Jump to ratings and reviews
Rate this book

Naar de Republiek Indonesia

Rate this book
Buku ini bukan sekadar penerbitan ulang. Naar de Republiek Indonesia dibaca kembali sebagai teks politik yang lama "dijinakkan".

Dengan membandingkan edisi Indonesia 1962 dan naskah sumber Belanda, edisi kritis ini membuka lapisan-lapisan yang dirapikan dalam sejarah penerbitannya lewat kata pengantar komprehensif dan ratusan catatan kaki sebagai ruang editorial yang menandai perbedaan, membuka konteks historis dan teoritis, serta menelusuri ketegangan historis yang menyertainya. Termasuk menyingkap kesalahan pemahaman atas bahasa asal teks yang berdampak pada pengaburan peran penerjemah dalam sejarah penerbitannya.

Seratus tahun lalu, Naar de Republiek Indonesia atau Menuju Republik Indonesia ditulis oleh Tan Malaka. Republik kini telah ada, setidaknya secara formal, tapi seperti inikah republik yang dibayangkan Tan Malaka atau yang dikehendaki oleh kita? Edisi ini hadir sebagai undangan untuk memikirkan republik sebagai proses yang selalu bergerak, selalu dipertaruhkan, dan selalu menuntut keberanian untuk menentukan arah.

123 pages, Paperback

First published April 1, 1925

Loading...
Loading...

About the author

Tan Malaka

60 books341 followers
Tan Malaka (1894 - February 21, 1949) was an Indonesian nationalist activist and communist leader. A staunch critic of both the colonial Dutch East Indies government and the republican Sukarno administration that governed the country after the Indonesian National Revolution, he was also frequently in conflict with the leadership of the Communist Party of Indonesia (PKI), Indonesia's primary radical political party in the 1920s and again in the 1940s.

A political outsider for most of his life, Tan Malaka spent a large part of his life in exile from Indonesia, and was constantly threatened with arrest by the Dutch authorities and their allies. Despite this apparent marginalization, however, he played a key intellectual role in linking the international communist movement to Southeast Asia's anti-colonial movements. He was declared a "hero of the national revolution" by act of Indonesia's parliament in 1963.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
160 (52%)
4 stars
103 (33%)
3 stars
38 (12%)
2 stars
3 (<1%)
1 star
3 (<1%)
Displaying 1 - 30 of 47 reviews
Profile Image for Rido Arbain.
Author 6 books114 followers
March 3, 2025
Buku berjudul asli Naar de ‘Republiek Indonesia’ ini pertama kali ditulis di Kanton, Cina, pada April 1925 ketika Tan Malaka berusia 27 tahun. Pada masanya, buku yang ditulis dalam bahasa Belanda ini menjadi bacaan bawah tanah bagi kaum pergerakan, lantas menjadi kitab penting bagi Sukarno sekaligus didalami pula oleh Mohammad Hatta—sang dwitunggal proklamator.

Sama nasibnya seperti Aksi Massa (1926), naskah buku ini juga menjadi barang ‘selundupan’ demi menghindari sensor represif pemerintah kolonial untuk kemudian disebarluaskan di bumi pergerakan nasional.

Tan Malaka mengawali buku ini dengan bab mengenai situasi dunia pada masa itu, di mana kapitalisme masih merajalela di berbagai negeri. Merespons fenomena itu, ia berpesan agar kaum pergerakan tak boleh merasa pesimis, pun tak boleh merasa optimis, karena kedua perasaan itu akan mudah membawa kita kepada oportunisme—paham yang semata-mata hendak mengambil keuntungan untuk diri sendiri dari kesempatan yang ada tanpa berpegang pada prinsip tertentu.

“Jika kita bayangkan kapitalisme sebagai satu gedung dan negeri-negeri di dunia adalah tiang-tiang yang mendukung gedung itu, maka Indonesia merupakan salah satu dari tiang-tiang itu,” ungkap Tan kemudian, menggambar situasi yang juga terjadi di Indonesia. Menurutnya, tidak cukup menunggu waktu saja untuk membuat gedung itu roboh, tetapi harus ada upaya nyata. Maka, kata Tan, itulah tujuan partai-partai komunis dunia dibentuk, yaitu untuk menggantikan sistem kapitalisme dengan komunisme.

Hal itu pun sejalan dengan isi draf “Program Nasional PKI” yang tertuang di buku ini, yang memuat banyak sekali ide-ide revolusioner yang sangat pro rakyat terutama kaum proletariat. Sebagai contoh misalnya, menasionalisasi pabrik-pabrik dan tambang-tambang serta mendirikan koperasi-koperasi rakyat (ekonomi); kemerdekaan Indonesia dengan segera dan tak terbatas (politik); pemisahan gereja dan negara serta mengakui kemerdekaan beragama (sosial); wajib belajar bagi anak-anak semua WNI dengan cuma-cuma sampai umur 17 tahun (pendidikan); hingga menghapuskan tentara imperialis dan mengadakan milisi rakyat untuk mempertahankan Republik Indonesia (militer).

Selain itu, menurut Tan, tak ada suatu program revolusioner yang berarti, jika tak ada gerakan revolusioner. Akan tetapi, jika tiap-tiap gerakan revolusioner tidak mempunyai dasar teori yang nyata dan tujuan revolusioner yang tersusun tegas (yaitu suatu program), maka tidak akan berdaya dan justru berpotensi menjadi alat kapitalisme itu sendiri. Hal itu juga ia utarakan untuk mengkritik keruntuhan partai-partai lain yang sudah eksis seperti BU, NIP, dan SI yang saat itu tak jelas tujuan dan taktiknya.

