Ini kisah tentang rumah, tempat yang mengizinkanmu untuk gagal berkali-kali. Di sini kau boleh lelah, kau boleh mengeluh. Di sini pula kau boleh salah, boleh marah.
Bila perjalananmu sudah terlalu jauh dan melelahkan. Pulanglah.
Ambil selimut, menangislah. Ambil segelas teh hangat, teguklah.
Bila kau sudah cukup kuat, kau boleh berkelana lagi. Dan rumahmu akan selalu setia menunggu kembali. Meski sesekali, rumah adalah tempat paling tak ramah di Bumi.
Sebagai seorang luxury travel planner, pekerjaan Ria adalah berkeliling dunia. Berbagai tempat gemerlap modern, hingga yang terpelosok telah ia kunjungi. Bahkan ke luar angkasa pun sudah. Barang-barang mewah mampu ia beli. Semualah.
Namun sejauh bertualang, Ria tak pernah menemukan tempat kembali: rumah. Tak ada alasan untuk pulang. Bagi Ria, rumah adalah tempat kebencian pada ibu dan ayahnya menetap.
Usahakan baca minimal 1 fiksi, dan 1 non-fiksi setiap bulan. Fiksi untuk hati, non-fiksi untuk kepala. – Ini juga pesan untuk kawan-kawan yang mencoba merintis jadi penulis. Jika ada yang menganggap karyamu baik, maka syukuri dan jangan terlalu terbang. Rekam itu di ingatan, jadikan dorongan untuk memberi dampak dan membawa pesan-pesan yang seru dan penting.
Jika rupanya ada yang tak suka, memberi kritik, saran, itu tak masalah. Beberapaa kritik malah bisa jadi pelontar yang ampuh untuk karyamu berikutnya. Lagi pula, orang sudah keluar uang untuk beli karyamu, masa mengkritik saja tidak boleh. Selama sesuatu itu karya manusia, pasti ada saja retak-retaknya.
Lain cerita jika menghina. Memang benar tak harus jadi koki untuk bisa menilai satu menu masakan itu enak atau tidak. Namun cukup jadi manusia untuk tidak menghina makanan yang barang kali tak cocok di lidahmu, kawan. – “Karya yang terbaik adalah karya yang selanjutnya.” Bisik seorang sahabat. “Tulislah sesuatu yang bahkan engkau sendiri akan tergetar apabila membacanya.” Sambung sahabat yang lain.
Ria, gadis berusia 27 tahun yang selalu merasa tak punya rumah. Dia dibesarkan dengan beragam makian dari ibunya yang patriarki. Ayahnya menikah dengan perempuan lain hingga punya seorang anak perempuan. Abangnya selalu mendapatkan perhatian dan prioritas dari ayah dan ibunya. Sementara Ria? Ria harus terus memendam keinginan dan sakit hatinya!
Sejak SMP Ria terpaksa masuk pesantren. Hal yang membuatnya semakin membenci ayah dan ibunya! Namun kini Ria merasa lebih bebas. Ia bekerja sebagai luxury travel planner untuk orang-orang kaya dari berbagai belahan dunia! Saldo rekeningnya tak terhingga, tersebar di beragam rekening di beberapa negara. Apartemennya super mewah, mau apa saja pasti bisa Ria dapatkan. Tetapi tetap saja, ada rasa hampa dalam hatinya.
Lantas klien tak terduga memintanya menangani perjalanan yang tak terduga pula! Keluarga kaya raya itu minta dipersiapkan untuk umrah. Sekalian dengan menikahkan putrinya di tanah suci. Bagi Ria, semua itu mudah saja. Tapi ternyata Ria juga harus ikut umrah! Ria yang sudah lama tak sholat, tak pernah membaca Alquran bahkan sudah setengah percaya-tidak percaya pada Allah ini harus umrah? Bagaimana perjalanannya kali ini??
