Jump to ratings and reviews
Rate this book

Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth

Rate this book

196 pages, ebook

First published January 1, 2025

79 people are currently reading
58 people want to read

About the author

Aurélie Moeremans

1 book2 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
145 (60%)
4 stars
76 (31%)
3 stars
19 (7%)
2 stars
1 (<1%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 30 of 99 reviews
Profile Image for Dhilla ۶ৎ.
55 reviews
January 14, 2026
Poor little Aurélie, she must be so scared and confused by everything that has happened to her. It must be very difficult to understand why a girl as young as her could be treated like that, and I can't imagine how hurt her family must be, being separated from their only daughter by that cursed man.

I'm sorry, Aurélie. Back then, we couldn't save you. The media wasn't as aware as it is now about the dangers of child grooming, and even the concept of child grooming itself might not have been very popular in Indonesia in the 2010s. I really wish I could have helped you back then, but what could I do? I was just a little girl in elementary school when all that happened to you. Bobby and the pedophile men who were around you back then were truly despicable. I’m so glad you’ve made peace with your trauma and past wounds. Even sharing all these painful stories shows how strong you are. Thank you for not giving up, thank you for persevering.

You're right, Bobby is a monster. All men like Bobby are monsters. They're not men; they're scared little boys who target little girls because they're too innocent and don't know how the world works, making it so easy for him to control them—control, something he doesn't have in the real world because he's a loser hiding behind the name of God and religion.

I'm so sick of seeing his face still out there trying to make pointless clarifications here and there after your story blew up. You're right, he really likes attention and fame. He really LOVES it when the media and reporters ask him about your past relationship. Why is he even bothering to clarify? He's just proving that everything in Broken Strings is true. Yeah, he's verifying everything he did to you.

From your book, I learned more and more about child grooming and how dangerous its impact is on its victims. I know child grooming is dangerous, but before reading everything from your shoes through this book, my heart was broken. I really couldn't sleep imagining you not being on either side when war broke out around you. I hope that with Broken Strings, people (especially) in Indonesia will stop glorifying relationships between adult men and underage girls because it's horrific, and for all the Bobbys out there, you're sick and need healing!
Profile Image for Hari.
62 reviews7 followers
January 11, 2026
Aku gaakan review banyak karena baca ini perasaan aku campur aduk banget. Marah, kesel, capek, nangis, semua dirasain. Buku ini sejujurnya menambah dosa aku karena selama baca beneran kebanyakan maki-maki si bobby anjg ini ((MAAF))😭😭. Terus ternyata part pelukan sama Jeremie beneran sedih banget aku nangis dikit bacanya😞 ga kebayang jadi Jeremie gimana yang gatau apa apaaaa soal kakaknya disini (atau mungkin tau). Ini nih kayak, kenapa sih cowo tuh nyari cewek harus yang bisa bikin dia merasa besar? Egonya kesentil kah kalo cewek Lo lebih besar dari Lo?
whoever bobby is, may you rot in the deepest pits of hell. Dan untuk Aurelie, semoga hidup kamu selalu didatangkan kebahagiaan. Proud of you sumpah kayak kamu keren banget kakkk i really love your character development a lot💐❤️‍🩹‼️
Profile Image for Sheira Sharma.
133 reviews6 followers
January 12, 2026
"tapi aku cepat belajar, bahwa keadilan bukan jaminan. tanpa
uang, tanpa koneksi, tanpa orang berkuasa di pihakmu, kebenaran bisa lepas begitu saja dari tanganmu."

sebuah memoar tentang aurelie moeremans yang mengalami grooming, manipulasi, kekerasan, sampai pemerasan, diusia yang masih remaja. bacanya perlu kesabaran ekstra, karena membayangkan pelaku yang masih bebas berkeliaran sukses mematik kemarahan. meski ada kebahagiaan dan rasa bangga juga, karena bisa membaca kisah dari penyintas yang sekarang udah punya kenyamanan dan keberanian buat share ke kita para pembaca, secara gratis pula dengan tujuan yang sangat mulia; agar bisa membantu banyak orang diluar sana.

aurelie tau, kita semua tau, bahwa apa yang beliau alami masih sering terjadi. ini gue ga ngomongin secara umum ya, kita ngomongin lingkup kecil kehidupan selebritis ditanah air tercinta ini deh. udah berapa banyak child grooming yang dinormalisasi dan didukung sama pihak-pihak yang seharusnya cukup pintar buat sadar kalau itu kesalahan besar? ini ph raksasa loh dan mirisnya bukan satu ph aja, tapi banyak ph yang dengan kesadaran penuh memasangkan satu aktris minor, sekali lagi, MINOR, dengan pria dewasa yang mirisnya, memang punya hubungan istimewa sama artis minor ini diluar konteks profesional. kalau ph dibalik industri kreatif kita aja melindungi dan kasih ruang buat pedo, nggak ada harapan lagi kecuali kesadaran masyarakat itu sendiri.

setiap kali gue memperdebatkan isu ini di sosial media, ada satu kalimat yang di lempar berulang, "yaudah sih gapapa, toh sama-sama cinta dan mereka keliatan bahagia." kebanyakan dari mereka nggak paham sama poin "minor" dan "dewasa" dan kenapa hubungan ini dilarang. gausah kaget karena pada satu titik, ini jadi semacam "budaya" yang udah ada turun temurun.

"ibuku dulu nikah pas umur 15 tahun sama ayahku yang udah menjelang 30an."

"nenekku dulu masih 14 tahun waktu dijodohin sama kakekku yang udah umur 40."

gue yakin, hal-hal serupa pernah kalian dengar, bahkan rasakan karena berdasarkan pengalaman pribadi. realitanya, dimasyarakat kita itu udah jadi hal biasa sampai banyak orang nggak bisa liat letak kesalahannya di mana. "terus apa salahnya? orangtua gue dulu juga gitu dan mereka tetep langgeng sampai sekarang." langgeng bukan jaminan dari kebahagiaan dan pembenaran dari hal yang emang udah melenceng dari awal.

kenapa orang yang udah dewasa nggak boleh menjalin hubungan sama minor atau anak dibawah umur? buku ini menjawab pertanyaan diatas, terlepas dari kasus dimana ada pasangan serupa yang berakhir bahagia. karena jaminan kebahagiaan dihubungan yang salah dan nggak seimbang kayak gini itu samar, bahkan kalau menurut keyakinan gue pribadi, nggak pernah ada jaminan itu dari awal.

minor itu rentan kena manipulasi karena masih belum kenal diri sendiri, mereka masih penuh kebingungan dan nggak bisa nilai tindakan mereka ini salah atau benar. kalau dibalik proses pengenalan diri itu mereka ketemu sama orang yang salah, kayak aurelie dan di bajingan bobby, hidupnya bakal penuh manipulasi dan susah buat keluar dari jeruji ini. aurelie hebat karena berhasil berjuang sampai akhir, lingkungan keluarga dan pertemanan setelahnya juga mendukung masa penyembuhan.

tapi banyak aurelie kecil diluaran sana yang masih terkurung dalam sangkar, karena nggak tau cara keluar dan lingkungan sekitar menegaskan kalau itu normal. sampai sini mau pakai alasan apa lagi? kalo nggak semua pedo brengsek kayak bobby? ada kok pedo yang baik hati dan tidak sombong, pedo ini pacaran sama minor emang berdasarkan rasa cinta dan peduli, sukarela pula berperan sebagai psikolog pribadi yang senantiasa menemani dan melindungi si minor ini. kalau masih ada yang ngomong gitu, berarti otaknya emang konslet. jadi pedo aja udah salah dan hina, alasan dan perlakuan baik pedo nggak bisa jadi pembenaran atas tindakan yang dari awal emang udah salah.

terus gue mau nyinggung juga soal hukum kita yang stress, ada satu quote dibuku ini yang gue suka karena emang terlampau nyata, "tapi aku cepat belajar, bahwa keadilan bukan jaminan. tanpa
uang, tanpa koneksi, tanpa orang berkuasa di pihakmu, kebenaran bisa lepas begitu saja dari tanganmu." komisi perlindungan anak mana ini liat banyak anak dibawah umur di grooming secara terang-terangan tapi nggak ambil tindakan? dikasus aurelie ini juga sama, ada penyintas lapor dengan bukti yang menurut gue sangat cukup masih dipersulit. emang kocak, kalau hukum negara nggak bisa, kita kasih hukum sosial aja, cancel pelakunya, cancel phnya, cancel brand-brand yang terafiliasi sama dia.

duh jadi panjang gini, karena gue emang udah resah banget soal kasus ini, mangkanya pas liat aurelie buka suara dan angkat isu ini ke media gue lega, akhirnya mulai banyak yang sadar dan ambil tindakan dengan cara angkat pedo-pedo bejat yang masih dikasih panggung sama media yang nggak kalah pejat. gue harap, ini bukan sekedar trend, tapi tradisi yang dilestarikan sampai kiamat nanti. jangan kasih ruang buat pedo di industri yang jadi konsumsi banyak orang, lebih aware juga kalau issue ini terjadi disekitar kalian. karena umur disini bukan sekedar angka, tapi awal dari luka dan trauma.

terimakasih aurelie moeremans atas bukunya yang bisa dibaca gratis oleh kita semua, saya yang bukan siapa-siapa aja bangga sama keberanian kamu. saya harap, kamu dapat banyak kebahagiaan dalam hidup, karena kamu orang baik dan saya percaya orang baik akan dapat sesuatu yang baik juga dalam hidup. saya juga mengapresiasi buku ini yang tergolong sangat baik dalam segi penulisan, kamu punya potensi besar di situ, ditunggu karya-karya selanjutnya dalam format yang sama atau berbeda.
Profile Image for nadinosaurus.
272 reviews5 followers
January 16, 2026
Sulit berkata-kata setelah menyelesaikan memoar ini, hanya nafas panjang yang melegakan dan rasa bangga mengisi dada. Atas keberanian, kekuatan, dan niat luhur Aurelie Moeremans.

