Jump to ratings and reviews
Rate this book
Rate this book
Her life was almost perfect. Pekerjaan sebagai editor di majalah fashion ternama, rekan kerja yang baik hati meskipun doyan gosip, serta dua sahabat cowok yang selalu ada ketika dibutuhkan. So what a girl could ask for more? Well, please underline the ‘almost’ part.

Audrey ‘Dre’ Kahono jatuh cinta setengah mati dengan Eren,sahabatnya––namun nggak pernah punya keberanian untuk mengungkapkan hal itu. Sebuah pengakuan mendadak dari Eren membuatnya terseret dalam insiden penuh kesialan yang berujung pada serentetan drama baru; pertemuan tanpa sengaja dengan Austin yang moody setengah mati, insiden di pelataran parkir, dan belum lagi soal liburan ke Bintan yang mendadak namun berakhir mengejutkan!

Austin yang persisten mendekati Dre membuat Dre kesal tapi lama-lama suka. Nah, masalahnya, ketika Dre mulai dekat dengan cowok lain, Eren malah kelihatan uring-uringan. Belum lagi drama antara Dre dan Eren berakhir, Austin malah menambah drama baru dalam hidupnya...

280 pages, Mass Market Paperback

First published February 5, 2015

8 people are currently reading
148 people want to read

About the author

Emilya Kusnaidi

3 books40 followers
Emilya Kusnaidi is a passionate writer who also happens to be a doctor. She is the Metropop finalist of Gramedia Writing Project batch 1 (2014), with Orinthia Lee and Ayu Rianna.

Her published novels are Teater Boneka (GPU, 2014), Romansick (GPU, 2015 - reprinted in 2017), and Sparks, a short story in Kata Kota Kita (GPU, 2105)

When she isn’t glued to a computer screen, she spends time reading good books, learning how to cook, and trying very hard not be the sloppiest in her workplace. She is currently working on her new book.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
47 (14%)
4 stars
112 (34%)
3 stars
138 (42%)
2 stars
22 (6%)
1 star
4 (1%)
Displaying 1 - 30 of 95 reviews
Profile Image for Daniel.
1,179 reviews853 followers
March 14, 2016
Emilya Kusnaidi
Romansick
Gramedia Pustaka Utama
276 halaman
6.2

Saya biasanya menghindari buku-buku yang bertaburan banyak merek, seperti orang Yahudi yang menghindari orang kusta yang teriak, "Najis, najis!" di perjanjian baru. Ini sebenarnya hanya karena saya anaknya punya self-esteem yang sangat jongkok dan membaca merek-merek yang bahkan saya tidak tahu bagaimana pronunciation-nya itu bikin self-esteem saya makin minus. Tapi saya pernah membaca cerita pendek Kusnaidi (anyway, maaf sebelumnya karena entah kenapa saya akhir-akhir suka menyebut nama orang dengan nama belakangnya dan kebiasaan ini menempel begitu saja seperti lem superadesif) di Kata Kota Kita: Kumpulan Cerpen Gramedia Writing Project. Tulisannya clean, sendu, dan agak sesuai dengan gaya cerita yang saya nikmati dan saya mesti jujur kalau saya agak lumayan tertarik buat membaca Romansick, induk dari cerita pendek di Kata Kota Kita.

Keluhan yang sama dari beberapa buku metropop yang pernah saya baca adalah bertaburan merek-merek dan kalimat-kalimat Inggris yang sebetulnya bisa diindonesiakan . Entahlah. Mungkin saya yang terlalu gembel untuk menikmati metropop, tetapi saya terkadang merasa cerita-cerita metropop terasa sangat formulaik. Sewaktu saya membaca metropop punya kakak saya kira-kira enam sampai tujuh tahun yang lalu sewaktu saya masih SMP dan awal SMA (I guess, I forget how old I am now), saya enggak terlalu ambil pusing dengan keformulaikan yang ada. Tapi lama-lama saya mikir, orang Jakarta emang konflik kehidupannya begini-begini aja yah. Mungkin saya mengharapkan sesuatu yang mindblowing, misalnya seorang eksekutif muda Jakarta yang mesti memimpin sekelompok pesintas dari serbuan invasi alien atau apalah. Now that's what I call mindblowing. Mungkin terakhir kali saya menikmati metropop adalah sewaktu saya membaca Bellamore A Beautiful Love To Remember. Itu juga saya lupa ceritanya soal apa wkwk, tapi kalau membaca review saya, sepertinya ceritanya bagus.

Romansick sebetulnya tidak terlalu buruk. Kusnaidi jelas pandai mengolah kalimat-kalimat dan sudut pandang orang ketiga yang digunakan terasa luwes, tidak seperti kameramen yang masih amatir. Transisi skena (wkwk, kita harus bikin petisi buat masukin skena ke KBBI) dalam Romansick lumayan mulus. Jalan ceritanya juga sebetulnya lancar. Namun, Romansick ini entah kenapa terasa hampa. Saya merasa adegan-adegan yang ada di buku ini terasa pointless dan hollow. Entah kenapa saya enggak ngerasa ada jiwa di tiap kalimat-kalimat yang Kusnaidi tulis, tapi saya tahu setiap penulis menyelipkan jiwa di setiap tulisannya, seperti Horcrux, jadi saya tahu saya yang salah. Ini termasuk buku it's-not-you-it's-me karena kalau dilihat secara sekilas Romansick ini seharusnya tidak bermasalah. Tapi mungkin entah karena saya habis membaca Jellicoe Road yang berhasil mengaduk-aduk perasaan saya dengan premis yang sederhana, saya mungkin masih hangover dan membaca Romansick membuat judgment saya jadi lumayan kabur. Mungkin juga saya mengharap lebih, tetapi sejujurnya saya lelah mendengar cerita soal cerita cinta yang tak bersambut sebelum akhirnya ia menemukan cinta yang sejati wkwk hasik.