Rencana aksi yang disusun Tan Malaka tentu bukan sekadar cakap ingin, sebab kemudian dengan detail ia merincikan strategi inisiatif berupa gerakan ofensif—karena yang ia lihat pada saat itu gerakan revolusioner Indonesia masih cenderung defensif. Pergerakan yang diusulkan Tan ibarat sebuah rekaman adegan yang tampak nyata di kepala kita, seperti keinginannya untuk mengerahkan induk pasukan ke lembah Bengawan Solo, sementara di pusat ekonomi dan militer lainnya dilakukan penyerangan kepada imperialis Belanda. Menurutnya, satu kemenangan di Priangan, Aceh, dan Ternate, ditilik dari sudut taktik adalah sangat penting dan dapat merintis jalan bagi kemenangan strategis.

Meski ide kesadaran revolusioner yang ia ambil dari materialisme dialektika Marx itu baru berbuah hasil pada dua dasawarsa kemudian, ketika negara ini betul-betul mendeklarasikan kemerdekaannya, akan tetapi sebelum itu terjadi ia bahkan sudah mengimajinasikan bentuk negara Republik bernama Indonesia. Maka tak salah jika kemudian ia dijuluki sebagai Bapak Republik Indonesia.

Apabila kita setuju dengan kemerdekaan berpikir, meskipun sejarah mungkin tidak akan terulang persis sama, buku ini menjadi penting untuk dibaca sebanyak-banyaknya orang. Sudah saatnya kita bangkitkan ia dari bawah tanah, untuk menghargai gagasan pencetusnya, yang membuat negeri ini menjadi Republik Indonesia seperti yang kita kenal sekarang.
Profile Image for Luthfi Ferizqi.
508 reviews18 followers
March 14, 2026
Written in 1925, this work emerged during the late colonial period, when Indonesia had not yet gained independence and the early momentum of the national awakening was still unfolding. This centennial critical edition, edited by Zen RS, is particularly valuable because it includes extensive footnotes and revisits parts of the translation from the original Dutch text.

Through this book, many readers will understand why Tan Malaka is often regarded as one of the most influential thinkers in the history of Indonesia’s struggle for independence. His grasp of geopolitics and political strategy is striking. Writing in 1925, Tan analyzed the growing rivalry between Japan and the US and considered how a major conflict among imperial powers could create opportunities for colonized nations to pursue independence.

Another particularly interesting aspect of this edition is Zen RS’s editorial notes reflecting on contemporary Indonesia. In the text, Tan urges intellectuals to engage directly with the grassroots and to build a solid mass base rather than remaining confined to elite circles. Zen RS highlights how this message feels sharply relevant—and sometimes in contrast—to the realities of Indonesian intellectual and political life today.

In the end, this book is not merely a historical document. The political insights and strategies outlined by Tan still resonate today, particularly for young intellectuals who are thinking about the relationship between ideas, political organization, and social movements.

---

Karya ini ditulis pada tahun 1925, pada masa ketika Indonesia masih berada di bawah kolonialisme dan momentum kebangkitan nasional baru mulai terbentuk. Edisi kritis 100 tahun yang diedit oleh Zen RS menjadi sangat menarik karena dilengkapi dengan banyak catatan kaki serta peninjauan ulang terhadap beberapa bagian terjemahan dari teks asli berbahasa Belanda.

Melalui buku ini, banyak pembaca akan memahami mengapa Tan Malaka sering dianggap sebagai salah satu pemikir paling berpengaruh dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Pemahamannya mengenai geopolitik dan strategi politik terasa mengagumkan. Dalam tulisannya pada tahun 1925, Tan menganalisis rivalitas yang berkembang antara Jepang dan AS, serta melihat kemungkinan bahwa konflik besar antar kekuatan imperial dapat membuka peluang bagi bangsa-bangsa terjajah untuk meraih kemerdekaan.

Hal lain yang tidak kalah menarik adalah catatan editorial dari Zen RS yang mengaitkan gagasan tersebut dengan kondisi Indonesia masa kini. Dalam buku ini, Tan menganjurkan agar kaum intelektual tidak terpisah dari rakyat, melainkan turun langsung ke akar rumput dan membangun basis dukungan yang kuat. Zen RS menyoroti bagaimana pesan ini terasa tetap relevan—bahkan kadang kontras—dengan realitas kehidupan intelektual dan politik Indonesia saat ini.

Sebagai penutup, buku ini tidak hanya menjadi catatan sejarah. Gagasan dan strategi politik yang diuraikan Tan di dalamnya masih terasa relevan hingga hari ini, terutama bagi kaum intelektual muda yang ingin memahami hubungan antara pemikiran, organisasi politik, dan gerakan sosial.
Profile Image for Puty.
Author 9 books1,445 followers
May 14, 2026
Perlu waktu yang cukup lama bagi saya untuk menyelesaikan buku ini, tapi saya pikir itulah sebaik-baiknya cara mencerna buku karya Tan Malaka dengan catatan kritis oleh Zen RS. (Selain itu, saya harus akui bahwa saya perlu berkonsultasi dengan google tentang komunisme sebagai ideologi (maklum, kelahiran zaman Orba....). "Tan Malaka Trotskyism?")

Buat saya ini adalah pengalaman baru dalam membaca. 'Naar de Republiek Indonesia' sendiri adalah karya Tan Malaka yang ditulis puluhan tahun sebelum proklamasi, mencita-citakan Indonesia sebagai republik dan menegaskan pentingnya gerakan rakyat yang terorganisir dan berdaya untuk merebut kemerdekaan, di samping juga mengamati situasi geopolitik dunia yang bisa membuka celah kesempatan. Tentu ini adalah karya yang amat penting dan visioner, namun bagaimana Zen RS melengkapinya dengan catatan kritis membuat edisi ini komplet. Berbagai catatan kaki berisi keterangan, catatan tentang konteks ruang dan waktu, bahkan dokumen-dokumen foto pendukung bantu pembaca memahami secara lebih mendalam. Pemilihan kata 'Kami' dan 'Kita' pun ada yang diberi catatan kaki.

