Kuntowijoyo was born at Sanden, Bantul, Yogyakarta. He graduated from UGM as historian and received his post-graduated at American History by The University of Connecticut in year 1974, and gained his Ph.D. of history from Columbia University in year 1980.
His father was a puppet master (dalang) and he lived under deep religious and art circumstances. He easily fond of art and writings and became a good friend of Arifin C. Noer, Syu'bah Asa, Ikranegara, Chaerul Umam, and Salim Said.
His first work was "Kereta Api yang Berangkat Pagi Hari".
Buku ini pernah nginep di rak bukuku selama dua tahun. Dua tahun yang artinya 200ribu denda yang musti kulunasi dari keterlambatan mengembalikan buku ke perpus kampus dua tahun lalu. Karena merasa rugi itulah, aku membaca buku ini berkali-kali. Menjadi kiblatku belajar nulis cerpen lagi. Dibaca, ditinggalkan kemudian menulis. Menjadi mediaku melampiaskan kesepian. Kubacakan pada tembok, pada bantal-bantal di malam Minggu.
Menjadi salah satu alasan yang membuat pacarku (sekarang suamiku) marah "Baca buku satu nggak selesai-selesai!" katanya. Padahal buku ini kubaca berkali-kali. Aku selalu menyukai cerpen-cerpen KOMPAS. Termasuk cerpen-cerpen di buku ini.
Selalu nafsu pengen beli kalo lihat buku cerpen pilihan Kompas. Walaupun membacanya entah kapan waktunya. Buku ini salah satu yang akhirnya selesai dibaca. Beberapa cerita cukup membingungkan dan tentu saja sebagai cerpen pilihan lebih banyak cerita yang menarik.
Cuma beberapa cerpen yang kusuka...diantaranya cerpen SGA, Bondan Winarno, Kuntowijoyo, Afrizal Malna dan terutama cerpen "Mang Santa" karya Joni Ariadinata...kalau saya disuruh kasih rating, cerpen Joni Ariadinata akan saya kasih lima bintang, tapi karena ini bukan kumpulan cerpen tunggal jadi harus saya nilai bersama cerpen-cerpen lain dalam buku ini...
Kumcer ke-5 hasil terbitan Kompas sejak tahun 1992. Cerpen terbaik dimenangkan oleh Kuntowijoyo dg judul cerpen Pistol Perdamaian.
Berisi 17 judul cerpen, dg pengantar pembuka dr Prof. Dr. Toety Heraty (UI) serta penutup dari Dr. Faruk (UGM), yg mewakili kubu akademisi sastra. Pilihan 2 tokoh ini menjadi pembeda dlm edisi buku kali ini krn jika sebelumnya tergolong sbg pengamat sastra, tp tdk secara khusus terjun dlm dunia sastra di kampus.
Yg menarik, Prof. Toety Heraty dlm riwayatnya adl sarjana muda FK UI, tp menempuh doktor dlm bidang Ilmu Filsafat di Fakultas Sastra UI. Kebiasaan membaca dan menulis sejak dini, mengantarkan pd karya2 puisi/sajak, dan buku. Ketika riwayat tertulis, selain sbg dosen, beliau adl Rektor IKJ LPKJ. Agaknya riwayat ini memberikan sekilas gambaran keyakinan, bahwa sastra tidak harus selalu ditempuh dlm jalur keilmuan yg sejalan. Sastra itu sendiri sebenarnya sudah mengendap. Tinggal dimunculkan dlm bentuk pilihan apa.
Sebagian masih diisi nama2 pengarang senior, selebihnya nama2 baru. Semakin banyak membaca karya2 cerpen, tentu pembaca semakin mampu membuat simpulan tipikal tulisan masing2 pengarang. Kuntowijoyo, SGA, Jujur Prananto, A.A Navis, Joni Ariadinata, dll memiliki kekhasan gaya tulisan yg menarik.
Sebagian besar tema tulisan masih menceritakan hal-hal sederhana di sekitar, diangkat, ditambah sedikit 'drama', jadilah cerpen. SGA selalu dg melankolinya, dg alur yg lembut. Andaipun membuat cubitan, tidak langsung terasa panas seperti ditampar, tetapi sakitnya perlahan, tapi menggigit. Kuntowijoyo, selalu dekat dg hal2 sederhana pula, tapi penuh dg 'simbol2' yg perlu kepekaan utk menangkap pesan implisitnya. Jujur Prananto, kembali di sini saya suka caranya membolak-balikkan karakter, situasi kejiwaan, shg pembaca pun sedikitnya tergelak pd kenyataan cerita yg ditulisnya. A.A Navis, di sini menarik jg cerpennya. Betapa perbedaan ideologi, bisa membuat jurang pemisah begitu lebar pd sepasang manusia yg bahkan berasal dr rahim yg sama. Tentang betapa setiap pilihan, menjadikan perbedaan nasib, dan takdir hidup manusia. A.A Navis mmg sering membuat pesan ttg hakikat hidup. Pesan yg tentu tidak remeh.
