Esa tinggal hanya dengan ibu dan pengasuhnya dari kecil. Ibunya yang hanya memikirkan dirinya sendiri, membuat Esa tak merasakan kasih sayang. Terlebih, ayahnya menikah lagi dengan wanita yang tak menginginkan "boncengan" dari suami barunya.
Di sekolah, karena beberapa kali menolak untuk diajak clubbing, Esa kehilangan sahabatnya Ia bahkan dijauhi teman-teman satu sekolah.
Saat Esa merasa sendirian, sosok Erik datang menemani hari-hari Esa. Dengan Erik, Esa menemukan jati dirinya. Namun saat Esa mulai mencintai Erik, ibunya malah melakukan hal di luar dugaannya. Keadaan semakin parah ketika ayahnya tahu Esa menjalin hubungan dengan lelaki yang berusia nyaris dua kali umur anaknya.
Author of over twenty books and hundreds of articles.
Published Books and e-books: 25* Kenali Perasaanmu / Know Your Feelings (ELEX Media Komputindo, 2024) 24* Kumpulan Cerita Sains Sehari-hari Untuk Anak (BIP, 2024) 23* 50 Aktivitas Mengasah Emosi Anak: Panduan Lengkap dan Praktis bagi Orangtua (BIP, 2024) 22* Sukses Mendidik Anak ala Homeschooling (BIP,2021) 21* Petualangan SONIA Membuat Kielbasa (Rumah Asap, 2019)
20* 500 Cara Membenahi Perilaku Anak (BIP, 2019) 19* Petualangan SONIA Membuat Bratwurst (Rumah Asap, 2018) 18* Thomas in The New World (Little Lights Studio GmbH, 2018) 17* Among the Pink Poppies (BIP, 2017) 16* 25 Inspiring Christmas Stories for Children / Sukacita Kasih Natal (BIP, 2015)
15* Berlabuh di Lindoeya (GPU, 2015) 14* Denting Lara (BIP, 2015) 13* Blue Vino (GPU, 2013) 12* Mendidik Anak ala Homeschool - 52 Aktivitas Menyenangkan Belajar Sains (BIP, 2013) 11* Mendidik Anak ala Homeschool - 52 Aktivitas Untuk Meluaskan Wawasan Anak (BIP, 2012)
10* Mendidik Anak ala Homeschool - 52 Aktivitas Untuk Memacu Otak Anak Berpikir Cepat (BIP, 2012) 09* Mendidik Anak ala Homeschool - 52 Aktivitas Untuk Membuat Anak Aktif & Lincah (BIP, 2012) 08* Mendidik Anak ala Homeschool - 52 Aktifitas Untuk Membuat Anak Pede & Kreatif (BIP, 2012) 07* OLEZ - Vienna untuk Cinta (Ufuk Publishing House, 2012) 06* Buku Panggung Boneka: Ayo Ke Kebun Binatang (Erlangga for Kids, 2011)
05* 3 Sahabat - Misteri Pharao Matahari (Erlangga for Kids, 2010) 04* 3 Sahabat - Misteri AEIOU (Erlangga for Kids, 2009) 03* The Last Pirate Boy / Bajak Laut Terakhir (Erlangga for Kids, 2009) 02* Erfolgreich Stricken OHNE Strickkenntnisse (mit Knitting Loom) (lulu, 2009) 01* Alanakyla - Tidak Mencari Pangeran (Grafindo, 2008)
Perceraian ibu dan ayahnya membuat Esa menjadi sosok yg kuat dan tegar. Tapi sayangnya ibu yang mengidap bipolar, kadang membuat dia nggak tahan juga. Apalagi ditambah dg mabuk2 klo keinginannya gak terpenuhi. Meski begitu, dia masih ttp bertahan di samping ibunya.
Ayahnya yg sudah menikah lagi, gak terlalu peduli sama Esa. Beliau hanya bisa memenuhi ttg materi, tapi tidak dg kasih sayang. Pertemuan dg yg mengontrak rumah awalnya biasa aja. Tapi sikap Erik yang membuat Esa nyaman membuat keduanya dekat. Ditambah lagi Erik emang nggak mau liat muka sedih Esa. Sayangnya semua gak berjalan lancar, kelakuan ibuk yang over dan ayah yang egois membuat mereka harus merelakan segalanya.
