Jump to ratings and reviews
Rate this book

Broken Strings: Kepingan Masa Muda yang Patah

Rate this book

214 pages, ebook

First published January 1, 2025

24 people are currently reading
13 people want to read

About the author

Aurélie Moeremans

1 book1 follower

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
31 (67%)
4 stars
12 (26%)
3 stars
2 (4%)
2 stars
1 (2%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 19 of 19 reviews
Profile Image for Hari.
62 reviews6 followers
January 11, 2026
Aku gaakan review banyak karena baca ini perasaan aku campur aduk banget. Marah, kesel, capek, nangis, semua dirasain. Buku ini sejujurnya menambah dosa aku karena selama baca beneran kebanyakan maki-maki si bobby anjg ini ((MAAF))😭😭. Terus ternyata part pelukan sama Jeremie beneran sedih banget aku nangis dikit bacanya😞 ga kebayang jadi Jeremie gimana yang gatau apa apaaaa soal kakaknya disini (atau mungkin tau). Ini nih kayak, kenapa sih cowo tuh nyari cewek harus yang bisa bikin dia merasa besar? Egonya kesentil kah kalo cewek Lo lebih besar dari Lo?
whoever bobby is, may you rot in the deepest pits of hell. Dan untuk Aurelie, semoga hidup kamu selalu didatangkan kebahagiaan. Proud of you sumpah kayak kamu keren banget kakkk i really love your character development a lot💐❤️‍🩹‼️
Profile Image for Louis Natasha.
5 reviews
January 12, 2026
Broken Strings is the first book I finished this year, and it immediately set the tone for an intense reading year. It’s a difficult story to sit with— confronting, heartbreaking, and painfully honest.

What struck me the most is how Aurélie revisits her trauma as she grows older, trying to make sense of something that was senseless from the start. The idea that she waited until she reached the age when Bobby destroyed her simply to understand why… is devastating. Because no matter the context or explanation, what Bobby did was wrong— terribly and irreversibly wrong— and it shattered not only a child, but an entire family.

Amid the heaviness, there is resilience. The way she held onto her faith in God, continued praying, and sought meaning when the “beast” tried to erode her conviction gave the book a quiet strength. Her healing journey reminded me that healing isn’t linear, and that grace often arrives in unexpected places.

This book is emotionally heavy, but also deeply human. Aurélie’s courage to name her wounds and share them with the world is an act of strength. It may comfort and validate others who carry similar stories in silence.

A harrowing read, but an important one for awareness, for empathy, and for hope.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for ana.
18 reviews3 followers
January 12, 2026
I still can't believe that I read this book and finished it on the same day. It took me one sitting and a glass of hot chocolate beside me. I opened the book full of curiosity and closed it 3 hours later with so many emotions that I couldn't explain. I'm overwhelmed. Anger, sadness, pride, and joy all are packed in one book. Aurélie deserves a whole world after everything she went through. Big hug for Aurélie 🥹🫂💗
Profile Image for Haryadi Yansyah.
Author 14 books63 followers
January 12, 2026
"Bagi Bobby, itulah cinta. Lukai, lalu rawat. Sakiti, lalu peluk. Kuasai, lalu sebut itu kasih." Hal.146.


Aurélie lahir di Brussles, Belgia dari keluarga yang sederhana atau katakanlah.... susah. Papa dan mamanya berjuang memulai hidup baru dan kemudian menyandang status sebagai orang tua dengan berjuang dari titik nol. Segala cara dilakukan, termasuk mengantre di bank makanan agar ada hidangan yang tersaji di atas meja. Mereka juga tinggal di flat yang sangat sederhana.

"Itu bukan rumah yang ideal, hanya apartemen mungil dan tua dengan lorong gelap menuju tangga curam. Dindingnya polos, ruangan-ruangannya sempit, seolah saling menekan. Tempat seperti itu bukanlah pilihan, tapi satu-satunya kesempatan yang mereka punya. Dan di ruang sempit
itulah dua jiwa yang belum siap harus belajar menjadi dewasa dalam semalam." Hal.4

Walau begitu, mama dan papanya selalu mengusahakan agar Aurélie dan adiknya Jeremie tidak kelaparan. Kehidupan pun membaik, papanya mendapatkan pekerjaan tetap. Satu kali, Aurélie beserta adik dan ibunya memutuskan untuk berkunjung ke Indonesia. Ya, ibu Aurélie memang asli dari Indonesia, dan untuk itulah Aurélie berkunjung untuk menemui neneknya.