🕋👩🏻💼🏡 baca review buku lainnya di IG ku @tika_nia
Membaca novel ini seperti diajak mengembara ke berbagai tempat unik! Mulai dari di tengah lautan di atas kapal pesiar mewah, ke pedalaman Amazon, Mentawai, Tristan da Cunha, hingga ke Mekkah dan Madinah ☺️ Beberapa perjalanan itu penuh suka cita, asyik, menantang, beberapa yang lainnya penuh haru, bahkan membangkitkan perenungan mendalam 🥲
Ada beragam pelajaran berharga dalam novel ini, di antaranya: • Memaafkan itu bukan perkara gampang, proses panjang yang harus ditempuh dengan keikhlasan, tak bisa dipaksakan. • Tidak semua hal bisa dibeli dengan uang. Semua uangmu tak bisa menghilangkan rasa hampa, dendam, dan kebencian begitu saja. • Terkadang kita memang harus berjalan begitu jauh, mengalami beragam pengalaman, hanya untuk kembali menemukan makna rumah 🥲✨
Banyak rasa yang turut hadir saat aku membaca novel ini. Kalian harus membacanya sendiri untuk merasakannya! 😃 Menurutku gaya bahasanya ringan. Meskipun alurnya agak melambat di bagian tengah, namun secara keseluruhan, novel ini benar-benar mengajarkan banyak hal. Sungguh layak dibaca siapa saja yang ingin kembali pulang, menemukan rumah 🏠🏡
Sebenarnya buku ini belum masuk list TBR ku, karena dia PO. Cuman karena tiba² dia udah dateng, jadi kita selipkan dia menjadi top list TBR✨
Awal ceritanya seru, bikin penasaran. Pas part pertengahan tiba² tidak terasa page turner (agak monoton alurnya), tapi pas mulai ke akhir² dia balik jadi seru lagi. Endingnya oke bgt, cukup heartwarming❤️
Buku keduaku dari JS Khairen, dan sepertinya ini bukan my cup of tea. Aku memberikan bintang 3/5 karena butuh waktu yang lama untuk menyelesaikan buku ini dengan alasan sejak awal ceritanya cukup membosankan dan banyak hal yang menurutku kurang masuk akal in a cringey way; menerbangkan roket dari Singapura, memanggil penyanyi korea untuk tampil di hutan Amazon, dan sebagainya. Banyak juga konflik yang tidak diselesaikan namun terlewati begitu saja; Ria dan adik tirinya, kisah pertemanan Pak Hendrik dan Bu Jessica, dll. Beberapa plot terasa sangat dipaksakan, setiap karakter dan kejadian seperti wajib ada keterikatan satu sama lain—the red string theory they said. Perkembangan karakter dari masing-masing tokoh pun terasa aneh. Terakhir, menurutku membaca buku ini seperti membaca buku tema religi.
Apa yang pertama kali terlintas di pikiranmu saat mendengar kata "Rumah"? Apakah itu bangunan fisik, ataukah tentang kenyamanan hati?
Ketertarikanku pada buku Rumah karya J.S. Khairen ini bermula dari sampulnya yang terasa sangat homey. Perpaduan warna dan ilustrasinya seolah memancarkan kehangatan yang selaras dengan judulnya. Dari sinopsisnya pun, aku langsung terpikat pada perjalanan tokoh utamanya, seorang wanita yang mencari rumah, namun tak kunjung menemukannya di setiap persinggahan.
Sebagai pengalaman pertama membaca karya J.S. Khairen, aku menemukan beberapa hal yang berkesan. Gaya bahasanya sangat kontemporer, terasa seperti sedang mengobrol langsung dengan penulisnya. Ada keunikan pada perpaduan bahasa baku dan kasual yang jujur, yang memberikan sentuhan yang sangat apa adanya pada narasi.
Salah satu poin yang sangat menarik di buku ini adalah penggunaan latar profesi sebagai luxury travel planner. Penulis sangat cerdik menggunakan analogi untuk menggambarkan definisi "mahal" agar bisa dipahami semua kalangan. Misalnya, membandingkan harga sebuah layanan dengan tiga kali lipat gaji atau setara biaya pensiun. Pendekatan ini sangat membantu pembaca membayangkan taraf kemewahan tersebut secara nyata. Selain itu, buku ini juga kental dengan nilai-nilai spiritual dan budaya Muslim yang memperkaya wawasan kosakata kita.
Namun, aku ingin berbagi sisi refleksi yang mungkin sedikit berbeda dari kebanyakan orang. Di saat banyak pembaca lain merasa sangat emosional, bahkan ada yang berhenti di tengah jalan (DNF) karena merasa ceritanya terlalu berat, aku justru merasakan pengalaman yang berbeda. Aku merasa alurnya cenderung datar dan sesekali terasa membosankan karena temanya terasa sangat umum.
Setelah merenung, aku menyadari bahwa rasa bosan itu muncul karena ekspektasiku yang terlalu tinggi melihat buku ini begitu laku di pasaran. Ternyata, bagiku sesuatu yang "relate" (terasa dekat) tidak selalu berarti "fresh" (segar). Namun, di sinilah letak pembelajarannya: aku menyadari bahwa bagi banyak orang, keumuman itulah senjatanya. Banyak pembaca tidak mencari kejutan ide yang rumit, melainkan mencari validasi atas apa yang mereka alami sehari-hari.