Sejak halaman pertama, aku langsung kagum dengan narasi Aurelie yang mengalir, lugas apa adanya, tetapi kata demi kata tidak dirangkai seadanya. Terasa begitu kuat, dalam, sehingga di saat yang sama mampu merangkul dan menyadarkan pembaca yang pernah berada di posisi yang sama, sekaligus membuka mata bagi yang menganggap kerdil kompleksitas grooming. Meskipun triggering, memilukan, dan melelahkan, pembaca tidak bisa berhenti membalik halaman. Hebatnya, tidak ada penulis kedua. Semua ditulis oleh Aurelie sendiri. Sendiri.

Back story di balik penciptaan Broken Strings akhirnya menumpahkan air mataku yang sedari awal sudah kutahan-tahan dengan sesekali menutup buku. Penulis rela berdarah-darah membuka kenangan menyesakkan dan menulisnya kembali atas nama kesadaran tapi ditolak penerbit bahkan editor untuk sekedar merapikan naskahnya karena dianggap "tidak menjanjikan". Tujuan mulia itu seperti tidak ada harganya. Tapi, penulis tetap maju dan menempuh jalannya sendiri. Whatever it takes, yang penting buku ini bisa menolong banyak orang. Baik itu para penyintas pengalaman serupa atau hubungan beracun lainnya. Manipulasi bisa dilancarkan bahkan dalam hubungan yang dihuni oleh orang dewasa yang seumuran dan cukup umur.

"...karena mereka tahu tujuanku bukan uang, melainkan kesadaran. Buku ini bukan sekadar kisah masa lalu, tapi seruan untuk membuka mata dan hati terhadap kekerasan yang sering disembunyikan di balik kata cinta."

Peluk jauh untuk Aurelie Moeremans, terima kasih sudah menulis♡
Profile Image for Louis Natasha.
5 reviews
January 12, 2026
Broken Strings is the first book I finished this year, and it immediately set the tone for an intense reading year. It’s a difficult story to sit with— confronting, heartbreaking, and painfully honest.

What struck me the most is how Aurélie revisits her trauma as she grows older, trying to make sense of something that was senseless from the start. The idea that she waited until she reached the age when Bobby destroyed her simply to understand why… is devastating. Because no matter the context or explanation, what Bobby did was wrong— terribly and irreversibly wrong— and it shattered not only a child, but an entire family.

Amid the heaviness, there is resilience. The way she held onto her faith in God, continued praying, and sought meaning when the “beast” tried to erode her conviction gave the book a quiet strength. Her healing journey reminded me that healing isn’t linear, and that grace often arrives in unexpected places.

This book is emotionally heavy, but also deeply human. Aurélie’s courage to name her wounds and share them with the world is an act of strength. It may comfort and validate others who carry similar stories in silence.

A harrowing read, but an important one for awareness, for empathy, and for hope.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for dinda ☁️.
146 reviews15 followers
January 13, 2026
“The world may not always understand, but the truth stays with you, and that truth is enough.”

Ramainya pembicaraan tentang buku ini di internet sukses memancing rasa penasaran saya. Namun yang benar-benar mengejutkan adalah keputusan Aurélie untuk membagikannya secara gratis lewat Google Drive. Bukan sekadar soal akses, tapi tentang niat. Buku ini digratiskan karena Aurélie ingin mengedukasi, membuka mata lebih banyak orang terhadap realitas yang ia tuliskan.

Meski super singkat dan bisa dibaca dalam sekali duduk, isi buku ini sama sekali tidak ringan. Temanya berat, menusuk, dan kerap memaksa saya berhenti sejenak hanya untuk menarik napas. Ada banyak momen yang terasa terlalu nyata, terlalu dekat, dan terlalu menyakitkan untuk dibaca tanpa jeda. Dari segi penulisan, buku ini terasa lugas, tidak bertele-tele, dengan deskripsi yang singkat namun sangat detail, hingga setiap kejadian terasa hidup dan membekas di kepala.

Keputusan Aurelie untuk mempublikasikan buku ini jelas bukan hal yang mudah. Pasti ada banyak pertimbangan, keberanian, dan mungkin juga ketakutan di baliknya. Semoga pesan yang ingin disampaikan Aurélie lewat buku ini benar-benar sampai ke pembacanya. Dan semoga keberanian seperti ini terus tumbuh, karena suara-suara ini layak untuk didengar.

(Read this on Eng. ver)
Profile Image for Ms.TDA.
241 reviews4 followers
January 13, 2026
“Butuh waktu bertahun-tahun untuk menyadari bahwa cara orang lain memperlakukanku hanyalah cerminan dari bagaimana aku memperlakukan diriku sendiri. Dan bukan akhir dari cerita, melainkan ruang setelahnya, di mana penyembuhan dimulai dan kamu akhirnya menemukan siapa dirimu tanpa rasa takut.”

What a devastating memoir 🤯😮‍💨
Terima kasih sudah berkenan bercerita dan peluk jauh untuk Aurélie2 diluar sana, semoga kalian di kelilingi oleh orang2 baik ya🫂
Profile Image for Pradipa P. Rasidi.
24 reviews9 followers
January 16, 2026
Meski ditulis dengan bahasa yang agak canggung, yang membuat memoar Aurelie berharga adalah betapa dekatnya kekerasan yang dialaminya dengan keseharian banyak orang di luar sana.

Broken Strings adalah memoar tentang kekerasan dan tipudaya dalam hubungan yang dimulai ketika Aurelie berusia 15 tahun: saat ia terpikat oleh Bobby, laki-laki yang dua kali umurnya, lalu dimanipulasi dan dilecehkan selama bertahun-tahun hingga dijebak untuk menikah pada usia 18 dengan dalih agama.

Praktik child grooming Bobby menyita perhatian publik. Namun dalam buku ini Aurelie sebetulnya memaparkan pola lebih umum Bobby dalam melanggengkan hubungan beracun: gaslighting, manipulasi afektif, jebakan agama, dan kontrol melalui rasa bersalah. Grooming adalah satu bab dari buku saku manipulasi pasangan seperti Bobby.

Delapan bab pertama Broken Strings bisa dibaca sebagai cara mengenali kekerasan dalam hubungan dari sudut pandang orang pertama; atau, dalam bahasa Aurelie sendiri: “Lukai, lalu rawat. Sakiti, lalu peluk. Kuasai, lalu sebut itu cinta.” (hlm. 146). Aurelie memperlihatkan cara laki-laki narsistis membujuk dengan mengeksploitasi rasa iba pasangannya, memelihara perasaan manis berbunga-bunga, lalu mencabik-cabiknya. Tuturan mengenai akal bulus Bobby yang berulang dan seakan tak ada habisnya betul-betul membuat pembaca seperti dijebak tak berdaya di hadapan kebusukan manipulatifnya.

Di pertengahan buku (bab 9-14), memoar ini agak tergopoh-gopoh dalam menopang daya tembusnya yang ditujukan untuk "Aurelie lain di luar sana" (hlm.204). Dalam bab-bab ini paparan mengenai kekerasan Bobby menjadi sangat spesifik, sangat teatrikal, dan sangat melelahkan: Aurelie diperlakukan sebagai pembantu, diludahi sambil bermain gitar, sampai dipaksa memenuhi fantasi seksualnya akan perempuan berseragam sekolah. Semua ini mungkin - sangat mungkin - terjadi dalam kekerasan domestik. Tetapi sosok Bobby menyempit: dari arketipe fuckboy keparat yang bisa ditemui lewat aplikasi kencan, menjadi sosok Bobby-si-kunyuk-bertindik. Kekerasannya yang begitu absurd dan dramatis membuat saya membayangkan individu spesifik dan bukan sekadar gambaran "lelaki bajingan". Saya yakin menghadapi Bobby aslinya pasti memang sangat menguras kewarasan, hanya saja saat ketika ditulis menjadi bacaan, adegan-adegannya berspiral begitu panjang.

