Impian Eleanor Saptajingga untuk mengunjungi London akhirnya terwujud saat diterima magang di Deluxe Boutique sebagai fashion designer. Baginya, London tak sekadar kota untuk merintis masa depan. Kota itu menyimpan kepingan masa lalu tentang jati dirinya, tentang ayahnya, pria Inggris yang meninggalkannya puluhan tahun lalu.
Penelusuran mencari jejak sang ayah mempertemukan Eleanor dengan Kyle Anderson. Pria itu mengajak Eleanor menelusuri sudut-sudut kota London hingga Liverpool, mengenalkan seni patung kontemporer yang memukau. Namun, ketika aroma cinta masih terasa manis, Eleanor mendapati kenyataan yang menyakitkan. Kyle ternyata menjalin hubungan dengan gadis lain demi membangun kembali kariernya sepagai pianis.
Saat-saat terpuruk ke jurang terdalam, Eleanor sadar ternyata Darrel Candranaya-lah yang selalu hadir di sisinya. Pria itu begitu tulus menawarkan perhatian dan mendukungnya. Tapi mampukah Darrel memperjuangkan cinta mereka? Karena ibu Darrel akan mati-matian menentang hubungan mereka.
Satu-satunya hal yang perlu kugaris bawahi dari buku ini adalah "The Beatles". Mungkin aku sedikit berbeda dari semua orang, atau setidaknya dari orang-orang yang digambarkan dalam buku ini. Yang kutahu dari band fenomenal ini tidak lebih dari status "legenda"-nya. Bahkan lagunya, bisa kukatakan aku tidak tahu. Mungkin akan segera tahu karena buku ini berhasil membuatku penasaran dengan band itu.
Selebihnya, aku kecewa.
Buku ini terlalu sinetron. Terlebih lagi penulis memberikan deskripsi yang menurutku tidak pada tempatnya. Hal-hal yang menurutku seharusnya ia deskripsikan, justru hanya digambarkan dengan kata "elegan", "cantik, "unik" dan sejenisnya. Aku jadi teringat kata dosen pengujiku sewaktu aku sidang skripsi,
"Unik bagi kamu, belum tentu unik bagi saya. Coba deskripsikan dan yakinkan saya kalau itu benar-benar unik!"
Dan aku tidak mendapatkan itu di buku ini.
Apa yang justru dijelaskan Arumi E. adalah hal-hal terkait perasaan tokoh dengan bahasa yang terlalu umum, seperti "ia tersenyum geli", atau "ia mengangkat wajahnya memandangi Darrel dengan ekspresi resah yang terlihat jelas". Dua contoh ini justru membuat keningku berkerut; dipaksa untuk membayangkan sendiri. Tidak ada bantuan visualisasi dari narasinya.
Yang menurutku semakin menekankan "kesinetronan"-nya adalah dialog. Dialognya hambar. Tidak ada dialog atau emosi dalam dialog yang membuat pembaca merasakan keuring-uringan tokoh. Kalau pun tokoh itu memang tokoh yang tenang dan "stay cool", seharusnya ada sisi yang bahkan membuat pembaca yakin kalau tokoh itu memang "cool" dan layak diidam-idamkan. Nyatanya, dua tokoh laki-laki yang memikat hati Eleanor, sama sekali tidak berhasil membuatku berdecak kagum.
Eits, sebentar. Kyle sempat membuatku berpikir paling tidak novel ini menyelipkan sedikit pengetahuan; yakni saat dia menjelaskan makna patung-patung telanjang karya Anthony Gormley di pantai Crosby. Tapi kemudian, perubahan karakter Kyle yang mendadak menjadi laki-laki brengsek sangat tidak masuk akal. Justru berubahnya karakter Kyle bukan memperlihatkan betapa Kyle masih labil. Aku menilai, justru penulis masih ragu mau membuat karakter jahat pada Kyle, atau tidak. Atau terpaksa membuat Kyle jahat karena dari awal tidak ada tokoh antagonis? Entah lah..
