Senja seperti tersambar petir. Ruben berlari begitu saja meninggalkannya demi menyelamatkan Aline, istrinya. Beginikah posisi dirinya sekarang: seorang tamu? Selalu berada di teras hati Ruben karena setiap relung rumah sudah penuh terisi sosok Aline. Meski Ruben selalu memperlakukan Senja dengan baik, Senja merasa sudah saatnya dia menentukan jalannya sendiri.
Namun, ke mana Senja akan melangkah? Akankah Benteng yang menjadi pelabuhan terakhirnya, meski mereka hanya sepasang kekasih pura-pura?
Kisah yang pernah menjadi juara II lomba cerber majalah Femina tahun 2003 ini akan menyuguhkan sebuah renungan seorang kekasih gelap tentang jalan hidup, arti hidup, dan keberanian untuk memilih. Sanie, sebagai seorang perempuan, demikian jeli membeberkan isi hati dan desiran pikir tokoh utama—yang juga perempuan—dalam kisah ini.
...ketika ruang hatimu telah dimiliki orang lain, maka tak tersisa sedikit celahpun untukku. Segala cinta yang kupunya pun takkan mampu menghadirkan celah itu bagiku...(Limar)
Buku ini kembali menghadirkan kepiawaian seorang Sanie dalam mengolah kata-kata menjadi barisan cerita yang apik. Tema yang diangkat dalam buku tipis berhalaman 156 ini adalah cinta yang terbagi. Dua judul. Dua sudut pandang. Judul yang pertama adalah Jalan Sunyi, yang bercerita tentang seorang perempuan yang bernama Puan, yang akan segera melangsungkan pernikahannya dengan seorang laki-laki yang mencintainya sangat, Limar.
Menjelang hari pernikahan, Puan merasa ia tidak siap dengan status baru yang akan ia sandang. Yakni seorang istri, dimana status tersebut akan memiliki konsekuensi logis yang membuatnya bimbang. Dimana ia membayangkan bahwa ia akan menemukan pria yang sama setiap hari disisinya ketika bangun pagi, dan ia akan kehilangan waktu-waktu bersenang-senang dengan teman-temannya.
Seorang sahabat Puan menyarankan ia untuk berlibur ke tempat neneknya. Puan pun mengambil kesempatan itu untuk menenangkan pikirannya di kala hari pernikahan semakin menjelang, dan calon suaminya, Limar, tidak berkeberatan. Ia pun berangkat, seraya membawa alat-alat lukisnya kesana. Siapa sangka, takdir itu ada dimana-mana. Ia bertemu dengan seorang lelaki yang memesona. Lelaki itu mampu membuat hati Puan terpikat. Bukan saja dengan fisiknya, namun juga karena lelaki tersebut pintar menguasai dapur. Pelindung dan pintar memasak, perpaduan yang unik, pikir Puan.
Selanjutnya siapa yang salah, cinta itu sendirikah? atau hati itu? Kenangan manis bersama Darga membuatnya lupa sejenak pada sang kekasih. Namun, hati itu terbelah. Apa yang terjadi selanjutnya yaitu meleburnya cincin yang akan dikenakan pada hari bahagia di tangan tukang emas. Puan kah di hati Darga?
...yang menarik bagiku adalah proses perjuangan untuk meraih cinta itu. Melakukan strategi untuk menarik simpati sasaran adalah dinamika yang menarik. Dan ketika sasaran takluk, maka tujuanku sudah berakhir. Seperti permainan dalam video game, begitu misi accomplished maka permainan selesai dan hasilnya kudapat hanyalah sejumlah nilai yang akan tersimpan dalam memory card, itu saja.
boleh jadi Puan sedang bermain-main dengan perasaannya, dan ia terjebak. Sangat-sangat terjebak. Konsekuensinya adalah membentang jalan di depannya yang harus ia jalani sendiri. Ya... sendiri dan sunyi.