Ia diterima dengan baik. Neneknya yang penggemar sinetron satu kali nyeletuk jika Aurélie seharusnya bisa jadi artis atau model sebagaimana orang-orang yang ia tonton di TV.

"Aku anak yang pendiam, pemalu, hanya lucu di rumah, tempat aku suka membuat keluargaku tertawa. Tak ada hal mencolok tentangku. Aku bukan yang tercantik atau paling populer, hanya anak tinggi kikuk, yang selalu merasa sedikit berbeda." Hal.5.


Bak mestakung, Aurélie melihat sebuah ajang pencarian bakat Fresh Multitalented 2007 yang berlangsug di Bandung. Siapa sangka, Aurélie keluar sebagai juara pertama. Sayangnya, ketika audisi lanjutan berlanjut di Jakarta, semua terasa berantakan.

Terlebih saat itu Aurélie belum lancar berbahasa Indonesia. Alhasil, ia, mama dan adiknya memutuskan pulang ke Brussels karena ya masa berlibur juga sudah habis. Ia dan Jeremie harus kembali bersekolah.

Namun, seminggu setelah kembali, neneknya menelepon jika rumah produksi tempat Aurélie audisi menawarkan peran utama di sebuah sinetron. "Aku masih ingat kata Papa, “Kesempatan seperti ini tidak datang dua kali. Ini kesempatanmu untuk hidup yang lebih baik.” Hal.11. Di sinilah perjalanan hidup Aurélie dimulai.

BERKENALAN DENGAN BOBBY

Dengan bakat dan parasnya, Aurélie mendapatkan banyak kesempatan. Mula-mula iklan, lalu sinetron. Di salah satu iklan provider, Aurélie dipasangkan dengan aktor bernama Bobby. Projek iklan berjalan baik. Klien suka dengan hasilnya dan kemudian memperpanjang dengan memproduksi 2 iklan lanjutan.

Aurélie dan Bobby kian dekat. Ibunya bukan tidak tahu tentang itu. Sebab, harus diakui ibunya juga menikmati perhatian yang diberikan Bobby. Kemana-mana mereka sering diantar menggunakan mobilnya. Apartemen Aurélie, ibu dan adiknya juga kayak apartemen Bobby saking seringnya pria itu berkunjung.

"Aku tumbuh dalam banyak hal, tapi dalam hal cinta, aku tidak tahu apa-apa," ujar Aurélie di hal.12. Sebelum dekat dengan Bobby, Aurélie lebih dulu dekat dengan Tom, namun hubungan Aurélie dan pria yang jauh lebih dewasa darinya itu pun kandas ketika Tom mulai meminta lebih dari sekadar hubungan pacaran pada umumnya. Apalagi keduanya berbeda agama.


Nah, terhadap Bobby, walau secara usia perbedaannya hampir 2 kali lipat (saat itu Aurélie berusia 15 sedangkan Bobby 29 tahun), ibunya cenderung lebih lunak. Bahkan ketika Bobby menyatakan cinta, dan Aurélie menerimanya.

Ketika Bobby mencium Aurélie langsung di hadapan ibunya pun reaksi sang ibu biasa saja. Bobby sengaja melakukan hal itu untuk menunjukkan jika ia dan Aurélie sudah jadi sepasang kekasih. Yang Aurélie dan ibunya tidak ketahui, Bobby melakukannya dengan tujuan lain, yakni menunjukkan relasi kuasa yang pelan tapi pasti semakin meningkat dari hari ke hari.

Sebagai seorang pria dewasa, tingkah laku Bobby jauh lebih kekanakan. Ia sangat posesif! jika melihat Aurélie tersenyum bahkan pada stranger di jalanan, Bobby seketika akan marah. Aurélie harus melaporkan segala kegiatannya, detik demi detik kepada Bobby lewat ponsel. Tak jarang pula Bobby ikut datang dan mengawasi Aurélie ketika syuting.