Yang saya suka dari Romansick adalah humor-humor urban yang dicelotehkan oleh Kelsa dan Germaine. Aneh tapi nyata, saya kadang suka salut dengan orang-orang sassy yang selera humornya seperti berasal dari dunia lain, tetapi saya suka ketawa kalau dengar lelucon orang-orang sassy. I guess we click in a bizarre way. Bukan karena saya sassy. Humor saya lebih ke humor-humor sok-sokan bego. Loh kok malah curhat.

Orang-orang sudah menyebutkan soal kesalahan grammar dan salah tik, yang enggak akan saya bahas lagi karena bakalan membuat review saya enggak spesial. Tapi satu hal lagi yang membuat Romansick ini menyenangkan sebenernya karena ada soal Singapura-nya. Saya punya banyak pengalaman buruk di Singapura, tetapi saya juga punya banyak pengalaman menyenangkan selama tinggal di sana, dan saya enggak akan pernah menyangka saya akan punya love-hate relationship dengan negara kecil ini. Dan membaca Austin yang pernah tinggal di Ang Mo Kio mau enggak mau bikin kepala saya mengenang jalanan Singapura yang teratur, udaranya yang panas tapi anehnya bersih, orang-orang yang berjalan cepat, kereta MRT yang masih ramai hingga jam dua belas malam.

Mungkin itu yang membuat Romansick lumayan berkesan buat orang-orang. Mungkin ada orang di luar sana yang pernah memendam rasa ke sahabatnya hingga sampai saat ini, tetapi masih belum punya keberanian untuk mengutarakannya. Mungkin ada orang di luar sana yang pernah begitu merindukan orang yang dicintainya sampai rasanya sakit. Mungkin buku ini membuat orang di luar sana mengenang kisah cinta mereka.

Review ini juga bisa dibaca di sini
Profile Image for Nurul.
311 reviews38 followers
April 28, 2021
Not surprised kalo Metropop gini banyak bahasa gado-gado dan bertebar merek, apalagi tokoh utamanya kerja di fashion industry, so i get it kalo penulis pengin ngerasa kerjaannya si Dre ini nggak tempelan aja.

Ceritanya ya ringan kayak buku Metropop lainnya walaupun ini menurut saya Dre dan hidupnya ini rada drama juga haha. Sejujurnya saya ngeliat karakter Dre jatuh cinta itu berasa ngeliat ABG baru kenal cinta-cintaan, kayak apa ya, terburu-buru, terus sekali ada masalah sedikit langsung drama banget, dan juga anaknya moody-an (malah saya ngerasa tokoh yang angot-angotan di sini itu Dre bukannya Austin). Well, oke kalo misalnya dia bilang dia jarang pacaran karna nutup hati, tapi seiring dia nambah umur kan pasti dia udah paham lah ya gimana nanggepin sesuatu walaupun pengalamannya emang masih dikit.

Kemudian buat karakter, menurut saya, karakter Austin malah belum terlalu digali, apalagi karakter Tara dan Eren, padahal Tara menarik gitu karakternya. Dan saya suka gaya penulisan Kak Emilya, sepertinya bakalan nyoba baca bukunya yang lain.

Buat konfliknya kayak yang tadi saya sebut, masih ringan. And I think it would be better if there was Austin-Sissy's side story in this book that tells us how they can have an affair besides they fall in love with each other because I find their relationship more complicated than that.

Rate: 2.75/5
Profile Image for Nidos.
300 reviews77 followers
January 7, 2016
I've read the nays from the reviews before finally deciding to hit this one, so I should've warned myself. I did warn myself actually, but 'Sparks' in Kata Kota Kita was just so good I was more than willing to read the longer version of it.

So now here I am, feeling disappointed and cheated.

First, basic grammar mistakes were so many that they bugged me a lot--even in Indonesian. Second, it's actually a matter of taste, but I don't quite like a read which 'Gucci this, Armani that' kinda thing. And too many d'alcool involved, don't you think? Third, I found anachronism within. Fourth, the font is smaller than usual, isn't it? It's tiresome.

Still, few things to cherish are around.

First, unlike the Kumcer and Young Adult, Metropop's bookmark has decent size. Second, Austin--a man to fall for in romance is a MUST--and here he's my litcrush. Third, this quote:

"It's the hardest shit ever. Telling someone how you really feel."

Two stars because I couldn't say that I like it and, in the end, it was okay.

Profile Image for Leila Rumeila.
992 reviews30 followers
September 10, 2022
Don't want to tire myself out to review any longer, the stars already said it aloud, one of unpleasing metropop books i've read !!

*Listened the audiobook by Storytel*
Profile Image for Inggrid Hidayanti.
28 reviews7 followers
January 19, 2019
Ya ampun, Rada gemes gimana gitu Dre ini, gemesnya ke Tara sih sebenernya hahaha.

Audrey, si executive editor di majalah fashion terkemuka (gila ini kerjaannya bikin ngiri bener) Seriously you can working at something you love? Drey naksir setengah mati sama Eren selama sepuluh tahun, dan akan terus begitu kalau nggak ada Austin si Desain Interior yang hot itu.

Tara, ini sih favorit banget, sahabat yang selalu ada saat Dre butuh, His a bad-good-boy at the same time. Untung banget hidupnya Dre karena ada Tara.

Eren, Si tumpul yang dicinta Dre setengah mati sampai ada....

Austin Cheo, Si hot-bad-Guy, 11-12 sama Tara dalam perjalanannya.

Kisah mereka ini Khas metropop banget, banyak dialog dalam bahasa Inggris, banyak merk-merk terkenal, banyak hal-hal yang kayanya nggak susah didapetin anak muda biasa. Elah.

Tulisannya bagus, kalau kata orang-orang ada beberapa dialog bahasa inggris yang salah, tapi itu nggak begitu kentara sih. It's ok karena ini tulisan pertama dari beliau yang dibaca, alurnya mengalir, ringan dan bisa dibaca dalam sekali duduk sambil ngopi.