Aura misterius pada prolog juga tidak terjawab. Kupikir, harusnya ketika masuk ke episode yang membongkar apa yang diperlihatkan sekilas dalam prolog, disitulah klimaksnya. Tapi yang kudapati, masalah selesai hanya dalam beberapa halaman. "Flat", kalau aku boleh meminjam istilah para pengulas di aplikasi ijakarta.
Oya, satu lagi. Pernah ada seorang penyair berkata padaku,
"Jangan ungkapkan apa yang belum pernah kau lihat dan rasakan. Tidak akan pernah berhasil kau masukkan emosi ke dalamnya."
Dan aku seketika yakin dengan ucapan sang penyair saat membaca buku ini. Arumi E. sendiri mengaku belum pernah ke London atau Liverpool, tapi dengan berani mengambil latar cerita di kedua tempat itu. Hasilnya?? Penulis takkan pernah berhasil menceritakan detail. Dan itulah yang kusebutkan di atas tadi; deskripsi yang terlalu dangkal.
London tidak hanya menjadi kota impian Eleanor Saptajingga selama ini, tetapi juga kota untuk menemukan ayahnya, ayah yang tak pernah dikenalnya sejak lahir. Hingga tawaran untuk magang sebagai fashion designer di Deluxe Boutique selama 1 tahun di London tidak disia-siakan oleh Eleanor.
Di London, Eleanor tidak hanya untuk bekerja dan merintis karirnya saja, tetapi ternyata lebih dari itu. Eleanor bertemu Kyle Anderson yang membuatnya jatuh cinta sekaligus pria yang membuatnya patah hati. Kyle ternyata lebih memilih karirnya sebagai pianis dan mendekati wanita lain daripada bersama Eleanor. Untungnya ada sosok Darrel Candranaya, pria yang menjadi pembimbingnya di Deluxe Boutique yang selalu ada disaat Eleanor butuh.
Awalnya bagi Eleanor, sosok Darrel hanya sekedar sahabat dan rekan kerja saja. Tapi perlahan-lahan timbul perasaan lain, apalagi setelah Eleanor tahu bahwa Darrel menyimpan cinta untuknya. Sayangnya lagi dan lagi hubungan Eleanor dan Darrel tidak disetujui oleh ibu Darrel, yang kebetulan merupakan pemilik Deluxe Boutique. Lady Caterine, tidak mengizinkan Darrel untuk memilih kekasih dari Indonesia, karena punya trauma masa lalu terkait papa kandung Darrel.
Mampukah mereka memperjuangkan cinta mereka? Apakah Eleanor akan menemukan jati dirinya, terutama menelusuri jejak papa kandungnya, Alan Stevens? Mari temani petualangan Eleanor selama 1 tahun di London....
Sebenarnya novel ini ringan dan standar romance biasa, untungnya gaya menulisnya cukup mengalir sehingga aku bisa menikmatinya dan gak kerasa sudah dipenghujung cerita. Setting London pun begitu memikat dan mendukung keseluruhan cerita. Sayangnya aku merasakan ceritanya terlalu cepat, proses untuk menemukan ayah Eleanor pun tidak terasa dieksplor dengan baik, hanya seperti tempelan saja. Padahal niat Eleanor ke London, salah satunya untuk mencari jejak ayahnya, tetapi niatnya itu seakan terbengkalai dengan adanya sosok Kyle. Penulis seakan fokus dengan hubungan cinta Eleanor saja, mulai dari Kyle yang ternyata hanya sambil lewat saja, tidak dibahas lebih lanjut, kemudian hubungannya dengan Darrel.