Sejak awal menerima Bobby sebagai kekasih, Aurelie sudah menyampaikan batasan. Bahwa ia ingin menjaga kesuciannya dan hanya memberikannya kepada orang yang akan menjadi suaminya. Mendengar itu Bobby alih-alih menjawab dengan pasti, Bobby malah berkata, "kita liat saja nanti."

Umumnya para laki-laki, ketika dikasih 100 kemudian minta 1000. Itu pula yang Bobby mau dari Aurelie. Satu kali, Bobby menggulung lengan kausnya dan menunjukkan bagian atas lengannya. "Sekarang kamu udah jadi pacarku, kamu harus tahu apa yang aku suka. Aku geli di sini. Kalau kamu cium di sini, aku suka banget,” katanya, lalu menambahkan dengan senyum licik, “apalagi kalau kamu jilat.” Hal.26.

Aurelie bukannya tidak tahu jika ia terjebak di hubungan toxic ini. Tapi, Bobby mampu menekannya dengan sempurna. Aurelie dibuat untuk bungkam. Emosinya dimanipulasi. Ia dituntut untuk menuruti segala keinginan Bobby, hingga kemudian pelecehan dan pemerkosaan itu terjadi.

"Menyentuh tak lagi cukup. Lalu menjilat pun tak cukup. Lalu dia ingin lebih. Setiap “iya” lenyap seketika, tergantikan dengan tuntutan baru." Hal.38.


Ketika ibunya menyadari, semua sudah terlambat. Upaya ibunya untuk melindungi anaknya harus berjalan terjal. Bobby yang licik kemudian lagi-lagi berhasil menekan Aurélie untuk membangkang dan melawan ibunya. Ia bahkan mengancam untuk menyiarkan ke media jika Aurelie adalah korban dari eksploitasi orang tua. Aurélie sungguh berada di posisi yang sulit. Terlebih, Bobby sudah mendapatkan kesuciannya dan menyimpan foto-foto telanjangnya yang tentu saja menjadi senjata utama bagi Bobby untuk merantai leher Aurélie.

Bobby yang menyerap segala sesuatu yang ada di kepala iblis benar-benar menghadirkan sosok monster itu kepada Aurélie. Ia memaksa Aurélie untuk melakukan hal-hal menjijikkan termasuk menyuruhnya bermasturb*si menggunakan timun, dan menyajikan timun itu di meja makan untuk ibunya. Sinting!

Di luar rumah pun Aurelie mendapatkan posisi sulit. Sebagai artis baru, ia juga dirundung oleh artis-artis senior yang secara usia sebetulnya tak jauh berbeda darinya. Misalnya saja saat ia tak sengaja menduduki sofa milik artis pemeran utama, bukannya diberitahu dengan baik, asisten si artis malah menyemprot semprotan serangga dengan nyeletuk sinis, "“Ups, aku nggak tahu ada yang duduk di sofanya pemeran utama.” Hal.95.

Begitu pahit. Begitu pedih dan menoreh luka. "Perundungan tidak berhenti di situ. Ia menjadi bagian dari setiap hari, menyusup ke momen paling kecil, sampai aku tidak bisa lagi membedakan mana awal dan akhir. Setiap langkah terasa seperti berjalan di atas kaca, menunggu retaknya." Hal.95.

AURELIE DIJEBAK MENIKAH

Ini adalah puncak dari terkurungnya Aurélie dalam dekapan Bobby. Pria licik itu, dengan cara-caranya berhasil membawa Aurélie pergi dan ujug-ujug berada di sebuah gereja kecil, tempat keluarga Bobby sudah berada. Ini benar-benar lelucon, bagaimana mungkin, Aurelie yang saat itu baru berusia 18 tahun, menikah tanpa dihadiri oleh mama, papa atau adiknya.

"Saat aku masih syok, kulihat Bobby jongkok di samping koperku, mengobrak-abrik sampai menemukan gaun putih yang tadi ia sebut. Ia mengangkatnya. “Pakai ini.”