Satu hal yang sebetulnya membuat saya terkesan adalah bagaimana sejak awal Zen RS menjelaskan tentang bagaimana buku ini diterjemahkan secara kritis; membandingkan edisi asli dan yang sudah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia; serta profil penerjemahnya. Sekali lagi, memberi wawasan bagi saya yang terbilang awam ini.

Saya rekomendasikan banget!
Profile Image for Roffi Ardinata.
30 reviews2 followers
September 2, 2018
Sebuah karya yang sangat visoner dan terukur di zamannya, malaui tulisan ini (Naar de Republiek) Tan Malaka menyampaikan konsep yang jauh melampaui zamannya. 20 tahun sebelum Indonesia merdeka (1925) dengan sangat jenius sudah dinyatakan pemikiran tentang masa depan wilayah jajahan Balanda ini sebagai sebuah negara republik, yang akhirnya mengilhami para pejuang dan bapak pendiri bangsa yang lain. Tidak hanya menyatakan gagasan, namun juga menguraikan dengan sangat detial langkah dan syarat perjuangan yang harus diambil kedepannya. Sekali lagi tulisan ini menggambarkan bahwa pemikiran Tan Malaka bukanlah hanya sebuah mimpi dan angan-angan, namun sebuah pemikiran membangun bangsa secara realistis dan terukur.
Profile Image for Reiza.
196 reviews7 followers
March 1, 2026
Salah satu dari sekian banyak dosa besar Orde Baru adalah mereduksi ideologi komunisme menjadi ideologi atheis belaka. Such a great, great loss. Kenapa? Karena banyak dari para tokoh bangsa beserta karyanya yang sejatinya mewakili semangat zaman/zeitgeist-nya, hilang dari diskursus dan diskusi di sekolah. Termasuk, menurutku, Tan Malaka.

Lewat buku ini, terlihat betapa jeniusnya Tan Malaka dan betapa beruntungnya bangsa Indonesia punya para pendiri bangsa yang cerdasnya gak sembarangan. Tentang ideologi komunisme sebagai semangat, dapat kiranya kita rasakan lewat buku ini sebagai sebuah jendela untuk melihat jiwa zaman/zeitgeist pada dekade 1920-1930an. Meskipun, pada akhirnya, Tan berpisah jalan dengan komunisme internasional tak lama setelah menulis buku NDRI ini.

Setelah membaca buku edisi kritisnya, terlihat jelas kalau perjalanan membawa negeri ini ke sebuah alam kemerdekaan yang 100% merdeka secara utuh bagi semua rakyatnya masihlah panjang. Dan bahwa ilusi paling berbahaya yang selama ini mempermainkan kita, adalah ilusi kebebasan. Kolonial Belanda mungkin sudah pergi lama, tapi hantunya menolak pergi. Menyisakan sifat kolonial yang merasuki. Itulah nasib buruk kita sebagai bangsa, dan kondisi yang kita hadapi saat ini, sehingga kata “Menuju Republik Indonesia” sedihnya, masih relevan untuk terus diperjuangkan.
Profile Image for Hendra Putra.
31 reviews2 followers
April 9, 2021
Yang menakjubkan dari buku ini adalah, buku ini di tulis ketika Datuk masih dalam masa pembuangannya yang sedang bersembunyi di Kanton, 1925. Beliau menulis buku ini dalam bahasa Belanda, mengirimkannya ke Indonesia untuk dibaca oleh kaum intelek Indonesia. 1925, beliau menganalisa pergolakan dunia tentang kemungkinan terjadinya perang yang lebih besar dari Perang Dunia I. Akan terjadi perang antara Amerika dan Jepang di Pasifik. Dan beliau benar! 1939, pecah perang dunia ke II yang menyeret para Imperialis ke dalam pusarannya. Karyanya cukup keras, untuk mengingatkan Rakyat Indonesia bersiap siaga memerdekakan diri saat momentum ini. (And that is what we did at the end). Tetapi yang paling menarik bagi saya di buku ini adalah cara Datuk dalam menganalisa “ketololan” Belanda, betapa beliau paham betuk kelemaham imperialis Belanda dalam menjajah Indonesia, mereka menghisap kita sehabis habisnya sehingga benar-benar tidak ada kaum borjuis kecil di Indonesia yg lahir di tangan Belanda (kaum ini bisa mendukung kembalinya Belanda menguasai Indonesia pasca perang - Seperti di Tiongkok dan Philippines). Datuk menjelaskan betapa gobloknya dan kewalahannya Belanda jika Indonesia melawan balik, tidak akan ada yang membela Belanda dari pihak pribumi dan kondisi ini sangat baik. Hal ini lah yang membuat taktik dan strategi di buku ini menjadi relevan, krema fakta dan latar belakang penulisan buku ini dilandasi analisa yang cermat terhadap imperialis belanda khususnya dan imperialis dunia (Inggris, Amerika, Jepang, Perancis) umumnya. Intinya, beliau menulis tulisan yang menghinakan Belanda di depan hidung para kompeni sendiri. What a brave man, but we are so sorry, he died on his our army’s hand. May all Indonesian people always remember you...
Profile Image for Muhammad Kahlil Gibran.
10 reviews
March 16, 2025
Buku yang melampaui zamannya dan terus menginspirasi para founding father lain dalam mengkonsep bangsa Indonesia. Tentunya, tulisan ini sangat subjektif dikarenakan kekaguman saya terhadap putra Sumatera, yaitu Tan Malaka. Dalam tulisannya, dia mengajukan ide mengenai kemerdekaan tiap insan rakyat yang masih terbelenggu dari Belanda. Penjajahan Imperialisme atas rakyat dan dirinya, mengarah Tan untuk menuju ideologi dari anti tesis Imperalisme. Sehingga, konsep dari buku ini mengajukan sebuah negara berbentuk soviet yang dalam kondisi idealnya akan lahir kesetaraan tiap insan. Selain itu, buku ini seperti panduan dan strategi dalam melancarkan revolusi kemerdekaan dengan pilihan yang telah diberikan Tan. Beberapa pilihan (prediksi) sesuai dengan kenyataan seperti hengkangnya penjajahan Belanda dan Jepang dari Nusantara akibat perang eropa serta pasifik.
45 reviews5 followers
March 6, 2026
‎(Saya membaca edisi 100 tahun yang diberi catatan kritis oleh Zen RS.)