Judul kedua, yakni Kekasih Gelap. Sorang perempuan bernama Senja harus mengikuti skenario Ruben, pria yang sudah berisitri untuk berkapal pesiar ke Malaysia. Tentunya, dengan sedikit skenario pintar. Ia menempatkan Benteng, seorang pemuda yang kalah berjudi dengan Ruben untuk sekamar dengan Senja. Jika waktunya berpasang-pasangan, maka Ruben dengan istrinya sedangkan Senja dengan Benteng. Namun jika malam sudah larut, waktunya Ruben bersama Senja, kekasih (gelapnya).
Sungguh keadaan yang menyedihkan. Tinggal di kapal pesiar yang mewah namun kebahagiaan bukanlah barang yang siap sedia dibeli kapan saja. Senja dan Benteng sama-sama korban. Senja berkorban perasaan ketika melihat Ruben begitu mesra dengan istrinya, sedangkan Benteng berkorban ikut perjalanan empat hari itu karena ia kalah taruhan judi dengan Ruben.
Suatu peristiwa yang membuat sudutpandang Benteng berubah. Suatu kesempatan, ketika kapal pesiar bersandar di negara Malaysia. Seorang ibu dengan anaknya Khalila, mengajak mereka berfoto. Ibunya Khalila mengambil foto anaknya bersama dengan Senja dan Benteng. Suatu peristiwa yang tampaknya sederhana, seringkali justru membuat seseorang dapat memetik suatu pelajaran yang sangat berharga. Ketika Benteng dan Senja kembali ke kapal dan memperbincangkan peristiwa sebelumnya, Benteng mengungkapkan pada Senja:
gadis kecil itu telah mengajarkan padaku arti penting sebuah tujuan. Bahwa adanya tujuan yang positif akan membuat kita melakukan hal hal yang positif pula, membuat kita tahu apa yang seharusnya dilakukan untuk mencapai tujuan-tujuan itu. Selama ini tujuan yang kupunya tidak jelas, memberiku harapan semu.
ternyata Ibu Khalila meninggalkan foto mereka bertiga kepada Benteng, dan sekali lagi dengan bijak Benteng berkata:
foto itu memberikan semacam harapan. Andai saja kutemukan seseorang dalam foto itu yang mau berbagi beban hidup dan menghadirkan Khalila-Khalila kecil bagiku...
Dengan alur cerita yang ringan, Sanie kembali mengetengahkan perempuan menjadi tokoh sentra untuk dua hati. Konflik perasaan, dilema,menentukan pilihan, mungkin saja tokoh Puan dan Senja adalah tokoh nyata yang diangkat dalam cerita fiksi. Kemiripan dua cerita ini mungkin bisa saya simpulkan dalam "Betapa sunyi dan gelapnya jalan ini kekasih."
Aku membaca buku ini saat berada di jenjang pendidikan SMP. Namun aku tidak yakin saat itu aku kelas berapa. Bahkan aku tidak ingat bagaimana buku bisa sampai kepadaku. Waktu itu, aku membaca buku sekadar untuk hiburan dan tidak merasa memilki kedekatan dengan ceritanya. Buku ini menarik, tapi gak relevan denganku in any way, pikirku saat itu. Beberapa waktu lalu (aku semester 7 kuliah) aku membaca ulang buku ini. Saat itu aku lebih bisa memahami ceritanya.
Buku ini terdiri atas dua cerita pendek. Cerita pertama mengisahkan pasangan yang membatalkan pernikahan karena salah satu dari mereka tidak lagi ingin menikah. Calon pengantin perempuan menemukan orang lain yang menurutnya, merupakan belahan jiwanya dan seseorang yang ia idamkan. Calon pengantin pria tidak protes sama sekali saat tahu pernikahannya akan batal. Ia berkali-kali meyakinkan pasangannya untuk tidak perlu khawatir, "Kalau memang ini yang kamu inginkan, lakukanlah." ujarnya.
Cerita kedua adalah tentang suami yang selingkuh dari istrinya yang sedang hamil. Suatu hari si suami ngide untuk liburan di kapal pesir dengan mengajak selingkuhannya. Agar tidak dicurigai karena pergi berhari-hari, si suami juga mengajak istrinya. Konflik terjadi saat si suami mengajak lelaki lain, orang yang berhutang padanya, untuk pura-pura menjadi pasangan si selingkuhannya. Kedua pasangan ini berlayar. Hingga pada satu titik si selingkuhan sadar bahwa ia deserves better. Ia memutuskan hubungan dengan si suami.