Aku menatap gaun itu. “Kenapa?” Aku sudah menduga, tetapi sebagian diriku masih berharap aku salah.

Rahangnya mengencang. “Kita menikah.” Hal.98.


Dan begitulah pernikahan itu terjadi, dan serapat apapun Aurelie menyembunyikan, betapa kagetnya mamanya Aurelie ketika kemudian mengetahuinya. Seketika, ia mengusir Aurelie dan dengan lantang sang ibu berkata jika sejak itu Aurelie bukan lagi anaknya.

"Dan begitu saja, aku tidak punya rumah. Tidak punya ibu. Tidak punya tempat aman. Tidak punya suara untuk menjelaskan." Hal.109.


Dan tentu saja, Bobby, orang yang paling bertanggung jawab atas kejadian ini malah menyambut kabar itu dengan bahagia. Berarti, Aurelie dapat ia miliki sepenuhnya. Aurelie ia boyong ke rumah tempat bapak-ibunya tinggal beserta kakak dan keluarga kecilnya. Sejak awal menikah, Aurelie sudah asing dengan orang-orang itu. Ya bayangkan saja, ketika kamu baru bertemu mertua dan ipar tepat di hari pernikahan, dan kemudian kamu diboyong dan harus tinggal satu atap dengan mereka.

Rumah yang tak terlalu besar itu semakin sesak dengan keberadaannya. Dan ironisnya lagi, satu ART yang bekerja di sana kian hari semakin ringan pekerjaannya, sebab beberapa urusan rumah tangga diserahkan kepada Aurelie. Mula-mula, Aurelie hanya diwajibkan mencuci baju ia dan Bobby, tapi kemudian, entah bagaimana terjadinya, pakaian mertuanya pun menjadi tanggung jawabnya.

Rumah itu benar-benar perwujudan dari neraka. Bobby makin menunjukkan wujud aslinya. Aurelie yang sering mendapatkan tekanan lewat kata-kata, kini mulai mengarah ke fisik. Bobby, tiap kali emosi dan marah (padahal perkara sepeleh seperti Aurelie yang lupa mematikan lampu kamar mandi), akan melampiaskannya kepada Aurelie dengan cara meludahinya.

Tanpa sepatah kata, ia meludahi wajahku. Ludahnya hangat, basah, menempel di pipi. Menetes melewati rahang ke leher. Ia menatapku seperti aku bukan siapa-siapa. Aku tidak bergerak.
Aku tidak menangis. Aku tidak berteriak. Aku berdiri saja, dada naik turun, seperti berdiri di dasar laut tanpa sisa udara. Lalu ia mulai menangis, besar, marah, berantakan, seolah dialah
yang disakiti. Saat itu aku sadar, ia tidak hanya meludahi wajahku. Ia mengubah kekerasan menjadi pertunjukan." Hal.129.

Aurelie benar-benar tak punya pegangan. Uang hasil kerjanya langsung diambil alih oleh Bobby. Selama menunggu projek baru berbulan-bulan lamanya, ia harus hidup dalam kepalsuan. Di hadapan teman-temannya Bobby, ia harus menunjukkan keromantisan.

Sudah berbagai cara dilakukan Aurelie untuk kabur dan kembali ke mamanya. Bobby pun dalam keadaan marah biasanya akan mengusir Aurelie dengan kasar, "kamu akan selalu jadi anak mama." Namun, ketika Aurelie sudah berhasil berkemas, Bobby akan selalu menemukan cara untuk menghalangi Aurelie. Dari cara love bombing hingga mengancam mau membunuh kedua orang tua Aurelie.

Lantas, bagaimana kemudian Aurelie bisa lepas dari pria brengsek itu?

* * *

Saat salah seorang kawan menginformasikan tentang buku Broken Strings ini, saya nggak terlalu ngeh jika ini adalah kisah nyata hidup Aurélie Moeremans selaku penulis. Jujur, saya nggak pernah dengar nama Aurélie Moeremans sebelumnya. Saat baru-baru ini berita bahagia Aurélie yang menikah dengan seorang chirpractor bernama Tyler gaung, saya sekadar menyerap informasi itu sambil-lalu dan nggak pernah tahu jika Aurélie dulunya pernah menikah muda dan drama percintaannya heboh karena Aurélie diberitakan kabur dari rumah dan memilih meninggalkan keluarganya demi cinta.