Overall, buat kamu penyuka kisah romance bersetting London, apa salahnya mencoba membaca novel ini^^
Ketika membaca prolog novel ini, saya menanam ekspetasi yang besar untuk isinya. Begitu baca bab pertama ketika Elen diterima di deluxe, saya udah berpikir bahwa saya akan menyukai ceritanya. Secara, penyampaiannya pun enak.
Sayangnya, ternyata semua ekspetasi saya salah besar.
Waktu si tokoh utama mulai bertemu sama Darrel, saya sudah merasakan firasat gak enak untuk ceritanya. Dan tebakan saya benar. Mulai dari sana, saya gak nyaman dengan cerita terutama karakter si Elen. Iya sih, saya dibuat nyengir dan ketawa, tapi itu gegara saya rada jengkel sama Elen.
Karakter Elen di sini membuat saya bingung dan gak mengerti. Adakalanya saya merasa Elen ini sudah tau kalau Darrel suka padanya, jadi tanggapan sama kata-katanya yang agak menjurus dan bikin Darrel salting sering terlontar. Kemudian, waktu dia bersama Kyle, jujur, saya merasa Elen ini terlalu mudah percaya sama orang dan itu justru terlihat kalau cerita memang sudah 'di-set', jadi tak terasa alaminya.
Hal pertama yg bikin ekspetasi saya menurun adalah ketika Darrel bisa lancar menceritakan hal pribadinya ke Elen dan sebaliknya. Mereka baru pertama kali ketemu, lho. Bener-bener pertama ketemu dan kontak. Nggak kerasa ada canggung2nya. Trus, Elen ini ingin dibuat sebagai cewek tangguh, mandiri, dan easy going, ya? Kadang saya ngerasa dia terlalu naif dan polos. Beruntung, orang-orang dekatnya baik. Kalau nggak?
Untuk urusan plot sama sekali nggak ada masalah. Begitu juga penyampaian ceritanya. Cuma, kadang aku ngerasa percakapannya kaku dan 'krik krik krik' alias agak garing.
Untuk urusan cerita, saya merasa kalau temponya terlalu cepat. Dalam pengertian, semua terburu-buru diselesaikan yang jatuhnya bikin logika cerita jadi aneh. Yang paling saya soroti sih waktu Elen ulang tahun. Ini dia mendadak ketemu aja sama *piip*nya. Trus, dari mana dia tau soal Eleanor Rigby? Juga, kenapa Will ada di sana? Terasa dipaksakan. Pada bagian akhir pun begitu. Saya merasa lucu pas Lady Catherine marah-marah dan nyuruh si Elen hapus fb, twit, ganti nope dan sebagainya. Saya mikir, 'Elu emang bos, tapi ngatur2 kek ortu gue aja. Siapa elu.'
Yang paling annoying adalah bab2 terakhir. Waktu si Elen rada-rada ngambek ama Darrel gegara gak dihubungi. Lha wong kamu sendiri yg bikin kamu sulit dihubungi ama Darrel, kok kamu marah-marah ma dia gegara gak ngehubungin dia. Lucu, mbak :))
Untuk tokoh lainnya terutama si Darrel dan Kyle, mereka rasanya terlalu cepat jatuh cinta sama Elen. Rasanya kurang lembut dan alami. Akhir kata, yah saya termasuk kecewa setelah membaca cerita ini. (.__.)
Impian Eleanor Saptajingga untuk mengunjungi London akhirnya terwujud saat diterima magang di Deluxe Boutique sebagai fashion designer. Baginya, London tak sekadar kota untuk merintis masa depan. Kota itu menyimpan kepingan masa lalu tentang jati dirinya, tentang ayahnya, pria Inggris yang meninggalkannya puluhan tahun lalu. Penelusuran mencari jejak sang ayah mempertemukan Eleanor dengan Kyle Anderson. Pria itu mengajak Eleanor menelusuri sudut-sudut kota London hingga Liverpool, mengenalkan seni patung kontemporer yang memukau. Namun, ketika aroma cinta masih terasa manis, Eleanor mendapati kenyataan yang menyakitkan. Kyle ternyata menjalin hubungan dengan gadis lain demi membangun kembali kariernya sepagai pianis. Saat-saat terpuruk ke jurang terdalam, Eleanor sadar ternyata Darrel Candranaya-lah yang selalu hadir di sisinya. Pria itu begitu tulus menawarkan perhatian dan mendukungnya. Tapi mampukah Darrel memperjuangkan cinta mereka? Karena ibu Darrel akan mati-matian menentang hubungan mereka.
