Jump to ratings and reviews
Rate this book

Pelarian Dua Arah

Rate this book
Ini kisah tentang Bia dan Saga, dua anak manusia yang masing-masing berlari menjauh dari dunia yang penuh tuntutan dan larangan. Bia dengan cita-citanya yang dikubur paksa oleh pacar dan ibunya sendiri, Saga dengan tuntutan pacarnya untuk memikirkan masa depan dan karier.
Lewat gedung pertunjukan dan panggung teater, keduanya sepakat berhenti sejenak untuk menemukan diri mereka sendiri di sana.

Namun, tidak mudah bagi Bia untuk keluar begitu saja dari toxic relationship dengan pacarnya. Karena Gora—pacarnya, pun adalah laki-laki yang penuh luka dan trauma oleh orangtuanya sendiri, lewat kehadiran ibu Bia, Gora merasa mendapatkan kasih dari seorang ibu. Bia menemui dilema. Haruskah ia memilih dirinya sendiri untuk teater dan Saga. Atau mengalah dengan ibu dan pacarnya sekaligus mengubur cita-citanya dalam-dalam?

184 pages, Paperback

Published January 1, 2026

1 person is currently reading

About the author

Olen Saddha

2 books

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
1 (50%)
4 stars
1 (50%)
3 stars
0 (0%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 of 1 review
Profile Image for aynsrtn.
505 reviews18 followers
January 12, 2026
“Katanya kita harus tahu apa tujuan hidup kita. Tapi, begitu kita tahu, hidup seolah menjauhkan kita dari tujuan itu.”

“Katanya kita harus jadi manusia yang sederhana. Tapi, nyatanya hidup nggak pernah berpihak pada siapa pun yang memilih hidup biasa-biasa aja.”

Bia dan Saga sama-sama ingin berlari. Bia yang terjebak toxic relationship dan ibunya yang tak pernah mendukung mimpinya untuk berakting di panggung teater. Sementara Saga terjebak dalam kebohongan yang dilakukan pacarnya karena malu Saga belum lulus kuliah dan masih kerja serabutan. Bia dan Saga pun melakukan pelarian untuk menemukan diri mereka yang sebenarnya.

Karya debut penulis.
Sebagai karya debut, penulisan buku ini sudah sangat rapi. Plotnya mengalun perlahan menguak satu per satu apa yang terjadi pada Bia dan Saga dalam bobot yang seimbang—baik di kisah cinta mereka, konflik keluarga, dan pencapaian cita-cita. Bukunya tipis (kurang dari 200 halaman) namun begitu padat karya. Nggak ada plot yang dipanjang-panjangin atau yang dibuat muter-muter dulu. Adegan-adegannya pun begitu straight to point. Dan page turner. Aku membacanya dalam sekali duduk karena begitu senang bisa membaca sebuah cerita yang bagus.

Tidak hanya perihal romansa.
Ada tiga hubungan yang menurutku menarik di buku ini, yaitu:

Bia dan Desi—ibunya.
Desi tidak suka anak satu-satunya berakting karena semua itu mengingatkan Desi akan ayahnya Bia yang pergi meninggalkan mereka karena ingin mengejar karirnya di dunia akting. Padahal Bia ingin menjadi seorang aktris teater karena terinspirasi oleh ayahnya. Bia diam-diam secara sembunyi-sembunyi membaca puisi—menjadikan kamarnya sebagai tempat rahasianya untuk mengekspresikan kesukaannya terhadap teater. Setiap hal itu dipergoki Desi, maka siap-siaplah peperangan akan terjadi. Sebenarnya Bia dan Desi itu hanya perlu ngobrol. Komunikasi dari hati ke hati. Tapi, ya namanya ingin mengerti kadang mesti ada friksi dulu.

Saga dan hidupnya yang sederhana.
Sebagai pemeran utama laki-laki di buku ini, Saga ini karakternya let if flow banget. Dia cuti kuliah sehingga pacarnya, Eva, lulus duluan bahkan sudah bekerja di tempat yang lebih bonafit. Sementara Saga, masih sibuk skripsi dan kerja di gedung pertunjukan. Nggak ada yang salah dengan hidup yang biasa-biasa saja, jalani aja yang dulu, namun bagi Eva, dia tidak melihat masa depan di diri Saga. It’s so hurtful —tapi realitanya begitu.

Gora dan segala kompleksitasnya.
Ada satu tokoh yang di buku ini, yaitu Gora—pacar Bia yang sangat super duper kompleks karakternya. Trigger warning: abusif baik verbal maupun fisik dan percobaan bunuh diri. Jadi, kebijakan pembaca sangat diperhatikan dalam menyikapi tokoh ini. 

Gora bisa sangat manis, namun bisa juga tempelin tangan Bia ke hot plate (serius pas adegan ini aku merinding banget 😭). Namun, semua ini terjadi karena Gora melihat ayahnya melakukan hal yang sama kepada mamanya. Manifestasi trauma kepada seseorang itu beda-beda. Ada yang tetap membuatnya menjadi korban dan menjauh. Ada yang malah membuatnya menjadi pelaku. Semoga Gora segera menemukan jalan terbaiknya juga. 

Best moment(s).
Bagaimana dengan romansanya? Duh … meskipun tipis-tipis, tetapi sekalinya ada, bikin mesam-mesem. Oh iya, meskipun ini—pada awalnya Bia dan Saga punya pacar masing-masing, tetapi ini [menurut keyakinan saya] tidak ada trope cheating karena yaa … baca sendiri deh, hehe. 

Dan inilah best moment yang bikin ku mesam-mesam, here we go~

Adegan Bia dan Saga membuat puisi.
Aduh, meleleh deh. Apalagi saat Bia meyakinkan Saga bahwa semua orang bisa menulis. Mereka pun saling menulis dan saling membacakannya di depan satu sama lain. Luvv banget.

Adegan tiket api.
Seriously, ini kalau kalian ingin “menjebak” gebetan kalian biar bisa duduk sebelahan di perjalanan kereta api, bisa banget pake cara Saga. Smooth banget. Belajar dari mana sih, Saga? ☺️

Adegan sama-sama kabur dari pacarnya masing-masing.
Ini lucu banget sih. Awal pertemuan mereka karena sedang lari dari pacar. Saga tanya kamu kenapa ke Bia. Lalu, Bia jawab dia lagi sembunyi. Dari siapa, tanya Saga lagi. Dari pacar, jawab Bia. Terus, Bia tanya pakai mode capslock ke Saga, “KAMU NGAPAIN SIH DI SINI?” Sembunyi. DARI SIAPA? PACAR! BOHONG! SUMPAH, DEH! Haha … ketawa banget pas adegan ini.

Yang menjadi catatan.
Bukunya masih ada yang kata-kata yang salah ketik. Lalu, ini sebenarnya agak mengganggu sih, yaitu dialog tag yang tidak di enter ke bawah. Misalnya di satu paragraf itu ada dua dialog tag. Jadi membuat pembaca bingung, dikira masih A yang ngomong, nggak tahunya udah B jawab. 

Rekomendasi.
Buku ini cocok bagi kamu yang suka cerita romansa young-adult yang sedang menemukan jati diri dan diri mereka yang sebenarnya. Sangat page turner. Kalau butuh bacaan sekali duduk, buku ini aku rekomendasikan. 

🌹 4 bintang untuk “kamu tahu jenis pelarian yang paling mendebarkan? yang dilakukan secara dua arah.”
Displaying 1 of 1 review

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.