‎Sebagai orang yang tidak belajar sejarah secara sistematis--hanya pembaca-petualang--saya punya prinsip: mulai dari periode terdekat, kemudian bergerak mundur, sebab saya tak tahu pada periode mana bisa memulai buat mengerti apa-apa yang melingkupi saya hari ini, misalnya saja, Indonesia. Dengan prinsip seperti itu, rupanya bukan buku sejarah yang membuat saya terpikat pada masa lalu.

‎Buku pertama adalah Pahlawan-Pahlawan Belia dari Saya Shasaki Shiraishi. Ia mengenalkan saya pada suasana Orde Baru dan memicu rasa penasaran pada rezim ini. Tapi saya mentok di 65. Periode mana yang bisa saya masuki setelah tahun keji tersebut? Dan, tentu saja, buku apa?

‎Saya kepikiran mulai dari awal abad XX dan kemudian merasa benar karena setahu saya (kalau tak keliru) Pramoedya juga merasa titik tersebut penting; ia menugaskan mahasiswanya buat mengkliping koran-koran dari masa itu (perihal ini ada di pengantar Kronik sususnan Pram). Ada satu-dua buku yang bisa dijangkau, tapi saya rupanya merasa periode itu kejauhan.

‎Kemudian datanglah buku ini. Seingat saya salah satu promosi buku ini di medsos adalah: "Apakah Indonesia hari ini seperti yang dibayangkan oleh Tan Malaka?" Di pikiran saya: "Dih, apa pentingnya??" Tapi kemudian saya memutuskan beli sebab ada iming-iming "catatan kritis". Saya pikir, ya, mungkin ia bisa mengajari saya cara membaca kritis.

‎Jujur catatan kritisnya tidak seperti bayangan saya; saya pikir ia akan mengkritisi (nyacati) ide-ide Tan, tapi kemudian saya sangat suka. Ia berhasil menerangi konteks yang kabur atau sulit dipahami.

‎Ada yang bilang pemberlakuan EYD oleh Suharto untuk memutus pengetahuan kita pada ide-ide yang terjadi sebelum orba. Semoga saja banyak brosur/tulisan dari masa sebelum itu diterbitkan kembali dengan catatan kritis seperti ini, dengan lay out yang enak dibaca juga seperti ini.

‎O, saya kelupaan soal apa yang menyenangkan dari buku ini: sekarang saya tahu periode mana lagi yang bisa dijadikan titik henti buat mengerti Indonesia. Sebagai mana "Pahlawan-Pahlawan Belia..", buku ini bisa membawa suasana pada waktu yang sedang dibicarakan.
Profile Image for melancholinary.
479 reviews39 followers
April 2, 2026
It is interesting to read this in the context of Tan Malaka’s deep disappointment at being unable to return to Indonesia while he was ill, and also his frustration with the direction of the party, which, in his view, prematurely initiated clandestine action to overthrow the Dutch government. In the PKI’s national programme formulated by Tan Malaka, there is a military clause with which I do not entirely agree. Otherwise, what Malaka proposes consists largely of Leninist programmes adapted to the conditions of life in Indonesia. Even so, it is very clear from this book that the programme was designed to encourage the educated classes to think about political practice in pragmatic terms, including how popular militancy should be approached more critically, through a clear process rather than through the rushed putschism dreamt of by Musso and Alimin’s circle. In this book, Tan Malaka’s geopolitical perspective is also remarkably sharp, showing how his international experience as a Comintern cadre enabled him to view political situations and upheavals not in a parochial way, but in a broad and interconnected one. The problems concretely faced by the Indonesian people were, for him, always linked to the expansion of global capitalism and to the extractive structures of colonialism and imperialism.

The editing of this centenary edition has been carried out skilfully and well, although personally I do not think it was necessary to overemphasise how the events of a hundred years ago and Malaka’s inner struggles might be reflected in the present day, and then adjust the literary framing accordingly to suit how we read today. Of course, such reflections are possible in the context of a stalled political movement, but I see Naar de Republiek Indonesia above all as a compelling manifesto-pamphlet, especially when read as an attempt to view the world through a Marxist-Leninist perspective adapted to Indonesia.
Profile Image for Affendi Alias.
15 reviews5 followers
June 5, 2021
Sebuah naskah yang membentangkan gagasan dan pemikiran Tan Malaka yang terpusat kepada perjuangan untuk memerdekakan bangsa Indonesia melalui perombakan drastik kepada sistem politik, ekonomi, sosial dan budaya bahkan militer. Tan Malaka mencita-citakan sebuah kemerdekaan yang berbentuk Republik.