Barangkali sebagian persoalannya terletak pada penulisan. Aurelie jelas bukan penulis. Banyak kalimat terbaca seperti pola kalimat ChatGPT, seperti "bukan X, tapi Y," atau kontras yang dramatis (misalnya: "ia tidak hanya meludahi wajahku. Ia mengubah kekerasan menjadi pertunjukan," hlm. 128). Edisi Bahasa Indonesianya terasa canggung, seperti terjemahan mentah Bahasa Inggris (misalnya: "Lalu dia masuk, pemeran utama, bintang yang semua orang mengitari," hlm. 95). Memang, menurut catatan Aurelie (hlm. 207), naskah aslinya ditulis dalam Bahasa Inggris lalu diterjemahkan sendiri dalam tiga hari tanpa editor. Walau membuat ritme membaca tersendat, kelemahan ini dapat sangat dimaklumi.

Keterbatasan bahasa, meski begitu, tak membuat memoar ini jadi kering: ledakan emosi dan kenestapaan tetap terasa dalam adegan-adegan yang sangat jujur. Saat Bobby menipu Aurelie untuk melepas pakaian dan mengirim foto tanpa busana, misalnya, kalimat-kalimat patah tulisan Aurelie membuat saya merasa dicekik langsung oleh teror Bobby. Dan, di antara ceceran kalimat a la ChatGPT, dapat dibaca kebencian tulus Aurelie melalui sinisme jenakanya. Misalnya cara Aurelie mendeskripsikan Bobby yang “bermulut seperti dipenuhi kelereng,” (hlm. 97), “kecanduan judi online dan amer murah,” (hlm. 211), atau celetukannya saat ibu Bobby mengaku Aurelie memohon untuk menikah dengan Bobby: "Ya kali. Bahkan kalau yang kulamar itu John Mayer pun, aku tidak akan pernah memohon seperti itu." (hlm. 195). Celetukan-celetukan itu seperti tinju-tinju kecil yang membuat cengkraman Bobby mejadi sedikit lebih longgar.

Ketika akhirnya sampai ke bab tentang lepasnya Aurelie dari jeratan Bobby, saya merasakan semacam kelegaan. Membaca buku ini, seperti Aurelie ingatkan, memang butuh usaha dan niat tersendiri. Penutup buku mengingatkan bahwa ini bukan sekadar kisah individu: ada banyak Aurelie lain - dan Bobby lain - di luar sana. Buku ini mungkin bukan memoar yang paling tertata, tetapi ia jujur, invasif, dan menyentak. Yang membuatnya penting adalah kemampuan memoar ini menempatkan kekerasan dalam hubungan sebagai struktur keseharian, sebagai cara mengenali penjahat bajingan seperti Bobby dan menyeret mereka ke sorotan.

Agaknya ironis, bila saat memoar ini terbit, media kembali menjadikan mereka sebagai tontonan, mereduksi kekerasan menjadi hiburan publik; seperti dulu media menjadikan kisah Aurelie sebagai tontonan, hanya saja kini dengan nada simpati alih-alih cercaan.
Profile Image for Missfit.
67 reviews2 followers
January 14, 2026
Tampa versi perempuan? Lolita versi aktris? Sewaktu saya mampir ke akun IG Aurélie dan coba download bukunya, itu murni karena penasaran. Saya enggak sedang mencoba buat menghubungkan siapa yang siapa. Wong, terakhir nonton sinetron aja waktu masih remaja alay yang iseng nonton cerita tentang serigala dan love interest-nya yang konon berdarah suci. Biasanya, cerita seperti ini saya hindari; enggak tega, dan enggak yakin gimana harus review sebuah memoar. Satu-satunya buku memoar yang saya baca adalah Ugly karya Constance Briscoe, dan itu sudah lama.

‎Meski Aurélie dengan baik hati telah memberi trigger warning, isi dari Broken Strings tetap saja berat dan menekan. Buku ini gelap. Buku ini mengerikan dalam kejujurannya. Meski ditulis oleh dirinya yang lebih tua, Aurélie tidak terasa seperti orang dewasa yang berusaha meminta simpati—dia berhasil tampil apa adanya. Di bawah 250 halaman, dia menceritakan dengan detail yang nyaris terlalu tajam segala bentuk penganiayaan yang terpikirkan: SA, gaslighting, animal abuse, physical abuse, dan daftar yang akan terus memanjang, yang tak seharusnya dialami anak-anak.

‎Membaca kisah semacam ini tanpa bisa dihindari memunculkan tanda tanya, kenapa sekarang? Apa yang berusaha dicapai penulisnya? Karena di sebuah negara yang rakyatnya suka berpikir semua orang dimotivasi keserakahan, uang sering dianggap sebagai pemicu utama. Tanpa sadar, rakyat negara yang sama tidak akan berkedip saat ada seorang aktor yang terang-terangan berkencan dengan gadis di bawah umur. Orang-orang itu akan dengan cepat menuding korban dan menuduhnya pencari perhatian. Masalahnya bukan kenapa sekarang; Aurelie sudah mencoba bicara bertahun-tahun sebelumnya dan dunia tidak mau mendengar.

‎Mau tak mau saya berpikir seandainya terjadi di negara lain, Aurélie mungkin lebih cepat diselamatkan. Bukannya dijamin tidak akan terjadi—saya cukup sering nonton dokumenter tentang child abuse—tapi setidaknya saya pikir predator Aurélie tidak akan sebegitu bebasnya. Di film Korea Unforgettable (2016), Do Kyungsoo yang dipasangkan dengan Kim So Hyun yang usianya jomplang melalukan "adegan ciuman" lewat payung. Di sini, mungkin akan dibiarkan. Badan perlindungan anak yang dikunjungi Aurélie dengan enteng menyerahkan dia pada Bobby. Pastornya menikahkan mereka tanpa dokumen yang jelas. Dan orang awam mungkin akan berpikir, "Ah, pacaran beda usia kan normal! Saya dulu nikah umur ...."

‎Broken Strings bukan buku yang sempurna. Ada beberapa salah ketik dimana "nilaiku" menjadi "nilainya" dan "menciumnya" yang mestinya adalah "menciumku". Saya sudah menduga buku ini ditulis versi bahasa Inggrisnya lebih dulu sejak pertengahan karena ada kalimat yang rancu seperti:

‎"Gitar itu sama banyaknya properti seperti instrumen." (Halaman 17).

‎"“Hei, kenapa kamu lari, sayang?” tanyanya lembut, penuh bujukan, seolah ini bukan menakutkan." (Halaman 87).

‎Format buku ini juga agak ... Unik. Dengan spasi yang tidak teratur dan perpindahan scene yang terkesan melompat-lompat. Tapi saya bisa memaklumi bahwa itu mungkin karena Aurélie lama tinggal di luar negeri dan jarang bicara bahasa kita. Belakangan, setelah baca bonus chapter, saya baru tahu bahwa dia mengerjakan buku ini sendirian. Tidak ada penerbit yang mau sampai ceritanya viral. Enggak heran. Saya bahkan enggak akan kaget kalau tiba-tiba si "villain" diundang di berbagai acara gosip. Akunnya rame. Ada yang mau endorse entah produk apa. Yang penting rating dan exposure kan?

‎Secara keseluruhan, untuk sebuah debut, Broken Strings adalah karya yang luar biasa. Indah dan menyakitkan. Mentah dan emosional. Pembaca pasti bisa merasakan kalau penulisnya suka membaca lewat bahasanya yang luwes, dan dialognya yang diperhalus menjadi semi-baku.  Ini tentang Aurélie dan lukanya, bagaimana dia bangkit, menulis surat cinta pada dirinya di masa muda, dan berkata bahwa ya—walaupun butuh waktu lama, gadis muda yang dulu ketakutan itu pada akhirnya bisa bebas.
Profile Image for jawl ♡₊˚•..
29 reviews1 follower
January 14, 2026
6 ⭐️’s

