyak muslim yang terlalu fokus akan praktik keislaman, justru mengabaikan pondasi keimanan mereka.
Beberapa kali saya dibuat nyengir, karena saya rasanya seperti dapat siraman rohani dari seekor anjing.
"Bacalah solawat setiap hari. Dawamkanlah setiap saat. Sampai jadi darah jadi daging jadi tulang dalam diri."
Baru kali ini baca dengan tokoh utamanya Anjing. Alurnya maju mundur, gue sampe bikin silsilah keluarganya Ajengan Oyong biar paham wkwk. Seru juga baca dari sudut pandang anjing
This entire review has been hidden because of spoilers.
Ajengan Anjing adalah Mama Aleh adalah seorang kyai kampung yang karib dengan anjing-anjing hingga menganggap mereka tak ubahnya sebagai santri di pondokannya yang turut mendengarkan kalam ilahi dan bersolawat. Yang menarik, kisah dalam novel ini dituturkan lewat kesaksian Harak, anjing kampung yang mati diracun oleh, kuat diduga, pimpinan pondok yang baru, atau cucu Mama Aleh alias Ajengan Anjing itu sendiri.
Garis mulai bertuturnya mirip "Posthumous Memoirs of Bras Cubas", di mana narator orang pertama menceritakan memoarnya dari alam kubur. Harak, yang nyawanya sudah naik seleher, ketemu Malaikat Izrail dan bilang bahwa betapa kelirunya cucu Mama Aleh itu yang ngotot kalau malaikat ogah bertamu ke rumah yang ada kaumnya, kaum anjing. Toh, buktinya, ia dicabut nyawa oleh Malaikat Izrail, sama seperti kaum manusia.
Sebelum nyawanya dicabut itulah, Harak berkisah yang kemudian terbagi jadi 3 bab. Bab 1 tentang kampung dan pesantren dan silsilah ajengan setempat sampai bermuara ke ajengan paling bontot yang bikin gaduh kaum anjing. Bab 2 tentang silsilah anjing kampung yang bermuara pada Harak, dipercaya persilangan antara pribumi dan darah biru kaum anjing yang masih punya pertalian saudara jauh dengan anjingnya Ashabul Kahfi dari tanah Arab sana. Bab 3 tentang kampung dan pesantren yang keos karena kebijakan serta ajaran baru dari ajengan paling bontot bahwa anjing haram total dan solawat, tak terpisahkan dari masyarakat sebagaimana kaum anjing, tidak menjamin apa-apa.
Sayang, tuturan di Bab 1 nggak kerasa "anjing"-nya. Alias, narator seperti lepas dari cerita. Andaikata narator diganti sembarang aki-aki kampung atau hewan melata yang kebetulan melintas, niscaya narasinya tetap sama. Beda dengan Bab 2 dan 3 ketika narator, atau kubu sosial narator alias anjing Harak, berkelindan dalam cerita.
Yang asyik dari novel ini tuh suara si Harak yang kayak cerita-cerita Abu Nawas. Penuh petuah, sok ceramah. Justified menurut saya, krn ya Harak hidup di kampung-pesantren. Dia mimicking para dai, para ajengan. Bukan unintentionally tukang khotbah. Justru, di sini saya pikir, Ridwan lagi menjajal, "bisa nggak ya bikin novel pake suara tukang khotbah, tapi tetep layak dibaca?". Jadinya ya "Ajengan Anjing".
Terus, istilah sunda-specific yang muncul gak cuma obralan, tapi emang penting sebagai penanda sosio-historis kayak "geromolan" untuk menjelaskan gerombolan DI/TII. Itu juga menarik. Belum lagi deskripsi realis lansekap cerita mulai dari penempatan polsek, kolam ikan, kandang, ladang, dan lain-lain.
Andaikata Bab 1 dipangkas, lalu lebih banyak mengulik gimana warga dan anjing mangkel, muntab, dan melawan meski malu-malu dan takut kepada ajengan paling bontot, "Ajengan Anjing" bakal lebih nikmat, saya rasa.
Oh ya, saya baca versi yang republish ya. Ukuran lebih kecil. Sampul lebih nyentrik.