Apa yang menariknya dalam tulisan ini Tan Malaka beliau berpegang kepada fahaman Marx iaitu dialetika material tentang langkah2x yang perlu diambil untuk menghancurkan kekuasaan kapitalisme dan imperialisme Belanda ke atas Indonesia. Beliau amat menekankan konsep keutuhan organisasi dan tahap masa yang sesuai untuk Rakyat Indonesia, tak kira sama ada ianya proletar dan non proletar untuk bertindak secara massa dalam melaksanakan sebuah Revolusi dalam mencapai cita-cita kemerdekaan Indonesia 100%.

Beliau telah membentangkan program2x yang menyentuh kepada isu Ekonomi, Politik, Sosial, Militer,Polisi dan Rencana Aksi yang perlu di jalankan oleh sekelian organisasi Revolusioner yang bersatu dalam menuju jalan kemerdekaan. Jika kita teliti kepada program2x tersebut secara "detail" kita akan dapati bahawa gagasan yang diwujudkannya melalui program2x Nasional tersebut memang cukup teliti dan boleh diguna pakai oleh para pemimpin selepasnya walaupun setelah 20 tahun ianya dibentangkan.
Profile Image for M. Zimam  Ihsanul  Faqih.
7 reviews3 followers
March 3, 2022
Tan Malaka, sebuah pahlawan yang sering terlupakan. Beliau memang bukanlah seorang yang sangat mencolok seperti pahlawan-pahlawan lainnya. Namun, perjuangannya lewat buku atau tulisan sangat berpengaruh bagi kemerdekaan ini. Tak sedikit tokoh memberikannya gelar "Bapak Republik Indonesia".

Beliau mendapatkan julukan "Bapak Republik Indonesia" ini bukan tanpa alasan jelas, lewat bukunya berjudul "Naar de Republik Indonesia" ini, beliau banyak menginspirasi tokoh-tokoh Indonesia, seperti Bung Karno dan Bung Hatta.

Tan Malaka memang memiliki pemikiran yang bagus dan visioner, di kala para pemimpin negara kita lainnya baru memikirkan tentang kemerdekaan, Tan Malaka sudah memikirkan bagaiman bentuk negara ini. Dengan kondisi geografis dan antropologi Indonesia, maka Tan Malaka membuat konsep negara ini dengan Republik. Bahkan di buku ini sendiri pun, sudah Tan Malak jelaskan secara rinci tentang rencana-rencana apa saja yang akan kita lakukan saat negara ini resmi berdiri/merdeka, mulai dari perekonomian sampai lembaga politiknya.
Profile Image for Willy Akhdes.
Author 1 book17 followers
October 9, 2017
Dengan manuskrip baru yang telah dialihkan ke narasi Indonesia terkini, tulisan ringkas pahlawan revolusioner kita ini sungguh mudah dipahami dan langsung menukik ke hal-hal pokok langkah dan tujuan didirikannya sebuah bangsa. Semacam buku cetak biru pembentukan sebuah masyarakat sejahtera yang merdeka. Sunggu cita-cita yang jauh melampaui zamannya. Di buku inilah pertama kali konsep Republik Indonesia dicetuskan yang kelak menginspirasi para founding fathers kita seperti Soekarno dan Muh. Hatta.
Profile Image for Anita Sinaga.
36 reviews
June 12, 2018
waktu baca ini lagi di pesawat. dan tiba2 ada bab tentang PKI. ehh shock gua. takut diliatin sama sebelah gua. ntar dikira komunis gua nya wkwkwk.
Profile Image for Aprianto Nugraha.
100 reviews2 followers
August 28, 2018
Kaya lagi baca undang - undang, atau GBHN.... Cuman, bentuk negara yang beliau tawarkan memang masuk akal.
1 review
Currently Reading
June 16, 2020
🔥
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Monkey D  Dragon.
83 reviews2 followers
September 7, 2020
Ketika semua tidak ada yang memikirkan mengenai negara Indonesia hanya Tan malaka lah yang hadir dan memberikan gambaran mengenai bangsa Indonesia melalui buku ini
Profile Image for Ahmad Baihaqi Musyafa.
32 reviews6 followers
March 19, 2026
Belakangan, saya kembali mengikuti tulisan mengenai negarawan di bangsa ini. Kehidupan yang acapkali diakhiri dengan tragis. Kejayaan dan kejatuhan, di Indonesia, memang jaraknya begitu tipis. Kita bisa lihat dalam kisah Sjahrir, Ali Sastroamidjoyo, Amir Sjarifoeddin, Tan Malaka, dan tentunya Soekarno.

Mengenai Tan Malaka, karyanya Naar De Republiek Indonesia baru saja diterbitkan ulang dalam bentuk edisi kritis 100 tahun. Suatu kesempatan untuk mengenal Tan Malaka langsung dari buah pikirannya. Zen RS sebagai penyusun mendampingi teks primer ini dengan 226 catatan kaki, yang merentang memberi konteks historis, teoritis, dan relevansi dengan hari ini.

Muncul sebagai sebuah pamflet politik pada tahun 1925, NDRI menyasar intelektual Hindia-Belanda yang kala itu berjarak dengan rakyat. Tan ingin—meminjam istilah di buku ini— “memberikan tangga” kepada kaum terpelajar, bukan untuk naik, tetapi turun, guna mengenal rakyat lebih baik.

Penguraian mengenai situasi dunia dan Indonesia di bagian selanjutnya tidak hanya menjelaskan konteks imperialisme, tetapi juga ajakan untuk melihat, merumuskan, dan mengaplikasikan konsep-konsep revolusioner dalam situasi nasional.

