Di masa Perang Pasifik, nasib mempertemukan seorang bocah asal Batavia dengan para prajurit KNIL di neraka mengambang: sebuah lambung kapal Jepang yang dipenuhi kuli-kuli romusa yang akan diberangkatkan ke belantara Sumatra, dengan bau menyengat dari keringat dan tinja ribuan manusia yang berjejalan. Di bagian lain kapal itu, di kabin-kabin yang lebih manusiawi, disekap para perempuan Jawa yang diangkut paksa oleh tentara Jepang.
Novel mendebarkan ini mengungkap satu babak dalam sejarah kolonial di Indonesia yang belum banyak dibicarakan.
Buku ini bercerita tentang luka lama yg masih mengangga diingatan segelintir para penyintas yg tak punya kesempatan utk berbicara. Luka sayat sejarah yg tak pernah dijahit. Dan ingatan ini persis suara dari masa lalu yg terus dikikis oleh waktu. 😔🔫💥
This is a “Novel”, tp somehow ketika membaca, kepala langsung muter film kolonial dokumenter ttg perjalanan seorang anak kecil menghadapi kejam nya kondisi pra-kemerdekaan Indonesia yg membawa kita melihat kondisi keji di kapal (pelayaran dari Batavia hingga Sawahlunto) serta di Hutan desa Lubuk Ambacang di Riau. 🧠😶🌫️
Penyajian yg tipis tapi aku cukup menikmati vibes yg disajikan ttg bagaimana bentuk pertahanan diri, kemanusiaan, dan ego manusia yg terlibat dalam kurun sejarah bbrp personil tentara KNIL, para pribumi, perempuan yg terpaksa di jadikan Jugun Lanfu, serta militer Jepang. 🪖
Ketika buku ini rilis, sudah saya tandai kayae akan menjadi buku yang kusuka. Mengingatkan pada novel perbudakan lain, Berjuta-juta dari Deli: Satoe Hikajat Koeli Contract. Novel ini menarik, plotnya ya oke rapi. Yang menurutku menarik dan strategi penulisnya perlu diacungi jempol adalah menulis kisah perbudakan dengan cara wawancara (dan bolak-balik) kepada korban perbudakan yang mulai pikun. Jadi bisa terbayang bagaimana susahnya menggali....
LENYAP dikisahkan melalui sudut pandang penyintas, Kakek Mitro (Soemitro), dari tragedi kapal Junyo Maru yang tenggelam dan romusa pembuatan rel kereta api di Sumatera.
Di tahun 1944, tentara jepang menculik dan menyeret banyak musuh (tentara sekutu) dan warga Hindia Belanda untuk menjadi tenaga kerja paksa (romusa) di pulau Sumatera karena perlu menyambung rel kereta api yang terputus pembangunannya. Mereka membutuhkan batu bara namun tidak bisa melalui laut karena tengah diintai musuh jadilah mereka mengirimkannya melalui jalur darat: kereta api.
Soemitro yang saat itu masih berusia sepuluh tahun menjadi salah satu korban yang diculik lalu dibawa ke Junyo Maru atau disebut-sebut 'Neraka Mengambang'. Enam ribuan orang dijejalkan di dalam sana. Berdesakan dengan aroma yang tidak mengenakkan. Di geladak atas, tentara sekutu seperti tengah dipanggang, sementara tawanan lainnya dimasukkan dalam bagian lambung kapal yang pengap dan menyesakkan. Sementara itu tawanan perempuan disekap di dalam kabin.
Di kapal tersebut, Soemitro bertemu dengan Pratu Marihot, Letnan Rumende dan rombongan tentara KNIL. Di bagian lain kapal, Soemirah; wanita yang dipaksa naik ke kapal dijadikan Jugun Ianfu berusaha untuk melindungi dirinya seraya berteriak menggaungkan nama Tuhan, mendiang suami dan nama anaknya. Mereka yang mendengar teriakan itu tercenung. Sementara Soemitro teringat sosok ibunya.
18 September 1944 di hari ketiga pelayaran, torpedo dari kapal selam milik inggris menghantam lambung Junyo Maru sehingga membuat kapal tersebut lambat laun tenggelam. Dari enam ribuan orang yang berada di dalam kapal, hanya enam ratusan yang selamat. Soemitro, Pratu Marihot dan rekan-rekannya diselamatkan namun tetap menjalani neraka lainnya. Mereka berjalan jauh sekali menemus rimba hutan untuk sampai ke titik di mana mereka akan dipaksa bekerja hingga barangkali mati. Soemitro mau tidak mau harus berkuat hati, sosok anak yang turut merasakan penderitaan dan rasa trauma yang tak pernah hilang hingga tua.
Dari LENYAP inilah aku menemukan tragedi kapal yang mana membunuh ribuan tawanan dengan mengenaskan dan juga kekejaman yang begitu memilukan hati. Tawanan-tawanan yang menjadi romusa untuk bekerja menyambung rel kereta api, mereka yang tertimbun reruntuhan bukit saat sedang bekerja sebab peledakan guna membangun rel, belum lagi bagaimana mereka jauh dari kata dimanusiakan manusia. Perempuan-perempuan dijadikan budak seks pemuas para prajurit jepang di kamp-kamp mereka.