Overall, Gaya ceritanya menarik, aku agak gregetan sama orangtuanya ini. Okelah ya, ibunya emang ada something tapi ya ke anak sendiri masa begitu sih 😭😭. Ayahnya jg sama tega, demi keluarga baru dia meninggalkan Esa gitu aja. Untung aja Esa bisa tamgguh dan kuat! Meski ya ttp kadang kan ada batas sabarnya, manusia soalnya. Dan Erik, lelaki dewasa yang bisa melindungi. Perhatian dan kebaikan dia membuat orang nyaman.
Konfliknya lebih ke batin Esa, iya kebayang banget sih emang jadi Esa. Harus ttp kuat, padahal sebenernya dia udah gak tahan 😭😭. Tapi meski begitu mereka ttp orangtua Esa jd mau gak mau emang harus bisa nerima jg. Karena kita emang nggak bisa memilih dilahirkan dr keluarga mana 😊. Eksekusinya apik, endingnya pas dan suka.
"Sa, kadang kala, perpisahan bukan untuk selamanya. Aku yakin, selama kita masih hidup, jika cinta kita benar murni, jalan hidup kita akan menyatukan kita lagi. Saat ini kita memang harus berpisah, tapi hanya untuk mempersiapkan diri, agar suatu hari kita dapat bertemu lagi, di situasi yang jauh lebih baik lagi."
Ini tentang kisah Esa, seorang remaja dengan segala problematika kehidupannya pasca orangtuanya bercerai. Ya, novel ini mencoba mengangkat tentang anak "broken home". Esa yang masih relatif muda harus menelan pahit bahwa papa dan mamanya tidak lagi bersama. Mamanya yang sibuk dengan dunianya sendiri, malah tidak peduli dengan kehadirannya, bahkan untuk uang belanja pun mamanya seakan tidak peduli. Di lain sisi, papa Esa pun memilih untuk meninggalkannya tanpa membawa dirinya, karena istri barunya tidak menghendaki dia.
Hidupnya tak sama lagi, kehilangan kasih sayang orangtua membuat Esa menjadi pribadi yang tangguh, Esa tidak terpuruk dengan kondisinya, Esa malah peduli dan memikirkan nasib Bi Titin, pengasuhnya sejak kecil. Walaupun papanya masih terus membiayai hidupnya, tetapi yang Esa butuhkan bukan hanya uang.
Hingga kehadiran Erik, sang penyewa paviliun didepan rumahnya mengubah hidupnya menjadi lebih berwarna. Perbedaan usia yang begitu terpaut jauh tidak menghalangi kuncup-kuncup cinta bermekaran dihati keduanya. Namun, sayangnya kebahagiaan tak terasa lama, mamanya ternyata tertarik dengan sosok Erik, bahkan ingin menjadikan Erik sebagai suaminya.
Esa dan Erik pun seakan tak terpisahkan, mereka saling melengkapi. Tetapi lama kelamaan papanya pun tahu kalau Esa berpacaran dengan Erik, pria yang usianya hampir 2x lipat usianya. Jelas-jelas papanya melarang dan tidak merestui.
"Bukan cinta kita yang salah, tapi waktunya. Yang kita miliki adalah cinta yang murni, tetapi pada waktu yang keliru."
Dimulailah pertengkaran demi pertengkaran dengan papanya dan puncaknya Esa memilih untuk kabur dari rumah, bahkan nekat untuk kawin lari dengan Erik. Esa yang masih labil langsung saja memilih Erik yang jelas-jelas sayang padanya, bukan papanya yang tidak pernah ada untuknya. Namun, lain lagi bagi Erik. Erik yang jauh lebih dewasa, malah memilih untuk menenangkan Esa dari kemelut keluarganya ini. Apalagi ujian akhir Esa sudah semakin dekat, Erik tidak ingin menghancurkan semuanya.
"Esa, aku ingin kita menikah karena kamu benar siap, bukan kawin lari, karena ribut dengan orangtua. Kamu akan menyesal kalau kamu menikah karena alasan yang salah. Aku pun benar-benar nggak dapat melihat diriku sendiri di depan cermin, kalau harga yang harus kamu bayar adalah kehilangan orangtuamu, kehilangan hakmu sebagai anak mereka. Bukan itu yang aku inginkan untukmu. Aku pun yakin, di hati kecilmu, itu juga bukan yang kamu mau."