Dalam Bab Taktik dan Strategi, Tan membahas distingsi antara Pukulan Taktis dan Pukulan Strategis. Ia menekankan pentingnya rakyat untuk mengetahui kapan harus mundur. Revolusi, menurutnya, tidak tumbuh dari keberanian tanpa arah. Di sini terlihat bagaimana Tan menyorot gerakan sipil yang seringkali melemah di tengah jalan. Pun mengenai perjuangan, Tan menggarisbawahi inisiatif, yang menurutnya ialah suatu keunggulan moril. Inisiatif berarti kita siap dan sadar dalam pengubahan secara aktif.

Jika dibaca dengan situasi beberapa tahun ini—ketika gerakan masyarakat sipil berulangkali gagal dan negara masih represif—NDRI merupakan pemantik dalam ajakan untuk memiliki keterikatan material kepada rakyat, membaca ulang perlawanan, serta upaya untuk menyusun strategi yang tidak berlandaskan spontanitas. Peluasan kesadaran revolusioner ini dibutuhkan dalam perjalanan menuju kemerdekaan yang dicita-citakan Tan Malaka. Kemerdekaan yang 100%, kemerdekaan yang sepenuhnya.
Profile Image for Evan I. Pasha.
34 reviews
May 19, 2025
"Orang Indonesia tak dapat lagi digertak dan ditindas." Kita hanya dapat menambahkan, "Selamat jalan jiwa-jiwa budak dan... buat selama-lamanya.””

Saya kira buku ini awalnya hanya berisikan imaji-filosofis tentang impian terbentuknya sebuah negara, tapi Datuk Tan Malaka ternyata jauh melampaui hal-hal mendasar itu, dan bahkan karya ini lah juga pada akhirnya yang menjadi “dasar” dari hal-hal mendasar yang dapat digunakan sebagai dasar sebuah negara!

Setelah membaca karya ini, saya semakin merasa bahwa Datuk Tan Malaka adalah salah satu permata intelek terbaik bangsa, terutama dalam hal kebangsaan. Lebih mendasar dari itu, rasanya tak berlebihan kalau konsepsi “kebangsaan” bangsa ini pun dalam porsi yang cukup signifikan merupakan hasil dari imaji intelektual beliau. Beliau—tanpa mengurangi takzim kepada tokoh penggagas kebangsaan lainnya—adalah dalam masa bersamaan menjelma menjadi salah satu definisi dari ideologi, intelektual, dan kebangsaan Indonesia itu sendiri. Pemahamannya terhadap kontekstual sebab-akibat kolonialisme, trajektori pribadinya terhadap dinamika hubungan internasional dan ideologi yang visioner dan penuh perhitungan, serta berbagai gagasan “taktis” dan “strategis”nya jelas dituangkan secara segamblang-gamblangnya dalam karya ini. Maka karya ini menjelma menjadi suatu hal yang tak sekadar buku, namun sebuah roadmap, sebuah framework kebangsaan yang beruntungnya kemudian direalisasikan oleh para pejuang kemerdekaan.

Sebagai pungkasan, karya ini pada akhirnya merupakan sebuah magnum opus nacionaliteit yang berhasil merangkum sebuah kesadaran kebangsaan yang sebelumnya masih cukup “melayang” dan terfragmentasi menjadi sebuah gagasan baru: kesadaran atas kebangsaan Republik Indonesia. Sebuah penghormatan pantas disematkan kepada sosok yang, meski lama disisihkan sejarah, telah menyalakan api Republik dari jauh hari. Tabik setinggi-tingginya untuk Bapak Republik!
Profile Image for Seno Guntur Pambudi.
82 reviews40 followers
January 28, 2026
Tan Malaka, sosok yg misterius, bahkan tahun lahirnya saja banyak tafsir. Ada yang bilang 1896, sejarawan Harry Poeze menyatakan tanggal lahir Tan Malaka 2 Juni 1897.

Tan Malaka memang misterius, 20 tahun lebih menjalani masa pelarian di luar negeri, menggunakan puluhan nama samaran, banyak negara dan benua dia jelajahi. Namun yg pasti karya dan idenya tetap mengalir dari buku ke buku, kepala ke kepala.

Tak terkecuali buku Naar de Republiek Indonesia "Menuju Republik Indonesia" yg ditulis tahun 1925 di Kanton, seabad yg lalu. Buku ini melampaui Indonesia Merdeka dari Mohammad Hatta tahun 1928 dan Menuju Indonesia Merdeka dari Sukarno tahun 1933.

Bisa dibilang, ia adalah penggagas awal konsep Republik Indonesia melalui buku ini. Mengilhami dwi-tunggal bagaimana republik harus dibentuk, konsep bernegara dirancang dan dijalankan.

Di dalam buku ini, ia menjelaskan dengan runut akar dari masalah Indonesia saat itu (sebelum 1925). Kemudian ia juga menjelaskan bagaimana pergerakan rakyat harus diorganisir, metode2 yg digunakan, juga tentu program dari pergerakan jika pergerakan itu sukses.

Sepengetahuan saya, belum ada tokoh atau organisasi yg ada pada waktu itu sudah memikirkan program nasional, bahkan PKI dan Sukarno-Hatta sekalipun. Bagi Tan Malaka, gerakan rakyat tidak akan sukses jika tidak ditopang dgn program rakyat begitu pula sebaliknya.