Yang menarik juga di buku ini, ada Joni Ariadinata dg Mang Santa, Gendut B. Riyanto dg Rong, Orok Dani oleh Aria Kamandaka, dan Sony Karsono dg Meteorit & Sentimentalisme Calon Mayat. Mang Santa, menyuguhkan realisme tragis, ironis, dan ngeri. Begitu jg dg cerpen Meteorit & Sentimentalisme Calon Mayat. Bedanya, Joni lebih mengangkat 'budaya' mistik, jika Sony lebih pd futuristik. Hasilnya sama, ngeri. Dari segi bahasa, Sony lebih 'blak2an', dan itu menambah cenut2 bacanya, haha..Namun yg paling meninggalkan kesan sakit di kepala adl Orok Dani (Aria Kamandaka). Apalagi tertulis di akhir cerpen "Kenangan pedalaman Irian Jaya 1991. Bahwa kebiasaan itu kini jarang terjadi."
Tidak bisa banyak mengulas di sini, tetapi subjektif memilih, 3 terbaik saya adl : Penumpang Kelas Tiga (A.A Navis), Orang Besar (Jujur Prananto), dan Orok Dani (Aria Kamandaka).
beberapa cerpen ditulis dengan menggelitik. saya amat senang ketika beberapa kali disuguhi cerpen Seno G. Ajidarma. Entah mengapa, saat saya membaca cerpen Seno di buku ini, terutama Sukab dan Sepatu, rasanya seperti dibawa pada satu esensi kritik dia terhadap konstruksi masyarakat pada konsepsi relasi lewat kiasan sepasang sepatu. Seolah Seno mengajak pembaca untuk menggugat ulang konsepsi hubungan yang lazim dipahami khalayak.
tetapi secara keseluruhan, antologi cerpen yang rutin Kompas terbitkan di tiap tahunnya membawa pembaca pada keragaman tema cerita, gaya bahasa, dan konteks sosial budaya. di beberapa cerpen, pembaca sering menjumpai sikap usil pengarang yang dengan sengaja menyisipkan kritik sosial pada bagian cerita. sesuatu yg tentu wajar, mengingat antologi cerpen di buku ini dimuat pada kisaran tahun 90-an akhir, ketika satu-satunya media kritik yang tidak akan dilirik rezim dan aman dari sensor adalah karya sastra.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Seperti selayaknya kumpulan cerpen, ada cerita yg bagus dan ada yg engga. But yeah, it’s Kompas so sebagian besar aku suka sih. Tapi yg paling menarik tentunya cerpen paling favorit dewan juri yg juga jadi judul kumcer ini, Pistol Perdamaian karya Kuntowijoyo. Selain itu, aku juga suka Sentimentalisme Calon Mayat. Dimulai dengan kata kata pembuka “Bapak adalah hantu asing, seperti juga bayang yang kutemukan dalam cermin bila menggosok gigi waktu pagi.”
Fifty-fifty. Ada beberapa cerpen yang renyah dan indah untuk diikuti. Ada pula yang kritis dengan cara yang magis. Namun ada pula yang berbelit-belit serta rumit untuk dinikmati.
Ada cerpen Pak Bondan sama Seno Gumira Ajidarma :> Meski beberapa banyak kisah yang menurut gw rada aneh, namun bisa menjadi gambaran sastra cerpen Indonesia pada masa itu seperti apa. Paling suka sama cerita terakhir yang tentang anak perempuan, anak pemilik warung gulai.
Ini adalah buku kumpulan cerpen yang pertama kali kubaca, dan kumpulan cerpen yang membuat aku suka pada cerpan dan mencoba menulis cerpen. Di buku ini ada cerpen SGA "Dongeng Sebelum Tidur" yang alur waktunya cepat tetapi keren abis.... Pun dengan cerpen yang lain, Bondan Winarno, dan Kuntowijoyo.
Tentu saja semua cerpen pilihan ini memiliki kualitas tinggi hanya saja semua cerita di dalamnya terlalu menguak kepahitan dunia, sangat pahit, sehingga saya hanya bisa memberikan 2 bintang..