Good job! xoxo
Profile Image for Dion Sagirang.
Author 5 books56 followers
April 12, 2015
3,5 yang saya bulatkan ke bawah. Sangat subjektif, saya tidak suka novel yang berceceran bahasa asing di dalamnya, dan di sini, saya menemukan banyak tentu saja, sekaligus tatabahasa Inggris-nya yang banyak salah.

Sebenarnya, secara teknis novel ini akan sempurna seandainya ada proof terakhir. Ada typo, tapi tidak banyak. Yang sering malah pemenggalan kata yang, ya, tidak tepat dan cuma perlu poofreading sekali lagi.

Dari segi cerita, saya suka. Gayanya sendiri lincah, dan kemudian berharap ditambah adegan komedi. Hanya saja, penulis kurang menggali chemistry antara Dre dan Austin, Dre dan Eren pun begitu. Malah, saya lebih suka interaksi Dre dan Tara. Mereka bersahabat dengan manis. Dan terakhir, penulis kurang berhasil menggiring pembaca, memberikan alasan-alasan kenapa pada akhirnya Dre memilih si second male.
Author 17 books50 followers
March 29, 2015
Suka banget! Setelah kemarin ini ketemu satu lagi TeenLit yang bikin nggak bisa berhenti baca, sekarang ketemu satu lagi MetroPop yang juga bikin nggak bisa berhenti baca.

Aku suka kovernya--meski sederhana, tapi bagus. Perpaduan warnanya pas. Judulnya juga unik, keren banget.

Penulisannya lancar dan enak dibaca, jadinya bikin nagih bacanya. Tapi sayang, ada banyak typo yang bertebaran, termasuk kesalahan grammar juga, yang terus berulang-ulang.

Aku gemas banget sama karakter Eren, yang rasanya ingin kuulek kepalanya saking nggak pekanya dia. Pas pengakuan dia itu, rasanya aku juga bisa ngerasain sakit hatinya Dre.

Karakter yang paling kusuka di sini bukanlah Austin ataupun Eren, melainkan Tara. I love him! Benar-benar berharap nantinya penulis akan nulis buku lainnya tentang Tara. Nggak pakai mikir dua kali, pasti kubeli.
Profile Image for Nina Ardianti.
Author 10 books400 followers
February 23, 2015

Overall, okay. Memang yang namanya romance, ceritanya pasti akan klise. Justru perjalanan dari sepasang tokoh utamanya yang lebih penting. Seandainya penulis memperbanyak interaksi dan proses bonding antara hero dan heroine-nya, maka sepertinya akan menjadi lebih menarik.

Satu yang jadi perhatian saya, sayang banget terlalu banyak grammar yang salah. Mungkin ke depannya penulis, proofreader, dan editor perlu berhati-hati. Sekali dua kali salah masih nggak apa-apa, tapi sayangnya kesalahan grammar dan subject-verb agreement mendominasi kalimat dan percakapan yang banyak dilakukan dalam bahasa Inggris dan jatuhnya jadi mengganggu kenikmatan membaca.

Plus-plusnya, judulnya catchy banget. Menarik :))



Profile Image for Jenny Faurine.
Author 18 books181 followers
June 14, 2015
Suka sama ceritanya. Gaya bercerita yang mengalir lancar dan karakternya yang bikin jatuh cinta adalah dua hal yang bikin gue nggak rela kalau buku ini selesai.
Ada beberapa hal yang memang masih agak kurang sih. Kayak, kehadiran Ayuna yang cuma sebatas omongan antara mereka aja (nggak pernah muncul secara fisik gitu).
Gue kira bakal ada konflik berarti antara Eren-Audrey-Austin, tapi ternyata nggak ada.
But, it's okay lah.
Untungnya, gue juga fine-fine aja sama novel yang sebagian besar dialognya campur-campur.
Karakter yang paling gue suka:
1. Tara
2. Austin
3. Tara (lagi)
4. Tara (lagi! lagi! lagi!) #heh
5. Dre
Intinya, gue nunggu karya Kak Emilya selanjutnya. Ditunggu banget. Semoga lebih baik dari Romansick~
(dan semoga ada cerita Tara)
(ini kode)
(oke, harus disudahi)
Profile Image for Just_denok.
366 reviews7 followers
April 12, 2015
Sayangnya bagian Eren kurang dramatis. Padahal, saat Eren melihat Dre sedang lunch di Union bersama Austin, dan menyinggung tentang membahayakan posisi, ku pikir akan drama yg lebih dalam bagi Eren mengenai Dre. Sayangnya ternyata nggak ada :(.

Tapi okelah, aku suka cerita2 model begini. Cinta di dalam persahabatan memang nggk ada matinya. Dengan ending yang bermacam2 pula. Cara bercerita Penulis pun, aku suka.
Profile Image for Speakercoret.
478 reviews2 followers
June 20, 2018
#gdigital
sebenarnya punya buku fisiknya, tp krena baru pengen bacanya sekarang, sdangkan bukunya di balikpapan ya sudahlah baca via GD aja...
Profile Image for Anastasia Cynthia.
286 reviews
March 16, 2015
“What screws us the most in life is the picture in our head of how it is supposed to be.”—Romansick, hlm. 68


Semuanya serba-sempurna bagi Audrey ‘Dre’ Kahono; karier sebagai seorang executive editor di majalah terkenal; rekan kerja yang baik; serta berjalan ke mall diiringi dua bodyguard alias sahabat superkeren. Tara, cowok paling eligible di ibukota yang sering mematahkan hati para wanita, satu lagi, Eren, si tumpul yang kerap kali bikin Dre panas dingin sampai memaki-maki dalam hati.