Akhirnya Esa pun menerima keputusan Erik, tetapi setelah hari itu Erik benar-benar pindah dari paviliun yang disewanya bahkan menghilang sejauh-jauhnya dari radar Esa. Esa yang mencari Erik pun tidak pernah lagi menemukannya, seakan Erik begitu saja menghilang tanpa jejak.
Bagaimana akhir kisah Esa? Sanggupkah dia berdamai dan memaafkan orangtuanya? Bagaimana dengan cintanya kepada Erik?
Ah, membaca novel ini sangat mengalir. Aku bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Esa, bagaimana dia harus menerima kondisi keluarganya yang tidak utuh lagi, orang tua yang seharusnya mendukung, memberi perhatian dan kasih sayang malah tak ada. Jadi belajar banyak dari sosok Esa yang bisa "survive" dengan hidupnya.
Aku suka dengan gaya bercerita penulis, mengurai konflik satu demi satu hingga muncullah sosok Erik. Sayangnya aku sulit membayangkan seperti apa Erik, hingga membuat Esa bisa jatuh cinta. Mungkin karena penulis tidak terlalu mengeksplor ke deskripsi fisik, penulis lebih fokus ke cerita yang ada.
Diceritakan dengan alur flashback, kita diajak berkenalan dengan metamorfosis Esa dari remaja menjadi anak kuliahan, bagaimana dia menyikapi kehidupannya, perpisahan kedua orangtuanya hingga cinta pertamanya kepada Erik.
Endingnya pun sudah bisa kutebak sejak awal, walau memang setelah perpisahan dengan Erik di hari itu aku merasakan ceritanya menjadi agak "turun" ritmenya tetapi aku cukup bernafas lega dengan akhir cerita ini.
Esa, anak broken home, kehilangan figur orangtua yang baik. Papanya yang sudah menikah lagi hanya menyuplai Esa dengan uang, dan bahkan setiap Esa telepon, password papanya sudah jelas: "Masalah nilai atau uang?" Sementara sang ibu yang tinggal bersama Esa, malah sibuk berfoya-foya dan ngejar cowok. Jangankan memperhatikan Esa, ngasih uang makan aja sering lupa sampai-sampai Esa dan ART-nya kelaparan. Di saat-saat seperti ini, muncul Erik, penyewa paviliun rumah mereka yang usianya 2x usia Esa, yang mampu menarik Esa keluar dari kesuraman hidupnya.
Aku sudah pernah baca buku ini dulu waktu pertama terbit tahun 2015 (saat itu buku ini cukup hits), dan aku suka. Sepuluh tahun berlalu aku baca lagi, dan aku tetap sukaaa. Huaaa kangen banget baca tulisan K. Fischer. Kayaknya aku sudah baca semua buku beliau, dan belum ada buku baru lagi huhuu (terakhir yang Berlabuh di Lindoeya, kan?). Bacanya tuh effortless gitu. Ceritanya mungkin klasik, tapi tulisannya benar-benar enak dibaca.
Sejujurnya aku agak khawatir ketika baca ulang novel ini sekarang. Karena age gap-nya lumayan ekstrem (Esa 17th, Erik 34th), aku khawatir akan jatuh ke hubungan yang minor. Karena Esa-nya juga bisa dibilang baru punya KTP itu kan. Tapi aku juga bingung, soalnya hubungan age gap di sini digambarkan hijau sehijau-hijaunya 😭 Kehadiran Erik ternyata bisa membuat Esa terpacu untuk berkembang dan menjadi versi terbaik dirinya. Dan Esa di sini juga bukan tokoh yang pasif yang manut-manut aja meski dia jauh lebih muda. Intinya, meski age gapnya mengkhawatirkan, hubunhan Erik dan Esa ini berasa imbang gitu. Obrolan mereka juga nyambung dan nggak ada kesan Erik yang mendominasi (salah satu tanda hubungan minor). Apalagi endingnya juga dibuat masuk akal.