Begitulah Naar de Republiek Indonesia ditulis, seabad yg lalu. Gaungnya masih terasa hingga kini, hinggap di kepala kita yg membaca karya-karya Tan Malaka. Tan Malaka adalah tokoh besar setara Sukarno-Hatta, mirisnya jalan pikiran beliau tidak dipilih oleh negara yg ia impikan

Minus dari buku-buku Tan Malaka adalah kalimat2 Tan Malaka masih sulit ditangkap oleh pembaca pemula seperti saya. Bahkan penerbit Kakatua tidak bisa membuat mudah kalimatnya mudah dibaca.
Profile Image for Mario Muhammad.
27 reviews2 followers
February 28, 2026
Buku terbaik yang saya baca di awal tahun ini. Zen RS benar-benar sangat membantu saya sebagai pembaca pemula dari karya yang Tan Malaka tulis sendiri. Tidak pernah terpikirkan konsep menulis ulang sebuah buku dengan penyertaan catatan kritis untuk membantu pembaca memahami konteks sesuai zamannya dari sebuah karya yang ditulis seratus tahun lalu.

Naar De Republiek Indonesia (NDRI) disebut-sebut sebagai magnum opus Tan Malaka dan merupakan karya pertama mahsyur yang ditulisnya mengenai konsep konkret bagaimana perpaduan antara disiplin organisasi dengan kesadaran massa proletar menjadi ujung tombak revolusi. Tidak seperti Madilog yang merupakan tulisan tentang cara berpikir, sehingga wujudnya adalah abstrak dan sulit dipahami, NDRI dihadirkan sebagai perwujudan cara berpikir teoritik Tan mengenai Marxisme dan Leninisme ke dalam dunia praksis pergerakan nyata, dari ide strategis hingga taktis.

NDRI yang memang pertama kali ditulis Tan dalam Bahasa Belanda, menjadi kendala utama kita untuk memahaminya hari ini. Zen menyebut NDRI sebagai tangga, bukan untuk memanjat secara sosial, melainkan untuk membawa para kaum intelektual pribumi dari kalangan aristokrat dalam membantu mereka memahami persoalan bangsanya yang mayoritas adalah proletar. Tan mengkritik kaum terdidik dengan mencontohkan pergerakan Budi Utomo serta Sarekat Islam yang terlalu melangit sehingga alih-alih memperjuangkan rakyat, justru malah makin menjauh dari realitas. Maka, sekali lagi, saya memuji penerbitan NDRI ini sebagai langkah tepat untuk membantu pembaca muda mengerti salah satu buku yang harus dibaca sepanjang masa.
Profile Image for Neysa.
159 reviews1 follower
December 31, 2025
This book is written in a style characteristic of works from approximately one hundred years ago, yet its themes remain remarkably pertinent to events occurring several years later even current circumstances. This, in fact, constitutes my first encounter with the writings of Tan Malaka, and I am grateful to have found his ideas readily comprehensible. I read the edition published by Anak Hebat Indonesia. Indeed, this is the final work of non fiction to receive a five-star rating from me this year.

He elucidates the ideal conception of communism itself, a perspective seldom articulated in either Indonesian or international historiography. I remain uncertain as to why communism has been portrayed in such unfavourable terms, whether due to the historical implementations of the ideology or the predominance of capitalist ideology in the contemporary world. However, Tan Malaka's interpretation transcends the notion of ruthless communism, rather, the communist ideology was founded upon communal principles, wherein individuals might coexist in equity and harmony, far removed from brutish conduct. Both Karl Marx and Tan Malaka espoused a communism imbued with significant humanistic elements. Regrettably, historical narratives present a different account, which I believe serves the interests of the affluent class, who consistently prioritise capitalist dominance.

This work constitutes essential reading for all who wish to challenge the misconceptions regarding communism that have permeated conventional historical understanding.
Profile Image for Rifandi Syah.
18 reviews
March 29, 2024
Ibrahim Datuk Tan Malaka (Tan Malaka) is one of Indonesia's founding fathers. starting from childhood, fleeing abroad to his tragic death. he writes this book is in his escape using dutch language in hope indonesian educated youth can read it, this book for first time explained the program going to Indonesia independence.
Until now I'm curious, why hasn't his life story been made onto the big screen, or am I the one who doesn't know about it?

Reading about Tan Malaka's journey in disguise at the beginning of the 19th century reminded me of the story of Frank Abagnale Jr (a real character from the film Catch Me If You Can). Therefore, I think it would be very interesting if Tan Malaka's life story was shown on the big screen.

As someone from Minangkabau ethnic in West sumatra this book provides new insight and a pride as the birthplace of great people tends to be born in West Sumatra ; stateman, vice president, prime minister, minister, artist, writer and other our founding fathers.

In the future, I hope to be able to read works directly from Tan Malaka, especially Madilog, a legendary book that has made many people confused by its
Profile Image for Farhad.
2 reviews
June 11, 2025
Tan Malaka doesn’t just talk about why Indonesia should be free, he lays down how and what kind of republic he envisions. One thing that stands out is how sharp and ahead of his time Tan was. He connects Marxist ideas with the Indonesian struggle in a way that makes sense. You can feel how much he believes that political independence without social justice is nothing but a shell.

Buat yang mikir buku sejarah membosankan, think again. It challenges your thinking. You might not agree with everything Tan says, but you’ll definitely walk away with something new to reflect on. Gaya bahasanya emang agak berat, not gonna lie, kadang kerasa kaku karena pakai istilah lama dan struktur kalimat khas tulisan tahun 1920-an. Tapi di situ letak nilainya. Ada kepuasan tersendiri waktu lu berhasil “nembus” teksnya dan nemu gagasan-gagasan yang surprisingly relevan sama kondisi hari ini.