Perkara Dre, bagi Eren adalah sekadar sahabat dari SMA, tapi Dre tentang Eren jelas berbeda. Perasaannya pada Eren bukan lagi sahabat terlampau akrab, ia jatuh cinta, pada sahabatnya sendiri. Sayangnya, Eren si Tumpul yang kepalang lurus, malah mengungkapkan perasaan sesungguhnya untuk Ayuna, matan pacarnya yang menetap di New York. Tidak ada lagi kata pengunduran, pun menanti, Eren akan lepas landas dalam hitungan minggu untuk melamar perempuan itu.

Dre ciut. Pesta soft opening Castello yang digelar Tara berubah menjadi bencana. Dre nyaris kehabisan napas. Ia tak sanggup mendengar pengakuan sinting itu lebih panjang. Bibirnya baru saja hendak melontarkan sejagat keberanian tentang perasaannya kepada Eren, namun sekonyong-konyong kepalanya berputar, asmanya baru saja kambuh, ia perlu lebih banyak udara. Langkah jenjang Dre ambil sempat membuatnya oleng, menerobos kerumunan orang, tangannya menjenggut sesosok yang dianggapnya sebagai Tara.

Inhaler baru saja ia hirup sekuat tenaga. Napasnya teratur. Namun, suara yang bertanya bukanlah suara yang ia kenal sebagai Tara. Sial!

“Lo mabuk ya?”

What?

Mabuk katanya? Sesaat mulut Dre membulat. Alisnya menukik tajam. Orang ini… inconsiderate banget sih! Nggak lihat apa, Dre sedang mencari oksigen dan menenangkan dari dari semua kestresan ini? Nggak lihat apa, Dre jauh banget dari orang mabuk! For goodness sake’s bahkan ia hanya minum dua gelas wine, yang nggak mampu membuatnya mabuk.

“I’m not,” balas Dre lantang sambil mendongak.

DUK!!

Romansick, hlm. 58


Cairan merah mengucur dari hidung pria asing di hadapannya.




Klasik tapi memorable, dua kata dari saya untuk merangkum “Romansick”, novel debut dari Emilya Kusnaidi. Di novel pertamanya, kentara kalau Emilya Kusnaidi tidak ambil banyak risiko; ia mengambil sebuah ide yang klise sebagai konflik utama—yang sudah pasti disukai oleh banyak pembaca dewasa muda. Well, mungkin terasa ringan dari segi ide, tapi dari segi gaya berceritanya: LUAR BIASA. Saya rasa, Emilya memang sengaja membuat “Romansick” sebagai bacaan ringan yang asyik untuk dibaca dalam beberapa jam.




Baca selengkapnya di: https://janebookienary.wordpress.com/...
Profile Image for Ahmad Alkadri.
Author 7 books35 followers
March 22, 2015
Terakhir kali saya membaca novel metropop adalah lebih dari setahun yang lalu, dan seringkali, saya menyesal karena tidak membeli lebih banyak lagi buku-buku dengan kategori genre tersebut. Mungkin fakta bahwa saya rada ndeso turut berpartisipasi pada kesukaan saya terhadap cerita-cerita metropop--konflik dalam kisah-kisahnya, kehidupan masyarakat perkotaan yang diulas dengan baik, dan narasinya yang mengalir dan kocak selalu berhasil membuat saya tertarik.

Romansick adalah novel serupa. Membacanya, saya nggak menyangka ini adalah novel pertama penulisnya. Penggambaran kehidupan dunia sosialitanya, penokohannya, latarnya, dan suka-duka karir fashionista di dalamnya dituliskan dengan sangat baik. Kisah cinta yang menjadi pusat buku ini--seorang wanita muda yang jatuh cinta pada sahabatnya, tapi ternyata sahabatnya itu sudah mau menikah dengan cewek lain, dan malah ada cowok bad boy yang PDKT dengannya--bisa dibilang kocak-kocak sangar. Saya bukan pembaca romans yang baik, tapi ada beberapa poin di dalam kisah mereka yang membuat saya terkejut. Hal-hal sederhana seperti cinta antar sahabat, unsur karir dan pribadi dalam personal wanita, digambarkan dengan mendetil.

Satu-satunya kekurangannya (dan kekurangan banyak novel metropop lainnya yang, sejujurnya, membuat saya jarang beli) adalah penggunaan Bahasa Inggris yang menyelip-nyelip di antara Bahasa Indonesia. Memang sih, dalam beberapa bagian memang cocok, tapi banyak yang tidak. Belum lagi, typo dan kesalahan dalam grammar juga cukup banyak dan mengganggu kenyamanan membaca.

TL;DR, 4.5/5.0. Bulatkan ke 5.0 :) Ulasan lengkap bisa dibaca di sini: https://bacahujan.wordpress.com/2015/...
Profile Image for Nike Andaru.
1,641 reviews111 followers
September 27, 2019
189 - 2019

Buku pertama Emilya Kusnaidi yang saya baca, ini memang bukan novel debutnya tapi ini novel solo pertamanya, karena sebelumnya dia menulis buku metropop juga tapi bareng penulis lain.

Cerita friendzone mah masih akan menarik dibahas sih ya. Persahabatan Audrey - Tara - Eren. Audrey suka Eren tapi gak berani ngomong. Lalu muncul lah Austin yang digambarkan tipe badboy tapi ganteng beud yg ternyata ada masalah juga sama friendzone.

Sebenarnya ide ceritanya memang gak rumit, tapi kok ya saya merasa kurang suka ya sama jalan penceritaannya. Cara menulis Emilya dalam buku ini mirip dengan Ika Natassa, penuh dengan banyak kata dalam bahasa inggris. Kalo percakapan, ya saya maklum, orang Jakarta ngomongnya memang gitu katanya, banyak bahasa inggrisnya, tapi untuk kata dalam deskripsi, saya rasa bisa kok pake bahasa Indonesia. Misal, pizza large? Kenapa gak ditulis pizza ukuran besar, dan beberapa kata lainnya. Buat saya agak bikin gimana gitu bacanya. Trus istilah lain semacem 'boyish' yang dipake berulang, senyum aja bisa boyish. Entah mungkin cuma saya yang terganggu akan hal kayak gitu ya.
Profile Image for Alya N.
306 reviews12 followers
February 22, 2015
"... i bet it'd be on my favourite shelter"



itu tweet gue bbrp minggu lalu setelah baca cuplikan bab Romansick di official website GPU.