Yang paling aku suka dari cerita ini adalah karakter Esa. Sumpah anak ini kuat banget. Nggak kebayang hidupnya seberat apa, dimaki-maki sama ibunya sendiri yang pemabuk dan bipolar, nggak dianggap sama papanya sendiri, harus mikirin nasib ART rumah mereka di saat dia harusnya cuma mikirin soal belajar, dikucilkan dari pergaulan sekolahnya dan dijuluki anak tante girang. Di satu sisi, Esa ini getir (terasa banget getirnya), tapi dia juga sangat kuat.
Ada dialog yang cukup ngenes dan kuingat.
"Aku nggak mau jadi papa kamu, Esa." (ini konteksnya Erik menjelaskan kesalahpahaman di antara mereka, karena ibunya Esa naksir Erik dan PDKT agresif).
"Memang nggak ada yang mau jadi papa aku, Mas, termasuk papaku sendiri." 🥺
Dan yang paling keren, dengan semua masalah hidupnya itu, seingatku nggak ada sekalipun digambarkan keinginan Esa menghilangkan dirinya sendiri. Sekuat semen tiga roda nggak tuh mentalnya? 😭
Di sisi lain, Esa yang digambarkan lebih dewasa dari usianya ini tetap punya sisi childish dalam dirinya. Gimana dia ngeyel dan hanya berpikir untuk saat ini saja tanpa pertimbangan panjang, lalu Erik yang bisa berpikir lebih waras sehingga menjernihkan pikiran Esa juga, aku sukaaaaa.
Di sisi lain, penggambaran orang tua Esa sebagai orangtua toksik itu juga sangat terasa. Rasanya pengin lelepin ibunya Esa ke bak mandi huaaaa 🤬
Bagian ending memang agak terburu-buru dan perubahan karakter ibunya Esa agak mendadak (walau sebenarnya nggak juga, karena ada jeda di sini, dan yang diperlihatkan adalah sisi Esa-kita nggak tahu gimana proses ibunya Esa berubah, perjuangan masuk rehab, dll). Tapi nggak apa-apalah, toh kalau dijelasin semua bisa jadi setebal batu bata, dan pada zaman itu novel fiksi biasanya memang nggak tebal.
Semoga penulis segera mengeluarkan buku-buku baru lagi.
Mengisahkan tentang Esa yang berasa dari keluarga Broken Home. Alur ceritanya seru, hanya saja ada sedikit kekurangan yaitu konfliknya yang kurang nendang. Konfliknya terasa ada saat uncaknya hubungan Esa dengan Erik - pria yang kebetulan menyewa paviliun di rumah Esa, yang berumur dua kali lipat dari Esa - tidak di restui oleh aya kandungnya Esa. Dan Ibunya pun yang tiba-tiba saja mengaku tertark dan berpacaran dengan Erik membuat Ayah Esa berang bukan main, karena mengira kalau erik hanya ingin bermain-main dengan anak gadis yang belum tahu apa-apa seputar sebuah hubungan.
Dari awal cerita, seru tidak membosankan. Di ceritakan dari POV 3 dari masing-masing tokoh (Esa dan Erik), hanya saja lebih difokuskan pada POV 3 nya Esa. Plotnya rapi, walaupun endingnya sedikit bisa ketebak tidak membuat novel ini - siapapun yang membacanya - bosan.
"Aku tahu sekarang, hal yang terparah dari patah hati. Aku tidak mati." -Hlm. 1
// Esa tinggal hanya dengan ibu dan pengasuhnya dari kecil. Ibunya yang hanya memikirkan dirinya sendiri membuat Esa tak merasakan kasih sayang. Terlebih, ayahnya menikah lagi dengan wanita yang tak menginginkan "boncengan" dari suami barunya.
Di Sekolah, karena beberapa kali menolak untuk diajak clubbing, Esa kehilangan sahabatnya. Ia bahkan dijauhi teman-teman satu sekolah. Saat Esa merasa sendirian, sosok Erik datang menemani hari-hari Esa. Dengan Erik, Esa menemukan jati dirinya. Dan di situlah kisah baru kehidupannya dimulai.
