Jump to ratings and reviews
Rate this book

Bread Roses

Rate this book
Kalau saja di negara ini
Hidup sel-sel telur
Pembunuh patriarki

Mungkin hidup mereka
Akan menjadi sepotong roti
Dan sebatang pohon mawar

54 pages

Published August 1, 2025

Loading...
Loading...

About the author

Levia Ekaputri

1 book2 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
2 (100%)
4 stars
0 (0%)
3 stars
0 (0%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 of 1 review
Profile Image for Adrian Surya.
90 reviews1 follower
Read
April 18, 2026
Apakah anak seorang aparatur negara perlu mencantumkan latar belakang keluarganya sebelum dan saat berkarya agar segalanya serba terbuka sehingga dukungan terhadapnya mampu dipertimbangkan dengan sebaik-baiknya? Entahlah, bisa diperdebatkan, tapi Levia memilih mengakuinya. Mungkin sebab hal tersebut juga datang bersamaan dengan berbagai kemudahan yang—berkaitan langsung ataupun tidak—turut serta menghantarkan karyanya, ataupun bahkan dalam hal yang paling dasar yakni diri si pembuat, hidup.

Meskipun begitu, pengakuan tersebut bisa saja memang perlu dilakukan, apalagi apabila karya yang dibuat (dalam hal ini bahkan pula pemikiran dan laku sang seniman) kini justru berdiri di sisi yang berseberangan. Soalnya tidak lucu bukan jika latar belakang tersebut diketahui malah setelah karya (dan tidak menutup kemungkinan si seniman itu sendiri) dijunjung sebagai inspirasi? Bisa-bisa banyaknya ungkapan kecewa yang terlontar akan berujung pada pembatalan.

Masalahnya, Levia dan Bread Roses justru muncul untuk menentang segala kenyamanan yang sebenarnya lebih mudah untuk dinikmati saja. Tumbuh besar, ia justru menangkap potret negara sebagai rumah sakit yang kian hari kian bobrok, baik dari segi fisik maupun dari segi nonfisik. Sarana-prasarana yang serbaminim ditambah pengelolaan tak acuh membuat nasib pasien-pasien di dalamnya terlunta-lunta.

Pada kesempatan lain bahkan negara sendirilah yang ia pandang sebagai seorang individu dengan tiap unsurnya (penduduk, wilayah, pemerintahan) sebagai organ yang mengalami kegagalan. Pengamatan-pengamatan tersebut lantas muncul dalam bentuk yang mungkin menantang isi perut sebagian orang, sebab Levia mencampuradukkan yang biologis dan medis ke dalam narasi dengan penyampaian yang lugas.
Displaying 1 of 1 review