Meskipun aku menjalaninya dengan rasa bosan, aku tetap bertahan hingga akhir dan menemukan insight spiritual yang mendalam. Buku ini mengingatkan bahwa sejauh apa pun kesuksesan materi, itu tidak menjamin rasa "penuh" jika kita kehilangan koneksi dengan orang-orang terdekat. Indikator sukses pun digeser: bukan lagi soal pencapaian visual, tapi soal ketenangan batin. "Rumah" tidak akan tercipta jika keluarga tidak bisa memberikan rasa aman, namun sebagai orang dewasa, kita juga perlu belajar untuk berdamai dengan diri sendiri dan menerima keterbatasan orang tua.
Kesimpulannya? Ke mana pun kita pergi, ujungnya adalah kembali ke spiritual; terkoneksi dengan diri sendiri, Sang Maha Kuasa, dan orang-orang terdekat. Luxury hanyalah pelengkap, namun inti dari rumah adalah kembali menjadi diri sendiri apa adanya.
Buku ini aku rekomendasikan bagi kamu yang sedang mencari ketenangan batin dan ingin berefleksi tanpa drama yang terlalu berat. Sangat cocok dibaca saat malam hari sebelum tidur atau ketika akhir pekan.
Rumah adalah novel yang mempertanyakan definisi dari tempat pulang itu sendiri. Banyak orang menyebut kata “rumah” sebagai pelepas penat dan jenuh setelah perjalanan panjang namun banyak juga orang yang sudah di rumah namun nyatanya tidak menemukan ketentraman itu. Dari buku ini kita akan bertemu tokoh bernama Ria yang bekerja sebagai luxury travel planner, tentu saja uang baginya bukan hal sulit namun entah mengapa tetap ada yang rumpang pada dirinya. Segala macam perjalanan klien sudah didampinginya ke berbagai negara sampai suatu ketika dia mendapatkan tawaran yang aneh yakni mendampingi sekeluarga untuk umroh. Banyak pergolakan batin yang ditunjukkan melalui kilas masa lalu Ria, seperti kehidupannya saat masih tinggal bersama ibu dan ayah sampai dengan kehidupannya di pondok pesantren. Kebencian yang memuncak itu membuat Ria kehilangan diri sendiri bahkan meninggalkan ibadah. Itulah yang membuatnya merasa segan dan tak pantas jika harus ikut rombongan umroh. Maha besar Allah yang membolak-balikkan hati manusia, dibandingkan semakin enggan Ria justru semakin lancar melalukan perjalanan itu sampai tuntas. Hatinya yang keras perlahan melunak, pikirannya yang buntu perlahan menemukan jawaban dari kerisauan itu. Buku ini sangat menarik, pembaca diajak membedah pengetahuan agama dengan perspektif yang lebih terbuka namun tidak meninggalkan batasannya. Kita juga diajak jalan-jalan sesuai jobdesk Ria yang tertera di dalam bukunya.
Dari buku ini aku belajar bahwa memaafkan itu adalah proses paling sulit tidak hanya bisa terlontar dalam ucapan belaka namun juga melibatkan keikhlasan dari hati. Dalam sebuah keluarga nyatanya bukan hanya anak yang bisa saja salah namun orang tua juga bisa salah jadi sudah seharusnya dalam keluarga saling memahami peran tanpa merasa paling benar. Tidak semua hal bisa selesai dengan uang, buku ini benar-benar membuka mata tentang perkara yang tidak bisa dibeli dengan uang. Ada orang-orang yang memegang prinsip tertentu sehingga waktu dan kepentingan mereka tentu saja tidak bisa dibeli dengan uang. Perjalanan Ria tentu saja sengit, dia tidak hanya memerangi godaan namun juga ego dalam dirinya sendiri. Buku ini tidak hanya mengharukan namun ada sisi menggemaskan ketika Ria menyadari suatu hal tentang perasaannya itu. Bagusnya dibandingkan langsung mengiyakan Ria justru memilih untuk memperbaiki diri lebih dulu. Bukankah itu lebih penting? Bukankah proses memang mengharuskan kita terus belajar karena perjalanan pulang memang sangatlah sengit?
Kerana sudah membaca Kado dan Dompet, tentu sahaja jangkaan saya terhadap novel yang lebih tebal ini sangat tinggi.