// Bukan hal baru sebenarnya. Ini kali kedua saya berkesempatan menyimak kisah yang ditulis K. Fischer, sebelumnya Berlabuh di Lindoya yang bahkan sempat terpikir bahwa penulis sendiri adalah tokoh utama dari garapannya ini ;D
Ciri khas utama yang saya tangkap dari dua novelnya ini adalah kepiawaian penulis dalam meramu kisah yangg terkadang sedikit terasa bahwa novel ini garapan penulis luar. Bagaimana tidak, struktur bahasanya sangat-sangat tertata rapi. Di luar itu, tokoh yang dibuat juga benar-benar hidup dan terasa berbaur langsung dengan pembaca.
// Denting Lara berkisah tentang kehidupan Esa yang bisa dibilang cukup rumit dengan segala masalah yang seolah nggak pernah rela meninggalkannya. Walaupun sebenarnya untuk seusia Esa yang masih belasan, masalah ini rasanya nggak layak jika hanya dilabeli cukup rumit. Sangat rumit malah. Ibunya dengan dunianya sendiri. Sosok Ayah yang hanya kadang-kadang saja peduli. Belum lagi lingkungannya yang lebih banyak abai dengan apapun yang terjadi padanya ini. So complicated.
Hingga pada akhirnya sosok Erik datang sebagai pengontrak di Paviliun-nya. Kedekatan mereka semakin nampak berkesan ketika Erik menjamu Esa untuk sarapan bersama. Pada titik tertentu mereka memutuskan untuk makan malam bersama, sampai saatnya, hati keduanya semakin berpaut- mengerat dlm sebuah ikatan CINTA.
Namun ternyata kedekatan dengan Erik bukan sepenuhnya muara kebahagiaan bagi Esa. Ibu dan ayahnya menjadi penghalang utama kedekatan mereka.
Bercerita tentang Esa -17 tahun- yang jatuh cinta pada penyewa paviliunnya, Erik -34 tahun- yang umurnya baru diperjelas dipertengahan cerita. Perjalanan cinta yang ditentang oleh kedua orangtua Esa, dan perjuangan Esa untuk mendapatkan restu kedua orangtuanya.
Aku suka cerita musik klasiknya, dan kontrabasnya.
Cukup dua hari baca buku ini. Cara ceritanya lancar, alurnya nggak ribet. Penokohan lumayan pas, dan saya senang penulisnya pakai lokasi yang tidak mengada-ada, mudah dibayangkan, bagi saya yang orang Jakarta-Depok, tentu saja :)
"Mama tahu kamu cemburu mama bahagia! kamu iri! Kamu sirik! Lihat dirimu! nggak ada cowok yang mau sama kamu. makanya kamu nggak suka mama punya pacar! Kamu iri mama dandan cantik! Kamu sirik mama beli tas baru! Semua cuma karena kamu cemburu! Iri! Dengki! kamu nggak akan pernah laku! Nggak akan ada cowok suka denganmu! Dengar itu Esa!"
Esa gadis berusia tujuh belas tahun menjadi korban perceraian orang tuanya. Esa tinggal bersama Bi Titin dan sang mama yang sering mengacuhkannya. Mama Esa lebih memilih bersenang-senang dengan geng arisannya atau bersama pacar-pacar barunya. Sedangkan papanya telah menikah lagi dan hanya menganggap tanggung jawabnya tuntas dengan mentransfer sejumlah nominal uang setiap bulan ke rekening Esa.
Mempunyai mama yang hanya peduli dengan gaya hidupnya membuat Esa tidak seperti remaja lain. Esa juga harus memikirkan nasib pengasuhnya dan uang belanja yang sering tidak diberikan oleh ibunya. Esa juga harus kehilangan sahabatnya ketika menolak untuk ikut clubbing. Kehidupan mereka yang tampak kaya diluar membuat Esa harus lebih berhati-hati menghabiskan uang pemberian papanya. Papanya akan marah jika Esa meminta uang lebih atau menalangi kebutuhan rumah.
