Setelah melahirkan, tak semua ibu merasa serta-merta bahagia. Beberapa justru merasa kehilangan. Seringnya yang hilang adalah waktu tidur, bentuk tubuh, karier, atau bahkan mimpi dan kebebasan. Namun, kehilangan paling sunyi adalah jati diri yang perlahan mengabur di tengah tangis bayi, rumah yang berantakan, dan ekspektasi dari orang-orang sekitar. Buku ini adalah ruang aman untuk semua ibu yang pernah bertanya, “Siapa aku sekarang?”
Kumpulan tulisan ini serupa pelukan hangat dari para ibu yang juga pernah merasa tersesat dan sendirian setelah melahirkan. Melalui catatan personal, pengakuan jujur, dan suara dari banyak ibu lainnya, buku ini ibarat teman di ruang belakang: tempat kita boleh lelah dan melepas topeng, menangis tanpa malu, merasa tak cukup, dan belajar berdamai dengan semua hal yang di luar rencana. Semua perasaan disambut dan dirayakan. Dari tubuh yang berubah hingga mimpi yang tertunda, setiap halaman adalah pengakuan jujur bahwa menjadi ibu tidak selalu tentang bahagia, tapi juga tentang merawat luka. Untukmu yang menangis dalam diam, buku ini ingin berkata, “Kamu cukup. Kamu tidak sendiri.”
Lucia Priandarini lahir dan dibesarkan dalam rumah penuh buku. Setelah lulus dari Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Indonesia, ia sempat menjadi reporter di media gaya hidup, menulis naskah nonfiksi untuk penerbit, serta menulis konten untuk media daring.
Episode Hujan dan 11.11 (Grasindo, 2016) adalah 2 novel pertamanya. Ia menerbitkan buku nonfiksi kesembilannya, Mengejar Ujung Pelangi pada 2020. Pada 2021 ia menerbitkan kumpulan puisi pertamanya, Panduan Sehari-hari Kaum Introver dan Mager (Sastra GPU). Buku ini menjadi nomine buku sastra pilihan Tempo kategori puisi tahun 2021.
Dua Garis Biru (GPU, 2019) adalah kolaborasi ketiganya dengan Gina S. Noer setelah novel adaptasi Film Posesif (2017), dan Dunia Ara, buku anak dari semesta Film Keluarga Cemara (2018).
Ia juga menulis buku nonfiksi Mengejar Ujung Pelangi (TransMedia Pustaka, 2020) dan Ibu Kamu Tidak (Gila) Sendirian (Noura Publishing, 2025).
Kini ia bekerja mendokumentasikan pendampingan komunitas pembatik dan penenun di beberapa daerah. Ia dapat dihubungi melalui surat elektronik: lucia.priandarini@gmail.com, Instagram dan X: @rinilucia.
Ketika buku ini dirilis oleh Mba Rini, mantan kolegaku yang cukup dekat, beberapa sahabat baikku sedang hamil. Yang sebelumnya tidak ada bayangan akan membeli buku ini (karena tidak/belum akan hamil dan melahirkan), jadi mulai berpikir untuk membeli buku ini. Apalagi ketika sahabat-sahabatku bercerita dinamika kehamilan mereka, mereka seringkali merasa kesepian dan butuh teman mengobrol. Tentu ketika aku luang, aku tidak masalah menemani obrolan mereka, tapi tentu aku tidak bisa banyak membicarakan kehamilan dan kelahiran, karena ya simply belum pernah berada di fase itu.
Aku mencoba membeli buku ini. Awalnya aku agak ragu untuk memberikan buku ini pada sahabatku yang sedang hamil. Karena jujur, judul buku ini terasa pesimis - kesannya kehamilan adalah sebuah "beban" besar yang pasti akan membuat para Ibu menjadi gila.
Lalu aku bertanya pada Mba Rini, apakah buku ini cocok untuk aku berikan ke sahabatku yang sedang hamil. Dan Mba Rini menjawab bahwa memang buku ini Ia tulis dan tujukan untuk para Ibu yang sedang mempersiapkan diri. Dalihku, aku takut dengan memberi buku ini, malah discouraging sahabatku yang sedang mempersiapkan diri menjadi Ibu. Yang ternyata malah membuat Mba Rini jadi kepikiran huhuhu maaf! Aku percaya pada Mba Rini, tapi ternyata aku ingin memastikannya sendiri dengan membacanya - karena aku lebih mengenal sahabatku dan sekiranya bisa memperkirakan reaksinya saat membaca buku ini.
Ternyata, alih-alih berisi hal-hal yang spesifik untuk menjadi seorang "Ibu" (memang ada), aku malah menemukan buku ini cocok dibaca untuk semua perempuan yang tidak sedang hamil/melahirkan, bahkan untuk semua orang yang memiliki kesadaran akan hubungannya dengan perempuan. Membaca buku ini seperti berusaha menyelami pengalaman Mamaku (atau bahkan Opungku) ketika mereka hamil, melahirkan, dan merawat anak-anaknya. Aku seperti memeluk kembali luka-lukaku yang (mau tidak mau harus kuakui) berasal dari para caretakerku. Bukan untuk kembali marah ataupun menyalahkan, melainkan berusaha memahami perjalanan mereka yang memang tidak mudah. Buku ini sedikit banyak mengajakku untuk terus berusaha memaafkan trauma itu - dengan lebih sadar. Apalagi aku membaca buku ini di umur ke-30, ketika bisa dibilang, I've done my part already in my 20s.
Semoga buku ini juga bisa membantu para pembaca di luar sana. Terima kasih Mba Rini dan rekan-rekan lainnya telah menuliskannya :)
An advance copy to review for book launching event.
Aku belum jadi ibu, sih... tapi sejujurnya, selepas baca ini, perasaan hormat ke Ibu jadi seperti bertambah. Fase-fase sulit yang dilalui para Ibu dikemas dengan bahasa yang sangat mudah dipahami, rasanya kaya pelukan, kaya, "Enggak apa-apa, kamu enggak sendirian."
Semoga ibu-ibu diluar sana semakin berani menyuarakan apa yang dirasakan, bisa menemukan ruang untuk dirinya sendiri, biar meskipun sudah jadi ibu, identitas dirinya tetap senantiasa melekat pada dirinya.
Buku ini cocok dibaca oleh siapa pun, agar kita bisa memahami bahwa perjalanan menjadi orang tua bukan hanya kesiapan tapi dukungan, empati serta ruang aman bagi siapa pun yang menjalaninya.
Tubuh perempuan adalah alam semesta. Di sana lahir kehidupan. Sy adalah Ibu dari 2 orang anak. Yg pernah mengalami proses melahirkan. Saya pernah merasa kehilangan diri saya. Dulu, buku seperti ini terbatas. Untungnya sy punya beberapa teman psikolog yg mengurai masalah saya. Bayangkan, bagaimana Ibu2 di luar sana berjuang dan mungkin sedang kebingungan dengan dirinya setelah melahirkan. Buku ini seperti oase. Menguraikan sesuatu yg belum bisa diurai dan dianggap tabu. Buku ini wajib dimiliki setiap Ibu baru atau Ibu lama, sebagai pedoman dan rujukan bahwa menjadi Ibu tidak harus sempuran. Buku yg dapat memeluk setiap Ibu yg sedang berjuang. Bacalah, bacalah, bacalah, sampai hatimu penuh.