Barulah, dari memoar ini saya paham situasi sebenar-benarnya saat itu. Walaupun nama-nama tokohnya disamarkan, tapi semua orang yang baca buku ini akhirnya tahu siapa sosok Bobby sebenarnya, dan di sosial media, profil mantan suami Aurélie yang brengsek itu dengan cepat dikuliti oleh warganet.

Sungguh, saya sendiri nggak habis pikir jika Aurélie menjalani hidup sedemikian pahitnya. Bahwa ia berhasil melewatinya dan nggak terpikir untuk bunuh diri saja saya salut luar biasa. Dari 200-an halaman yang ditorehkan, sebagian besar berisi tindak kekerasan yang diterima Aurélie (bahkan Angel, monyet yang jadi peliharaannya).

Bacanya memang bikin nggak nyaman. Saya kayak lagi baca Lemony Snicket's A Series of Unfortunate Events dan ingin segera membaca bagian akhir dan berharap ada kisah bahagia di sana. Jika kemudian Aurélie berhasil lepas dari cengkraman Bobby, itu pun tak bisa dikatakan jika kisah hidup Aurélie ini happy ending. Ia butuh waktu yang lama dan proses yang tak sebentar untuk benar-benar sembuh.

Dan, salah satu tujuan Aurélie menuliskan kisah hidupnya adalah sebagai dari proses penyembuhan itu sendiri. Beruntungnya, suaminya Tyler menyokong penuh. Dan hebatnya lagi, Aurélie menuliskan kisah hidupnya ini dengan sangat baik! saya bahkan sempat suuzon ia menggunakan ghost writer pada awalnya. Namun, tulisan ini benar-benar berisi curahan hati ia sebagai korban dan orang yang mengalami kejadian itu. Satu hal yang sulit disamai oleh ghost writer mana pun.

Mulanya e-book ini ia tulis dalam bahasa Inggris. Lalu penggemarnya meminta untuk diterjemahkan. Dan, lagi-lagi Aurélie melakukannya seorang diri. Maka dari itu, jika masih ada saltik itu masih dapat dimaklumi, dan sangat minor. Buku terkenal yang sudah digawangi oleh editor saja masih bisa kebobolan, kan.

Pada akhirnya, apa yang ditulis oleh Aurélie ini sungguh bagus untuk dijadikan pelajaran. Nggak perlu melihat terlalu jauh, di sekitar saya pun (sempat) ada kisah-kisah percintaan tak lazim dengan rentang usia yang jauh. Walau pun, tentu tak semua pria-nya berperilaku bejat selaiknya Bobby. Namun, seharusnya dengan meledaknya buku ini, akan semakin banyak orang yang paham (atau bahkan mereka yang masih menjalani hubungan toxic dengan pria dewasa) dapat lebih memahami apa yang sebetulnya sedang terjadi.

Peran orang tua juga sangat penting. Tak hanya saya, tapi sebagian besar pembaca pasti muncul pikiran menyayangkan sikap mama Aurélie saat itu terjadi. Sebagai pembaca, saya -dan mungkin yang lain juga, akan berfikir bagaimana jika mamanya langsung cut Bobby sejak awal ketika Bobby mulai membuka topengnya pelan-pelan.

Tapi, saya yakin Aurelie menuliskan kisahnya bukan bermaksud untuk memojokkan keluarganya (terutama mamanya), dan setahu saya ia masih melarang keluarganya untuk baca. Saat salah satu followersnya dengan terang-terangan menyampaikan kekecewaan ke mamanya, Aurelie dengan bijak menjawab, "mama aku belum pernah jadi ibu sebelumnya. Dia banyak belajar dari pengalaman ini and she did her best."