༄.° “𝘚𝘰𝘮𝘦 𝘴𝘵𝘰𝘳𝘪𝘦𝘴 𝘥𝘰 𝘯𝘰𝘵 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘯 𝘸𝘪𝘵𝘩 𝘰𝘯𝘤𝘦 𝘶𝘱𝘰𝘯 𝘢 𝘵𝘪𝘮𝘦. 𝘛𝘩𝘦𝘺 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘯 𝘸𝘩𝘦𝘯 𝘯𝘰 𝘰𝘯𝘦 𝘪𝘴 𝘸𝘢𝘵𝘤𝘩𝘪𝘯𝘨. 𝘞𝘩𝘦𝘯 𝘢 𝘨𝘪𝘳𝘭 𝘪𝘴 𝘵𝘰𝘰 𝘺𝘰𝘶𝘯𝘨 𝘵𝘰 𝘶𝘯𝘥𝘦𝘳𝘴𝘵𝘢𝘯𝘥 𝘸𝘩𝘢𝘵 𝘪𝘴 𝘩𝘢𝘱𝘱𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨, 𝘢𝘯𝘥 𝘵𝘰𝘰 𝘧𝘳𝘪𝘨𝘩𝘵𝘦𝘯𝘦𝘥 𝘵𝘰 𝘴𝘢𝘺 𝘪𝘵 𝘰𝘶𝘵 𝘭𝘰𝘶𝘥. 𝘛𝘩𝘪𝘴 𝘪𝘴 𝘩𝘦𝘳 𝘴𝘵𝘰𝘳𝘺. 𝘕𝘰𝘵 𝘵𝘩𝘦 𝘱𝘰𝘭𝘪𝘴𝘩𝘦𝘥 𝘷𝘦𝘳𝘴𝘪𝘰𝘯. 𝘕𝘰𝘵 𝘵𝘩𝘦 𝘷𝘦𝘳𝘴𝘪𝘰𝘯 𝘰𝘵𝘩𝘦𝘳𝘴 𝘸𝘢𝘯𝘵𝘦𝘥 𝘩𝘦𝘳 𝘵𝘰 𝘵𝘦𝘭𝘭. 𝘑𝘶𝘴𝘵 𝘵𝘩𝘦 𝘵𝘳𝘶𝘵𝘩. 𝘙𝘢𝘸, 𝘲𝘶𝘪𝘦𝘵, 𝘢𝘯𝘥 𝘧𝘪𝘯𝘢𝘭𝘭𝘺.”

The things that Bobby(Roby) did to her were so heinous and disgusting, I can’t even wrap my head around how a person could do that to another human being. I am so glad that Aurélie finally found some peace with herself. She’s got a loving husband and a baby on the way. The law failed, and the public didn’t believe her when she tried to speak out about her abuse. And I’m just so happy that she’s happy now 🥹🥹

You deserve the whole world, Aurélie 😓💔
Profile Image for ana.
18 reviews2 followers
January 12, 2026
I still can't believe that I read this book and finished it on the same day. It took me one sitting and a glass of hot chocolate beside me. I opened the book full of curiosity and closed it 3 hours later with so many emotions that I couldn't explain. I'm overwhelmed. Anger, sadness, pride, and joy all are packed in one book. Aurélie deserves a whole world after everything she went through. Big hug for Aurélie 🥹🫂💗
Profile Image for Leila Rumeila.
1,000 reviews28 followers
January 15, 2026
Actual 2.5⭐
Unpopular opinion, but for me everything happened in this book could've been prevented if Aurelie's parents had fought HARDER!

Bobby? He's hands down such an evil person!


It just didn't make sense her father even escape abroad like he gave up.
And her mother just screamed "get out!" after she was told her daughter just got married. I mean, why didn't she ask her first?
She even just turned away and walked off when she saw her daughter was kissed on the lips in the beginning of their relationship. Seriously?
Profile Image for Ifa Inziati.
Author 3 books60 followers
Read
January 13, 2026
Sebuah memoar yang jujur, mengalir, dan sarat ketulusan di balik isinya yang menyayat hati. Kover buku cetaknya juga bagus, jadi semoga ketika sudah rilis di toko buku nanti bisa ikut dimasukkan ke sini.
Profile Image for L Smiya.
4 reviews
January 15, 2026
Kalo ada versi cetaknya mungkin aku akan beli, dan bakal aku wariskan ke anak remajaku. Waktu pertama baca tiap kata yang ditulis Aurelie ini, aku langsung bilang, "wah ini yang bantuin dia nulis versi Indonesia siapa ya?". Bagus pilihan kata-kata dan kalimatnya. Alur ceritanya nagih.
Profile Image for Haryadi Yansyah.
Author 14 books63 followers
January 12, 2026
"Bagi Bobby, itulah cinta. Lukai, lalu rawat. Sakiti, lalu peluk. Kuasai, lalu sebut itu kasih." Hal.146.


Aurélie lahir di Brussles, Belgia dari keluarga yang sederhana atau katakanlah.... susah. Papa dan mamanya berjuang memulai hidup baru dan kemudian menyandang status sebagai orang tua dengan berjuang dari titik nol. Segala cara dilakukan, termasuk mengantre di bank makanan agar ada hidangan yang tersaji di atas meja. Mereka juga tinggal di flat yang sangat sederhana.

"Itu bukan rumah yang ideal, hanya apartemen mungil dan tua dengan lorong gelap menuju tangga curam. Dindingnya polos, ruangan-ruangannya sempit, seolah saling menekan. Tempat seperti itu bukanlah pilihan, tapi satu-satunya kesempatan yang mereka punya. Dan di ruang sempit
itulah dua jiwa yang belum siap harus belajar menjadi dewasa dalam semalam." Hal.4

Walau begitu, mama dan papanya selalu mengusahakan agar Aurélie dan adiknya Jeremie tidak kelaparan. Kehidupan pun membaik, papanya mendapatkan pekerjaan tetap. Satu kali, Aurélie beserta adik dan ibunya memutuskan untuk berkunjung ke Indonesia. Ya, ibu Aurélie memang asli dari Indonesia, dan untuk itulah Aurélie berkunjung untuk menemui neneknya.

Ia diterima dengan baik. Neneknya yang penggemar sinetron satu kali nyeletuk jika Aurélie seharusnya bisa jadi artis atau model sebagaimana orang-orang yang ia tonton di TV.

"Aku anak yang pendiam, pemalu, hanya lucu di rumah, tempat aku suka membuat keluargaku tertawa. Tak ada hal mencolok tentangku. Aku bukan yang tercantik atau paling populer, hanya anak tinggi kikuk, yang selalu merasa sedikit berbeda." Hal.5.


Bak mestakung, Aurélie melihat sebuah ajang pencarian bakat Fresh Multitalented 2007 yang berlangsug di Bandung. Siapa sangka, Aurélie keluar sebagai juara pertama. Sayangnya, ketika audisi lanjutan berlanjut di Jakarta, semua terasa berantakan.

Terlebih saat itu Aurélie belum lancar berbahasa Indonesia. Alhasil, ia, mama dan adiknya memutuskan pulang ke Brussels karena ya masa berlibur juga sudah habis. Ia dan Jeremie harus kembali bersekolah.

Namun, seminggu setelah kembali, neneknya menelepon jika rumah produksi tempat Aurélie audisi menawarkan peran utama di sebuah sinetron. "Aku masih ingat kata Papa, “Kesempatan seperti ini tidak datang dua kali. Ini kesempatanmu untuk hidup yang lebih baik.” Hal.11. Di sinilah perjalanan hidup Aurélie dimulai.

BERKENALAN DENGAN BOBBY

Dengan bakat dan parasnya, Aurélie mendapatkan banyak kesempatan. Mula-mula iklan, lalu sinetron. Di salah satu iklan provider, Aurélie dipasangkan dengan aktor bernama Bobby. Projek iklan berjalan baik. Klien suka dengan hasilnya dan kemudian memperpanjang dengan memproduksi 2 iklan lanjutan.

Aurélie dan Bobby kian dekat. Ibunya bukan tidak tahu tentang itu. Sebab, harus diakui ibunya juga menikmati perhatian yang diberikan Bobby. Kemana-mana mereka sering diantar menggunakan mobilnya. Apartemen Aurélie, ibu dan adiknya juga kayak apartemen Bobby saking seringnya pria itu berkunjung.

"Aku tumbuh dalam banyak hal, tapi dalam hal cinta, aku tidak tahu apa-apa," ujar Aurélie di hal.12. Sebelum dekat dengan Bobby, Aurélie lebih dulu dekat dengan Tom, namun hubungan Aurélie dan pria yang jauh lebih dewasa darinya itu pun kandas ketika Tom mulai meminta lebih dari sekadar hubungan pacaran pada umumnya. Apalagi keduanya berbeda agama.


Nah, terhadap Bobby, walau secara usia perbedaannya hampir 2 kali lipat (saat itu Aurélie berusia 15 sedangkan Bobby 29 tahun), ibunya cenderung lebih lunak. Bahkan ketika Bobby menyatakan cinta, dan Aurélie menerimanya.

Ketika Bobby mencium Aurélie langsung di hadapan ibunya pun reaksi sang ibu biasa saja. Bobby sengaja melakukan hal itu untuk menunjukkan jika ia dan Aurélie sudah jadi sepasang kekasih. Yang Aurélie dan ibunya tidak ketahui, Bobby melakukannya dengan tujuan lain, yakni menunjukkan relasi kuasa yang pelan tapi pasti semakin meningkat dari hari ke hari.