Membaca ini mengingatkan saya akan NY Over heels nya Dy Lunaly. Dimana si tokoh diterima magang di butik terkenal diluar negri. Hanya saja yang membedakan, disini si tokoh selain magang dia juga ingin mencari sosok ayahnya yang memang tidak pernah dia kenal sejak kecil.
Eleanor diterima magang di butik terkenal di London. Disana dia tinggal di rumah nenek Darrel, yang adalah anak pemilik butik itu. Selama mencari sosok ayahnya, Elen bertemu dengan Kyle yang akhirnya menjadi kekasih dia. Hanya saja hubungan mereka gk berjalan dengan mulus, karena Kyle diam2 meninggalkan Elen.
Di saat terpuruknya, Darrel selalu mendampingi Elen. Akhirnya yaa bisa ketebaklaahhh mereka saling sayang. Hanya aja hubungan mereka ditentang sama mama Darrel.
Intinya mah begitu yaa. Agak klise sebenernya. Ceritanya mudah ketebak banget. Tapi gue suka dengan gaya nulisnya, ngalir gk bikin bosen.
Manis dan rapi.. Khas mbak Arumi. Tidak hanya melayang-layang terbawa ceritanya, saya juga seolah dibawa langsung ke London.. Penulis satu ini memang jago 'mencuri hati' pembaca melalui pemilihan premis dan setting tempat yg pas. Karya Mbak Arumi selalu layak ditunggu..
Berkisah tentang Eleanor Saptajingga, mahasiswi salah satu sekolah mode di Indonesia yg berbahagia karena impiannya ke London dapat terwujud dengan diterima magang di Butik Deluxe, salah satu butik bergengsi di London. London menyimpan bagian dari dirinya terkait dengan sang ayah yg tak pernah ditemuinya, maka Elen bertekad untuk mencari ayahnya.
Di tengah kesibukannya bekerja dan mencari ayahnya, Elen berkenalan dengan Kyle Anderson, seorang seniman patung. Disaat tengah bahagia dengan hubungan mereka yg semakin dekat, Elen harus rela patah hati karena Kyle tega meninggalkannya demi kembali pada karirnya sebagai pianis dengan mendekati wanita lain demi kepentingannya tersebut.
Saat selalu dalam keadaan terpuruk, hanya Darrel Candranaya yg selalu setia menemani Elen untuk menguatkan serta melindungi cewek itu.
•••
Diceritakan dengan bahasa semi-baku, tapi dapat dengan mudah dipahami. Dikisahkan dengan sudut pandang orang ketiga. Unsur yg terdapat dalam kisah ini ada senang, sedih, roman, tegang dan haru. Konflik yg terdapat disini cukup unik serta rumit dengan penyelesaian serta alur yg baik. Berdasarkan setting ceritanya, kita diajak menelusuri tempat2 menarik, menakjubkan serta berpengaruh di London dan Liverpool. Benar2 seperti datang langsung kesana. Sangat mengasyikkan^^
saya suka sekali dengan kisah di novel yang menceritakan tentang Eleanor Saptajingga ini, dia benar benar membuat setiap pembaca akan tergila gila pada London dan juga The beattles. untuk kisahnya sendiri sebenarnya sederhana sekali tapi nggak tahu aku suka banget dengan cara bercerita kak Arumi E. penulis benar benar membawa pembaca merasakan apa yang dirasakan oleh Eleanor. dari biasa sampai merasakan konflik sampai menemukan kebahagiaan, jempolan pokoknya. buat kak Arumi sekarang lebih baik balik nulis romance aja jangan banyak banyak nulis horor ya.
