Kita sedang hidup pada zaman yang absurd. Pada satu sisi, akses informasi terbuka selebar-lebarnya; data, jurnal, penelitian, dan filsafat bisa ditemukan hanya dengan sekali klik. Namun di sisi lain, justru makin banyak orang yang memilih tunduk pada ilusi, pada “kebenaran” yang diproduksi oleh algoritma dan dikemas oleh para badut rohani.
Esai-esai dalam buku ‘Oksimoron: Merawat Ketololan, Merawat Kekonyolan’ ini adalah upaya untuk membongkar absurditas itu. Ia tidak berangkat dari menara gading akademik, melainkan dari jalanan, ruang publik, dan layar gawai yang setiap hari menampilkan tontonan irasionalitas massal. Maka gaya penulisannya tidak kaku: kadang serius, kadang sarkastis, kadang satire, kadang nyolot. Sebab kebenaran tanpa keberanian sering hanya menjadi catatan kaki di perpustakaan.
Di balik satire, sarkasme, ironi, sinisme, hiperbola, litotes, parodi, hingga aforisme, ada pesan serius: literasi, filsafat, dan sains adalah senjata melawan tirani kebodohan. Berpikir kritis bukanlah dosa, meragukan bukanlah aib, dan menertawakan absurditas bukan berarti kehilangan martabat. Justru di sanalah letak kemanusiaan: keberanian untuk berpikir sendiri, tanpa takut dicap sesat, murtad, atau kafir.
Namun, jangan salah paham: buku ini bukan manifesto anarkistis tanpa arah. Ia bukan seruan untuk membakar kitab, meruntuhkan masjid, atau menertawakan iman orang lain semata. Ia adalah ajakan untuk menimbang ulang: apakah keyakinan, norma, dan tradisi yang kita peluk benar-benar hasil pilihan sadar, atau sekadar warisan yang diterima tanpa pernah dipertanyakan? Apakah kita sungguh hidup sebagai manusia merdeka, atau hanya sekadar robot yang menjalankan skrip kuno?
Jika pembaca merasa gerah, marah, atau bahkan ingin menutup buku ini di tengah jalan, itu pertanda baik. Artinya, teks ini berhasil menjalankan fungsi aslinya: menggoyahkan kepastian semu. Filsafat, sains, dan literasi tidak pernah dimaksudkan untuk meninabobokan, melainkan untuk menampar dengan halus, kadang terlalu keras agar kita ingat bahwa kebebasan berpikir adalah hak sekaligus kewajiban.
Akhirnya, buku ini saya persembahkan kepada mereka yang tidak puas hidup di kandang dogma, yang berani mencari padang luas pemikiran, dan yang mencintai sesama manusia tanpa pamrih surga ataupun ancaman neraka. Semoga tulisan-tulisan ini menjadi semacam cermin yang retak, tidak memberi bayangan utuh, tetapi cukup tajam untuk memotong ilusi.
Andi Fitriyanto lahir di Jakarta pada 31 Agustus 1980. Ia menempuh pendidikan di Fakultas Jurnalistik pada salah satu universitas swasta di Jakarta, sebuah latar yang membentuk kepekaannya terhadap bahasa, realitas sosial, dan tanggung jawab intelektual dalam menulis. Dalam perjalanan hidup dan pemikirannya, Andi memilih menanggalkan identitas keagamaan yang pernah melekat padanya, lalu menapaki jalan rasionalitas dengan mengeksplorasi humanisme sebagai pijakan etis dan filosofis, yang kerap ia artikulasikan melalui pendekatan satiris teologis-ideologis kontemporer.
Selain aktif menulis esai-esai reflektif dalam bentuk utas, blog, dan zine, ia juga menorehkan jejak kepenulisan melalui dua buku prosa filsafat yang memadukan pendekatan ilmiah, yakni Antitesis (2019) dan Enigmakrostik (2024), serta satu buku kumpulan cerpen humanis yang membaurkan fiksi, filsafat, dan sains, Inkonfeso (2025). Karya-karyanya dirajut dengan narasi sastrawi yang kontemplatif, mengajak pembaca menyelami tema-tema eksistensial, absurditas hidup, serta pergulatan manusia dalam mencari makna di tengah dunia yang terus berubah. Bagi Andi, menulis bukan sekadar menyampaikan gagasan, melainkan menghadirkan pengalaman berpikir yang hidup di setiap paragraf.
Ketertarikannya pada eksplorasi peradaban dan humanisme tumbuh sebagai kajian multifaset yang kemudian menjadi fokus utama dalam pemikirannya. Melalui tulisan-tulisannya, ia kerap mengajukan kritik tajam terhadap isu-isu sosio-kultural, rigiditas ketuhanan, praktik religiositas yang dogmatis, serta persoalan rasionalitas dan intelektualitas dalam kehidupan modern.
Intensi utama yang senantiasa disisipkan dalam setiap karyanya adalah ajakan untuk menjaga nalar tetap jernih dan merawat ide-ide agar terus hidup, diuji, dan direfleksikan. Dengan konsistensi yang tenang namun berani, Andi mengumandangkan seruan progres yang berlandaskan keilmiahan dan nilai-nilai humanis, sebagai upaya melawan stagnasi berpikir.
Tulisan-tulisan dan buku-bukunya dapat dibaca sebagai bentuk apresiasi sekaligus respek kepada mereka yang, dengan determinasi—baik konsisten maupun sporadis—berani menebar nalar sehat dan menanamkan fondasi berpikir ilmiah, bahkan ketika harus berhadapan dengan alienasi, isolasi, dan diaspora pemikiran.