Sebagai seorang pria dewasa, tingkah laku Bobby jauh lebih kekanakan. Ia sangat posesif! jika melihat Aurélie tersenyum bahkan pada stranger di jalanan, Bobby seketika akan marah. Aurélie harus melaporkan segala kegiatannya, detik demi detik kepada Bobby lewat ponsel. Tak jarang pula Bobby ikut datang dan mengawasi Aurélie ketika syuting.

Sejak awal menerima Bobby sebagai kekasih, Aurelie sudah menyampaikan batasan. Bahwa ia ingin menjaga kesuciannya dan hanya memberikannya kepada orang yang akan menjadi suaminya. Mendengar itu Bobby alih-alih menjawab dengan pasti, Bobby malah berkata, "kita liat saja nanti."

Umumnya para laki-laki, ketika dikasih 100 kemudian minta 1000. Itu pula yang Bobby mau dari Aurelie. Satu kali, Bobby menggulung lengan kausnya dan menunjukkan bagian atas lengannya. "Sekarang kamu udah jadi pacarku, kamu harus tahu apa yang aku suka. Aku geli di sini. Kalau kamu cium di sini, aku suka banget,” katanya, lalu menambahkan dengan senyum licik, “apalagi kalau kamu jilat.” Hal.26.

Aurelie bukannya tidak tahu jika ia terjebak di hubungan toxic ini. Tapi, Bobby mampu menekannya dengan sempurna. Aurelie dibuat untuk bungkam. Emosinya dimanipulasi. Ia dituntut untuk menuruti segala keinginan Bobby, hingga kemudian pelecehan dan pemerkosaan itu terjadi.

"Menyentuh tak lagi cukup. Lalu menjilat pun tak cukup. Lalu dia ingin lebih. Setiap “iya” lenyap seketika, tergantikan dengan tuntutan baru." Hal.38.


Ketika ibunya menyadari, semua sudah terlambat. Upaya ibunya untuk melindungi anaknya harus berjalan terjal. Bobby yang licik kemudian lagi-lagi berhasil menekan Aurélie untuk membangkang dan melawan ibunya. Ia bahkan mengancam untuk menyiarkan ke media jika Aurelie adalah korban dari eksploitasi orang tua. Aurélie sungguh berada di posisi yang sulit. Terlebih, Bobby sudah mendapatkan kesuciannya dan menyimpan foto-foto telanjangnya yang tentu saja menjadi senjata utama bagi Bobby untuk merantai leher Aurélie.

Bobby yang menyerap segala sesuatu yang ada di kepala iblis benar-benar menghadirkan sosok monster itu kepada Aurélie. Ia memaksa Aurélie untuk melakukan hal-hal menjijikkan termasuk menyuruhnya bermasturb*si menggunakan timun, dan menyajikan timun itu di meja makan untuk ibunya. Sinting!

Di luar rumah pun Aurelie mendapatkan posisi sulit. Sebagai artis baru, ia juga dirundung oleh artis-artis senior yang secara usia sebetulnya tak jauh berbeda darinya. Misalnya saja saat ia tak sengaja menduduki sofa milik artis pemeran utama, bukannya diberitahu dengan baik, asisten si artis malah menyemprot semprotan serangga dengan nyeletuk sinis, "“Ups, aku nggak tahu ada yang duduk di sofanya pemeran utama.” Hal.95.

Begitu pahit. Begitu pedih dan menoreh luka. "Perundungan tidak berhenti di situ. Ia menjadi bagian dari setiap hari, menyusup ke momen paling kecil, sampai aku tidak bisa lagi membedakan mana awal dan akhir. Setiap langkah terasa seperti berjalan di atas kaca, menunggu retaknya." Hal.95.

AURELIE DIJEBAK MENIKAH

Ini adalah puncak dari terkurungnya Aurélie dalam dekapan Bobby. Pria licik itu, dengan cara-caranya berhasil membawa Aurélie pergi dan ujug-ujug berada di sebuah gereja kecil, tempat keluarga Bobby sudah berada. Ini benar-benar lelucon, bagaimana mungkin, Aurelie yang saat itu baru berusia 18 tahun, menikah tanpa dihadiri oleh mama, papa atau adiknya.

"Saat aku masih syok, kulihat Bobby jongkok di samping koperku, mengobrak-abrik sampai menemukan gaun putih yang tadi ia sebut. Ia mengangkatnya. “Pakai ini.”

Aku menatap gaun itu. “Kenapa?” Aku sudah menduga, tetapi sebagian diriku masih berharap aku salah.

Rahangnya mengencang. “Kita menikah.” Hal.98.


Dan begitulah pernikahan itu terjadi, dan serapat apapun Aurelie menyembunyikan, betapa kagetnya mamanya Aurelie ketika kemudian mengetahuinya. Seketika, ia mengusir Aurelie dan dengan lantang sang ibu berkata jika sejak itu Aurelie bukan lagi anaknya.

"Dan begitu saja, aku tidak punya rumah. Tidak punya ibu. Tidak punya tempat aman. Tidak punya suara untuk menjelaskan." Hal.109.


Dan tentu saja, Bobby, orang yang paling bertanggung jawab atas kejadian ini malah menyambut kabar itu dengan bahagia. Berarti, Aurelie dapat ia miliki sepenuhnya. Aurelie ia boyong ke rumah tempat bapak-ibunya tinggal beserta kakak dan keluarga kecilnya. Sejak awal menikah, Aurelie sudah asing dengan orang-orang itu. Ya bayangkan saja, ketika kamu baru bertemu mertua dan ipar tepat di hari pernikahan, dan kemudian kamu diboyong dan harus tinggal satu atap dengan mereka.

Rumah yang tak terlalu besar itu semakin sesak dengan keberadaannya. Dan ironisnya lagi, satu ART yang bekerja di sana kian hari semakin ringan pekerjaannya, sebab beberapa urusan rumah tangga diserahkan kepada Aurelie. Mula-mula, Aurelie hanya diwajibkan mencuci baju ia dan Bobby, tapi kemudian, entah bagaimana terjadinya, pakaian mertuanya pun menjadi tanggung jawabnya.

Rumah itu benar-benar perwujudan dari neraka. Bobby makin menunjukkan wujud aslinya. Aurelie yang sering mendapatkan tekanan lewat kata-kata, kini mulai mengarah ke fisik. Bobby, tiap kali emosi dan marah (padahal perkara sepeleh seperti Aurelie yang lupa mematikan lampu kamar mandi), akan melampiaskannya kepada Aurelie dengan cara meludahinya.

Tanpa sepatah kata, ia meludahi wajahku. Ludahnya hangat, basah, menempel di pipi. Menetes melewati rahang ke leher. Ia menatapku seperti aku bukan siapa-siapa. Aku tidak bergerak.
Aku tidak menangis. Aku tidak berteriak. Aku berdiri saja, dada naik turun, seperti berdiri di dasar laut tanpa sisa udara. Lalu ia mulai menangis, besar, marah, berantakan, seolah dialah
yang disakiti. Saat itu aku sadar, ia tidak hanya meludahi wajahku. Ia mengubah kekerasan menjadi pertunjukan." Hal.129.

Aurelie benar-benar tak punya pegangan. Uang hasil kerjanya langsung diambil alih oleh Bobby. Selama menunggu projek baru berbulan-bulan lamanya, ia harus hidup dalam kepalsuan. Di hadapan teman-temannya Bobby, ia harus menunjukkan keromantisan.

Sudah berbagai cara dilakukan Aurelie untuk kabur dan kembali ke mamanya. Bobby pun dalam keadaan marah biasanya akan mengusir Aurelie dengan kasar, "kamu akan selalu jadi anak mama." Namun, ketika Aurelie sudah berhasil berkemas, Bobby akan selalu menemukan cara untuk menghalangi Aurelie. Dari cara love bombing hingga mengancam mau membunuh kedua orang tua Aurelie.

Lantas, bagaimana kemudian Aurelie bisa lepas dari pria brengsek itu?

* * *

Saat salah seorang kawan menginformasikan tentang buku Broken Strings ini, saya nggak terlalu ngeh jika ini adalah kisah nyata hidup Aurélie Moeremans selaku penulis. Jujur, saya nggak pernah dengar nama Aurélie Moeremans sebelumnya. Saat baru-baru ini berita bahagia Aurélie yang menikah dengan seorang chirpractor bernama Tyler gaung, saya sekadar menyerap informasi itu sambil-lalu dan nggak pernah tahu jika Aurélie dulunya pernah menikah muda dan drama percintaannya heboh karena Aurélie diberitakan kabur dari rumah dan memilih meninggalkan keluarganya demi cinta.