Totally revealed kan.


Gilaaaa suka suka suka banget. Romansick officially gw nobatkan sbg salah satu metropop terfavorit versi gue.
Bukan karena kondisi Audrey mirip-mirip gue ya [trapped in friendzone? Am i? *loh], tapi karena buat gw pribadi buku ini pas banget. Nggak too much dan nggak kurang. Semua sesuai takaran dan sesuai porsi.


Tema yang diusung, gaya menulis, penokohan, pace yg pas, semuanya bikin novel ini enjoyable.

Oh ya, satu hal spesial dari buku ini yang gw suka banget adalah the author's way named all the characters. Audrey Kahono, Kastara Aditya, Eren Kirstein, Austin Cheo, sampe nama-nama figuran macem model-model di Jalouse atau temen-temennya Audrey di kantor. Apa ya istilahnya, emmhh classy gitu nama-namanya. Enak didenger enak diucap.


Kalau Emilya Kusnaidi bikin novel lagi, no worries gue bakal beli lg.
Profile Image for Mayflazza.
7 reviews
September 17, 2015
Aku suka!

Pertama kali baca karya kak Emilya, dari buku kumcer Kata Kota Kita yang waktu itu dipinjemin sama temanku. Dan aku suka banget dengan tulisannya yang krinyis-krinyis di sana. Sewaktu baca Romansick ini, sebetulnya aku nggak berharap banyak. Apalagi setelah baca review teman-teman di goodreads, aku jadi ragu buku ini tidak sebagus cerita Sparks. Tapi entah kenapa, aku suka sekali!
Ceritanya ngena, apalagi untuk cewek-cewek hopeless romantic yang bertepuk sebelah tangan sama sahabatnya kayak aku *eits, jadi curhat, hihi*. Austin sebagai tokoh utama cowok memang keren, tapi entah kenapa aku pribadi lebih suka sama Tara :)

Terus menulis ya, Kak Emil! Aku menunggu karya selanjutnya! Semoga habis ini kakak nulis cerita tentang Tara!
Profile Image for Khansa.
51 reviews
May 24, 2015
Well, nggak menyangka bakalan suka. Padahal awalnya skeptik sama cover dan sinopsisnya. Tapi diluar dugaan, me-likey.

Jujur, Austin is not my favourite type of men, tapi entah kenapa saya merasa Austin tuh ngena banget. But still, karakter favorit tetap jatuh sama Tara yang nggemesin.
Untuk Dre, she was okay -- in a good way.

Sempat bertanya-tanya kenapa cerita Eren-Ayuna nggak dielaborasi, tapi setelah baca kumcer Kata Kota Kita, saya jadi tau alasannya. And it's nice to read a spin-off about them. Semoga nantinya bakalan ada cerita Eren dan Ayuna lagi.

Banyak Typo. Grammatical error. CAPEK BACANYA!
Profile Image for Rei Pusvita.
78 reviews7 followers
December 14, 2015
Gue suka gaya nulis Kak Emilya. Ceplas-ceplos, ngalir, dan enak buat diikutin. Bahkan beberapa kalimatnya simpel tapi nonjok ke hati, bikin baper, bikin inget-inget mantan. *eh*

Gaya nulisnya pake PoV 3, tapi seakan pake PoV 1 karena gue beneran ngerasa Dre lagi ngomong sama gue. Dan Austin... Love is in the air *for me* *digelpak*

Tapi kenapa tiga aja padahal gue suka gaya nulis Kak Emilya? Coz gue ngerasa kurang tebel, cyin! Di ending tau-tau dah gitu ae selesai mblas. Terus banyak dong grammar yang salah... *eh tapi apalah gue ini yang ga faseh nginggris*

Meski gitu, gue ga kapok kok kalo Kak Emilya nulis lagi.... Apalagi nulis kisah Tara... lalala yeyeye!

Profile Image for Diego Christian.
Author 5 books127 followers
January 27, 2015
Suka cara Kak Me menyampaikan cerita. Lancar, tanpa tedeng aling-aling, banyak showing, jujur, semua detail dunia fashion, cara bercerita yang sangat WAYS (write as you speak), suka banget semuanya. Yakin deh buku ini bakalan membuka banyak pembaca tentang siapa Kak Me (wuidih!). It's abso-fashion-lutely amazing story!
Profile Image for nasya.
821 reviews
September 20, 2025
awal ngira bakal ada perasaan lebih antara eren atau tara ke drey, ternyata nggak haha. tapi walaupun waktu antara drey ketemu sama austin sebentar, yang dimana keduanya langsung deket itu emang cepet, tapi nggak kerasa cepetnya, jadi ttp enjoy dibacanya. tapi, aku notis ada dua atau tiga typo gitu
Profile Image for Dhea Safira.
Author 8 books2 followers
June 5, 2019
Ini kali pertama aku baca karyanya Kak Em, dan aku sangat suka.
Gaya bahasanya ngalir, lincah, dan nggak bikin bosan.
Ceritanya juga keren, Metropop banget.

Kerjaan Dre dijelaskan dengan apik, nggak terkesan sebagai pantes-pantesan aja.
Mungkin, karena profesi Dre juga, akhirnya banyak merk betebaran (yang mana, membuatku yang buta merk ini mengernyit).

Untuk karakter, anehnya, saya suka Tara. Gimana ya... dia tuh lovable banget. Perhatiannya ke Dre itu bikin saya pengin punya sahabat kayak Tara. Untuk ukuran cowok model begitu, dia termasuk sweet banget.

