Jump to ratings and reviews
Rate this book

Rumah Janda

Rate this book
Buku Rumah Janda yang ditulis Dr. Kartini Sjahrir melengkapi pengetahuan kita mengenai perjuangan kaum perempuan. Saya mengenal dekat Ibu Kartini yang selalu menekankan pentingnya akal sehat dalam kehidupan bermasyarakat. Saya percaya, akal sehat itu terpancar secara terang dalam buku memoir pribadi ini dan memberikan ispirasi bagi pemberdayaan perempuan.

--- Basuki Tjahya Purnama, Wakil Gubernur DKI Jakarta Raya (Sekarang Gubernur—red)

Judul buku ini sangat kuat, sebuah sugesti feminis, bahwa Ker menyelenggarakan hidup hari ini dalam kenangan dan ketegaran. Berkisah tentang hal yang personal dan yang publik, Rumah Janda memelihara sebuah antropologi harapan, yaitu kehendak untuk mengasilkan keadilan, kesetaraan, dan pengetahuan bagi generasi.

--- Rocky Gerung, Pengajar pada Departemen Filsafat, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia

464 pages, Paperback

First published September 1, 2014

2 people are currently reading
19 people want to read

About the author

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
2 (28%)
4 stars
2 (28%)
3 stars
3 (42%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 3 of 3 reviews
Profile Image for Darnia.
769 reviews113 followers
Read
October 1, 2016
Gw nggak terlalu mengenal Dr. Sjahrir, baik pada masa kejayaan beliau saat mahasiswa maupun ketika beliau berkiprah di pemerintahan maupun partai, jadi agak kaget juga ternyata buku ini adalah non-fiksi. Semacam memoar beliau dari sudut pandang sang istri plus autobiografi sang istri sendiri, Kartini Sjahrir. Gw menikmati buku ini sebatas menikmati "cerita" yg dituturkan Bu Ker (panggilan bu Kartini) mulai dari masa kecil bu Ker, trus masa-masa ketika menjadi mahasiswa hingga bertemu Ciil (panggilan Dr. Sjahrir), diakhiri dengan kisah beliau saat menjadi Dubes RI untuk negara-negara Amerika Selatan macam Argentina dan Paraguay.

Memang buku ini diawali dengan momen-momen ketika Ciil mendadak didiagnosa mengidap kanker paru-paru hingga beliau menghembuskan nafas terakhir. Bagian ini agak mengingatkan gw akan bukunya Joan Didion yang Jalan Panjang Memupus Kedukaan tidak mampu gw kelarin gegara mellow-nya kelewat akut untuk selera gw. Masa ketika seorang istri ditinggal soulmate-nya. Well, sesiap apapun, perasaan kehilangan dan kesepian itu pasti ada. Hanya saja, gw suka bagaimana Bu Ker mengatasi rasa kehilangan itu. Untunglah kesibukan dan orang-orang di sekitar beliau mampu mengalihkan beliau dari rasa sepi (dan memang buku ini ditulis jauh dari narasi yg menye-menye).

Poin plus buku ini, bertebaran nama-nama "terkenal" macam Yenni Wahid, Emil Salim, Soe Hok Gie bahkan sampe mantan Presiden Paraguay, Fernando Lugo. Khusus dua nama terakhir ini yg ceritanya cukup unik buat gw. Siapa yg ngira bahwa Bu Ker ini dulunya teman mendaki Soe Hok Gie dan akrab banget (sampe kayaknya sempat naksir-naksiran yg...ya gitu deh...). Sedangkan kisah presiden Lugo yg demen makan nasi kuning juga unik. Gw suka dengan model penceritaan Bu Ker yg bisa dibilang penuh nostalgia tapi nggak pake mellow. Semisal saat beliau bercerita tentang masa-masa sulit keduanya dalam menempuh pendidikan di Boston dan sempat dikucilkan karena Ciil adalah tapol. Bener-bener penuh perjuangan dah..

Buku yg cukup bagus untuk mengenal sosok lain dari Dr.Sjahrir. Gw nggak pernah membaca berita tentang beliau, tapi pas liat fotonya, kayaknya dulu wajahnya lumayan familier, terutama di politik (kalo yg kaitannya sama sejarah, gw nyerah dah). Siapa sangka bahwa ada sosok humoris dalam diri beliau yg sepertinya membuat beliau mudah disayangi semua orang. Meski banyak pengulangan momen di beberapa bab, bonus fotonya lumayan memperkuat narasi yg dituturkan oleh Bu Ker.

Terima kasih iPusNas atas peminjaman bukunya
Profile Image for Sri.
897 reviews38 followers
December 5, 2020
Membaca ini jadi inget serial kenangan Bu Dini. Mirip-mirip dalam segi kedetilan mereka menceritakan peristiwa-peristiwa, penting maupun sehari-hari. Mereka serupa dalam hal kemandirian. Kemandirian sebagai seorang janda dengan anak-anak yang sudah dewasa. Satu karena bercerai, satu karena suami meninggal.
Bu Kartini yang sering sekali mengatakan sangat beruntung bersuamikan seseorang yang sangat mendukung kesetaraan gender, pun pernah mengalami ketimpangan. Di saat suaminya berjuang menyelesaikan disertasi, istri menemani dan mengurus anak-anak. Namun di saat si ibu ganti berjuang menyelesaikan disertasi, dia sendiri dan tetap sambil ngurus anak-anak.
Saat syukuran kelulusan, puji-pujian ditujukan kepada sang suami yang sudah mendukung penuh istri sehingga memperoleh gelar doktor. Namun saat syukuran kelulusan suami, tak ada puji-pujian kepada istri. Yang ada adalah pernyataan bahwa sudah sepantasnya istri selalu mendukung suami. Dunia sungguh adil haha.
Tapi si ibu bercerita selalu dengan bahasa yang lucu dan gaul. Saat mengeluhkan suami yang tidak mau nemenin isteri yang sedang berjuang dalam studi itu pun, lucunya si ibu bercerita dia sampai berharap kepleset di jalan licin bersalju, biar suaminya datang. Eh tapi, ga kepleset-kepleset juga wkwk.
Profile Image for Unda Anggita.
49 reviews11 followers
February 18, 2022
Buku pertama yang selesai dibaca tahun ini. Bacanya di Ipusnas, btw.

Aku tertarik baca ini karena awalnya baru tahu kalau Bu Ker (panggilan untuk Bu Kartini Sjahrir) itu lulusan Antropologi. Otobiografi ini beliau susun setahun selepas Pak Ciil (panggilan untuk alm Pak Sjahrir) wafat.

Buku ini, sebagaimana judulnya, berpusat mengenai cerita-cerita beliau setelah ditinggal Pak Ciil. Bedanya, beliau membuat penegasan pada cerita-ceritanya sebagai penguatan diri pada perannya sebagai perempuan. Bukan lagi peran sebagai istri.

Bu Ker bagiku adalah sosok perempuan berdaya sejak masih menjadi istri Pak Ciil hingga akhirnya sendiri. Dalam buku ini dapat dilihat bagaimana Bu Ker membangun relasi yang setara bersama Pak Ciil, berdaya dan tumbuh bersama suami yang rupanya almarhum sangat mendukung kesetaraan gender hingga ke ranah rumah tangga.

Ada satu kutipan yang bagiku bagus sekali, tapi tentu saja kalian harus membacanya sendiri.[]
Displaying 1 - 3 of 3 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.