Kehadiran Erik sebagai penyewa paviliun rumahnya membuat kehidupan Esa agak berwarna, walau pertemuan pertama mereka tidak berjalan mulus. Erik menganggap Esa hanya remaja labil yang manja dan Esa memandang Erik sebagai mas-mas sombong, hingga suatu hari Erik menemukan Esa bermain kontrabas dengan nada pilu dan sejak saat itu Esa dan Erik menjadi dekat. Mereka sering menghabiskan waktu bersama dan berbagi cerita. Esa merasa nyaman dengan hubungan mereka karena bersama Erik, dia merasa hidupnya lebih berharga. Disaat mereka saling mencintai, mamanya kembali mengibarkan bendera perang. Papanyapun tidak setuju dengan hubungan mereka karena perbedaan usia yang cukup jauh #backsound : mama papa larang.
“Aku tahu sekarang, apa yang terparah dari patah hati. Aku tidak mati. Walau sakitnya membuat semua tulangku lantak, walau sakitnya membuat semua luka menganga, tapi aku terus hidup. Aku akan terus hidup dengan semua sakit di dada.”
Membaca buku ini membuat perasaan saya campur aduk. Melihat Esa menjalani hidup sebagai anak broken home dan memiliki ibu bipolar rasanya sudah cukup sulit. Belum lagi sang ayah yang hanya menganggap beres tanggung jawabnya setelah mengirimkan sejumlah uang. Jika saya diposisi Esa, mungkin saya sudah gila.
Dari awal membaca saya gregetan sama mamanya Esa. Sikap yang rasanya tidak mungkin dilakukan oleh ibu kandung dan hanya ada di ftv-ftv ratapan anak tiri membuat saya miris. Apalagi ketika Esa hanya makan dengan kecap, tetapi sang Ibu membeli tas harga puluhan juta agak tidak masuk akal. Tapi saya menyukai proses kedekatan Erik dan Esa, pas dan tidak berlebihan walau dari gambaran yang saya dapatkan, saya tidak merasa Erik setua itu.
Saya menyukai kaver yang digunakan walau menurut saya terlalu simple. Saya juga menikmati gaya menulis mba K.Fischer (sejak membaca berlabuh di Lindoeya, saya penasaran dengan buku-buku K.Fischer yang lain). Walau saya agak merasa aneh dengan kata "sampai lain kali" yang sering digunakan bukan hanya oleh satu tokoh, tapi juga digunakan oleh tokoh lain dan "cinta yang murni" yang membuat saya ngakak beberapa kali, saya seperti membaca buku roman lawas #selftoyor. Saya juga menemukan beberapa typo tapi tidak cukup menggangu.
“Ia mencintai Erik, bukan hanya karena kepribadian Erik menarik hatinya. Tapi ia mencintai Erik, karena bersama Erik, ia lebih menyukai dirinya sendiri.”
"Bukan cinta kita yang salah, tapi waktunya. Yang kita miliki adalah cinta yang murni tetapi pada waktu yang keliru." - hal 261 •
Denting lara bercerita tentang Esa gadis belia berusia 18 tahun yg memiliki masalah hidup yang pelik. Ibu pemabuk dan gonta-ganti pacar, lalu ayahnya yang tidak peduli pada keberadaan esa, hanya karena istri barunya melarang berhubungan dengan Esa. Lalu munculah Erik, pria mapan berusia 34 tahun menyewa pavilliun di dekat rumah Esa. Erik memberikan arti dibutuhkan dan percaya sepenuhnya pada dirinya. Sampai suatu hari mama Esa memutuskan bahwa Erik pantas menjadi papa baru Esa.
Buku ini cukup komplek. Tentang keluarga, persahabatan dan cinta. Dan semua dibahas hingga tuntas tanpa meninggalkan tanda tanya. Yah tapi tetap kapasitas seadanya, setidaknya tidak ada pertanyaan menggantung di setiap konflik yang dibuat oleh penulis. Kata-katanya cukup indah dan sangat membuai perasaan. Aku ikut terhanyut sama masalah Esa yang ditinggal oleh sahabat karibnya, di benci ibunya karena pacar-pacar ibunya tidak menginginkan anak tambahan dari mama Esa, ayahnya yang banyak menuntut tapi tidak bertugas sebagai ayah, lalu Erik. Dan semua itu diselesaikan dengan baik oleh penulis.
Paling menguras emosi itu ketika Erik memutuskan pergi karena ia tidak ingin merusak masa depan Esa dengan memiliki Esa sebagai miliknya. "Cinta yang datang di waktu yang salah" mungkin memang tepat untuk tema novel ini. Perbedaan usia dan konflik keluarga Esa yang pelik tidak memungkinkan cinta mereka bersatu.