"Sering kali, seseorang yang sungguh-sungguh mencintaimu adalah seseorang yang sekian lama ada di sampingmu tapi luput dari perhatianmu." Darell Cendranaya, setidaknya kalimat dari pria ini layak dijadikan bahan renungan.
Adalah Eleanor yang mewujudkan mimpinya bekerja di butik prestisius di kta London yang kebetulan mempertemukannya dengan pemuda putra pemilik butik yang ternyata berayahkan orang Indonesia, semacam Elenor yang separuh Inggris, Darell untuk perempuan yang suka tipikal pria romantis ala Mr. Darcy (itu pria Inggris tipe saya, aristokrat dan layaj dijadikan pria masa depan) etapi yang hidup di bawah bayang wanita-wanita seperti ibu dan neneknya, agaknya agak kurang pas buat saya. Ini lho 2000-an dan pengertian mandiri menurut kata saya adalah setidaknya di usia 20-an hidup dan bekerja tanpa harus berada di bawah bayangan Ibu apalagi nenek. Belum lagi sosok Kyle yang jadi pemberontak tapi nanggung, hidup susah akhirnya balik lagi menghamba pada keinginan orang tua, dan mau pula memutuskan kisah cinta dan menjalani hubungan dengan perempuan lain demi karier, bah! Ada apa dengan pria-pria di kisah ini?
Membayangkan setting di Inggris, di dua kota keren London dan Liverpool, dimix dengan latar belakang tokoh yang mengejar mimpinya di dunia fashion (saya sudah membayangkan Deluxe itu seakan Rellik London, tapi sedikit sekali hal dari dunia fashion yang digali) katanya Eleanor penggemar berat The Beatles, tapi begitulah hanya dipermukaan. Segalanya serba nanggung bagi saya, Inggrisnya kurang berasa, misal "Darell memanggil ibunya dengan mom, alih-alih mum yang lebih terasa Inggris." Ada banyak kesempatan menggali London dan Liverpool secara mendalam, misal ketika Eleanor dan Kyle masih menjalin cinta, mereka melewati Natal, New Year Eve, juga Vals Day, yang banyak peluang untuk menulis hal-hal romantis. Di Liverpool keknya banyak tea room yang romantis buat setting yang bolehlah diganti dengan Time Machine tempat Eleanor dan Darell ngedate.
Baik untuk para penggemar kisah cinta manis romantis, hanya kata saya agak kurang realistis.
Jujur saja, aku membaca novel ini karena cover dan judulnya yang menarik. terlebih satu kalimat di sampulnya yang meng-iming-imingiku untuk tahu, rahasia apa sih?
Membaca bab pertama aku menikmati gaya penulisan penulis, karena masih tahap perkenalan. terlebih dengan misi penting Eleanor nekat ke London sendirian.
Seperti biasa, Arumi E selalu cukup pandai mengekplor setting- hanya setting. Aku tidak mendapati kultural britis di sini, mungkin aku yang tidak fokus membaca tapi seperti itulah yang ku tangkap. Jalinan cerita yang terkesan berputar di situ-situ saja, kisah pencarian sang Papa yang seperti teralihkan porsinya-entah mengapa proses pencarian Papanya Elianor seperti di buat untuk mengantarkan gadis itu untuk bertemu dengan Kyle saja. Keterangan waktu yang kacau, dan hubungan Elianor dan Kyle berakhir dengan begitu saja, seperti buru-buru untuk di akhiri agar sosok Darel dapat di tonjolkan.