Barulah, dari memoar ini saya paham situasi sebenar-benarnya saat itu. Walaupun nama-nama tokohnya disamarkan, tapi semua orang yang baca buku ini akhirnya tahu siapa sosok Bobby sebenarnya, dan di sosial media, profil mantan suami Aurélie yang brengsek itu dengan cepat dikuliti oleh warganet.

Sungguh, saya sendiri nggak habis pikir jika Aurélie menjalani hidup sedemikian pahitnya. Bahwa ia berhasil melewatinya dan nggak terpikir untuk bunuh diri saja saya salut luar biasa. Dari 200-an halaman yang ditorehkan, sebagian besar berisi tindak kekerasan yang diterima Aurélie (bahkan Angel, monyet yang jadi peliharaannya).

Bacanya memang bikin nggak nyaman. Saya kayak lagi baca Lemony Snicket's A Series of Unfortunate Events dan ingin segera membaca bagian akhir dan berharap ada kisah bahagia di sana. Jika kemudian Aurélie berhasil lepas dari cengkraman Bobby, itu pun tak bisa dikatakan jika kisah hidup Aurélie ini happy ending. Ia butuh waktu yang lama dan proses yang tak sebentar untuk benar-benar sembuh.

Dan, salah satu tujuan Aurélie menuliskan kisah hidupnya adalah sebagai dari proses penyembuhan itu sendiri. Beruntungnya, suaminya Tyler menyokong penuh. Dan hebatnya lagi, Aurélie menuliskan kisah hidupnya ini dengan sangat baik! saya bahkan sempat suuzon ia menggunakan ghost writer pada awalnya. Namun, tulisan ini benar-benar berisi curahan hati ia sebagai korban dan orang yang mengalami kejadian itu. Satu hal yang sulit disamai oleh ghost writer mana pun.

Mulanya e-book ini ia tulis dalam bahasa Inggris. Lalu penggemarnya meminta untuk diterjemahkan. Dan, lagi-lagi Aurélie melakukannya seorang diri. Maka dari itu, jika masih ada saltik itu masih dapat dimaklumi, dan sangat minor. Buku terkenal yang sudah digawangi oleh editor saja masih bisa kebobolan, kan.

Pada akhirnya, apa yang ditulis oleh Aurélie ini sungguh bagus untuk dijadikan pelajaran. Nggak perlu melihat terlalu jauh, di sekitar saya pun (sempat) ada kisah-kisah percintaan tak lazim dengan rentang usia yang jauh. Walau pun, tentu tak semua pria-nya berperilaku bejat selaiknya Bobby. Namun, seharusnya dengan meledaknya buku ini, akan semakin banyak orang yang paham (atau bahkan mereka yang masih menjalani hubungan toxic dengan pria dewasa) dapat lebih memahami apa yang sebetulnya sedang terjadi.

Peran orang tua juga sangat penting. Tak hanya saya, tapi sebagian besar pembaca pasti muncul pikiran menyayangkan sikap mama Aurélie saat itu terjadi. Sebagai pembaca, saya -dan mungkin yang lain juga, akan berfikir bagaimana jika mamanya langsung cut Bobby sejak awal ketika Bobby mulai membuka topengnya pelan-pelan.

Tapi, saya yakin Aurelie menuliskan kisahnya bukan bermaksud untuk memojokkan keluarganya (terutama mamanya), dan setahu saya ia masih melarang keluarganya untuk baca. Saat salah satu followersnya dengan terang-terangan menyampaikan kekecewaan ke mamanya, Aurelie dengan bijak menjawab, "mama aku belum pernah jadi ibu sebelumnya. Dia banyak belajar dari pengalaman ini and she did her best."

Buku elektronik ini dapat diunduh dan dibaca gratis di tautan yang ada di profil instagram Aurelie ya. Dan, dari saluran IG-nya saya tahu jika buku ini dalam proses diterbitkan oleh penerbit besar. Setahu saya ini kali kedua buku elektronik yang viral kemudian diterbitkan oleh penerbit. Dulu buku OCD-nya Deddy Corbuzier juga begini dan untungnya, walau bukunya tengah proses cetak, versi e-booknya masih dapat diunduh dengan bebas.

Mengakhiri tulisan ini, saya ingin menyampaikan sesuatu kepada Aurélie bahwa terima kasih sudah bertahan bahkan di masa-masa paling gelap dalam hidup. Semoga ke depan kamu menjalani kehidupan dengan baik dan bahagia. Terima kasih sudah menuliskan kisah hidupmu ini dan semoga akan semakin banyak Aurélie-Aurélie lain di luar sana yang berani mengambil keputusan untuk lepas dari toxic relationship.

Skor 9,2/10
Profile Image for MissPika.
83 reviews
January 14, 2026
This was not an easy thing to read due to all of its content warnings that might be triggering, but it was a necessary one to understand.
Profile Image for Naddd.
6 reviews
January 14, 2026
THIS REVIEW CONTAINS SPOILERS

Broken Strings by Aurélie Moeremans is not just a book. It's a memoir of manipulation, survival, and painful truth drawn from Aurélie's own life. This story does not aim to entertain or soften its reality, it exists because it needs to be told.

The world may not always understand, but the truth stay with you and that truth is enough.

I rated this book not because of how polished the writing is, although Aurélie writes beautifully (despite not having an editor or publisher), but because of the rawness of her story and her determination to be heard. More than anything, this memoir serves as a warning and a form of awareness for parents, families, and every adult who needs to understand how dangerous the world can be for a child involved with someone far older, especially before they even reach the legal age.

Is this what adult love is supposed to be? And if it is, why did it feel so wrong?

Reading Broken Strings was difficult, not because of the way it was written, but because of what it reveals. Knowing what happened to Aurélie when she was only fifteen is deeply sickening. There were moments where I had to stop reading, not out of confusion, but out of disgust and heartbreak. What she endured is horrifying precisely because it happened so quietly, hidden behind manipulation rather than obvious violence.

The scent lingered in the room, as if mocking every prayer I whispered.

What hurt the most was realizing how completely alone she was. There was not a single adult she could truly rely on. At first glance, it may seem that she could have turned to her parents. But the book makes something painfully clear. When a child is deeply manipulated, their perception of reality is altered. Telling the truth no longer feels possible. It feels dangerous, shameful, or simply unimaginable. In that state, silence is not a choice. It is a consequence.

They finished with the same cold line. "He is not good for you, Aurélie." But in their eyes I saw something else. Disappointment. Frustation. A sense that I had betrayed them.

This memoir does not only tell the story of abuse. It exposes the failures surrounding it. The adults who did not notice. The systems that did not protect. The warning signs that were overlooked or dismissed. It forces the reader to stop asking why she did not speak up, and instead confront the far more uncomfortable question of why no one stepped in.

That night I prayed for a way out, for safety, for the right moment.

Broken Strings is an unsettling and painful read, and at times it is infuriating. But it is necessary. It reminds us that children cannot be expected to protect themselves from manipulation they do not yet understand. It is the responsibility of adults to listen more closely, to question more carefully, and to recognize that abuse often hides behind affection, trust, and authority.

If you're still in it, I want you to know that your confusion makes sense. What is happening to you is not your fault. Surviving each day is already strength.

This book stays with you long after you finish it, not because it is easy to read, but because it refuses to let you look away.

Because love isn't something you earn by suffering. It isn't given when you're quiet enough or good enough. Love begins with you.
Profile Image for Ditta Arianti.
28 reviews
January 15, 2026
Wow!! What a magnificent true story of Aurelie. Dear Aurelie, you're so amazing and brave enough to speak the truth about what happened with you in the past. I give you an applause for your brave, your inner strength - even though it's hard because of the trauma, the wounds - deep down on your shadow, tears in your soul. I would say, when I read your book, it breaks my heart. A lot!! 💔💔💔 Now, Indonesian people are fully support to you and hopefully you're in a great happiness with your family and can't wait for the baby to be born.. Send hugs & love for her.. 💕💕💕🙏🏻

Every chapter all of the book was so intense, makes sense why in the beginning, as an author, Aurelie herself, make a disclaimer for someone who reading this book might had a trigger warnings because it sensitive, pure, raw, honesty and even - for people in Indonesia, it's brutal.

She's shared her experience about child grooming that she had back when she's 15 years old, with a 29 year old men Bobby - back in the past. All comes in a possible details with the time, the moment, she's shared with raw, pure, honesty with a simple language that I'm sure everybody understand that.

She's told everything the concept of a child grooming, toxic relationship, abusive, forced sex, manipulation, controlling, narcissistic personality disorder of Bobby with the feelings that she had in the past - in silence, angry, upset, crying, all the emotional breakdown, fighting back, the violence, etc - and ended up with the injustice that she & her family looking for - it's still became the biggest issues in Indonesia. Whatever you called it as a pedophilia, a sexual predator to an underage children, (or whatever you called it) is still remained outside.