Aku merasa memiliki kedekatan karena bisa merasakan ceritanya; merasakan emosi yang dirasakan tiap karakter dalam buku ini. Ini satu-satunya buku fiksi dengan genre romance yang aku suka-banget.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Sanie B.Kuncoro mestinya adalah nama yang tidak asing lagi bagi penikmat/pengamat cerpen. Karya-karya awalnya di era 1980-an banyak dimuat di majalah Anita Cemerlang, Gadis, dan Hai. Bersama-sama sahabatnya, Kurnia Effendi, namanya berkibar sebagai salah satu penulis cerpen idola remaja saat itu.
Saya salah seorang pembaca yang masih mengingat dengan baik nama cerpenis ini. Akan tetapi saya baru mengetahui, bahwa ternyata Susan Ismiati, nama asli Sanie, masih aktif menulis hingga kini, terutama di majalah Femina. Malahan, beberapa kali ia berhasil menggondol gelar juara dalam sayembara penulisan cerpen/cerber yang diselenggarakan majalah itu.
Sebagai mantan pembaca setia Anita Cemerlang, saya senang sekali menemukan kembali jejak pengarang ini dan mengetahui bahwa ia masih terus produktif. Ada semacam rasa kangen membaca kembali cerpen-cerpen cinta ala remaja 80-an yang serbaromantis melankolis yang menjadi tren kala itu. Sanie termasuk yang menulis dengan gaya demikian. Bahkan, sampai kini ciri khas itu tetap dipertahankan.
Setelah malang-melintang sekian lama meramaikan rubrik cerpen/cerber di berbagai majalah, awal tahun ini terbitlah buku pertamanya; memuat dua karyanya yang pernah tayang sebagai cerita bersambung di Femina : "Jalan Sunyi" (2005) dan "Kekasih Gelap" (2003). Cerita yang terakhir ini meraih juara kedua Lomba Cerber Femina tahun 2003.
Mencermati kedua karyanya ini, segera terasa gaya khas bercerita Sanie yang lembut romantis dalam tema cinta. Tokoh utamanya umumnya perempuan-perempuan matang, mandiri dengan karakter – fisik maupun non fisik – feminin, berwajah cantik, rambut panjang tergerai, lembut, setia, mengagungkan cinta, dan menjadikan perkawinan sebagai tujuan akhir hubungan asmara. Konservatif. Walaupun, ada "pemberontakan", tetapi selalu pada akhirnya tokoh-tokoh yang sempat 'tersesat' itu, akan kembali ke jalan yang benar. Inilah yang agaknya oleh Kurnia Effendi disebut sebagai optimisme yang lembut.
Tampaknya Sanie masih belum berani menciptakan karakter (perempuan) yang kontroversial. Ia cenderung memilih bermain "aman". Ia juga senantiasa berpihak pada tokoh perempuannya. Tak pernah ia – setidaknya dalam buku ini – membiarkan seorang perempuan "dikalahkan" oleh para lelaki. Dalam dua kisah di buku ini, perempuanlah yang mengambil keputusan, kendati keputusan tersebut tak selamanya menguntungkan, akan tetapi Sanie ingin menunjukkan, bahwa perempuan pun berhak memilih dan menentukan jalan hidupnya.
Dalam soal plot, Sanie acap kali memakai alur konvensional dengan ending mudah ditebak; tanpa kejutan. Tampak jelas terutama pada "Kekasih Gelap".Padahal, seandainya ia berani bereksperimen, peluang untuk melakukan itu sangat terbuka.
Kelebihannya, Sanie mampu menghanyutkan pembacanya melalui penuturannya yang manis romantis. Tema-tema yang diangkatnya adalah persoalan-persoalan (cinta) yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, misalnya : perselingkuhan. Ia memotret realita yang terjadi ditengah-tengah kita : para suami tak setia serta perempuan lajang yang mendambakan cinta dan perkawinan. Bukankah mereka adalah sosok yang banyak kita jumpai dalam keseharian kita?