Ada beberapa poin juga yang aku sukai dalam novel ini, diantaranya lagu-lagu lama yang coba dikenalkan kembali, suasana vintage, sosok nenek Darel yang ramah dan penggambaran rumah yang milik nyonya Agatha. Selain itu aku juga suka sama kafe sekaligus toko buku itu, kecuali acara penembakan Darel yang menurutku muluk banget. Aku bukan tipe penyuka hal-hal seperti itu, jadi yang ini hanya soal selera.
2.5* sih sbnrnya, tp krn mood lg baik, jd ya dibulatkan deh ke atas. Ceritanya biasaaaaaa & typical bgt. Feelingnya jg krg berasa. Si eleanor ini gampang bnget pula jatuh cinta.
Eleanor yang blm pernah ke London mendapat tawaran untuk magang disana selama setahun. Disana ia dibimbing oleh Darrell, anak dari pemilik butik tempat Eleanor magang. Tujuan Eleanor ke London juga untuk mencari ayah kandungnya. Dalam pencarian tsb, ia bertemu dengan Kyle & mereka pun jatuh cinta (insta-love). Namun kemudian hubungan cinta mereka selesai secepat hubungan itu mulai. Tak disangka oleh Eleanor, Darrell yang selama ini selalu ada untuknya ternyata juga menyimpan rasa sayang terhadap dirinya. Layaknya sebuah cerita romance, cerita ini pun ditutup dengan sebuah HEA.
Mungkin emg saya yg udah terlalu byk baca cerita romance, mungkin jg emg crtnya yg biasa banget. Not that the story nor the writing is bad, just that it lacks in originality. There is nothing special that makes it stand out from other romance stories.
sepertinya buku ini adalah buku pertama penulisnya yg saya baca. Prolognya oke, cukup memancing rasa penasaran saya. Bahkan saya menduga bakalan jatuh cinta sama novel ini dan saya waspada jangan-jangan saya akan memburu semua karya Mbak AE. karyanya dah banyak banget lho. Kasian dompet saya kalau borong semua karyanya. hehehe...
kemudian setelah cerita berjalan, kening saya mengernyit-ngernyit.. hummm... Saya merasa semua yang terjadi terlalu cepat terutama proses hubungan Kyle dan Elen. Tidak berasa feel-nya. Begitu pun keseluruhan cerita.
Dari alur cerita, sedikit membosankan di awal. Namun menjelang akhir itulah nikmatnya membaca novel ini. Secara keseluruhan, novel ini cocok untuk pembaca yang suka Inggris karena akan diajak menyusuri London dan Liverpool. Cocok juga untuk pembaca yang suka The Beatles karena diajak menyusuri semua hal yang serba The Beatles. Nama Eleanor bahkan diambil dari lagu The Beatles yang berjudul Eleanor Rigby. Pencarian ayahnya juga erat kaitannya dengan The Beatles. Selain itu, pembaca yang suka romance ringan juga cocok baca novel ini
Ceritanya mengalir bagus. Tapi terasa kurang lembut, kurang detail, dan sedikit kurang kokoh. Perubahan sudut pandangnya cukup menarik. Keseluruhan unik idenya.
Buku ini lumayan lebih bagus dari yang sebelumnya saya baca yaitu "pertemuan jingga". Pada buku sebelumnya saya mengharapkan banyak cerita tentang kehidupan arsitek, sesuai sinopsis di belakang buku, tapi ternyata tidak banyak. Sedangkan buku ini, isinya sesuai dengan yang diharapkan.
Buku ini menambah wawasan untuk saya yang belum mengetahui banyak tentang The Beatles. Banyak info-info tentang The Beatles di buku ini.
Buku ini juga mengajak pembaca travelling di Inggris. Terutama kota London dan Liverpool. Cukup menghibur.
Pemilihan nama pemerannya juga bagus. Eleanor Saptajingga dan Darrel Chandranaya.
Berencana untuk baca buku Arumi lainnya, karena pada buku sebelumnya saya juga suka dengan nama pemerannya yaitu Anthea dan Bastian :)