Secara keseluruhan novel ini menyentuh dengan caranya sendiri. Terutama diksi indah tapi sederhana yang digunakan penulis hingga tidak membuat mumet bacanya. Dan novel ini aku rekomendasikan buat pecinta romance di luar sana.
Bintang tertinggi yang bisa kukasih ke buku ini ya cuman 3. Kenapa? Alur ceritanya ok, pemyampaian karakter setiap tokoh juga sangat bagus. Kita dapat melihat dan judge langsung karakter - karakter para tokoh di dalam cerita. Tapi, di sini aku ga merasakan 'dalam'nya konflik yang terjadi. Saya tahu bahwa keluarga Esa berantakan, dia memiliki orang tua yang tidak bertanggung jawab sehingga ketika Erik hadir dan mengulurkan tangan untuknya, dia merasa bahwa dunia masih memiliki sisi yang indah yang selama ini tidak dia ketahui. Tapi tetap saja, selama saya membaca novel ini, saya hanya membaca. Tidak ada perasaan menyentuh, sedih, atau apapun yang dirasakan ketika Esa tengah menghadapi masalah - maslaahnya. Saya hanya membaca. Seperti membaca artikel yang memberikan informasi sekedarnya. Saya tahu dan mengerti bahwa penulis ingin menyampaikan bagaimana menderitanya kehidupan Esa, memiliki orang tua yang tidak mempedulikannya, teman - teman yang mengucilkannya dan sebagainya. Tapi penyampaian bagaimana menderitanya Esa, menurut saya tidak terlalu mengena di hati. Dan menurut saya, terlalu berlebihan ketika mengatakan bagaimana Esa sangat memprioritaskan Bi Titin. Itu sudah wajar bagi saya dalam kondisi Esa yang tidak pernah mendapatkan kasih sayang orang tuanya, dan Bi Titin yang selalu ada untuknya dan telah bekerja bahkan sebelum dia lahir. Menurut saya, akan lebih bagus lagi bila cerita ini membahas atau mengambil sudut pandang mama Esa. Karena menurut saya, yang paling terpuruk itu adalah mamanya dan pada akhirnya dapat hidup happy ending. Akan menyentuh sekali bila dibahas bagaimana kehidupan mamanya selama ini, tentang keinginannya untuk mendapatkan cinta yang dapat dia andalkan dalam hidupnya dan sebagainya.
Overall, ceritanya ok lah. Fokusnya menurutku ya Esa dengan kisah cintanya dan juga bagaimana seorang anak remaja menghadapi glamournya dunia kelas atas.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Saya membaca ini di tengah2 liburan saya di Indonesia dan keputusan untuk membaca novel ini di saat liburan melihat obyek2 wisata di Indonesia adalah keputusan yang salah, karena saya sulit berhenti membacanya. Ceritanya mengalir dengan sangat ringan, demikian juga kehadiran masing-masing tokohnya yang digambarkan sangat baik oleh penulis. Boleh saya bilang, ada kemajuan cukup besar di novel milik Uti (demikian saya memanggil penulis buku ini) ini, dibandingkan dengan novel2nya terdahulu. Di novel2 terdahulu, penciptaan tokoh-tokoh-nya sangat kental dan dekat dengan kepribadian Uti... sehingga saat saya membaca, saya sulit melepas bayang-bayang Uti di kepala saya.. "Ini sangat Uti.." .."Pasti tokoh ini seperti ini dan itu karakternya.. karena sangat Uti.." ..Mungkin itu kerugian saya mengenal Uti selama 25 tahun pertemanan... sangat tahu karakter Uti :) Di novel Denting Lara ini, rasanya para tokohnya mulai perlahan keluar dari dominasi karakter Uti.. Saya sangat menikmati novel ini. Sediki feedback untuk Uti, saya menunggu adanya kejutan-kejutan yang sulit ditebak di dalam ceria... mungkin itu yang saya merasa sedikit kehilangan.