Buku elektronik ini dapat diunduh dan dibaca gratis di tautan yang ada di profil instagram Aurelie ya. Dan, dari saluran IG-nya saya tahu jika buku ini dalam proses diterbitkan oleh penerbit besar. Setahu saya ini kali kedua buku elektronik yang viral kemudian diterbitkan oleh penerbit. Dulu buku OCD-nya Deddy Corbuzier juga begini dan untungnya, walau bukunya tengah proses cetak, versi e-booknya masih dapat diunduh dengan bebas.

Mengakhiri tulisan ini, saya ingin menyampaikan sesuatu kepada Aurélie bahwa terima kasih sudah bertahan bahkan di masa-masa paling gelap dalam hidup. Semoga ke depan kamu menjalani kehidupan dengan baik dan bahagia. Terima kasih sudah menuliskan kisah hidupmu ini dan semoga akan semakin banyak Aurélie-Aurélie lain di luar sana yang berani mengambil keputusan untuk lepas dari toxic relationship.

Skor 9,2/10
Profile Image for Sheira Sharma.
133 reviews4 followers
January 12, 2026
"tapi aku cepat belajar, bahwa keadilan bukan jaminan. tanpa
uang, tanpa koneksi, tanpa orang berkuasa di pihakmu, kebenaran bisa lepas begitu saja dari tanganmu."

sebuah memoar tentang aurelie moeremans yang mengalami grooming, manipulasi, kekerasan, sampai pemerasan, diusia yang masih remaja. bacanya perlu kesabaran ekstra, karena membayangkan pelaku yang masih bebas berkeliaran sukses mematik kemarahan. meski ada kebahagiaan dan rasa bangga juga, karena bisa membaca kisah dari penyintas yang sekarang udah punya kenyamanan dan keberanian buat share ke kita para pembaca, secara gratis pula dengan tujuan yang sangat mulia; agar bisa membantu banyak orang diluar sana.

aurelie tau, kita semua tau, bahwa apa yang beliau alami masih sering terjadi. ini gue ga ngomongin secara umum ya, kita ngomongin lingkup kecil kehidupan selebritis ditanah air tercinta ini deh. udah berapa banyak child grooming yang dinormalisasi dan didukung sama pihak-pihak yang seharusnya cukup pintar buat sadar kalau itu kesalahan besar? ini ph raksasa loh dan mirisnya bukan satu ph aja, tapi banyak ph yang dengan kesadaran penuh memasangkan satu aktris minor, sekali lagi, MINOR, dengan pria dewasa yang mirisnya, memang punya hubungan istimewa sama artis minor ini diluar konteks profesional. kalau ph dibalik industri kreatif kita aja melindungi dan kasih ruang buat pedo, nggak ada harapan lagi kecuali kesadaran masyarakat itu sendiri.

setiap kali gue memperdebatkan isu ini di sosial media, ada satu kalimat yang di lempar berulang, "yaudah sih gapapa, toh sama-sama cinta dan mereka keliatan bahagia." kebanyakan dari mereka nggak paham sama poin "minor" dan "dewasa" dan kenapa hubungan ini dilarang. gausah kaget karena pada satu titik, ini jadi semacam "budaya" yang udah ada turun temurun.

"ibuku dulu nikah pas umur 15 tahun sama ayahku yang udah menjelang 30an."

"nenekku dulu masih 14 tahun waktu dijodohin sama kakekku yang udah umur 40."

gue yakin, hal-hal serupa pernah kalian dengar, bahkan rasakan karena berdasarkan pengalaman pribadi. realitanya, dimasyarakat kita itu udah jadi hal biasa sampai banyak orang nggak bisa liat letak kesalahannya di mana. "terus apa salahnya? orangtua gue dulu juga gitu dan mereka tetep langgeng sampai sekarang." langgeng bukan jaminan dari kebahagiaan dan pembenaran dari hal yang emang udah melenceng dari awal.

kenapa orang yang udah dewasa nggak boleh menjalin hubungan sama minor atau anak dibawah umur? buku ini menjawab pertanyaan diatas, terlepas dari kasus dimana ada pasangan serupa yang berakhir bahagia. karena jaminan kebahagiaan dihubungan yang salah dan nggak seimbang kayak gini itu samar, bahkan kalau menurut keyakinan gue pribadi, nggak pernah ada jaminan itu dari awal.

