ketika anak-anak pergi adalah buku ketiga dari kita pergi hari ini atau sekuel dari lebih banyak petualangan-petualangan syik-asyik untuk anak-anak baik-baik (mari pergi lebih jauh). 😽
membaca buku ini seperti mengikuti perjalanan bayi dan anak-anak yang 'melawan' kekerasan dari orang-orang besar. walau di buku kita pergi hari ini sudah diberikan kisi-kisi perihal akhir cerita dari mereka di catatan kaki namun petualangan dan perjalanan mereka untuk TETAP HIDUP sangat membuat penasaran dan terharu dan sedih dan perasaan-perasaan lain yang pembaca rasakan. bagiku, seperti membaca biografi dari anak-anak yang berjuang untuk hidup dan melawan Gerakan Pembakaran Karya Anak (GPKA).
di buku ini juga pembaca akan menemukan kepingan-kepingan kisah lanjutan (halaman 119) dari catatan kaki di buku kita pergi hari ini. jujur saat membaca catatan kakinya berhasil membuatku merenung. ^___^ setelah cekikikan karena narasi-narasi yang nyeleneh. :D
'Perlawanan tidak bisa dilakukan sendirian.'
cerita berfokus pada mi yang masuk penjara suramnian dan kemudian diadakannya persidangan. anak-anak membutuhkan orang yang akan bertengkar menggantikan mereka atau sebut saja pencari gara-gara dengan segala cara (pengacara).
anak-anak berpencar membagi tugas: mengunjungi mi ke penjara suramnian dan mencari saksi ke dusun duka serta kota suara. tokoh-tokoh baru juga bermunculan seperti: Pak Arkue, Anna Karyam, Sukaper Gisendi Ryan, Mozilla, Pak Aisa Yurasam.
menurutku kesan setelah membacanya masih sama dengan saat membaca buku-buku sebelumnya: mindblowing. kok bisa ya kepikiran nama-nama unik yang pas gitu?! pokoknya, tidak sabar untuk buku selanjutnya!!!!
"Memanggil orang sebagaimana dia mau dipanggil adalah perbuatan yang baik."
"Ini adalah kenyataan hidup sehari-hari anak-anak. Mereka harus melintasi berbagai situasi kompleks untuk bertahan hidup, karena begitulah keadaan dunia ini terhadap jenis makhluk seperti mereka."
"betapa berbahayanya tinggal dengan orang dewasa yang membenci anak-anak."