Rumah menceritakan Ria yang berjaya sebagai pengurus event 'privacy', berhubung dengan para VIP dan orang-orang kaya. Ria dihamburkan wang yang tidak terkira sehingga boleh membeli apa sahaja. Tapi Jiwanya kosong.
Ia bermula dari 'rumah' yang tidak memberikan apa yang sepatutnya bagi anak-anak seperti Ria. Dari satu kelukaan membawa 'dendam' yang dibayar dengan mendapatkan segalanya sendiri.
Ria melalui sebuah perjalanan yang panjang di bumi suci. Di situ ia diajak untuk kembali mendefinisikan tentang 'rumah' dan keluarga.
Terus terang, banyak babak yang meleret dan membuatkan pembacaan tergendala sikit demi sedikit. Perlukan masa yang santai dan bukan tergesa-gesa untuk habiskan bacaan.
"Rumah" dalam novel ini adalah orang tua dan Tuhan. Ria sang tokoh memiliki hubungan yang kacau dengan orang tuanya, membuatnya juga jauh dari Tuhan. Berawal dari mendapat klien yang ingin ke Tanah Suci, Ria's healing & spiritual journey is start. Nah kliennya ini ternyata ada plot twist tersendiri🤭.
Bahasanya ringan tapi dialognya sungguh meaningful. Penulis juga memasukkan tema patriaki di sini, seperti Ibunya Ria yang seperti meng-anak tiri-kan anak perempuannya, larangan sekolah sesuai keinginan, dll. Make us realise that patriachy really destroy our future, our family.
Penulis memasukkan beberapa POV atau sudut pandang dari orang tuanya, tapi menurutku masih belum cukup meyakinkanku untuk memberi orang tuanya "maaf". Tapi yaudah sih ngapain aku maafin karakter fiksi HAHAHA.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Heartwarming, kocak, tapi juga bikin aku nangis. Ini novelnya realistik banget, tentang seorang anak yang dipaksa, lalu juga kalau misalnya ga semua lulusan pesantren itu menjadi semakin islami lagi. Disini kita di tekankan kalau misalnya semua orang punya kelebihan dan keburukan, semua orang itu punya kesalahan, dan disini kita mengikuti perjalanan Ria memaafkan. Disini juga sangat islami, suka deh! Intinya seorang pendosa pasti juga masih membutuhkan Allah. One of my best reads, dan endingnya? Sempurna!
Buku ini menjadi buku (novel) pertama yang kubaca di tahun 2026. Dengan membaca blurbnya pasti taulah ceritanya akan seperti apa. Iyaa, betul, bikin penasaran tentunya. Akan bagaimana perjalanan panjang hidup seorang RIA yang amat ria. Well, bahasanya ringan tapi isinya dalem bangettt. Cover terlihat manis dan hangat. Oh iya. Saking dalemnya sampe terasa ke uluh hati. Pokoknya campur aduk deh rasanya.
Benar benar perjalanan menuju rumah saat membaca novel ini, bukan membahas konflik antara diri sendiri dengan orang lain tapi konflik yang paling sulit saat bertarung dengan diri sendiri untuk "pulang ke rumah"
Rumah dengan banyak definisi tergambar pas tidak berlebih paling manis saat menuju "rumah di mana maha pemaaf berada". Pas emang baca di saat Ramadhan
Ria dan rumahnya membawa persepsi baru tentang Rumah
This should be the fastest book I’ve read in early 2026. Such a heartwarming, realistic yet so painful bcs it kinda relate with my life situation. And the most wanted one I really wanna go to Kabah just bcs this book describe all those place in such entertaining way..
To be reminder that I chose this book bcs there’s a book signing in my town and I just read only half way throu and the author sign it down👋🏻👏🏻
Ini bisa dibilang relate banget buatku, sebagai anak perempuan yang memiliki perasaan yang belum selesai terhadap rumahnya sendiri. Pertanyaan-pertanyaan yang selama ini cuma berputar di kepalaku rasanya terjawab, tentang apa yang harus aku lakukan. Kocaknya dapet, sedihnya dapet, harunya juga. Mana background Ria yang dari pesantren juga kebetulan sama denganku XD
This was the first J.S. Khairen book I’ve read. I had high expectations for it since so many people recommended his works. But for me, this book was just so-so, nothing particularly impactful.
I also felt there were quite a few plot holes, with some conflicts left unresolved. In addition, the book felt more like a spiritual/religious read, which is not really my cup of tea.