Ketimbang interaksi Dre-Eren (yang menurutku kurang dapet kemistrinya) ataupun Dre-Austin (yang menurutku kurang porsinya), aku malah lebih suka interaksi Dre-Tara. Gimana ya... sweet aja gitu.

Untuk Austin, di awal-awal, karakternya menarik banget. Cocok banget untuk tipikal cowok novel roman--lovable, charming, dan bikin melting, hehe. Sikap cuek, sarkas, to the point, jengkelinnya itu yang bikin aku suka dengan dia. Meskipun, tetap Tara nomor satu, hehe.

Entah mengapa, rasa-rasanya porsi Dre-Austin agak kurang. Kurang dalam, kurang touchy, gitu-gitulah.

Yang mungkin sedikit menggangguku, adalah penggunaan bahasa Inggris yang oh begitu banyaknya. Meskipun kayaknya emang ada beberapa kalimat yang cocok pakai bahasa Inggris, tetapi ada juga yang tetap tedengar keren meskipun pakai Bahasa Indonesia.

Anyway, aku tetap suka novel ini.
Berharap semoga ada kisah Tara sebagai peran utama, hehe
Profile Image for Yacita Aditya.
230 reviews2 followers
June 17, 2019
Baguuuss!! Ane suka dengan karakter Audrey dan Austin. Terutama Tara. Sempat kepikiran gimana klo Audrey ntar pasca lelah dikecewakan cinta, die jadian ama sohib ter-soulmate-nya ini. Dan ternyata?
.
.
Bagi saya, karakter Eren jalan di tempat. Mestinya ada sedikit letupan. Bukankah doi juga pernah mengalami kecewa akan cinta?
.
.
Di cerita ini, pembaca diajak menyadari klo ternyata cinta itu bisa datang tanpa menunggu hitungan bulan atau tahun. Ga mesti diawali dengan dag-dig-dug juga. Rona malu dan setiap pertemuan selalu diwarnai cekcok justru menjadi pertanda hadirnya cinta. Lucunya di kasus Drey, doi malah menyangkal hal itu ampe hati berdarah2. Gitu jg dgn si sohib
.
.
Tapi liatlah ending-nya. Manis pake banget. Meski sedikit dibumbui aksi balas dendam tak berkesampaian pada orang yg diam2 dicintai atau saling menyakiti perasaan sahabat
.
.
Yg lebih menarik lagi, di cerita ini penulis mengajak pembaca memasuki dunia jurnalis, tepatnya fashion editor beserta printilannya. Jadi makin pahamlah betapa hectic-nya bila sudah terbentur deadline
.
.
Profile Image for Bunga Mawar.
1,355 reviews43 followers
July 24, 2020
Punten sebelumnya.
Lama juga saya baca buku ini. Putus sambung, maju mundur nggak cantik, karena kayaknya baru kali ini saya baca novel metropop yang tidak ada satupun tokohnya -baik tokoh utama maupun tokoh sampingannya- punya kekuatan. Nggak usah kekuatan super untuk menyelamatkan negara dari beban cicilan utang luar negeri dulu deh. Kekuatan untuk menjadi teman baik aja belum bisa tampil.

Bingung juga nulis pandangan saya tentang isi buku ini tanpa kasih spoiler. Satu hal yang ingin saya sampaikan dengan sotoy-nya adalah tokoh utama kita Dre ini nggak terlihat seperti favoritnya mbak Emilya. Tokoh lainnya juga kayak sekadar lewat aja. Nggak ada kejelasan nasibnya setelah dua tokoh yang dijodohkan berhasil menemukan cintanya.

Tapi saya belum akan kapok baca karya lain mbak Emilya (ini pertama kali baca buku beliau). Semoga penggunaan bahasa campur-campurnya sudah berkurang, juga istilah macam gaya rambut "french laid" yang bikin saya malah malas gugling walau nggak ngerti.

Profile Image for Yovano N..
239 reviews14 followers
October 15, 2015
Review Kandang Baca: http://www.kandangbaca.com/2015/10/ro...

Bagi seorang Audrey ‘Dre’ Kahono, hidup barangkali sudah mendekati sempurna; bekerja di bidang yang ia sukai, punya rekan kerja yang menyenangkan, hingga sahabat-sahabat yang selalu hadir untuknya. Yang dirasa mungkin cuma satu: kekasih yang mau mencintai dirinya dengan tulus dan apa adanya—hasek. Masalahnya, orang yang Dre cintai diam-diam, yang ia harapkan untuk membalas perasaannya, tak lain sahabat karibnya sendiri.

Dre, Tara, dan Eren (dua nama yang disebutkan terakhir itu cowok, by the way) sudah bersahabat sejak SMA. Kurang lebih sepuluh tahun mereka menjalin persahabatan. Selama itu pula Dre memendam perasaannya kepada Eren. Sayangnya Eren adalah pria paling tidak peka yang pernah hidup di muka bumi ini. Ia tak pernah membaca gelagat Dre yang tiba-tiba berubah menjadi lebih kalem, lebih manis, lengkap dengan ekspresi minta disayang-sayang saat mereka sedang bersama. Tara, si playboy kelas kakap, yang selalu menjadi tempat curahan hati Dre, kerap menghadiahi cewek itu dengan khotbah panjang lebar tentang keberanian mengungkapkan perasaan dan segala macam. Cuma, ya itu, Dre khawatir bila perasaannya tak berbalas, malah akan membuat perhabatan mereka menjadi canggung. Alhasil Dre cuma bisa gigit jari bila melihat Eren berpacaran dengan orang lain.