Sudah lama saya ingin membaca buku ini, dan alhamdulillah terlaksana juga. Mau kasih jempol dulu buat pemilihan judul, desain sampul, dan layout bukunya. Bagus banget. Asli. Jenis font-nya unik dan pas.
Saya pikir Denting Lara tidak hanya memberikan kisah cinta beda umur tapi juga masalah psikologis dan keluarga. Saya suka cara bertutur dan diksi yang dipakai, maknanya pas. Unsur musik klasik romantis juga menjadi bumbu yang sedap, apalagi yang diambil adalah alat musik kontrabass yang tak biasa.
Yang tak begitu saya suka, lebay. Atau bahasa lainnya purple prose. Drama juga sangat kental di sini, cenderung sinetroniyah, tapi betul-betul terbantu dengan keunikan ceritanya. Dan ini sebetulnya masalah selera. Kalau suka dengan kalimat bersayap dan berbunga-bunga, pasti jadi makin suka dengan novel ini.
Lalu pergantian PoV di tengah paragraf. Saya tahu itu maksudnya isi hati tokohnya, tapi karena tidak ada pembeda antara narasi dengan monolog hati itu saya jadi merasa PoVnya yang berubah. Sama ada salah ketik dan indent yang terlalu menjorok.
Resensi selanjutnya nanti, ya. Yang jelas saya menikmatinya.
3,5* kalo om2 nya model kek om Erik sih, aku doyan beut. hahahahaha Serius deh, Esa tegar bgt jdi remaja. Orangtuanya bercerai, mamanya sakit bipolar, ketergantungan alkohol, pecandu gaya hidup jetset yg rela anaknya kelaparan tapi nggak mau absen clubbing dan beli tas muahal mampus. Sedangkan memilih hidup sm papanya juga nggak mgk, istri baru papanya nggak mau ngurus anak tiri. Pergaulannya di sekolah juga down krn dia dimusuhi geng febeleus akibat sering nolak ajakan hangout di klub2 mahal. Seakan blm cukup, Saskia, sahabatnya memilih utk nggak deket2 pembawa masalah macam Esa. Tapi Esa kuat, dia seperti rumput liar, makin diinjak, dia makin tumbuh subur. Hingga akhirnya, Erik, sang pahlawan bertopeng muncul. Semua terasa lebih gampang saat Erik masuk dalam hidupnya. Pria 34 tahun itu untuk pertama kalinya membuat Esa merasa hidupnya berarti, bukan hanya untuk mengurusi muntahan mamanya atau mendengar gerutuan papanya. Dia merasa lebih hidup, dihargai, dicintai dan itu karena Erik. Hanya saja... jalan bahagia nggak segampang itu, Jendral!!! butuh enam puluh lima bulan perpisahan sampai akhirnya takdir yg mempertemukan mereka kembali#ahaayyyy
Esa yang hidupnya kacau setelah perceraian orang tuanya bertemu dengan Erik, seorang pria penyewa pavilion yang lebih tua 17 tahun darinya. Perkenalan yang awalnya tak menyenangkan mulai menghangat ketika tak sengaja Erik mendengar Esa memainkan kontrabas miliknya. Keduanya pun mulai sering menghabiskan waktu bersama. Bersama Erik, Esa merasa nyaman, begitu juga sebaliknya. Sayangnya, meski keduanya saling cinta, ayah Esa dengan terang-terangan menolak hubungan tersebut. Erik pun memutuskan meninggalkan Esa agar kekasihnya itu bisa menyelesaikan sekolahnya sementara dirinya memantapkan bisnisnya.
Perbedaan usia yang sangat jauh. Aku suka gaya novel ini. Kehidupan Esa nggak lancar. Di sekolah, terpaksa ikut kelompok demi paksaan sahabatnya. Harus ya, populer seisi kelas terutama cewek2? Heheh
Ibu yang bipolar. Ayah yang menikah lagi (tukang atur2 supaya hemat). Kayaknya ayah Esa trauma bila uang nggak dimanfaatkan dengan baik. Lihat, perceraian orang tua Esa diakibatkan ibu Esa suka foya-foya. Sampai lupa diri. Ckck
Aku kasih 3.5 saja. Adegan pertemuan Esa dengan si pria dewasa (lajang). Dan berakhirnya cerita di mana si pria kembali setelah memantaskan diri. Good!