Her purpose of she's made this book (PDF both in English and Indonesian language for free), it because she want to give an education for everyone out there, that you're not alone. She didn't want to reopen the wound that she had but she just want to make sure that no more "another Aurelie" as a victim again out there..

After all, it's a good book and I can't wait she published the physical book that'll going to be released..

Note : for 29 years old men, Bobby (or whomever your real name is), you're a BLOODY MOTHERF***ING ***HOLE!! 😡 May we see you ROT in HELL! Geez..
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Bella Anggun.
6 reviews
January 15, 2026
Penulisan yang 'apa adanya' sukses membuat kita bisa 'masuk' ke dalam pemikiran gadis 15 tahun dan merasakan apa yang ia alami, bukan sekedar menyaksikan sebuah cerita. Rasanya kayak bertransformasi kembali jadi anak remaja dengan segala kepolosannya. Saya pribadi ngeri ketika membaca betapa situasi yang dialami Aurelie begitu rumit dan sulit dihindari oleh anak usia itu, bahkan saya merasa saya versi remaja sendiri pun bisa terjebak di situasi yang sama kalau saya bertemu dengan orang seperti pelaku saat itu.

Baca setiap part rasanya suffocated, ikut terjebak dan tak ada jalan keluar. Bukan hanya pelecehan dan kekerasan, tapi juga setiap gaslighting dan guilt tripping yang dilakukan secara konsisten, sampai korban terisolasi dari lingkungan sosialnya dan akhirnya mau tidak mau hanya bisa kembali ke pelaku. Semua tindakan pelaku meninggalkan satu frustasi khas korban manipulasi: "Seperti ada yang salah, mengapa aku membiarkan ia melakukan ini padaku." Tapi di saat yang sama, tetap tidak bisa lari karena: "Ini salahku, aku yang membawa diriku ke situasi ini. Harusnya aku bisa mencegahnya." Thats how manipulation works. Dan semua itu ditumpahkan dengan cara yang sempurna dalam buku ini.

Untuk mengingat suatu hal yang traumatis saja pasti perlu keberanian dan kekuatan yang besar. Dalam memoar ini, Aurelie tidak hanya mengingat, tapi juga menuliskan, mempublikasikan, dan menginjinkan traumanya digali dan dibicarakan banyak orang. Jelas tidak mudah, tapi dengan meledaknya buku ini di media sosial adalah peringatan bagi semua pihak betapa child grooming adalah tindakan yang tidak bisa dinormalisasi. Korban butuh didengar dan dilindungi, bukan dihakimi. Korban yang dipersalahkan adalah bukti kegagalan sistem dalam melindungi anak. Fakta bahwa buku ini dibagikan secara gratis agar bisa menjangkau lebih banyak pembaca membuat saya menaruh hormat pada penulis.
Profile Image for Salsa.
7 reviews
January 15, 2026
Buku ini bukan sekadar memoar, tapi peringatan keras tentang bagaimana child grooming bisa terjadi begitu dekat dan nyaris tak terdeteksi. Lewat kisah nyata yang dituturkan dengan jujur, pembaca diajak memahami bahwa pelaku tidak selalu hadir sebagai sosok mengancam, melainkan sering bersembunyi di balik perhatian dan kepercayaan.

Secara garis besar, buku ini menceritakan pengalaman Aurelie menghadapi manipulasi, kekerasan, dan eksploitasi di usia yang sangat rentan. Relasi yang awalnya terasa aman perlahan berubah menjadi jebakan, meninggalkan trauma panjang yang memengaruhi cara melihat diri sendiri dan dunia sekitar. Ceritanya bergerak personal, tenang, tapi menghantam.

Buku ini menyadarkan kita untuk lebih peka terhadap lingkungan sekitar, terutama pada pola-pola relasi yang tampak “terlalu dekat” atau timpang secara kuasa. Child grooming sangat berbahaya karena dampaknya tidak berhenti di satu waktu, tapi bisa membentuk luka jangka panjang yang sulit dipulihkan jika korban dibiarkan sendirian.

Aku sangat salut pada keteguhan hati @aurelie yang berani membuka trauma dan masa kelam hidupnya ke ruang publik. Keberanian ini jelas bukan hal mudah dan membutuhkan kedewasaan emosional yang besar, apalagi dengan risiko disalahpahami atau dihakimi. Bukunya juga dilengkapi trigger warning karena mengangkat isu sensitif seputar kekerasan, manipulasi, dan eksploitasi anak di bawah umur.

Yang membuat buku ini terasa makin relevan sekaligus mengganggu adalah kesadaran bahwa sosok seperti Bobby bisa saja ada di sekitar kita. Kehadirannya sering tidak terendus, dan justru karena itu berbahaya, jangan sampai “Bobby-Bobby” lain terus bebas dan memakan korban.

Membaca buku ini jujur terasa tidak nyaman, karena detail trauma yang diangkat dari kisah nyata membuat kita sulit menutup mata, tapi mungkin memang rasa tidak nyaman itu yang kita butuhkan. Agar kita semua SADAR.
Profile Image for Nanda Supriani.
42 reviews3 followers
January 17, 2026
Enggak bisa berkata-kata, terlalu menyakitkan buat dirasa karena ini memoar, semua yang terjadi dalamnya nyata.

Aku selalu bertanya-tanya, "Kok bisa ya orang dewasa suka (in romantic way) sama anak-anak? Nafsunya ada di sebelah mana?"

Dan buku ini menjawab.

Orang dewasa yang sok-sokan bilang mencitai pasangan underage-nya dengan kemurnian dan kesucian cinta, sesungguhnya adalah iblis yang sedang membangun relasi kuasa agar dirinya menjadi "besar" dan "dihormati" oleh pasangannya.

Mereka sadar dan sangat amat kalkulatif bahwa anak-anak di bawah umur masih sangat kurang pemahaman, kurang pengalaman, dan banyak takutnya-sebuah celah yang mudah disusupi untuk berpura-pura menjadi hero.

Untuk sebuah sedikit momen, enggak ada satu pun air mataku yang keluar saat membaca buku ini. Kupikir heartless, tapi mungkin saja karena kemarahanku jauh lebih besar.

Aku sangat amat bersyukur Aurelie bisa selamat, keluar dari jerat iblis yang menyekapmya, dan memulai hidup baru. Tapi aku juga cemas, bagaimana nasib Aurelie-Aurelie lainnya? Bisakah mereka juga bebas dan memulai hidup baru?

Bagaimana mereka yang enggak punya power atau bahkan di dukung lingkungan untuk pernikahan di bawah umur? Apakah mereka punya kesempatan untuk mendapatkan hidup lebih baik?

Buku pertama di 2026 yang kuberi rate 5 dan sangat amat berharap banyak yang memahami POV penulis dengan semua sakit yang ia pikul, sehingga sebagai sesama manusia, kita bisa melindungi anak-anak yang tidak berdaya itu dari incaran predator bejat seperti Bobby.
Profile Image for Tania.
243 reviews14 followers
January 13, 2026
The first book that I finished in 2026.
Honestly, I started it out of curiosity. I don't even know about Aurelie, by the time she started her career in media, I rarely watch TV anymore.

She wrote it beautifully, far too beautiful for a sad and disgusting story. After 4 chapters, it actually too sickening to read but I'm holding on, knowing she survived it and now live happily with her Husband separated by oceans and thousands of miles from Bobby.

I'd say read it if you think can stomach reading abusive things. It'd give you lesson how to think carefully, how to protect and hopefully to do something right when you see a wrongdoing.

More importantly, don't be a Bobby. Don't raise someone like him. Don't protect him. Choose to stay open with others choice. Don't raise your hands (or spit others) when things doesn't go your way.

Ps. Aurelie said it's her parents first time being parents, and yeah they doesn't always makes the right choice. I hope you'd be better parents after reading this. Protect your children. They're not automatically being an adult the second they hit 18 (or 21 of that matters). Help them being a better person :)

Pps. If possible, always check both sides of the story. Dont listen to someone just because they're older (Bobby is 45 now and he still cried in front of camera and call someone younger "oom" to get sympathy). Be wise. Always.
Profile Image for Citra Rizcha Maya.
Author 5 books23 followers
January 13, 2026
Saya sudah mempersiapkan hati untuk harus kuat ketika mulai memutuskan untuk membaca tulisan ini. Rasanya ingin memeluk Aurelie Moeremans muda yang terombang ambing dalam segala jenis kedukaan, malu, kebingungan dan kehampaan.

Episode hidupnya yang berat berbanding terbalik dengan iklan lawas yang saya tonton di masa muda dan merasa betapa manis dan romantisnya iklan itu.

Membaca ini membuat perasaan teriris. Ada banyak bagian tak nyaman untuk dibaca apalagi dialami. Rasanya seperti mematahkan hati berkali-kali tapi teringat penulisnya menjalani ini, dan entah bagaimana dia sekuat itu sampai bisa melalui ini.