Setelah baca ini, I started questioning myself, “Apa arti kemerdekaan yang sebenarnya? Apakah kita udah benar-benar sampai ke situ?”
Profile Image for Emira.
35 reviews
December 13, 2025
Membaca buku ini seperti menyelami sudut pandang seorang pemikir yang mempunyai mimpi kemerdekaan bangsanya dan langkah gerakan yang perlu dilakukan untuk mencapainya. Selayaknya seseorang yang mempunyai mimpi dan tujuan, ia menuliskan apa yang saat ini ia dan bangsanya hadapi, apa kelemahannya, kelebihannya, peluangnya, tantangannya, hingga ia juga tuliskan apa saja poin yang dapat dilakukan saat mimpi itu terwujud.

Ini adalah buku pertama karya Tan Malaka yang saya baca meski bukan buku pertama yang saya beli. Tulisan beliau bukan tulisan yang mudah dipahami bagi saya yang cukup awam, namun tulisan beliau mampu menggambarkan semangat juang yang membara demi mencapai kemerdekaan Republik Indonesia.

Dari buku ini, semakin paham bahwa kemerdekaan kita merupakan hasil perjuangan panjang yang tidak mudah. Tidak hanya dari gerakan perlawanan tapi juga pemikiran dan ide anak bangsa untuk menuju kemerdekaan. Penghormatan terbaik saya haturkan kepada seluruh pejuang Indonesia.
Profile Image for Nina Ramadhan.
67 reviews1 follower
August 17, 2025
Kebetulan aku membaca versi terbitan Kakatua yang dirilis di tahun 2025. Hampir persis 100 tahun setelah sejak naskahnya ditulis di tahun 1925.

Secara garis besar, beliau memprediksi kondisi global yang terjadi, momentum yang bisa dimanfaatkan kaum muda saat itu, dan gagasannya terhadap Republik Indonesia yang saat itu masih imajiner. Sedikit banyak juga membahas kondisi politik di Indonesia dan kekurangannya, serta bagaimana partai politik yang spesifik bisa menjawab kekurangan tersebut.

Bagian paling menyedihkan dari membaca buku ini adalah mendapati beberapa hal yang masih terjadi di 2025, namun dengan aktor yang berbeda. Dulu beliau mengkritisi Belanda, namun kini kita menyaksikannya terjadi di tangan saudara senegara. Sedih bukan?
Profile Image for .zhar.
24 reviews
February 9, 2026
In a world where civil movement is not based on ideological awarenes, rather being ignited by mere spontanity that makes it inconsistent and seemingly performative, this is a must-read book.

The irony is that even 100 years later (this book was written in 1925), the problems that we're facing as Indonesian people are practically the same. The use of excessive force and bandit mobilization to silence the masses is still happening. Opportunists that rides the wave of civil unrest for their own benefits still exists, even now being worshiped like a god that they aren't -> you know who you guys are.
Profile Image for Salma.
3 reviews1 follower
February 20, 2026
Bagian paling baik dari 2026 adalah membaca buku yang ditulis Tan yang tengah melemah secara fisik dan politik tentang Indonesia. Pada jarak yang cukup jauh, Tan mampu mengkritisi secara jeli program program yang dibuat partai dan secara berani mengkritisi pendekatan partai. Kritik Tan bukan hanya ramalan cuaca, tapi penalaean tersistematisasi dan yang dipengaruhi pula oleh situasi politik di zamannya.

Selain Tan, Ongko sang penerjemah pertama, saya perlu berterimakasih atas ZenRs yang mencetak ulang buku ini menjadi edisi kritis yang membuat saya merasakan proses membaca teks lama dengan sangat komprehensif.
Profile Image for David Ariyanto.
13 reviews
April 18, 2026
Dibalik keterbatasan dalam mencerna setiap kata dan kalimat yang ada di buku ini, saya pribadi merasa amaze dengan bagaimana Tan Malaka ngasih sesuatu gambaran tentang Indonesia untuk masa depannya kelak. Di saat yang pada saat itu tak banyak terpikirkan oleh bangsanya sendiri.

Di buku ini, Tan Malaka seolah-olah bilang kalau "pelan-pelan kita bisa kok, tapi sama-sama" gak sekedar "langsung revolusi sekarang." Ia seolah bilang buat nolak keras mental nunggu diizinin atau nunggu dikasih ruang sama penjajah.

Jiwa pemberani dengan percaya bahwa "Kekuatan Kolektif bisa lebih impactful dari segalanya."
Profile Image for Rudy The Reader.
26 reviews
April 4, 2025
Menuju Republik Indonesia adalah buku yang sangat penting menurut saya, dalam sejarah pemikiran politik Indonesia. Tan Malaka tidak hanya menawarkan kritik terhadap sistem kolonial, tetapi juga memberikan alternatif yang konkret untuk membangun negara yang benar-benar berdaulat. Jika anda tertarik dengan sejarah perjuangan Indonesia, pemikiran revolusioner, atau ideologi politik kiri, buku ini adalah bacaan wajib (MUST READ)

Namun, karena bahasanya yang cukup berat, buku ini lebih cocok bagi pembaca yang sudah memiliki dasar pemahaman politik dan sejarah.
Profile Image for Bozzmoms .
60 reviews
June 19, 2025
pemikiran revolusioner gerakan bawah tanah lengkap dengan detail program-programnya untuk menuju Indonesia merdeka. Dimana pada masa itu organisasi-organisasi yang ada di Indonesia belum ada satupun yang mencetuskan apa program-programnya untuk menuju Indonesia merdeka dan program setelahnya. Terapi Tan Malaka sudah memikirkannya. mulai kapan sebaiknya pergerakan di mulai, caranya, sampai dengan program setelah merdeka baik program politik maupun ekonomi.
Displaying 1 - 30 of 47 reviews