"sebuah kisah yang terlalu penting untuk dilupakan. Ini adalah luka lama yang masing menganga di ingatan segelintir orang, luka sayat sejarah yang tak pernah dijahit."
Penulisan narasi yang begitu indah dan sederhana namun berhasil pula mendatangkan kekelaman pada pembacanya. Banyak sekali susunan kata demi kata yang aku suka dan membuat perjalanan membacaku tidak membosankan dan begitu menarik untuk terus dilanjutkan.
Merupakan Novel ketiga dari Penerbit Marjin Kiri yang saya baca. Pertama Aib Dan Nasib Minanto, lalu Tersesat setelah Terlahir Kembali-nya Yoga Zen, lantas buku ini.
Bisa dibilang buku ini adalah hasil dari ketidaksengajaan saya membeli buku. Saya membelinya dari Suatu lapak di Surabaya. Ketika saya membaca biografi singkat penulisnya pun saya kaget karena buku ini benar benar "baru" tidak sedang menang penghargaan atau hal-hal semacam itu. Penulisnya pun saya kira dari suatu negara Amerika Latin (mungkin Peru) eh ternyata orang Indonesia. Akan tetapi, covernya yang minimalis dengan palet warna yang menarik, akhirnya saya pun bersedia untuk mencoba karyanya, toh saya tetap mendapatkan bacaan menarik tentang sejarah Indonesia yang masih jarang dibahas? Dilansir dari entah darimana tetapi, setiap terbitan marjin Kiri patut dibeli buta karena kualitasnya yang legit.
Oh Tuhan. Yup buku ini rasanya mendebarkan dari awal. Adegan setiap adegan adalah lembaran yang tak tuntung untuk ditutup karena harus dilanjutkan setiap kalimat per adegannya. Bertemu dengan 3 tokoh Soemitro, Pratu marihot, Dan Letnan Rumende terombang ambing dalam lambung kapal penuh dengan tinja dan darah. Manusia-manusia romusha diberi makan bubur dedak, dan perempuan-perempuan dijadikan pemuas berahi PAsukan Jepang. Ceritanya juka bertajuk padu dengan masa lalu dan masa depan, sebagaimana penceritaan sepanjang cerita merupakan memori kolektif Soemitro dimasa Tua, menceritakan masa lalu yang mengerikan nan menyedihkan.
Sebagai buku baru yang diterbitkan MarKir, buku ini tipis dan bisa jika dibaca semalam suntuk, ceritanya bagus dan unik. Bisa dibilang menjadi karya yang engaging sedari awal .this Plot-driven book bisa dijadikan buku penawar reading slump.
Di tanah tumpah darah ini, kenangan tentang pengorbanan dan darah yang tumpah, tak boleh dihapus saja.
Sulit untuk menentukan siapa manusia baik sesungguhnya do masa itu. Setiap individu berusaha untuk bertahan hidup, mengesampingkan norma-norma, bahkan rela mengorbankan suadara setanah air demi keamanan dan kenyamanan diri.
Itulah gambaran sosok para Prajurit KNIL (Pratu Marihot dkk) yang megabdikian diri kepada Belanda demi kesejahteraan pribadi, Kakek Parman yang rela menjarah dan merampas kehidupan orang lain demi mengamankan posisi keluarganya, Byeong Il-Sung prajurit geunsok yang sesungguhnya adalah tawanan Jepang, justru menjadi penjilat demi keinginan kembali ke tanah air.
Lalu ada Soemitro (Kek Mitro), Soemirah dan dua gadis kembar korban budak seks tentara jepang, adalah secuil kenestapaan bangsa Indonesi kala itu. Bahkan Soekarno yang diagung-agungkan pun tampak seperti secuil debu di cerita ini. Tidak berarti apa-apa.
Cerita ini membuka mata saya, dibantu dengan cerita-cerita hosfic lainnya bahwa kesaksiaan hidup orang-orang lebih kuat daripada sejarah yang kita pelajari di sekolah.
Untuk ukuran novel sepanjang 166 halaman, dirasa cukup padat dan berbobot. Setiap tokoh punya kekuatan mereka sendiri bahwa semuanya adalah pemeran penting. Novel ini selesai dalam waktu semalam. Saya memberikan rating novel ini 4,8⭐️/5⭐️
Singkat, padat, seru! Ada sedikit catatan, tapi minor. Dari novel ini jadi ngeh bahwa ada pernah kejadian begini di masa lalu, yang melibatkan romusha saat membuat jalan kereta api dari Sumbar ke Pekanbaru, 220 km.
Kurangnya adalah kurang panjang ceritanya. Banyak yang masih bisa dieksplor dari banyak sudut, termasuk latar historisnya. Dengan pace yang cepat, adegan dan percakapan yang tidak penuh basa basi, tapi tetap ada nuansa indah puitis rasa sastra Indonesia, seharusnya novel ini bisa dikembangkan jadi lebih istimewa.
Aku hampir berhenti di halaman awal, lalu setelah halaman 100 ceritanya jadi seru banget. Aku seperti diajak masuk ke dalam hutan dan menyaksikan bagaimana para kuli romusha hidup dalam bayang-bayang kematian. Setiap nyawa tak ada artinya bagi serdadu Jepang. Buku ini ada tragisnya, sedihnya, dan lucunya.