Ini bukan kisah yang nyaman dibaca tapi Aurelie menulisnya dengan baik. Ceritanya sampai ke pembaca dan menjadi pengingat bahwa ada di luar sana ada banyak kepolosan yang dimanipulasi orang yang tak bertanggung jawab.

Bagi Bobby, itulah cinta. Lukai, lalu rawat. Sakiti, lalu peluk.
Kuasai, lalu sebut itu kasih.

Betapa menyedihkan sekaligus menyengsarakan.

Ini bukan sekadar kisah yang dikonsumsi hanya karena ini menjadi kabar yang tengah dibicarakan oleh banyak orang ini. Ini adalah pengingat, tentang perjuangan seorang gadis kecil yang ketakutan dan yang bertahan sampai benar-benar merasakan kebebasannya.

Terima kasih karena menuliskan kisah ini dan membantu banyak orang untuk berani melawan dan keluar dari penderitaanya. Sebuah tulisan yang menyadarkan.
Profile Image for Shannon Leonette.
14 reviews
January 15, 2026
⚠️Child Grooming, Sexual Harassment, Sexual Abuse, Violence, Threat, NPD, Betrayal⚠️

Yup, these are the words I proudly describe for this memoir

First of all, sending big hugs to Mrs. Aurélie Moeremans. You had been so strong while you're bleeding inside and hoping for karma striked back🤗🥰 This memoir will be known as a reminder that you're not alone in the battle. There are some people, especially family and friends, that always support you–no matter what😊

Second, FUCK YOU BOBBYYYYYYY🖕🏻🖕🏻🖕🏻
I've never been so angry–even cursing a lot–in my entire reading life🤬 Even though you're Catholic and always claimed that you believe in God, but "Deuteronomy 6:13". What you did was a very big sin and you need to WAKE UP, MOTHERFUCKER👊🏻

Third, WHAT THE FUCKING HELL YOU WANTED A MARRIAGE WITHOUT CANONICAL, BOBBYYYYYY???? YOU THINK MARRIAGE IN CATHOLIC IS AS INSTANT AS THAT??????🫵🏻🫵🏻 Anw, kudos for Mrs. Aurélie for requesting the annulment👏🏻👏🏻👏🏻

Fourth, let her be happy with her own life. Don't make any sensation on the media as you're the one with the most faults. You need to repent NOW. And always remember.....

1+1 = 2
11x11 = 121
12x12 = 144
8x8 = 6x4?
Yang waras yaaa, gak boleh dipelintir, yang warasss🤏🏻


This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for sapearare.
83 reviews1 follower
January 13, 2026
Ugh, this genuinely creeped me out. Still wondering how child grooming and manipulation work within a relationship between an adult and a minor? This book shows you exactly how it looks and feels. And the fact that this is all true story? Bobby, you sick bastard. I’m still baffled by how some people, especially in Indonesia, can see relationships with minors as acceptable or “not a big deal.” The power imbalance is painfully obvious. Minors aren’t able to fully process decisions yet; they’re easy to manipulate, too scared to speak up, and often have nowhere safe to turn—especially when they lack support or protection during such a vulnerable time.

Reading this made me wish there would never be another Aurelie in the future. It hurts to see her adolescence sacrificed to the manipulation of an irresponsible adult. I wanted to hug little Aurelie and tell her she wasn’t alone, that there was a way out so she wouldn’t have to suffer any longer. She felt unsafe, trapped, and had nowhere to run. I’m deeply grateful that she’s finally found her way to a happier ending.

This is a short memoir, but it tackles a very heavy topic. Please make sure to read the trigger warnings first.
Profile Image for Alexandra.
2,076 reviews122 followers
Read
January 13, 2026
Akhirnya selesai juga... Karena ini memoar dari hidup seseorang yang dibagikan untuk personal closure, aku tidak bisa mengupasnya seperti novel ya...

Tulisan ini dibagikan gratis oleh Aurelie sendiri melalui sosmednya, melalui read only pdf di akun gdrive beliau. Tersedia dalam dua pilihan bahasa, saranku pilih yang Inggris karena selain ini versi pertama tulisannya, versi bahasa Indonesia juga aksesnya sangat penuh jadi sulit dibuka.

Aurelie, model iklan dan bintang film cantik blasteran Perancis-Indonesia (atau Belgia?) membagikan tragedi masa mudanya dan berharap pelajaran hidupnya ini bisa menyelamatkan orang lain yang mengalami nasib yang serupa Buatku ini membuka mata dan sangat berharga. Walau cara berceritanya lugas dan kalimatnya tanpa diksi indah tapi tetap bisa dirasakan sakitnya secara empatik oleh pembaca. Ini bukan novel dark romance jadi tidak ada bagian yang diromantisir.

Dengan buku ini semoga banyak korban lain yang jadi berani bersuara dan menyelamatkan diri. Ataupun kita sebagai orang tua/kakak/om tante/guru/tetangga yang lebih aware dan bisa deteksi dini dengan issue grooming ini di lingkungan kita sendiri. Thanks for sharing Aurelie.
Profile Image for syrupysweet.
2 reviews1 follower
January 14, 2026
aurelie wrote better than i expected, especially since in my knowledge, she had no prior writing experience (cmiiw). it was also said that she had been rejected from various publishers for being too risky, and the editor she hired wasn’t very interested in editing her book seriously.

the broken strings were straightforward and easy to digest. i appreciate aurelie for writing the indonesian version too. i can see how hard she works to “share awareness” so that there will be no other aurelies that had to experienced what she experienced.

i was disgusted, shocked, angry beyond what i thought a book was capable to make me feel. i was so angry, i wrote an angry message to bobby’s manager. that’s how angry i was. this book made me realize how villains doesn’t only exist in books and movies. they exist in real life as well. and if i couldn’t even comprehend how evil someone is capable of being, now i definitely have the idea.

broken strings made me realize, no amount of silence can kill evil, it can only aggravate it, and nurture it.

here’s to strong women. here’s to justice. here’s to feminism and here’s to destroying assholes from the face of the earth, one book at a time!!!
Profile Image for Dita Anggita.
59 reviews
January 16, 2026
“Bagi Bobby, itulah cinta. Lukai, lalu rawat. Sakiti,
lalu peluk. Kuasai, lalu sebut itu kasih.”—hlm. 146

Oh … Aurelie. Di balik senyumnya yang nggak pernah lepas kala bicara dengan gaya soft spoken-nya, ada banyak luka yang bergelut untuk pulih.

Tanpa memahami sudut pandang, ketika orang awam melihat remaja pacaran berlebihan dengan orang yang jauh lebih dewasa akan dianggap bebal dan nakal. Kita cenderung menyalahkan si remaja dengan beragam penghakiman. Padahal, ada rasa tidak kuasa, tidak berdaya, bingung, takut yang tidak bisa diungkapkan.

Bagus banget, Aurelie mau membagikan kisah pahitnya, membuka kotak lukanya demi membantu Aurelie-Aurelie lain yang masih terjebak relasi kuasa berat sebelah. Aku suka banget bagian penutup yang dituliskan penulis,

“Jadi jangan kehilangan harapan. Kamu tidak lemah karena pernah bertahan. Kamu tidak rusak karena pernah terluka. Kamu manusia.” —hlm. 206

Orang tua, para remaja, Ibu/Bapak guru, dan kita semua rasanya perlu belajar dari kisah ini. Ceritanya tidak baru, sangat mungkin bertebaran di lingkungan sekitar. Untuk itulah kita perlu menumbuhkan empati.
Profile Image for Hans.
33 reviews
January 13, 2026
Aurelie, aku mulai membaca buku ini tanpa tahu siapa itu Aurelie. Aku mengenali dan mencoba memahami apa yang dia alami dari buku ini, dan dia adalah orang keturunan Belgia Indonesia yang besar di Indo sebagai artis, mungkin aku pernah melihatnya di layar tv, bisa jadi.

Terlepas dari itu semua, tulisan ini menyadarkan kita akan satu hal bahwa menormalisasi hubungan antara dua manusia dengan usia yang terpaut jauh bukanlah hal yang bijak, dan hal tersebut perlu untuk diberikan perhatian khusus karena bisa mengarah pada perilaku pedofilia. tulisan ini juga memberikan kita insigth lain dari kehidupan seorang artis yang kita kira selalu bergelimang akan kemewahan.

bagi saya pribadi, hal seperti grooming, manipulasi dan lain sebagainya benar terjadi adanya, dan semoga hal ini bisa menjadi pembelajaran bagi kita semua untuk tetap aware terhadap orang-orang di sekitar kita, dan apabila kita menemukan kejadian serupa kita bisa menjadi orang yang mengulurkan tangan agar dia mampu keluar dari kurungan tersebut.
Displaying 1 - 30 of 99 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.