Tapi toh khotbah Tara manjur juga. Dre membulatkan tekad untuk mengungkapkan perasaannya kepada Eren pada acara soft opening Castello milik Tara. Tapi alih-alih mengungkapkan perasaannya, Dre malah harus menelan pil pahit. Malam itu, Eren dengan penuh antusias menceritakan rencananya melamar Ayuna, mantan pacarnya yang kini menetap di New York. Dada Dre sesak oleh apa yang ia dengar. Sesak dalam artian sebenarnya. Asmanya kambuh. Dre kemudian kabur dengan menggandeng lengan Tara sebab ia merasa butuh seseorang untuk menemaninya menanggung badai yang baru saja menghantam hatinya (wiiih). Dalam kepanikannya, Dre justru menggaet orang lain: Austin Cheo. Itulah awal pertemuan Tara dengan Austin.

Bukan awal pertemuan yang baik, sebetulnya. Austin bukan pria yang gampang beramah-tamah. Apalagi malam itu Dre sukses menciderai hidung Austin (LOL). Seolah sudah ditakdirkan, mereka dipertemukan kembali untuk urusan pekerjaan—pertemuan yang lagi-lagi diwarnai adu argumen. Singkat cerita, Austin mulai menaruh hati pada Dre yang sama keras kepalanya dengan dirinya. Dre? Hmph. Boro-boro suka, yang ada ia malah merasa terganggu oleh kehadiran Austin. Ditambah lagi, Dre masih galau akibat kasus Eren di Castello tempo hari. Omong-omong, Eren nggak ngeh tuh, biar kata hati Dre hancur remuk redam, sampai-sampai ia nggak masuk kantor dua hari.

“Dre, deep down you already know the truth. You should let him go.”
(Tara ke Dre, hlm. 68)


Kegigihan Austin untuk merebut hati Dre ternyata tak sia-sia. Benteng yang dibangun Dre mulai runtuh. Tapi mengapa Eren malah uring-uringan ketika melihat kedekatan antara Dre dan Austin? Lantas bagaimana dengan Tara? Bukankah dialah yang selalu ada saat Dre butuh bahu untuk bersandar? Baca kisah lengkapnya dalam Romansick, karya Emilya Kusnaidi.

Romansick adalah karya perdana dari seorang wanita muda yang berprofesi sebagai dokter, Emilya Kusnaidi. Gaya berceritanya mengingatkan saya pada dua penulis favorit saya—Ika Natassa dan Christian Simamora—yang mana memiliki gaya bercerita yang mengalir, witty, dan terkadang ngajak merenung. Itulah mengapa saya sangat menikmati membaca novel ini. Sekadar info, novel ini memiliki gaya bahasa gado-gado antara Indonesia dan Inggris, yang mungkin bukan cangkir teh sebagain orang. Beruntunglah saya yang termasuk pembaca yang nggak terlalu mempermasalahkan gaya bahasa gado-gado semacam itu.

Jujur, saya merasa terkecoh ketika berusaha menebak ke mana arah perkembangan cerita. Kalau membaca sinopsisnya, saya pikir novel ini tentang sahabat jadi cinta. Well, nggak sepenuhnya salah sih. Saya suka mengenai perkembangan cerita yang di luar dugaan saya itu. Ditambah lagi, drama yang muncul di kala Dre telah memantapkan hatinya kepada salah satu pria, benar-benar berhasil membuat emosi saya jungkir-balik.

Bicara soal kekurangan, kabarnya ada beberapa penggunaan grammar yang sedikit meleset. Namun hal itu tak sampai menggangu saya. Yang saya rasa mengganggu justru saat penulis berkali-kali menjelek-jelekkan sinetron. Bukannya saya membela sinetron atau apa. Saya sendiri jarang nonton tv dan lebih suka ngabisin kuota internet buat nonton youtube. Begini, penulis bilang kalau sinetron tidak berbobot (uhm, saya juga belum nemu sinetron yang berbobot sih #plak), tokoh utamanya selalu tertindas (padahal banyak juga novel-novel bagus yang tokoh utamanya tertindas), tokoh utamanya sakit-sakitan (yeee, itu Dre asmanya kumat gitu waktu Eren cerita mau ngelamar Ayuna, apa nggak sinetron banget?). Kemudian ada adegan marah-marahan sambil hujan-hujanan. Ini juga sinetron banget, sebenarnya (tapi saya suka, LOL). Saya nggak ada masalah dengan selera penulis yang nggak suka sinetron, tapi kalau diulang-ulang terus, ya gerah juga dengernya. *ambil kipas angin*

Terlepas dari hal-hal yang saya anggap mengganggu di atas, novel ini asyik banget. Seperti yang saya bilang sebelumnya, saya suka sekali dengan gaya bercerita penulis. Ceritanya ringan, bahasanya nge-pop, namun konfliknya cukup berhasil mengaduk-aduk emosi. Chemistry antara Dre dan ‘orang itu’ juga dapet banget. Pada akhirnya, saya mendukung agar mereka jadian, meskipun tadinya saya berpikir sebaiknya Dre jadian dengan tokoh lain. Satu lagi, novel ini punya cover yang kece badai!

Setelah membaca Romansick, saya sangat optimis bahwa penulis mampu menghasilkan karya metropop yang tak kalah menarik di masa yang akan datang. Hingga saat itu tiba, saya akan setia menanti. :)
Profile Image for Heni Susanti.
28 reviews
April 28, 2018
#HeniBacaBuku on @ipusnas.id

Judul : Romansick
Penulis : Emilya Kusnaidi
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2017
Finished : 16.04 18 || 03.05 am

Novel ini mengangkat dua tema favoritku. Sahabat jadi cinta antara Dre pada Eren dan Austin pada Sissy juga benci jadi cinta antara Dre pada Austin. Dan dua-duanya berasa banget feel-nya. Konfliknya cukup complicated jadi selama baca emosi ikut naik turun mengikuti emosi Dre.

Aku tidak habis pikir dengan Dre yang mampu memendam perasaan selama 10 tahun pada Eren. Jika alasan saat ini dia tidak bisa mengatakan karena Eren sudah bersama Ayuna selama 3 tahun terakhir, lalu apa kabar dengan 7 tahun sebelumnya. Pasti ada masa Eren single available, kan ya? Dan Eren cukup menyebalkan dengan ketumpulannya.