minor itu rentan kena manipulasi karena masih belum kenal diri sendiri, mereka masih penuh kebingungan dan nggak bisa nilai tindakan mereka ini salah atau benar. kalau dibalik proses pengenalan diri itu mereka ketemu sama orang yang salah, kayak aurelie dan di bajingan bobby, hidupnya bakal penuh manipulasi dan susah buat keluar dari jeruji ini. aurelie hebat karena berhasil berjuang sampai akhir, lingkungan keluarga dan pertemanan setelahnya juga mendukung masa penyembuhan.

tapi banyak aurelie kecil diluaran sana yang masih terkurung dalam sangkar, karena nggak tau cara keluar dan lingkungan sekitar menegaskan kalau itu normal. sampai sini mau pakai alasan apa lagi? kalo nggak semua pedo brengsek kayak bobby? ada kok pedo yang baik hati dan tidak sombong, pedo ini pacaran sama minor emang berdasarkan rasa cinta dan peduli, sukarela pula berperan sebagai psikolog pribadi yang senantiasa menemani dan melindungi si minor ini. kalau masih ada yang ngomong gitu, berarti otaknya emang konslet. jadi pedo aja udah salah dan hina, alasan dan perlakuan baik pedo nggak bisa jadi pembenaran atas tindakan yang dari awal emang udah salah.

terus gue mau nyinggung juga soal hukum kita yang stress, ada satu quote dibuku ini yang gue suka karena emang terlampau nyata, "tapi aku cepat belajar, bahwa keadilan bukan jaminan. tanpa
uang, tanpa koneksi, tanpa orang berkuasa di pihakmu, kebenaran bisa lepas begitu saja dari tanganmu." komisi perlindungan anak mana ini liat banyak anak dibawah umur di grooming secara terang-terangan tapi nggak ambil tindakan? dikasus aurelie ini juga sama, ada penyintas lapor dengan bukti yang menurut gue sangat cukup masih dipersulit. emang kocak, kalau hukum negara nggak bisa, kita kasih hukum sosial aja, cancel pelakunya, cancel phnya, cancel brand-brand yang terafiliasi sama dia.

duh jadi panjang gini, karena gue emang udah resah banget soal kasus ini, mangkanya pas liat aurelie buka suara dan angkat isu ini ke media gue lega, akhirnya mulai banyak yang sadar dan ambil tindakan dengan cara angkat pedo-pedo bejat yang masih dikasih panggung sama media yang nggak kalah pejat. gue harap, ini bukan sekedar trend, tapi tradisi yang dilestarikan sampai kiamat nanti. jangan kasih ruang buat pedo di industri yang jadi konsumsi banyak orang, lebih aware juga kalau issue ini terjadi disekitar kalian. karena umur disini bukan sekedar angka, tapi awal dari luka dan trauma.

terimakasih aurelie moeremans atas bukunya yang bisa dibaca gratis oleh kita semua, saya yang bukan siapa-siapa aja bangga sama keberanian kamu. saya harap, kamu dapat banyak kebahagiaan dalam hidup, karena kamu orang baik dan saya percaya orang baik akan dapat sesuatu yang baik juga dalam hidup. saya juga mengapresiasi buku ini yang tergolong sangat baik dalam segi penulisan, kamu punya potensi besar di situ, ditunggu karya-karya selanjutnya dalam format yang sama atau berbeda.
Profile Image for Tania.
243 reviews14 followers
January 13, 2026
The first book that I finished in 2026.
Honestly, I started it out of curiosity. I don't even know about Aurelie, by the time she started her career in media, I rarely watch TV anymore.

She wrote it beautifully, far too beautiful for a sad and disgusting story. After 4 chapters, it actually too sickening to read but I'm holding on, knowing she survived it and now live happily with her Husband separated by oceans and thousands of miles from Bobby.

I'd say read it if you think can stomach reading abusive things. It'd give you lesson how to think carefully, how to protect and hopefully to do something right when you see a wrongdoing.