"Jalan Sunyi" menghadirkan Puan yang bimbang menentukan sikap menjelang hari pernikahannya dengan Limar, calon suaminya, lantaran secara tak terduga ia berjumpa Darga, pria yang mampu menggetarkan dawai-dawai hatinya. Puan risau di persimpangan : menuju kemanakah? Kembali kepada Limar dan meneruskan rencana pernikahan mereka atau berpaling kepada Darga yang menawarkan debar- debar gairah?
Tak jauh berbeda, "Kekasih Gelap" pun menampilkan sosok perempuan di persimpangan pilihan. Senja, kekasih gelap Ruben, di hadapkan pada dilema : meneruskan perselingkuhan itu dan tetap menjadi "si nomor dua" atau balik kanan, meninggalkan Ruben dan mencari cinta baru.
Bagi para tokoh perempuan rekaan Sanie, cinta adalah segalanya. Petualangan Puan dan Senja pada hakikatnya adalah sebuah upaya pencarian cinta. Mereka meyakini, bahwa adalah mustahil menjalankan bahtera perkawinan tanpa cinta.
Ada 2 cerita dalam buku ini. Yang pertama berjudul 'Jalan Sunyi', yang kedua 'Kekasih Gelap'.
Jalan Sunyi bercerita tentang Puan, Limar dan Darga. Puan yang merasa stress menghadapi pernikahannya dengan Limar (meski sdh bertahun2 menjadi kekasih Limar) berlibur ke desa tempat nenek sahabatnya tinggal untuk menenangkan diri. Disana Puan bertemu Darga, laki2 yang kemudian membuat hati Puan bergetar.
Kekasih Gelap bercerita tentang Senja, Ruben, Aline dan Benteng. Senja adalah kekasih gelap Ruben. Ruben adalah suami Aline. Aline adalah seorang istri yang sedang mengandung. Benteng adalah seseorang yang berhutang budi pada Ruben. Mau tidak mau, Benteng harus menurut ketika Ruben memintanya berpura2 menjadi kekasih Senja, agar Senja dapat ikut dalam pelayaran yang sama dengan Ruben dan Aline.
Nemu di bookfair kemarin. Lumayan buat menemani pagi hari di kantor
Bahasanya muantap, irit namun mengena pada sasaran.Dalam buku ini ada dua buah cerita yang tidak berhubungan satu dengan lainnya namun tetap menarik.
Satu cerita tentang seorang wanita muda yang mengalami keraguan saat akan menikah. Dengan alasan menenangkan diri akibat persiapan pernikahan, ia pergi berlibur meninggalkan tunangannya. Bukan ketenangan yang didapat, malah kebimbangan yang diperolehnya. Mengingatkan akan Feel-nya Wulan Guritno
Satunya lagi mengenai kekasih gelap yang musti menerima kenyataan bahwa dirinya akan selalu menjadi nomor dua. Ketika sang kekasih mengajaknya berlibur dengan kapal pesiar, ia terpaksa mengikuti sandiwara yang dibuat. Ia harus mengaku sebagai kekasih seseorang agar istri sang kekasih tidak curiga. Sebuah insiden kecil membuat dirinya sadar, ia harus menentukan sikap
Jangan mengharapkan Sanie B. Kuncoro bakal menyuguhkan dengan apik setting tempat, latar dan semacamnya dalam 2 cerpen di buku Kekasih gelap, tapi yang perlu diketahui, Sanie terlalu cerdas untuk menggambarkan karakter setiap tokoh, hingga tanpa setting yang oke pun, pembaca mampu larut dan teraduk-aduk perasaannya.
@awalnya cukup gemes dengan ending cerita yg pertama, untungnya ending cerita yg kedua nggk bikin lemes... sukurlah Sanie nggak mengakhiri ceritanya dengan menghukum tokoh2nya... heheheh
liukan cerita dan gaya bertuturnya selalu indah. sayang... aku kehilangan buku ini pas ngurus persiapan LPDP di Kampus Unair.... buat yang nemuin, jaga baik-baik bukunya ya.... sebab saya selalu percaya pada takdir dan kebetulan. :D