Seperti judulnya, dari awal sampai menjelang ending banyak sekali sakit hati yang dirasakan pada tokohnya, terutama Dre. Apa cinta memang selalu diikuti sakit hati?

Dan lagi aku cukup tertipu dengan blurb-nya. Kupikir bagian Eren uring-uringan saat Dre mulai buka hati untuk Austin karena dia mulai, entah bagaimana, sadar atau merasa dia menyukai Dre juga. Ternyata...

Tapi di antara semua tokohnya, aku justru naksir Tara yang meskipun playboy akut tapi bestfriend material banget.
Profile Image for pidaalandrian.
364 reviews5 followers
December 2, 2017
Penasaran review lengkapnya??
Baca disini > https://collection-of-book.blogspot.c...

Romansick ini asyik banget. Seperti yang aku bilang sebelumnya ceritanya ngalir, dan aku suka sekali dengan gaya cerita penulis. Ceritanya ringan, bahasanya nge-pop, dan konfliknya yang membaur sempurna pun lumayan mengaduk-aduk emosi. Chemistry untuk tokoh utamanya pun dapet bangett dan aku setuju banget jika akhirnya mereka berdua. dan yang terakhir buku ini mempunyai cover yang kece badai terlihat simple dengan warna silver sepasang High Hells yang mencerminkan karakternya Dre, membuat aku tidak bosan-bosan memandangnya.
Profile Image for Dini Novita  Sari.
Author 2 books37 followers
August 29, 2015
saya ingat, saat membaca cerpen Emilya Kusnaidi di kumcer Kata Kota Kita, saya mengatakan bahwa Emilya adalah seorang penulis cerita Metropop yang menjanjikan! gaya bahasanya enak dan pas buat cerita bergenre Metropop. Maka, saya mengingatkan diri untuk membaca novel solonya--Romansick, yang tentu saja berlabel Metropop.

Namun, saya harus mengatakan konklusi ini: saya merasa novel ini 'berusaha keras terlihat sebagai novel Metropop'. Terlebih, dengan gaya bahasa gado-gado english-bahasa Indonesia. perkara gaya bahasa memang pada akhirnya tergantung kenyamanan pembaca juga, sih. saya nyaman dengan gaya bahasa gado-gado di novel2 Ika Natassa, tapi di sini, terkesan maksa--banyak kalimat yang rasanya lebih nyaman jika menggunakan bahasa Indonesia. lalu hal kedua yang bikin saya agak kecewa adalah naratornya yang terlalu bawel. Jadi novel ini menggunakan POV 3 dan berpihak pada Audrey, tokoh utamanya, tapi saya nggak suka aja gaya bertutur narasi yang terlalu sering marah-marah, mengumpat... berasanya cerita ini such a wasting time story karena isinya hal-hal yang bikin marah atau kecewa--I really blame the narrator for this.

Sisi baiknya, saya menyukai ide ceritanya, saya menyukai penggambaran sosok Austin, dan Tara. Saya suka konflik yang dihadirkan penulis mengenai seorang cewek jatuh cinta pada sahabatnya tapi bertepuk sebelah tangan, lalu menemukan sosok lain untuk dicintai, yang jalan untuk mendapatkan cinta itu pun nggak berjalan 'segitu aja'. saya rasa penyampaian konfliknya pas, lah.

Ah, satu kritik lagi, deh. Iya sih novel ini mengangkat sisi Audrey yang bekerja di majalah fashion, jadi sebenarnya bertebaran merek keren itu hal biasa. Tapi, kadar peletakan merek-merek itu terasa nggak pas dan kurang smooth di sini--kebanyakan dan agak maksa; hal lain yang bikin saya bilang novel ini trying so hard to be Metropop.

rating yang saya berikan: 2.5 dari 5. :)
Profile Image for ABO.
419 reviews47 followers
March 20, 2015
3.5/5 stars

Buat kamu yang lagi pengin baca bacaan yang ringan, terutama yang Metropop banget, Romansick dapat kamu jadikan sebagai pilihan bacaan kamu di waktu senggang. Ide ceritanya yang cukup menarik, dan karakternya lovable. Saya pribadi lumayan menikmati buku ini ketika membacanya.

Yang kurang saya suka adalah pemberian nama pada karakternya. Menurut saya sik nama Eren dan Tara itu kurang menegaskan kalau dua karakter itu berjenis-kelamin laki-laki (maap yak kalau ada mas-mas yang punya dua nama di atas yang baca ini x)) ini menurut saya loh ya). Sebaliknya, panggilan Dre (walaupun diambil dari Audrey) kesannya malah cowok banget. Makanya di bagian awal saya sempat bingung baca buku ini.

Seperti Metropop pada umumnya, buku ini juga berisi merek-merek yang bahkan saya tidak tahu bagaimana mengucapkannya secara baik dan benar xD juga bahasa Ingris di dialog dan narasinya. Sayang menurut saya penggunaan bahasa Inggris-nya kurang smooth. Ada bagian yang kadang membuat saya terganggu dengan pemakaian bahasa Inggris itu.

Untuk karakter-karakternya, karakter yang saya sukai di buku ini adalah Tara. Saya suka karakter Dre yang bermulut pedas, tapi buat saya Tara lebih menarik :D perannya sebagai sahabat Dre yang selalu bersedia mendenegarkan curhatan Dre, dan tidak ragu untuk bicara blak-blakan pada Dre membuatnya punya nilai lebih. Saya selalu suka dengan karakter penengah macam Tara ini.

Untuk kontennya, buku ini saya beri tiga bintang. Dan tambahan setengah bintang untuk judulnya yang catchy dan desain cover-nya yang entah kenapa tidak pernah membuat saya bosan untuk memandanginya.

http://ariansyahabo.blogspot.com/2015...
Displaying 1 - 30 of 95 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.