Saskia E. Wieringa menelusuri sejarah gerakan Lesbian, Biseksual dan Trans (LBT) di Indonesia dari tak terlihat, menjadi terlihat sampai kini kembali bergerak menuju ketersembunyian. Lewat uraian kronologis sumber-sumber lokal, dia membantah anggapan bahwa homoseksualitas adalah hasil budaya impor dari Barat.
Dari awal keberadaan LBT itu, Saskia menelusuri dinamika gerakan, keberlangsungan model hubungan, ragam identitas yang terus bertambah, tantangan kekerasan dalam keluarga dan terapi konversi, agama serta kampanye anti-LGBT. Dari 2000 hingga 2015, fakta yang nyata bahwa gerakan LBT ini semakin berkembang sampai muncul serangan balik yang disponsori negara, dipicu oleh kelompok Islam intoleran.
Saskia Eleonora Wieringa is a Dutch sociologist. She is a professor of Gender and Women's Same-Sex Relations Crossculturally at the Faculty of Social and Behavioural Sciences at the University of Amsterdam. The area of study was established by the Foundation for Lesbian and Gay Studies and sponsored by Hivos. From 1 April 2005 to 19 April 2012, she served as the director of Aletta, Institute for Women's History (currently Atria Institute on gender equality and women's history) in Amsterdam.
Pengkambinghitaman thp pembangkangan seksual di negara2 yg baru merdeka seringkali karena pengutan amnesia pascakolonial oleh bangsa2 yg masih bergulat dg masa lalu kolonial mereka. Moralitas homofobik penjajah Barat dianggap menarik, karena orang2 mengagumi cara2 modern yg tampaknya jauh lebih menjanjikan daripada cara tradisional mereka dalam menata masyarakat.
Pemutarbalikkan cerita rakyat, mitos, agama atau sejarah menjadi patriarkis telah lama berlangsung sebelum masuknya ajaran Islam dan Kristen serta penerapan moralitas borjuis Belanda. Kolonialisme dg pembagian genser yg sgt patriarkal dan agama monoteistik spt Kristen dan Islam melemahkan asal-usul gender yg sakral, bertumpu pd kesatuan yg harus senatiasa ditegaskan secara berkala.
Well, ternyata mental warisan kolonial bahkan masih sangat amat taboo di era digitalisasi ini. 😮💨
"They are so courageous they want to come out and fight. But we have to advice them to keep quiet. It is much too risky."
Gerakan LBT: Lesbian, biseksual, transgender pernah menaruh harap pada "Orde harapan" yang disebut dengan Orde Reformasi (which is not at all, dimana telah gagal menjadi negara sekuler atau menjadi "illiberal") karena gerakan konservatif membuat stigma pilu, yang secara tidak sadar telah berangkat dari mental warisan kolonial.
Wieringa menyayangkan masa orba dengan "asas kekeluargaan", yang membuat heteronormatif menjadi hal yang sangat superior bahkan masih bertahan di masa sekarang.
Luv luv, Salah satu buku sejarah queer Indonesia terbaik dari perspektif antropolog besar Universitas Amsterdam. ⭐⭐⭐⭐⭐