More importantly, don't be a Bobby. Don't raise someone like him. Don't protect him. Choose to stay open with others choice. Don't raise your hands (or spit others) when things doesn't go your way.

Ps. Aurelie said it's her parents first time being parents, and yeah they doesn't always makes the right choice. I hope you'd be better parents after reading this. Protect your children. They're not automatically being an adult the second they hit 18 (or 21 of that matters). Help them being a better person :)

Pps. If possible, always check both sides of the story. Dont listen to someone just because they're older (Bobby is 45 now and he still cried in front of camera and call someone younger "oom" to get sympathy). Be wise. Always.
Profile Image for Moodyreader.yc.
17 reviews
January 13, 2026
First things I would like to say to Aurelie, thank you for not give up and I'm so sorry for everything you had been through.
I really hope there's no other Aurelie ever again

Everything that happened was cause of the parents and society.
I can't talk about bad parenting cos I'm not a parent myself, but I can say that everything happens when communicating is hard. I hope everyone include myself can be the best parents for the child and protect them from everything like this.

As for society, please don't normalize underage age-gap and please don't victim-blame. Indonesia society are very toxic! I can't hope more for the late generations, but I hope for everyone in my generation and the next, we can change the world to make it more better.
Profile Image for cherry on top.
1 review
January 13, 2026
Buku ini menggambarkan sejahat-jahatnya pria: rapist, pedophile, abuser, manipulator, and most of all, he's freaking DUMB. Bobby benar-benar menjijikan, selama membaca buku ini, berulang kali aku merinding dibuatnya. Manusia pedofil memang yang paling hina. Semoga lebih banyak orang bisa membaca buku ini, karena banyak sekali orang Indonesia yang belum sadar akan pedofilia. May you rot in the deepest pits of hell, ROBBY TRIMONTI.
Profile Image for Fransisca W.
1 review
January 11, 2026
Broken Strings is a quietly devastating memoir. Aurélie Moremans writes with honesty and restraint, capturing the confusion, silence, and lasting impact of child grooming without ever resorting to shock. Her reflective voice is deeply moving, revealing how manipulation can shape a child’s sense of self long into adulthood. This is a painful but important book—one that asks for empathy, attention, and care from its readers.
Profile Image for K..
4 reviews
January 11, 2026
This book is really insane. Nggak banyak yang bisa dibahas dari sini karena this book triggered me a lot. Rasa pusing dan mual selalu datang tiap baca buku ini. Semoga banyak Aurélie di luar sana yang dapat segera diselamatkan, dan semoga tidak ada Aurélie lain setelah ini. Child grooming is real, and I hope Indonesians become more aware about this.
Profile Image for 피르다.
21 reviews
January 11, 2026
finished in one sit? hell yeah. tears me into pieces, scattered me, and remind me with wound that I wish to not to see or remember. I hope bobby rot on the deepest hell so do all the same person who did the same shit as he do. may all women safe, happy and healed.
Profile Image for nair.
3 reviews
January 12, 2026
Berat, kepala gua berat banget baca ini. Semakin mendekati halaman terakhir, semakin tegang leher gua. Semakin pusing. Lelaki anjing babi najis. Gak tau lagi harus menghina pake bahasa apa. Semoga semua hal buruk terjadi ke lelaki itu sampe akhir hayatnya.
Profile Image for Anlie.
16 reviews
January 12, 2026
Bobby is pure TRASH behavior, no excuses, no sympathy. Every time he showed up, my blood pressure went up oh goshhhh. Hope the universe remembers EVERYTHING he’s done. On the other hand, Aurelie deserved happiness, a love that doesn’t hurt, and so much more than what she got ❤️
Profile Image for Cha.
14 reviews
January 12, 2026
my first read in 2026, and my heart so heavy...
Profile Image for vy.
7 reviews
January 12, 2026
words cannot begin to describe how disgusting bobby’s behavior is.
Profile Image for sugaringcindy.
3 reviews2 followers
January 12, 2026
thank you aurelie for writing this book. dan untuk semua perempuan-perempuan di luar sana yang mengalami hal serupa, ingat kalian nggak pernah sendirian. <3
Displaying 1 - 19 of 19 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.